Saturday, May 9, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog

Masyarakat Diminta Dukung Sensus Ekonomi

0
Kepala BPS KSB Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani memberikan sambutan saat sosialisai penyelenggaraan sensus ekonomi tahun 2026. Masyarakat diminta mendukung sensus tersebut. (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) yang akan digelar serentak mulai Mei-Juli 2026.

Kepala BPS KSB, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani, mengatakan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam kegiatan sensus ekonomi dalam menentukan kualitas data. “Kami minta bantu sosialisasikan Sensus Ekonomi 2026 ke tetangga, keluarga, dan pelaku UMKM. Saat petugas datang, mohon berikan data sejujurnya. Data Anda dijamin kerahasiaannya oleh UU Statistik,” katanya saat hadir dalam acara Forum Yasinan yang digelar Pemda KSB, Kamis malam (7/5).

Alit Rahayu menjelaskan, pada kegiatan sensus ini seluruh unit usaha masyarakat akan didata. Baik usaha menetap, tidak menetap, maupun online. Cakupannya mulai dari pedagang kaki lima, warung, bengkel, kontraktor, hingga perusahaan skala besar. “Semua usaha akan didatangi, kecuali sektor pertanian yang sudah tercakup Sensus Pertanian. Tujuannya memotret struktur ekonomi masyarakat terkini,” ujarnya.

Petugas akan dilengkapi tanda pengenal resmi, rompi, dan surat tugas BPS. Dikatakan Alit Rahayu, masyarakat patut mempertanyakan para petugas sensus saat berkunjung untuk menunjukkan bukti dirinya sebagai petutas.

Lanjut ia menyampaikan bahwa hasil sensus akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan. Sebab itu, data valid diperlukan untuk memotret kondisi ekonomi masyarakat terkini. “Jadi kalau ada petugas yang datang, bapak ibu dijawab jujur. Jangan ada yang disembunyikan, toh tidak ada data penting yang akan diminta oleh petugas,” janjinya.

Penyelenggaran sensus ekonomi diterangkan Alit Rahayu, akan dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap pertama untuk usaha menengah dan besar yang akan didata secara daring lewat website yang telah disediakan oleh BPS.

Sementara tahap II, ia melanjutkan akan mendata pelaku usaha UMKM . Alit Rahayu menuturkan, petugas sensus nantinya akan turun mendatangi langsung dari rumah ke rumah warga. “Nanti petugas sensusnya door to door ke semua warga. Begitu juga untuk bangunan khusus seperti kios dan toko pasti dikunjungi,” cetusnya. (bug)

Elpiji Non Subsidi di Bima Langka

0
Juriadin. (Suara NTB/hir)

Bima (ekbisntb.com) –  Ketersediaan elpiji non subsidi di Kabupaten Bima, masih langka. Pemerintah Kabupaten Bima mengusulkan pembangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima, Juraidin, ST., M.Si., mengatakan tidak tersediannya SPBE di Kabupaten Bima, memicu distribusi elpiji non subsidi bergantung dari Pulau Lombok, sehingga harga bakar bakar di tingkat masyarakat menjadi lebih mahal.

“Karena kita belum ada SPBE untuk gas non subsidi di Bima. Jadi barang ini harus diambil di Lombok,” ujarnya.

Menurutnya, biaya distribusi dari Lombok ikut mempengaruhi harga elpiji lebih mahal dibandingkan daerah lain. Persoalan tersebut diperparah dengan kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebutkan, elpiji non subsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram mengalami kenaikan sekitar 18-19 persen.

“Jadi saat ini ada kecenderungan masyarakat kembali lari ke LPG tiga kilogram, karena harga LPG non-subsidi naik,” ujarnya.

Selain harga sebutnya, keterbatasan distribusi juga sulit ditemukan di pasaran. Akibatnya, masyarakat yang sebenarnya mampu membeli tetap menggunakan elpiji bersubsidi.

Pihaknya bersama DPRD Kabupaten Bima telah berkonsultasi dengan Kementerian ESDM, untuk mengusulkan pembangunan SPBE non-subsidi di Bima.

“Kami sebenarnya pernah menghadap dan melakukan konsultasi ke Kementerian ESDM bersama Komisi II meminta supaya SPBE untuk LPG non-subsidi ini ada di Bima,” ujarnya.

Menurut Juraidin, keberadaan SPBE akan memangkas biaya distribusi sehingga harganya lebih terjangkau dan ketersediaan barang lebih mudah diakses masyarakat.

“Kalau ada SPBE di Bima, harga elpiji non-subsidi kemungkinan bisa lebih terjangkau. Sekarang harganya berkisar Rp107 ribu untuk ukuran 5,5 kilogram dan Rp228 ribu untuk ukuran 12 kilogram, harga tersebut adalah harga yang belum termasuk biaya distribusi, sehingga masyarakat tidak cenderung lagi beralih ke elpiji 3 kilogram,” tandasnya. (hir)

Sembilan Desa di Dompu Lolos Verifikasi KNMP 2026

0
Amiruddin(ekbis NTB/dok)

Dompu (ekbisntb.com) – Sebanyak 9 desa di Kabupaten Dompu lolos verifikasi lanjutan untuk ditunjuk sebagai lokasi pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih tahun 2026 dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI.

Kesembilan desa ini yaitu Hu’u Kecamatan Hu’u, Desa Tolokalo dan Soro Kecamatan Kempo, Desa Malaju dan Karama Kecamatan Kilo, Desa Kwangko Kecamatan Manggelewa, Desa Jambu Kecamatan Pajo, Desa Pekat dan Nangamiro Kecamatan Pekat.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Dompu, Amiruddin, S.Hut pada Jumat (8/5) kemarin mengaku telah mendapat informasi rencana peninjauan calon lokasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2026. Peninjauan ini untuk keperluan penyusunan DEDnya. “Di Dompu ada 9 calon lokasi yang akan ditinjau,” ungkapnya.

Dikatakan Amiruddin, peninjauan ini sekaligus melakukan survei topografi dan akan dilakukan paling cepan pekan depan. “Kita sekarang tinggal menkoordinasikan dengan desa lokasi KNMP untuk menyiapkan dokuman dan persyaratan pendukung,” jelasnya.

Dengan adanya jawaban dari kementrian, Amiruddin, berharap akan lebih banyak daerah pesisir di Dompu bisa dikembangkan sebagai lokasi kampung nelayan. Program ini tidak hanya menghadirkan pemberdayaan bagi nelayan dan Masyarakat pesisir, tapi juga akan didampingi hingga tumbuh dan berkembang.

Karena program KNMP ini targetnya untuk pengentasan kemiskinan ekstrim dan mengeluarkan Kawasan pesisir dari kekumuhan. “Kita ingin mendorong kemandirian ekonomi Masyarakat pesisir melalui kampung nelayan. Kita menargetkan lebih banyak desa di Dompu menjadi sasaran,” katanya.

Untuk tahun 2025, Desa Jala Kecamatan Hu’u ditunjuk sebagai lokasi KNMP. Di des aini Tengah dibangun beberapa sarana prasarana pendukung sebagai kawasan yang mendukung perekonomian nelayan dengan nilai anggaran Rp22 miliar. Alokasi ini ada untuk pembangunan sarana prasarana, juga untuk peralatan kebutuhan industry perikanan. (ula)

Setelah GT World Challenge Asia, MHA Nantikan Ajang yang Lebih Tinggi Levelnya

0
Ajang GT World Challange Asia 2026 di Sirkuit Mandalika sukses memberi dampak bagi geliat pariwisata di kawasan The Mandalika. (Suara NTB/ist)

Praya (ekbisntb.com) – Ajang GT World Challenge Asia 2026 yang berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit akhir pekan kemarin, mencatatkan sukses tersendiri. Tidak hanya dari aspek penyelenggaraannya saja, event balap mobil skala Asia tersebut juga sukses memberi dampak terhadap geliat pariwisata khususnya di kawasan The Mandalika dan sekitarnya. Kehadiran event dengan level yang lebih tinggi pun sangat dinanti para pelaku wisata di daerah ini.

“Selama event GT World Challenge Asia berlangsung, pariwisata di kawasan Kuta menggeliat,” ujar Ketua Mandalika Hotel Assocation (MHA) Syamsul Bahri, kepada Suara NTB, Jumat (8/5/2026) kemarin.

Dari sisi tamu hotel, okupansi hotel di kawasan Kuta Mandalika mencapai hingga 100 persen. Dengan long stay bahkan ada yang sampai lima hari. Hal itu menunjukkan bagaimana besarnya dampak kehadiran event tersebut terhadap geliat pariwisata di daerah ini. Khususnya di kawasan The Mandalika.

Sehingga pihaknya berharap kedepan, event-event dengan skala dan level lebih tinggi bisa hadir di kawasan The Mandalika. “Kita selaku pelaku wisata berharap event dengan level lebih tinggi dari GT World Challange Asia bisa hadir kedepanya,” sebut Syamsul.

Pihaknya siap mendukung dan membantu mempromosikan event-event tersebut. Supaya jangkauan promosinya bisa lebih luas lagi. Dengan begitu, semakin banyak orang tahu bahwa ada event di kawasan The Mandalika. Dan, tentunya bisa menarik minat wisatawan untuk datang menonton event tersebut.

“Ini jadi catatan dari kami, promosi event harus lebih awal. MGPA selaku penyelenggara juga penting mengandeng pelaku wisata yang ada untuk membantu promosinya melalui jaringan yang dimilikinya. Dalam hal ini kami siap,” tegasnya.

Terkait aspirasi untuk bisa menghadirkan event dengan level lebih tinggi dari GT World Challenge Asia, Direktur Utama MGPA Priandhi Satria sebelumnya mengaku, itu sedang dipertimbangkan. Saat ini memang ada beberapa event balap mobil yang masuk dalam list target untuk diselengarakan di Sirkuit Mandalika. Salah satunya balap Le Mans Asia.

Lebih lanjut Priandhi juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak di daerah ini. Sehingga ajang GT World Challenge Asia 2026 bisa berlangsung dengan sukses serta bisa memberikan dampak positif bagi daerah.

Dari catatan MGPA ajang GT World Challenge Asia 2026 yang kemarin, mampu menarik antusiasme penonton yang tinggi. Selama tiga hari pelaksanaannya total pengunjung mencapai 12.522 orang. Baik di area paddock maupun tribun. Kehadiran belasan ribu pengunjung tersebut mampu menggerakkan pelaku UKM yang ada.

“Kesuksesan ini tidak terlepas dari sinergi lintas sektor yang kuat antara penyelenggara, pemerintah, aparat keamanan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya,” pungkasnya seraya menambakan, untuk tenaga kerja GT World Challenge Asia 2026 sukses menyerah hingga 347 tenaga kerja lokal. (kir)

NTB Kejar Lama Menginap Wisatawan

0
Wisatawan sedang check in di salah satu hotel di Mataram. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi NTB terus berupaya meningkatkan rata-rata lama menginap wisatawan di daerah ini. Salah satu strategi yang disiapkan adalah memperbanyak atraksi dan aktivitas wisata agar wisatawan tidak hanya datang singkat, tetapi menghabiskan lebih banyak waktu di destinasi wisata di NTB.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, mengakui rata-rata lama menginap wisatawan masih menjadi tantangan yang harus dibenahi ke depan.

“Rata-rata lama menginap ini yang terus kita dorong untuk meningkat. Salah satu caranya dengan memperbanyak atraksi dan aktivitas wisata yang bisa membuat wisatawan lebih lama tinggal di destinasi,” ujarnya, Jumat, 8 Mei 2026.

Berdasarkan data BPS, wisatawan yang menginap di hotel rata rata masih dibawah 2 hari. Namun menurutnya, data lama tinggal wisatawan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.

Pasalnya, masih ada pola akomodasi wisatawan yang belum terpantau secara utuh, seperti wisatawan kapal pesiar yang datang ke Lombok namun memilih menginap di kapal.

Nur Aulia menjelaskan, kunjungan kapal pesiar memang memberikan kontribusi terhadap angka kunjungan wisatawan. Namun, dampaknya terhadap tingkat hunian hotel dan lama tinggal wisatawan di daratan masih belum maksimal.

“Puluhan ribu wisatawan bisa datang melalui kapal pesiar, tetapi mereka menginap di kapal. Ke depan kita ingin bagaimana wisatawan kapal pesiar ini bisa overnight di Lombok dan bermalam di daratan,” katanya.

Selain wisatawan kapal pesiar, pola kunjungan wisatawan harian atau one day trip juga menjadi tantangan tersendiri karena belum memberikan dampak optimal terhadap sektor perhotelan dan ekonomi lokal.

Meski tren rata-rata lama menginap pada awal tahun terlihat menurun, Aulia menilai kondisi ini masih dipengaruhi faktor musim kunjungan wisata atau low season. Ia optimistis tren tersebut akan bergerak positif pada bulan-bulan berikutnya.

“Ini masih awal tahun dan masih masa low season. Kami optimistis ke depan trennya akan membaik,” katanya.

Di sisi lain, Pemprov NTB juga mulai memfokuskan promosi wisata pada pasar potensial, khususnya kawasan Australia, Asia, dan Oseania. Pemilihan kawasan tersebut mempertimbangkan konektivitas penerbangan langsung serta kontribusi wisatawan dari kawasan tersebut yang dinilai cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.

“Fokus pasar kita saat ini Australia, Asia, dan Oseania karena konektivitasnya sudah ada dan kontribusinya juga cukup baik. Tapi bukan berarti kita mengabaikan pasar dari negara lain,” jelasnya.

Tahun ini, Pemprov NTB menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 2,55 juta orang. Pemerintah berharap target tersebut dapat tercapai seiring penguatan promosi, peningkatan konektivitas, serta penambahan atraksi wisata di berbagai destinasi unggulan di NTB. (bul)

Kawasan The Mandalika Masuk Zona Merah Karhutla

0
Pengendara melintasi area pegunungan diwilayah sekitar kawasan The Mandalika yang ditanami jagung oleh masyarakat(ekbisntb.com/kir)

Praya (ekbisntb.com) – Potensi terjadinya kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mulai meningkat. Seiring dengan mulai masuknya musim kemarau yang tahun ini diperkirakan bakal berlama lama dan lebih panas. Efek dari fenonema El Nino yang akan berlangsung selama musim kemarau tahun ini.

Wilayah selatan menjadi wilayah yang berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Termasuk kawasan The Mandalika, masuk menjadi salah satu zona merah kasus kebakaran hutan dan lahan di daerah ini.

Mengingat, dari catatan kasus kebakaran hutan dan lahan sebelum-sebelumnya itu terjadi di kawasan The Mandalika. Pasalnya, di kawasan tersebut masih ada beberapa masyarakat yang mengelola lahan dan melakukan aktivitas pembakaran saat membuka lahan.

“Di selatan banyak zona merah kita. Termasuk kawasan The Mandalika dan sekitarnya. Karena disitu masih ada masyarakat kita yang membuka lahan dengan cara membakar,” ungkap Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Loteng Drs. H. Supardan, kepada Suara NTB, Kamis (7/5/2026).

Masyarakat pun diimbau untuk tetap berhati-hati. Terutama bagi masyarakat yang berada atau tinggal di dekat kawasan hutan diminta agar bisa ikut berpartisipasi menekan potensi terjadinya kebakatan lahan dan hutan. Salah satunya dengan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar semak ataupun hasil sisa pembukaan lahan.

“Terutama masyarakat kita yang ada di wilayah selatan, diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena itu bisa memicu kebakaran hutan,” ujar.

Ditemui di Kantor Bupati Loteng, Supardan mengatakan, bersama instansi terkait pihaknya mulai melakukan pemetaan daerah-daerah rawan dan berpotensi terjadi kebakaran hutan. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan hutan juga terus digalakkan. Harapannya, bisa menumbuhkan kesadaran dari masyarakat akan dampak dari kasus kebakaran lahan dan hutan.

“Pos pemadam kebakaran di kawasan Kuta Mandalika juga kita perkuat. Baik dengan penyiapan armada maupun personel pendukung. Bekerjasama dengan ITDC sebagai pengelola kawasan The Mandalika,” sebutnya seraya menambahkan pos-pos pemadam kebakaran yang lain juga tetap disiagakan untuk mengantisipasi kasus kebakaran hutan dan lahan di daerah ini. (kir)

Butuh Triliunan Rehabilitasi Ratusan Ribu Hektare Hutan Kritis di NTB

0
Lahan jagung sebagai salah satu penyebab hutan kritis. Butuh dana besar dalam melakukan rehabilitasi hutan. (Suara NTB/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Hingga tahun 2025 luas hutan kritis di NTB sekitar 180 ribu hektare. Angka ini sempat mengalami penurunan dibandingkan tahun 2022 lalu yang mencapai 192 ribu hektare. Rehabilitasi lahan kritis di NTB membutuhkan anggaran besar, sekitar Rp5-6 triliun.

Kepala Bidang Planologi dan Pemanfaatan Hutan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB, Burhan Bono mengatakan perbaikan hutan kritis Rp8-10 juta per hektare. Ia menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam, seperti banjir dan longsor.

“Lahan kritis itu kan lahan yang tidak punya penutupan lagi yang optimal untuk mendukung fungsinya. Karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menampung air. Begitu kan lahan kritis itu,” ujarnya belum lama ini.

Atas kondisi itu, pihaknya mendorong perubahan pola pengelolaan lahan. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah konsep agroforestri seperti yang berkembang di sejumlah wilayah Pulau Lombok. Pola pengelolaan hutan berbasis tanaman produktif dinilai mampu menjaga tutupan hutan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Konsep-konsep yang dilakukan teman-teman di Pulau Lombok ini harus kita adopsi. Di wilayah kaki Rinjani banyak masyarakat berkegiatan, tapi hutannya masih tetap ada,” ungkapnya.

Hutan kritis, lanjutnya tersebar di sejumlah wilayah di NTB, Paling banyak berada di Kabupaten Dompu, Sumbawa, dan Bima. Sementara di Pulau Lombok banyak ditemukan di Lombok Barat bagian selatan. Penyebab utama lahan kritis yaitu aktivitas manusia. Termasuk pembukaan lahan yang menghilangkan tutupan vegetasi.

Namun, tidak semua kawasan minim pohon dapat dikategorikan rusak, karena beberapa wilayah memang memiliki karakter ekosistem alami seperti savana di kawasan Rinjani.

“Lahan kritis itu lahan yang tidak punya penutupan optimal untuk mendukung fungsinya. Tapi jangan salah, seperti di Rinjani ada ekosistem savana, itu memang ekosistem alami dan tidak perlu diubah lagi,” jelasnya.

Rehabilitasi hutan kritis, sambungnya tidak melulu soal anggaran. Pemerintah bisa mengambil kebijakan lain tanpa mengganggu APBD. Misalnya, kebijakan larangan menanam jagung di kawasan hutan yang dikeluarkan oleh Bupati Sumbawa. Persoalan rehabilitasi hutan tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran.

Yang lebih utama yaitu perubahan tata kelola dalam pengelolaan kawasan hutan agar lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Anggaran bukan lagi menjadi salah satu alasan untuk menghutan kembali kawasan. Yang harus kita atur adalah tata kelolanya,” katanya.

Perubahan tata kelola dapat dilakukan melalui transformasi pola tanam dan pemanfaatan kawasan hutan. Salah satu skema yang mulai didorong adalah peralihan dari pola monokultur menuju sistem agroforestri. Menurutnya, pola monokultur yang selama ini diterapkan dinilai memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu jenis tanaman.

Sementara sistem agroforestri memungkinkan pengelolaan lahan dengan kombinasi tanaman kehutanan dan tanaman produktif lainnya. “Tata kelola misalnya sekarang monokultur, besok kita agroforestri, itu kan tata kelola,” tutupnya. (era)

Pertamina Ungkap Pemicu Kepanikan Pembelian BBM dan Elpiji di NTB

0
Ahad Rahedi (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – PT Pertamina Patra Niaga memastikan lonjakan pembelian bahan bakar minyak (BBM) maupun Elpiji akibat aksi panic buying masyarakat di NTB hanya bersifat sementara dan tidak berdampak signifikan terhadap konsumsi secara keseluruhan.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kepanikan masyarakat biasanya terjadi pada momen tertentu, seperti saat muncul kekhawatiran kenaikan harga BBM non-subsidi.

“Seperti yang terjadi pada akhir Maret menuju awal April, ada kekhawatiran harga BBM non-subsidi naik sehingga masyarakat membeli secara berbondong-bondong di SPBU. Tapi kondisi seperti itu biasanya hanya berlangsung singkat,” ujarnya.

Menurut Ahad, lonjakan konsumsi saat panic buying umumnya hanya terjadi selama satu hingga tiga hari. Kenaikan permintaan pun relatif kecil, hanya sekitar 1 hingga 2 persen.

“Kalau terjadi kepanikan, biasanya hanya satu sampai tiga hari. Setelah kebutuhan terpenuhi, konsumsi kembali normal. Secara rata-rata kenaikannya hanya sekitar 1 sampai 2 persen,” katanya.

Untuk Elpiji, ia menjelaskan kepanikan biasanya dipicu isu kelangkaan barang di tingkat pengecer. Padahal, stok di pangkalan resmi masih tersedia.

Karena itu, Pertamina terus memperketat distribusi agar penyaluran Elpiji bersubsidi lebih diprioritaskan kepada masyarakat pengguna langsung, bukan pengecer. Langkah ini dilakukan untuk mencegah permainan harga di tingkat pengecer.

Ahad menyoroti masih adanya praktik penjualan Elpiji di atas harga wajar di tingkat pengecer. Bahkan, harga tabung ELPIJI 3 kilogram di beberapa tempat dilaporkan bisa mencapai Rp30 ribu per tabung.

“Harga seperti itu dipastikan bukan berasal dari pangkalan resmi. Karena itu kami mendorong masyarakat membeli langsung di pangkalan,” tegasnya.

Untuk memudahkan masyarakat, Pertamina juga telah menyediakan akses informasi lokasi pangkalan resmi melalui tautan dan situs yang dapat digunakan masyarakat untuk mencari pangkalan Elpiji terdekat.

Sementara itu, konsumsi energi di NTB saat ini masih menunjukkan tren meningkat, terutama untuk Elpiji 3 kilogram dan BBM subsidi. Sebaliknya, konsumsi BBM non-subsidi cenderung menurun setelah adanya penyesuaian harga.

Menurut Ahad, pemerintah tetap menjaga harga Pertalite agar selisih harga dengan BBM non-subsidi tidak terlalu jauh. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah perpindahan konsumsi secara besar-besaran ke BBM subsidi yang dapat membebani anggaran negara.

Di sisi lain, Pertamina juga terus meningkatkan kapasitas produksi BBM nasional melalui kilang di Balikpapan dan Cilacap guna memperkuat pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

“Yang jelas, masyarakat tidak perlu panik karena stok tetap kami pantau dan akan ditambah jika diperlukan,” katanya. (bul)

Hingga April 2026, 183 Lembar Uang Palsu Ditemukan di NTB

0
Hario K Pamungkas

Mataram (ekbisntb.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat mencatat temuan sebanyak 183 lembar uang palsu di wilayah ini hingga April 2026. Temuan uang palsu didominasi oleh pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario K Pamungkas menjelaskan, seluruh temuan tersebut berasal dari laporan perbankan yang menemukan uang yang diragukan keasliannya saat proses transaksi maupun penyetoran uang tunai.

“Sampai bulan April 2026, kami mencatat temuan uang palsu sebanyak 183 lembar yang didominasi pecahan Rp100 ribu. Biasanya memang uang palsu yang paling banyak ditemukan adalah pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu,” ujarnya.

Berdasarkan data BI NTB, rincian temuan uang palsu tersebut meliputi:
* Pecahan Rp100.000 sebanyak 111 lembar
* Pecahan Rp50.000 sebanyak 71 lembar
* Pecahan Rp20.000 sebanyak 1 lembar

Hario menegaskan, temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan maraknya peredaran uang palsu, namun menjadi peringatan agar masyarakat semakin waspada saat bertransaksi, terutama di pasar tradisional dan pusat keramaian.

Ia menyinggung kasus ketika seseorang diketahui berbelanja menggunakan uang mainan di pasar tradisional di Lombok. Menurutnya, kejadian seperti itu menunjukkan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar lebih teliti saat menerima uang tunai.

“Yang kami edukasi adalah bukan bagaimana mengenali uang palsu, tetapi bagaimana memahami ciri-ciri keaslian uang rupiah,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, BI NTB terus menggencarkan sosialisasi mengenai metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) untuk memastikan keaslian uang rupiah.

Edukasi dimaksud dilakukan secara langsung ke sekolah-sekolah, asosiasi pedagang, kelompok masyarakat, hingga aparat penegak hukum.

Selain itu, BI juga memperkuat sinergi dengan perbankan dalam proses klarifikasi apabila terdapat uang yang diragukan keasliannya. Jika bank menemukan uang yang mencurigakan, maka uang tersebut akan diserahkan kepada BI untuk dilakukan verifikasi lebih lanjut.

Ke depan, BI NTB juga berencana memperluas edukasi melalui berbagai platform media massa, mulai dari media cetak, radio, hingga televisi agar informasi mengenai ciri keaslian rupiah dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Hario berharap meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian uang rupiah dapat mempersempit ruang gerak pelaku pemalsuan uang di daerah.

“Semakin masyarakat paham terhadap ciri-ciri keaslian uang rupiah, maka ruang gerak para pemalsu uang akan semakin sempit,” katanya.(bul)

Jalan Lendang Re-Menjot Sekotong Mulai Dikerjakan

0
Proyek jalan Lendang Re-Menjot Sekotong, Lombok Barat ini kembali dikerjakan setelah beberapa bulan mandek. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Setelah mandek hampir beberapa bulan, proyek pembangunan ruas jalan Lendang Re-Menjot Kecamatan Sekotong, Lombok Barat akhirnya mulai dikerjakan kembali. Proses pengerjaan pengaspalan proyek jalan senilai Rp6,5 miliar ini pun ditarget bisa tuntas bulan ini, sehingga jalan ini bisa dipergunakan atau dilalui masyarakat.

Kepala Dinas PUPRPKP Lobar, Lalu Ratnawi mengatakan, pengerjaan jalan ini sempat terjadi keterlambatan yang disebabkan banyak faktor. Mulai dari akhir Desember, Januari hingga Februari, pengejaran proyek hampir vakum karena curah hujan tinggi di wilayah setempat. Bahkan oleh Pemkab dalam hal ini Bupati Lobar mengeluarkan SK tanggap darurat bencana di Sekotong saat itu.

“Itu (pengerjaan) sempat vakum satu bulan setengah, tidak bisa kita kerja. Kita mau kerja, begitu selesai langsung hujan,” terangnya, Jumat (8/5/2026).
Akibat hujan itu, banyak material LPA jalan itu yang tergerus. Sehingga atas dasar itu dilakukan penyetopan atau penghentian pengerjaan proyek. Hal ini yang menyebabkan keterlambatan.

Setelah itu, pemasangan LPA mulai bergerak. Namun, di saat yang sama juga terjadi kenaikan BBM, yang memicu kelangkaan material aspal di NTB. Hal ini juga yang menghambat pekerjaan proyek ini.

Terkait kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap proyek ini pun, pihaknya sudah dipanggil BPK. Pihaknya menejelaskan pada BPK terkait langkah-langkah yang telah diambil. Sehingga berkat dukungan semua pihak, stok aspal pun bisa diperoleh pihak rekanan. Aspal pun sudah tersedia, meskipun dengan harga yang jauh lebih tinggi karena imbas kenaikan harga BBM.

“Kami sudah lakukan koordinasi, dan di lapangan saat ini sedang dilakukan perapian LPA, karena LPA ini perlu dilakukan perapian dan dipadatkan lagi agar permukaan jalan siap diaspal”imbuhnya.

Pihaknya menargetkan perapian dan pemadatan ini bisa selesai 3-4 hari ke depan. Setelah itu barulah dilakukan pengaspalan. “Kalau pengaspalan tiga hari bisa clear (selesai), tidak memerlukan banyak waktu,” ujarnya.

Pengerjaan jalan ini pun ditarget tuntas dalam waktu dua minggu ke depan atau akhir bulan ini selesai. Untuk memastikan pelaksanaan proyek ini berjalan maksimal, pihaknya memperketat pengawasan dan pengendalian di lapangan untuk mengecek progresnya secara intensif. Pihaknya juga berharap agar cuaca mendukung sehingga pengerjaan pengaspalan jalan ini bisa tuntas sesuai target.

Dengan cepat selesainya pengerjaan jalan ini, tentu warga masyarakat di wilayah tersebut bisa menggunakan jalan itu secepatnya. Terhadap kontrak proyek ini lanjut dia diberlakukan perpanjangan waktu. Dan ini secara aturan dibolehkan dengan ketentuan diberlakukan denda bagi rekanan tersebut. (her)