Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 675

Bellagio dan Gosh Kembali Hadir di Lombok Epicentrum Mall

0
Kegiatan Re-opening Bellagio dan Gosh berlangsung Sabtu 13 Juli2024 kemarin yang ditandai dengan pemberian bunga dan sertifikat mitra tenant dari LEM (ekbisntb.com/ris)

BELLAGIO dan Gosh kini kembali hadir di Lombok Epicentrum Mall (LEM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan barang-barang yang berkualitas dan fashion styling dengan harga yang bagus. Re-opening dua store ini berlangsung Sabtu 13 Juli 2024 kemarin yang dihadiri oleh operasional manager Bellagio dan Gosh, General Manager (GM) LEM Salim Abdad dan jajarannya. Lokasi store berada di ground floor depan restoran Kampung Melayu.

Operasional Manager Bellagio dan Gosh Hikmatullah Adi Soebarna mengatakan, hadirnya Bellagio dan Gosh merupakan store yang ke 85 dan 86 di Indonesia. Toko ini sebenarnya pernah buka di LEM, namun terdampak oleh pandemi tahun 2020 lalu sehingga manajemen memilih untuk tutup sementara waktu.

 “Namun pas kita survei lagi ke sini, Lombok ini juga merupakan salah satu target dari ekspansi kita di tahun 2024. Dengan buka di Lombok harapannya kita bisa menggapai kustomer-kustomer kita di Lombok area dan sekitarnya. Semoga dengan bukanya Gosh dan Bellagio ini bisa memenuhi kebutuhan sepatu yang affordable di Bellagio dan Gosh ini yang lebih fashionable,” kata Hikmatullah Adi Soebarna usai kegitan re-opening dua store tersebut.

Ia melihat pasar di Lombok lebih beragam, baik masyarakat lokal maupun wisatawan. Namun target pasar Bellagio menengah ke bawah dengan harga yang lebih murah. Sementara pasar Gosh lebih pada menengah ke atas, karena menjual barang yang fashionable dengan style anak-anak muda.

 “Kalau untuk diskon, kita tiga hari pertama dari hari ini ( Sabtu) sampai dengan Senin ini kita ada promo up to 20 persen. Namun setelah itu kita banyak barang-barang sales ya. Jadi otomatis promonya nggak putus,”  katanya.

Perbedaan dua toko ini kata Adi yaitu Bellagio menjual barang yang dipakai keseharian yang harganya relatif lebih murah. Sementara barang di Gosh lebih beragam dan warna-warni

 “Bellagio itu lebih flat, lebih santai. Kalau Gosh lebih warna warni, lebih colorfull. Barang yang dijual itu tas, sepatu, sendal, beragam jenis tas, dan asesoris lainnya,” tutupnya.

Sementara itu General Manager LEM Salim Abdad memberikan apresiasi kepada Bellagio dan Gosh yang kembali hadir di Lombok Epicentrum Mall untuk memenuhi kebutuhan konsumen terkait dengan barang-barang yang affordable dan fashionable.

 “Store ini pernah dulu buka di LEM, namun tutup sementara karena pandemi. Sekarang buka kembali di sini,” ujarnya.(ris)

Sejumlah Lahan Diklaim Warga Jadi Kendala Sertifikasi Aset

0
Abdul Basyir (ekbisntb/.com)

SEJUMLAH aset milik pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih diklaim oleh warga. Hal ini menjadi kendala dalam pensertifikatan.

“Jangankan yang belum disertifikatkan, yang sudah disertifikat juga ada yang diklaim oleh warga,” ungkap Kepala Bidang Aset Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Lotim Jumat 12 juli 2024.

Diantara aset dimaksud adalah mata air Ambung. Diketahui, penyelesaian mata air ini sempat diadukan Pemkab Lotim kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Contoh lainnya di Pantai Kerakat Kecamatan Pringgabaya. Warga mengklaim lahan itu menjadi milik mereka. Kondisi ini jelas menjadi penyebab tidak bisa mulus proses sertifikasi lahan aset milik pemerintah daerah.

Selain klaim warga, masalah aset milik Pemkab Lotim ini juga ada yang bersinggungan dengan aset milik pemerintah Provinsi NTB. Sejumlah aset di Lotim ini ada tercatat di provinsi dan juga tercatat di Pemkab Lotim.

“Ada dobel catat dengan provinsi,” ucapnya.

Contohnya, seluruh kantor UPTD Hutbun yang ada di 20 kecamatan se Lotim. Datanya saat ini belum diserahkan oleh provinsi. Pemkab Lotim sendiri sejauh ini sudah memanfaatkan aset tersebut menjadi fasilitas umum. Antara lain menjadi fasilitas kesehatan, taman pendidikan kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini. Ada juga yang ada di lingkungan pendopo Bupati itu masuk aset provinsi. “Kita manfaatkan daripada aset itu nganggur,” imbuhnya.

Mengatasi masalah dobel pencatatan ini, Pemprov NTB dan Pemkab Lotim sudah menggelar sejumlah pertemuanuntuk  membahasnya. Sesuai rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pemkab Lotim diminta menghapus data aset tersebut terlebih dulu dalam daftar aset baru kemudian nanti akan dihibahkan langsung oleh pemerintah provinsi NTB.

“Itu problem kita dan sudah udah ada pertemuan dengan provinsi saat pemeriksaan BPK,” terangnya. (rus)

Kembangkan Potensi Wisata Desa, Pemdes Tempos dan Banyu Urip Butuh Dukungan Pemda

0
Jalur tracking sepeda melintasi Desa Tempos dan Banyu Urip ini menjadi salah satu favorit bagi pesepeda. Pemdes Tempos dan Banyu Urip berharap Pemkab Lobar membantu mengembangkan kawasan ini. (ekbisnbt.com/ist)

Dua desa wisata di Lombok Barat (Lobar), yakni Desa Tempos dan Banyu Urip Kecamatan Gerung tengah berupaya mengembangkan potensi wisata yang ada di desa setempat. Dalam mengembangkan potensi desa tersebut, pemerintah desa (pemdes) butuh dukungan Pemkab Lobar. Dua desa ini sendiri strategis dari sisi lokasi, karena terkoneksi satu di desa dengan yang lain.

Kepala Desa Banyu Urip Selamet Riadi mengatakan, pihaknya sudah menata kawasan Jembatan Pelangi yang menjadi destinasi unggulan. Salah satunya menyiapkan spot Selfi Batu Palar, tak jauh dari Jembatan Pelangi. Konsepnya, bagian bawah akan dikembangkan sayur mayor, sehingga pengunjung bisa datang memetik sendiri. “Kita ingin kembangan wisata sayur, semacam agrowisata, kita sudah komunikasi dengan pemilik lahan,” kata Selamet akhir pekan kemarin.

Tak cukup dengan itu, ia ingin juga mengembangkan track bersepeda sepanjang jalan kabupaten yang sudah banyak dilalui para pesepeda. Jalur itu satu kesatuan atau satu jalur dengan Desa Tempos yang menawarkan keindahan sawah, dan pegunungan. Di lahan sawah, pihaknya akan mengembangkan lapak-lapak kuliner untuk warga berjualan aneka jajanan khas desa setempat.

Lapak kuliner itu rencananya akan dikembangkan di atas lahan Pemda yang berlokasi di ujung sawah seluas sekitar dua hektar. “Rencananya kami akan bangun lapak kuliner di sana,” ujarnya.

Sejauh ini belum ada komunikasi dengan Pemda Lobar untuk pemanfaatan lahan aset pemda ini. Tinggal pihaknya menunggu waktu yang tepat. Di sawah-sawah bagian pinggir, pihaknya sudah berkomunikasi dengan warga pemilik lahan untuk menyiapkan semacam vila bagi pengunjung. Untuk penyiapannya, warga bisa membangun sendiri atau dengan pihak ketiga.

Untuk penataan kawasan ini, rencananya Pemda Lobar akan membantu. Dan pihak desa akan mengalokasikan dari Dana Desa (DD). “Dinas akan bantu kami,” ujarnya.

Nilai lebih wisata desa itu, memiliki pemandangan alam sawah, dan pegunungan. Ada juga potensi kerajinan, tenun, dan seni budaya desa.

Sementara itu, Kepala Desa Tempos Sudirman mengatakan, pihaknya berencana melanjutkan penataan terhadap kawasan wisata “Mewah” (Mepet Sawah) yang saat ini masih diramai dikunjungi pengunjung.

Beberapa rencana penambahan wisata telah dirancang, termasuk pengembangan kuliner, dan jalur track bersepeda yang mengitari lahan sawah wisata kuliner Mepet Sawah tersebut dengan panjang lintasan hampir dua kilometer. Ada juga potensi yang akan dikembangkan menjadi paralayang. “Untuk melanjutkan penataan kami tunggu Masterplan dari Dispar,”kata Sudirman.

Pihaknya dibantu oleh Dinas Pariwisata untuk menyiapkan Masterplan Pengembangan Wisata Kuliner Mepet Sawah.

Ke depan, rencananya pihaknya akan mengalokasikan anggaran DD untuk pengembangan wisata ini. “Rencananya tahun 2025 kita alokasikan,”ujarnya.

Pihaknya juga akan mengaktifkan BUMDes untuk mengelola potensi wisata ini. BUMDes ini akan bisa mewadahi warga. Termasuk kerja sama pengelolaan lahan warga yang nantinya dijadikan perluasan wisata tersebut.

Pihaknya telah menata kawasan tersebut dengan menyiapkan lahan untuk lapak kuliner dan parkir.  Para pedagang tidak lagi berjualan di jalan, sehingga lalu lintas pun tidak terganggu lagi. Selain itu, pengunjung disiapkan tempat duduk di areal tersebut. Sebelum disiapkan lahan tersebut, jalur itu selalu ramai pada akhir pekan, sehingga menyebabkan kemacetan.(her)

Pertanyakan Peran OPD, Ketua DPRD Lobar Minta Pelaku Tak Bayar Pajak Galian Ditindak Tegas

0
H. Muhammad Adnan dan Hj. Nurhidayah (ekbisntb.com/her)

Ketua DPRD Lombok Barat (Lobar) Hj. Nurhidayah menyoroti pengelolaan tambang galian C, lantaran pendapatan daerah yang diperoleh tak sesuai dengan dampak kerugian yang dialami daerah. Karena itu, Pemkab Lobar diminta serius memaksimalkan potensi pajak dari Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) atau galian C ini.  Salah satunya proyek bendungan Meninting.

BENDUNGAN Meninting memang tidak menjual galian C. Namun aktivitas pembangunan proyek ini mengambil atau menggunakan galian C di daerah Lobar. “Sehingga yang wajib membayar (pajak) orang di sini atau penambang yang mendrop galian, kalau penerima tidak berkewajiban,”tegasnya.

Menurutnya, soal galian C ini, bicara aturan maka tidak memandang siapa pun itu. Termasuk kalau ada indikasi backing pada aktivitas galian C harus ditindak.  Semua pihak boleh mengusahakan galian, namun kewajiban juga harus disetorkan ke Pemda berupa pajak, termasuk mengurus izin. Lalu peranan Pemda melalui Satpol PP, juga harus lebih tegas lagi.

“Peranan Pemda dimana? Kita punya Satpol PP, seharusnya bisa menertibkan itu. Dia diberikan kewenangan untuk melakukan itu,” tegas Ketua DPC Gerindra Lobar tersebut, kemarin.

Selain satpol PP, ia juga minta agar Bapenda Lobar bertindak. OPD terkait harus mendorong untuk memaksimalkan potensi pajak ini.

Terkait izin memang diurus di provinsi, namun kalau ada yang menyalahi aturan, dan tidak membayar pajak ke daerah, maka peranan OPD. OPD harus rajin turun melihat aktivitas galian C ini. ‘’Kenapa mereka harus dikejar untuk bayar pajak, karena dampak aktivitas galian ini merugikan daerah. Jalan yang sudah dibangun dengan biaya tak sedikit rusak. Itu gunanya pajak dibayar agar kembali lagi ke warga,” ujarnya.

Salah satu potensi pajak galian yang belum dipungut adalah mega proyek strategis nasional Bendungan Meninting. Mega proyek ini mulai dibangun tahun 2019/2020. Terkait hal ini, pihak Pemkab Lobar sudah berkoordinasi dengan pihak pelaksana proyek.

Diketahui mega proyek Bendungan Meninting dibangun dengan anggaran Rp1,4 triliun tersebut memiliki luas genangan 53,6 hektare.

Kepala Bapenda Lobar H Muhammad Adnan mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak pelaksana proyek tersebut soal pajak MBLB tersebut. Dan pihak rekanan sejauh ini koopeatif, di mana salah satu rekanan mengundang Bapenda untuk berkoordinasi ekspose terkait Bendungan Meninting tersebut dan satu rekanan juga sudah dipanggil oleh Bapenda dan dihadiri juga PPK proyek tersebut.

“Kami berharap itu (pajak MBLB) dibayar ke Pemda dan pelaksana proyek sudah kooperatif, kita diundang sama dia (pihak pelaksana proyek). Dan kami juga sudah panggil,” jelasnya. (her)

Festival Bau Keke Pantai Serpiq Diharapkan Masuk Kalender Event Dispar

0
Pj Bupati Lobar H. Ilham menghadiri Festival Bau Keke di Pantai Serpiq Lembar, Minggu 14 Juli 2024. (ekbisntb.com/ist)

Bau Keke adalah salah satu tradisi unik dari masyarakat pesisir Pantai Serpiq Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar). Bau Keke adalah istilah bahasa Sasak yang dalam bahasa Indonesia berarti mengambil atau menangkap kerang.

Di Desa Lembar, Keke dengan mudah bisa ditemukan di pesisir pantai, terutama saat air laut sedang surut, sehingga membuat aktivitas Bau Keke ini kerap dilakukan warga sekitar. Tradisi unik ini kemudian dimanfaatkan pemerintah desa dan pemuda Desa Lembar untuk membuat sebuah event yang bertujuan mengundang wisatawan untuk datang ke Desa Lembar.

“Kami dari pimpinan yang ada di desa dan tokoh masyarakat, tokoh pemuda berkomitmen ingin menjadikan desa Lembar ini menjadi Desa tujuan wisata,” ucap Kepala Desa Lembar Sainah saat pembukaan Festival Budaya Bau Keke 2024 yang dilakukan di Pantai Serpiq, Kebon Bongor, Desa Lembar, Minggu 14 Juli 2024.

Oleh karena itu, sambungnya, pihaknya mengedukasi, mengadopsi kebiasaan masyarakat yang dalam kesehariannya mencari nafkah dengan Bau Keke. Itu kemudian dimodifikasi menjadi sebuah daya tarik supaya bagaimana wisatawan lokal maupun mancanegara bisa tertarik untuk berkunjung ke tempat ini.

Sainah, menjelaskan, jika Festival Bau Keke tahun ini merupakan kegiatan yang ke tiga kalinya, walaupun diakuinya sudah dilakukan sejak tahun 2016 yang lalu. “Sebenarnya kegiatan ini sudah kami laksanakan dari tahun 2016, tapi tidak kami lanjutkan dan kami laksanakan lagi mulai tahun 2023 yang lalu atas dasar banyaknya masukan dari berbagai pihak,” terangnya.

Pihaknya berharap Festival Bau Keke ini bisa masuk ke dalam kalender event pariwisata Lobar. Selain kegiatan utama yakni Bau Keke, event ini juga dirangkai dengan sejumlah legiatan dan atraksi seni seperti penampilan musik tradisional gendang beleq, atraksi presean dan kemping bersama di pantai Serpiq.

Di tempat yang sama, Penjabat (Pj) Bupati Lobar H. Ilham yang langsung hadir membuka Festival Bau Keke ini memeberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang dilakukan Pemerintah Desa Lembar dengan pemuda dan pihak lainnya, sehingga menghasilkan sebuah event yang menarik.

Bagi Ilham, Festival Bau Keke ini bukan hanya sebatas event untuk mendatangkan wisatawan, namun juga sebagai ajang melestarikan budaya atau tradisi di tengah gempuran budaya luar yang masuk sekarang ini. “Mempertahankan budaya yang tumbuh berkembang di daerah kita bukan pekerjaan yang mudah karena kita harus menghadapi tantangan budaya luar yang masuk ke daerah kita,” tutur Ilham.

Dalam hal ini, ujarnya, butuh komitmen yang kuat, harus memiliki semangat yang kuat dan harus butuh kebersamaan yang baik agar pelestarian budaya yang turun temurun dari nenek moyang sampai saat ini bisa dipertahankan. ‘’Jika tidak, maka budaya kita akan tergilas, akan tergusur oleh budaya luar dengan segala macam bentuknya yang pada akhirnya akan mengaburkan makna kearifan lokal yang ada di tempat kita masing-masing,” ujarnya mengingatkan.

Senada dengan Pj Bupati Lobar, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Lobar Irman Sumantri yang juga hadir di lokasi memberikan apresiasi pada Desa Lembar dalam upaya mengembangkan Desa Lembar menjadi destinasi wisata.

Selanjutnya ia berharap masyarakat yang saat ini mulai sadar akan potensi desa mereka sebagai tujuan wisata, menjadi lebih sadar terhadap sapta pesona pariwisata.”Dari aman, bersih, ramah dan seterusnya itu kita harap bisa kita upayakan di sini, sehingga efek yang dihasilkan dari event ini bisa dirasakan dalam waktu yang lama atau berkelanjutan yang berujung pada kesejahteraan masyarakat itu sendiri,” lanjutnya.

“Belum lagi letak Desa Lembar yang dekat dengan pelabuhan yang notabene merupakan pintu masuk wisatawan, tentu kami harap Desa Lembar bisa lebih maju lagi sehingga bisa menjadi opsi lain sebagai destinasi wisata di Lombok Barat,” tambahnya. (her)

Petani Tembakau Terbiasa Hadapi Cuaca Ekstrem 

0
Petani tembakau di Lotim sedang mengairi tanaman tembakaunya. (ekbisntb.com/rus)

MUSIM tanam tembakau di NTB tahun 2024 ini dihadapkan kembali pada tantangan kekeringan ekstrem. Kondisi ini memaksa para petani untuk berinovasi, bahkan ada yang menggunakan es batu balok untuk membantu pertumbuhan tanaman.

Sahminuddin, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Provinsi NTB, mengungkapkan potensi tanam tahun ini diperkirakan hampir sama dengan tahun lalu.

Sahminuddin (ekbisntb.com/dok)

“Tahun lalu, banyak petani yang terlambat menanam dan hasil panennya rusak akibat hujan. Namun, petani sudah terbiasa menghadapi tantangan cuaca ekstrem,” ujarnya pada Ekbis NTB pekan kemarin.

Sahminuddin menambahkan bahwa kekeringan justru dianggap lebih mudah diatasi oleh petani dibandingkan dengan hujan.  “Kalau kering, petani bisa menyiasatinya. Yang lebih dikhawatirkan adalah hujan deras yang bisa merusak tanaman,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan, Sahminuddin optimis  produksi tembakau tahun ini akan meningkat.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak petani yang menanam padi dua kali sekarang mulai menanam tembakau. Yang menanam padi sekali setahun, justru tembakaunya sudah mulai dipanen. Ini menunjukkan bahwa minat petani untuk menanam tembakau masih tinggi,” jelasnya.

Usia tembakau pada musim tanam tahun ini cukup variative, karena tidak dilakukan penanaman serentak akibat tantangan cuaca yang tidak menentu.

Sahminuddin menambahkan kondisi cuaca saat ini justru dianggap menguntungkan bagi tanaman tembakau. “Tembakau menyukai kondisi kering. Tidak membutuhkan air yang banyak. kualitas tembakau bisa menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Meskimenghadapi tantangan cuaca, permintaan tembakau tetap tinggi. Sahminuddin menjelaskan hal ini disebabkan maraknya produksi rokok ilegal.

“Selama pemerintah belum berhasil mengatasi peredaran rokok ilegal, permintaan tembakau akan terus meningkat. Pembuat rokok ilegal berani membeli tembakau dengan harga tinggi, karena tidak perlu membayar cukai,” ungkapnya.

Kondisi ini menjadi dilema bagi petani. Di satu sisi, harga tembakau yang tinggi sangat menarik. Namun di sisi lain, maraknya produksi rokok ilegal dikhawatirkan akan merusak harga tembakau dalam jangka panjang.

“Jika produsen rokok ilegal terus meningkat, harga tembakau bisa anjlok dan masa depan petani tembakau akan terancam,” demikian Sahminuddin.(bul)

Distan : Petani Lotim Luar Biasa

0
Mirza Sophian (ekbisntb.com/rus)

INOVASI yang dilakukan petani tembakau di bagian selatan Lombok Timur (Lotim) menggunakan es balok saat musim kemarau ini mendapat apresiasi dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lotim.

Kepala Bidang Perkebunan Distan Kabupaten Lotim, Mirza Sophian menyebut petani tembakau yang menggunakan es balok agar tanaman tembakaunya  tetap hidup saat musim kemarau sebagai ide yang luar biasa.

‘’Menanam menggunakan es batu di daerah kering menjadi bukti petani di Lotim ini hebat dan luar biasa. Petani kita cerdas karena selalu punya inovasi hadapi tantangan alam,’’ ujarnya pada Ekbis NTB pekan kemarin.

Selain petaninya yang hebat, menurut Mirza, komoditi tembakau punya daya tarik luar biasa. Saat tidak ada air masih bisa ditanam oleh petani. Tanaman tembakau ini tidaklah membutuhkan air yang besar. Dengan air secukupnya, masih bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Diakuinya, tanaman tembakau jika dibandingkan dengan komoditi lain dari sisi penggunaan air jauh lebih efisien. Inovasi petani di wilayah selatan yang kekurangan air ini menjadi bukti petani cukup tangguh.

Saat ini, kondisi cuaca sangat susah sekali diprediksi. Ramalan cuaca dari Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) terjadi anomali cuaca.

Menurut Mirza, sosialisasi Dinas Pertanian agar antisipasi anomali cuaca dinilai sudah berhasil. “Alhamdulillah sosialisasi berhasil antisipasi perubahan cuaca, petani sudah bikin drainase untuk menghadapi La Nina,’’ ujarnya.

Untuk pengairan, Bendungan Pandanduri ini hanya bisa sampai di Pandan Wangi. Sedangkan di wilayah selatan lagi, Wakan, Pene, Batu Nampar dan Batu Nampar Selatan diakuinya cukup kering, karena tidak dijangkau aliran bendungan.

Terhadap lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh bendungan akan coba dihadirkan sumur bor. Saat ini sedang dilakukan survei di beberapa tempat untuk kemudian diusulkan pembangunan sumur bor. Harapannya ke depan bisa lebih mudah bagi petani dalam mengakses air, sehingga tidak lagi harus mengeluarkan biaya ekstra saat menanam tembakau. (rus)

Bagian dari ‘’Smart Farming’’

0
Suwardji (ekbisntb.com/ris)

PENGGUNAAN es balok untuk memenuhi kebutuhan air tanaman tembakau di musim kemarau ini menjadi salah satu solusi bagi petani. Bahkan cara ini dipandang sebagai salah satu smart farming atau pertanian dengan pendekatan inovasi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) Prof. Suwardji mengatakan, meski pertanian dengan cara ini cukup unik, namun harus dilakukan kalkulasi pembiayaan. Jika hal ini dinilai tak membebani biaya produksi, hal ini tentu menjadi solusi yang efisien.

“Menjadi bagian smart farming memang, namun harus dihitung-hitung biaya produksinya. Per hektare berapa biayanya,” kata Prof Suwardji kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Ia mengatakan, air tanah di Lombok Timur sebenarnya tak terlalu dalam, sehingga air bisa diambil dari sumur-sumur pertanian. Dengan cara itu, petani sesungguhnya bisa lebih hemat dalam berproduksi tanpa membeli balok es.

Suwardji menambahkan, kebutuhan air untuk tembakau pada dasarnya tak terlalu banyak, sehingga cocok ditanam di musim kemarau. Namun demikian, pemberian air tetap dibutuhkan dengan kader tertentu.

“Tanam tembakau sebenarnya mahal, ada biaya membuat bedengan, biaya pupuk, perawatan dan lain sebagainya. Sehingga penggunaan es balok menjadi tambahan input biaya,” imbuhnya.

Ia mengutip prakiraan cuaca dari BMKG yang menyatakan bahwa tahun ini merupakan musim kemarau basah, di mana di musim kemarau akan terjadi hujan dengan intensitas tertentu di beberapa daerah, sehingga diharapkan petani tembakau tak kekurangan air. (ris)

Gunakan Es Balok, Cara Cerdas Petani Tembakau Bertahan di Musim Kemarau

0
Petani di Lotim menggunakan es balok untuk mengairi tembakaunya agar tidak mati. Penggunaan es balok ini dilakukan, karena musim kemarau. (ekbisntb.com/rus)

Pulau Lombok, khususnya Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satu penghasil utama tembakau di NTB. Musim kemarau sekarang ini menjadi salah satu musim yang ditunggu petani tembakau, khususnya di Lotim bagian selatan. Meski musim kemarau, jika tidak ada air yang dipergunakan mengairi tanaman tembakau, maka tidak akan ada hasilnya. Bagi petani tembakau di Lotim bagian selatan, ide kreatif menggunakan es balok merupakan cara cerdas bertahan di tengah musim kemarau.

KEMARAU yang melanda beberapa bulan terakhir ini membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Lotim mengalami kekeringan. Kondisi ini berdampak besar pada petani. Utamanya petani tembakau yang memasuki musim tanam.

Lahan-lahan pertanian di wilayah Selatan Lotim, utamanya dengan Kecamatan Jerowaru ini terlihat kering, mengeras dan retak. Panas yang menyengat sepanjang hari membuat petani tak bisa tanam tembakau.

Kemarau yang membuat tanah mengering ini tak membuat petani patah semangat. Petani mencoba bertahan menghadapi kekeringan. Prinsip tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada air, es batu pun jadi.  Penggunaan es batu ini terbilang menjadi salah satu inovasi petani. Jika tidak, tanaman tembakau tidak akan tumbuh seperti diharapkan.

Seperti terpantau di Desa Pene Kecamatan Jerowaru. Panas sepanjang hari bukan berarti membiarkan lahannya mengangga dan kering atau tidak menghasilkan. Menjadikan lahan yang kering dan jauh dari sumber mata air menghasilkan seperti halnya di Lotim bagian utara meningkatkan perekonomian harus dilakukan.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Jerowaru yang juga petani tembakau, Habibi menuturkan, musim tanam 2024 ini sama seperti musim tanam 2018 lalu. Menurutnya, musim tanam tembakau ini seperti  siklus lima tahunan. Kemarau ini lebih cepat mengeringkan lahan. Biasanya, kemarau tahun sebelumnya, masih ada sisa air yang membasahi lahan pertanian usai panen padi. Namun, kemarau kali ini dinilai sangat parah. Selesai panen, tanah kering dan seperti tidak lagi bisa dipergunakan menanam tembakau.

Untuk itu, pengalaman lima tahun silam, menggunakan es batu kembali dilakukan petani. Petani tembakau di Dusun Sagik Mateng, Desa Pene dalam satu hektar lahan membutuhkan 50 balok es batu. Krisis air di Desa Pene ini diakui biasa terjadi sepanjang musim. Akan tetapi, tahun ini disebut cukup parah.

Pada musim tanam tahun sebelumnya masih ada sisa air hujan yang bisa digunakan petani. Kejadian tahun 2018 silam, tuturnya kembali terulang. “Tahun 2018 lalu kita di sini pernah pakai es batu, sekarang kembali terulang karena memang tidak ada air,” ungkapnya.

Diketahui, tanaman tembakau merupakan jenis tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air. Sisa lahan yang masih basah di penghujung musim hujan masih bisa digunakan biasanya setiap tahunnya langsung menanam tembakau. Seperti siklus lima tahunan, tahun ini lahan sangat kering, sehingga terpaksa harus dibasahi dulu pakai es batu baru bisa petani menanam bibit tembakau.

Penggunaan es batu ini dilakukan petani di Desa Pene sejak tiga bulan terakhir. Petani membeli es balok di Dusun Tutuq Desa Jerowaru. “Langsung petani beli di pabriknya,” ujar Habibi.

Alasan lain menggunakan es batu balok ini karena dinilai lebih efisien. Petani bisa menghemat biaya dibandingkan dengan membeli air satu tangki, petani lebih memilih membeli es dan juga lebih efektif sebaran sasaran penggunaannya.

Meski demikian, petani masih tetap membeli air untuk menyiram tanaman tembakau yang sudah ditanam

Hal senada diakui  Noviana. Diakuinya, pilihannya menggunakan es batu untuk membasahi tanah yang sudah dilubangi sebagai tempat tanam. Es batu berbentuk balok ini dibeli seharga Rp 15 ribu per balok.

Es terlebih dulu dipecah-pecah baru kemudian diletakkan di atas tanah yang akan ditanami tembakau. Setelah tanah basah, karena es yang mencair, baru kemudian dilakukan penanaman tembakau. Biasanya, siang harinya es batu ditaruh di lubang, kemudian sore hari dilanjutkan dengan menanam tembakau.

Karena kondisi lahan yang sangat kering, Noviana mengaku sudah dua kali melakukan penanaman dengan juga menggunakan es batu. Pada tanam pertama, tembakaunya mati kekeringan. Tanam keduanya ini diharapkan tidak mati lagi, karena ada perlakuan khusus lagi dengan memantau terus perkembangan tanaman. ‘’Tembakau tetap dijaga agar tidak layu, kering dan mati. Harus tetap kita sirami lagi menggunakan air yang kita beli,” imbuhnya.

Air masih tetap dibutuhkan saat dilakukan pemupukan dan penyiraman-penyiraman berkala guna menjaga kesegaran tanaman. Seperti penuturan Zaidun pada tanaman tembakaunya yang sudah berusia 2 minggu.

Embung dan waduk warga sebagian besar sudah mengering, sehingga terpaksa harus membeli air tangki. Biasanya, untuk satu hektar lahan dibutuhkan sekitar 30 tangki air. Satu tangki berukuran 5.000 liter.

Musim tanam tembakau tahun ini pun dianggap cukup berat bagi petani. Biaya produksi pastinya akan lebih mahal. Mulai dari penanaman dana yang dibutuhkan untuk beli es batu saja Rp 15 ribu dikali 50 balok, Rp750 ribu. Bibit Rp 150 dikali 12 ribu kebutuhan bibit per hektar, maka untuk bibit saja butuh Rp1,8 juta. Beli air untuk penyiangan Rp 150 ribu dikalikan 30 tangki, maka butuh Rp 4,5 juta dana air per hektar.

Belum terhitung kebutuhan biaya buruh mulai dari penanaman, perawatan hingga panen tiba. Saat ini upah buruh Rp 30 ribu per orang. Dalam satu hektar lahan, dibutuhkan tenaga buruh 15-20 orang, sehingga ketika dikalkulasikan semua kebutuhan biaya produksi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Karenanya, harapan para petani tembakau di wilayah Lotim selatan ini harga jual tembakau harus memadai. Pada musim panen 2023 lalu, harga jualnya Rp 42,5 ribu per kilogram krosok. Hitungan petani, agar petani bisa untung maka arga tembakau sekarang minimal Rp 40 ribu perk ilogram krosok. Di bawah itu dipastikan petani merugi.

Mengingat besarnya biaya produksi mulai musim tanam ini, para petani tembakau ini berharap bisa dibantu oleh pemerintah. Setidaknya bantu mengurangi biaya produksi sehingga petani tidak terlalu besar mengeluarkan dana. Bantuan air untuk menyiram lahan sangat didambakan petani. Kondisi iklim ini membuat khawatir tumbuh kembang tanaman tembakau tidak baik. (rus)

Kiat Mengelola Emosi Bagi Ibu yang Mengalami “Baby Blues”

0
 ilustrasi ibu menggendong bayi (ekbisntb.com/merries)

Jakarta (ekbisntb.com) -Psikolog klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Vera Itabiliana Hadiwidjojo S.Psi, M.Psi menyampaikan bahwa baby blues terjadi pada sekitar 80 persen ibu yang baru melahirkan.

Saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Minggu 14 juli 2024 dia menyampaikan bahwa masalah psikologis tersebut biasanya membuat ibu yang baru melahirkan mengalami perubahan emosi seperti menjadi mudah marah, gampang menangis, mudah cemas, dan cepat merasa lelah.

“Baby blues itu bisa membawa beberapa dampak buruk ya, seperti depresi perinatal, kesulitan merawat bayi, gangguan kesehatan sampai dengan perubahan hubungan dengan bayi,” kata Vera.

Oleh karena itu, dia menyarankan ibu yang mengalami baby blues berusaha mengungkapkan emosi yang dirasakan kepada pasangan maupun orang-orang terdekat agar bisa segera mengatasi masalah tersebut.

Menurut dia, pasangan maupun anggota keluarga sebaiknya mendengarkan ungkapan perasaan ibu yang baru melahirkan tanpa menilai dan menghakimi agar ibu merasa nyaman dan merasa mendapat dukungan yang diperlukan.

Dia mengatakan bahwa ibu yang mengalami baby blues juga bisa mencoba mencurahkan perasaan dengan menulis diari atau catatan harian.

Selain itu, Vera mengatakan, ibu yang mengalami gejala baby blues dapat menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang dirasa menyenangkan untuk mengurangi stres seperti berolahraga bersama kawan.

“Meskipun ibu mungkin merasa lelah dan cemas, menghabiskan waktu dengan bayi pun juga dapat membantu mereka merasa lebih baik dan mengurangi stres,” katanya.

Ibu yang baru melahirkan pun dapat memilih menghabiskan waktu untuk diri sendiri, seperti dengan membaca buku kesukaan, untuk memperbaiki suasana hati dan mengurangi tingkat stres.

Vera menyampaikan bahwa ibu yang mengalami baby blues bisa pula memanfaatkan platform media sosial untuk berbagi pengalaman serta bertemu dengan anggota komunitas ibu yang mengalami masalah serupa agar mendapat dukungan mental.

Jika gejala baby blues pada ibu bertahan sampai dua minggu lebih, Vera mengatakan, maka keluarga sebaiknya segera meminta bantuan dari psikolog atau psikiater. (ant)