Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 717

PLN NTB Bentuk Posko Siaga, Jaga Keandalan Pasokan Listrik Menyambut Idul Adha 1445H

0
Posko siaga PLN(ekbisntb.com/bul)

Mataram (ekbisntb.com)-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat dalam menyambut Hari Raya Idul Adha1445H, telah menyiapkan posko siaga mengamankan pasokan listrik untuk kenyamanan pelanggan.

PLN UIW NTB juga telah menyiapkan keandalan pasokan listrik dengan melakukan asessmen dan pemeliharaan preventif pada instalasi Pembangkit, Transmisi dan Distribusi. Setiap unit operasional juga telah dilengkapi dengan personil, perlengkapan pasokan backup, peralatan kerja dan SOP teknis.

General Manager PT PLN (Persero) UIW NTB, Sudjarwo, menyebutkan telah mengamankan sejumlah titik prioritas yang terdiri dari sejumlah Masjid dan lapangan tempat penyelenggaraan sholat Idul Adha 1445H.

“PLN NTB telah membentuk 163 Posko Siaga yang tersebar di Lombok dan Sumbawa untuk memonitor pergerakan peningkatan pemakaian listrik selama perayaan Idul Adha 1445H. Hal ini penting dilakukan mengingat NTB telah menjadi kawasan ekonomi khusus yang menjadikannya tujuan dan destinasi pariwisata yang membanggakan,” ujar Sudjarwo.

Selama perayaan Idul Adha 1445H, PLN UIW NTB menyiagakan Pusat Listrik di 24 lokasi. Sebanyak 16 unit Uninterruptible Power Supply (UPS), 20 Unit Gardu Bergerak (UGB), 38 unit Genset dan 4 unit Crane juga turut disiagakan untuk mengamankan pasokan listrik disejumlah lokasi. Skema pengamanan ini juga pernah dilakukan PLN UIW NTB pada saat perayaan Idul Fitri beberapa bulan yang lalu.

Untuk tindakan preventif, PLN UIW NTB menggencarkan pemeliharaan instalasi dan jaringan listrik, menyambut perayaan Idul Adha 1445H tahun ini yang bertepatan juga dengan masa libur sekolah sehingga NTB tentunya akan mengalami kenaikan jumlah kunjungan wisatawan.

“PLN telah mengantisipasi dan memitigasi kemungkinan adanya kenaikan pemakaian listrik sehubungan dengan perayaan Idul Adha dan libur sekolah. Kami telah menyiapkan beberapa skema pengamanan pasokan listrik,” jelas Sudjarwo.

Sudjarwo juga berpesan kepada pelanggan untuk mengoptimalkan aplikasi PLN Mobile.

“PLN telah mengembangkan super app yang terus berinovasi menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Dengan PLN Mobile, kendali pelayanan ada dalam genggaman pelanggan. Mulai dari Pasang Baru, Tambah Daya, pengaduan gangguan hingga charging kendaraan listrik di SPKLU yang tersedia. Semua berada dalam satu genggaman,” imbuh Sudjarwo.

Berkenaan dengan libur sekolah dan animo masyarakat NTB yang menyukai olahraga layang-layang. Sudjarwo juga berpesan agar tetap menjaga keamanan saat bermain. “PLN menghimbau kepada masyarakat agar tetap memperhatikan keamanan diri saat bermain layang-layang. Jangan bermain berdekatan dengan jaringan listrik, apalagi menggunakan tongkat untuk meraih layang-layang yang tersangkut di jaringan listrik, itu sangat membahayakan,” tegas Sudjarwo.

Benang dan layang-layang yang tersangkut di jaringan listrik juga berpotensi menyebabkan gangguan listrik, apalagi ketika terkena hujan yang menyebabkan material tersebut basah dan menjadikannya konduktor yang baik. “Kami juga tak bosan-bosannya mengimbau kepada masyarakat untuk segera melaporkan apabila ada kejadian yang tidak wajar agar segera bisa tertangani oleh petugas PLN,” seru Sudjarwo.

“Kami membutuhkan dukungan masyarakat untuk membantu menjaga keandalan jaringan listrik di lingkungan masing-masing. Semoga kolaborasi antara PLN dengan masyarakat ini dapat menghadirkan kualitas listrik yang baik selama maupun sesudah perayaan Idul Adha 1445H.” tutup Sudjarwo.(bul)

Tahun Ini, Pemasok Sapi asal Bima ke Jakarta Tak Perlu Banting Harga

0
Kondisi kandang sapi kurban milik Furkan Sangiang yang ada di Bima.(ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Ketua Asosiasi Peternak Sapi Bima Indonesia, Furkan Sangiang menilai, fluktuasi harga sapi di tahun ini akan berbeda jika dibandingkan dengan Idul Adha sebelumnya. Di Idul Adha tahun lalu, harga sapi peternak yang dikirim ke Jakarta turun drastis jelang sehari Idul Adha. Hal ini karena banyaknya pengiriman ternak ke Jakarta. Hal ini memaksa peternak Bima menjual sapinya dengan harga miring asalkan bisa laku terjual.

“Kondisi di Jakarta untuk tahun ini beda dari tahun lalu, kalau tahun lalu kan memang karena terlalu over kapasitas sapi yang dikirim ke Jabodetabek hingga membuat serapan pasar sangat menurun sehingga banyak sapi sisa yang akhirnya dilelang,” katanya pada Suara NTB, Rabu, 12 Juni 2024.

Ia menjelaskan sampai dengan H-4 hari raya Idul Adha, banyak sapi Bima yang sudah terjual habis di Jakarta, sehingga dipastikan pelelangan harga sapi tidak akan terjadi di tahun ini. “Ada beberapa kandang yang sudah habis terjual, ada yang masih sisa 10, lima, tujuh, dan 15 ekor,” lanjutnya.

Oleh karena banyaknya sapi peternak NTB yang sudah terjual di Jakarta, Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram ini optimis bahwa tahun ini semua sapi yang dikirim ke Jakarta akan habis terjual, kalaupun tidak habis, ia mengatakan bahwa paling akan sisa satu, dua, atau paling tinggi lima ekor saja.

“Kami optimis lah, karena dari trennya cukup bagus ini, apalagi saya melihat sapi-sapi Bima cukup dicari oleh masyarakat karena kualitasnya yang bagus,” ujarnya.

Sementara itu, di kota Mataram sendiri, harga sapi atau hewan kurban tidak pernah mengalami penurunan pada saat Idul Adha. Hal ini karena masih banyaknya kandang-kandang yang tersedia di Lombok, pun apabila ternak Bima tidak habis terjual, peternak bisa mengirimkan ternak-ternak tersebut ke berbagai daerah di Lombok seperti Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Utara.

Adapun alasan lain mengapa harga hewan kurban tidak pernah turun di Lombok pada hari Idul Adha karena ketika sapi kiriman dari pulau Sumbawa tidak habis terjual, peternak bisa membawa kembali hewan ternaknya karena jarak yang tidak terlalu jauh, berbeda dengan sapi yang dikirim ke Jakarta yang mana sapi tidak bisa dibawa kembali, pun dengan kandang yang terbatas, sehingga mau tidak mau peternak melelang sapinya agar bisa terjual habis.

“Harga sih masih normal, di tahun ini, kalau di ukuran Mataram dilihat agak masih cukup fluktuasi, karena kalau di NTB engga begitu ngaruh harganya, normal,” tambahnya. Kemudian, untuk sapi Bima yang dikirim ke Mataram berkisar antara 100-200an ekor dengan harga berada di angka Rp15 juta – Rp35 juta, tergantung bobot sapi tersebut. (era)

Artikel lainnya….

Tak Ada Lagi Masa Paceklik di Lotim

Ditemukan Masih Beredar, SPBE di Lobar Diminta Tarik Tabung Elpiji Subisidi Kurang Layak

Menjanjikan, Petani Lebih Pilih Tanam Tembakau Rajang

Tak Ada Lagi Masa Paceklik di Lotim

0
H. Badarudin (ekbisntb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) sudah tidak mengenal masa paceklik. Produksi pangan, utamanya padi selama ini tetap dilakukan. Sepanjang tahun, selalu ada yang tanam dan panen. Meski ada beberapa bulan dalam satu tahun ini, yakni Desember, Januari dan Pebruari produksi berkurang.

Hal ini dikemukakan plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Lotim, H. Badarudin menjawab Ekbis NTB di ruang kerjanya, Rabu 12 Juni 2024.

Beberapa tahun silam, produksi padi hanya dua kali dalam setahun. Hal itu karena usia tanaman padi dengan 6 bulan baru panen.  Sekarang sudah tak ada, karena teknologi. Produktivitas padi juga tinggi. Produktivitas 6-7 ton per hektar sekarang sudah dianggap biasa. Sedangkan dulu, paling tinggi 3,5-4 ton per hektar.

“Dunia pertanian harus bergerak dinamis dengan sarana dan prasarananya dengan pertimbangan alih fungsi dan pertambahan jumlah penduduk,” ungkapnya.

Tahun 2024, target tanam 61.591 ha. Dari luasan tersebut, ditarget produksi 337,097 ton Gabah Kering Panen (GKP). Target tahun 2024 ini diakui lebih rendah dari realisasi tahun 2023 ini memang lebih tinggi, yakni mencapai 346.857 ton.

Dari GKP 93,18 persen ke Gabah Kering Giling (GKG). Ketika GKG dikonversi menjadi beras, terjadi susut 63,23 persen. Data produksi beras 2023, setara beras 204.359 ton. Kebutuhan Lotim, dengan tingkat konsumsi rata-tata per kapita pertahun 119,4 kg. Tingkat konsumsi dikalikan jumlah penduduk, 1,39 juta jiwa maka 116,085 ton konsumsi per tahun. Setelah dikurangi jumlah produksi beras, maka masih surplus 88.274 ton surplus 2023.

Ditambahkan, dengan keragaman agroekosistem, maka semua bisa saling topang. Meski Lotim bagian selatan sebagian besar tanam tembakau, tapi bagian tengah dan Utara ketersediaan air cukup sehingga tetap tanam padi. “Wanasaba, Lenek, Aikmel, Pringgabaya, Pringgasela, Masbagik, Sikur, Montong Gading dan Terara masih aman produksi,” imbuhnya.

Guna meningkatkan produksi pangan, ada rencana  kembangkan empat kali tanam. Intensitas tanam ditingkatkan. Biasanya tiga kali tanam satu tahun. Agar bisa empat kali dalam setahun, maka harus gunakan umur pendek atau funakan sistem tanam culik. Sebelum panen, sudah siapkan bibit.

Hasil penelitian Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) ada potensi untuk menambah Indeks Pertanaman sampai empat kali. Penelitian sudah dilakukan beberapa tempat. Yakni, ada pasi umur 72 hari. Umur pasi diketahui biasanya 115-120 hari. Menjadi empat bulan selama ini karena satu bulan persemaian.

Ada namanya Varietas gama gora 7 yang kabarnya bisa berusia 72 hari. Hasil penelitian UGM saat ini sedang dikembangkan di Loteng. IP yang terlalu banyak memang rentan hama penyakit dan lahan bisa terganggu. (rus)

Artikel lainnya….

Ditemukan Masih Beredar, SPBE di Lobar Diminta Tarik Tabung Elpiji Subisidi Kurang Layak

Menjanjikan, Petani Lebih Pilih Tanam Tembakau Rajang

Destinasi Wisata Halal Islamic Center Targetkan 50 Ribu Kunjungan Wisatawan

Ditemukan Masih Beredar, SPBE di Lobar Diminta Tarik Tabung Elpiji Subisidi Kurang Layak

0
Timwas Disperindag kembali turun cek SPBE memastikan kondisi dan takaran tabung gas elpiji subisidi 3 kilogram. Timwas meminta tabung yang kurang layak tidak dipakai. (ekbisntb.com/ist)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Sejumlah tabung gas elpiji subisidi 3 kilogram yang tak layak masih ditemukan beredar di wilayah Lombok Barat (Lobar). Atas temuan itu, Tim Pengawasan (Timwas) Disperindag Lobar pun meminta agar pihak terkait baik itu agen, pangkalan hingga SPBE menarik tabung tersebut.

Timwas meneruskan pengecekan SPBE untuk memastikan takaran tabung gas elpiji. Kali ini, tim turun ke SPBE di wilayah Lembar. Di SPBE tersebut Timwas menemukan tidak ada tabung yang kurang takaran 3 kilogram. Namun ditemukan beberapa tabung yang sudah kurang layak masih dipakai.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Lobar H. Maksum mengatakan, pihak manajemen harus terus berkoordinasi dengan dinas dalam mengontrol serta mengawasi takaran. Dari hasil pengecekan, takaran sesuai bahkan lebih dari 3 kilogram. “Kita mengecek kondisi tabung, takaran. Dari takaran tidak ada yang kurang, tapi kondisi tabung beberapa perlu diganti,” katanya.

Dalam hal ini, harapnya, jika ada tabung tak sesuai atau kurang layak, harus segera diganti agar jangan lagi dimanfaatkan. Sebab kalau masyarakat awam memakai, lalu terjadi bahaya. Hal ini harus diantisipasi. “Sebaiknya kalau ada tabung rusak, atau tidak layak mestinya tidak dipakai, perlu diperbaiki, kalau sama sekali tak layak, maka perlu diganti. Itu saran kami ke pihak manajemen,” tegasnya.

Sementara itu, pihak pengelola SPBE merespon baik adanya pengecekan Timwas Disperindag untuk memantau kualitas isi. Hal ini sangat membantu dalam hal pengawasan bersama, sebab pihak manajemen sebagai penyalur Pertamina butuh support dari Disperindag.

Terkait kondisi tabung, telah melalui proses sortir dan tabung akan dilaporkan dan diperbaiki dulu di BPT sebelum ke SPBE, sehingga tabung yang dipakai sesuai standar dan layak pakai.  (her)

Artikel lainnya….

Menjanjikan, Petani Lebih Pilih Tanam Tembakau Rajang

Destinasi Wisata Halal Islamic Center Targetkan 50 Ribu Kunjungan Wisatawan

Pantai Narapidana, Destinasi yang Wajib Disinggahi di Lotim

Menjanjikan, Petani Lebih Pilih Tanam Tembakau Rajang

0
Petani di Lotim lebih memilih menanam tembakau rajang, karena lebih menjanjikan dibandingkan tembakau Virginia. (ekbnisntb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Banyak petani tembakau saat ini memilih menanam tembakau rakyat atau rajang. Tembakau yang disebut tradisional pengolahannya itu kini justru paling diminati petani. Alasan lebih ekonomis dan efisien membuat banyak petani kembali memilih rajang.

 Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Timur (Lotim), Mirza Sophian, pada Rabu 12 Juni 2024.

Pada tahun ini, target luas tanam tembakau di Lotim mencapai 24.897 hektar, yang terbagi menjadi 12.731 hektar untuk tembakau rajang dan 12.166 hektar untuk tembakau Virginia. Sebanyak 22.000 petani telah menanam tembakau sejak Januari hingga Mei.

Peralihan ke tembakau rajang semakin seimbang dibandingkan sebelumnya, di mana tembakau Virginia mendominasi. Kini, tembakau rajang menjadi lebih bergengsi untuk dikembangkan, karena permintaan pasar yang cukup besar serta penanganan pasca panen yang lebih mudah, murah, dan efisien. Faktor-faktor ini menyebabkan banyak petani beralih ke tembakau rajang.

Lombok kini menjadi satu-satunya pulau yang masih bertahan dengan tembakau krosok. Meski tembakau Virginia masih diakui kualitasnya di dunia, para petani di Lombok lebih memilih tembakau rajang karena berbagai keunggulannya. Tembakau Virginia juga dirajang atau dioven setelah panen, dengan harga yang tidak jauh berbeda. Namun, proses oven lebih mahal meski menawarkan kemudahan dan keuntungan lebih besar, dengan selisih biaya berkisar Rp 15 ribu per kilogram.

Dari segi luas tanam, setiap tahun mengalami peningkatan. Saat ini, 68,2 persen dari total tembakau yang ditanam adalah tembakau rakyat (rajang), sementara tembakau Virginia hanya mencakup 29,31 persen.

Memasuki musim tanam tahun ini, ada kekhawatiran  terkait akan adanya RPP UU Kesehatan yang dapat mempengaruhi sektor tembakau. Dari sisi kesehatan, tembakau memang berbahaya, namun dari sisi ekonomi, tanaman ini tetap menjadi “emas hijau” bagi petani Lombok, khususnya di Lombok Timur.

Selama dua tahun terakhir, para petani tidak mengalami kesulitan budidaya. Harga tembakau ini justru makin menggiurkan. Harga tembakau yang tinggi, dengan grade tertinggi mencapai Rp 75 ribu per kilogram, meningkat dari Rp 55 ribu sebelumnya.

Selain itu, tembakau kini lebih diminati daripada jagung. Lahan kering justru lebih cocok untuk tembakau, meski para petani tetap harus waspada terhadap kondisi cuaca. BMKG memprediksi adanya potensi La Nina yang bisa menyebabkan hujan besar. Untuk mengantisipasi hal ini, petani diingatkan melalui UPT kecamatan untuk memperbaiki drainase agar lahan tidak tergenang dan menyebabkan tembakau membusuk.

Di wilayah seperti Jerowaru, misalnya, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp4-5 juta untuk membuat drainase. Pasalnya, saat hujan besar datang, lahan bisa berubah menjadi kolam karena tekstur tanah liat, berbeda dengan daerah tengah yang lebih poros.

Dengan berbagai tantangan yang ada, para petani tetap optimis dan terus berupaya meningkatkan produksi dan kualitas tembakau di Lotim. (rus)

Artikel lainnya….

Destinasi Wisata Halal Islamic Center Targetkan 50 Ribu Kunjungan Wisatawan

Pantai Narapidana, Destinasi yang Wajib Disinggahi di Lotim

KLU Jadi Lokasi Riset Pengembangan Kapas Organik

Destinasi Wisata Halal Islamic Center Targetkan 50 Ribu Kunjungan Wisatawan

0
Masjid Hubbul Wathan atau Islamic Center, Rabu 12 Juni 2024 di Mataram.(ekbisntb.com/ulf)

Mataram (ekbisntb.com) – Sebagai ikon wisata halal di NTB, Masjid Hubbul Wathan atau Islamic Center dari tahun ke tahun banyak mengalami kenaikan pengunjung. Pada tahun 2023, target wisatawannya sebanyak 5.000 kunjungan. Sedangkan pada tahun 2024, target kunjungannya naik secara signifikan menjadi 50 ribu  wisatawan, baik dari mancanegara maupun nusantara.

Pada Bulan Januari, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung sebanyak 6.730 orang. Sedangkan wisatawan mancanegara sebanyak 1.686. Pada Bulan Februari, terhitung jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung sebanyak 5.737 orang, dan 1.055 dari wisatawan mancanegara. Bulan Maret, jumlah wisatawan nusantara mengalami penurunan, yaitu sebanyak 1.642 orang. Sedangkan jumlah wisatawan mancanegara naik menjadi 1.874.

Pada Bulan april, kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 4.574 dan 849 kunjungan dari mancanegara. Terakhir, kunjungan wisatawan pada bulan Mei sebanyak 5.037 wisatawan nusantara, sedangkan kunjungan wisatawan dari mancangera sebanyak 1.285 orang. Sehingga, total kunjungan wisatawan catur wulan I 2024 di Islamic Center sebanyak 18.683 wisatawan nusantara, dan 5.464 kunjungan wisatawan dari mancanegara.

“Kalau dari persentasenya sampai bulan Mei ini lebih banyak wisatawan nusantara, sejak 5 bulan lalu, dari Januari. Karena Alhamdulillah rata-rata setiap hari ada kunjungan,” Kata Rindang Naulia, selaku Kepala Seksi Pengembangan Usaha dan Produk Wisata Unggulan.

Rindang menyebutkan wisatawan mancanegara yang biasa berkunjung ke Islamic Center, yaitu terutama dari negara-negara Asia, seperti Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan. Pun dari negara-negara Eropa seperti Norwegia, Prancis dan Spanyol.

“Terutama ada masanya kapal pesiar yang singgah di pelabuhan, mereka mampir berkunjung ke Islamic Centre. Karena kami ada beberapa kerja sama dengan travel dari Bali. Pasti ada agenda ke sini dan lumayan banyak negara yang berkunjung, ada yang dari Eropa dan Amerika,” Jelas Rindang.

Ia menjelaskan bahwa, sebagai destinasi wisata halal, IC memberikan beberapa fasilitas untuk wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Fasilitas yang disiapkan dari segi pakaian berupa sarung untuk wisatawan laki-laki, dan jubah serta jilbab untuk menutup aurat bagi wisatawan perempuan.

Selain itu, mereka menyiapkan tujuh orang pemandu yang menguasai beberapa bahasa untuk memandu wisatawan mancanegara. Karena mereka yang datang dari luar negeri biasanya mengulik beberapa informasi tentang filosopi bangunan masjid.

Adapun dari segi retribusi, rindang menyampaikan bahwa retribusi Islamic Centre dari pemerintah hanya diambil dari penyewaan ballroom, bukan dari kunjungan wisatawan. Wisatawan yang berkunjung hanya memberikan infak atau sedekah.

“Kalau para pengunjung itu hanya memberikan sedekah atau infak saja. Cuman kalau untuk retribusi, target PAD itu ada di penyewaaan ballroom saja. Biasanya dipakai di beberapa acara wedding atau seminar, yang membutuhkan ruangan untuk menampung lebih dari 1.000 orang,” pungkasnya. (ulf)

Artikel lainnya….

Pantai Narapidana, Destinasi yang Wajib Disinggahi di Lotim

KLU Jadi Lokasi Riset Pengembangan Kapas Organik

Masih Pra FS, Investasi Tambang PT. STM di Dompu Ibarat ‘’Bakar Uang’’

Pantai Narapidana, Destinasi yang Wajib Disinggahi di Lotim

0
Pesona Pantai Narapidana di Lotim yang menjadi alternatif wisatawan untuk dikunjungi. (ekbisntb.com/ist)

Selong (ekbisntb.com) – Berada di seberang jalan kawasan wisata Lian Purba Pringgabaya, tepatnya di dusun Menanga Baris, Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Pantai Narapidana menjadi salah satu destinasi yang wajib disinggahi ketika melewati Jalan Labuan Lombok – Sambelia.

Mendengar namanya saja pasti akan memancing rasa keingintahuan kita. Kenapa dinamakan Pantai Narapidana? Apakah ada hubungannya dengan para pesakitan yang sedang menjalani hukuman?

Pantai ini mendapatkan namanya karena memang merupakan lokasi lahan binaan milik Rutan Selong yang memiliki luas 16,39 hektar. 9 hektar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian jagung, 2 hektar sebagai area pengelolaan wisata pantai, dan sisanya sebagai lahan pertanian cabai, buah naga, pepaya, budidaya jahe merah, peternakan dan lain-lain.

Lahan pertanian dan perkebunan milik Rutan Selong tersebut dikelola oleh 14 orang Narapidana; 11 di antaranya adalah narapidana binaan Rutan Selong dan 3 lainnya merupakan narapidana binaan dari Lapas Terbuka Kota Mataram.
Para narapidana yang dipercayai sebagai pengelola lahan pertanian atau perkebunan tersebut adalah mereka yang memiliki keterampilan di bidang pertanian dan telah menjalani setengah dari total masa tahanan yang dipidanakan.

Muhammad Ghifari Satya Zaki dan Umar Anwar, dalam Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Undiksha Vol. 10, No. 2 (Mei, 2022) menjelaskan bahwa proses pembinaan seperti ini merupakan evolusi dari sistem pemasyarakatan yang dahulu menekankan pada sifat balas dendam dengan pemenjaraan. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya istilah Lapas atau Lembaga Pemasyarakatan.

Sistem pemasyarakatan seperti ini dilakukan dengan tujuan membentuk warga binaan menjadi manusia seutuhnya yang menyadari kesalahan, siap memperbaiki diri, dan mau membangun komitmen diri untuk tidak mengulangi perbuatan pidana sehingga dapat diterima dengan baik oleh warga masyarakat, dan dapat berintegrasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. (Wulandari, 2012).

Selain bisa menikmati deburan ombak dan laut biru yang tak pernah lelah menyapu pasir hitam yang eksotis, pengunjung secara tidak langsung juga telah memberikan dukungan moril yang akan menyemangati para Narapidana yang sedang menjalani sisa sisa masa tahanan.

Oleh Rutan Kelas II-B Selong pantai ini telah ditata dengan cukup baik dan menyediakan berbagai fasilitas seperti; Spot foto bertuliskan pantai Pengayoman, taman bermain, toilet, lapak dagang, dan sejumlah berugak bagi pengunjung yang ingin berteduh.

Lebih dikenal oleh warga sebagai pantai Narapidana atau Pantai Pidana, Pantai Pengayoman merupakan nama yang resmi tertera di area pantai dan telah terdaftar di google maps.

Meskipun memiliki pasir hitam, pantai ini cukup bersih dengan ombak yang relatif tenang, cocok sebagai tempat berenang dan berfoto dengan latar kapal ferry yang lalu lalang menuju ke Pulau Sumbawa. (r/ham)
Artikel lainnya….

KLU Jadi Lokasi Riset Pengembangan Kapas Organik

Masih Pra FS, Investasi Tambang PT. STM di Dompu Ibarat ‘’Bakar Uang’’

Soal TPID, Pj Bupati Lobar Diundang ke Istana Presiden

KLU Jadi Lokasi Riset Pengembangan Kapas Organik

0
Riset Kapas Organik akan diperluas kepada Kelompok Tani anggota Koperasi (Porang) Berkah Gumi Lombok. (ekbisntb.com/ist)

Tanjung (ekbisntb.com) – Riset kapas organik di Kabupaten Lombok Utara (KLU) telah berjalan sejak Desember 2023 sampai Juni 2024 ini. Praktik aplikasi ilmiah ini berjalan dari kolaborasi multi pihak antara Fakultas Pertanian Prodi Ilmu Tanah – Universitas Mataram, Yayasan Sukkha Citta, Sejati Farm Lombok, pakar ilmuan kapas dari BRIN, Prof. Ir. Nurindah Supoyo, Ph.D., pegiat pertanian kapas Kecamatan Bayan, serta mahasiswa S1 dan S2 Fakultas Pertanian Unram, serta para petani pegiat porang anggota Koperasi Berkah Gumi Lombok di 15 desa di KLU.

Pengurus Koperasi BGL KLU, Puguh Dwi Friawan, Rabu 12 Juni 2024 mengungkapkan, kegiatan riset kapas organik dilakukan melalui media tumpangsari dengan tanaman pangan (palawija) di KLU. Riset multipihak ini dilakukan oleh para mahasiswi Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2) jurusan Ilmu Tanah di bawah bimbingan Guru Besar, Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D.

“Kebetulan Juni 2024 riset pertama akan berakhir. Hasilnya sudah terlihat di areal 3 hektar kebun kapas,” ujar Puguh yang akrab dipanggil Iwan ini.

Ia menjelaskan, pada area 3 hektar tersebut terbagi masing-masing 1 hektar menjadi lokasi praktik para mahasiswa, dan 2 hektar lainnya, adalah hasil aplikasi alumni Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Elly Yulianti, SP., dan rekan.

Pada proses riset ini, para pihak yang terlibat menpercayakan penerapan kajian teknis budidaya kapas secara lebih spesifik dan komprehensif kepada Sukkha Citta dan melibatkan pakar ilmuan kapas dari BRIN, Prof. Ir. Nurindah Supoyo, PhD.

Iwan menyatakan, anggota Koperasi BGL yang tersebar di 15 desa di 3 Kecamatan (Bayan, Kayangan dan Gangga) turut dihadirkan. Pasalnya, pada riset tahap 2 sekaligus langkah awal ekspansi budidaya, BGL akan terlibat untuk budidaya pada areal seluas 5 hektar milik anggota BGL yang ada di 5 desa.

“Para kelompok tani (Koperasi BGL) berharap bahwa kehadiran Sukkha Citta sebagai mitra dan juga penjamin pasar petani kapas organik tumpangsari, serta pendampingan daru para pakar di bidangnya (ilmu budidaya kapas dan ilmu tanah) menjadi semangat baru dalam memaksimalkan potensi pertanian lokal yang ramah lingkungan,” terang Iwan.

Selain petani, praktisi dari kaum perempuan, Elly Yulianti dan rekan juga berharap, semangat petani dalam budidaya kapas organik memiliki kelangsungan ekonomi untuk masa depan petani dan keluarga. Produk kapas organik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan adat lokal masyarakat KLU khususnya di Kecamatan Bayan yang memproduksi tenun sejak turun temurun.

“Melihat semangat para pegiat pertanian organik yang memang se-visi dengan gerakan dan praktik pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan dan mensejahterakan, kita optimis budidaya ini dapat terus digalakkan” ucapnya.

Untuk diketahui, kata dia, usai pertemuan dengan multipihak, Sukkha Citta, Pakar BRIN, Prof. Nurindah Supoyo didampingi pegiat pertanian organik lokal (Ely Yulianti) dan Sejati Farm, berkunjung ke pengrajin tenun lokal di Desa Bayan yang memiliki program dan kegiatan Sekolah Tenun Lokal untuk anak-anak sekolah (mulai dari usia SD). Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk menguatkan visi untuk terus melestarikan nilai budaya dan kearifan lokal yang sangat berkaitan dengan budidaya kapas organik tumpangsari.

“Apalagi di Desa Bayan juga masih ada kelompok pemintal serat kapas. Benang dari kapas diperlukan oleh masyarakat Bayan untuk acara-acara ritual yang masih dilakukan sebagai pelestarian budaya,” tandasnya. (ari)

Artikel lainnya….

KPK akan Pasang Plang Peringatan di 41 Perumahan di Mataram

Masih Pra FS, Investasi Tambang PT. STM di Dompu Ibarat ‘’Bakar Uang’’

Soal TPID, Pj Bupati Lobar Diundang ke Istana Presiden

Masih Pra FS, Investasi Tambang PT. STM di Dompu Ibarat ‘’Bakar Uang’’

0
H. Sahdan (ekbisntb.com/dok)

Mataram (ekbisntb.com) – Eksploitasi kegiatan tambang yang dilakukan oleh PT. Sumbawa Timur Mining (STM) di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu membutuhkan waktu panjang. Sekarang ini, pihak PT. STM masih melakukan pra feasibility study (Pra FS) untuk melihat seperti apa potensi tambang emas dan tembaga yang dikandung di lokasi tersebut.

‘’Setelah melakukan pra feasibility study, PT. STM akan melanjutkan ke tahap FS (feasibility study) selama lima tahun, yakni mulai 2025 – 2030. Hal ini untuk memastikan kandungan emas atau tembaga tambang yang ada di Dompu,’’ ungkap Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB H. Sahdan, S.T., M.T., saat dikonfirmasi di Kantor Gubernur NTB, kemarin.

Mantan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB ini mengibaratkan investasi di bidang pertambangan, sebelum memulai proses produksi atau eksploitasi seperti ‘’membakar uang’’. Artinya, investor akan banyak mengeluarkan dana dalam melakukan Pra FS hingga FS sampai akhirnya pada tahapan eksploitasi.

Menurutnya, investor memiliki pertimbangan dan perhitungan detail potensi sumber daya mineral emas dan tembaga yang disebut memiliki deposit cadangan hingga 2 miliar ton. ‘’Ada tiga tahapan yang dilakukan perusahaan pertambangan dalam penghitungan potensi sumber daya mineral tambang. Potensi tereka, tertunjuk dan terukur. Kalau sudah terukur berarti FS selesai. Itu artinya dia untung atau tidak, dikerjakan atau tidak. Kalau ada margin keuntungan berarti dia melanjutkan ke tahap operasi produksinya,” jelasnya.

Di sisi lain, Sahdan mengungkapkan, jika izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi PT STM telah diperpanjang delapan kali. Pada tahap eksplorasi, ungkapnya, pemegang izin hanya melakukan penghitungan potensi sumber daya mineral emas dan tembaga serta bukan melakukan penambangan.

Nantinya, begitu masuk operasi produksi, lanjutnya, investor bisa melakukan penambangan. Penambangan dilakukan setelah investor tersebut menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB) selesai. ‘’Sekarang, bahan galian tambang baru boleh keluar setelah ada RKAB,” terangnya.

Di sisi lain, ungkapnya, kegiatan penambangan emas dan mineral ikutannya di Kabupaten Dompu tidak seperti penambangan yang dilakukan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat. Menurutnya, pertambangan di Hu’u akan menggunakan tambang bawah tanah dengan kedalaman 500 meter di bawah permukaan tanah.

‘’Karena tambang bawah tanah, maka kajiannya harus benar-benar matang. Karena tambang bawah tanah lebih sulit dibandingkan tambang terbuka seperti di PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat,’’ tegasnya.

Meski demikian, di lokasi tambang yang ada di Hu’u ini, ada juga potensi panas bumi sekitar 60 Megawatt (MW). Namun, adanya potensi panas bumi tersebut bukan menjadi hambatan tetapi sekaligus menjadi peluang. Dalam hal ini, PT STM dapat memanfaatkan potensi panas bumi menjadi pembangkit listrik, sehingga dalam operasionalnya bisa lebih efisien. (ham)

Artikel lainnya….

KPK akan Pasang Plang Peringatan di 41 Perumahan di Mataram

Penyelenggaraan MXGP di Mataram Diizinkan

Hasil RUPS-LB, Jamkrida NTB Konversi Penuh ke Syariah

Soal TPID, Pj Bupati Lobar Diundang ke Istana Presiden

0
Pj Bupati Lobar H. Ilham saat panen cabai di wilayah Sekotong. (ekbisntb.com/ist)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Penjabat (PJ) Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Ilham diundang ke Istana Negara, Kamis, 13 Juni 2024. Undangan tersebut terkait Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sejauh ini Pemkab Lobar gencar melakukan berbagai program untuk penanganan inflasi daerah.

“Ada undangan untuk menghadiri pertemuan TPID di Jakarta (Istana red), dihadiri Pak Presiden” kata Pj Bupati Lobar, Ilham, Rabu, 12 Juni 2024.

Undangan tersebut diterima Rabu pagi. Ia diminta untuk menghadiri langsung undangan tersebut. Ditanya terkait informasi bahwa ia akan diberikan penghargaan kaitan dengan panganan inflasi? Ia tidak berani memastikan. “Belum berani saya pastikan itu, besok saja kami sampaikan setelah pertemuan itu,” ujarnya.

Lebih lanjut ditanya soal evaluasi jabatan sebagai Pj Bupati? Diakui, salah satu yang masuk penilaian adalah inflasi. Namun untuk penilaian sendiri masih belum waktunya, karena ia memasuki jabatan dua bulan jalan. Sementara evaluasi akan dilakukan setelah menjabat Pj Bupati selama tiga bulan. “Belum-belum (dievaluasi) nanti akhir Juli, masih sebulan lebih,” ujarnya.

Selama menjabat Pj Bupati, ia telah melakukan berbagai langkah terobosan dalam hal penanganan Inflasi, baik tiap pekan melakukan rapat dengan Mendagri, terkait progres dan laporan kondisi inflasi dan harga bahan pokok. Langkah koordinasi lain, berkolaborasi dengan unsur terkait baik Bulog dan BPS menyangkut data. Pihaknya juga turun melakukan operasi pasar, gerakan pangan murah.

Terbaru, ia melakukan MoU dengan Pj Bupati Lombok Timur terkait pasokan bawang dan Pemda Lobar siap memberikan subsidi distribusi bawang tersebut untuk dibawa dan dijual di wilayah Lobar. Selain itu, pihaknya memberikan bantuan bibit cabai dan bantuan lainnya kepada petani untuk mengamankan produksi guna mengendalikan Inflasi. Pihaknya bahkan menanam cabai bersama jajaran Forkopimda dan petani. (her)