Sunday, April 19, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 584

Catatan Dr. Aka, Mengunjungi Pesanggrahan Bung Karno Saat Pengasingan Sang Proklamator di Parapat

0
Kamar Tidur Soekarno di Pesanggrahan Bung Karno Parapat (ekbisntb.com/ist)

Di sela kehadiran kami di Arena PON XXI 2024 Medan Sumatera Utara, kami berkesempatan dengan waktu yang ada untuk berkunjung ke Pesanggrahan Bung Karno di Parapat pada Kamis, 19 September 2024. Dari Medan kami menuju Berastagi menyusuri keindahan alam pada ruas Jalan Jamin Ginting, yang mengantarkan kami pada tujuan di Parapat Sumatera Utara.

Saat kami sampai pada sebuah bangunan yang nampak indah dengan halaman depan yang semakin indah dengan pemandangan Danau Toba, kami menunggu Zamzami, seorang petugas yang menjadi penjaga Mess sekaligus merawat Pesanggrahan Bung Karno, yang tugasnya menjaga dan merawat rumah bergaya Eropa yang dibangun tahun 1820 oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pria berdarah Minang yang akrab disapa dengan nama Pak Izam itu mengajak kami masuk Pesanggrahan. Begitu masuk di Pesanggrahan, Pak Izam mengawali penuturannya. Dia menyebut, tiga tokoh bangsa, Soekarno, KH Agus Salim dan Sutan Sjahrir diasingkan bersama di Pesanggrahan tersebut.

Sebulan sebelum pengasingan di Parapat, Soekarno diberangkatkan dari Bandara Maguwo di Yogja tanggal 22 Desember 1948 usai Agresi Militer Belanda ke II. Sang Proklamator diberangkatkan menuju Sumatera Utara, tepatnya ke Bandara Polonia dan dibawa ke Berastagi di Bukit Kubu selama 12 hari.

“Setelah menyampaikan tujuannya untuk memutuskan komunikasi antara Soekarno dan para pemimpin lain dan tujuan kedua agar Soekarno menggagalkan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 27 Desember, Soekarno disodorkan selembar surat, dibaca bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir. Disana Soekarno menegaskan tidak akan pernah menandatangani,” tutur Pak Izam.

Karena tidak mau menandatangani, Soekarno dibujuk akan diberi hadiah satu peti uang golden dan satu peti pakaian mewah. Tapi Soekarno tetap dengan pendiriannya. Belanda tak menyerah dan kembali menyatakan akan memberikan apapun permintaan Soekarno.

“Dan kembali Soekarno memberikan jawaban yang luar biasa yang tidak disangka oleh pemimpin tentara Belanda, Soekarno mengatakan, tunggu dulu saya tanya sama anak saya, kalau anak saya mau menandatangani surat ini, baru nanti saya tandatangani, disitu timbul pertanyaan Belanda siapa anaknya? Soekarno menjawab anak saya dari Sabang sampai Merauke,” tutur Pak Izam.

Karena Soekarno tidak mau menandatangani, timbullah niat tentara Belanda untuk meracuni Soekarno. Itu dilakukan keesokan harinya pada 29 Desember 1948 pagi. Seorang pelayan di pengasingan di Bukit Kubu bernama Karno Subiran diberikan satu botol kecil berisi cairan. Ia diminta mencampurkan cairan itu ke makanan Soekarno, dengan alasan vitamin untuk mereka bertiga.

Beruntung Subiran tidak percaya. Ia lalu mencampurnya dengan roti atau makanan yang biasa dimakan Soekarno. Semenit kemudian roti itu berubah warna menjadi hitam.

“Melihat hal tersbut Subiran melawan, katanya, ‘gila kau, masa pemimpinmu sendiri mau kau racuni’. Racun itu dibuang Subiran. Tentara Belanda tahu, dan karena Subiran membuang racun itu, dia pun jadi sasaran, dipukul, diseret dan dijadikan tahanan rumah di daerah Berastagi dan ingin dieksekusi oleh tentara Belanda, tapi dengan lantang Subiran  menjawab siap mati demi pemimpin bangsa, dan disitulah Belanda mundur,” cerita Pak Izam.

Tak ada pilihan, tentara Belanda akhirnya menjebloskan Subiran ke dalam Penjara. Dan sejak pagi sampai sore hari, Soekarno tidak berjumpa dengan Karno Subiran. Ia pun mempertanyakan keberadaaan Subiran dan akhirnya mengetahui bahwa dia di dalam penjara. Soekarno marah dan meminta tentara Belanda mengeluarkan Subiran.

“Subiran dikeluarkan malam setelah salat Isya, lalu mereka bertemu berempat. Soekarno bertanya kepada Subiran mengapa dimasukkan ke penjara, Subiran menjawab karena ia menolak permintaan tentara belanda untuk meracuni Soekarno. Dan disitulah Soekarno bertanya, mengapa kamu tolak, Subiran menjawab karena bapak adalah pemimpin saya. Disitu mereka menangis, dan Soekarno memeluk Subiran,” cerita Pak Izam.

Pak Izam melanjutkan ceritanya, usai pembicaraan itu, Soekarno pun menyampaikan amanah kepada Subiran. Agar jika mereka bertiga meninggal di tanah Karo, amanah itu disampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

“Amanah itu, yakni agar menjalankan perintah dan amanah Allah, agar jangan mengambil hak orang lain, Kalau itu bukan milik kita sendiri. Karena kemerdekaan bangsa Indonesia itu bukan karena harta, tapi karena berkat rahmat dan hidayah Allah dan itu sudah dicantumkan dalam UUD 1945,” ujarnya.

“Dari kejujuran Subiran inilah, Soekarno bisa berkomunikasi kembali kepada gerilyawan dan TNI,” lanjut Pak Izam.

Dari sana, disusunlah rencana oleh para gerilyawan dan TNI untuk merebut Soekarno pada Januari 1949, tapi rencana itu diketahui tentara Belanda, Soekarno pun dibawa pindah ke Parapat pada 4 Januari 1949.

“Dan di rumah inilah Soekarno ditempatkan selama 2 bulan bersama kedua tokoh. Selama dua bulan aktifitas Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim dikawal ketat oleh tentara Belanda, tetapi setelah satu bulan, disitulah baru bisa berkomunikasi dengan gerilyawan Indonesia dengan tiga orang pelayan,” kata Pak Izam.

Tulang Ayam dan Sayur Kangkung Menjadi Media Berkomunikasi

Tiga pelayan yang dipekerjakan di rumah di mana Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim diasingkan di Parapat, yakni Luddin Tindaon, Bukka Sinaga dan Hayat. Luddin Tindaon bertugas di dalam rumah, di luar rumah ada Bukka Sinaga dan Hayat sebagai juru masak.

Pak Izam lanjut bercerita kepada kami, bahwa dari ketiga orang pekerja itulah Soekarno akhirnya berhasil berkomunikasi dengan para gerilyawan. Media yang digunakan Soekarno, dengan memanfaatkan makanan yang ada, yakni tulang ayam dan sayur kangkung.

Dikisahkannya, setiap kali makan, Soekarno meminta agar Luddin Tindaon membawakannya daging paha ayam. Selesai makan, sisa tulang ayam itu dibersihkan dan dikeringkan. Di tulang tersebutlah, Soekarno menyisipkan surat untuk dibawa kepada para gerilyawan.

Begitu juga ketika Soekarno jalan-jalan di luar rumah, Ia meminta agar dibawakan sayur kangkung. Dari batang kangkung tersebutlah Soekarno menyisipkan surat untuk para pejuang.

“Dan disampaikan ke Bukka Sinaga, bahwa dari batang kangkung itu ada isinya surat. Itulah cara beliau berkomunikasi dengan gerilyawan di sini,” cerita Pak Izam.

Hasil dari komunikasi antara Soekarno dengan para pejuang dari surat pada tulang ayam dan sayur kangkung itulah, akhirnya diutuslah pasukan Siliwangi untuk merebut Soekarno dan kedua tokoh bangsa pada Maret 1949.  Pasukan pun mengepung Parapat baik dari darat dan danau. Namun rencana penyerangan pun dibatalkan oleh Sutan Sjahrir yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Pembatalan, menyusul rencana pemindahan Soekarno ke Bangka.

“Kata Sutan Sjahrir, jangan bergerak dulu, karena kami mau dibawa pindah ke Bangka, akhirnya Soekarno dan kedua tokoh dibawa pindah, dan disitulah dipertemukan dengan Bung Hatta di Bunto. Beberapa bulan disana, barulah terjadi Konferensi Meja Bundar di Denhag. Dari Indonesia diutus Bung Hatta dan dari Belanda Ratu Belanda, barulah di situ Belanda mengakui kedaulatan Indonesia,” tuturnya, walaupun sebelumnya Belanda tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia setelah beberapa negara seperti Mesir, India, Suriah, Vatikan, Irak, Lebanon, Afghanistan, Yaman dan Palestina sudah mengakui Kemerdekaan Indonesia.

Akhir cerita Pak Izam membuat kami larut dalam suasana haru sambil mengamati suasana bangunan tua yang dibangun tahun 1820 dengan gaya arsitektur Eropa dengan gaya rumah panggung dan bahan kayu jati dan kayu ulin.(r)

Pemkab Distribusi 800 Ribu Liter, Puluhan Dusun di Lobar Terdampak Kekeringan Alami Krisis Air Bersih

0
Tim Pemkab Lobar dibantu pihak terkait distribusikan air bersih ke daerah terdampak kekeringan. (ekbisntb.com/ist)

Puluhan dusun yang tersebar di 15 desa di Lombok Barat (Lobar) mengalami krisis air terdampak kekeringan. Angka ini pun diprediksi akan semakin meluas sebelum musim hujan yang diperkirakan akan mulai berlangsung pada bulan November mendatang. Akibatnya, permintaan bantuan air bersih pun semakin meningkat. Hingga saat ini Pemkab Lobar telah menyalurkan 800-900 ribu liter air ke warga terdampak.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar, Hartono Ahmad, menyebut hingga pertengahan September, sudah sekitar puluhan dusun yang terdampak kekeringan dan membutuhkan air bersih. Sejauh ini Pemkab telah menyalurkan air bersih sekitar 800 ribu liter. “800-900 ribu liter air bersih yang sudah didistribusikan pihak Pemkab Lobar sepanjang bulan Juli hingga September ini, ” terangnya, akhir pekan kemarin.

Hartono mengaku, pendistribusian ini diutamakan untuk desa-desa yang sudah bersurat untuk bantuan air bersih. “Alhamdulillah banyak armada yang bantu, ada dari Pemerintah Provinsi, Bank NTB, Damkar, Dinsos, TNI Polri, PDAM hingga PMI, termasuk dari kita BPBD. Belum lagi ada bantuan air bersih 100 tangki,”  tuturnya.

Terlebih dengan status penanganan kekeringan di Lobar yang sudah masuk tanggap darurat sejak Agustus lalu, sehingga pihaknya tetap berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat sampai musim penghujan tiba.”Sekali distribusi itu sekitar 20 ribu liter. Jadi sehari itu bisa sampai 40 ribu liter,” tandas Hartono.

Ia menyebutkan, beberapa daerah tersebut di antaranya Desa Sekotong Barat, Cendi Manik, Desa Sekotong Timur, Labuan Tereng, Mareje, Jembatan Gantung.Kemudian, Bayu Urip, Tempos, Giri Tembesi, Kuripan Selatan, Giri Sasak, Kuripan Timur. Kemudian di wilayah utara, di Kecamatan Batulayar yang terdampak ada Desa Persiapan Penanggak dan Batulayar Barat. Serta Desa Penimbung Gunungsari yang membutuhkan air bersih. Karena kerusakan pipa, serta keruhnya sumber air mereka yang terdampak proyek jalan Bendungan Meninting.

“Banyu Urip memang parah karena makin panas makin kering. Tetapi tetap kita distribusikan air bersih. Kemudian di Sekotong Barat itu semua dusun kekeringan terutama yang pesisir pantai butuh air bersih,” bebernya. (her)

Petani Alami Kekeringan, Limit, Bantuan Beras untuk Bencana di Lobar  

0
H. Khalid (ekbisntb.com/her)

Bantuan pangan beras untuk penanganan bencana yang tersedia di Pemkab Lombok Barat (Lobar) limit. Beras untuk korban hanya disediakan 5 ton pada anggaran perubahan (APBD Perubahan) tahun ini.  Jumlah ini tidak akan cukup, menyusul dampak bencana kekeringan meluas. Sejauh ini belum ada petani gagal panen yang mengajukan permohonan bantuan beras ke Pemkab Lobar.

“Yang tersedia bantuan beras untuk bencana 5 ton, itu yang di DPA pada perubahan (APBD perubahan),” kata Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Lobar, H. Khalid, Minggu 29 September 2024.

Seharusnya, kata dia, yang ideal bantuan beras yang disiapkan 10 ton untuk mengantisipasi bencana di Lobar, sehingga Pemda Lobar tidak perlu pusing-pusing mencari back up di tempat lain. Seperti bantuan beras 5 ton yang diserahkan ke nelayan terdampak banjir rob wilayah Gerung belum lama ini, diberikan oleh Pemprov NTB.

Namun yang diberikan anggaran penanganan dampak bencana kekeringan ke Dinas Ketahanan Pangan sekadar saja. Pada APBD Perubahan diberikan anggaran beberapa puluh juta saja untuk pengadaan beras sekitar 5 ton. Dengan beras 5 ton ini, hanya sebagian saja yang kemungkinan bisa disasar. Sementara fakta di lapangan kekeringan meluas. “Kekeringan ini menyeluruh,” ungkapnya.

Menurutnya kalau ditanya cukup atau tidak? Tidak mencukupi karena luas wilayah Lobar 10 kecamatan, kalau semuanya meminta bantuan tentu pihaknya akan kewalahan. Karena ditambah lagi tidak ada biaya droping, sebab anggaran yang diberikan murni untuk bantuan saja. Belum lagi, lanjutnya, potensi bencana pada akhir tahun ini. Khalid tak menampik, jika Dinas Ketahanan Pangan dianaktirikan dalam pengalokasian bantuan. Padahal menurutnya dinas ini sangat vital dalam penanganan bantuan bencana yang tiap tahun melanda daerah ini.

Ditanya apakah ada yang sudah disalurkan kepada petani gagal panen akibat kekeringan? Khalid mengaku belum disalurkan, karena permintaan dari petani belum ada yang masuk ke dinas. “Belum ada yang datang ke kita untuk meminta bantuan,” tambahnya.

Kalau ada permohonan, itu akan ditindaklanjuti dengan turun melihat kondisi yang ada di lapangan. Ia menambahkan dengan kondisi anggaran di dinas yang sangat minim dan terbatas, ditambah kondisi di daerah (dampak kekeringan), pihaknya berharap agar perjalanan dinas ke luar daerah betul-betul selektif. (her)

Kekeringan Pengaruhi Produksi Pangan, Ratusan Hektar Tanaman Padi di Lobar Puso

0
Tanaman padi petani di Lobar alami gagal panen dampak kekeringan. Pemerintah mesti segera turun tangan mengatasi dampak kekeringan. (ekbisntb.com/ist)

Di tengah kondisi iklim atau cuaca kemarau yang menyebabkan kekeringan lumayan parah di berbagai wilayah di Lombok Barat (Lobar). Tidak saja menyebabkan warga mengalami krisis air, namun mempengaruhi hasil produksi pertanian Lobar akibat gagal panen. Mengantisipasi dampak yang lebih besar, Pemkab Lobar pun telah melakukan berbagai langkah.

PETANI di wilayah Dusun Gumesa Desa Giri Tembesi Kecamatan Gerung, Wayan Suarjana mengaku di wilayahnya ada sekitar 30 hektar lahan padi yang gagal tumbuh akibat kekeringan. “Ada sekitar 30 hektar kalau di dusun kami,” katanya.

Kalau bicara cakupan desa, maka luas lahan terdampak lebih luas lagi, bisa mencapai 100 hektar. Pada musim tanam 1, tanaman padi petani bisa panen.  Pada musim tanam kedua, padi hasil semai tidak bisa ditanam, sehingga petani pun gagal tanam.

“Tidak saja padi, tanaman jagung pun terpaksa disambit untuk pakan ternak. Terpaksa kami sabit, karena kalau tidak maka tidak bisa hidup karena tidak ada air,”ujarnya.

Berhubung daerah ini tadah hujan, maka petani berharap agar dibantu program sumur bor. “Kami butuh sumur bor,” harap Wayan Suarjana.

Sementara dari data Dinas Pertanian, sekitar 106 hektar lahan tanaman padi milik petani terkena puso. Ratusan hektar padi ini tersebar di beberapa kecamatan di antaranya Kuripan, Lembar, Sekotong. Dari 106 hektar tersebut  terdapat 56 hektar mendapat bantuan melalui asuransi usaha tani, sedangkan sisanya 50 hektar lagi tidak mendapatkan asuransi.

Kepala Dinas Pertanian Lobar, Damayanti Widyaningrum mengatakan dampak kekeringan yang melanda daerah Lobar, terjadi puso di sejumlah Daerah.

Seperti di wilayah Sekotong, Lembar dan Kuripan. Para petani gagal panen karena kekeringan tersebut. Dari luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan seluas 106 hektar, sudah proses klaim asuransi usaha tani 57 hektar. Wilayah yang banyak mengajukan klaim asuransi berasal dari Kuripan.“106 sudah puso (gagal panen), yang dibantu melalui asuransi usaha tani, itu ada sekitar 56 hektar,”sebut Damayanti.

Sementara wilayah yang banyak tak mendapat asuransi di Kuripan mencapai 50 hektar, sehingga petani pun merugi. Kalau dihitung kerugian per hektar Rp7 juta (biaya produksi) kemudian dikalikan 50 hektar, maka kerugiannya Rp350 jutaan.

Menurutnya hal ini sekaligus menjadi pelajaran bagi petani di Lobar, terutama yang ada di wilayah gagal panen akibat kekeringan, harus ikut asuransi usaha tani tersebut. Sebab diakui sejauh ini belum banyak petani yang ikut asuransi tersebut. “Kita terus imbau petani ikut asuransi, karena sangat bermanfaat,’’ ujarnya.

Pihaknya lebih gencar melakukan sosialisasi ke warga melalui petugas penyuluh. Karena bayarnya murah, Rp36 ribu per musim tanam per hektar. “Tapi ketika terjadi gagal, kembali diganti semua biaya yang dikeluarkan petani,” imbuhnya.

Sejauh ini pihaknya mengantisipasi lahan pertanian tedampak kekeringan akibat cuaca ekstrem melalui berbagai upaya. Pihaknya telah meminta penyuluh lapangan untuk turun mengecek wilayah-wilayah yang rawan kekeringan. Hasil turun tersebut langsung dilaporkan penyuluh ke dinas untuk ditindaklanjuti.

“Kami tindaklanjuti dengan turun action memberikan pompanisasi, beberapa daerah sudah kita tangani,” katanya.

Disebutkan, beberapa wilayah yang dilaporkan alami kekeringan, langsung dibantu pompanisasi. Di antaranya, 61 hektar lahan di Gerung yang dilaporkan petugas sudah diairi melalui pompa, sehingga tidak jadi mengalami kekeringan. Di Sekotong, ada 8 hektar sudah diatasi.

Kemudian di Lembar ada 139 hektar terancam kekeringan, dengan bantuan pompanisasi bisa diatasi. Selanjutnya ada lagi laporan 197 hektar juga terancam kekeringan sedang di Kuripan. Bahkan ia bersama jajarannya turun langsung melaksanakan pompanisasi ke sawah warga terrdampak. “Kami turun langsung, Alhamdulillah sudah bisa terairi melalui pompanisasi. Jadi kami sudah antisipasi sejauh itu,” ujarnya.

Kalau dihitung total luasan areal lahan pertanian yang telah mampu ditangani dan diatasi mencapai 405 hektar. Jika dihitung hasil produksi per hektar rata-rata 5,6 ton, maka dari luasan 405 hektar tersebut mampu diselamatkan 2.268 ton hasil produksi. “Itu sudah yang bisa diselamatkan, kita berupaya Sigap sesuai jargon Pemda (Pak Pj bupati),”ujarnya.

Ia menjelaskan, pompanisasi ini merupakan langkah jangka panjang, sehingga pihaknya sudah menginventarisir petani dan kawasan yang akan diberikan bantuan pompanisasi. Yakni kawasan yang punya sumber air, baik sungai, embung, air sumur tanah dangkal dan air permukaan.

Pihaknya mengusulkan 576 pompa,  yang sudah didrop baru sebagian oleh pemerintah pusat. Diakui pompanisasi lahan pertanian ini terkendala sumber air yang disedot yang tidak ada di wilayah tersebut, karena lahannya tadah hujan. Pihaknya pun akan mencoba untuk antisipasi tahun-tahun ke depan dengan membangun sumur bor dan irigasi tanah dangkal, sehingga nanti ketika kekeringan, bisa ambil air dari sumur bor tersebut menggunakan pompa.”Kita akan bangun sumur bor dan irigasi tanah dangkal, begitu kering kita ambil air dari sana untuk airi sawah,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Lobar H. Khalid mengatakan kekeringan yang terjadi hampir merata di seluruh daerah Lobar tentu berpengaruh terhadap produksi pangan daerah. Kendati diakui, soal produksi itu kewenangan ada di Distan. “Ya berpengaruh, karena ini (kekeringan) terjadi hampir di semua daerah,”katanya.

Hal ini terlihat dari hasil panen yang didroping petani. Namun syukurnya kata Khalid, ada beras SPHD dari Bulog yang didroping ke masing-masing desa. “Mudah-mudahan di Oktober bisa terdroping sehingga kami berharap bisa ter-cover,”imbuhnya. (her)

Meski Kekeringan, Produksi Pertanian Pangan NTB Tetap Surplus

0
Lalu Mirza Amir Hamzah (ekbisntb.com/dok)

PEMPROV NTB melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) telah melakukan pemetaan daerah – daerah yang bisa didorong untuk tetap melakukan produksi komoditas pertanian pangan untuk menanggulangi dampak kekeringan ekstrem yang masih terjadi saat ini.

Kepala Bidang Pertanian Pangan Distanbun Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah B., SP,., M.Si., menyebut pemetaan sudah dilakukan sejak tahun 2023, ketika el nino berkepanjangan. Pemetaan dimaksud adalah, daerah-daerah yang ketersediaan airnya mencukupi, didorong terus untuk berproduksi.

“Di mana tempat-tempat yang masih bagus ketersediaan sumber airnya kita push (dorong) terus untuk menanam padi,” katanya.

Selain itu, perawatan jaringan irigasi teknis tetap dilakukan untuk mengoptimalkan distribusi air ke sawah-sawah petani. Lalu Mirza mengatakan, dalam hal ini, Distanbun Provinsi NTB juga bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I.

“Dan distribusi air juga dilakukan cukup baik oleh BWS selaku pengelola bendungan, untuk mengoptimalkan ketersediaan air di bendungan dapat dimanfaatkan oleh petani ketentuan dari BWS,” tambahnya.

Sehingga, produksi pertanian di Provinsi NTB tetap terjaga dengan baik, bahkan surplus.  Disampaikannya, data potensi luas panen dan produksi padi untuk Provinsi NTB dari bulan Januari hingga November 2024 sesuai Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik yaitu, luas panen mencapai l270.464 hektar, produksi  mencapai 1.370.523 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 780.581 ton beras

Sementara itu, kebutuhan beras penduduk NTB dari Januari hingga November 2024 sekitar 614.856 ton beras. Sehingga dari produksi 780.581 ton dikurangi kebutuhan 614.856, masih surplus 165.725 ton beras. “Alhamdulillah untuk NTB, tidak ada kerawanan pangan. Produksi kita masih tetap terjaga,” demikian Lalu Mirza.(bul)

Stok Tersedia, Tinggal Jaga Harga

0
Foto : Wahyudin (Ekbis NTB/bul)

BADAN Pusat Statistik (BPS) NTB memastikan ketersediaan stok pangan di daerah ini masih aman meski tengah menghadapi musim kemarau yang panjang. Bahkan cuaca ekstrem.

“Memang saat ini kondisi cuaca ekstrem, musim kemarau panjang, namun hasil panen di beberapa daerah masih ada. Kondisi ini tidak terlalu berdampak signifikan terhadap stok pangan kita,” ungkap Kepala BPS NTB, Drs. Wahyudin, M.M., pada Ekbis NTB pekan kemarin.

Berdasarkan data yang disampaikan Bulog sebelumnya, tambahnya, stok pangan NTB saat ini masih mencukupi hingga delapan bulan ke depan.  “Artinya, kita masih memiliki waktu yang cukup untuk melakukan serapan juga,” imbuhnya.

Kendati demikian, Wahyudin mengakui bahwa proses serapan saat ini sedikit terkendala oleh harga padi dan gabah yang sedang tinggi. “Harga yang tinggi ini membuat proses serapan menjadi agak sulit dilakukan secara maksimal memang,” ujarnya.

Meski demikian, Wahyudin menekankan masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadinya kekurangan pangan. “Walaupun cuaca ekstrem, kita masih aman karena stok pangan kita masih tersedia,” ujarnya meyakinkan.

Namun, Wahyudin juga mengingatkan pentingnya menjaga agar harga beras tidak terus merangkak naik. “Berdasarkan rilis bulan lalu, ada indikasi kenaikan harga beras. Meskipun belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan, namun kenaikan harga beras ini tetap perlu diwaspadai,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga beras yang lebih tinggi, BPS NTB akan terus memantau perkembangan harga pangan. “Kita akan lihat apakah kenaikan harga beras ini akan terus berlanjut dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap inflasi,” katanya.

Sebagai gambaran, produksi padi di Provinsi NTB sepanjang Januari hingga Desember 2023 mencapai sekitar 1,54 juta ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 85,59 ribu ton GKG (5,89 persen) dibandingkan 2022 yang sebesar 1,45 juta ton GKG.

Peningkatan produksi padi yang cukup besar pada 2023 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Kabupaten Bima, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Dompu. Hanya Kota Mataram yang mengalami penurunan produksi. Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2023 adalah Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Lombok Timur. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram, dan Kota Bima.

Berdasarkan potensi produksi padi pada awal tahun 2024, beberapa kabupaten/kota dengan potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada Januari hingga April 2024 adalah Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Sumbawa. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah pada periode yang sama yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram, dan Kota Bima.(bul)

Emas Antam Senin Naik Rp3.000 jadi Rp1,464 juta per gram

0
Ilustrasi Emas Antam (ekbisntb.com/ant)

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang dipantau dari laman Logam Mulia, Senin pagi naik Rp3.000, sehingga harga emas per gram kini menjadi Rp1.464.000.

Adapun harga jual kembali (buyback) emas batangan pada Senin 30 September 2024, menjadi Rp1.304.000 per gram.

Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017.

Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP.

PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di laman Logam Mulia Antam pada Senin:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp782.000
  • Harga emas 1 gram: Rp1.464.000
  • Harga emas 2 gram: Rp2.868.000
  • Harga emas 3 gram: Rp4.277.000
  • Harga emas 5 gram: Rp7.095.000
  • Harga emas 10 gram: Rp14.135.000
  • Harga emas 25 gram: Rp35.212.000
  • Harga emas 50 gram: Rp70.345.000
  • Harga emas 100 gram: Rp140.612.000
  • Harga emas 250 gram: Rp351.265.000
  • Harga emas 500 gram: Rp702.320.000
  • Harga emas 1.000 gram: Rp1.404.600.000

Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22. (ant)

12 IKM Kota Mataram Lolos Kurasi MotoGP

0
Salah satu lapak IKM yang lolos kurasi untuk menjual produk mereka pada penyelenggaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah pada 27-29 September. (ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram mengirim 100 pelaku industri kecil dan menengah untuk dikurasi oleh Pemprov Nusa Tenggara Barat, pada penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah. Tetapi, hanya 12 IKM yang lolos dan menjual produk mereka pada event balap motor kelas dunia tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Mataram, H. Muhammad Ramadhani dikonfirmasi akhir kemarin menerangkan, pihaknya mengirim 100 pelaku industri kecil dan menengah untuk dikurasi oleh Dinas Perindustrian dan Koperasi Provinsi Nusa Tenggara Barat. Setelah proses seleksi hanya 12 IKM yang lolos kurasi untuk menjual produk mereka pada penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

Diantaranya, PT. Yant Sorghum Indonesia, CV. Tri Utami Jaya,IKM Sate Rembiga Goyang Lidah, CV. Safir Indo Raya, CV. Wihdah Berkas Sejahtera, Kita’s Pizza, Dapuraisyah, UD. Berkah Alam, Ares Instan,Mina Sari Jaya, PT. Moerad Bersaudara Sejahtera, dan UD. Depot Taliwang. “Dari 100 IKM yang dikurasi hanya 12 yang lolos,” sebutnya.

Selain itu, 12 pelaku usaha mikro,kecil,dan menengah Kota Mataram yang dikurasi. Diantara, Chalaqi, Catering Tiga Putra, FKBC, Tahu Bakso Lombok, Heffa Kitchen, Brinchiz Lombok, d Chile Fried Chicken, Omeyaki, Neng Wulan,Risol Mamiyo,Dapur Mitutu, dan Zatu Rizka.

Mantan Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Mataram, ini tidak menyebutkan detail berapa omset yang diperoleh oleh pedagang. Sebab, hasilnya baru dilaporkan saat penyelenggaraan MotoGP berakhir pada, Minggu (29/9) kemarin.

Kendati demikian, ia berharap dengan adanya UMKM bisa mengakses event skala internasional seperti MotoGP dapat meningkatkan kelas UMKM asal Kota Mataram. Disamping itu, menjadi simbol bahwa MotoGP memberi multiplier effect kepada ekonomi lokal yang perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu. (cem)

Pangan NTB Dipastikan Aman Sampai Musim Panen 

0
H. Abdul Aziz (ekbisntb.com/dok)

KEPALA Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, H. Abdul Azis, S.H., M.H., mengatakan stok pangan NTB aman  sampai dengan musim panen. Meski di tengah-tengah musim kemarau, ia mengatakan NTB tidak mengalami kekurangan stok pangan.

“Stok kita itu 43.720 ton. Ini cukup untuk beberapa bulan ke depan. Kan beberapa bulan lagi mau panen, di tahun 2025 panen,” ujar Penjabat Sementara Bupati Lombok Tengah ini saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu (28/9).

Stok beras sebanyak 43.720 ton ini dikatakan untuk seluruh masyarakat NTB, artinya stok ini merupakan gabungan dari stok yang dimiliki oleh kabupaten/kota. Selain itu, ia mengatakan adapula stok yang dimiliki bulog dan para pelaku usaha pangan.

Meski diyakini stok pangan aman sampai dengan musim panen selanjutnya. Namun, Aziz mengatakan NTB akan kekurangan tambahan stok, karena musim kemarau agak panjang.

Saat ditanya mengenai apakah akan ada lonjakan harga beras seperti awal tahun lalu, ia mengatakan pihaknya tidak mengetahui hal tersebut. “Kita lihat nanti, kalau ada indikasi mau naik ya kita keluarkan stok dan beras SPHP,” lanjutnya.

Di Bulog, stok beras dikatakan masih cukup, begitupun dengan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual lebih murah dibanding beras biasa.

 Selain itu, saat ini dikatakan tidak ada panic buying atau pembelian dalam jumlah besar dari masyarakat.

Dinas Ketahanan Pangan juga rutin melakukan operasi Gerakan Pasar Murah untuk membantu masyarakat mendapatkan pangan dengan harga standar.  “Gerakan Pangan Murah rutin kita laksanakan. Kita terus lakukan secara berkala,” katanya.

Begitu juga saat dikonfirmasi berapa persen kekuatan pangan NTB, pihaknya mengaku tak mengetaui perihal tersebut. Karena menurutnya, perlu mengetahui koordinator pengukur terlebih dahulu sebelum mengetahui seberapa kuat cadangan stok pangan NTB. (era)

SMF bersama ADB Siapkan Pembiayaan Rumah untuk Pekerja Informal

0
Sejumlah anak-anak bermain di kompleks perumahan di Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. SMF Bersama ADB Siapkan Pembiayaan Rumah untuk Pekerja Informal. (ekbisntb.com/cem)

Lampung (ekbisntb.com) – Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Martin Daniel Siyaranamual menyatakan bahwa pihaknya kini tengah mempersiapkan pembiayaan rumah murah bagi pekerja informal melalui kolaborasi dengan Asian Development Bank (ADB).

“Apa yang kami kerja samakan dengan ADB itu produk keuangan dimana masa cicilnya, proses mencicilnya itu fleksibel,” kata Martin Daniel Siyaranamual di Pesawaran, Lampung, Minggu malam 29 September 2024.

Ia mengatakan bahwa produk serupa sudah dikembangkan di sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin yang juga memiliki jumlah pekerja informal yang besar, seperti di Indonesia.

Tidak hanya memberikan pembiayaan yang terjangkau, ia mengatakan bahwa upaya tersebut merupakan salah satu cara untuk menjaga agar jumlah masyarakat kelas menengah tidak semakin tergerus.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah masyarakat kelas menengah mengalami penurunan sejak pandemi COVID-19 pada 2019, dari 57,33 juta (21,45 persen) pada 2019 menjadi 47,85 juta (17,13 persen) pada 2024.

Martin menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat kelas menengah adalah pekerja informal, sementara selama ini belum banyak produk pembiayaan yang dapat memfasilitasi kelompok pekerja tersebut.

“Pekerja informal di Indonesia itu, yang mayoritas itu adalah kelas menengah ke bawah, itu mencapai hampir 60 persen dari total seluruh pekerja, tapi pada saat yang sama produk-produk keuangan untuk pekerja informal Itu relatif tidak ada,” ujarnya.

Selain produk pembiayaan yang tengah dikembangkan bersama ADB tersebut, ia mengatakan bahwa pihaknya juga telah memiliki dua produk lainnya yang ditunjukkan untuk kelompok pekerja informal, yakni microfinance dan rent to own.

Martin menuturkan bahwa pihaknya mengembangkan kedua produk pembiayaan tersebut karena mempertimbangkan bahwa ada kelompok-kelompok masyarakat yang masih sulit untuk mengakses pembiayaan formal, terutama pekerja informal yang seringkali terganjal persyaratan terkait bukti pendapatan.

Untuk memastikan program pembiayaan tersebut berjalan dengan baik, pihaknya pun melakukan audiensi dengan para regulator agar terbentuk payung hukum bagi program-program tersebut.

“Sebelum ada berita soal kelas menengah itu turun, kami sudah melihat bahwa ada kelompok-kelompok masyarakat yang belum terlayani dengan baik dan, itu besar jumlahnya, dan sekarang makin tambah besar. Nah, kami sudah menyiapkan program-program tersebut,” imbuhnya. (ant)