Beranda blog Halaman 88

Satgas BKC Gagalkan Peredaran 51.280 Batang Rokok Ilegal di Empat Kecamatan

0
Satgas BKC Gagalkan Peredaran 51.280 Batang Rokok Ilegal di Empat Kecamatan
(EKBISNTB/ist) BERHASIL DIGAGALKAN - Satgas BKC memperlihatkan hasil razia rokok ilegal. Ribuan rokok ilegal berhasil digagalkan.

Selong (EKBIS NTB) – Satuan Tugas Pemberantasan Barang Kena Cukai (BKC) Ilegal Kabupaten Lombok Timur menggagalkan peredaran puluhan ribu batang rokok ilegal dalam operasi gabungan yang menyasar empat kecamatan, pada Kamis (3/9/2026).


Operasi yang dimulai pukul 08.00 Wita tersebut menyasar wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Timur, Sakra Barat, dan Selong. Kegiatan dipimpin Kabid Penegakan Perda Satpol PP Lombok Timur, Musa Azhari, S.S.T.


Dalam operasi tersebut, tim berhasil mengamankan total 51.280 batang rokok ilegal serta 1.155 gram tembakau iris tanpa pita cukai.
Rinciannya, di Kecamatan Sakra diamankan 24.020 batang rokok jenis SKM, 1.260 batang SKT, serta 1.155 gram tembakau iris. Kemudian di Kecamatan Sakra Timur ditemukan 6.420 batang SKM.


Selanjutnya, di Kecamatan Sakra Barat petugas mengamankan 16.380 batang SKM, sedangkan di Kecamatan Selong sebanyak 3.200 batang SKM.


Operasi tersebut dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, Surat Keputusan Bupati Lombok Timur Nomor 100.3.3.2/365/PolPP/2026 serta Surat Perintah Nomor 800.1.11.1/405/PolPP/2026.


Kasat Pol PP Lombok Timur, Drs. Salmun Rahman, M.M., menegaskan bahwa operasi pemberantasan barang kena cukai ilegal tidak semata-mata mengedepankan penindakan. Pendekatan humanis dan keselamatan juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi.


“Kami tidak hanya melakukan penindakan, tapi juga edukasi. Harapannya masyarakat lebih teliti dan tidak menjual rokok ilegal,” ujarnya.
Selain mengamankan barang bukti, petugas juga memberikan pemahaman dan edukasi kepada para pedagang agar tidak memperjualbelikan rokok polos atau rokok batangan maupun tembakau iris kemasan ilegal.


Untuk pelanggaran pertama, pelaku diberikan pembinaan dan sosialisasi. Namun, operasi gabungan akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai langkah pencegahan sekaligus penegakan hukum terhadap peredaran BKC ilegal.


Barang bukti hasil operasi selanjutnya disita oleh Penyidik Bea Cukai Mataram untuk diproses sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Penindakan dilakukan berdasarkan UU Cukai Nomor 39 Tahun 2007 oleh Tim Operasi Penegakan Hukum Cukai Tembakau Kabupaten Lombok Timur bersama Bea Cukai.


Operasi tersebut turut melibatkan unsur Forkopimda, yakni Kodim 1615/Lombok Timur, Polres Lombok Timur, Kejaksaan Negeri Selong, Bea Cukai Mataram, serta jajaran Satpol PP Lombok Timur.


Satpol PP Lombok Timur memastikan operasi pemberantasan rokok ilegal akan terus dilakukan secara rutin. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan peredaran barang kena cukai ilegal sekaligus melindungi penerimaan negara dan masyarakat dari dampak peredarannya. (rus/*)

Lotim Usulkan Temrodok dan Belanjakan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

0
Lotim Usulkan Temrodok dan Belanjakan Jadi Warisan Budaya Tak Benda
(EKBIS NTB/rus) TEMRODOK - Warga Sakra, Lombok Timur sedang menjajakan jajanan Temrodok. Pemkab Lotim mengusulkan jajanan tradisional khas daerah, yakni Temrodok dari Sakra dan olahraga tradisional Belanjakan dari Masbagik untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.

Selong (EKBIS NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) mengusulkan jajanan tradisional khas daerah, yakni Temrodok dari Sakra dan olahraga tradisional Belanjakan dari Masbagik untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.


Usulan tersebut kini telah memasuki tahapan penting. Tim ahli dari Kementerian Kebudayaan RI telah melakukan proses sidang terhadap kedua objek budaya yang diusulkan Pemkab Lombok Timur tersebut. Pemerintah daerah kini tinggal menunggu keputusan akhir dari Kementerian Kebudayaan.


Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, Abdul Hayyi, menjelaskan proses pengusulan Temrodok dan Belanjakan telah melalui tahapan kajian dan persidangan bersama tim ahli dari pemerintah pusat. “Sidang susah digelar pada Rabu lalu,” tuturnya menjawab Suara NTB, Jumat (4/9/2026).


Menurutnya, proses tersebut bukan sekadar sidang formal, melainkan forum untuk mempertanggungjawabkan berbagai data dan kajian yang telah disampaikan dalam dokumen usulan.


“Sidangnya itu seperti sidang tesis atau skripsi. Ada tanggapan dan sanggahan dari tim juri, kemudian kita menjawab apa yang menjadi pertanyaan atau sanggahan tersebut,” jelas Abdul Hayyi.


Ia mengatakan, hasil akhir dari proses tersebut belum diterima Pemkab Lombok Timur. Pemerintah daerah masih menunggu informasi resmi dari Kementerian Kebudayaan mengenai apakah kedua objek budaya tersebut dinyatakan lolos untuk ditetapkan sebagai WBTB Nasional.
“Sudah kami usulkan ke tingkat nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari Kementerian,” katanya.


Abdul Hayyi menjelaskan, proses pengusulan WBTB memiliki persyaratan dokumentasi yang cukup ketat. Salah satunya adalah dokumentasi berupa video yang menggambarkan proses pembuatan atau pelaksanaan tradisi secara lengkap dari awal hingga akhir.
Menurut dia, kebutuhan dokumentasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat proses pengusulan WBTB membutuhkan biaya cukup besar.


Untuk Belanjakan Masbagik, kata dia, dokumentasi prosesnya relatif telah lengkap karena olahraga gulat tradisional Sasak tersebut sudah beberapa kali didokumentasikan dan digelar dalam berbagai kegiatan.


Sementara itu, Temrodok dipilih karena dinilai merupakan jajanan lokal yang memiliki kekhasan dan perlu segera dilestarikan. Jajanan tersebut dikenal sebagai makanan khas masyarakat Sakra, Lotim.


Abdul Hayyi menyebut percepatan pengusulan Temrodok juga berkaitan dengan kekhawatiran munculnya klaim dari daerah lain. Pasalnya, saat ini Temrodok mulai dikenal dan ditemukan di berbagai wilayah.


“Temrodok ini jajanan lokal yang perlu dilestarikan dan sedang berkembang. Asalnya dari Sakra. Jangan sampai nanti diklaim atau diakui sebagai milik daerah lain,” tegasnya.


Menurutnya, penetapan sebagai WBTB Nasional juga dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat identitas dan perlindungan terhadap keberadaan budaya lokal tersebut, termasuk membuka peluang perlindungan kekayaan intelektual di masa mendatang.


Pemkab Lotim berharap apabila Temrodok dan Belanjakan nantinya ditetapkan sebagai WBTB Nasional, pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap upaya pelestarian dan pengembangannya.


“Harapan kami dari pemerintah pusat, supaya menjadi prioritas dalam pelestarian dan pengembangan. Kalau ada dana atau program untuk pelestarian, kita bisa mendapatkan dukungan,” kata Abdul Hayyi.


Ia menilai dukungan pemerintah sangat penting karena pelestarian budaya membutuhkan biaya, terutama dalam hal dokumentasi, pengembangan, promosi, serta keberlanjutan pelaku budaya dan masyarakat yang selama ini mempertahankannya.
“Kalau tidak ada dukungan, masyarakat juga agak sulit untuk melakukan pelestarian,” demikian tutupnya. (rus)

Krisis Air Bersih di Gili Trawangan, Pengusaha Hotel akan Surati Presiden

0
Krisis Air Bersih di Gili Trawangan, Pengusaha Hotel akan Surati Presiden
(EKBIS NTB/ist) KRISI AIR - Gili Trawangan menghadapi krisis air bersih

Mataram (EKBIS NTB) – Krisis air bersih di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mulai membuat pelaku usaha pariwisata resah. Merakapun akan mengadukan hal ini kepada Presiden. “Insya Allah, kalau sampai besok tidak ada (kepastian), saya akan membuat surat dengan nama IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association). Saya akan bersurat ke Presiden,” kata Ketua IHGMA NTB, sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan, Lalu. Kusnawan, Jumat, 4 September 2026.


Diketahui, gangguan pasokan air bersih di Gili Trawangan terganggu. Dampaknya, operasional hotel terganggu, sekaligus mengancam citra Gili Trawangan sebagai destinasi wisata internasional.


Lalu Kusnawan, mengatakan pasokan air bersih terganggu di saat sedang memasuki hight session atau tingginya tingkat hunian hotel memasuki musim ramai.


Menurutnya, kondisi ini sebenarnya sudah terjadi sebelumnya, namun pelaku usaha masih dapat menyiasatinya. Persoalan menjadi semakin serius ketika pasokan air benar-benar terhenti sejak Kamis (3/9) sekitar pukul 00.00 WITA.


Pelaku usaha pun mulai mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air. Sebagian pengusaha mendatangkan air dari daratan (membeli air galon). Ada pula yang memanfaatkan air kolam renang yang kemudian diolah kembali menggunakan filter untuk kebutuhan tertentu.


Imbauan untuk menghemat air yang disampaikan pengelola layanan air dinilai tidak realistis.


“Tidak mungkin setiap tamu disuruh ngirit. Apa yang mau dihemat kalau stoknya memang tidak ada?” katanya.


Kusnawan menegaskan, persoalan air bersih tidak hanya menyangkut kepentingan bisnis hotel, tetapi juga keberlangsungan Gili Trawangan sebagai destinasi wisata internasional. Dari sisi bisnis, menurutnya, gangguan air selama satu jam saja sudah dapat memengaruhi pelayanan hotel. Apalagi jika berlangsung berhari-hari.


Sementara dari sisi destinasi, ia menilai sangat ironis jika kawasan pariwisata strategis nasional (KSPN) ini justru tidak memiliki kepastian pasokan air bersih.


Kusnawan mengaku telah berkoordinasi dengan Bupati Lombok Utara, Gubernur NTB, serta Kepala Dinas Pariwisata NTB terkait persoalan tersebut.


“Karena ini bukan hanya persoalan destinasi. Kita kesampingkan dulu pariwisatanya. Dasar yang dibutuhkan rakyat adalah air,” tegasnya.
Menurutnya, Gili Trawangan juga memiliki status dan kepentingan yang kompleks, mulai dari kawasan konservasi laut hingga kawasan pariwisata internasional. Karena itu, pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus memiliki persepsi serta kebijakan yang sejalan.


Persoalan air bersih di kawasan Tiga Gili bukan persoalan baru. Masalah tersebut bahkan telah menjadi perhatian pemerintah sejak beberapa tahun lalu, termasuk pada era Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.


Karena itu, ia mempertanyakan mengapa persoalan mendasar seperti air bersih belum menjadi prioritas dalam pengembangan destinasi wisata unggulan.


Jika persoalan tidak segera mendapatkan kepastian penyelesaian, Kusnawan memastikan pihaknya akan menyampaikan aspirasi secara langsung ke pemerintah pusat.


“Kami akan bersurat ke Presiden,” tegasnya.
Sebelumnya, layanan air bersih di Gili Trawangan, mengalami gangguan serius terjadi karena sistem penyediaan air bersih seawater reverse osmosis (SWRO) masih dalam proses penyesuaian operasional transisional, termasuk aspek teknis, perizinan, dan pengendalian lingkungan.


Manajer Hubungan Langganan PDAM, Abdul Kadir Jaelani, melalui keterangan resmi pada Kamis (3/9/2026), mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, PT TCN, dan instansi terkait tengah melakukan penanganan.


PDAM belum dapat memastikan kapan layanan air bersih akan kembali normal. PDAM mengimbau hotel dan restoran di kawasan Gili Trawangan untuk melakukan penghematan air secara ketat. (bul)

Promosi ke Malaysia, Pelaku Industri Pariwisata NTB Incar Rp30 Miliar Transaksi

0
Promosi ke Malaysia, Pelaku Industri Pariwisata NTB Incar Rp30 Miliar Transaksi
(EKBISNTB/ist) MATTA FAIR - Ketua Astindo NTB, Sahlan M Saleh beserta pelaku industri pariwisata NTB terbang ke Malaysia untuk ikut ambil bagian di MATTA FAIR Malaysia

Mataram (EKBIS NTB) – Pelaku industri pariwisata NTB mengikuti kegiatan table top dan MATTA Fair Malaysia. Dari “jualan” destinasi wisata Lombok, dan Sumbawa, pelaku pariwisata NTB ini membidik Rp30 miliar transaksi.


Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Astindo) NTB, Sahlan M. Saleh, mengatakan kegiatan table top menjadi bagian dari rangkaian promosi pariwisata NTB untuk mempertemukan pelaku industri daerah dengan pasar Malaysia.


Kali ini, NTB membawa 12 seller yang terdiri atas perwakilan hotel dan agen perjalanan. Mereka bertemu sekitar 60 buyer dari Kuala Lumpur untuk menawarkan berbagai paket dan destinasi wisata di Lombok dan Sumbawa.


“Ini salah satu kegiatan kolaborasi antara Dinas Pariwisata, BPPD NTB dan asosiasi pariwisata dalam mempromosikan Lombok dan Sumbawa di luar negeri,” ujar Sahlan, Jumat, 4 September 2026.


Menurutnya, Malaysia menjadi salah satu pasar penting bagi pariwisata NTB, terutama karena merupakan penyumbang wisatawan mancanegara melalui penerbangan udara. Karakteristik wisatawan Malaysia juga dinilai sesuai dengan beragam produk wisata yang dimiliki Lombok dan Sumbawa.


Dalam table top tersebut, pelaku industri NTB tidak hanya menawarkan destinasi yang sudah populer, tetapi juga memperkenalkan sejumlah potensi wisata yang belum banyak diketahui pasar Malaysia.


Di antaranya wisata hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta sejumlah gili di Lombok.


Sahlan mengatakan, sejumlah buyer Malaysia mengaku tertarik setelah mengetahui potensi wisata tersebut.


“Masih banyak agen dari Malaysia yang belum mengetahui destinasi seperti hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta gili-gili yang banyak di Lombok. Ini menjadi produk yang menarik wisatawan,” katanya.


Pihaknya menargetkan transaksi sekitar Rp5 miliar. Sementara pada MATTA Fair yang berlangsung 4-6 September, target transaksi dari industri pariwisata NTB dipatok mencapai Rp25 miliar. Dengan demikian, total transaksi yang dibidik dari rangkaian promosi di Malaysia mencapai sekitar Rp30 miliar.


Sahlan menegaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar dan mendorong Lombok dan Sumbawa semakin dikenal di pasar internasional.


“Ini adalah upaya kami untuk terus mendorong agar destinasi Lombok dan Sumbawa menjadi destinasi mendunia, harapan kami, tahun 2027 bisa melakukan lebih banyak promosi, termasuk ke China, Korea, Eropa dan Amerika,” tandasnya. (bul)

BI NTB Ungkap Hasil Kajian Dampak Pariwisata

0
BI NTB Ungkap Hasil Kajian Dampak Pariwisata
(EKBIS NTB/bul) SWAFOTO - Dua wisatawan asing berfoto di salah satu sudut ikonik di Bandara Lombok

Mataram (EKBIS NTB) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB telah mencermati perkembangan sektor pariwisata sebagai salah satu program unggulan di daerah. Bank Indonesia melakukan kajian melalui pendekatan tiga indikator lapangan usaha yang berkaitan erat dengan pariwisata, yakni perdagangan, transportasi, serta akomodasi dan makan minum.


Kepala Kantor Perwakilan BI NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan pemetaan dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan pariwisata memberikan dampak terhadap perekonomian NTB.


“Kita cermati perkembangan sektor pariwisata karena menjadi visi misi dalam NTB Makmur Mendunia. Bagaimana pergerakannya, makanya kami coba melihat dari tiga lapangan usaha tersebut,” jelas Hario.


Dikemukakan, tiga lapangan usaha tersebut secara total memberikan kontribusi sekitar 21,5 persen terhadap PDRB NTB. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor yang berkaitan dengan pariwisata juga memiliki peran besar, dengan sekitar 28 persen pekerja NTB berada di dalamnya.


Data BI juga menunjukkan perkembangan kunjungan wisatawan ke NTB terus bergerak positif. Hingga Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 8,88 juta orang, dengan pertumbuhan sebesar 5,34 persen dibandingkan periode yang sama.


Dari sebaran kunjungan tersebut, Kota Mataram menjadi salah satu daerah dengan jumlah kunjungan tertinggi, disusul Lombok Barat dan Lombok Tengah. Kondisi ini menunjukkan aktivitas pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada satu destinasi, tetapi memberikan dampak ke berbagai wilayah.


Hario mengatakan, potensi pariwisata di kawasan Mandalika juga terus berkembang, terutama dengan konsep sport tourism. Berbagai agenda olahraga internasional dinilai mampu menjadi pemicu pergerakan ekonomi, termasuk gelaran MotoGP Mandalika pada Oktober 2026 ini.


“Potensi wisata di Mandalika terus berkembang dengan mendukung konsep sport tourism dan event internasional yang besar, yaitu MotoGP. Dengan adanya MotoGP Oktober, ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi NTB,” ujarnya.


Karena itu, BI NTB, lanjut Hario, juga terus memberikan dukungan terhadap pengembangan destinasi dan desa wisata. Salah satunya melalui dukungan kepada Desa Wisata Bilabante yang telah menjadi salah satu desa wisata yang dipromosikan dalam berbagai ajang pariwisata.


Di sisi lain, BI NTB turut memberi perhatian terhadap kondisi Desa Adat Sade di Lombok Tengah yang mengalami kebakaran. Musibah tersebut menurut Hario, tidak hanya berdampak terhadap masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan salah satu destinasi budaya yang menjadi ikon pariwisata Lombok, NTB.


“Makanya kami juga menyerukan pemulihan Desa Adat Sade,” kata Hario.
Menurutnya, pemulihan Sade yang sudah mulai dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh stakeholder menjadi bagian penting dari daya tarik wisata NTB seterusnya. (bul)

Dorong Kreativitas Warga

0
Dorong Kreativitas Warga
Erma Suryani (Suara NTB/pan)

PEMERINTAH Kecamatan Ampenan terus mendorong ruang kreativitas masyarakat melalui pengembangan inovasi teknologi tepat guna. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai program di tingkat kecamatan, salah satunya program “Tingkan Gegana”.

Program Tingkan Gegana menjadi wadah pameran inovasi teknologi tepat guna sekaligus pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menampilkan beragam makanan serta produk khas lokal.

Camat Ampenan, Erma Suryani, mengatakan pengembangan inovasi teknologi tepat guna serta produk kuliner lokal telah menjadi bagian dari program pemerintah kecamatan yang dilaksanakan secara kolaboratif.

“Memang kalau di wilayah Ampenan sudah terkolaborasi. Di kecamatan ada program Tingkan Gegana,” ujarnya, Jumat (4/9).

Ia menuturkan, sebelumnya Pemerintah Kecamatan Ampenan rutin menggelar Pekan Inovasi Kelurahan dan Teknologi Tepat Guna. Namun, kegiatan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena adanya efisiensi anggaran.

Meski demikian, pemerintah kecamatan tetap berupaya memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan berbagai hasil kreativitas dan inovasinya. Salah satunya melalui kegiatan Tanam Huis Ampenan 2026 yang melibatkan sejumlah produk inovasi dari kelurahan maupun masyarakat.

Menurut Erma, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah kecamatan untuk mendorong sekaligus memfasilitasi masyarakat yang memiliki kreativitas dan inovasi, termasuk melalui pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.

“Itu cara kami memunculkan inovasi-inovasi yang ada di masing-masing kelurahan,” katanya.

Selain menjadi ruang untuk menampilkan hasil karya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana sosialisasi dan mendorong kelurahan yang belum memiliki karya atau inovasi agar dapat mengembangkan potensinya.

Erma menyebutkan, pada tahun-tahun sebelumnya sejumlah kelurahan di Kecamatan Ampenan berhasil meraih penghargaan dalam ajang inovasi tingkat Kota Mataram. Salah satunya Kelurahan Ampenan Selatan melalui program “Tersayang” atau Terbuang Bisa Jadi Uang.

Program tersebut mengembangkan pemanfaatan sampah rumah tangga dengan cara mendaur ulangnya menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomis.

Di sisi lain, Erma mengatakan keberadaan Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) juga menjadi ruang kolaborasi bagi kelurahan dan masyarakat dalam mengembangkan berbagai inovasi.

“Posyantek juga menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan inovasi yang ada di kelurahan,” ujarnya. (pan)

928 Pedagang Pasar Kebon Roek akan Ditata Ulang

0
928 Pedagang Pasar Kebon Roek akan Ditata Ulang
PEDAGANG SAYUR - Sejumlah pedagang sayur di Pasar Kebon Roek Ampenan, Jumat (4/9/2026). (Suara NTB/pan)

Mataram (EKBIS NTB) – Pengelola Pasar Kebon Roek Ampenan, Kota Mataram, berencana menata ulang ratusan pedagang untuk meningkatkan ketertiban sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan ruang di kawasan pasar.

Berdasarkan data pengelola, hampir 928 pedagang tercatat beraktivitas di Pasar Kebon Roek. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 600 pedagang tetap yang telah memiliki izin resmi dan lebih dari 200 pedagang musiman yang mayoritas berjualan di area parkir depan pasar.

Kepala Pasar Kebon Roek, Malwi, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah los atau area di bagian dalam pasar untuk menampung pedagang musiman yang selama ini berjualan di area parkir.

Penataan tersebut nantinya diikuti dengan pemberian Surat Izin Penempatan (SIP) oleh Dinas Perdagangan Kota Mataram. Legalitas itu sekaligus menjadi dasar bagi pedagang untuk memenuhi kewajiban pembayaran retribusi bulanan.

“Kami ingin menertibkan pedagang di area parkir agar masuk ke los bagian dalam,” ujar Malwi, Jumat (4/9).

Menurutnya, kekhawatiran pedagang terkait potensi sepinya pembeli setelah dipindahkan ke bagian dalam pasar menjadi salah satu perhatian pengelola. Namun, ia optimistis persoalan tersebut dapat diatasi seiring dengan pembenahan fasilitas pasar.

Malwi mengatakan sejumlah fasilitas di Pasar Kebon Roek masih dalam proses perbaikan. Pengelola berharap kondisi pasar yang semakin layak, bersih, dan tertata dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat sehingga minat untuk berbelanja kembali tumbuh.

Di sisi lain, pengelola Pasar Kebon Roek masih menghadapi tantangan dalam memenuhi target penerimaan retribusi. Target retribusi pasar ditetapkan sekitar Rp2,26 juta per hari.

Penurunan omzet sejumlah pedagang tetap, terutama yang bergerak di sektor aksesori, turut memengaruhi penerimaan. Kondisi tersebut dipicu oleh maraknya perdagangan secara daring serta persaingan dengan pasar modern.

Sebagian pedagang bahkan memilih menutup tokonya karena minimnya aktivitas jual beli. Sementara pedagang lainnya masih mempertahankan toko, tetapi lebih banyak menggunakannya sebagai tempat penyimpanan barang.

Untuk mengantisipasi berkurangnya penerimaan dari pedagang tetap, pengelola menerapkan penarikan retribusi harian bagi pedagang yang berjualan di kawasan pasar. Sesuai ketentuan, retribusi harian dikenakan sebesar Rp1.000 per meter.

“Kebijakan ini yang membantu menutup kekurangan target retribusi harian kita,” kata Malwi.

Selain melakukan penataan di dalam pasar, pengelola juga berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Kota Mataram untuk menertibkan aktivitas perdagangan di area luar pasar. Langkah tersebut dilakukan agar kawasan sekitar pasar tidak terlihat semrawut sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap kelancaran lalu lintas. (pan)

Astra Motor NTB Apresiasi Konsumen Setia Lewat Rolling City dan Promo Khusus Aplikasi Motorku X

0
Astra Motor NTB Gelar "Rolling City Harpelnas 2026" bersama Komunitas dan Konsumen Setia Motor Honda, Jumat (4/9/2026) di Kota Mataram. (Ekbis NTB/fan)

Mataram (Ekbis NTB) — Menyambut momen Hari Pelanggan Nasional, Astra Motor NTB memberikan bentuk apresiasi kepada puluhan konsumen setia dan komunitas pengguna sepeda motor Honda di Nusa Tenggara Barat. Acara peringatan kali ini dikemas berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya melalui kegiatan rolling city dan gathering bersama.

Customer Care Manager Astra Motor NTB, Anggi Irawan, saat ditemui di sela-sela acara Rolling City Harpelnas 2026 pada Jumat 4 September 2026 menjelaskan, bahwa agenda tahun ini melibatkan sekitar 30 peserta yang terdiri dari 15 konsumen undangan khusus serta 15 perwakilan dari komunitas Honda. Para peserta diajak berkendara bersama melintasi rute kota, dimulai dari kantor Main Dealer Astra Motor NTB, melewati kawasan Lingkar dan Tembolak Pelangi, hingga berakhir di Cafe Bajawa.

“Tahun-tahun sebelumnya kami memberikan apresiasi dengan mendatangi langsung rumah konsumen. Tahun ini kami ingin menghadirkan suasana berbeda melalui kegiatan rolling city dan gathering agar bisa saling berinteraksi secara lebih dekat,” ujar Anggi saat ditemui di lokasi acara.

Selain kegiatan bersama, Astra Motor NTB juga menghadirkan beragam penawaran khusus melalui aplikasi Motorku X. Konsumen setia dapat memanfaatkan voucher diskon servis dan perawatan kendaraan mulai dari Rp5.000 hingga Rp150.000, serta penukaran poin HappyGo untuk mendapatkan potongan harga di sejumlah merchant mitra.

Tak hanya promo berkala, Astra Motor NTB turut mengingatkan kesiapan penanganan darurat melalui layanan Honda Care. Dengan didukung sekitar 10 armada yang tersebar di wilayah Lombok dan titik strategis di Sumbawa, tim mekanik disiagakan untuk memberikan bantuan darurat di jalan maupun servis kunjung ke rumah konsumen melalui hotline 1500989.

Sementara itu, salah satu anggota komunitas Honda, Agusma Wirawan, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang konsisten diberikan oleh pihak Astra Motor NTB kepada para pengguna jalan.

“Honda tidak sekadar menjual produk, tetapi juga merawat dan menjaga hubungan baik dengan para konsumen serta komunitas. Acara hari ini sangat seru, mulai dari touring bersama hingga jamuan dan permainan interaktif,” ungkap pengunggang Honda CB150 StreetFire tersebut.

Melalui apresiasi bertema kebersamaan ini, Astra Motor NTB berharap dapat terus mempererat hubungan dengan para pelanggan setia sekaligus menggali aspirasi konsumen demi peningkatan kualitas layanan di masa mendatang. (fan)

Layanan Honda Care Hadirkan Solusi Cepat Saat Darurat di Jalan

0
Customer Care Manager Astra Motor NTB, Anggi Irawan

Mataram (Ekbis NTB) — Kehadiran layanan darurat di jalan kini menjadi salah satu fasilitas penting bagi para pengendara sepeda motor. Melalui program Honda Care, pengguna sepeda motor Honda dapat memperoleh bantuan cepat saat menghadapi kondisi darurat maupun kebutuhan perawatan kendaraan di lokasi.

Pengalaman memanfaatkan layanan ini dirasakan langsung oleh M. Rasid Pebrilian, yang akrab disapa Brian. Saat sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja, Brian mendapat kabar bahwa adiknya mengalami kecelakaan lalu lintas. Setibanya di lokasi kejadian, ia mendapati sepeda motor adiknya mengalami kerusakan yang cukup parah.

Dalam situasi tersebut, Brian memutuskan untuk menghubungi Honda Care agar mendapatkan penanganan dari dealer resmi terdekat.

“Responsnya sangat baik dan cepat. Sekitar 10 sampai 15 menit petugas sudah datang ke lokasi kecelakaan. Sepeda motor langsung diangkut, dibawa ke dealer, dan diperbaiki sampai selesai,” ujar Brian.

Customer Care Manager Astra Motor NTB, Anggi Irawan, menjelaskan bahwa layanan Honda Care dirancang untuk semakin mendekatkan Honda dengan konsumen serta memberikan kepastian pertolongan saat berada dalam kondisi sulit di jalan.

Selain penanganan kondisi darurat di lokasi kejadian, layanan ini juga menyediakan fasilitas servis kunjung bagi konsumen yang ingin melakukan perawatan berkala tanpa harus datang ke bengkel resmi.

“Jika konsumen mengalami kendala di jalan atau membutuhkan servis rutin di rumah, mereka dapat menghubungi kami melalui hotline di nomor 1500989 atau kontak resmi main dealer Honda,” jelas Anggi Irawan.

Untuk menunjang operasional di wilayah Nusa Tenggara Barat, armada Honda Care kini disiagakan di berbagai titik strategis. Sebanyak kurang lebih 10 unit armada siap melayani konsumen yang tersebar di wilayah Lombok serta beberapa area di Sumbawa. Para mekanik disiagakan untuk langsung menuju lokasi darurat maupun kediaman konsumen yang membutuhkan bantuan. (fan)

Terbang ke Malaysia, Pelaku Industri Pariwisata NTB Bidik Rp30 Miliar Transaksi

0

Mataram (ekbisntb.com) – Pelaku industri pariwisata NTB mengikuti kegiatan table top dan MATTA Fair Malaysia. Dari “jualan” destinasi wisata Lombok, dan Sumbawa, pelaku pariwisata NTB ini membidik Rp30 miliar transaksi.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Astindo) NTB, Sahlan M. Saleh, mengatakan kegiatan table top menjadi bagian dari rangkaian promosi pariwisata NTB untuk mempertemukan pelaku industri daerah dengan pasar Malaysia.

Kali ini, NTB membawa 12 seller yang terdiri atas perwakilan hotel dan agen perjalanan. Mereka bertemu sekitar 60 buyer dari Kuala Lumpur untuk menawarkan berbagai paket dan destinasi wisata di Lombok dan Sumbawa.

“Ini salah satu kegiatan kolaborasi antara Dinas Pariwisata, BPPD NTB dan asosiasi pariwisata dalam mempromosikan Lombok dan Sumbawa di luar negeri,” ujar Sahlan, Jumat, 4 September 2026.

Menurutnya, Malaysia menjadi salah satu pasar penting bagi pariwisata NTB, terutama karena merupakan penyumbang wisatawan mancanegara melalui penerbangan udara. Karakteristik wisatawan Malaysia juga dinilai sesuai dengan beragam produk wisata yang dimiliki Lombok dan Sumbawa.

Dalam table top tersebut, pelaku industri NTB tidak hanya menawarkan destinasi yang sudah populer, tetapi juga memperkenalkan sejumlah potensi wisata yang belum banyak diketahui pasar Malaysia.

Di antaranya wisata hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta sejumlah gili di Lombok.

Sahlan mengatakan, sejumlah buyer Malaysia mengaku tertarik setelah mengetahui potensi wisata tersebut.

“Masih banyak agen dari Malaysia yang belum mengetahui destinasi seperti hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta gili-gili yang banyak di Lombok. Ini menjadi produk yang menarik wisatawan,” katanya.

Pihaknya menargetkan transaksi sekitar Rp5 miliar. Sementara pada MATTA Fair yang berlangsung 4-6 September, target transaksi dari industri pariwisata NTB dipatok mencapai Rp25 miliar. Dengan demikian, total transaksi yang dibidik dari rangkaian promosi di Malaysia mencapai sekitar Rp30 miliar.

Sahlan menegaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar dan mendorong Lombok dan Sumbawa semakin dikenal di pasar internasional.

“Ini adalah upaya kami untuk terus mendorong agar destinasi Lombok dan Sumbawa menjadi destinasi mendunia, harapan kami, tahun 2027 bisa melakukan lebih banyak promosi, termasuk ke China, Korea, Eropa dan Amerika,” tandasnya.(bul)