Wednesday, May 6, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaMendesak Dibangun Permanen, Jembatan Kayu Cemare Lembar Membahayakan Warga dan Pengunjung

Mendesak Dibangun Permanen, Jembatan Kayu Cemare Lembar Membahayakan Warga dan Pengunjung

Giri Menang (ekbisntb.com) – Warga Cemara Desa Lembar Selatan Lombok Barat (Lobar) mengeluhkan kondisi jembatan kayu yang telah bertahun-tahun rusak parah. Pernah dijanjikan akan dibangun sejak Bupati Lobar dijabat H. Fauzan Khalid, tetapi tak kunjung terealisasi. Sekitar 1.400 jiwa warga setempat telah lama memimpikan agar jembatan kayu yang dibangun tahun 2014 silam tersebut dibangun permanen.

Kondisi jembatan kayu saat ini sangat memperihatinkan. Tak layak dilalui warga. Beberapa kayu pada bagian badan jembatan terlepas, sehingga membahayakan pengendara yang lewat. Warga secara swadaya memperbaiki jembatan itu, tetapi rusak lagi. Terlebih jembatan itu tidak saja dilalui warga setempat, tetapi sekitar seribu pengunjung tiap akhir pekan melewati jembatan kayu tersebut.

Kepala Dusun Cemare, Munawir kembali bersuara terkait kondisi jembatan tersebut, menyusul viralnya foto sebuah kendaraan yang terperosok ke dalam lubang jembatan kayu tersebut di media sosial. Menurutnya, kejadian itu bukan terjadi sekarang, tapi sekitar tahun 2018-2019 silam.

Menurutnya, viralnya foto itu, ada sisi positif dan negatifnya. Dari sisi positifnya, tentu dengan viralnya itu sebagai teguran pada Pemkab agar memperhatikan jembatan tersebut. “Ada sisi positif dan negatif foto jadul (lama) itu di-upload lagi, tapi tergantung pemerintah sekarang mau tanggapi atau tidak?” selorohnya.

Pihaknya berharap itu bisa menjadi pemantik, perhatian Pemkab Lobar agar segera menangani jembatan itu. Di satu sisi, dengan foto kendaraan terperosok dan kayu terangkat, cukup berdampak. Terutama para pedagang maupun pengunjung akan terpengaruh tidak berkunjung atau berjualan ke kawasan Pantai Cemare.

Dalam sepekan, pengunjung yang melewati jembatan itu bisa mencapai lebih dari 1000 orang. Di jembatan itu dipasang portal untuk mengatur arus kendaraan, termasuk kendaraan bermuatan besar. Namun, pengelolaannya perlu lebih diperkuat. Pihaknya bersama warga pun berkali-kali memperbaiki jembatan itu.

Termasuk rencananya dalam waktu dekat ini, warga berswadaya dibantu oleh pihak pengelola akan memperbaiki sedikit-sedikit bagian yang rusak. “Kami mau perbaiki sedikit-sedikit bagian (rusak) itu, demi kelancaran destinasi wisata kita disini juga,” ujarnya.

Namun, menurutnya, dengan anggaran Rp100 juta sekali pun, titik yang diperbaiki tidak signifikan. Seperti saat disumbang Baim Wong beberapa waktu lalu, nilai sumbangan itu seolah tak ada artinya untuk penanganan jembatan itu. Biaya untuk bahan-bahan besi bagian jembatan itu saja harganya belasan juta satu unit, sehingga perbaikan pun tidak bisa menyasar banyak bagian.

Belum lama ini, pihaknya juga telah memperbaiki dengan memasang beberapa kubik kayu, itu pun tidak cukup sehingga dipakai lah kayu yang lama. Namun, kayu yang dipasang baru justru rusak. Yang lebih awet kayu lama.

Penyebab kerusakan jembatan ini, karena tidak sesuai beban kendaraan dengan kapasitas jembatan tersebut. Banyak truk yang masuk membawa batu dan pasir.

Di satu sisi, masyarakat juga tidak ikut andil mau menjaga atau menyelamatkan jembatan tersebut. Akibatnya baru 15 hari saja diperbaiki, jembatan itu sudah goyang. “Di bawahnya itu saja sudah peyot,” imbuhnya.
Untuk itu, ia berharap pada masyarakat agar jangan sampai menyalahkan pihak lain, baik itu pengelola, maupun pihak dusun. Namun, ia mengajak masyarakat ikut menjaga jembatan tersebut.

Lebih lanjut dikatakannya, tim dari TNI pusat sudah tiga kali survei lokasi. Awalnya warga mengusulkan perbaikan dengan anggaran Rp200-300 juta, tapi dari pihak terkait menyampaikan tidak bisa diperbaiki tetapi perlu dibangun jembatan permanen. Pihaknya pun sangat setuju, bahkan ia menyampaikan hal ini telah lama didambakan warga.

Belum lama ini juga, kata dia, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal pun kebetulan pernah berkunjung melihat kondisi jembatan tersebut. Gubernur pun akan membantu kolaborasi terkait usulan penanganan jembatan itu ke pusat
Terkait keberadaan jembatan gantung di daerah itu, yang dianggap kurang maksimal, menurut Kadus Cemare ini, justru jembatan gantung ini selain menjadi akses terutama yang pengguna motor. Jembatan gantung itu juga menjadi daya tarik wisata. Keberadaan jembatan itu justru menambah pengunjung yang datang ke Pantai Cemare tersebut.

“Tidak saja dipakai oleh warga, tapi menjadi daya tarik wisatawan, bertambah pengunjung ke sini, yang 1000 jadi lebih dari itu, karena adanya jembatan gantung ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kadis PUPRPKP Lobar, Lalu Ratnawi mengatakan, terkait penanganan jembatan kayu Cemare sudah diusulkan pihaknya ke pemerintah pusat. “Dan tim Pusat sudah turun cek, semoga semuanya berjalan lancar,” katanya.

Ketika ditanya, apakah bisa dianggarkan penanganannya dari APBD, diakuinya, kalau ditangani dari APBD terlalu berat karena kebutuhan dananya sekitar Rp40 miliar lebih. (her)

IKLAN

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut