spot_img
26.5 C
Mataram
BerandaBerandaPeternak KSB Minta Kualitas Semen Beku Ditingkatkan

Peternak KSB Minta Kualitas Semen Beku Ditingkatkan

PROGRAM Inseminasi Buatan (IB) untuk meningkatkan populasi ternak khususnya sapi sangat digandrungi para peternak di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Dalam beberapa tahun terakhir banyak masyarakat pemilik sapi yang menjajal program tersebut untuk menambah jumlah ternaknya secara cepat.

Khairil salah seorang peternak di Kelurahan Dalam, kecamatan Taliwang mengatakan, dirinya sangat terbantu dengan program IB tersebut. Program ini baginya menguntungkan, karena dengan memanfaatkan indukan sapi lokal,  namun dapat memperoleh varian jenis sapi kualitas terbaik seusai keinginan peternak. “Saya punya satu indukan sapi bali. Dan itu sudah beberapa kali melahirkan dengan program IB dan dengan jenis bibit berbeda juga,” katanya, Minggu 9 Juni 2024.

Ia menjelaskan, mengembangkan sapi dengan metode kawin suntik ini sebenarnya akan sangat memiliki banyak keuntungan bagi peternak jika saja kualitas semen atau “mani beku” yang digunakan berkualitas tinggi.

Dari pengalamannya, Khairil mengaku, kualitas semen yang disalurkan pemerintah selama ini masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilannya yang mencapai 60 hingga 80 persen. “Kalau pengelaman saya dan banyak cerita teman peternak lain, jarang sekali, sekali suntik sapi langsung bunting,” ungkapnya.

Para peternak di KSB yang memanfaatkan IB untuk menambah populasi sapinya, umumnya memakai indukan sapi lokal. Khairil bercerita, sapi  bali paling banyak yang menjadi pilihan. Sapi bali sekali melahirkan normal pada masa birahi berikutnya akan mulai dicoba menjalani program IB.

Dalam sekali suntik, peternak harus merogoh kocek antara Rp250.000 hingga Rp300.000. Uang itu untuk biaya jasa petugas IB. Khairil mengaku, para peternak pada dasarnya tidak terlalu mempermasalahkan mengenai besaran  biaya jasa petugas itu. Karena umumnya para petugas sekaligus akan memberikan jasa konsultasi kepada peternak hingga membantu kelahiran sapi. “Tapi kan kalau gagal berkali-kali. Berapa uang yang kita keluarkan untuk membayar jasa suntik,” ujarnya.

Sebab itu Khairil mengatakan, alangkah baiknya menangkap animo masyarakat yang sudah mulai banyak tertarik dengan program IB itu. Pemerintah harus memperhatikan betul kualitas semen yang disalurkan, sehingga program IB yang diharapkan pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dapat tercapai.

“Sangat banyak yang tertarik dengan IB itu. Tapi biasanya sekali atau dua kali suntik dan gagal, mereka kemudian menyerah tidak mau melanjutkan lagi,” tukas Khairil.

Senada Khairil, peternak dari Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Sudirman berharap agar semen atau “mani beku” yang disalurkan selalu dijaga kualitasnya. Menurut dia, sapi hasil IB saat ini sudah mulai digemari masyarakat karena sangat menguntungkan. “Kalau untuk dijual ini untungnya banyak. Anakan saja bisa dihargai sampai Rp5 juta,” sebutnya.

Sudir mengaku sapi-sapi miliknya  yang lahir dengan metode IB lebih banyak dijual selama ini. Bahkan saat anakan jika ada yang menawar dengan harga yang tinggi, ia akan langsung menjualnya. Hanya saja sambung dia, dirinya tidak dapat menjual secara kontinu, karena program IB terhadap indukan sapinya tidak selalu berhasil. “Sapi itu kan masa birahinya sekitar sebulan sekali. Nah saat birahi itulah kita lalukan penyuntikan. Tapi kalau gagal yang pertama, biasanya saya akan menunggu dua atau tiga bulan baru melakukan penyuntikan lagi,” imbuhnya.(bug) 

Artikel lainnya….

Promo JNE-Jaleela Kolaborasi, Beri Diskon Ongkir 50 Persen untuk Pengirim dari Mataram

Walikota Beri Keringanan Penyelesaian Tunggakan Pajak Angkasa Pura

Laksanakan Instruksi Pusat, Muhammadiyah NTB Mulai Tarik Dana di BSI

Artikel Yang Relevan

Iklan





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini