Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 507

87.100 Warga NTB Masih Menganggur

0
I Gede Putu Aryadi(ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi menyebutkan, sebanyak 87.100 warga NTB masih berstatus menganggur. Meski angka ini cukup tinggi, ia mengatakan angka pengangguran di provinsi ini terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

“Jumlah pengangguran 87.100, tapi dalam dua tahun terakhir terus terjadi penurunan,” ujarnya kepada Ekbis NTB, Minggu 24 November 2024.

Gede menyatakan, meski angkatan kerja di NTB terus bertambah. Namun, pengangguran di daerah ini terus menurun. Diketahui, selama kurun waktu satu tahun, angka pengangguran di NTB sebanyak 2,80 persen menjadi 2,73 persen.

Menurutnya, penurunan angka pengangguran ini karena adanya penyerapan dari berbagai sektor yang ada di NTB. Selain itu, Disnakertrans NTB juga rutin melakukan bursa kerja khusus, pembinaan, job fair, hingga magang mandiri kepada pekerja lulusan SMK dan vokasi.

Ia mengungkapkan, jumlah penurunan pengangguran tertinggi merupakan lulusan SMK. Penurunan ini hampir menyentuh angka 50 persen. Yang mana dua tahun lalu disebutkan lulusan SMK yang menganggur sebanyak 8,26 persen, sekarang menjadi 4,73 persen.

“Dua tahun terakhir saya rutin melakukan bursa kerja khusus SMK dan lembaga pendidikan advokasi tinggi. Tiap bulan saya melakukan pembinaan, job fair, ada magang, magang mandiri. Magang ini begitu selesai sekian persen diserap oleh perusahaan menjadi tenaga kerja,” ungkapnya.

Disebutkan oleh Gede, penyerapan tenaga kerja terbesar di NTB diserap sektor pertanian, disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, kontruksi, dan industri pengolahan. Namun akhir-akhir ini, penyerapan banyak dilakukan oleh sektor kontruksi.

Sementara itu, sektor pertambangan tidak menyerap banyak pekerja. Menurut Gede, meski tambang membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi penyerapan tenaga kerja hanya sedikit. “Tambang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi 78 persen. Tapi penyerapan tenaga kerja hanya 16 persen,” katanya.

Untuk terus menekan angka pengangguran di NTB, Gede menyatakan pihaknya akan fokus pada memperbanyak program industri padat karya karena pihaknya tidak bisa mengandalkan sektor pertambangan untuk mengurangi pengangguran. “Tambang ini betul dia besar modalnya, tapi penyerapan kecil,” pungkasnya. (era)

Menurun, Angka Pengangguran dan Kemiskinan di Lobar

0
Para pencari kerja di Lobar. Angka pengangguran dan kemiskinan di Lobar di akhir 2024 disebut menurun. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Angka kemiskinan dan pengangguran di Lombok Barat (Lobar) menurun tahun ini. Penurunan berkisar pada angka 0,37 persen hingga 1 persen. Kalau di angkakan mencapai kisaran ribuan hingga puluhan ribu warga yang masih hidup kurang mampu dan menganggur.

Kepala Bapenda Lobar H. Akhmad Saikhu mengatakan angka pengangguran Lobar turun tahun 2024 sebesar 2,75 pesen dari tahun lalu (2023) sebesar 3,12 persen atau terjadi penurunan sekitar 0,37 persen. “Angka pengangguran kita menurun jadi 2,75 atau sekitar 11 ribu,” sebut Saikhu, akhir pekan kemarin.

Dikatakan kalau melihat target penurunan TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) di RPJMD sebesar 2,85 persen, capaiannya 2,75 persen artinya melampaui target RPJMD. Selain pengangguran, angka kemiskinan juga turun. Jumlah penduduk miskin di Lombok Barat (Lobar) mengalami penurunan tahun 2024 ini, dibanding tahun 2023.

“Penurunannya mencapai di atas 1 persen. Di mana angka kemiskinan mencapai 96.570 atau 12,65 persen. Dengan capaian ini, penurunan kemiskinan melampaui target tahun ini,” sebut dia.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lobar, jumlah penduduk miskin pada tahun 2024 terjadi penurunan hingga 96.570 orang atau 12,65 persen. Jumlah kemiskinan menurun 6.140 orang atau 1,02 persen orang, dibanding tahun 2023 angka kemiskinan mencapai 102,71 ribu jiwa atau 13,67 persen.

“Kemiskinan turun tahun 2024 ini, dari 102.710 menjadi 96.570 atau sekitar 1,02 persen,” terang Kepala Bappeda ini. (her)

Pengusaha Hiburan Senggigi Minta Rencana Kenaikan Pajak 12 Persen Ditinjau Ulang

0
Suhermanto(ekbisntb.com/bul)

PENGUSAHA hiburan di destinasi wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat was-was jika pemerintah benar-benar memberlakukan kenaikan pajak dari 11 persen menjadi 12 persen pada tahun 2025 nanti. Pemerintah diharapkan meninjau kembali rencana kebijakan tersebut.

Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi, Suhermanto menyampaikan, dunia usaha saat ini masih dalam tekanan dan tidak baik-baik saja. Keadaannya akan semakin berat, jika pemerintah memberlakukan kenaikan pajak menjadi 12 persen.

“Berat sekali kalau kenaikan pajaknya jadi 12 persen. Karena kita bayar pajak dua, ada pajak restoran 11 persen, ada pajak hiburan minimal 40 persen, maksimalnya 70 persen,” ungkap Suhermanto.

Apalagi belakangan, Wahana Musik Indonesia (WAMI) juga meminta pembayaran royalty kepada usaha-usaha hiburan atas lagu-lagu yang dimainkan di tempat hiburan.

Suhermanto menilai, pajak selalu dibebankan kepada pengusaha. Padahal, saat membeli barang dan kebutuhan-kebutuhan lain, pada harga barang tersebut sudah dikenakan pajak 11 persen. Lalu pada saat barang tersebut dijual, dikenakan lagi pajak dari pokok dan keuntungan sebesar 11 persen.

“Ini kan berat sekali jadinya. Mestinya disosialisasikan terlebih dahulu, banyak sekali usaha ikutan yang akan terkena dampak kebijakan ini kalau diterapkan,” tambahnya.

Suhermanto menyampaikan, saat ini kondisi usaha hiburan, khususnya di Senggigi menurutnya sangat memperihatinkan. Kondisi ini disebabkan gempa tahun 2018, ditambah lagi Covid-19 sejak tahun 2020.

Kemudian hal ini disebabkan banyaknya menjamur usaha hiburan ilegal dan terkesan ada pembiaran. Sehingga usaha hiburan yang legal seperti pesakitan.

“Usaha hiburan yang legal ini pajak-pajak tidak boleh telat dibayar. Izin-izin juga harus tetap hidup. Ini tidak main-main beban kepada dunia usaha. Sementara disisi lain pemerintah terkesan main-main menindak tegas terhadap usaha-usaha hiburan ilegal ini. Bagaimana usaha-usaha legal ini bisa berkembang,” tambahnya.

Karena itu, kebijakan rencana menaikkan pajak 12 persen ini ditinjau ulang. Karena kondisi dunia hiburan sangat berat saat ini. Jika itu diberlakukan, tidak menutup kemungkinan banyak usaha yang akan tutup.(bul)

Peduli Kelestarian Lingkungan, PT SMM Bersama Universitas Samawa dan Masyarakat Lakukan Penanaman Mangrove

0
Penanaman mangrove di Dusun Bina Marga, Desa Stowe Brang, Kecamatan Utan, Sumbawa, Sabtu 23 November 2024. (ekbisntb.com/ist)

Di era modern ini, tanggung jawab sosial perusahaan menjadi aspek penting dalam operasional bisnis yang berkelanjutan. Menyadari pentingnya peran perusahaan dalam memberikan tanggung jawab sosial, PT Solusi Masyarakat Mandiri (PT SMM) yang bergerak dalam bidang budidaya udang vannamei melakukan aksi penanaman mangrove di Dusun Bina Marga, Desa Stowe Brang, Kecamatan Utan, Sumbawa, pada hari Sabtu, 23 November 2024.

Kegiatan penanaman mangrove ini merupakan kegiatan keenam kalinya yang dilakukan oleh PT SMM.

CEO PT SMM yang kerap disapa Yar Rahman mengungkapkan kegiatan ini didasari adanya kesadaran bahwa perusahaan tambak merupakan perusahaan yang memberikan dampak lingkungan, sehingga kegiatan ini merupakan bagian tanggung jawab perusahaan dalam meminimalisir impact lingkungan dan memberi manfaat untuk masyarakat sekitar.

Yar Rahman juga berharap kegiatan ini menjadi inspirasi kepada investor lain agar dapat memberikan konstribusi kepada lingkungan. Dalam pelaksanaannya, PT SMM bekerja sama dengan Universitas Samawa, pemerintah desa, kelompok masyarakat dan berbagai pihak lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan program bina lingkungan yang dilakukan oleh PT SMM.

Pada kegiatan tersebut, Dosen Universitas Samawa, Yadi Hartono, M.Si., sebagai pelaksana program melaporkan kegiatan penanaman mangrove ini diikuti lebih dari 200 orang yang berasal dari kelompok masyarakat, KTH semesta hijau, staf PT SMM, mahasiswa, pecinta lingkungan, GenBi dan pihak lainnya. Yadi juga menyampaikan bahwa sebelumnya PT SMM dan Universitas Samawa telah melakukan beberapa kegiatan yaitu asesmen lapangan, pelatihan kepemimpinan dan organisiasi untuk kelompok masyarakat, pembibitan mangrove.

Pada kesempatan ini, Wakil Rektor III Universitas Samawa Dr. Syafruddin, M.M., turut hadir dan memberikan sambutan. Syaf menyampaikan ucapan terima kasih kepada PT. SMM karena telah melibatkan dan mempercayai Universitas Samawa sebagai relasi dalam program bina lingkungan dan sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh PT SMM tersebut.

Ia juga menyampaikan kegiatan bina lingkungan ini sejalan dengan roadmap pengabdian kepada masyarakat Universitas Samawa.

Di sela-sela penanaman mangrove, Neri Kautsari selaku ketua pelaksana program Bina Lingkungan menyampaikan hal yang paling penting setelah kegiatan penanaman mangrove ini ialah memastikan dan memonitoring pertumbuhan mangrove. Neri berharap mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan untuk masyarakat dan bumi. (r)

Tiket Murah untuk Dongkrak Kunjungan Wisatawan ke NTB

0
Lalu Pelita Putra (ekbisntb.com/dok)

SEJAK munculnya rencana penurunan tiket penerbangan di dalam negeri, sejumlah pemerintah daerah di Indonesia mengharapkan kebijakan tersebut bisa terealisasi, termasuk di Provinsi NTB. Sebagai daerah destinasi pariwisata, NTB sangat menginginkan tiket penerbangan bisa lebih terjangkau untuk mendongkrak angka kunjungan wisatawan.

Ketua Komisi II DPRD NTB H. Lalu Pelita Putra mengatakan, salah satu alasan masyarakat berwisata yaitu biaya transportasi udara yang terjangkau. Namun jika aspek transportasi masih cukup tinggi, wisatawan domestik lebih cenderung akan berwisata di dalam daerahnya atau justru ke luar negeri yang harga tiket penerbangannya seringkali lebih murah.

“Ada dampak juga atas tingginya harga tiket, tingkat kunjungan pasti ada pengaruh terutama untuk kunjungan domestik. Sebagai pembanding juga, kalau dari Lombok ke Malaysia harga tiket PP itu malah lebih murah dibanding penerbangan domestik, dengan 4 sampai dengan 5 juta, orang bisa PP Lombok – Malaysia,” kata Lalu Pelita Putra.

Ia menyebut, dalam waktu tertentu, tiket penerbangan dari dan menuju Lombok seringkali terbatas dan mahal. Hal ini dipengaruhi juga oleh terbatasnya armada pesawat yang melayani rute domestik menuju Lombok. Karena itulah kebijakan penurunan harga tiket dan penambahan penerbangan menjadi hal yang ditunggu-tunggu. “Mahal dan limit, harapan kita tiket bisa diturunkan dan flight ditambah,” ujarnya.

Harga tiket yang lebih murah juga akan menguntungkan pemerintah daerah dari segi pembiayaan perjalanan dinas. Misalnya saat melakukan perjalanan keluar daerah, anggota legislatif atau ASN akan mengacu pada Perpres No 33 tahun 2020 tentang Standar Harga Satuan Regional. Ketentuan ini mengurangi beban APBD, terlebih jika tiket pesawat lebih murah. Sebab dalam pelaksanaan anggaran, satuan biaya tiket perjalanan dinas dalam negeri menggunakan metode at cost atau sesuai pengeluaran.

“Setidaknya dengan harga tiket yang murah, artinya ada pengiritan karena kami dihitung realcost, sesuai harga tiket yang dibayarkan. Kalau lumpsum, jika ada sisa dari uang tiket itu tidak dikembalikan ke kas,” ujarnya.

Untuk diketahui, Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat kini berada dibawah  Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). AHY bahkan telah melakukan pertemuan dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk membahas langkah lanjutan dalam menekan tarif penerbangan domestik.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir juga menilai tingginya harga tiket ini tidak dapat dilihat sebagai masalah sederhana. Erick menjelaskan sektor pariwisata memang menjadi perhatian pemerintah. Baru-baru ini, dia mengakui telah bertemu dengan Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, untuk membahas berbagai tantangan di sektor pariwisata, termasuk harga tiket pesawat.

Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk membentuk tim khusus yang akan mencari solusi agar harga tiket pesawat bisa lebih terjangkau bagi masyarakat.(ris)

Instruksi Penurunan Tarif Pesawat Berharap Bukan Hanya Wacana

0
Jamaluddin  (ekbisntb.com/era)

KEPALA Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Jamaluddin, S.Sos., MT., berharap instruksi penurunan tarif tiket pesawat dapat segera terlaksana. Pasalnya, sebagai daerah pariwisata, konektivitas menjadi tantangan utama pariwisata NTB untuk lebih mendunia.

Diakuinya, tingginya harga tiket pesawat ke provinsi ini, dapat menyebabkan wisatawan berpikir dua kali untuk berwisata di NTB.

“Ya mudah-mudahan ini bisa terlaksana, bisa terealisasi dilaksanakan oleh pemerintahan sekarang bersama Kabinet Merah-Putih,” ujarnya kepada Ekbis NTB, Minggu 10 November 2024.

Sebelumnya, tingginya tarif tiket pesawat menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto. Sehingga, beberapa waktu lalu ia membuat kebijakan terkait dengan bagaimana menurunkan harga tiket pesawat agar konektivitas baik dalam negeri maupun dari luar ke dalam negeri dan sebaliknya bisa dilakukan dengan harga yang lebih terjangkau.

Sebagai Kepala Dispar menunggu realisasi penurunan harga tiket pesawat ini. Menurutnya, salah satu permasalahan utama pariwisata NTB terletak pada tingginya harga tiket pesawat. Apalagi mengingat NTB masuk dalam daftar lima daerah dengan wisata alam terbaik di dunia. Sehingga dengan penurunan harga tiket pesawat, dapat mendongkrak jumlah kedatangan wisatawan ke daerah ini.

“Banyak orang yang mau berwisata di NTB, Lombok, Sumbawa. Apalagi destinasi wisata Lombok kan nomor lima di dunia alamnya, belum pariwisata-pariwisata yang lain. Tapi kan kendala kita konektivitas, penerbangannya terlalu mahal,” jelasnya.

Permasalahan harga tiket pesawat ini bukan hanya dirasakan oleh wisatawan yang ingin berkunjung ke NTB. Tetapi juga sangat berdampak bagi warga NTB yang ingin keluar daerah, termasuk pemerintah ketika bertugas untuk berkunjung ke luar daerah.

“Itu yang dirasakan oleh bukan saja wisatawan mancanegara tetapi juga wisatawan lokal. Bahkan kita-kita juga yang ada di Lombok ketika ke Jakarta ada rapat atau apa waduh mahal,” ungkapnya.

Mantan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) ini menyatakan sebagai daerah Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), pihaknya sangat menanti terjadinya penururan harga tiket pesawat. Dengan menurunnya harga tiket ini, dikatakan dapat memudahkan pemerintah atau stakeholder terkait untuk melakukan promosi pariwisata.

“Kita menyambut baik ketika ada program pemerintah, Kabinet Merah Putih supaya tiket penerbangan terutama di lima DPSP termasuk Mandalika,” tutupnya. (era)

NTB Tunggu Kebijakan Penurunan Harga Tiket Penerbangan

0
H.Moh. Faozal (ekbisntb.com/dok)

RENCANA pemerintah pusat untuk menurunkan harga tiket pesawat disambut baik oleh Pemprov NTB. NTB sebagai provinsi dengan sektor pariwisata yang sedang berkembang membutuhkan kebijakan yang memungkinkan orang lebih banyak datang berwisata, salah satunya melalui harga tiket yang terjangkau.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa kebijakan khusus ini akan dirancang agar tarif tiket pesawat menjadi lebih kompetitif demi meningkatkan pariwisata di dalam negeri.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB H. Lalu Muhammad Faozal menilai rencana pemerintah pusat tersebut sangat bagus jika mampu terwujud. Pemprov NTB menurutnya dalam posisi menunggu realisasi dari kebijakan tersebut, karena daerah tak memiliki kebijakan soal harga tiket.

“Kita tunggu. Bagus kalau bisa terwujud,” kata Lalu Moh. Faozal kepada Ekbis NTB, Minggu 10 November 2024.

Diakui ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh maskapai yang melayani rute Lombok yaitu masalah keterisian pesawat. Misalnya saja rute Lombok – Semarang atau sebaliknya yang dinilai hanya bisa melayani sedikit penumpang. Sehingga rute tersebut sedang dalam tahap evaluasi.

“Semarang nggak ada penumpang. Kita ada penerbangan tiga kali seminggu, sekarang mau kita evaluasi, tidak ada penumpang. Siapa yang isi pesawat? Jangan perhubungan dong,” ujarnya.

Dalam pernyataan sebelumnya, Faozal mengatakan, soal harga tiket penerbangan ini menjadi kebijakan pemerintah pusat dan perusahaan airlines. Sehingga Pemda tak bisa melakukan intervensi.

“Regulasi udara itu adalah pure pusat, baik itu kapasitas angkut maupun kontrol harga tiket dengan ambang atas dan ambang bawah dan itu sering kali kita terjemahkan harga tiket mahal,” ujarnya.

Faozal mengatakan, komponen harga tiket penerbangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya yaitu harga bahan bakar avtur. Harga avtur yang beragam di Indonesia turut mempengaruhi harga tiket, termasuk tujuan Lombok.

“Ini menyebabkan pada rute tertentu bisa jadi lebih mahal. Misalnya lebih murah ke Kuala Lumpur daripada Lombok ke Jakarta, karena memang bisnis harga avtur di Kuala Lumpur lebih murah belinya ketimbang mereka belinya di BIZAM,” katanya.

Ia menambahkan, persoalan lainnya yang dihadapi yaitu penerbangan ke Lombok belum sebanyak yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga dampaknya yaitu pada harga tiket. “Artinya kita dorong airlinesnya buka. Namun sekarang kita sudah buka, flight tanya penumpangnya mana, mereka juga kan bisnis. Itu juga yang menyebabkan airlines tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Faozal.

Mantan Kadis Pariwisata NTB ini mengatakan, Pemprov NTB terus mendorong bagaimana destinasi Lombok – Sumbawa menjadi prioritas, sehingga betul-betul menjadi destinasi yang banyak dikunjungi. Salah satunya adalah KEK Mandalika.

Diharapkan dengan adanya ratusan event lokal, nasional dan internasional di Mandalika dan NTB secara umum bisa menggaet lebih banyak wisatawan yang pada akhirnya akan menghidupkan bisnis penerbangan. Dengan cara ini, kemungkinan besar harga tiket pesawat juga akan kompetitif.

Untuk diketahui, saat ini Bandara Lombok melayani konektivitas langsung menuju sepuluh destinasi domestik, yaitu Jakarta (CGK), Surabaya (SUB), Yogyakarta (YIA), Bali (DPS), Bima (BMU), Sumbawa Besar (SWQ), Makassar (UPG), Balikpapan (BPN), Semarang (SRG), dan Batam (BTH). Penerbangan-penerbangan tersebut dilayani oleh maskapai Garuda Indonesia (GA), Citilink (QG), Lion Air (JT), Batik Air (ID), Super Air Jet (IU), Wings Air (IW), dan Pelita Air (IP).

Sedangkan untuk penerbangan internasional, saat ini ada dua destinasi yakni tujuan Kuala Lumpur (KUL) yang dilayani oleh maskapai Indonesia AirAsia (QZ), AirAsia Berhad (AK), dan Batik Air Malaysia (OD) serta tujuan Singapura yang dilayani oleh Scoot (TR).(ris)

Rencana Penurunan Harga Tiket Pesawat Jangan Hanya Sekedar Wacana

0
Ketua BPPD NTB, Sahlan M. Saleh(ekbisntb.com/era)

RENCANA pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menurunan harga tiket pesawat diharapkan bukan sekedar wacana. Masyarakat dan pelaku pariwisata sangat berharap hal itu dapat diwujudkan.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi NTB, Sahlan M. Saleh mengatakan, karena otoritas untuk menaikkan atau menurunkan harga tiket pesawat ada pada ranah pemerintah, dan maskapai.

“Kita mendukung saja keinginan pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat yang saat ini harganya sangat signifikan,” kata Sahlan, Sabtu, 9 November 2024.

Tingginya harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir menurutnya sangat mengganggu citra pariwisata, khususnya Lombok – Sumbawa. Bukan hanya dikeluhkan oleh pelaku pariwisata, pun menurut Sahlan, hampir semua masyarakat mengeluhkannya.

Efek tingginya harga tiket pesawat ini juga sangat mempengaruhi kunjungan wisatawan. banyak wisatawan yang lebih memilih berwisata di daerah sendiri, atau di negara sendiri untuk wisatawan mancanegara.

Wisatawan sedang antre melakukan check in di BIZAM. (ekbisntb.com/kir)

“Wisatawan luar negeri lebih memilih berwisata di dalam negerinya, wisatawan domestik juga begitu, lebih memilih berwisata di daerahnya. Dari pada harus bayar mahal hanya sekedar biaya pesawat. Ini menjadikan pergerakan uang dan pergerakan ekonomi menjadi tidak tumbuh,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Provinsi NTB ini menyampaikan, contoh saja saat diselenggarakannya MotoGP Mandalika di akhir September 2024. Jumlah penonton luar negeri yang menyaksikan langsung balapan paling bergengsi dunia ini di Sirkuit Mandalika sangat kecil.

“Orang lebih senang menonton MotoGP di Sepang, Malaysia. Karena biaya penerbangannya murah. Itu salah satu dampak yang kita rasakan,” tambahnya.

Sahlan mengemukakan lagi, harga tiket pesawat yang mahal secara langsung mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke NTB. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan biaya yang besar hanya untuk transportasi.

Lesunya sektor pariwisata akibat tingginya harga tiket pesawat berdampak pada penurunan pendapatan daerah. Pendapatan dari sektor pariwisata seperti pajak hotel, restoran, dan tiket masuk objek wisata akan berkurang.

“Pariwisata merupakan salah satu sektor penting yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika sektor pariwisata lesu, maka akan berdampak pada sektor lain seperti akomodasi, transportasi lokal, hingga UMKM yang bergantung pada sektor pariwisata,” imbuhnya.

Meskipun NTB memiliki banyak destinasi wisata yang menarik, namun tingginya harga tiket pesawat akan menghambat upaya promosi destinasi. Potensi wisatawan yang sudah tertarik pun akan urung datang karena faktor biaya.

Karena itu, Sahlan mengatakan, harapan pelaku pariwisata kepada pemerintah yang baru, agar ada strategi khusus untuk benar-benar menurunkan harga tiket pesawat. Agar tidak hanya menjadi wacana belaka.(bul)

Angin Segar bagi Pariwisata NTB

0
Anas Pattaray (ekbisntb.com/ist)

PENGAMAT  Pariwisata, Anas Pattaray, M.Par., CHE., menilai instruksi penurunan harga tiket pesawat merupakan suatu hal yang menggembirakan, khususnya bagi perkembangan pariwisata di Provinsi NTB.

Pasalnya, tingginya harga tiket pesawat dikatakan menjadi penyebab utama banyak wisatawan ragu untuk berkunjung ke provinsi ini.

Menurutnya, instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan harga tiket pesawat menjadi angin segar bagi pariwisata NTB mengingat tingginya harga tiket pesawat menuju daerah ini beberapa tahun terakhir.

“Harga tiket pesawat yang sangat tinggi berdampak kepada banyak hal, termasuk di antaranya lalu lintas pariwisata kita. Ternyata yang terjadi beberapa tahun ke belakang tidak ada satu kebijakan untuk menekan harga tiket pesawat. Sehingga ini sangat menggembirakan,” ujarnya saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu 9 November 2024.

Ia menyatakan, karena tingginya tarif pesawat ke Lombok, banyak wisatawan melewatkan daerah ini untuk dikunjungi langsung menggunakan jalur udara. Sehingga banyak wisatawan lebih memilih berkunjung menuju Bali, dan menyeberang menggunakan kapal laut atau kapal cepat dari Bali ke Lombok.

“Dampak dari tiket pesawat ini orang mempertimbangkan untuk datang langsung ke Lombok. Sehingga banyak orang-orang yang punya kemampuan finansial cukup memilih menyeberang dari Bali ke Lombok,” lanjutnya.

Adapun dengan tingginya harga tiket ini, dikatakan 99 desa wisata di NTB kurang maksimal dalam berkontribusi menyumbang jumlah kunjungan wisatawan ke NTB. Padahal, tujuan utama dibentuknya desa wisata ini adalah untuk menggaet wisatawan.

“Awalnya kan desa wisata diharap dapat mendatangkan pengunjung tapi terhalang harga tiket, ternyata desa wisata kita ada yang mengalami kegalauan, sehingga tidak ada pengunjung,” katanya.

Oleh karenanya, ketika harga tiket pesawat ini benar-benar dibenahi, dikatakan mampu lebih menghidupkan pariwisata NTB, sehingga berdampak pada pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat yang ada di daerah ini.

Anas mengatakan, dengan diturunkannya harga tiket pesawat ke Lombok, jumlah kunjungan wisatawan saat perhelatan MotoGP Indonesia 2025 akan semakin meningkat. Pasalnya, saat harga tiket pesawat sangat tinggi saja, jumlah penonton perhelatan motor ini tembus ratusan ribu orang, apalagi saat harga tiket pesawat lebih murah.

“Kalau tiket pesawat diturunkan menggembirakan kembali, dan diharapkan MotoGP yang akan berlangsung tahun depan ini menjaid penguat untuk sustainable MotoGP di tahun-tahun berikutnya,” harapnya.

Dosen Politeknik Pariwisata Lombok ini menyatakan harga tiket pesawat menuju Lombok yang pas adalah seperti harga sebelum Covid-19. Yang mana harga tiket Jakarta-Lombok berkisar antara Rp750-800 ribu, dan Bali-Lombok mulai dari Rp250-600 ribu. (era)

Instruksi Presiden Turunkan Harga Tiket, Solusi ‘’Penghalang’’ Wisatawan ke NTB

0
Pesawat saat parkir di BIZAM. Harga tiket pesawat dari dan ke BIZAM masih mahal. (ekbisntb.com/kir)

Pariwisata NTB selama ini dihadapkan dengan mahalnya harga tiket pesawat dari dan ke NTB. Beberapa rute penerbangan ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), khususnya dari bandara di kota-kota besar di Indonesia cukup mahal. Lebih ironis lagi, harga tiket pesawat menuju Kuala Lumpur, Singapura hingga Bangkok, justru lebih murah dibandingkan harus ke BIZAM. Adanya instruksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menurunkan harga tiket pesawat diharapkan bisa menjadi Solusi. Namun, realisasi dari instruksi ini ditunggu.

HARGA tiket pesawat di sejumlah aplikasi dengan rute BIZAM dari beberapa bandara di Indonesia cukup beragam untuk beberapa hari ke depan. Bahkan, penerbangan rute BIZAM-Soekarno Hatta di atas Rp1 juta. Ada yang menjual berkisar dari Rp1.250.000 untuk kelas ekonomi menggunakan maskapai Super Jet hingga Rp1,6 juta hingga Rp1,7 juta menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Lebih parah lagi harga tiket pesawat dari BIZAM menuju Bima menggunakan maskapai Wings Air rata-rata di atas Rp1,3 juta. Itupun jumlah maskapai yang melayani penerbangan menuju Bima – Lombok atau Bima-Ngurah Rai tidak sebanyak bandara lain di Indonesia.

Mahalnya harga tiket pesawat ini dari dan ke bandara yang ada di NTB sudah lama dikeluhkan oleh pemerintah daerah hingga kalangan pengusaha. Apalagi ketika ada event berskala nasional dan internasional di NTB, seperti MotoGP, MXGP dan event budaya lainnya, mahalnya harga tiket pesawat ini selalu dikeluhkan.

Tidak hanya itu, banyak yang membandingkan jika masyarakat yang berada di luar daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung atau Semarang lebih memilih berwisata ke negara-negara ASEAN. Alasan mereka memilih berwisata ke objek wisata di negara-negara ASEAN sangat realistis, yakni murahnya harga tiket pesawat yang dibandrol oleh maskapai dibandingkan dengan harga tiket menuju NTB.

Sekda NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., dalam beberapa kesempatan, terutama ketika ada acara baik berskala lokal dan nasional menyampaikan mahalnya harga tiket pesawat yang menjadi ‘’penghalang’’ banyaknya wisatawan luar daerah datang ke NTB. Beda halnya dengan di Pulau Jawa, ungkapnya, banyak pilihan wisatawan untuk pergi ke objek wisata.

Selain menggunakan pesawat, masyarakat di Jakarta yang ingin berlibut ke objek wisata di Jawa Tengah atau Jawa Timur bisa menggunakan alat transportasi lain, seperti kendaraan pribadi, karena sudah ada jalan bebas hambatan, kemudian bus dan kereta api.

Bahkan saat menjabat sebagai Penjabat Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi beberapa kali melakukan lobi ke pemerintah pusat, termasuk mendatangi maskapai agar bisa menurunkan harga tiket pesawat. Namun, dengan sejumlah alasan, harga tiket pesawat dari dan ke NTB masih saja mahal.

Berganti rezim pemerintahan dari H. Joko Widodo ke Prabowo Subianto diharapkan bisa menjadi angin segar bagi perubahan harga tiket pesawat agar bisa semakin dijangkau.  Hal ini semakin menunjukkan titik terang ketika Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan dilakukan penurunan harga tiket pesawat yang selama ini dianggap cukup mahal.

Anggota Komisi V DPR RI H. Abdul Hadi menyatakan dukungannya terhadap instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam upaya menurunkan harga tiket pesawat yang masih tinggi. Upaya penurunan harga tiket pesawat ini dinilai sebagai kebijakan yang sangat relevan dan sesuai dengan aspirasi masyarakat, khususnya di wilayah pariwisata seperti Provinsi NTB dan daerah pariwisata lainya di Indonesia.

Anggota DPR RI dari Dapil Pulau Lombok tersebut juga menekankan soal pentingnya pendekatan yang komprehensif dan lintas sektoral untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dimana hal ini sejalan dengan pandangannya yang telah mendorong agar pemerintah tidak hanya mencari solusi jangka pendek, tetapi juga langkah-langkah jangka panjang yang melibatkan berbagai sektor.

Meningkatnya perjalanan wisata ke NTB akan meningkatkan konsumsi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah ini dan secara nasional, seperti yang ditargetkan pemerintahan Presiden Prabowo yaitu 8 persen.  Pihaknya berharap upaya menurunkan harga tiket penerbangan ini bisa menjadi salah satu prioritas dalam program 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo. Selain memberikan dampak positif bagi industri pariwisata, langkah ini juga akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru.

Untuk diketahui, pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Perekonomian memastikan bahwa satuan tugas atau satgas penurunan tiket pesawat masih berlanjut di Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini seiring dengan fokus kerja Kementerian Pariwisata yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian dalam beberapa waktu ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Satgas tersebut akan fokus pada penurunan harga tiket penerbangan domestik yang sering disebut mahal. Ke depan, Kementerian Pariwisata akan menggelar rapat bersama dengan Kementerian Perhubungan dan juga Pertamina. (ham/ris)