Sunday, April 26, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 120

Pertama di NTB, Water Screen Air Mancur Menari Bundaran GMS Lombok Barat

0
Uji coba water screen air mancur menari di bundaran GMS, Selasa (4/11/2025) malam.

Lombok (ekbisntb.com) –

Revitalisasi Bundaran Giri Menang Square (GMS) Lombok Barat (Lobar) tengah dalam proses pengerjaan. Beberapa pengerjaan hampir rampung seperti landscape, taman dan “Water Screen”.

Water screen ini layar proyeksi dari air, yang dibuat dengan menyemprotkan air ke udara untuk membentuk tirai atau dinding air sebagai media untuk menampilkan gambar, video, atau laser.

Proyektor water screen ini bisa jadi satu-satunya di NTB ini. Water screen ini pun telah diuji coba pada Selasa (4/11/2025) malam. “Kita sudah uji coba untuk resolusi Water Screen bundaran GMS, kita coba memadukan fokus videonya ke media yang sudah tersedia,” terang Sekdis Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Lalu Ratnawi, Rabu (5/11/2025).

Pihaknya melakukan uji coba resolusi video, dilihat dari jarak terjauh masih terlihat atau tidak. Sebab yang dibutuhkan dalam water screen itu adalah resolusi video tinggi 1.800 piksel lebih agar gambarnya tidak pecah.

Dan hasil uji coba pun, water screen ini sangat bagus dimana videonya tidak pecah. Uji coba ini penting dilakukan, karena pengerjaan proyek Bundaran GMS ini sendiri belum selesai untuk air mancur menari yang akan dibangun di sana.

Progres pengerjaan Bundaran GMS itu sekitar 46 persen, yang butuh waktu kata dia perakitan alat. Sedangkan untuk landscape dan taman bisa diatur. “Alat-alat air mancur menari sedang proses perakitan, karena itu barang pabrikasi,” terangnya.

Ia memastikan sistem Water Screen Air Mancur ini pertama di NTB. “Kami pastikan metode water screen ini pertama di NTB. Ini ikhtiar pak Bupati dan Wabup bagaimana Lobar ini punya ikon yang menjadi kebanggaan masyarakat Lobar,”katanya.

Sebab diketuai lanjut dia, posisi Bundaran GMS ini sangat strategis. Pintu masuk ke NTB, ibu kota provinsi baik melalui laut maupun udara melawati bundaran tersebut. Sehingga bundaran GMS ini pun direvitalisasi agar estetika perkotaan lebih menarik. Begitupula dengan dibangunnya Alun-alun yang sedang proses pengerjaan . Hal ini untuk mewujudkan visi misi Bupati dan Wabup supaya Kota Gerung bisa hidup. (her)

Pembangunan Kawasan Kepulauan, Gubernur Iqbal Ajak Unram Wujudkan Paradigma Baru

0
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal memberikan sambutan pada Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-63 Universitas Mataram di Gedung Rektorat Unram, Mataram, Rabu (5/11/2025). (EkbisNTB.com/Biro Adpim Setda NTB)

Lombok (ekbisntb.com) –

Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, memaparkan gagasan besar pembentukan “Golden Triangle” yang mengintegrasikan tiga provinsi—Bali, NTB, dan NTT—sebagai satu kawasan regional strategis. Ia berharap Universitas Mataram (Unram) dapat mengambil peran sentral dalam mewujudkan paradigma baru tersebut.

Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-63 Universitas Mataram di Gedung Rektorat Unram, Mataram, Rabu (5/11/2025). Acara tersebut turut dihadiri Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, dan Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo.

Gubernur mengungkapkan dirinya baru saja bertemu dengan Gubernur Bali dan NTT untuk membahas arah kerja sama ke depan. “Saya usulkan dua pendekatan, yaitu integrasi dan kerja sama. Apa yang akan diintegrasikan? Ada tiga hal,” jelasnya.

Pertama, integrasi energi. “Tiga provinsi akan kita dorong membangun sistem dari NTT sampai ke Bali, sehingga Bali tidak perlu produksi EBT, cukup NTB–NTT karena memiliki radiasi matahari yang paling kuat,” paparnya. Kedua, integrasi konektivitas melalui transportasi laut, darat, dan udara. Ketiga, integrasi sektor pariwisata.

Selain itu, ketiga provinsi juga berkomitmen untuk bersama-sama mengusung konsep Rancangan Undang-Undang Provinsi Kepulauan. “Paradigma pemerintahan kita masih negara daratan, belum menjadi negara kepulauan. Kita ingin konsep ini diakui dari sistem keuangan, pemerintahan, dan administrasi, karena kita sebagai pulau-pulau kecil hidup dari laut,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Gubernur menantang Unram untuk berperan sebagai Center of Excellence. “Saya menaruh harapan kepada Universitas Mataram, mari kita sama-sama melanjutkan untuk membangun paradigma kepulauan bahwa kita adalah provinsi kepulauan,” ajaknya.

Gubernur juga menyoroti persoalan kemiskinan sebagai tema besar yang harus menjadi perhatian akademisi. “Di usia menjelang 67, Provinsi NTB belum keluar dari daftar 12 provinsi termiskin. Kemiskinan struktural yang terjadi harus sama-sama kita pikirkan dengan pendekatan multidimensi,” katanya.

Mengawali sambutannya, Gubernur menyampaikan ucapan selamat atas Dies Natalis ke-63 Unram dan mengapresiasi kontribusi besar kampus tersebut bagi pembangunan daerah. “Saya ingat dalam sebuah film fiksi bahwa setiap film mengenai bencana alam diawali dari pemerintah yang mengabaikan para ilmuwan. Saya tidak ingin menjadi pemerintah yang mengabaikan ilmuwan,” ujarnya.

Ia pun berharap hasil riset dan inovasi Unram tidak hanya menjadi mercusuar akademik, tetapi juga dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat luas. (r)

Perekonomian NTB Triwulan III-2025 Tumbuh 3,91 Persen, Didorong Industri Pengolahan dan Ekspor

0
ekspose pertumbuhan ekonomi NTB di BPS NTB

Mataram (ekbisntb.com) – Perekonomian NTB pada Triwulan III-2025 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif.
Sebagaimana disampaikan Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, MM, Rabu, 5 November 2025 dipaparkan. Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi NTB tumbuh 3,91 persen dibandingkan Triwulan II-2025.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Industri Pengolahan menjadi pendorong terbesar dengan pertumbuhan signifikan sebesar 40,71 persen. Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat kinerja tertinggi dengan pertumbuhan 25,00 persen, menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan luar negeri.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Triwulan III-2024), perekonomian NTB tumbuh 2,82 persen (y-on-y). Kontributor tertinggi dari sisi produksi kembali berasal dari Industri Pengolahan yang meningkat tajam hingga 66,65 persen, mencerminkan peningkatan kapasitas produksi dan potensi ekspor.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 5,89 persen, sejalan dengan peningkatan realisasi belanja aparatur serta aktivitas pembangunan daerah.
Secara kumulatif, ekonomi NTB pada periode Triwulan I–III 2025 dibandingkan periode yang sama tahun 2024 meningkat 0,22 persen (c-to-c).
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi masih didominasi oleh Industri Pengolahan yang melonjak 54,86 persen, menunjukkan sektor ini tetap menjadi tulang punggung perekonomian NTB.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi rumah tangga yang naik 4,25 persen, mencerminkan terjaganya daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi.
Lanjut Wahyudin, kinerja industri pengolahan yang berulang kali tercatat sebagai kontributor pertumbuhan tertinggi, baik q-to-q, y-on-y, maupun c-to-c, mengkonfirmasi sektor ini masih menjadi motor penggerak utama ekonomi NTB. Sementara itu, peningkatan konsumsi pemerintah dan rumah tangga menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masih terjaga di tingkat domestik.
Pertumbuhan ekspor barang dan jasa yang mencapai 25 persen (q-to-q) menggarisbawahi meningkatnya permintaan produk NTB di pasar global, khususnya dari sektor berbasis sumber daya. Pemerintah daerah didorong untuk terus menjaga stabilitas iklim investasi dan daya saing komoditas sebagai strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi regional.(bul)

IPM NTB 2025 Naik, KLU Tumbuh Sedang

0
IPM NTB terbaru

Mataram (ekbisntb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB pada tahun 2025 mencapai 73,97, meningkat 1,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menandai berlanjutnya tren perbaikan kualitas pembangunan manusia di wilayah NTB.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, MM, menyampaikan bahwa peningkatan ini didorong oleh kenaikan di seluruh komponen indikator IPM, yaitu umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.

Dalam keterangan resmi, Rabu, 5 Oktober 2025 kemarin, dipaparkan, umur harapan hidup saat lahir di NTB mencapai 72,60 tahun, menunjukkan peningkatan kualitas layanan kesehatan dan akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.

Pada sektor pendidikan, rata-rata lama sekolah (RLS) mencapai 8,21 tahun, sedangkan harapan lama sekolah (HLS) tercatat 13,99 tahun. Angka tersebut menandakan bahwa anak-anak di NTB berpeluang menempuh pendidikan hingga jenjang lebih tinggi.

Sementara itu, pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan mencapai Rp 11,92 juta, mencerminkan peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi rumah tangga.

BPS mencatat, selama lima tahun terakhir terjadi peningkatan berkelanjutan pada pembangunan manusia di NTB.
Grafik perkembangan IPM menunjukkan : Tahun 2021 (70,86) tahun 2022 (71,65), tahun 2023 (72,37), tahun 2024 (73,10), tahun 2025 (73,97).

Secara nasional, saat ini IPM NTB berada pada urutan ke 27 dari 38 provinsi di Indonesia. Provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta, meyusul Yogyakarta, kemudian Kepulauan Riau. Sementara dari bawah, IPM tiga provinsi paling rendah adalah Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat.

Wahyudin menambahkan,  capaian IPM 2025 berbeda antar wilayah di NTB. Kota Mataram masih menjadi daerah dengan capaian IPM tertinggi yaitu 82,37, dikategorikan sebagai IPM sangat tinggi. Posisi berikutnya ditempati Kota Bima dengan IPM 79,41, mendekati kategori sangat tinggi. Di sisi lain, Kabupaten Lombok Utara mencatat capaian 69,63, menjadi daerah dengan IPM terendah di NTB pada tahun 2025.(bul)

Jumlah Angkatan Kerja NTB Naik Jadi 3,20 Juta Orang

0
ilustrasi angkatan kerja (foto/Ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi NTB pada Agustus 2025 mengalami dinamika, ditandai bertambahnya jumlah angkatan kerja, meningkatnya pekerja formal, namun di sisi lain angka pengangguran terbuka (TPT) juga ikut naik.

Sebagaimana disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, MM, dalam rilis resmi survei ketenagakerjaan, Rabu, 5 November 2025.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 tercatat 3,20 juta orang, meningkat 12.100 orang dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Kendati demikian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) justru menurun sebesar 1,12 persen poin (p.p.), mengindikasikan adanya pergeseran orientasi penduduk usia kerja dalam memasuki pasar tenaga kerja.

Wahyudin menjelaskan, penduduk NTB yang bekerja pada Agustus 2025 mencapai 3,11 juta orang, bertambah 1.180 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah mencatat peningkatan terbesar terjadi pada lapangan usaha Pendidikan, yang menyerap tambahan tenaga kerja hingga 20.140 orang, mencerminkan aktivitas sektor pendidikan yang semakin pulih dan meluas.

Pada Agustus 2025, pekerja formal tercatat sebanyak 980,95 ribu orang, atau 31,58 persen dari total penduduk bekerja. Proporsi pekerja formal tersebut meningkat 2,09 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja berkualitas dalam struktur ketenagakerjaan NTB terus mengalami penguatan, meski didorong oleh sektor yang berbeda-beda.

BPS juga mencatat penurunan pada persentase setengah pengangguran sebesar 1,29 persen poin, menunjukkan peningkatan kualitas penyerapan tenaga kerja.
Namun, persentase pekerja paruh waktu meningkat 1,32 persen poin, mencerminkan fleksibilitas pasar tenaga kerja, serta kemungkinan adanya penyesuaian jam kerja di sejumlah sektor ekonomi.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB pada Agustus 2025 tercatat 3,06 persen, naik 0,33 persen poin dibandingkan Agustus 2024.
BPS menilai peningkatan ini masih dalam rentang terkelola dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang tengah bergerak, termasuk masuknya angkatan kerja baru yang belum sepenuhnya terserap.

“Pergerakan ini menunjukkan pasar tenaga kerja di NTB tetap dinamis. Peningkatan pekerja formal serta turunnya setengah pengangguran adalah tren positif, namun tantangan penciptaan lapangan kerja baru tetap harus menjadi perhatian bersama,” ujar Wahyudin.

BPS NTB merekomendasikan upaya penguatan sektor-sektor produktif, terutama yang menyerap tenaga kerja tinggi seperti industri, pertanian, perdagangan, dan jasa pendidikan. Keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan keterampilan tenaga kerja juga dinilai penting agar lebih kompetitif menghadapi perubahan struktur ekonomi ke depan.(bul)

Muswil Dekopinwil NTB Siap Digelar, Gubernur Minta Kepengurusan Kompeten

0
Muswil Dekopinwil NTB Siap Digelar, Gubernur Minta Kepengurusan Kompeten

Mataram (ekbisntb.com)- Bertempat di ruang kerjanya, Selasa (4/11) Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr.H. Lalu Muhammad Iqbal menerima audiensi jajaran Pengurus Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) NTB yang melaporkan rencana penyelenggaraan Musyawarah Wilayah (Muswil) dalam waktu dekat ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir satu jam tersebut, selain agenda Muswil juga dibahas berbagai hal terkait kondisi dan perkembangan koperasi di NTB dewasa ini

Seusai pertemuan, kepada media Ketua Dekopinwil NTB Bambang Parmadi menyampaikan bahwa Gubernur sangat menyambut baik dan siap memberikan dukungan guna suksesnya agenda suksesi kepengurusan Dekopinwil tersebut.

 “Pak Gubernur menyambut baik pelaksanaan Muswil Dekopinwil dan berharap kegiatan ini dapat berjalan sesuai aturan, dan melahirkan kepengurusan baru yang benar-benar mampu bekerja untuk mengembangkan koperasi di daerah NTB,” ujar Bambang.

“Kami juga ingin memastikan pelaksanaan Muswil berjalan lancar dan menjadi momentum untuk mempererat sinergi program antara Dekopinwil dengan pemerintah daerah,” tambahnya.

Lebih lanjut Bambang juga menjelaskan pesan gubernur yang menekankan pentingnya fungsi Dekopin sebagai mitra pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan koperasi, terlebih menilik kebijakan pemerintah pusat yang semakin memberi ruang pada koperasi untuk banyak berperan dalam perekonomian nasional.

Seperti dalam konteks pendirian Koperasi Desa / Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Gubernur Iqbal berharap paling tidak ada dua hal yang perlu menjadi perhatian Dekopin. Pertama mengawal implementasi nilai dan prinsip – prinsip gerakan koperasi dan juga proses operasional bisnisnya, sehingga KDKMP tidak mengulang kesalahan – kesalahan di masa lalu terkait usaha koperasi yang menjadi mitra dalam pelaksanaan program- program pemerintah.

Yang kedua memastikan bahwa keberadaan KDKMP tidak menjadi pesaing bagi berbagai koperasi yang sudah ada di tengah masyarakat, tetapi justru harus bisa menjadi mitra sinergis yang saling menguatkan.

“Untuk itu kepengurusan Dekopinwil ke depan mesti diisi orang – orang yang kompeten dan punya komitmen tinggi untuk mengembangkan koperasi,” pungkasnya.(r)

Transaksi Pasar Modal NTB Melejit 150%, Tembus Rp1,3 Triliun Per Bulan

0
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana

Lombok (ekbisntb.com) – Aktivitas transaksi pasar modal masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak signifikan. Dalam beberapa bulan terakhir, transaksi pasar modal di NTB tercatat meningkat hingga Rp1,3 triliun, jauh di atas rerata bulanan sebelumnya yang berkisar Rp500–600 miliar.

Kenaikan drastis ini diungkapkan oleh Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, di Mataram, pada Selasa, 4 November 2025.

Analisis Kenaikan: Kesadaran dan Tren Makro

Menurut Ngurah, lonjakan ini mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat NTB terhadap investasi, didukung oleh edukasi berkelanjutan dari BEI. “Kolaborasi antara minat masyarakat yang makin tinggi dan edukasi berkelanjutan dari BEI menjadi kombinasi yang saling mendukung,” katanya.

Selain saham, instrumen investasi lain yang diminati di NTB antara lain reksadana dan Surat Berharga Negara (SBN).

Penyebab I: Respon Positif IHSG

Ngurah menyebut, kenaikan minat masyarakat turut dipicu oleh faktor makroekonomi, salah satunya adalah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG dalam beberapa bulan terakhir bergerak positif dan sempat menyentuh rekor tertinggi (all time high) di level 8.200.

“Pasar modal merupakan leading indicator yang paling cepat merespons informasi atau kebijakan. Ketika IHSG naik ke 8.200, transaksi pasar juga langsung meningkat, termasuk kapitalisasi pasar,” jelasnya.

Penyebab II: Pengalihan Dana dari Perbankan

Faktor pendorong utama lainnya adalah adanya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang kemudian berdampak pada penurunan suku bunga perbankan.

Kondisi ini membuat masyarakat cenderung mengalihkan dana dari tabungan atau deposito ke produk pasar modal, terutama reksadana, karena dinilai lebih potensial memberikan keuntungan. Investor memilih reksadana pasar uang karena dikelola oleh fund manager yang mampu menempatkan dana pada instrumen yang lebih optimal.

Prospek dan Edukasi Berkelanjutan

Dengan tren kenaikan transaksi yang kini mencapai rata-rata Rp1,3 triliun per bulan, Ngurah optimistis prospek pasar modal NTB akan semakin cerah.

BEI NTB berkomitmen untuk terus menggencarkan literasi dan edukasi ke seluruh golongan masyarakat, termasuk generasi muda. “Kami terus dorong literasi dan edukasi agar masyarakat memahami risiko dan manfaat berinvestasi di pasar modal,” tutupnya, menekankan pentingnya investasi yang sehat dan legal.

Investor Pasar Modal NTB Tembus 192 Ribu, Kaum Muda Dominasi Transaksi Triliunan

0
Investor Pasar Modal NTB Tembus 192 Ribu, Kaum Muda Dominasi Transaksi Triliunan
Investor Pasar Modal NTB Tembus 192 Ribu, Kaum Muda Dominasi Transaksi Triliunan

Lombok (ekbisntb.com) – Minat masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap investasi pasar modal menunjukkan peningkatan signifikan. Per September 2025, jumlah investor pasar modal di NTB tercatat mencapai 192.439 Single Investor Identification (SID), di mana investor saham sendiri berjumlah 74.841 SID. Total aktivitas transaksi di pasar modal NTB, meliputi saham dan non-saham, mencapai angka fantastis Rp1,328 triliun pada bulan yang sama.

Fokus Utama: Dominasi Investor Muda

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, menyoroti dominasi kelompok usia muda dalam kancah investasi saham.

Dari total 74.841 investor saham, kelompok usia produktif menjadi yang terbesar:

  • Usia 18–25 tahun: 28.580 investor
  • Usia 26–30 tahun: 18.901 investor

“Grup usia produktif ini dinilai semakin sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi sejak dini,” ujar Gusti Bagus.

Sementara itu, kelompok usia 31–40 tahun berjumlah 17.009 SID, dan usia 41 tahun ke atas tercatat sebanyak 9.447 SID.

Sebaran Profesi dan Gender

Jika dilihat dari sisi profesi, pegawai swasta menjadi kelompok terbanyak dengan 21.904 investor, disusul oleh pelajar sebanyak 19.722 SID, dan pengusaha 13.006 SID.

Investor lainnya juga datang dari berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga, Aparatur Sipil Negara (ASN), pensiunan, TNI/Polri, hingga guru. Dalam hal gender, partisipasi perempuan menunjukkan peningkatan, di mana 49.836 investor adalah laki-laki dan 24.209 investor adalah perempuan.

Ekosistem dan Dukungan Akses Investasi

Untuk mendukung pertumbuhan ini, BEI NTB gencar memperluas ekosistem pasar modal. Saat ini, sudah ada 7 perusahaan sekuritas yang beroperasi di NTB.

Selain itu, akses edukasi semakin masif dengan hadirnya 35 Galeri Investasi (GI) di seluruh NTB, terdiri dari 14 GI kampus, 20 GI edukasi, dan 1 GI non-kampus. Upaya ini bertujuan memudahkan masyarakat dalam mengenal dan mulai berinvestasi.

Optimisme Pertumbuhan dan Program Edukasi

Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menegaskan bahwa peningkatan jumlah investor dan transaksi adalah indikasi positif kesadaran masyarakat dalam berinvestasi, serta menandai terbentuknya ekosistem pasar modal yang semakin sehat di NTB.

“Dengan makin luasnya akses edukasi dan bertambahnya fasilitas pendukung, kami optimistis pertumbuhan investor pasar modal di NTB akan terus meningkat,” pungkasnya.

Untuk meningkatkan literasi dan inklusi, BEI NTB juga aktif menjalankan sejumlah program edukasi yang menyasar kelompok strategis, seperti Guruku Investor Saham (menyasar guru se-NTB), Program Wakaf Saham (mendukung Kota Mataram sebagai Kota Wakaf), serta Program Pekerja Migran Cerdas Investasi. (fan)

Mancing Gaya Hidup Anak Muda Mataram, Kolam Kura-kura Jadi Spot Hits

0
Aktivitas memancing bersama di kolam pancing Kura-kura
Aktivitas memancing bersama di kolam pancing Kura-kura

Lombok (ekbisntb.com) – Aktivitas memancing kini tak lagi didominasi bapak-bapak. Di Kota Mataram, memancing bertransformasi menjadi gaya hidup baru yang seru dan menyenangkan bagi kaum muda. Tren ini menemukan panggung utamanya di Kura-kura Family Entertainment, sebuah kawasan wisata terpadu yang kini mendadak hits sebagai spot pemancingan favorit anak muda.

HRD Kura-kura Family Entertainment Mataram, Merry Menoh, membenarkan lonjakan tren ini. Ia menyebut, dominasi kunjungan, terutama pada sore hingga malam hari, didominasi oleh kelompok remaja dan pekerja muda. Tingginya animo ini membuat jam operasional kolam pancing yang baru dibuka tiga bulan tersebut terpaksa diperpanjang.

“Awalnya hanya sampai jam enam sore. Tapi karena anak-anak sekolah dan anak kantor pulangnya lebih malam, dan mereka minta, akhirnya kami buka sampai jam sepuluh malam,” ujar Merry.

Keunggulan Lokasi dan Daya Tarik

Kolam pancing ini menjadi pilihan utama lantaran lokasinya yang dekat dari pusat kota, bersih, dan nyaman, menghilangkan keharusan untuk jauh-jauh ke luar kota.

Daya tarik lainnya terletak pada kemudahan fasilitas. Bagi yang tak membawa peralatan, pengelola menyediakan sewa pancing hanya Rp10.000 sepuasnya dan pakan ikan (pelet) Rp5.000. Jenis ikan yang tersedia pun beragam, mulai dari bawal, lele, karper, nila, hingga patin, dengan restocking ikan yang dilakukan setiap minggu.

Menariknya, hasil tangkapan dapat langsung diolah di area makan. Pengunjung bahkan bisa memilih paket keluarga dengan harga terjangkau, yaitu Rp110.000 untuk makan bersama dari hasil pancingan mereka.

Merry menjelaskan, Kura-kura Family Entertainment mengusung konsep hiburan keluarga yang lengkap. Fasilitas kolam pancing yang baru beroperasi beberapa bulan ini melengkapi fasilitas yang sudah ada, seperti kolam renang, area gym, kereta layang, dan food court.

“Konsepnya family entertainment. Bapak-bapak bisa mancing, ibu-ibu dapat berolahraga di area gym, sementara anak-anak dan remaja bisa menikmati fasilitas lain,” kata Merry.

Respons pasar, terutama dari kalangan muda, terbilang tinggi. Tren mancing di tempat ini semakin viral berkat unggahan anak-anak muda di media sosial. “Kebanyakan anak muda upload kegiatan mancingnya melalui medsos. Dari situ makin ramai,” jelas Merry.

Tren mancing di Kura-kura Family Entertainment berkembang pesat karena dinilai lebih aman, murah, dekat, dan nyaman. Tempat ini kini menjadi destinasi favorit keluarga untuk menghabiskan akhir pekan, di mana setiap anggota dapat menikmati fasilitas berbeda dalam satu lokasi.

Fasilitas lain yang tersedia di area seluas ini meliputi kolam renang, wahana kereta layang (tarif Rp5.000, pelajar Rp2.500), area gym (buka 06.00–22.00), biliar, food court dengan UMKM lokal, hingga rumah pohon untuk bersantai. (fan)

Provinsi NTB, NTT dan Bali Bangun Kerja Sama Regional Kembangkan Kawasan Konservasi Laut Berbasis Wisata Bahari

0
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim.

Denpasar (ekbisntb.com) –

Tiga provinsi di kawasan timur Indonesia, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali, bersepakat memperkuat kerja sama di bidang pengembangan pariwisata bahari dan pengelolaan kawasan konservasi laut. Kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan tiga gubernur yang digelar di Kantor Gubernur Bali, pada Senin (3/11/2025) lalu. 

‎‎Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, H. Muslim mengatakan ketiga provinsi itu memiliki potensi wisata bahari yang saling melengkapi. Karena itu, diperlukan sinergi untuk mengelola kawasan konservasi laut secara terpadu dan berkelanjutan.

‎‎”Yang pertama itu kita melihat kenyataan, jadi tiga wilayah ini adalah sesuatu yang sangat potensial dari sisi destinasi wisata. Wisata kita ini kan ada yang di pegunungan, di alam, ada yang di wilayah perairan, laut,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, (4/11/2025) 

‎‎Muslim menjelaskan, NTB memiliki kawasan konservasi laut yang sebagian besar masuk dalam destinasi wisata. Karena itu, pengelolaan berbasis pariwisata bahari menjadi fokus dalam kerja sama tiga provinsi ini.

‎‎”Karena kita kebetulan punya kawasan konservasi laut dan juga semua hampir masuk destinasi wisata, maka kita dorong untuk membangun jejaring pengelolaan kawasan konservasi berbasis pariwisata bahari,” katanya.

‎‎Menurut Muslim, kerja sama ini penting mengingat ketiga wilayah memiliki kawasan unggulan masing-masing, yakni Labuan Bajo di NTT sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas, Mandalika di NTB, dan Nusa Dua di Bali.

‎‎”Kenapa itu perlu, karena satu sisi NTT sudah punya Labuan Bajo sebagai KSPN super prioritas dan premium, NTB sudah punya Mandalika, dan Bali juga adalah sudah punya Nusa Dua, sama-sama kawasan yang memiliki kelebihan dan strategis,” ungkapnya. 

‎‎Ia menjelaskan, hampir 8 ribu wisatawan yang datang dari Bali dan Labuan Bajo untuk melihat hiu paus yang ada di perairan NTB. Artinya menurut Muslim, pariwisata sektor kelautan NTB telah dilirik oleh wisatawan dari jauh jauh hari. 

‎‎”Wisatawan dari Bali, wisatawan dari Labuan Bajo, cuma banyak datang untuk menikmati hiu paus, dan terbukti sampai sekarang sekitar 7 ribu lebih hampir 8 ribu wisatawan asing itu singgah di sana, artinya itu yang sudah terkelola,” tuturnya. 

‎‎Muslim berharap, sinergi tiga daerah ini dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat pesisir. Tak hanya itu, jika dibuatkan skema pengaturan jadwal kunjungan oleh masing-masing daerah, akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan menambah pendapat daerah dari sektor pariwisata kelautan. 

‎‎”Kalau kita lebih efektifkan lagi dengan sistem schedule yang sudah disepakati bersama, akan jauh lebih memaksimalkan nilai tambah bagi para operator kita berupa masyarakat kita di bawah, termasuk juga oleh pemerintah daerah dari sisi pendapatan,” pungkasnya. (ndi)