Sunday, April 26, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 119

Jumat Bedah Rumah Ala Bupati Najmul, Adaptasi Filosofi Semut yang Membantu Nabi Ibrahim

0
Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar, membangun rumah warga Dusun Gangga melalui program Jubah - non APBD

Lombok (ekbisntb.com) –

Pemda Lombok Utara terus berupaya untuk membantu merekonstruksi perumahan milik warga. Di tengah keterbatasan APBD, Bupati, Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., tak ragu untuk menggalang sumber daya dari berbagai lembaga demi mewujudkan kenyamanan dan keamanan tinggal bagi warganya.

Di hadapan jajaran pimpinan Dompet Dhuafa, Jumat (7/11/2025), Bupati tak ragu mengajak lembaga filantropi Islam dan Kemanusiaan itu untuk bergabung membangun rumah dan tempat ibadah warga Lombok Utara yang rusak pascagempa 2018 silam.

“Kami membuka diri, mudah-mudahan ke depan, Dompet Dhuafa bisa hadir lagi membantu masyarakat,” ujar Najmul saat membuka Konsolidasi Nasional Relawan Dompet Dhuafa, di Desa Medana.

Diakuinya, jumlah rumah korban gempa yang belum terbangun dengan kategori rusak ringan, sedang hingga berat masih cukup banyak, di atas 1000 unit. Angka ini menjadi begitu kompleks karena ternyata Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang menjadi hunian warga kurang mampu juga tidak sedikit.

Ia memperkirakan, fisik perumahan RTLH dan rumah korban gempa yang belum terbangun mencapai di atas 11 ribu unit. Angka ini disadarinya bukanlah angka yang mudah untuk ditangani oleh APBD. Bahkan jika mengandalkan APBD, Pemda membutuhkan waktu setidaknya 20 tahun dengan asumsi intervensi konsisten di atas 500 unit per tahun.

“Melalui program Jubah (Jumat Bedah Rumah), tiap Jumat kami bangun 1, 2 unit tanpa APBD.”

“Kami sadari intervensi Jubah, jauh, tidak sebanding dengan yang dibutuhkan. Tetapi apa yang kami lakukan karena ada filosofi seekor semut yang membantu Nabi Ibrahim,” ungkapnya.

Adaptasi filosofi semut tersebut, kata dia, terdapat seekor semut yang membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Oleh kawanny, semut tersebut ditanya.

“Air yang kau bawa kecil, setetes, sedangkan api yang membakar Nabi Ibrahim, besar. Dijawab oleh semut tadi, saya harus lakukan sesuatu sebagai pertanggungjawaban kepada Allah SWT, bahwa saya sudah berbuat baik dan berbuat yang benar,” papar Bupati.

Filosofi itu pula yang kini tengah dibangun oleh Najmul dan jajarannya. Bahwa, meskipun air – APBD hanya setetes untuk memadamkan api (RTG – RTLH), Pemda setidaknya telah berbuat yang benar untuk membantu warganya.

“Sebelum bantuan datang dari mana-mana, minimal kami bangun walaupun tidak banyak” 

“Kami tetap motivasi masyarakat, dengan optimis bahwa Allah maha kaya. Siapa tahu, sebab silaturahmi Dompet Dhuafa, nantinya ikut membantu (rekonstruksi rumah warga),” ucapnya.

Bupati juga mengaku, di banyak kesempatan dengan jajaran OPD, bahwa kesulitan anggaran daerah tidak untuk ratapi, tetapi disikapi sebagai ruang untuk membuka inovasi.

“Anggaran sedikit namun efektif menyentuh kebutuhan masyarakat, jauh lebih baik,” tandasnya. (ari)

Fakta dan Nyata di Lombok Utara, Kurma Dikawinkan dengan Salak Hasilkan Buah Luar Biasa

0
Pelopor Kurma KLU, Arif Munandar alias Uaq Dolah, menunjuk pohon Kurma kawin Salak kepada Tim Ahli BRIN dan Pakar UI, Unibraw. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) –

KURMA dikawinkan dengan kurma adalah hal yang biasa. Tetapi, jika kurma dikawinkan dengan Salak, pasti luar biasa. Uji coba inilah yang sudah dilakukan oleh Ukhuwah Datu Nusantara Kabupaten Lombok Utara. Dan, terbukti berhasil. Bagaimana ceritanya?

Ukhuwah Datu Nusantara seolah tak puas dengan keberhasilan membudidayakan kurma yang belakangan dinamai varietas Kurma Kumari Kabupaten Lombok Utara. Nama varietas yang kemudian tercatat dalam Buku Khalifa International Dates Palm and Agriculture Innovation (KIDPAI) yang tersebar dan dibaca di puluhan negara penghasil Kurma.

Keberhasilan itu tercatat dalam edisi pertama. Tak berhenti di situ, Ukhuwah Datu menargetkan masuk Buku edisi keduan dengan keberhasilan inovasi kawin Kurma dengan Salak.

Berawal dari pemikiran ambisius Uaq Dolah – sebutan Arif Munandar, praktisi sekaligus Pelopor Kurma Ukhuwah Datu Nusantara Lombok Utara. Bahwa, Kurma Kumari yang berhasil dibudidayakan dan berbuah sepanjang tahun, hanya identik di Lombok Utara dengan karakteristik iklim, tanah dan air yang spesifik. Namun Kurma ini diragukan bisa dibudidayakan di daerah lain di Indonesia dengan kualitas buah yang menyamai Lombok Utara.

“Kurma adalah tanaman gurun, hampir sama dengan anggur. Membutuhkan kelembaban, tetapi di daerah dengan curah hujan tinggi kurma kurang suka. Sehingga di Indonesia ini, Kurma cocoknya di NTB dan NTT. Cuma, kami ingin daerah lain juga bisa mengembangkan dan menikmati kurma dengan kualitas rasa manis. Sehingga muncullah inovasi kurma kawin Salak,” ungkap Dolah, Jumat (7/11/2025).

Ia menerangkan, uji coba Kurma Kawin Salak ini dimulai 3 tahun lalu. Berawal dari proposal inovasi yang dikirim ke Khalifah Kurma Internasional tahun 2019. Proposal tersebut disetujui dengan respons berupa dukungan Ilmu Pengetahuan dan panduan budidaya.

Sebanyak 3 batang kurma betina yang dipelihara intensif, diintervensi atau dikawinkan ketika sudah muncul manggar (bakal bunga). Pada usia induk 4 tahun tanam atau saat manggar pecah, Ukhuwah sudah bisa memulai proses polinasi Kurma dan Salak.

“Kurma kawin Salak ini mengutamakan induk dari kurma dan serbuk pejantan dari Salak. Uji coba pada 3 pohon, semuanya berhasil,” ujarnya.

Secara teori kata dia, Kurma Salak yang sudah dikawinkan akan menghasilkan Kultur Jaringan Kurma yang memiliki sifat Salak. Dimana, pohonnya dapat tumbuh dan berkembang di berbagai kondisi iklim suatu daerah mengikuti sifat salak, namun menghasilkan rasa buah yang mengikuti Kurma. “Bentuk aroma dan rasa ikut emak, tapi sifat ikut bapak. Tahan curah hujan dan kelembaban tinggi.”

Uji coba Kurma Kawin Salak yang dilakukan Ukhuwah Datu ini, kata Dolah, ibarat kawin tanpa saksi. Dimana, hasil buah pada pembuahan sebelumnya tidak dicatat oleh lembaga resmi. Sehingga baginya, uji coba awal yang meskipun berhasil, belum dapat diakui ataupun meyakinkan bagi publik.

Oleh karenanya, pada uji coba kedua, Ukhuwah Datu melibatkan berbagai lembaga pendukung, meliputi BRIN, BRIDA NTB, serta dukungan sejumlah Peneliti dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. Tahap ini sudah memasuki metode pencatatan Ilmiah dimana BRIN dan peneliti merekam perkembangan secara berkala dari proses kawin hingga buahnya siap untuk dipanen.

“Kurma kawin Salak ini pertamakali di dunia, dan itu baru kita di Lombok Utara yang menggagas. Cuma, temuan ini belum bisa dinamai. Untuk mendapat pengakuan, inovasi ini harus disetujui oleh dewan pakar Khalifa Internasional (KIDPAI),” terangnya.

Ukhuwah Datu Nusantara sambung dia, hingga kini belum memberikan nama atas inovasi dan temuan ini. Ke depan, nama temuan akan dimunculkan seiring pengajian ke KIDPAI.

Ukhuwah Datu juga melihat tahapan penelitian ini masih membutuhkan waktu. Sebab, keberhasilan uji coba ini tidak berhenti pada pembuahan hasil kawin, namun biji buah hasil kawin masih harus diuji coba untuk ditanam hingga berbuah. Begitu pula dengan areal tanam. Ukhuwah Datu masih harus melakukan uji coba untuk membedakan karakteristik tanaman hasil kawin pada areal dataran rendah dan dataran tinggi.

Metode pengembangbiakan biji hasil kawin ini akan dikembangkan dengan dua metode. Yakni konvensional dari biji, serta melalui metode kultur jaringan dengan mengembanbiakkan umbut pada laboratorium.

Sebagai tanaman yang identik, mengapa Ukhuwah Datu tidak mencoba proses kawin Kurma pada Aren? Menjawab itu, Dolah mengakui pihaknya juga sempat berpikir untuk mengawinkan Kurma dengan Aren (Jemaka). Namun setelah dipelajari, identifikasi pada tanaman Jemaka belum cocok untuk dikawinkan dengan Kurma.

“Dari awal iya (berpikir untuk mengawinkan), tetapi, serbuk jemaka memiliki bulir ovum kecil, bukaan rahim sempit untuk dikawinkan dengan Kurma,” ujarnya.

“Saat ini, uji coba kawin Kurma Salak kita anggap berhasil. Karena dari inovasi yang sudah kita lakukan, sudah ada 2 tandan buah. Kalau untuk proses Paten, butuh waktu paling tidak 5 tahun,” tandasnya. (ari)

Kapolri Dijadwalkan Akan Panen Raya Emas di Sumbawa

0
Kapolri Dijadwalkan Akan Panen Raya Emas di Sumbawa
Kapolri Dijadwalkan Akan Panen Raya Emas di Sumbawa

Lombok (ekbisntb.com) – Langkah Kapolda NTB Irjen Pol Hadi Gunawan untuk menyejahterakan masyarakat Provinsi NTB melalui izin pertambangan rakyat (IPR) yang dikelola koperasi, nampaknya mulai menampakan hasilnya.
Direncanakan, tanggal 17 November 2025 ini, Kapolda Hadi Gunawan bakal menggelar panen raya emas di Sumbawa.


Menariknya, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono dan Kepala Badan Pengendalian Kemiskinan (BP-Taskin) Budiman Sujatmiko akan hadir langsung dalam panen perdana milik IPR Koperasi Selonong Bukit Lestari Lantung di kantor Bupati Sumbawa tersebut.


“Insya Allah, jika tidak ada aral melintang Pak Kapolri, Pak Menkop Ferry Juliantono dan Kepala BP-Taksin Mas Budiman akan hadir langsung melakukan panen raya emas di Kabupaten Sumbawa,” ujar Kapolda Hadi Gunawan, Jumat 7 November 2025.


Menurut Hadi, kesiapan acara panen raya ini, telah disampaikannya secara langsung ke Kapolri hingga Menkop Ferry Juliantono. Serta, Kepala BP-Taskin Budiman Sujatmiko.


Apalagi, ada sekitar 2.268 anggota Koperasi Selonong Bukit Lestari Lantung yang akan menikmati hasil panen mereka.


“Jadi, di acara panen raya emas ini, para anggota koperasi akan memperoleh pembagian SHU sebesar Rp 2,8 juta per orangnya. Laba hasil koperasi ini, akan diserahkan secara langsung oleh Pak Menkop dan Kepala BP-Taskin yang disaksikan Kapolri secara langsung,” katanya.


Hadi menegaskan bahwa sedari awal gagasanya untuk melegalkan tambang rakyat melalui IPR, tidak lain untuk menghadirkan praktik pertambangan yang legal, bersih, dan berpihak kepada masyarakat lokal.


Di mana, kehadiran koperasi bukan lagi hanya sekadar badan usaha. Namun harus juga menjadi sebuah gerakan sosial yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, dan kekeluargaan,


“Jadi, IPR ini menjadi harapan baru masyarakat NTB untuk mengurangi angka kemiskinan. Dan pilihan ke koperasi sebagai penyokong kelembagaan karena saya ingin, nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa Indonesia yang diajarkan pendiri bangsa, terkover didalamnya,” tegas Kapolda.


Lebih lanjut dikatakanya, konsep IPR yang akan melakukan panen raya kali ini, bukan lagi sebuah wacana-wacana tanpa makna.

Namun koperasi yang terbukti mampu menjadi penyangga ekonomi nasional, khususnya di tengah tantangan global saat ini, tentunya terbukti dengan adanya panen raya emas di Sumbawa.


“Saya berkeinginan koperasi tambang rakyat melalui IPR ini dapat menyejahterakan masyarakat dengan cepat. Dan, Alhamdulillah, dari koperasi Lantung, kesejahteraan itu akan menyebar ke semua wilayah di NTB kedepannya,” jelas Kapolda.


“Dan, kami mendengar informasi di lapanga bahwa telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin di wilayah tersebut,” sambungnya.


Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat bahwa hingga Maret 2025, angka kemiskinan di NTB tercatat sebanyak 654.570 orang, tersebar di 10 kabupaten/kota.


Angka ini menunjukkan penurunan 0,13 persen poin dibandingkan September 2024, dan penurunan signifikan sebesar 1,13 persen poin dibandingkan Maret 2024.


Karenanya, melihat hal itu, maka ide pendirian koperasi tambang menjadi salah satu solusi mengatasi kemiskinan NTB.


“Tentu, dengan pengelolaan tambang rakyat yang legal dan baik melalui koperasi, menjadi kunci dalam mengatasi kemiskinan di NTB,” tandasnya.(bul)

KemenUMKM dan e-commerce Tertibkan Pakaian Impor Bekas secara Selektif

0
KemenUMKM dan e-commerce Tertibkan Pakaian Impor Bekas secara Selektif
KemenUMKM dan e-commerce Tertibkan Pakaian Impor Bekas secara Selektif

Jakarta (ekbisntb.com) – Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bersama sejumlah platform e-commerce sepakat melakukan penertiban terhadap penjualan pakaian impor bekas secara humanis dan selektif.

Deputi Bidang Mikro KemenUMKM Temmy Satya Permana mengatakan penertiban ini dilakukan tidak berdasarkan keyword atau kata kunci, agar tidak berdampak terhadap pelaku usaha lokal yang menjual barang bekas dalam negeri.

“Kami tadi diskusi sepakat bahwa memang kita tidak membabi buta melakukan takedown. Ya sepakat itu ya, karena yang dilarang adalah pakaian bekas impor. Kalau thrifting itu tidak dilarang, selama yang dijual adalah preloved barang-barang lokal dan memang barang-barang kita,” ujar Temmy dalam jumpa pers di Kantor Kementerian UMKM Jakarta, Jumat.

Langkah ini merupakan salah satu strategi dari Kementerian UMKM untuk menertibkan praktik penjualan pakaian impor ilegal yang selama ini masih marak dijual secara daring.

Menurut dia, praktik tersebut tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga merugikan industri pakaian lokal.

Temmy menyampaikan platform e-commerce harus mematuhi regulasi yang ada, dalam hal ini Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2023, terkait dengan perizinan berusaha, periklanan, pembinaan dan pengawasan pelaku usaha dalam perdagangan melalui sistem elektronik.

Kementerian UMKM meminta agar platform dapat menertibkan pedagang-pedagang yang masih berjualan barang-barang yang tidak diperbolehkan, salah satunya pakaian bekas asal impor.

“Dalam hal ini adalah pakaian impor bekas karena dalam operasionalnya, teman-teman platform terikat dengan regulasi yang ada di Permendag 31, dan juga antara seller dengan platform ada perjanjian yang memang mengikat bahwa ada barang-barang yang tidak diperbolehkan undang-undang,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputy of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira mengatakan pihaknya telah menurunkan ratusan ribu produk yang diindikasi sebagai pakaian bekas asal impor sejak 2023.

Namun, pihaknya melakukan penurunan produk dengan pendekatan humanis. Menurut dia, banyak pedagang nakal yang menggunakan deskripsi manipulatif sehingga harus dilakukan pengecekan secara satu per satu.

“Jadi memang agak-agak humanis, kita turunkan satu-satu, judgement-nya juga judgement manusia, karena kita nggak mau pakai mesin langsung blokir secara keyword, takutnya di situ ada UMKM kecil yang memang kita turunkan,” jelasnya. (ant)

OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah untuk Pemerataan Ekonomi

0
OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah untuk Pemerataan Ekonomi
OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah untuk Pemerataan Ekonomi

Jakarta (ekbisntb.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tegaskan komitmen memperkuat ekosistem keuangan syariah untuk pemerataan ekonomi melalui gelaran Expo Keuangan dan Seminar Syariah (EKSiS) 2025 bersama pelaku industri jasa keuangan syariah, asosiasi dan kementerian/lembaga terkait.

“Keuangan syariah memberikan banyak manfaat. Pertama tentu pemerataan ekonomi,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Jumat.

Selain itu, ia mengatakan adanya instrumen keuangan seperti zakat, kemudian infak sedekah bisa menjadikan distribusi kekayaan berjalan lebih adil dan memperkecil kesenjangan.

“Kemudian, stabilitas ekonomi tentu saja dan juga inklusivitas. Ini yang terus kita dorong, inklusivitas,” ujar dia.

Menurut dia, industri keuangan syariah Indonesia terus mencatat pertumbuhan yang positif, dengan total aset mencapai Rp3.050 triliun, meningkat 11,3 persen (yoy) yang terdiri atas aset perbankan syariah sebesar Rp975,9 triliun, pasar modal syariah Rp1.896,2 triliun, dan industri keuangan nonbank syariah Rp178,7 triliun.

Lebih lanjut, Friderica mengatakan ada empat tantangan utama pengembangan keuangan syariah yang disebut sebagai 4P, yaitu pengembangan dan inovasi produk, penetrasi pasar, pemerataan akses, dan pemahaman masyarakat.

“Kita perlu terus mendorong inovasi produk, memperluas jangkauan layanan, serta memperkuat edukasi agar masyarakat semakin paham dan percaya pada produk keuangan syariah,” kata Friderica.

Melalui kegiatan tersebut, OJK mendorong agar keuangan syariah semakin dekat dengan masyarakat dan menjadi motor penggerak ekonomi umat, khususnya pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), lanjutnya.

Ia mengatakan kegiatan EKSiS di Jakarta menjadi puncak dari rangkaian ekspo keuangan syariah sepanjang tahun 2025 yang sebelumnya telah digelar di empat kota, yakni Tangerang, Palembang, Bandung, dan Mataram.

EKSiS 2025 menghadirkan sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam memperluas akses layanan keuangan berbasis prinsip syariah secara berkelanjutan. (ant)

Harga Emas Antam Alami Kenaikan Rp2,296 Juta Per gram

0
Harga Emas Antam Alami Kenaikan Rp2,296 Juta Per gram
Harga Emas Antam Alami Kenaikan Rp2,296 Juta Per gram

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia di Jakarta, Jumat, mengalami kenaikan dua hari beruntun, kini naik Rp9.000 menjadi Rp2.296.000 dari awalnya Rp2.287.000 per gram.

‎Untuk harga jual kembali (buyback) turut naik ke angka Rp2.161.000 dari awalnya Rp2.152.000 per gram, serta dijual mulai dari gramasi 0,5 gram hingga 1 kilogram (1.000 gram).

‎Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017.

‎Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.

‎PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback. Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di laman Logam Mulia Antam pada Jumat:

‎- Harga emas 0,5 gram: Rp1.198.000.

‎- ⁠Harga emas 1 gram: Rp2.296.000.

‎- ⁠Harga emas 2 gram: Rp4.532.000.

‎- ⁠Harga emas 3 gram: Rp6.773.000.

‎- ⁠Harga emas 5 gram: Rp11.255.000.

‎- ⁠Harga emas 10 gram: Rp22.455.000.

‎- Harga emas 25 gram: Rp56.012.000.

‎- ⁠Harga emas 50 gram: Rp111.945.000.

‎- ⁠Harga emas 100 gram: Rp223.812.000.

‎- ⁠Harga emas 250 gram: Rp559.265.000.

‎- ⁠Harga emas 500 gram: Rp1.118.320.000.

‎- ⁠Harga emas 1.000 gram: Rp2.236.600.000.

‎Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

‎Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22. (ant)

Bendung Meninting Dongkrak Ketahanan Air dan Pangan hingga Energi di Pulau Lombok

0
Lalu. Asgar dan Bendungan Meninting yang sudah terisi hampir penuh

Lombok Barat (ekbisntb.com)- Pembangunan Bendungan Meninting yang berada di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, dan Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, telah selesai dilakukan dan sudah dimanfaatkan
Meski belum diresmikan, bendungan ini telah terisi penuh dan menjadi instrumen vital penguatan ketahanan air, ketahanan pangan dan ketahanan energi di Pulau Lombok.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendung Meninting, Lalu Asgar ST. MT., menegaskan bahwa fungsi strategis bendungan mencakup pemenuhan air baku, peningkatan produksi pertanian melalui layanan irigasi, mitigasi banjir, hingga pengembangan energi bersih.
Menurut Lalu Asgar, Bendungan Meninting dapat menyediakan suplai air baku sebesar 150 liter/detik untuk kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan air baku kini memasuki masa penyiapan skema operasional, termasuk pembangunan instalasi pengolahan air (WTP). Akses pengambilan air sudah terbuka, menunggu finalisasi pengelolaan teknis bersama instansi terkait.
“Air baku ini juga bisa dimanfaatkan oleh PDAM untuk didistribusikan ke masyarakat,” ujarnya.
Selain pemenuhan kebutuhan saat ini, kata Lalu. Asgar, desain bendungan memastikan proyeksi kebutuhan air domestik hingga tahun 2030 dapat terpenuhi melalui sistem pemanfaatan terpadu.
Bendungan Meninting juga memberikan kemampuan pengendalian banjir secara signifikan. Potensi luasan terdampak banjir diproyeksi dapat berkurang sekitar 59 hektare atau 37,11 persen, terutama di Kabupaten Lombok Barat dan sejumlah kecamatan sekitarnya.
“Sebelum di bangun bendungan ini, potensi banjir di bagian hilir Sungai meninting kabupaten Lombok Barat ini cukup besar. Karena aliran air dari gunung hulu Sungai meninting ini mengalir deras saat terjadi hujan lebat. Setelah adanya bendungan ini, air itu menjadi tertahan dan dapat dikendalikan,” katanya.
Lalu Asgar tambah menyampaikan, Bendungan Meninting ini juga memberikan layanan irigasi luas melalui jaringan primer dan sekunder, membantu peningkatan indeks pertanaman (IP) petani.
Total layanan irigasi mencapai 1.559 ha.yang berada di hilir bendungan seluas 494 ha. dan akan mensubstitusi air irigasi Bendung sesaot yang luas layanannya 1.065ha. Sementara air bendung sesaot di alirkan ke saluran HLD -Jangkok – Babak yang mengairi areal seluas 99.680 Ha lahan pertanian bagian Selatan wilayah pulau Lombok .
“Peningkatan IP rata-rata mencapai 166–300 persen, bergantung karakter wilayah. Dengan keandalan suplai air ini, bendungan menjadi tulang punggung ketahanan pangan di wilayah Lombok Barat,” tambahnya.
Yang tak kalah penting adalah, Bendungan Meninting menunjang agenda transisi energi bersih. Fasilitas bendungan dirancang untuk mendukung dua sumber pembangkit Listrik tenaga surya apung sebesar 9,23 Megawatt dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro sebesar 0,8 megawatt.
“Bendungan Meninting tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan dan ketahanan air, tetapi juga mendorong ketahanan energi melalui pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTMH dan PLTS apung yang dapat dikembangkan bersama sektor terkait. Investor yang bergerak dibidang energi kelistrikan bisa memanfaatkan potensi ini juga,” jelas Lalu Asgar.
Peluang investasi akan dikembangkan melalui koordinasi Kementerian PUPR dan Kementerian ESDM. Saat ini, sejumlah model pemanfaatan pembangkit berbasis bendungan telah diadopsi di wilayah lain seperti Bendungan Pandanduri di kabupaten Lombok Timur.
Lalu Asgar menegaskan, Bendungan Meninting menjadi bagian dari pencapaian Asta Cita Presiden Prabowo–Gibran, khususnya dalam penguatan sektor ketahanan air, ketahanan Pangan, dan ketahanan energi menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Bendungan Meninting memastikan pasokan air baku untuk masyarakat, meningkatkan produksi pertanian lewat irigasi modern, mengurangi risiko banjir, hingga menyediakan fasilitas energi terbarukan. Ini langkah nyata mendorong kesejahteraan masyarakat Lombok Barat,” tegasnya.(bul)

Satpol PP NTB Menyoroti Pengawasan Aktivitas di Kos-kosan

0
Kasat Pol PP NTB, Dr. H. Fathul Gani

Mataram (ekbisntb.com)- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi NTB menyoroti meningkatnya aktivitas di rumah kos yang dinilai berpotensi menimbulkan pelanggaran norma di masyarakat. Kepala Satpol PP NTB, Dr. H. Fathul Gani, M.Si, menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap aktivitas penghuni kos karena keberadaannya semakin menjamur dan cenderung minim pengawasan, khususnya di wilayah Kota Mataram.
Menurutnya, pertumbuhan pesat kos-kosan, terutama di Mataram tidak diimbangi dengan sistem pengawasan memadai dari para pemilik. Kondisi ini dikhawatirkan membuka peluang terjadinya aktivitas negatif seperti praktik prostitusi, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas atau kumpul kebo.
Ia menyebut, sejumlah laporan dari masyarakat menunjukkan adanya indikasi pelonggaran pengawasan terhadap penghuni kos, terutama di wilayah padat penduduk yang jumlah rumah kosnya meningkat pesat.
“Jadi, pemilik kos dihimbau untuk melakukan pengawasan terhadap penghuni-penghuninya. Jangan biarkan kebebasan tanpa kontrol dalam menjalankan usaha kos-kosan,” tegas Kwarda Pramuka NTB ini.
Ia menambahkan, pengelolaan kos tidak boleh sebebas-bebasnya karena menyangkut ketertiban umum, adat istiadat, serta budaya ketimuran yang dijunjung tinggi masyarakat NTB.
Ia menilai persoalan ini bukan hanya soal penegakan aturan, tetapi juga menyangkut moral dan masa depan generasi muda. Di beberapa lokasi, muncul indikasi terjadinya aktivitas menyimpang di rumah kos akibat lemahnya kontrol dari pemilik. Padahal, menurutnya, rumah kos harus dapat memberikan suasana aman dan teratur sesuai norma agama dan sosial yang berlaku.
Satpol PP NTB mendorong agar pemilik rumah kos tidak sekadar menjalankan usahanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab menjaga lingkungan sekitar. Pengawasan internal menjadi bagian penting sehingga aktivitas penghuni sejalan dengan aturan kepatutan dan ketertiban.
“Usaha kos-kosan harus berjalan sesuai norma-norma kepatutan,” ucapnya.
Di samping pemilik kos, peran masyarakat sekitar juga sangat penting. Fathul Gani menegaskan bahwa warga sekitar harus ikut mengawasi lingkungan kanan-kirinya. Jika ditemukan aktivitas yang mencurigakan, masyarakat perlu melapor pada pihak berwenang. Ia menuturkan, pengawasan kolektif akan membantu mencegah tempat kos menjadi sarang perbuatan terlarang yang meresahkan.
Dikatakan, keberadaan kos-kosan yang tidak mematuhi nilai agama dan kepatutan membuat masyarakat merasa risih. Karena itu, selain pendekatan penindakan, perlu dilakukan pembinaan dan komunikasi berkelanjutan antara pemilik kos, penghuni, dan aparat setempat. Dengan demikian, potensi pelanggaran dapat diminimalisasi sejak dini.
Pihaknya juga menilai bahwa pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperkuat regulasi agar pengelolaan kos-kosan lebih tertata. Hal ini penting untuk memastikan tata kelola tempat tinggal sementara tersebut tidak bertentangan dengan norma di masyarakat serta tetap memberikan rasa aman bagi warga.
Melalui upaya pengawasan terpadu, Satpol PP NTB berharap usaha kos-kosan dapat tumbuh tanpa mengorbankan keamanan, kenyamanan, serta identitas budaya lokal.
“Kami juga harus menjaga agar ruang sosial kita tetap sehat dan sesuai norma budaya kita,” tandasnya.(bul)

Kasat Pol PP NTB Dukung Langkah BNNP Tekan Peredaran Narkoba

0
Kasat Pol PP NTB Dukung Langkah BNNP Tekan Peredaran Narkoba

Mataram (ekbisntb.com)– Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Fathul Gani, M.Si menyatakan dukungannya terhadap langkah Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTB dalam upaya menekan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di wilayah NTB. Hal ini disampaikan dalam kunjungan sejumlah pejabat BNNP NTB ke Kantor Satpol PP NTB pada Rabu (5/11).

Kabid Pencegahan BNNP NTB, Nur Rachmat, mengungkapkan bahwa BNNP NTB memiliki hak untuk melakukan tes narkoba terhadap seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi NTB, termasuk anggota DPRD NTB. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan ASN dan pejabat publik di NTB bersih dari penyalahgunaan narkoba.

Menanggapi hal tersebut, Kasat Pol PP NTB Dr. Fathul Gani menyambut baik langkah BNNP NTB dan menegaskan akan mengambil langkah-langkah strategis dalam mendukung pencegahan penyalahgunaan barang terlarang, khususnya di kalangan ASN dan masyarakat, terutama generasi muda NTB.

Ia juga menekankan pentingnya peran semua pihak dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, diharapkan lingkungan sosial dapat terbebas dari pengaruh barang haram tersebut.

“Kita memiliki tujuan dan tanggung jawab yang sama dalam melindungi generasi muda sebagai tulang punggung pembangunan bangsa dan negara. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan bebas dari narkoba,” ujar Fathul Gani.(bul)

Hadiri Kegiatan Konteks di Unizar, Wagub Tegaskan NTB Jadi Ruang Eksperimen Pembangunan Nasional

0
Wagub NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri saat membuka Konferensi Nasional Teknik Sipil (Konteks) Ke -19 di Gedung Teater Ahmad Firdaus Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram pada Kamis (6/11/2025).

Mataram (ekbisntb.com) –

Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri menyebut Provinsi NTB menjadi ruang eksperimen pembangunan nasional. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Konferensi Nasional Teknik Sipil (Konteks) Ke -19 di Gedung Teater Ahmad Firdaus Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram pada Kamis (6/11/2025).

“Ruang eksperimen pembangunan mulai dari infrastruktur jalan dan jembatan, sistem pengelolaan air, sampai pada kawasan ekonomi baru yang berbasis pariwisata, industri dan energi terbarukan. Namun kita juga menyadari bersama, percepatan pembangunan harus dibarengi dengan ketahanan infrastruktur dan daya dukung lingkungan kita. Karena itu, pendekatan Engineering for Resilience bukan lagi pilihan tetapi harus keharusan,” ucapnya.

Wagub NTB juga mengajak seluruh peserta konferensi untuk melihat NTB sebagai laboratorium nyata.  “Saya ingin mengajak seluruh peserta konferensi ini untuk melihat NTB bukan hanya sebagai lokasi pelaksanaan konferensi, tetapi juga sebagai laboratorium nyata, tempat di mana kita bisa mempelajari bagaimana masyarakat, pemerintah, dan dunia akademik bersinergi, menghadapi persoalan pembangunan di daerah kepulauan,” ajaknya.

Konteks ke-19 ini berlangsung pada 6-8 November 2025 dengan mengusung tema “Inovasi Infrastruktur Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Bencana dan Pariwisata”. Kegiatan ini dirangkaikan dengan presentasi makalah ilmiah, musyawarah nasional program studi teknik sipil, dan sosialisasi peta gempa Indonesia. (r)