Thursday, April 23, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 88

25 Ribu Warga NTB Berangkat Bekerja ke Luar Negeri Secara Resmi Selama 2025

0

Lombok (ekbisntb.com)- Minat masyarakat NTB untuk bekerja ke luar negeri sepanjang tahun 2025 terbilang tinggi. Berdasarkan data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB, tercatat secara resmi sebanyak 25.062 warga NTB berangkat bekerja ke luar negeri selama periode Januari hingga Desember 2025.

Data BP3MI NTB menunjukkan, mayoritas pekerja migran Indonesia (PMI) asal NTB ditempatkan di negara-negara Asia Tenggara. Malaysia menjadi negara tujuan utama dengan jumlah penempatan mencapai 88,89 persen. Selanjutnya disusul Brunei Darussalam sebanyak 8,64 persen, serta Singapura sebanyak 2,47 persen.

Sementara itu, jika dilihat dari daerah asal kabupaten/kota, penempatan PMI asal NTB didominasi dari wilayah Pulau Lombok. Kabupaten Lombok Tengah tercatat sebagai daerah pengirim terbanyak dengan 41,36 persen, disusul Lombok Timur sebanyak 33,95 persen, dan Lombok Barat sebanyak 20,99 persen.

Adapun daerah lain menyumbang jumlah yang relatif kecil, yakni Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara masing-masing 1,23 persen, kemudian Kabupaten Bima dan Sumbawa masing-masing 0,62 persen.

Dari sisi jabatan atau jenis pekerjaan, data BP3MI NTB mencatat bahwa sebagian besar PMI asal NTB bekerja di sektor perkebunan. Plantation worker mendominasi dengan jumlah 88,27 persen. Selain itu, terdapat skilled workers, construction worker, dan domestic worker.

Sementara jabatan lainnya seperti cook, general worker, housekeeper and family, serta kitchen helper masing-masing tercatat sekitar 0,62 persen. Data ini menunjukkan bahwa sektor informal dan padat karya masih menjadi pilihan utama pekerja migran asal NTB.

Dari sisi jenis kelamin, PMI asal NTB masih didominasi oleh laki-laki. Tercatat 93,21 persen merupakan pekerja laki-laki, sedangkan perempuan sekitar 6,79 persen. Komposisi ini mencerminkan karakteristik lapangan kerja di negara tujuan yang banyak menyerap tenaga kerja laki-laki, khususnya di sektor perkebunan dan konstruksi.

Selain data penempatan, BP3MI NTB juga mencatat skema penempatan pekerja migran sepanjang 2025. Beberapa perusahaan penempatan PMI (P3MI) tercatat menempatkan pekerja dalam jumlah besar. Di antaranya Primadaya Pratama Pandukarya dengan 3.418 orang atau 13,64 persen, Cipta Rezeki Utama sebanyak 2.425 orang atau 9,68 persen, serta Wira Karitas sebanyak 2.402 orang atau 9,58 persen.

Kemudian disusul Pamor Sapta Dharma sebanyak 2.235 orang, Hamparan Karya Insani 1.901 orang, Agesa Asa Jaya 1.149 orang, dan sejumlah P3MI lainnya dengan jumlah penempatan bervariasi.

BP3MI NTB menegaskan bahwa data tersebut menjadi dasar evaluasi dan penguatan pelindungan bagi PMI asal NTB, sekaligus mendorong peningkatan penempatan yang prosedural dan aman.

“Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat untuk berangkat bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi guna meminimalkan risiko dan memastikan hak-hak pekerja migran terpenuhi,” demikian Kepala BP3MI NTB, Noerman Adhiguna.(bul)

Serapan Beras Tahun 2025 di NTB Lampaui Target

0

Lombok (ekbisntb.com)- Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat capaian positif dalam pengadaan gabah dan beras sepanjang tahun 2025. Hingga akhir tahun, realisasi serapan Bulog NTB berhasil melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kondisi ini sekaligus memastikan ketersediaan beras di wilayah NTB berada dalam kondisi aman menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, mengungkapkan bahwa target pengadaan setara beras pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 181.925 ton. Namun, realisasi serapan yang berhasil dicapai justru menembus angka 189.862 ton atau sekitar 104,36 persen dari target.

“Alhamdulillah, target pengadaan gabah dan beras tahun 2025 dapat kita lampaui. Ini menunjukkan bahwa pengadaan berjalan dengan baik dan pasokan beras di NTB dalam kondisi aman,” ujar Mara Kamin Siregar, Selasa (6/1).

Capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan Bulog NTB dalam menjalankan fungsi stabilisasi pangan, sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah di daerah. Menurut Regar, keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi yang baik antara Bulog, pemerintah daerah, serta para petani dan mitra penggilingan padi serta seluruh stakeholder di NTB.

“Serapan gabah dan beras berjalan lancar berkat dukungan berbagai pihak. Bulog terus berkomitmen menyerap hasil panen petani sesuai ketentuan pemerintah untuk menjaga kesejahteraan petani sekaligus ketahanan pangan,” jelasnya.

Selain capaian pengadaan, Bulog NTB juga memastikan bahwa kondisi stok beras di gudang saat ini berada pada level yang sangat memadai. Hingga awal Januari 2026, persediaan beras yang tersimpan di gudang Bulog NTB tercatat sekitar 160.409 ton.

“Persediaan beras saat ini kurang lebih 160.409 ton. Stok ini cukup aman dalam rangka menyambut Ramadan dan Hari Raya Idulfitri pada Februari 2026 ini,” tegas Regar.

Ia menambahkan, Bulog NTB terus melakukan pemantauan terhadap dinamika kebutuhan pangan masyarakat, terutama menjelang periode hari besar keagamaan yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi. Dengan stok yang tersedia, Bulog optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di pasaran.

Terkait pengadaan untuk tahun 2026, Regar menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu kebijakan dan penetapan target resmi dari kantor pusat Perum Bulog. Namun demikian, Bulog NTB siap melaksanakan penugasan yang diberikan pemerintah guna mendukung ketahanan pangan nasional.

“Untuk pengadaan tahun 2026, kami masih menunggu data dan arahan dari kantor pusat. Prinsipnya, Bulog NTB siap menjalankan penugasan sesuai kebijakan pemerintah,” pungkasnya.

Dengan capaian serapan yang melampaui target serta stok beras yang aman, Bulog NTB optimistis mampu menjaga ketersediaan pangan dan memberikan rasa tenang bagi masyarakat NTB menghadapi Ramadan dan Idulfitri tahun ini.(bul)

Pemerintah Belum Tetapkan RTRW, Sektor Properti NTB Terancam Lesu di 2026

0

Lombok (ekbisntb.com)- Prospek sektor properti di Provinsi NTB pada 2026 terancam lesu akibat belum tuntasnya kepastian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) oleh pemerintah. Kondisi ini membuat pengembang kesulitan melakukan ekspansi dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) NTB, Hery Athmaja di Mataram, Selasa, 6 Januari 2025 mengatakan, hingga awal 2026, persoalan RTRW masih menjadi hambatan utama sektor properti.

Proses penetapan RTRW masih, sehingga pengembang belum memiliki kepastian lokasi pembangunan.

“Kalau RTRW belum jelas, teman-teman pengembang susah bergerak. Mau bangun di mana, lahan yang mana, itu belum bisa dipastikan,” kata Hery.

Ia menjelaskan, proyek properti yang sudah mengantongi izin sebelumnya masih tetap berjalan. Namun untuk proyek baru, terutama yang berencana melakukan ekspansi atau penambahan unit, praktis tertahan.

“Kondisi ini sangat menyulitkan. Pengembang jadi tidak bisa berkreasi karena dasar izinnya belum ada,” ujarnya.

Dampak dari ketidakpastian tersebut mulai terlihat pada kuota rumah subsidi. Secara nasional, kuota rumah subsidi tahun ini masih tetap di angka 350 ribu unit, sama seperti tahun sebelumnya. Namun, porsi NTB justru mengalami penurunan.

“Kalau kondisi normal, NTB seharusnya bisa mendapatkan sekitar 6 ribu unit. Tahun kemarin turun menjadi sekitar 4 ribu. Kalau ketidakjelasan ini terus berlanjut, kami khawatir bisa turun sampai 2 ribu unit,” ungkap Hery.

Menurutnya, penurunan sektor properti tidak hanya merugikan pengembang, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat yang membutuhkan rumah dan perekonomian daerah.

Sektor properti selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi karena melibatkan banyak usaha turunan, mulai dari bahan bangunan, jasa konstruksi, tenaga kerja, hingga UMKM.

“Kalau properti tidak jalan, banyak usaha ikutan yang tidak jalan. Dari penyedia pasir, batu-bata, bahan bangunan, genteng, belum lagi tenaga kerja yang terlibat. Ekonomi NTB otomatis ikut turun. Ini sektor yang efek bergandanya besar,” tegasnya.

Hery menilai, dari sisi kebijakan pusat sebenarnya dukungan terhadap sektor properti cukup kuat. Pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai stimulus, mulai dari kemudahan pembiayaan, penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga perpanjangan insentif pajak dan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga 2027 bagi sektor property.

“Dari pusat sebenarnya sangat mendukung. Menteri Keuangan Purbaya banyak mengeluarkan kebijakan yang mendukung sektor property. Tapi di lapangan kami masih tertahan karena aturan lahan mana yang boleh dan tidak boleh dibangun belum jelas,” katanya.

Ia mengingatkan, jika kepastian RTRW tidak segera diselesaikan, maka 2026 berpotensi menjadi tahun yang berat bagi sektor properti NTB. Apalagi memasuki awal tahun, aktivitas pasar biasanya melambat karena memasuki bulan Ramadan dan Lebaran.

“Sekarang sudah Januari. Kalau terus molor, bisa jadi baru pertengahan tahun ada pergerakan. Itu risikonya penjualan turun, ekonomi juga ikut turun,” ujarnya.

Saat ini, kata Hery, penjualan properti di NTB masih mengandalkan sisa unit tahun 2025, dengan hampir tidak ada proyek baru yang masuk pasar.

REI NTB pun berharap pemerintah daerah dari gubernur, bupati dan walikota ikut berperan aktif menyuarakan persoalan ini ke pemerintah pusat. Menurut Hery, seluruh organisasi pengembang di tingkat nasional sudah menyampaikan aspirasi, namun dukungan daerah dinilai sangat krusial.

“Kami harap kepala daerah ikut bersuara dan mendorong ke pusat. Program 3 juta rumah harus tetap jalan, tapi tanpa kepastian izin, orang mau berusaha juga tidak punya pijakan,” katanya.

Ia menegaskan sektor properti merupakan salah satu penyumbang utama pergerakan ekonomi NTB. Jika tidak segera diperjuangkan, penurunan bisa semakin dalam. “Kalau ini tidak kita perjuangkan, bisa drop jauh. Dampaknya besar bagi semua pihak,” pungkas Hery.(bul)

PAD Tak Maksimal, Sopir Truk Minta Terminal Segenter Segera Diperbaiki

0

Lombok Barat (ekbisntb.com)- Para sopir truk mengeluhkan kondisi Terminal Segenter di Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, yang dinilai semakin memprihatinkan. Area terminal yang becek dan dipenuhi lumpur membuat sopir merasa tidak nyaman saat memarkir kendaraan. Akibatnya, banyak sopir enggan memanfaatkan fasilitas terminal tersebut dan berharap pemerintah segera melakukan perbaikan.

Salah seorang sopir truk, Ambon, mengatakan kondisi Terminal Segenter saat ini sangat mengganggu aktivitas para sopir. Selain area parkir yang becek, sejumlah fasilitas penunjang juga dinilai belum memadai, seperti kamar mandi yang mampet, tempat salat, ruang istirahat, hingga fasilitas lainnya.

“Kami berharap terminal ini segera dirapikan. Kamar mandi diperbaiki, tempat istirahat ditambah, dan semua fasilitas dilengkapi,” harapnya.

Ia menegaskan, para sopir menginginkan kenyamanan dan keamanan saat memarkir kendaraan di Terminal Segenter. Oleh karena itu, fasilitas yang menjadi kebutuhan dasar sopir truk perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Keluhan serupa disampaikan sopir lainnya, Wira. Ia mengatakan kondisi parkir yang becek sangat menyulitkan saat kendaraan keluar-masuk terminal. Selain itu, fasilitas seperti toilet dan tempat istirahat juga perlu dibenahi.

“Kami berharap segera diperbaiki supaya tidak berkubang lumpur dan kendaraan tidak kesulitan saat bermanuver,” ujarnya.

Meski demikian, Wira mengapresiasi pelayanan pegawai terminal yang dinilainya cukup baik dan ramah. Menurutnya, tidak ada persoalan dengan petugas di lapangan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lombok Barat, Baiq Yeni S. Ekawati, mengakui bahwa Terminal Segenter memang membutuhkan pengurukan lahan parkir. Hal itu disebabkan kondisi tanah dan beban kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas lahan yang ada.

“Area parkir memang perlu dilakukan pengurukan karena kondisi saat ini becek dan berkubang,” katanya.

Ia menjelaskan, anggaran tahun 2025 telah berjalan sehingga belum memungkinkan untuk mengalokasikan dana penimbunan lahan parkir. Namun, pihaknya berencana menganggarkan perbaikan tersebut pada tahun depan.

“Insyaallah akan kita anggarkan pada tahun depan,” imbuhnya.

Menurut Baiq Yeni, Terminal Segenter merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, kondisi terminal yang kurang layak saat ini berdampak pada tidak optimalnya PAD, karena banyak sopir enggan memarkir kendaraannya di terminal.

“Jika penimbunan dan perbaikan sudah dilakukan, ke depan PAD diharapkan bisa lebih optimal,” pungkasnya. (Her)

BPS : Perdagangan Luar Negeri NTB Menguat pada November 2025

0

Mataram (ekbisntb.com)- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat perkembangan signifikan pada kinerja perdagangan luar negeri daerah pada November 2025.

Setelah mengalami penurunan sepanjang sebagian besar tahun, nilai ekspor NTB pada November 2025 melonjak tajam, terutama didorong oleh kembali dilakukannya ekspor komoditas tambang dalam bentuk konsentrat.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menjelaskan bahwa secara kumulatif nilai ekspor NTB pada periode Januari–November 2025 mencapai US$ 1.063,81 juta. Angka tersebut mengalami penurunan 56,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Penurunan ini terjadi akibat belum meratanya aktivitas ekspor sepanjang tahun, khususnya dari sektor tambang.

Namun demikian, pada November 2025, kinerja ekspor menunjukkan lonjakan sangat tinggi. Nilai ekspor NTB pada bulan tersebut tercatat sebesar US$ 327,84 juta, atau meningkat 5.792,07 persen dibandingkan ekspor November 2024 secara tahunan (year on year).

“Peningkatan ekspor yang sangat signifikan pada November 2025 ini terutama disebabkan oleh adanya ekspor komoditas tambang dalam bentuk konsentrat,” ujar Wahyudin.

BPS mencatat, kelompok komoditas ekspor terbesar NTB pada November 2025 didominasi oleh Barang Galian/Tambang Non Migas dengan nilai mencapai US$ 194,35 juta atau 59,28 persen dari total ekspor.

Selanjutnya diikuti oleh Tembaga sebesar US$ 66,14 juta (20,18 persen) dan Perhiasan/Permata sebesar US$ 64,41 juta (19,65 persen). Sementara itu, komoditas perikanan seperti ikan dan udang menyumbang US$ 2,03 juta, serta daging dan ikan olahan sebesar US$ 490 ribu.

Dari sisi negara tujuan, ekspor NTB pada November 2025 paling besar dikirim ke Tiongkok dengan pangsa 50,54 persen. Disusul Swiss sebesar 19,56 persen, Jepang sebesar 18,42 persen, Malaysia sebesar 4,94 persen, dan Korea Selatan sebesar 2,15 persen, sementara sisanya ke negara lainnya.

Sementara itu, kinerja impor NTB pada periode Januari–November 2025 juga mengalami penurunan. Total nilai impor tercatat sebesar US$ 220,18 juta, turun 73,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Meski demikian, pada November 2025 nilai impor NTB mencapai US$ 13,25 juta, meningkat 5,51 persen dibandingkan November 2024.

Komoditas impor terbesar NTB pada November 2025 adalah Karet dan Barang dari Karet dengan nilai US$ 5,70 juta atau 42,99 persen. Disusul Mesin/Peralatan Listrik sebesar US$ 4,50 juta (33,93 persen), Kendaraan dan Bagiannya sebesar US$ 915 ribu, Berbagai Produk Kimia sebesar US$ 819 ribu, serta Mesin dan Pesawat Mekanik sebesar US$ 707 ribu.

Adapun negara asal impor terbesar NTB pada November 2025 adalah Jepang dengan kontribusi 42,89 persen, diikuti Jerman sebesar 32,54 persen, Amerika Serikat sebesar 11,24 persen, Singapura sebesar 6,90 persen, Malaysia sebesar 3,41 persen, dan Australia sebesar 3,01 persen.

Wahyudin menambahkan, peningkatan impor pada November 2025 terutama dipicu oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku dan bahan penolong, seiring dengan kembali berlangsungnya aktivitas ekspor komoditas tambang di NTB.

“Ekspor tambang yang kembali berjalan mendorong peningkatan impor bahan baku dan penolong. Ini menunjukkan adanya pergerakan aktivitas industri dan perdagangan di NTB,”  pungkasnya.(bul)

Dampak Ekonominya Besar, Gubernur Harus Lobi Pusat dan Pastikan NTB Tuan Rumah PON 2028

0

Lombok (ekbisntb.com)- Kepastian NTB sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 sangat krusial dan mendesak. Event olahraga terbesar di republik ini memberikan dampak yang tidak kecil bagi ekonomi daerah tempat penyelenggaraan. Karena itu, NTB tidak boleh diam dan harus terus jemput bola.

Ketua Umum Kickboxing NTB, Junaidi Kasum, meminta Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal membangun komunikasi intensif dengan pemerintah pusat agar status tuan rumah PON 2028 benar-benar dipastikan melalui surat keputusan (SK) resmi.

Menurut Junaidi, hingga saat ini SK penetapan tuan rumah PON 2028 belum juga terbit, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pegiat olahraga daerah. Padahal, persiapan teknis dan nonteknis seharusnya sudah mulai dilakukan sejak sekarang, mengingat PON merupakan ajang olahraga nasional berskala besar yang melibatkan seluruh provinsi di Indonesia.

“Untuk PON 2028, kami berharap Pak Gubernur segera membangun komunikasi ke pusat. Harus ada komunikasi proaktif antara Gubernur, KONI NTB, dan KONI Pusat agar duduk bersama dan memastikan status NTB sebagai tuan rumah,” ujar Junaidi.

Ia menegaskan, tanpa kepastian SK, daerah akan kesulitan memulai pembangunan dan penyiapan sarana-prasarana olahraga. Padahal, sejumlah venue utama, khususnya cabang olahraga induk seperti sepak bola dan atletik, membutuhkan waktu pembangunan yang tidak singkat serta anggaran yang besar.

“Kalau bicara PON, ini olahraga berkelas nasional. Seluruh peserta dari Indonesia akan datang dengan kontingen besar. Itu butuh kesiapan matang dan dana besar. Jangan sampai waktu terus berjalan tapi kita belum mulai apa-apa karena SK belum jelas,” katanya.

Junaidi mengingatkan, perjuangan NTB untuk mendapatkan rekomendasi sebagai tuan rumah PON 2028 tidaklah mudah. Bahkan, NTB sempat bersaing ketat dengan daerah lain seperti Bali. Karena itu, peluang yang sudah diperjuangkan oleh pemimpin sebelumnya harus dijaga dan dilanjutkan.

“Bali saja waktu itu kalah. Ini bukan proses gampang. Maka, ruang yang sudah diperjuangkan itu harus diamankan. Jangan sampai direbut daerah lain hanya karena kita terlambat berkomunikasi atau dianggap tidak siap,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan adanya sinyal dan kekhawatiran bahwa jika NTB dinilai tidak siap, pelaksanaan PON bisa dialihkan ke provinsi lain yang fasilitasnya sudah lebih mapan, seperti DKI Jakarta. Menurutnya, hal tersebut akan menjadi kerugian besar bagi NTB, terutama dari sisi ekonomi.

“Kalau PON tidak dilaksanakan di NTB, secara ekonomi kita sangat rugi. Kapal pesiar saja masuk ke NTB bisa menghasilkan perputaran uang miliaran rupiah per hari. Apalagi PON, ini orang dari seluruh Indonesia datang, bukan satu dua orang,” ujarnya.

JK menjelaskan, pelaksanaan PON akan menggerakkan hampir seluruh sektor ekonomi daerah. Transportasi, perhotelan, pariwisata, UMKM, hingga jasa pendukung lainnya akan ikut hidup. NTB juga memiliki keunggulan dengan ikon-ikon pariwisata seperti Mandalika, Gili Mas, Senggigi, hingga Gunung Rinjani yang sedang booming.

“Orang datang ke PON pasti tidak hanya bertanding. Mereka akan berwisata, menginap, belanja, dan berkeliling NTB. Dampaknya luar biasa bagi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah daerah di NTB seperti Pulau Lombok, Sumbawa, hingga Bima telah berharap besar mendapat imbas ekonomi dari PON 2028. Bahkan, beberapa daerah sudah diperjuangkan menjadi tuan rumah cabang olahraga tertentu. Jika PON batal digelar di NTB, maka harapan masyarakat akan pupus.

“Menjadi tuan rumah itu tidak gampang. Ada lobi besar, ada kepentingan besar. Kalau sampai gagal, ini akan menjadi kerugian kolektif bagi masyarakat NTB,” ujarnya.

Karena itu, Junaidi menegaskan bahwa pegiat olahraga di NTB bukan mendesak, melainkan mendorong Gubernur NTB agar segera memastikan kepastian hukum PON 2028 melalui lobi dan komunikasi aktif dengan Kemenpora serta KONI Pusat.

“Sekali lagi, kami mendorong Pak Gubernur untuk segera memastikan NTB sebagai tuan rumah PON 2028. Kepastian ini sangat penting demi olahraga dan ekonomi NTB,” tandasnya.(bul)

Setelah Didalami, Dugaan Pungli di Pelabuhan Gilimas Dibantah Organda NTB

0

Mataram (ekbisntb.com)- Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi NTB, Junaidi Kasum, membantah adanya praktik pungutan liar (pungli) di Pelabuhan Internasional Gili Mas, Lembar, Kabupaten Lombok Barat, seperti yang belakangan ramai beredar di media sosial.

Bantahan tersebut disampaikan setelah Organda NTB melakukan pendalaman langsung ke lapangan terkait dugaan pungli saat sandarnya kapal pesiar raksasa Ovation of the Seas pada Jumat (2/1/2026).

Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial menampilkan pengakuan sopir travel agent yang menyebutkan adanya dugaan kewajiban pembayaran sejumlah uang kepada oknum pengelola koperasi di kawasan Pelabuhan Gili Mas.

Dalam video tersebut, sopir mengaku pada 29 Desember 2025 diminta membayar Rp20 ribu kepada oknum koperasi, ditambah biaya resmi masuk gate pelabuhan sebesar Rp10 ribu. Sopir menilai hal itu sebagai pungli yang dapat mencoreng citra pariwisata Lombok, meskipun nominalnya relatif kecil.

Menanggapi hal itu, Junaidi Kasum mengatakan pihaknya tidak tinggal diam dan langsung melakukan klarifikasi serta pengecekan langsung di lapangan. Organda NTB juga telah menggelar rapat internal dengan berbagai pihak terkait, termasuk koperasi yang beroperasi di kawasan Pelabuhan Gili Mas.

“Setelah kami turun langsung ke lapangan dan mengecek secara menyeluruh, apa yang disebut-sebut sebagai pungli dalam video yang viral itu tidak benar. Informasi tersebut dibuat-buat dan sangat merugikan kita semua, terutama sektor pariwisata,” tegas Junaidi.

Ia menjelaskan, suatu pungutan baru bisa dikategorikan sebagai pungli apabila dilakukan secara terstruktur, tidak memiliki dasar aturan, dan bersifat memaksa. Sementara fakta di lapangan, menurutnya, tidak menunjukkan adanya praktik seperti itu. Junaidi mencontohkan, pemberian uang sukarela seperti kepada petugas parkir tidak serta-merta bisa disebut pungli.

“Kalau ada pemberian sukarela, misalnya dikasih seribu atau dua ribu rupiah, itu tidak bisa langsung disebut pungli. Pungli itu harus jelas unsur paksaan dan tanpa aturan,” ujarnya.

Junaidi juga mengingatkan bahwa kedatangan kapal pesiar Ovation of the Seas yang membawa lebih dari 4.000 wisatawan mancanegara merupakan momentum besar bagi NTB, khususnya sektor transportasi dan pariwisata. Dalam waktu singkat, perputaran uang dari kunjungan kapal pesiar tersebut mencapai miliaran rupiah dan dirasakan langsung oleh pelaku pariwisata lokal.

“Ini harusnya kita syukuri dan banggakan. Jangan justru dibesarkan dengan informasi yang tidak benar. Di sana juga ada pengamanan lengkap, mulai dari aparat kepolisian, Babinsa, hingga petugas pelabuhan,” katanya.

Ia menjelaskan, keberadaan koperasi transportasi di Gili Mas justru bertujuan untuk menertibkan layanan transportasi agar lebih terukur dan profesional, termasuk memastikan pengemudi memiliki kemampuan dasar seperti berbahasa Inggris demi kenyamanan wisatawan asing. Penertiban juga dilakukan untuk mencegah praktik rebutan penumpang yang dapat menimbulkan kesan buruk bagi wisatawan.

“Tujuannya bukan melarang, tapi menata. Supaya tidak terjadi tarik-menarik penumpang dan wisatawan merasa aman dan nyaman,” jelasnya.

JK, sapaan akrabnya, mengimbau agar persoalan serupa ke depan tidak langsung diviralkan, melainkan dilaporkan kepada petugas yang berwenang di lokasi. Namun, ia menegaskan, jika benar ditemukan oknum yang melakukan pungli tanpa dasar hukum, maka hal tersebut harus diproses sesuai aturan.

“Kalau memang ada oknum yang sengaja merusak pariwisata NTB dengan praktik ilegal, silakan diproses. Tapi kalau tidak terjadi seperti yang diviralkan, jangan sampai ini justru merusak marwah pariwisata Nusa Tenggara Barat yang terus diperhatikan makin mendunia oleh pak Gubernur Iqbal,” pungkasnya.(bul)

Uang Keluar dari Bank Indonesia NTB Selama 2025 Mencapai Rp10,47 Triliun

0

Lombok (ekbisntb.com)- Bank Indonesia Perwakilan NTB mencatat peningkatan signifikan pada arus keluar uang (net outflow) selama tahun 2025. Berdasarkan data sistem pembayaran BI NTB, net outflow uang rupiah pada 2025 mencapai Rp2,45 triliun atau naik sekitar 148 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Bidang Sistem Pembayaran, Ignatius Adhi Nugroho, Minggu, 4 Januari 2025 menjelaskan, sepanjang 2025 nilai uang keluar (outflow) dari BI NTB tercatat sebesar Rp10,43 triliun, sementara uang masuk (inflow) hanya mencapai Rp7,97 triliun. Dengan demikian, terjadi selisih arus keluar bersih (net outflow) sebesar Rp2,45 triliun.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 nilai outflow BI NTB tercatat Rp10,47 triliun, inflow Rp9,48 triliun, dengan net outflow sebesar Rp990,9 miliar. Meski secara nominal nilai outflow pada 2024 dan 2025 relatif mirip, penurunan inflow yang cukup dalam membuat selisihnya melebar pada 2025.

“Kalau dilihat dari nilai outflow, memang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, inflow tahun 2025 lebih rendah karena uang cenderung lebih lama mengendap di masyarakat,” ujarnya.

Adhi menengarai peningkatan net outflow ini dipengaruhi oleh peredaran uang di masyarakat yang relatif lebih cepat, serta kecenderungan masyarakat untuk memegang uang tunai (cash holding). Kondisi tersebut menyebabkan sirkulasi uang kembali ke sistem keuangan menjadi lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Uang tidak segera kembali ke perbankan atau BI, sehingga inflow menurun. Di sisi lain, ini juga mengindikasikan bahwa kualitas fisik pecahan uang rupiah di masyarakat masih terjaga,” jelasnya.

Deputi BI NTB menegaskan, data arus keluar-masuk uang ini belum cukup kuat untuk dijadikan satu-satunya indikator dalam membaca kondisi ekonomi makro daerah. Menurutnya, indikator sistem pembayaran perlu dibaca secara komprehensif dan dikombinasikan dengan indikator ekonomi lainnya.

“Kalau mau melihat kondisi makro, indikator ini harus ditemani dengan data lain, seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), konsumsi rumah tangga, investasi, maupun indikator ekonomi regional lainnya,” tegasnya.

Meski demikian, ia menyebut pergerakan uang yang relatif stabil dari sisi outflow menunjukkan aktivitas ekonomi di NTB masih berjalan normal. Hanya saja, pola peredaran uang di masyarakat mengalami perubahan, terutama dari sisi kecepatan uang kembali ke sistem keuangan.

“Kesimpulannya, pergerakan ekonomi tidak bisa dikatakan stagnan hanya dari data ini. Yang terlihat adalah perubahan perilaku masyarakat dalam memegang dan menggunakan uang tunai,” demikian Adhi.(bul)

Dari Cabai ke Melon Premium, Petani Jurang Jaler Buktikan Pertanian Bisa Naik Kelas

0

Lombok (ekbisntb.com) – Seorang petani di Desa Jurang Jaler, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, berhasil mengubah lahan cabai menjadi green house modern untuk budidaya melon premium. Langkah kreatif ini berhasil mendatangkan cuan, dengan omzet mencapai Rp15 juta dalam satu kali panen.

Petani ini namanya Sumarlin Azizi, ia memanfaatkan lahan seluas 3,6 are yang sebelumnya digunakan untuk menanam cabai. Kini, lahan tersebut disulap menjadi green house berisi 600 batang melon premium yang dibudidayakan menggunakan metode polybag dengan sistem pertanian modern berbasis teknologi.

Tak hanya menjual hasil panen, Sumarlin juga membuka wisata agro petik melon yang dapat dinikmati masyarakat Lombok Tengah dan sekitarnya. Konsep ini menarik perhatian warga karena pengunjung dapat langsung memetik buah dari dalam green house sekaligus menikmati pengalaman edukatif seputar budidaya melon.

“Untuk satu kilogram melon premium kami jual Rp30 ribu. Dalam sekali panen bisa menghasilkan sekitar lima kuintal, jadi omzetnya bisa sampai Rp15 juta,” kata Sumarlin, Jumat  (2/1/2026).

Ia menjelaskan, inovasi tersebut berangkat dari keinginannya mencari alternatif komoditas pertanian bernilai tinggi. Pada awal 2024, ia mencoba menanam melon biasa, namun hasilnya belum maksimal dari segi rasa dan daya saing.

“Yang pertama kita tanam melon biasa, hasilnya bagus tapi kalah di tingkat kemanisan. Lalu yang kedua kita coba melon premium, Kirani dan Alisa,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, pada penanaman ketiga, Sumarlin kembali berinovasi dengan menanam varietas Lavender dan Kirana. Meski menghadapi tantangan cuaca, ia tetap mampu menghasilkan buah berkualitas.

“Yang lavender ini sebenarnya bernet, cuma karena pengaruh cuaca dan kurang kena sinar matahari, net-nya tidak keluar maksimal,” jelasnya.

Green house yang dibangun merupakan hasil pengembangan dari lahan cabai sebelumnya. Sistem pertaniannya kini telah terintegrasi dengan teknologi modern berbasis otomatisasi.

“Ini bekas lahan cabai, kita setting ulang jadi green house. Sistemnya sudah modern, sudah IT semua. Penyiraman dan pemupukan tinggal kita atur otomatis,” katanya.

Menurut Sumarlin, inovasi pertanian seperti ini sangat memungkinkan diterapkan oleh petani lain, terutama untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian sekaligus menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.

Ia berharap, keberhasilan ini bisa menjadi contoh bahwa pertanian tidak selalu identik dengan cara lama. Dengan pemanfaatan teknologi dan inovasi, petani mampu menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.

“Kalau dikelola dengan baik, pertanian itu sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana kita berani mencoba dan berinovasi,” pungkasnya.(bul)

Kaya Komoditas, Miskin Eksportir, Pengusaha Perempuan NTB Ungkap Biang Keroknya

0

Lombok (ekbisntb.com)- Provinsi NTB dikenal sebagai daerah dengan potensi komoditas ekspor yang sangat besar. Mulai dari hasil pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan, hingga kerajinan dan produk kriya, semuanya memiliki peluang menembus pasar internasional. Namun hingga kini, struktur ekspor NTB masih didominasi komoditas hasil pertambangan dengan persentase yang jauh lebih besar dibandingkan sektor non tambang.
Berbagai upaya mendorong lahirnya eksportir non tambang terus dilakukan, terutama dari kalangan UMKM. Namun fakta di lapangan menunjukkan, jumlah UMKM yang mampu naik kelas menjadi eksportir masih sangat terbata
Ketua Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB sekaligus pengusaha perempuan, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH, menilai kondisi tersebut bukan tanpa alasan.
Menurut Diyah, menjadi eksportir bukanlah perkara mudah dan tidak bisa dianggap enteng. Ia menegaskan, ekspor bukan sekadar memiliki pembeli lalu mengirim barang ke luar negeri. Seluruh proses harus dipersiapkan sejak dari hulu, mulai dari kualitas produk, kemasan, hingga perjanjian dagang yang mengikat secara hukum.
“Ekspor itu berat, meski bukan berarti tidak boleh. Dari awal hulunya harus benar-benar siap, produknya, kemasannya, dan yang paling penting adalah perjanjiannya, termasuk isi Letter of Credit (LC),” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap negara tujuan ekspor memiliki karakteristik berbeda, termasuk iklim. Produk yang dikirim dari Indonesia ke negara empat musim, misalnya, harus disesuaikan secara detail. Kesalahan kecil bisa berdampak fatal.
“Barang sampai di sana bisa bermasalah karena iklim. Produk bisa menggumpal, rusak, atau tidak sesuai standar. Kerajinan handmade saja bisa berbeda ukuran satu sampai dua sentimeter, itu saja bisa jadi persoalan,” jelasnya.
Diyah berbagi pengalaman saat mengikuti pelatihan ekspor di Jakarta melalui lembaga pengendalian ekspor nasional. Selama tiga bulan, ia belajar secara detail bagaimana proses ekspor dilakukan, mulai dari pengemasan, pelabelan, penataan barang dalam kontainer, hingga pemenuhan standar negara tujuan.
“Kalau tidak dilatih, tidak akan paham. Labelisasi itu tidak semudah tempel stiker. Bea cukai di negara tujuan sangat ketat. Salah label bisa langsung diperiksa atau ditolak,” katanya.
Selain aspek teknis, persoalan logistik dan pendanaan juga menjadi tantangan besar. Menurutnya, eksportir harus mengetahui dengan pasti posisi kontainer, jenis box yang digunakan, serta memastikan barang tidak mengalami bongkar muat berulang yang berpotensi merusak produk.
“Semua harus dipikirkan dari awal. Jangan sampai barang dibolak-balik di pelabuhan. Itu risiko besar,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya sistem pembayaran yang aman. Menurutnya, ekspor tidak cukup hanya mengandalkan hubungan business to business (B2B), tetapi akan jauh lebih kuat jika melibatkan skema government to government (G2G) atau pemerintah dengan pelaku usaha.
“LC itu harus jelas. Pembayarannya aman lewat bank. Begitu dana masuk, bank langsung memotong kewajiban, sisanya baru ke kita,” jelasnya.
Diyah menilai, pelatihan, pembukaan akses pasar, dan penguatan jaringan merupakan langkah yang sangat efektif untuk menambah jumlah eksportir. Namun pelatihan harus dilakukan secara berkelanjutan dan terfokus.
“Produk yang mau diekspor harus jelas ditujukan ke negara mana, dengan iklim apa, standar apa. Itu harus dipelajari,” kata Mantan Senator NTB ini.
Ia mendorong pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, untuk melakukan klasifikasi produk unggulan yang benar-benar siap diekspor. Dari sana, pemerintah bisa memilih beberapa pelaku usaha potensial untuk dibina secara intensif.
“Empat atau lima orang betul-betul disiapkan. Diajari isi LC, diajak belajar langsung, bukan sekadar dibawa pameran UMKM biasa,” ujarnya.
Menurutnya, jika pelaku usaha belum mampu mengekspor secara mandiri, kerja sama dengan eksportir di daerah lain seperti Bali atau Surabaya bisa menjadi solusi sementara. Produk NTB tetap bisa masuk pasar global melalui pihak kedua yang sudah memiliki jaringan, armada, dan pengalaman.
“Daripada barang tidak laku, lebih baik kerja sama. Perikanan NTB, misalnya, bisa lewat Surabaya ke Hong Kong atau Singapura karena mereka sudah siap,” jelasnya.
Ia menegaskan, komitmen pemerintah harus dilakukan secara total jika ingin menciptakan eksportir baru. Pembinaan tidak bisa setengah-setengah, karena risiko ekspor sangat besar, termasuk denda jika terjadi keterlambatan pengiriman.
“Ketepatan waktu itu wajib. Semua harus dihitung, dari NTB ke Bali, masuk kontainer, sampai ke negara tujuan. Kalau terlambat sehari saja, bisa kena denda sesuai perjanjian,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Diyah menyatakan siap terlibat langsung dalam proses pembinaan sebagai narasumber maupun pendamping. Dengan pengalaman lapangan yang dimilikinya, ia optimistis eksportir non tambang NTB bisa tumbuh jika dibina dengan serius dan terarah.
“Sekarang sudah jauh lebih mudah dengan teknologi dan media. Tinggal kemauan dan keseriusan kita menyiapkan pelaku usaha agar benar-benar siap ekspor,” pungkasnya.(bul)
Foto : Hj. Baiq. Diyah Ratu Ganefi