Wednesday, May 6, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaEkonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Smelter dan Tambang Jadi Mesin Utama

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Smelter dan Tambang Jadi Mesin Utama

Mataram (ekbisntb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh signifikan sebesar 13,64 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, mengatakan pertumbuhan ekonomi dua digit tersebut ditopang oleh kembali bergairahnya sektor pertambangan serta meningkatnya aktivitas industri pengolahan, khususnya smelter.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 ditopang oleh menguatnya industri pengolahan dan kembali meningkatnya aktivitas pertambangan,” ujar Wahyudin dalam rilis BPS NTB, Selasa, 5 Mei 2026.

Berdasarkan data BPS, sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian NTB masih didominasi oleh pertanian, pertambangan, dan perdagangan, dengan total kontribusi mencapai 60,25 persen terhadap struktur ekonomi daerah.

Dari sisi pertumbuhan lapangan usaha, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 60,25 persen secara tahunan. Lonjakan ini dipicu mulai beroperasinya smelter yang mendorong peningkatan aktivitas pengolahan logam dasar di NTB.

Sementara sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,80 persen, didorong peningkatan produksi konsentrat tembaga setelah adanya relaksasi ekspor bahan mentah.

Adapun sektor jasa keuangan juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi sebesar 13,48 persen, seiring meningkatnya aktivitas perbankan umum.

Tak hanya sektor unggulan, BPS juga mencatat seluruh lapangan usaha di NTB tumbuh positif pada triwulan I 2026 secara tahunan.

Selain industri dan tambang, sektor pertanian juga menunjukkan performa positif. Produksi padi pada triwulan I 2026 diperkirakan mencapai 577,24 ribu ton gabah kering giling (GKG), meningkat dibanding triwulan I 2025 yang sebesar 313,58 ribu ton GKG.

Kenaikan produksi tersebut didorong musim panen raya yang berlangsung pada Maret 2026.

Sektor perdagangan juga mengalami pertumbuhan karena terdorong peningkatan aktivitas di sektor pertanian dan industri pengolahan.

Meski tumbuh tinggi secara tahunan, ekonomi NTB secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q) tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen dibanding triwulan IV 2025.

Wahyudin menjelaskan kontraksi tersebut dipengaruhi penurunan aktivitas industri pengolahan yang terkontraksi 31,02 persen secara triwulanan, seiring menurunnya produksi smelter dibanding akhir tahun lalu.

Selain itu, sektor jasa lainnya terkontraksi 7,28 persen setelah tingginya aktivitas pada triwulan IV 2025 akibat gelaran MotoGP. Sementara sektor administrasi pemerintahan turun 7,27 persen karena realisasi belanja APBD yang lebih rendah pada awal tahun.

Meski demikian, BPS menilai fondasi pertumbuhan ekonomi NTB pada awal 2026 masih cukup kuat, terutama dengan pulihnya sektor pertambangan dan meningkatnya kapasitas industri pengolahan di daerah. (bul)

IKLAN

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut