Friday, April 17, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 505

Pemkot Mataram Perlu Siapkan Angkutan Publik

0
Halte di Jalan Selaparang, Kelurahan Bertais mangkrak pasca dibangun di tahun 2017 lalu. Pemkot Mataram harus memikirkan untuk menyediakan angkutan publik sebagai alternatif bagi masyarakat untuk menggunakan angkutan yang layak guna mengantisipasi kemacetan di Kota Mataram. (ekbisntb.com/cem)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram semestinya mulai memikirkan untuk menyiapkan angkutan publik.  Tujuan memberikan pilihan bagi warga mengakses transportasi serta mengurangi potensi penggunaan kendaraan pribadi guna mengantisipasi kemacetan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin ditemui pada akhir pekan kemarin menerangkan, uji coba penggunaan transportasi publik telah dimulai di tahun 2024 dengan memanfaatkan bemo kuning untuk mengangkut siswa-siswi. Sejumlah tujuh unit kendaraan angkutan kota melayani di beberapa rute. Animo penggunaan angkutan publik cukup tinggi, sehingga dilakukan penambahan armada untuk melayani pelajar. “Ternyata animo masyarakat sangat tinggi dan sopir bemo merasa terbantu dengan program pemerintah, sehingga di alokasikan lagi anggaran di tahun 2025,” terangnya.

Selain penggunaan angkot, juga telah dibuat grand desain untuk angkutan publik menggunakan bus medium. Pihaknya telah melobi ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk mencari sumber pembiayaan, tetapi kebijakannya sampai tahun 2027 belum ada program. Zulkarwin mengharapkan, pemerintah pusat menyediakan angkutan publik untuk menyambut Provinsi NTB sebagai tuan rumah pekan olahraga nasional. “Kemungkinan di tahun 2027 bisa ada anggaran untuk menyambut PON di NTB,” harapnya.

Konsep angkutan publik akan diuji di dua trayek di Kota Mataram yakni, trayek A melewati tengah kota melewati Universitas Mataram. Trayek B melewati kawasan bisnis cakranegara.

Mantan Camat Selaparang menegaskan, penggunaan dua trayek ini guna mengurai kemacetan pada jam sibuk, sehingga diharapkan pada program ini adalah merangkul bemo kuning sebagai angkutan feeder. Upaya menghadirkan angkutan publik dinilai sebagai sebuah kewajiban pemerintah daerah. Meskipun skenario disiapkan adalah menyediakan enam trayek yang melayani warga dari seluruh rute. “Secara aksesibility sebenarnya memungkinkan disediakan angkutan publik menggunakan bus medium,” terangnya.

Perihal halte yang telah dibangun tetapi dibongkar oleh pemerintah padahal telah menelan anggaran puluhan bahkan ratusan juta? Ia tidak memungkiri bahwa halte dibangun karena ada 30 bus kotama untuk melayani masyarakat. Halte itu dibangun dari APBN, APBD Provinsi NTB dan APBD Kota Mataram. Halte yang rusak telah dibongkar tetapi sebagian dipertahankan dengan tujuan angkutan publik yang dirancang dan halte tersedia. (cem)

Pekan Pertama Desember 2024, PT AMNT akan Bayar DBH Laba Bersih untuk Kabupaten/Kota di NTB

0
Aktivitas Tambang Batu Hijau PT AMNT (ekbisntb.com/Dok PT AMMAN)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemprov NTB telah menerima dana bagi hasil (DBH) laba bersih PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) tahun buku 2023 pada bulan November kemarin sebesar Rp114,9 miliar. Dana bagi hasil tersebut dibayarkan kepada pemda sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan dan Mineral dan Batubara.

Namun demikian untuk 10 Kabupaten/Kota, dana bagi hasil tersebut belum dibayarkan. Rencananya pembayarannya akan dilakukan pada pekan pertama bulan Desember 2024 ini. Dana yang akan diterima relatif sama, terkecuali untuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebagai daerah penghasil akan mendapatkan bagian yang paling besar.

Kepala Bappenda Provinsi NTB, Hj. Eva Dewiyani, SP mengatakan, pihaknya telah menerima surat dari PT AMNT perihal permohonan perpanjangan atas kewajiban pembayaran DBH untuk tahun 2023. Alasan perpanjangan pembayaran DBH tersebut karena pihak perusahaan menelaah kembali perhitungan yang telah disampaikan untuk bagian Pemda Kabupaten/Kota.

“PT AMNT rencananya akan melakukan pembayaran untuk bagian kabupaten/kota pada minggu pertama bulan Desember 2024 sebagaimana surat yang kami terima,” kata Eva Dewiyani kepada Suara NTB akhir pekan kemarin.

Adapun besaran DBH laba bersih yang akan diterima Pemda Kabupaten/Kota untuk bagian tahun 2023 yaitu 12,3 juta Dolar AS atau Rp 191,6 miliar untuk KSB sebagai daerah penghasil dan 9,08 juta Dolar AS yang dibagi untuk 9 Kabupaten/Kota di NTB. Sehingga jika dibagi rata, masing-masing daerah selain KSB mendapatkan 1,08 juta Dolar AS atau sekitar Rp17,036 miliar.

Sebelumnya, Pemprov NTB telah menerima DBH laba bersih PT Amman pada pertengahan November kemarin.  Dengan telah diterimanya bagi hasil keuntungan bersih PT.AMNT untuk tahun 2023 tersebut, maka total dana yang telah diterima NTB sejak tahun 2020 sebanyak Rp490,4 miliar lebih. Dengan rincian, bagi hasil keuntungan bersih PT Amman untuk tahun 2020 dan 2021 sebesar Rp107,1 miliar, selanjutnya untuk bagi hasil keuntungan bersih tahun 2022 sebesar Rp268,2 miliar dan untuk tahun 2023 sebesar Rp114,9 miliar.

Untuk diketahui, pembagian dana bagi hasil ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan dan Mineral dan Batubara. Pasal 129 ayat (1) menyebutkan Pemegang IUPK pada tahap kegiatan operasi produksi untuk pertambangan mineral logam dan batubara wajib membayar sebesar 4 persen kepada pemerintah pusat dan 6 persen kepada pemerintah daerah dari keuntungan bersih sejak berproduksi.

Kemudian dalam ayat (2) menyebutkan Bagian Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur pemerintah daerah provinsi mendapat bagian sebesar 1,5 persen. Pemerintah daerah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar 2,5 persen. Sementara pemerintah daerah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama mendapat bagian sebesar 2 persen.(ris)

Kejar Target Penurunan Kemiskinan Ekstrem

0
Iskandar Zulkarnain (ekbisntb.com/dok)

PEMPROV NTB berupaya mengejar target penurunan kemiskinan ekstrem hingga mendekati angka nol persen dalam kurun waktu satu bulan lagi sebelum pergantian tahun.

‘’Kami terus kejar penurunan kemiskinan ekstrem kalau tidak nol paling tidak mendekati nol, kami harus optimistis,” kata Kabid Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda NTB, Iskandar Zulkarnain di Mataram, Sabtu 30 November 2024.

Iskandar menyebutkan, angka kemiskinan ekstrem di NTB mencapai 2,06 persen pada September 2024. Jumlah itu turun 0,58 persen dalam waktu sembilan bulan. Menurutnya, penurunan kemiskinan ekstrem menjadi pekerjaan rumah bagi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru.

Beberapa langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengurangi kemiskinan ekstrem, di antaranya pembenahan data agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan berkolaborasi dengan organisasi nirlaba dalam melakukan pelatihan kepada warga miskin ekstrem.

“Banyak salah sasaran karena data. Saat bantuan diberikan ternyata sudah tidak miskin lagi,” kata Iskandar.

Kemiskinan ekstrem merupakan kondisi di mana masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar berupa air bersih, makanan, sanitasi layak, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan akses informasi.

Bila pendapatan tidak sampai 1,90 dolar AS per hari atau setara Rp300 ribu per bulan, maka termasuk kemiskinan ekstrem. Di NTB, penduduk yang tergolong miskin ekstrem banyak yang berprofesi sebagai buruh tani dan buruh nelayan.(ant)

Kondisi Perumahan NTB, Backlog Masih Tersisa 306 Ribu Unit, RTLH 549 Ribu Unit

0
Sadimin (ekbisntb.com/ris)

Lombok (ekbisntb.com) – Sarana tempat tinggal atau rumah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Namun di Provinsi NTB masih terlihat problem perumahan yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Misalnya backlog atau kekurangan rumah untuk rumah tangga masih tersisa sebanyak 306.035 unit yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTB.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Provinsi NTB, Sadimin mengatakan, selain persoalan backlog, masalah rumah tidak layak huni (RTLH) juga menjadi atensi pemerintah daerah. Berbagai program sedang dijalankan untuk mengurangi angka backlog dan rumah tidak layak huni tersebut.

Ia mengatakan, jumlah kepala keluarga di NTB sebanyak 1.647.359 KK. Dari jumlah tersebut rumah layak huni untuk KK sebanyak 1.097.648 unit, sedangkan rumah tidak layak huni sebanyak 549.711 unit. Artinya persentase rumah layak huni untuk KK di Provinsi NTB baru sebanyak 67 persen.

 “Kalau backlog kepemilikan itu masih 300 ribu sekian, namun backlog yang belum punya rumah untuk keluarga baru sebanyak 121 ribu unit. Ini merupakan angka terbaru hasil Regsosek BPS tahun 2022 kemarin,” kata Sadimin kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Salah satu gebrakan pemerintah untuk mengurangi backlog perumahan di dalam negeri yaitu dengan upaya meningkatkan kuota fasilitas likuiditas pembiyaan perumahan (FLPP) menjadi 800 ribu unit rumah pada 2025 atau meningkat 580 ribu unit dari kuota tahun ini sebesar 200 ribu unit. Peningkatan kuota ini merupakan langkah untuk merealisasikan program 3 juta rumah yang menjadi program Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (KPK).

 “Saat Pak Wakil Menteri Perumahan datang ke sini kemarin, rumah subsidi awalnya 200 ribu unit menjadi 800 ribu unit (secara nasional-red). Mudah-mudahan target tersebut bareng-bareng bisa tercapai,” katanya.

Pemerintah sendiri mengeluarkan sejumlah kebijakan dalam rangka memberikan sejumlah kemudahan bagi masyarakat dan perusahaan dalam menyediakan perumahan untuk masyarakat. Salah satunya yaitu pembebasan pengenaan retrebusi Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) serta membebaskan retribusi PBG atau Persetujuan Bangunan Gedung yang dulu disebut dengan istilah IMB. Serta waktu pengeluarakan izin PBG yang awalnya maksimal 28 hari diperpendek menjadi 10 hari saja.

Dalam Kepmen PUPR No 22/2023 tentang Kreteria Penghasilan Masyarakat disebutkan bahwa kreteria masyarakat berpenghasilan rendah yaitu maksimal Rp7 juta untuk warga yang belum kawin dan kategori kawin maksimal sebesar Rp8 juta. Angka ini mencakup sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di wilayah NTB.

Artinya bagi masyarakat yang memiliki penghasilan maksimal 7 juta yang belum kawin dan 8 juta yang sudah kawin, mereka dibebaskan dari penarikan retribusi Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) dan retribusi PBG.(ris)

Raih ADWI 2024, Tantangan Kembangkan Desa Wisata Aik Berik Lebih Baik ke Depan

0
Air terjun Benang Setokel di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Loteng yang masih alami. (ekbisntb.com/ham)

Desa Wisata Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 sebagai Juara II dalam Kategori Amenitas Terbaik dari Kementerian Pariwisata. Keberhasilan meraih juara II nasional ini justru menjadi pemacu pengelola desa wisata untuk mempertahankan prestasi yang diraih dan menjadi lebih baik lagi. Seperti apa amenitas di desa bagian utara Kabupaten Loteng ini?

DESA Wisata Aik Berik memiliki dua objek wisata air terjun, yakni air terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu yang sangat menarik dan indah. Alam pegunungan yang masih segar dan alami akan semakin membuat wisatawan betah berlama-lama berada di tempat ini. Belum lagi, sepanjang perjalanan dari pertigaan sebelum Kantor Desa Teratak, Kecamatan Batukliang menuju Desa Aik Berik di kiri kanan dipenuhi dengan hamparan sawah yang subur dan menghijau.

Pikiran dan beban pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawab di tempat kerja masing-masing membuat pikiran kembali jadi fresh. Selain itu, lokasi yang tidak terlalu jauh dari Kota Mataram atau pusat pemerintahan Loteng sangat cocok untuk dijadikan berlibur di akhir pekan atau hari libur. Melalui Desa Aik Berik ini juga, para pencinta alam, khususnya para pendaki yang ingin ke Gunung Rinjani bisa menjajal rute ini, selain melalui Senaru, Kabupaten Lombok Utara atau Sembalun, Lombok Timur.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Aik Berik, Muhammad Rodian Fahlevi, menyampaikan keberhasilan Desa Wisata Aik Berik meraih penghargaan ADWI  2024 sebagai Juara II dalam kategori Amenitas Terbaik membuktikan upaya membangun pariwisata sudah menunjukkan hasil. Keberhasilan meraih penghargaan ADWI 2024 ini, ungkapnya, tidak lepas kerja sama dengan banyak pihak, seperti Pemerintah Desa Aik Berik, pengelola pariwisata, pemerintah daerah Loteng dan juga Pemprov NTB.

Desa Wisata Aik Berik Juara II dalam Kategori Amenitas Terbaik dari Kementerian Pariwisata. Amenitas  merupakan pelengkap dari atraksi utama wisata. Ketersediaan amenitas yang memadai dapat membantu membangun pengalaman berwisata yang nyaman dan menyenangkan bagi wisatawan.

Beberapa contoh amenitas pariwisata yang harus ada seperti rumah makan, restoran, toko cinderamata. Sarana ibadah, seperti masjid atau musala, tempat hiburan, fasilitas umum, seperti taman. Tidak hanya itu, fasilitas seperti toilet juga harus memadai, tempat sampah, fasilitas ramah difabel, ruang hijau, akses yang mudah dan area food court.

‘’Semua berusaha kita lengkapi. Tapi secara bertahap. Misalnya toilet juga sudah ada, musala, pengelolaan sampah juga sudah ada. Namun, beberapa fasilitas lagi harus kami lengkapi,’’ ujarnya saat dikonfirmasi di objek wisata Benang Setokel, Sabtu, 30 November 2024.

Rodian – sapaan akrabnya mengakui, membangun objek wisata dilakukan secara bertahap. Pihak pokdarwis, pemerintah desa dan juga masyarakat terus meningkatkan kerja sama dalam membangun fasilitas yang dibutuhkan objek wisata.

Untuk tempat hiburan yang melibatkan masyarakat atau siswa, ungkapnya, masih belum ada. Pasalnya, lokasi yang menjadi tempat Pusat Informasi Pariwisata, tempat parkir, merupakan milik pribadi warga, sehingga butuh waktu bagi Pokdarwis dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. Sebagai contoh, panggung kesenian khas wilayah setempat masih belum ada, karena belum memiliki lokasi  yang cocok.

Begitu juga dengan tempat untuk membeli suvenir atau oleh-oleh khas Desa Wisata Aik Berik masih belum ada. Semua ini menjadi dasar bagi pihaknya dalam membangun Desa Wisata Aik Berik lebih maju di masa mendatang. Sementara ini, pihaknya masih fokus mengembangkan apa yang ada dulu, terutama produk khas Desa Aik Berik adalah keripik pisang.

Mengenai jumlah wisatawan yang berkunjung ke dua objek wisata, yakni Benang Setokel dan Benang Kelambu masih didominasi wisatawan lokal, khususnya akhir pekan.  Sementara jumlah wisatawan mancanegara jumlahnya antara 30-40 wisarawan per hari.

Siraj, warga Kediri, Lombok Barat, mengaku pertama kali berkunjung ke objek wisata Benang Setokel. Dirinya merasa puas berkunjung ke lokasi ini, karena masih alami, sehingga beban pikiran akibat pekerjaan untuk sementara hilang.

Meski demikian, dirinya bersama anggota kelompoknya ingin menuju air terjun Benang Kelambu. Namun, karena cuaca mendung dirinya mengurungkan niatnya ke Benang Kelambu yang jaraknya cukup dari Benang Setokel. ‘’Sebenarnya ingin ke sana. Tapi teman-teman khawatir masalah cuaca, karena sedang mendung kami tidak jadi ke sana. Padahal ingin sekali ke air terjun Benang Kelambu. Mungkin pada kesempatan lain akan ke Benang Kelambu,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi NTB Jamaluddin, S.Sos., M.T., mengaku bangga dengan raihan Desa Wisata Aik Berik ini. Penghargaan ini, ujarnya, merupakan hasil kerja keras dan dedikasi semua pihak, mulai dari masyarakat Desa Aik Berik hingga pemerintah daerah.

‘’Semoga prestasi ini dapat memberikan dampak positif yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan daya tarik pariwisata di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya belum lama ini.

Dengan penghargaan ini, ujarnya, diharapkan Desa Wisata Aik Berik dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi desa-desa wisata lain di Indonesia, khususnya di NTB dalam mengoptimalkan potensi pariwisatanya. (ham)

Pj Bupati Lotim Dorong PKK Hidupkan Ketahanan Pangan Keluarga

0
Pj Bupati Lotim, HM. Juaini Taofik menyuapi istrinya, Pj Ketua TP PKK Hj. Nurhidayati pada kegiatan Jambore PKK Kabupaten Lotim, Sabtu 30 November 2024. (ekbisntb.com/ist)

PENJABAT (Pj) Bupati Lombok Timur (Lotim), H. M. Juaini Taofik, menegaskan pentingnya peran Tim Penggerak PKK dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Dalam sambutannya saat membuka Jambore Kader PKK Tingkat Kabupaten Lotim Tahun 2024 di halaman Kantor Bupati, Sabtu 30 November 2024 lalu. Ia mengajak para kader PKK untuk kembali memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam tanaman dalam pot.

Menurut Pj Bupati, ketahanan pangan merupakan fokus pemerintah sebagai upaya menciptakan kemandirian pangan, terutama di tengah ketidakpastian kondisi global dan regional. “Mari manfaatkan sejengkal halaman yang kita miliki untuk menanam tanaman pangan,” ujarnya.

Ia berharap gerakan ini dapat menghidupkan kembali semangat lama yang pernah dilakukan oleh PKK dan berkontribusi pada kemandirian ekonomi di tahun 2025.

Selain itu, Pj Bupati mengingatkan kader PKK untuk tetap optimis dalam menghadapi berbagai tantangan. “Optimisme itu penting dalam setiap perubahan apa pun, dengan perencanaan yang baik, kita bisa memastikan hari esok lebih baik dari hari ini,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pj Bupati juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama PKK dengan berbagai organisasi wanita yang telah membawa Lotim meraih sejumlah prestasi sepanjang tahun 2024, termasuk penghargaan aksi konvergensi stunting terbaik tingkat Provinsi NTB.

Jambore PKK 2024 ini diikuti lebih dari 400 peserta yang terdiri dari ketua TP PKK desa/kelurahan, TP PKK kecamatan, tim pendamping Puskesmas, Camat, dan pimpinan OPD. Kegiatan diawali dengan senam sehat, praktik pengolahan sampah, serta berbagai perlombaan yang mendukung kreativitas dan keterampilan para peserta.

Harapannya, melalui upaya ini, ketahanan pangan keluarga di Lotim semakin kuat dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran PKK dalam pembangunan daerah. (rus)

Penerimaan dan Belanja Tumbuh, Kinerja APBN di NTB Tercatat “On The Track”

0
Ratih Hapsari Kusumawardani (ekbisntb.com/dok)

Sampai dengan 31 Oktober 2024, kinerja APBN lingkup Provinsi NTB tercatat on the track dan dalam posisi yang tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, baik dari sisi penerimaan maupun belanja. Penerimaan negara tercatat telah berhasil dikumpulkan sebesar Rp7,99 triliun  atau 81,95 persen dari target, dengan komposisi Rp7,23 triliun berasal dari penerimaan perpajakan dan Rp759,94 miliar berasal dari penerimaan negara bukan pajak.

KEPALA Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Ratih Hapsari Kusumawardani mengatakan, penerimaan perpajakan mampu tumbuh sebesar 67,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, utamanya karena tumbuh tingginya aktivitas perekonomian, terutama di sektor pertambangan.

Kemudian, penerimaan Bea Keluar tumbuh sebesar 133,92 persen dibanding tahun lalu didorong oleh meningkatnya kegiatan ekspor konsentrat tembaga PT AMNT dan relaksasi ekspor konsentrat. Masih dari sisi perpajakan terkait tambang, PBB & BPHTB tumbuh sebesar 240,7 persen dibanding tahun lalu didukung oleh setoran PBB sektor pertambangan.

“Pertumbuhan penerimaan pajak juga disumbang oleh sektor pajak penghasilan yang mencatat pertumbuhan sebesar 37,68 persen dibanding tahun lalu didukung oleh peningkatan di hampir semua jenis pajak penghasilan dan kontribusi dari sektor terkait,” kata Ratih Hapsari Kusumawardani dalam keterangannya pekan kemarin.

Sisi penerimaan negara bukan pajak pun mencatatkan berita yang positif, yaitu tercapai 153,32 persen dibandingkan targetnya dan mampu tumbuh sebesar 8,42 persen dibandingkan tahun lalu. Kinerja ini mampu tercapai dengan memuaskannya kinerja pendapatan atas layanan pemerintah satker NonBLU (penerbitan STNK, izin keimigrasian, pengurusan BPKB, pelayanan pertanahan, dan jasa kepelabuhan) yang menghasilkan pendapatan sebesar Rp403,91 miliar.

Pendapatan negara bukan pajak yang didapatkan melalui pengelolaan kekayaan negara dan lelang mencapai Rp15,40 miliar dengan rincian Rp11,24 miliar berasal dari pengelolaan aset negara, Rp4,14 miliar berasal dari lelang, dan Rp24,75 juta berasal dari pengelolaan piutang negara. Lelang memberikan berbagai manfaat bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sarana pengelolaan keuangan negara, penegakan hukum, serta meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Adapun layanan dari Badan Layanan Umum atau BLU yang ada di Provinsi NTB (jasa pelayanan pendidikan, dan jasa pelayanan rumah sakit) menghasilkan pendapatan sebesar Rp356,02 miliar. Angka ini didominasi oleh pendapatan dari jasa pelayanan pendidikan sebesar Rp316,18 miliar (88,8 persen dari total pendapatan BLU) dan pendapatan dari jasa pelayanan rumah sakit sebesar Rp31,29 miliar (8,8 persen dari total pendapatan BLU).  “Kinerja pendapatan BLU ini tumbuh sebesar 9,84 persen dibandingkan tahun lalu,” imbuhnya.

Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan di Provinsi NTB ini juga mengatakan, pada sisi belanja negara, secara agregat, APBN telah dibelanjakan di Provinsi NTB sebesar Rp22,04 triliun yang merupakan 82,98 persen dari pagu belanja APBN lingkup Provinsi NTB tahun 2024. Belanja negara ini digunakan untuk menyokong aktivitas pemerintahan baik pusat maupun daerah, serta diberikan langsung kepada masyarakat.

Belanja negara di bidang kesehatan melalui satuan kerja (satker) pemerintah pusat telah direalisasikan sebesar Rp244,85 miliar. Belanja ini digunakan untuk mendukung program kesehatan yang dimiliki pemerintah, antara lain untuk program pelayanan kesehatan dan JKN, program pencegahan dan pengendalian penyakit, program kesehatan masyarakat, program pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana, serta program pengawasan obat dan makanan.

Belanja di bidang kesehatan oleh pemerintah pusat ini diiringi juga dengan belanja di bidang kesehatan oleh pemerintah daerah dengan dana yang disalurkan pemerintah pusat melalui Transfer ke Daerah dengan nominal sebesar Rp990,22 miliar. Penggunaannya antara lain membangun sarana prasarana kesehatan, mendukung operasional puskesmas, serta membiayai tenaga kerja di bidang kesehatan.

Belanja negara di bidang pendidikan melalui satker pemerintah pusat telah direalisasikan sebesar Rp1,26 triliun. Belanja ini digunakan untuk mendukung program pendidikan yang dimiliki pemerintah, antara lain untuk program pendidikan tinggi, program pendidikan dan pelatihan vokasi, program keolahragaan, program PAUD dan Wajib Belajar Tahun 12 Tahun, dan program kualitas pengajaran dan pembelajaran.

“Belanja di bidang pendidikan oleh pemerintah pusat ini diiringi juga dengan belanja di bidang pendidikan oleh pemerintah daerah dengan dana yang disalurkan pemerintah pusat melalui Transfer ke Daerah dengan nominal sebesar 3,38 triliun rupiah. Penggunaannya antara lain membangun sarana prasarana pendidikan serta membiayai honor dan upah tenaga pendidikan,” terangnya.

Belanja negara di bidang infrastruktur melalui satker pemerintah pusat telah direalisasikan sebesar Rp1,42 triliun. Belanja ini digunakan untuk mendukung program-program pembangunan infrastruktur yang dimiliki pemerintah, antara lain program infrastruktur konektivitas, program ketahanan sumber daya air, program perumahan dan kawasan permukiman, dan program pengelolaan dan pelayanan pertanahan.

“Belanja ini diiringi juga dengan belanja infrastruktur oleh pemerintah daerah dengan dana yang disalurkan pemerintah pusat melalui Transfer ke Daerah dengan nominal sebesar 420,14 miliar rupiah. Penggunaannya antara lain untuk membangun jalan, irigasi, sarana prasarana sanitasi, air minum, dan lain-lain,” tutupnya.(ris)

Jangan Hanya Sekedar Naik Kelas

0
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya(ekbisntb.com/ntb.genpi.co)

SUKSES Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya mendapat rekomendasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk naik kelas dari rumah sakit tipe C ke tipe B disambut baik kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Tengah (Loteng).

Menurut Ketua Komisi I DPRD Loteng Ahmad Syamsul Hadi, capaian tersebut patut diapresiasi. Tetapi tidak kalah penting dari semua itu ialah bagaimana peningkatan status tersebut dibarengi pula dengan peningkatan kualitas pelayanan dan kinerja jajaran manajemen RSUD Praya.

“Jangan hanya sekedar naik kelas saja. Tapi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tegas Ahmad Syamsul Hadi, akhir pekan kemarin.

Dengan kata lain peningkatan status rumah sakit harus selarang dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Begitu pula dari aspek tata kelola rumah sakit itu sendiri, karena tidak akan ada artinya, status saja yang naik. Namun tidak simetris dengan kualitas pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada masyarakat.

“Jadi bukan suatu yang membanggakan peningkatan status rumah sakit, kalau kualitas pelayanan sama saja. Tidak ada perbaikan atau peningkatan sebagai mana status rumah sakit itu sendiri,” tandas Ketua DPD Partai NasDem Loteng ini.

Karena sebagai instansi pelayanan publik, kualitas pelayanan sangat menentukan perspektif publik terhadap kinerja RSUD Praya. Jika kualitas pelayanan baik, maka baik pula penilaian masyarakat terhadap kinerja RSUD Praya itu sendiri, begitu pula sebaliknya.

Ahmad mengatakan, ada beberapa hal penting yang butuh perhatian manajemn RSUD Praya. Salah satunya dan yang utama ialah soal mental melayani para tenaga tenaga medis yang harus terus dibenahi. Ia pun menilai perbaikan di aspek tersebut sudah dilakukan. Tetapi belum begitu maksimal hasilnya.

Bahwa di jajaran top manajemen RSUD Praya memang sudah mulai ada perbaikan. Namun belum bertransformasi secara optimal hingga sampai ke level bawah. Buktinya, masih saja ada muncul keluhan-keluhan soal kualitas pelayanan yang diberikan. Baik itu yang terkait cara para petugas kesehatan memberikan pelayanan, maupun kualitas pelayanan kesehatan itu sendiri.

“Kita mendorong dan mendukung upaya-upaya pembenahan di RSUD Praya. Bahkan, bila perlu manajemen RSUD Praya berani pasangan target zero complain sebagai tolak ukur capaian kinjerjanya,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur RSUD Praya dr. Mamang Bagiansah mengakui kalau masih banyak hal yang harus dibenahi di RSUD Praya. Utamanya terkait kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dan, itu butuh waktu serta proses yang tidak instansi. Peningkatan status dari rumah sakit tipe C ke tipe B tersebut, salah satu cara untuk mendorong perbaikan kualitas pelayanan di RSUD Praya.

Disinggung proses usulan perubahan status RSUD Praya, Mamang mengatakan setelah proses verifikasi selesai dilakukan oleh tim Kemenkes, pihaknya diberikan waktu hingga enam bulan kedepan untuk melengkapi dan memperbaiki beberapa rekomendasi yang diberikan. “Tapi Insya Allah kami target dalam tiga bulan ke depan semua rekomendasi sudah terpenuhi. Jadi paling tidak di bulan Maret 2025 mendatang, status RSUD Praya sudah menjadi rumah sakit tipe B,” pungkasnya. (kir)

Mendaki Gunung Rinjani Lewat Aik Berik Tawarkan Suasana Berbeda

0
Muhammad Rodian Fahlevi (ekbisntb.com/ham)

Desa Wisata Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) merupakan salah satu pintu masuk untuk mendaki ke Gunung Rinjani, selain lewat Sembalun, Kabupaten Lombok Timur dan Senaru, Kabupaten Lombok Utara.

Setiap jalur memiliki suasana dan nuansa berbeda bagi pendaki. Jika mendaki lewat Sembalun, pendaki bisa melewati padang savana yang luas dan hutan di kaki Gunung Rinjani.  Di sepanjang perjalanan, pendaki dapat menikmati pemandangan lapangan, hutan, Selat Alas dan Pulau Sumbawa. Termasuk di Pelawangan Sembalun, pendaki dapat menikmati pemandangan Danau Segara Anak dan matahari terbit maupun terbenam serta kelebihan lainnya.

Di satu sisi mendaki Rinjani lewat Senaru, pendaki bisa menikmati keindahan Danau Segara Anak. Pendaki juga dapat menikmati pemandangan dari berbagai titik, termasuk dari Pelawangan Senaru dan sejumlah objek wisata yang ada di sepanjang jalur pendakian. Waktu yang dibutuhkan sekitar 6 jam perjalanan atau tergantung pendaki.

Sementara jika mendaki lewat Aik Berik, pendaki bisa menikmati pemandangan alam yang indah, seperti hutan tropis, padang savana, aliran sungai, dan Gunung Anak Baru Jari. Selain itu, para pendaki tidak kesulitan mendapatkan air minum, karena banyak sumber mata air bisa ditemukan di sepanjang perjalanan. Pendaki bisa menuju Gunung Rinjani, tapi tidak bisa langsung ke puncak dalam jangka waktu 8 jam.

Seperti disampaikan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Aik Berik, Muhammad Rodian Fahlevi, jika para pendaki hanya cukup membawa 1 botol air minum dari lokasi awal pendakian. ‘’Setelah itu nanti, botol bisa di-refill (isi ulang),’’ ujarnya saat dikonfirmasi di Desa AIk Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Loteng, Sabtu, 30 November 2024.

Diakuinya, pada musim hujan sekarang ini, pendakian ke Gunung Rinjani tergantung dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), apakah masih tetap dibuka atau ditutup. ‘’Kalau musim hujan, kalau curahnya tinggi itu ada saja kebijakan ditutup. Karena kita tidak ingin ada case-case lah,’’ ujarnya.

Meski demikian, pihaknya hanya menyediakan jasa, seperti porter atau guide yang akan mendampingi pendaki ke Gunung Rinjani. Sepenuhnya masalah pendakian merupakan kewenangan TNGR.

Selama ini, dari pendaki yang dilayani penyedia jasa di Desa Aik Berik merupakan pendaki lokal (Indonesia dan dalam NTB) yang ingin menjajal mendaki lewat Desa Aik Berik. ‘’Mendaki lewat Aik Berik menjadi salah satu pilihan setelah pendaki di Utara (Senaru dan Sembalun). Tapi kalau lewat sini, ada banyak yang bisa ditawarkan bagi pendaki,’’ ujarnya. (ham)

Bebani Masyarakat, YLKI Tolak Kenaikan PPN 12 Persen

0
Logo YLKI(ekbisntb.com/ant)

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menegaskan penolakan terhadap rencana pemerintah untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang direncanakan berlaku pada awal tahun 2025. Kebijakan ini akan memberi beban tambahan bagi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi.

Ketua YLKI Tulus Abadi mengatakan bahwa momen kenaikan PPN itu tidak tepat karena kondisi ekonomi makro di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Meskipun PPN menyasar kelas menengah, namun jika segemen kelas menengah mengurangi belanja lantaran barangnya menjadi lebih mahal, maka yang terkena dampaknya adalah masyarakat berpenghasilan rendah.

 “Walau PPN menyasar midle class, tapi kalau segmen midle class mengurangi belanja mengingat barangnya mahal krn kena PPN 12%, toh masyarakat low income juga yang akan kena eksesnya. Apalagi fenomena sosial dan ekonomi kelompok midle class sedang drop, malah cenderung semaput,” kata Tulus dalam keterangannya, Kamis 21 November 2024.

Sebagai bentuk penolakannya, YLKI juga sedang membuat petisi dengan judul “Sejuta TTD Konsumen Menolak Kenaikan PPN 12%” di change.org yang dimulai tanggal 22 November lalu. Dalam keterangannya, YLKI menilai kebijakan ini akan memberi beban tambahan bagi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi.

YLKI mengkritisi kebijakan tersebut dengan beberapa poin catatan. Plt Ketua Pengurus Harian YLKI, Indah Suksmaningsih mengatakan, alasa pertama, PPN naik saat ekonomi rakyat sedang sulit. Walaupun kenaikan PPN pada dasarnya diamanatkan dalam UU No 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP), YLKI berpendapat, situasi sosial dan ekonomi saat ini membuat kebijakan tersebut tidak relevan.

Kedua, beban Konsumen Makin Berat dan Daya Beli Anjlok. Indah menyebut, kenaikan PPN yang sudah terjadi sebelumnya pada April 2022, dari 10 persen menjadi 11 persen, masih dirasakan berat oleh masyarakat.

Jika PPN dipaksakan naik lagi menjadi 12 persen pada 2025, hal ini akan semakin memperburuk daya beli konsumen. Masyarakat kemungkinan akan menunda atau bahkan membatalkan pembelian barang-barang yang dikenakan PPN tinggi, seperti barang elektronik, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Dampaknya, dunia usaha dan industri pun akan terimbas, dengan penurunan penjualan yang berujung pada lesunya roda ekonomi.

Ketiga, potensi Ketidakadilan dalam pemungutan pajak. Menurutnya, pemerintah seharusnya tak membebani konsumen dengan pajak yang tinggi, sementara pengemplang pajak justru tidak mendapatkan sanksi tegas. Alih-alih menaikkan PPN, pemerintah harusnya fokus pada peningkatan kepatuhan pajak di kalangan pengusaha kakap dan para pengemplang, agar beban pajak tidak jatuh lagi-lagi pada rakyat kecil.

Keempat, potensi Kebingungan tentang Kontrak yang Sudah Ditandatangan. Dirinya memandang, kebijakan tersebut juga menimbulkan ketidakjelasan terkait kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani sebelum 1 Januari 2025, di mana PPN masih berlaku 11 persen.

“Siapa yang akan menanggung selisih harga akibat perubahan tarif PPN ini? Hal ini tentu akan menambah bingung para pelaku usaha dan konsumen,” katanya dalam keterangan resminya.

Kelima, Indah menyebut bahwa seharusnya bukan PPN yang dinaikkan. Selain dari PPN yang merugikan rakyat, pemerintah justru membatalkan atau tidak menaikkan cukai rokok dan minuman manis yang seharusnya bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa membebani masyarakat.

“Penerapan cukai rokok dan minuman manis juga memiliki manfaat ganda, yaitu meningkatkan pendapatan dan mengendalikan dampak kesehatan. Oleh karena itu, kebijakan yang lebih rasional dan berimbang perlu diambil oleh pemerintah,” imbuhnya.

Oleh karena itu, YLKI mengusulkan agar pemerintah menangguhkan atau bahkan membatalkan rencana kenaikan PPN 12 persen.(ris)