Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 722

ASKRINDO Proteksi Sirkuit Mandalika dengan Asuransi CECR

0
Salah satu event otomotif di Sirkuit Mandalika(ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com)-PT Asuransi Kredit Indonesia atau ASKRINDO, memproteksi Sirkuit Mandalika dengan Asuransi Civil Engineering Completed Risk (CECR).

Asuransi CECR merupakan perlindungan terhadap aset bisnis yang beroperasi, khususnya aset infrastruktur dan aset transportasi seperti jalan, jembatan, dermaga, runway bandara dan bendungan, atas risiko kerugian/ kerusakan akibat kebakaran, kejatuhan pesawat terbang dan/atau benturan dari peralatan-peralatan yang jatuh dari pesawat terbang, gempa bumi, letusan gunung berapi, badai, banjir dan longsor.

Area Head ASKRINDO Mataram, Slamet Ermayudi menyampaikan, proteksi asuransi CECR ini sangat penting, sekaligus memantapkan kesiapan Sirkuit Mandalika dalam menyambut berbagai event olahraga international. Hal ini selaras dengan semakin bersinarnya Sirkuit Mandalika di panggung global, serta sebagai destinasi utama sport tourism di Indonesia.

“Asuransi CECR ini memberikan proteksi terhadap pengelola objek pertanggungan atas risiko kerugian finansial yang timbul apabila terjadi risiko yang dijamin dalam polis. Dengan semangat sinergi BUMN, kami berkomitmen dalam memberikan perlindungan untuk objek pertanggungan Sirkuit Mandalika, semoga seluruh event yang terselenggara dapat berjalan dengan baik dan lancar” imbuhnya.

Sirkuit Mandalika terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) di Indonesia. Saat ini Sirkuit Mandalika dikelola oleh Mandalika Grand Prix Association (MGPA) yang merupakan bagian dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), ekosistem BUMN yang bergerak dalam bidang pengembangan dan pengelolaan kawasan pariwisata The Nusa Dua, Bali dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika, Lombok.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa eksotisme Sirkuit Mandalika merupakan bentuk pariwisata sport tourism yang menyatukan unsur olahraga, budaya dan keindahan alam. Dengan telah diterbitkannya polis asuransi CECR dari ASKRINDO, selain memberikan perlindungan terhadap Sirkuit Mandalika harapannya tentu pertumbuhan sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat dapat semakin menyala bersamaan dengan perhelatan MotoGP The Mandalika 2024, World Super Bike (WSBK) Mandalika, serta event olahraga internasional bergengsi dan spektakuler lainnya yang terselenggara di Sirkuit Mandalika” pungkasnya.

ASKRINDO merupakan salah satu anggota holding Indonesia Financial Group (IFG), BUMN yang bergerak dalam bidang usaha Asuransi Umum dan Penjaminan. Saat ini ASKRINDO memiliki 7 Kantor Wilayah dan 59 Kantor Cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain asuransi CECR, ASKRINDO memiliki beberapa produk asuransi umum lainnya seperti asuransi Kecelakaan Diri/ Personal Accident yang dapat diakses melalui platform mobile DigiAsk, asuransi Kebakaran, asuransi Property All Risk (PAR), asuransi Konstruksi/ Contractor’s All Risk (CAR), asuransi Alat Berat, asuransi Pengangkutan Barang/ Marine Cargo serta produk-produk asuransi umum lainnya.(bul)

Pembelian Elpiji Gunakan KTP, Pemerintah Ingin Subsidi Bahan Bakar Tepat Sasaran

0
Foto : Sri Wahyunida. (ekbisntb.com/dok)

Mataram (ekbisntb.com) – Pertamina mulai memberlakukan pembelian elpiji 3 kilogram menggunakan kartu tanda penduduk. Pemerintah berharap sistem ini dapat diterapkan secara maksimal, agar subsidi bahan bakar tepat sasaran.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida menjelaskan, uji coba pembelian elpiji 3 kilogram menggunakan kartu tanda penduduk sudah dimulai sejak Juli-Desember 2023, sehingga pemberlakuan aturan itu dimulai di bulan Januari 2024.

Sistem pembelian tabung gas melon menggunakan KTP, juga telah disampaikan ke pangkalan dan agen. “Kita sudah kontrol dan rata-rata pangkalan sudah menggunakan sistem itu,” kata Nida dikonfirmasi pekan kemarin.

Kebijakan pemerintah ini bertujuan agar bantuan subsidi bahan bakar tepat sasaran. Disamping itu, pangkalan maupun agen bisa mengontrol penggunaan gas elpiji 3 kilogram di masyarakat.

Fakta di lapangan bahwa tidak semua masyarakat menggunakan KTP untuk membeli gas elpiji 3 kilogram, terutama di kios atau pengecer.

Nida menegaskan, di tingkat pengecer tidak bisa dikontrol, termasuk harga. Akan tetapi, setiap pengecer membeli di pangkalan wajib menyerahkan identitas warga di sekitarnya. “Misalnya pengecer membeli 30 tabung wajib menyerahkan identitas warga sehingga langsung terkoneksi,” jelasnya.

Kendala penerapan aturan ini pada sistem, karena masyarakat tidak memahami teknologi informasi sehingga lebih banyak dibantu oleh anak atau keluarga mereka.

Nida menegaskan, rumah makan, pengusaha laundry, dan hotel tidak boleh menggunakan gas elpiji 3 kilogram. Hal ini telah disosialisasikan kepada pangkalan dan agen di Kota Mataram. “Dari Pertamina dan Hiswana Migas juga telah menempelkan stiker masyarakat yang boleh membeli tabung gas 3 kilogram,” katanya.

Pemerintah pasti akan mengevaluasi sistem ini, sehingga monitoring dan pengawasan di lapangan rutin digelar. Termasuk kata Nida, pengecekan takaran tabung gas melon di SPBE, karena banyak ditemukan di Pulau Jawa bahwa isian tabung gas tidak semestinya. (cem)

Artikel lainnya….

KPU Lotim Salurkan Santunan Rp238,5 Juta

Kawasan Wisata Senggigi Kembali Terang

Minim, Petani Ikuti Program AUTP di Sumbawa

Pj Gubernur Tinjau PT.HPF, Produk Ikan Tuna NTB Siap Ekspor ke AS

0
KUNJUNGI: Pj.Gubernur NTB, H.Lalu Gita Ariadi mengunjungi PT. High Point Fisheries (HPF) di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Lotim, Sabtu 8 Juni 2024. (ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Penjabat (Pj) Gubernur NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, melakukan kunjungan ke PT. High Point Fisheries (HPF) di Desa Labuhan Lombok Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur (Lotim) Sabtu 8 Juni 2024 kemarin. HPF adalah sebuah perusahaan pengolahan tuna yang baru beroperasi di NTB.

Pj Gubernur bersama Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Asisten II Setda NTB, Pj. Sekda Lotim, Kadis Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lotim memberi apresiasi terhadap PT HPF yang mampu mengoptimalkan potensi besar perikanan tuna di NTB dengan kualitas terbaik serta memberdayakan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja.

Pj Gubernur mengatakan, operasional PT HPF ini membuktikan bahwa potensi perikanan tuna di NTB sangat besar dan berkualitas tinggi. Perairan NTB sudah dikenal lama sebagai sumber ikan tuna dan menjadi incaran para nelayan saat melaut karena pasarnya terbuka lebar.

“Hal ini juga sejalan dengan visi kami untuk memberdayakan masyarakat lokal sehingga mereka bisa menjadi bagian dari rantai produksi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah,” ujar Pj Gubernur.

Produk utama PT. HPF adalah berbagai olahan tuna beku berkualitas ekspor seperti Saku, Loin, Chunk, Cube Cut, dan Ground.

HPF merencanakan ekspor perdana sebanyak 17 ton produk tuna olahan melalui Bali ke Amerika Serikat pada Rabu besok. Ini merupakan langkah awal yang sangat positif dan diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang ekspor ke pasar internasional di masa mendatang.

Keberadaan pabrik pengolahan tuna ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

Hadirnya pabrik pengolahan ikan tuna ini merupakan wujud nyata dari sinergi antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam membangun perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan.

Namun demikian, PT. HPF menghadapi kendala dalam operasionalnya. Salah satunya adalah ketidakstabilan daya listrik yang mempengaruhi proses produksi.

Menanggapi masalah ini, Pemprov NTB kata Lalu Gita berkomitmen untuk membantu dengan segera berkoordinasi dengan PLN Wilayah NTB guna memastikan pasokan listrik yang stabil bagi kelancaran operasional pabrik.

Pemprov NTB berharap agar keberhasilan PT. HPF ini dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk turut berinvestasi di NTB, sehingga potensi daerah yang besar ini dapat dioptimalkan dengan baik.(ris)

Artikel lainnya….

Harkopnas 2024, Seribu UMKM Akan Diberikan Sertifikat Halal Gratis

Kegagalan IB Bisa Dipicu Faktor Teknis dan Non Teknis

Bale Mangrove Jerowaru Masuk 100 Besar Desa Wisata Terbaik ADWI 2024

“Womenpreneur Day” 2024 di LEM, Hasilkan Rp11 Miliar Transaksi dan Komitmen Pembiayaan

0
Kegiatan Womenpreneur Day 2024 di LEM yang berlangsung Sabtu 25 Mei 2024 – Minggu 26 Mei 2024 kemarin.(Ekbis NTB/ist)

KEGIATAN Womenpreneur Day Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) KTI 2024 yang berlangsung di Atrium Lombok Epicentrum Mall (LEM) tanggal 25-26 Mei 2024 berlangsung semarak. Kegiatan yang digelar oleh Womanpreneur Club (LWC) dan Bank Indonesia NTB ini diramaikan oleh 56 UMKM yang mengambil bagian dalam kegiatan ini. Selama dua hari pelaksanaan Womenpreneur Day, nilai transaksi dan komitmen pembiayaan perbankan syariah yang berhasil dicatat lebih dari Rp11 miliar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, kegiatan Womenpreneur Day ini merupakan bagian dari Road to FESyar di Provinsi NTB sebagai pre-event dari FESyar Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang akan terselenggara tanggal 7-10 Juli 2024 di Kendari Sulawesi Tenggara.

“Penyelenggaraan event seperti ini diharapkan dapat meningkatkan awareness dan pemahaman masyarakat terkait ekonomi dan keuangan syariah serta mendorong para pelaku ekonomi syariah dari sector halal food, kosmetik halal, modest fashion, dan berbagai sector lainnya untuk meningkatkan omzetnya,” kata Berry Arifsyah Harahap saat member sambutan dalam acara penutupan Womenpreneur Day Road to FESyar KTI 2024 yang berlangsung Minggu 26 Mei 2024 kemarin.

Ia mengatakan, belasan ribu pengungjung memadati kegiatan Womenpreneur Day yang berlangsung selama dua hari ini. Hingga Minggu siang, omzet penjualan dari Bazar UMKM peserta mencapai Rp698 juta dengan volume transaksi mencapai 66 ribu transaksi. Dari fungsi intermediasi perbankan, komitmen pembiayaan Bank Syariah pada hari pertama saja mencapai Rp10,4 miliar.  Sehingga jika ditotal transaksi dan komitmen pembiayaan Bank Syariah selama kegiatan berlangsung nilainya mencapai Rp11 miliar lebih.

Untuk kegiatan ini, LWC berkolaborasi dengan Bank Indonesia NTB. Menghadirkan puluhan stan UMKM berbagai produk NTB di bawah naungan LWC, dengan transaksi cashless (QRIS-red). Selama dua hari kegiatan ini, jumlah transaksi yang tercatat sebesar Rp 11 miliar lebih.

Kegiatan Womanpreneur Day hari pertama pada Sabtu 25 Mei 2024 kemarin dibuka langsung Ketua Dekranasda NTB Hj Lale Prayatni Gita Ariadi. Sedangkan hari kedua, ditutup oleh Karo Ekonomi Setda NTB H Wirajaya Kusuma.

Pada hari pertama, Womanpreneur Day menghadirkan sejumlah kegiatan menarik. Di antaranya lelang produk UMKM NTB oleh KPKNL. Selain itu, ada juga bussiness matching dengan BSI, inspiring talkshow berupa pemaparan materi from small bussiness to global market.

Selain itu ada juga penampilan tari Baralla dan Sajojo oleh siswa PHIP, Kelas Bobocil x Sweet Carving Donut, Make Up Class With Wardah, talkshow dan fashion show the Clinic, dan lainnya.

Sedangkan di hari kedua, juga menampilkan kegiatan yang tidak kalah menarik. Di antaranya, kegiatan masak dan bagi sampling produk bersama brand Yomas, lomba mewarnai, menampilkan tarian siswa Apple Tree.

Selain itu ada edukasi kebanksentralan QRIS dan CBP Rupiah, bussiness talk with Oya Miranti dengan tema tampil percaya dengan Wow color, kick off QRIS Infaq Pendidikan provinsi NTB, Penandatanganan MoU antara klaster telur Jago Lombok Utara dan PT Matahari Putra Prima (Hypermart), penyerahan simbolis pembiayaan dari Bank Mandiri ke klaster telur Jago, edukasi Ekonomi Syariah, dan kajian Umi Pipik.

“Dengan Womenpreneur Day ini, kami berharap produk UKM tidak saja berupa barang jadi, namun mulai membuat produk bahan untuk olahan makanan,” ujar Ketua Dekranasda NTB Hj Lale Prayatni Gita Ariadi.

Dikatakannya, Dekranasda NTB tidak tinggal diam dan terus menjalin kerja sama dalam pengembangan UMKM. Dirinya melihat peluang seperti kerajinan kulit di Tanggulangin Solo Jawa Tengah yang bisa dikembangkan di NTB.

“Kerajinan tersebut dapat menghasilkan produk sepatu murah untuk kebutuhan anak sekolah,” ujarnya.

Founder LWC Indah Purwanti mengatakan, perayaan tahun kelima LWC ini sekaligus untuk merayakan kemerdekaan perempuan dalam berbagai perannya. Terutama dalam kegiatan berwirausaha.

LWC sendiri memiliki program harian (Jejualan), program bulanan (Women Talk dan Kajian) serta program tahunan Womenpreneur Day dan Gathering. Tahun ini dirangkaikan dengan Road to Festival Syariah Kawasan Timur Indonesia, sebuah kompetisi di bidang inovasi ekonomi syariah.

“Semua anggota LWC terus mengasah ilmu, jejaring dan menjadi pengusaha yang sukses”, ujarnya.

Indah menambahkan, selama dua tahun terakhir expo Womanpreneur Day digelar dengan transaksi non tunai (QRIS-red) yang mencatatkan transaksi cukup baik. Bahkan sebelum pra-event tahun ini, sudah mencatat 58 ribu volume transaksi.(ris)

Artikel lainnya….

Harkopnas 2024, Seribu UMKM Akan Diberikan Sertifikat Halal Gratis

Kegagalan IB Bisa Dipicu Faktor Teknis dan Non Teknis

Bale Mangrove Jerowaru Masuk 100 Besar Desa Wisata Terbaik ADWI 2024

Peternak KSB Minta Kualitas Semen Beku Ditingkatkan

0
SAPI INDUKAN - Salah satu indukan sapi milik Khairil ini diberi nama "Luna Maya". Dari sapi ini Khairil pun sudah mendapatkan anakan sapi berbagai jenis lewat program IB. (Ekbis NTB/bug)

PROGRAM Inseminasi Buatan (IB) untuk meningkatkan populasi ternak khususnya sapi sangat digandrungi para peternak di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Dalam beberapa tahun terakhir banyak masyarakat pemilik sapi yang menjajal program tersebut untuk menambah jumlah ternaknya secara cepat.

Khairil salah seorang peternak di Kelurahan Dalam, kecamatan Taliwang mengatakan, dirinya sangat terbantu dengan program IB tersebut. Program ini baginya menguntungkan, karena dengan memanfaatkan indukan sapi lokal,  namun dapat memperoleh varian jenis sapi kualitas terbaik seusai keinginan peternak. “Saya punya satu indukan sapi bali. Dan itu sudah beberapa kali melahirkan dengan program IB dan dengan jenis bibit berbeda juga,” katanya, Minggu 9 Juni 2024.

Ia menjelaskan, mengembangkan sapi dengan metode kawin suntik ini sebenarnya akan sangat memiliki banyak keuntungan bagi peternak jika saja kualitas semen atau “mani beku” yang digunakan berkualitas tinggi.

Dari pengalamannya, Khairil mengaku, kualitas semen yang disalurkan pemerintah selama ini masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilannya yang mencapai 60 hingga 80 persen. “Kalau pengelaman saya dan banyak cerita teman peternak lain, jarang sekali, sekali suntik sapi langsung bunting,” ungkapnya.

Para peternak di KSB yang memanfaatkan IB untuk menambah populasi sapinya, umumnya memakai indukan sapi lokal. Khairil bercerita, sapi  bali paling banyak yang menjadi pilihan. Sapi bali sekali melahirkan normal pada masa birahi berikutnya akan mulai dicoba menjalani program IB.

Dalam sekali suntik, peternak harus merogoh kocek antara Rp250.000 hingga Rp300.000. Uang itu untuk biaya jasa petugas IB. Khairil mengaku, para peternak pada dasarnya tidak terlalu mempermasalahkan mengenai besaran  biaya jasa petugas itu. Karena umumnya para petugas sekaligus akan memberikan jasa konsultasi kepada peternak hingga membantu kelahiran sapi. “Tapi kan kalau gagal berkali-kali. Berapa uang yang kita keluarkan untuk membayar jasa suntik,” ujarnya.

Sebab itu Khairil mengatakan, alangkah baiknya menangkap animo masyarakat yang sudah mulai banyak tertarik dengan program IB itu. Pemerintah harus memperhatikan betul kualitas semen yang disalurkan, sehingga program IB yang diharapkan pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dapat tercapai.

“Sangat banyak yang tertarik dengan IB itu. Tapi biasanya sekali atau dua kali suntik dan gagal, mereka kemudian menyerah tidak mau melanjutkan lagi,” tukas Khairil.

Senada Khairil, peternak dari Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Sudirman berharap agar semen atau “mani beku” yang disalurkan selalu dijaga kualitasnya. Menurut dia, sapi hasil IB saat ini sudah mulai digemari masyarakat karena sangat menguntungkan. “Kalau untuk dijual ini untungnya banyak. Anakan saja bisa dihargai sampai Rp5 juta,” sebutnya.

Sudir mengaku sapi-sapi miliknya  yang lahir dengan metode IB lebih banyak dijual selama ini. Bahkan saat anakan jika ada yang menawar dengan harga yang tinggi, ia akan langsung menjualnya. Hanya saja sambung dia, dirinya tidak dapat menjual secara kontinu, karena program IB terhadap indukan sapinya tidak selalu berhasil. “Sapi itu kan masa birahinya sekitar sebulan sekali. Nah saat birahi itulah kita lalukan penyuntikan. Tapi kalau gagal yang pertama, biasanya saya akan menunggu dua atau tiga bulan baru melakukan penyuntikan lagi,” imbuhnya.(bug) 

Artikel lainnya….

Promo JNE-Jaleela Kolaborasi, Beri Diskon Ongkir 50 Persen untuk Pengirim dari Mataram

Walikota Beri Keringanan Penyelesaian Tunggakan Pajak Angkasa Pura

Laksanakan Instruksi Pusat, Muhammadiyah NTB Mulai Tarik Dana di BSI

Program IB Mampu Tingkatkan Populasi Ternak

0
HASIL IB - Pedet atau anak sapi hasil dari program IB di Lobar. (Ekbis NTB/ist)

PROGRAM Inseminasi Buatan (IB) cukup diminati oleh peternak. Lantaran selain cepat dan efisien, IB juga gratis. Namun tak jarang, IB juga gagal. Dampak progam IB ini pun cukup mampu meningkatkan populasi ternak di wilayah Lombok Barat (Lobar). Di mana saat ini jumlah ternak mencapai ratusan ribu ekor.

Kepala Dinas Pertanian Lobar Damayanti Widyaningrum mengatakan, pihaknya melalui puskeswan di masing-masing wilayah terus melakukan IB. “Kami terus melakukan IB, ada petugas Puskeswan kita turun. Dan itu gratis, kita berikan program gratis itu,” kata Damayanti, Minggu 9 Juni 2024.

Pihaknya menekankan kepada seluruh petugas IB di lapangan agar tidak memungut biaya IB, karena itu program nasional yang gratis. IB ini bertujuan untuk meningkatkan dan mempercepat populasi ternak, sebab kalau menunggu waktu terbaik kawin secara alami (tradisional) butuh waktu lama.

Adanya IB ini lebih cepat proses kawin dan beranak. Ia mengklaim, sejauh ini populasi ternak meningkat. Jumlahnya, mencapai 88 ribu ekor lebih ternak sapi dan kambing sebanyak 44 ribu ekor lebih. Dengan jumlah ternak ini, jelasnya, mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam daerah dan bahkan Lobar mengirim ke luar daerah. “Kita juga kirim ke luar,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Puskeswan Wilayah Selatan melingkupi tiga Kecamatan Gerung, Sekotong dan Lembar Lalu Zuliadi mengatakan, program IB kepada peternak tidak ditarik biaya alias gratis. “Gratis, tidak dipungut biaya,” tegasnya.

Kalaupun ada peternak yang berinisiatif, memberikan ke petugas sekadar uang, itu tidak pernah diminta oleh petugas. Dan petugas pun tidak pernah mematok biaya IB tersebut. Petugas pun tak asal IB, karena melalui proses penyelia dan pemeriksaan oleh dokter hewan.

Kalau ada masalah pada organ reproduksi maka diperiksa apakah bisa dilakukan IB atau tidak. Kalau tidak bisa dilakukan IB, maka tidak dilakukan IB oleh petugas. Bahkan petugas bisa memberikan solusi bagi peternak, bisa saja menjual ternaknya untuk diganti dengan ternak lain yang produktif agar bisa dilakukan IB. Ia menyebut dalam sebulan, masing-masing petugas melayani ternak dengan jumlah bervariasi. Tergantung birahi dan kondisi ternak. Rata-rata petugas melayani sampai 15-20 ternak per bulannya.

Namun dengan kendala N2 tersebut, petugas pun tidak bisa melakukan pelayanan IB. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan IB tersebut, diantaranya faktor ketepatan birahi ternak, ada tidak gangguan reproduksi. Kemudian, pelaporan peternak ke petugas. Apakah pas tidak dengan waktunya, semen atau bibit (mani beku), ketika tidak ada N2 maka tidak bisa berhasil. “Walaupun 10 kali dimasukkan (IB), tidak bisa berhasil,”ujarnya.

Waktu IB juga bervariasi, dari awal masukkan semen rata-rata 18-21 hari paling cepat diketahui apakah berhasil atau tidak. Lebih cepat dibanding kawin alami. Hanya saja, ada juga yang sampai dengan tiga bulan baru ada hasilnya dan tidak ada. “Ketika kita PKB, kosong,”ujarnya. Diakui, IB ini berdampak terhadap populasi ternak. Di wilayah Sekotong saja, saat ini terdapat 26 ribu ekor lebih, Lembar sebanyak 20 ribu ekor lebih dan Gerung 11 ribu ekor lebih.

Menurutnya kalau kesadaran warga melakukan IB terhadap Ternaknya, maka lumayan bisa meningkatkan populasi ternak. Saat ini, jarang ada petani pelihara sapi jantan. Karena adanya program IB ini. “Jadi nya IB aja yang dipakai,”jelasnya. (her)

Artikel lainnya….

Rico Rinaldy, Tinggalkan Kesan Mendalam Selama Bertugas di OJK NTB

Pemprov Dorong Ormas di NTB Ikut Mengelola Tambang

Investor Jepang Tandatangani Rencana Investasi PLTS 20 Megawatt di Lombok

Banyak Diminati, Warga Kebon Ayu Produksi Kerajinan Ikutan Kain Tenun

0
KERAJINAN IKUTAN - Kerajinan ikutan kain tenun berupa tas yang dihasilkan warga Desa Kebon Ayu. (Ekbis NTB/ist)

WARGA Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar) didukung Pemerintah Desa (Pemdes) Kebon Ayu mulai memproduksi kerajinan tangan turunan dari kain tenun yang diproduksi di desa itu. Produk ikutan yang diproduksi berupa tas dan pernak-pernik lainnya. Sejauh ini produk kerajinan yang dihasilkan tersebut banyak diminati.

Namun karena belum mampu memproduksi dalam partai besar, sehingga warga belum berani menyanggupinya.

Kepala Desa Kebon Ayu Jumarsa mengatakan, warga khusus perajin penjahit sudah dilatih keterampilan mendesain produk ikutan tenun ikat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). “Warga kami sudah dilatih kerajinan untuk turunan kain tenun yang dihasilkan warga,” kata Jumarsa akhir pekan kemarin.

Pihaknya mengarahkan warga agar tidak hanya memproduksi kerajinan turunan kain tenun. Karena kalau berharap dari kain butuh waktu lama dan harganya pun lumayan mahal. Selain, itu pihak desa butuh produk turunan agar produksi cepat dan bisa menghasilkan bagi warga. “Tidak saja sarung saja kita hasilkan, tapi turunannya juga,”ujarnya.

Produk turunan yang dihasilkan pun masih terbatas, seperti tas. Sedangkan yang lain seperti baju, dompet, butuh akan dikembangkan bertahap.

Kerajinan turunan itupun sudah dimulai diproduksi di showroom tenun yang dibangun Pemda tahun lalu. Hasil kerajinan ikutan kain tenun yang hasilkan pun layak jual. Kain tenun dikombinasikan dengan bahan lain.

Untuk membuktikan komitmen warga, ia memotivasi dengan meminta mereka untuk urunan membeli bahan. Dan hasil produksinya dibeli olehnya. Menurutnya, dukungan dari desa sendiri gampang dilakukan, namun ia menguji dulu sejauh mana komitmen warga menjalankan usaha ini. “Alhamdulillah sudah berjalan (produksi), sudah mulai produksi. Tapi masih tas dulu,’’ ujarnya.

Hal ini penting agar usaha ini berkelanjutan untuk membangun perekonomian warga. Tak disangka lanjut dia, ada pihak dari Loteng yang berminat untuk membeli produk warga dalam partai besar. Bahkan warga tidak saja akan dipesan produknya, namun diberikan bimbingan kalau tidak bisa membuat desain seperti yang diminta pemesan tersebut. “Ada yang order 3 ribu pcs, tapi produksi masih terbatas,”ujarnya.

Namun itu belum mampu dipenuhi, karena kapasitas produksi masih terbatas.  Karena itu, pihaknya pun mendorong agar warga meningkatkan produksinya. Pihaknya menambahkan, jumlah warga yang terlihat dalam menjahit produk Ikutan kain tenun ini ada sekitar puluhan orang. Pembuatan kerajinan ikutan pun lumayan cepat. (her)

Artikel lainnya….

Penyelenggaraan MXGP di Mataram Diizinkan

Hasil RUPS-LB, Jamkrida NTB Konversi Penuh ke Syariah

Investor Jepang Tandatangani Rencana Investasi PLTS 20 Megawatt di Lombok

Animo Peternak Tinggi, Pelayanan IB Terhambat Nitrogen Bibit

0
IB TERNAK - Salah seorang petugas IB di Sekotong Mohri sedang melakukan IB pada ternak untuk mempercepat beranak dalam meningkatkan populasi ternak. (Ekbis NTB/ist)

PROGRAM pemerintah untuk meningkatkan mutu dan populasi ternak melalui program Inseminasi Buatan (IB) terus digalakkan. Animo warga pun cukup tinggi untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik ini, karena waktu lebih efisien untuk mendapatkan hasil. Akan tetapi kendala dihadapi di lapangan, Nitrogen (N2) cair untuk media penyimpanan semen baku tidak ada sejak beberapa pekan terakhir.

Akibatnya, pelayanan IB ke ternak pun tidak bisa dilakukan oleh petugas IB. Di Lombok Barat (Lobar) misalnya, hampir tiga pekan terakhir belum ada distribusi nitrogen semen beku dari dinas bagi para petugas IB. Itu menyebabkan petugas tidak bisa turun melayani permintaan warga untuk IB ternak. Mohri, salah seorang petugas IB di Desa Sekotong Tengah mengakui sejauh ini pelaksanaan IB berjalan lancar.

“Hanya saja kendala saat ini N2 cair untuk media penyimpanan semen atau bibit. Kalau yang lain lancar, antusias peternak lumayan,” ujarnya, Minggu 9 Juni 2024.

N2 cair ini diadakan langsung oleh pemerintah, di mana pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB memberikan kepada Pemkab Lobar lalu didistribusikan ke petugas. Biasanya, N2 ini satu paket dengan bibit (semen beku). Akan tetapi sejak beberapa pekan terakhir, N2 cair ini tidak ada.

Bantuan N2 dan bibit ini merupakan bantuan dari kegiatan yang dinamakan SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri). Program ini sebagai salah satu upaya peningkatan kelahiran melalui Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB) tahun 2015 – 2016, dilanjutkan lagi dengan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) pada tahun 2017 – 2019, dan disempurnakan menjadi kegiatan SIKOMANDAN mulai tahun 2020. Informasinya, program ini terhenti, sehingga N2 dan bibit pun langka.

Menurutnya, kalau tidak tidak ada N2 cair tersebut, petugas IB tidak bisa melakukan pelayanan IB, karena itu menjadi pengawet bibit agar tidak mati. “Kalau ndak ada N2, tidak bisa melakukan IB, sudah 3 minggu ini ndak ada,” ujarnya.

Ia mengaku belum tahu apa penyebab, sehingga N2 ini tidak ada. Pihaknya sangat berharap agar N2 cair dan bibit ini diturunkan oleh pemerintah, karena animo warga untuk IB lumayan tinggi. Namun semenjak N2 cair Semen beku tidak ada, ia tak bisa melayani peternak intim melakukan IB ternaknya.

Dalam satu bulan, kadang bisa melayani sampai 50-100 ekor, tergantung musim birahi ternak sapi. Dimana ia melayani dua wilayah kerja, Yakni Desa Sekotong Tengah dan Cendi Manik. Untuk tingkat keberhasilan IB ini, lumayan mencapainya 75 persen,sedangkan 25 persen tingkat kegagalannya. Untuk upah atau insentif bagi petugas IB, pada tahun 2017 sejak dimulai mulai Program SIWAB kemudian dilanjutkan SIKOMANDAN dihitung honor petugas dari pemerintah.

Satu ekor sapi dihitung, untuk IB dibayar Rp30 ribu, Pemeriksa Kebuntingan (PKB) Rp20 ribu, kelahiran Rp20 ribu. Dari sini lah petugas IB juga mendapatkan sekadar tambahan (insentif). “Kalau peternak gratis, tidak bayar,” imbuhnya.

Namun sangat disayangkan, menurut informasi sementara program ini berakhir. “Padahal dari para peternak, yang sering IB ternaknya sangat bersyukur lebih-lebih ini gratis,”ujarnya.

Sementara itu, Lalu Zuliadi selaku Kepala UPT Puskeswan Wilayah Selatan melingkupi tiga Kecamatan Gerung, Sekotong dan Lembar mengatakan, N2 tersebut diperoleh dari provinsi. Di provinsi masih kesulitan bahan baku untuk pengadaan N2. “Sedang kesulitan  untuk pengadaan (N2) di provinsi,” jelasnya.

Mensiasati itu, para petugas pun sampai harus urunan swadaya membeli N2 dari perusahaannya. Namun lagi-lagi kendalanya, alat di perusahaan itu sedang rusak, sehingga tidak bisa memproduksi N2. “Jadinya itu kendala kita,”imbuhnya.

Sementara bibit itu harus membutuhkan N2 tersebut, sebab kalau tidak ada itu maka bibit tersebut mati dan petugas IB pun tidak bisa melakukan pelayanan IB terhadap ternak peternak. (her)

Artikel lainnya….

KPU Lotim Salurkan Santunan Rp238,5 Juta

Kawasan Wisata Senggigi Kembali Terang

Minim, Petani Ikuti Program AUTP di Sumbawa

Harus Dievaluasi Pemerintah

0
Moh. Akri (Ekbis NTB/ist)

DPRD NTB meminta Pemprov NTB dalam hal ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk melakukan optimalisasi program Inseminasi Buatan (IB) di daerah ini. Hal ini dilakukan agar populasi sapi di NTB tetap terjaga.

Jika program IB di lapangan banyak yang menuai kegagalan, baik IB yang diprogramkan pemerintah maupun secara mandiri oleh peternak, maka harus dicarikan jalan keluar agar lebih efektif.

Anggota DPRD NTB Moh Akri mengatakan bahwa, program yang merugikan masyarakat harus dilakukan evaluasi oleh pemerintah. Jangan sampai program yang gagal membuat masyarakat menjadi merugi. Misalnya dalam kasus penyuntikan oleh inseminator mandiri, peternak harus membayar sekitar Rp200 ribu atau tergantung kesepakatan.

“Saya melihat program yang sering gagal tersebut harus dilakukan evaluasi. Misalnya mengenai ketepatan waktu melakukan IB, skill inseminator, kualitas semen dan lain-lain harus diperhatikan pemerintah,” kata Moh Akri kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Menurut Sekretaris DPW PPP NTB ini, pemerintah harus memberikan sesuatu yang tidak merugikan masyarakat di program peternakan ini. Program IB yang digelar pemerintah yaitu SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri) harus gratis 100 persen, karena akan memberikan dampak yang bagus untuk peternak dan pemerintah itu sendiri.

Untuk program penyuntikan mandiri yang dibayar oleh peternak, sistemnya harus diperbaiki agar tidak merugikan masyarakat. Misalnya pembayaran IB dilakukan setelah sapi sukses bunting. Jika tidak demikian, uang peternak akan menguap.

“Harusnya ada akad yang dilakukan antara pembeli dan penjual, kalau program suntiknya berhasil, maka dibayar kemudian kalau tidak berhasil jangan dibayar, itu baru fair menurut saya,” tegas Ketua Fraksi PPP DPRD NTB ini.(ris)

Artikel lainnya….

Harkopnas 2024, Seribu UMKM Akan Diberikan Sertifikat Halal Gratis

Kegagalan IB Bisa Dipicu Faktor Teknis dan Non Teknis

Bale Mangrove Jerowaru Masuk 100 Besar Desa Wisata Terbaik ADWI 2024

Distan Lotim Sebut IB Banyak Gagal Diduga akibat PMK

0
Zulfan Ashry (Ekbis NTB/rus)

SEJAK munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang ternak sapi, banyak menyebabkan gangguan reproduksi khususnya pada sapi betina. Kondisi ini dinilai berpengaruh pada program peningkatan produktivitas ternak. Salah satunya program Inseminasi Buatan (IB) yang bakal sulit berhasil.

Hal ini dikatakan Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Peternakan Lotim, drh. Zulfan Ashry  menjawab Ekbis NTB di kantornya, Kamis 6 Juni 2024 lalu.

Dia menjelaskan, faktor dimaksud antara lain secara eksternal maupun internal. Eksternalnya itu adalah kualitas semen beku yang disuntikkan termasuk petugas yang menyuntikkan. Sedangkan faktor internalnya dari sapi indukan yang disuntikkan IB.

Gangguan internal pada ternak ini di antaranya birahi tidak muncul setelah melahirkan. Kemudian ada namanya birahi terus menerus. Lainnya ovarium tidak berungsi secara optimal. Birahi normal, tapi tidak ada sel telur yang dibuahi oleh sperma maka tidak bisa jadi, sehingga sekuat apapun melakukan IB, tidak bakalan bisa bunting sapi betinanya. Sebelum diperbaiki ovariumnya, maka tidak bisa dilakukan penyuntikan IB.

Atas kondisi ini, pihaknya menyarankan kepada petugas, ketika sudah tiga kali melakukan IB dan tidak berhasil, maka koordinasi segera dengan medic veteriner atau dokter hewan. Karena dokter hewan itulah yang paling mengetahui diagnosa pada ternak. Kalau terjadi gangguan ovariumnya, maka dokter hewanlah yang turun tangan melakukan pengobatan dulu.

Gangguan fungsi ovarium ini erat kaitannya dengan pola pakan ternak. Ketika terjadi PMK, ternak mengalami gangguan pada konsumsi pakan. Bahkan sapi banyak yang ambruk. Asupan gizi pada ternak kurang, maka  jelas berpengaruh pada pada kesiapan ovariumnya

Soal berbayar atau tidak berbayar dalam melakukan  IB, drh Zulfan menjelaskan, pada tahun sebelumnya program IB ternak ini menjadi  bagian dari kegiatan Si Komandan, yakni akronim dari Sapi Kerbau Komoditi Andalan Dalam Negeri. Tetapi, seiring pergantian Menteri Pertanian, berubah lagi namanya dengan nama peningkatan produktivitas ternak.

Dalam pelaksanaan program si komandan dulu tersedia ada biaya operasional untuk petugas IB. Akan tetapi, setelah tidak lagi bernama si Komandan, tidak ada lagi biaya yang tersedia. Biaya operasional ini diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah masing-masing sesuai kemampuan daerah. Mengingat kondisi fiskal Lotim yang terbatas, sehingga biaya operasional ini tidak dianggarkan. “Jadi BOP mulai tahun 2024 ini tidak ada,” terangnya.

Bantuan program peningkatan produktivitas ternak ini hanya dalam bentuk straw atau semen  beku. Itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Sementara, Lotim dibebankan target 40 ribu ekor setahun dengan alasan jumlah sapi betina produktif di Lotim mencapai 59 ribu. Awalnya Lotim ditawari target 50 ribu, akan tetapi ditolak Distan Lotim, sehingga ditetapkan target 40 ribu dengan estimasi ada juga yang kawin alami.

Sampai pertengahan tahun 2024 ini, jumlah straw yang diterima Lotim hanya 8 ribu straw baik eksotik maupun Bali. “Terakhir kami terima akhir Mei kemarin 5 ribu,” sebutnya. ‘’Sementara target sangat besar. Teman-teman petugas IB ini pun dibebaskan guna mencapai target. Selain itu, straw yang diberikan dari pemerintah tidak sepenuhnya diterima peternak,’’ tambahnya.

Tidak sedikit peternak, ujarnya, menolak straw gratisan tersebut dengan berbagai argumentasi. Banyak peternak meminta dipilihkan straw dengan kualitas terbaik dan pasti berkualitas dan keberhasilannya. Akibatnya, banyak straw yang kemudian didatangkan di luar yang  tersedia oleh pemerintah tersebut. “Ada yang dibeli jadinya di Bayumulek karena di sana kan ada yang  melayani secara swadaya,” tuturnya.

Satu straw di Banyumulek dijual seharga Rp 10 ribu. Harga stro diakui memang cukup murah, akan tetapi proses dan alat yang harus disiapkan untuk melakukan penyuntikan IB cukup banyak. Tidak ditampik ada petugas yang dibayar Rp 200 ribu sekali suntik itu, karena menggunakan sistem kontrak dengan peternak. Kontrak dimaksud adalah sampai IB berhasil atau sampai pertolongan melahirkannya selesai.

Sistem kontrak itu bukanlah kemauan dari petugas sendiri. Akan tetapi keinginan dari peternak karena tidak ingin gagal IB-nya. Menurutnya, tenaga medis ternak ini beda dengan dokter pada manusia. Dokter hewan ini sendiri yang harus mendatangi pasiennya dengan berbagai risiko. Dokter hewan maupun para petugas lapangan IB ini membutuhkan berbagai jenis bahan yang harus disediakan, sehingga sangat wajar ketiga pekerjaan profesionalisme paramedis hewan ternak ini diberikan penghargaan.

Semua petugas lapagan IB dipastikan sudah memiliki kompetensi. Karena itu merupakan pra syarat untk bisa melakukan IB. Saat ini di Lotim jumlah inseminator di Lotim 200 orang. Sertifikat kompetensi inseminator ini pun tidak boleh mati. “Ketika setifikatnya mati, maka kita minta diperpanjang,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan peternak dengan membayar jasa inseminator setiap melakukan pelayanannya tidakah menjadi masalah. Terlebih mengingat risiko yang harus dihadapi para petugas ini. Drh Zulfan mengaku dirinya pernah ditendang oleh ternak sampai pingsan saat melakukan pertolongan kelahiran ternak. “Makanya saya bilang risikonya sangat besar bantu ternak ini, siapa yang bertanggung jawab,” demikian. (rus)

Artikel lainnya….

Promo JNE-Jaleela Kolaborasi, Beri Diskon Ongkir 50 Persen untuk Pengirim dari Mataram

Walikota Beri Keringanan Penyelesaian Tunggakan Pajak Angkasa Pura

Laksanakan Instruksi Pusat, Muhammadiyah NTB Mulai Tarik Dana di BSI