Beranda blog Halaman 196

Capaian di Bawah Target, Bupati Amar Minta Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi

0
Capaian di Bawah Target, Bupati Amar Minta Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi
Bupati Amar Nurmansyah dan kepala BPS KSB foto bersama peserta sosialisasi SE 2026


Taliwang (ekbisntb.com) – Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah mengajak seluruh masyarakat dan pelaku usaha, untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) tahun 2026. Caranya dengan menerima petugas sensus serta memberikan informasi yang benar dan sesuai kondisi sebenarnya.


Ajakan tersebut disampaikan Bupati saat membuka Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat di Aula Kantor BPS, Selasa (23/6).


Bupati menegaskan bahwa data yang akurat menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Karena itu, keberhasilan sensus sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.


“Tadi kita dengar laporan kepala BPS, hingga saat ini capaian pendataan baru sekitar 7,6 persen. Angka tersebut masih jauh dari target yang diharapkan, yakni sekitar 25 persen pada akhir Juni. Karena itu, diperlukan dukungan seluruh pihak agar target tersebut dapat tercapai,” ujar Bupati.


Ia menjelaskan, saat ini sekitar 145 petugas sensus diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pendataan rumah tangga dan pelaku usaha. Selain melalui kunjungan langsung, pendataan juga dilakukan melalui metode Ngisi Bareng yang ditujukan bagi usaha menengah dan besar.


Bupati berharap masyarakat tidak ragu menerima petugas sensus dan memberikan data yang dibutuhkan. Menurutnya, partisipasi masyarakat akan menentukan kualitas data yang nantinya digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan dan kebijakan ekonomi.


Sementara itu, Kepala BPS KSB, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani mengungkapkan bahwa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya masih adanya masyarakat yang menolak menerima petugas sensus atau enggan memberikan informasi yang diperlukan.


Menurutnya, kondisi tersebut diduga salah satunya disebabkan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai tujuan dan manfaat sensus. “Kami memahami sebagian penolakan yang terjadi kemungkinan, karena masyarakat belum mendapatkan informasi yang cukup. Padahal, seluruh data yang diberikan dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik,” katanya.


Alit menegaskan, data hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi dasar penyusunan berbagai kebijakan ekonomi nasional dan daerah selama sepuluh tahun ke depan, mulai dari investasi, perdagangan, industri, UMKM hingga penciptaan lapangan kerja.


Ia juga memastikan data yang dikumpulkan tidak akan digunakan untuk kepentingan lain. Contohnya, perpajakan sebagaimana dalih sejumlah masyarakat. “Seluruh informasi responden dilindungi sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang statistik dan hanya akan disajikan dalam bentuk data agregat,” tandasnya.


Sensus Ekonomi 2026 telah dimulai sejak 15 Juni dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Untuk meningkatkan capaian pendataan, BPS bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat akan memperluas sosialisasi melalui media massa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha.


Alit berharap target pendataan dapat tercapai sehingga menghasilkan data ekonomi yang lengkap, akurat, dan terpercaya sebagai dasar pembangunan daerah pada masa mendatang.(bug)

Pengecer Elpiji Nakal akan Ditindak Tegas

0
H. Armansyah.(Suara NTB/ula)


Dompu (ekbisntb.com) – Aparat kepolisian bersama anggota DPRD Kabupaten Dompu, melakukan inspeksi mendadak ke pengecer elpiji 3 kilogram. Sidak ini dilakukan menyusul sulit dan tingginya harga bahan bakar tersebut di lapangan. Dari hasil pemeriksaan, petugas menyita tabung gas melon dari pengecer tidak resmi yang dibeli dari pangkalan.


Langkah DPRD Kabupaten Dompu bersama aparat kepolisian ini, mendapat dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
“Kami sudah memberikan peringatan kepada pangkalan. Tapi hari ini saya undang agen yang memiliki pangkalan, minimal kami akan memberikan peringatan lebih awal,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Ir. H. Armansyah, M.Si., pada, Selasa (23/6).


Pemkab Dompu sebelumnya mengeluarkan surat edaran untuk mengingatkan kepada pengecer untuk mengutamakan masyarakat sekitar pangkalan dalam menjual elpiji 3 kilogram. Pihaknya juga mendatangi agen dan pangkalan untuk melakukan sosialisasi dan pembinaan.
Faktanya pangkalan lebih mengutamakan menjual ke pengecer tidak resmi ketimbang warga sekitar, sehingga mengakibatkan harga jual elpiji 3 kilogram lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. “Pada akhirnya akan kita rekomendasikan untuk dicabut,” tegasnya.


Untuk permintaan extra droping dan penambahan kuota elpiji ke Pertamina belum ada jawaban. “Ekstra droping yang diminta oleh Pemda Dompu, kita masih menunggu tanggapannya. Kita minta untuk menambah kuota,” sebutnya. (ula)

Dapat Rekomendasi, Dana Desa Berdaya Segera Cair ke 140 Desa

0
H. Lalu Hamdi (Suara NTB/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Sebanyak 140 desa dari total 257 Desa Berdaya di NTB sudah mendapatkan rekomendasi teknis dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Setelah mendapatkan rekomendasi, desa diminta untuk membuat berkas usulan pencairan agar dana senilai Rp300 juta dari Pemprov NTB tersebut segera cair.


Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (DPMPD) Dukcapil NTB, Lalu Hamdi pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia mengungkapkan, dari 140 desa tersebut, 85 di antaranya merupakan desa dengan satu tema, sisanya mengambil dua tema.
“Intinya kan ada tiga tema desa berdaya, 85 desa itu mengambil satu tema, 55 desa dengan dua tema,” ujarnya.


Dari 85 desa, 11 desa dikatakan telah membuat berkas usulan pencairan. Saat ini, anggaran senilai Rp300 juta sedang berproses di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) dan segera masuk ke rekening 11 desa tersebut.


Adapun sisa 55 desa yang belum mendapatkan rekomendasi, saat ini proposal mereka masih diverifikasi oleh dua OPD teknis sesuai dengan dua tema yang mereka pilih.


“Double tema ini biasanya kita harus disinkronkan dulu. Kita harus integrasikan antara rekomendasi dinas satu dengan dinas yang lain,” lanjutnya.


Di samping itu, Pemprov NTB juga memastikan proposal yang masih memerlukan perbaikan tidak akan langsung ditolak. Sebaliknya, desa akan difasilitasi untuk melakukan penyesuaian agar proposal sesuai dengan tema program, potensi desa, serta pola pengelolaan yang ditetapkan.


“Semua proposal akan kami fasilitasi agar sesuai ketentuan sehingga dapat memperoleh bantuan keuangan desa sebesar Rp300 juta per desa,” katanya.


Program Desa Berdaya sendiri, jelas Hamdi memiliki dua skema utama, yakni Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif. Pada tahap pertama tahun 2026, sebanyak 257 desa dipilih sebagai penerima bantuan keuangan khusus melalui skema Desa Berdaya Tematik dengan nilai bantuan Rp300 juta per desa.


Di dalam desa berdaya tematik tersebut terdapat program Desa Berdaya Transformatif yang ditujukan untuk penanganan kemiskinan ekstrem. Tahun ini, sebanyak 40 desa ditetapkan sebagai desa transformatif yang akan menerima intervensi tambahan dari pemerintah.


Melalui desa berdaya transformatif, desa tidak hanya memperoleh bantuan keuangan tematik sebesar Rp300 juta, tetapi juga bantuan modal usaha bagi keluarga miskin ekstrem sebesar Rp7 juta per keluarga. Selain itu, desa penerima program transformatif juga mendapatkan bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni senilai Rp200 juta atau setara perbaikan delapan rumah di setiap desa.

Tak hanya itu, desa transformatif juga akan mendapatkan pendampingan khusus selama dua tahun guna memastikan program berjalan efektif dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin ekstrem.


“Desa transformatif mendapatkan tiga intervensi utama, yaitu bantuan keuangan kepada desa, bantuan modal bagi keluarga miskin ekstrem, serta bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni yang disertai pendampingan selama dua tahun,” jelasnya. (era)

Bunga Deposito Pemkab Lobar Tembus Rp8,8 Miliar

0
Bunga Deposito Pemkab Lobar Tembus Rp8,8 Miliar
Asisten III Setda Lobar, H. Fauzan Husniadi (tiga dari kiri) menyerahkan jawaban Bupati Lobar atas pedangan umum Fraksi DPRD terhadap LKPJ Bupati tahun 2025. (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Transaksi Deposito Pemkab Lombok Barat (Lobar) sepanjang tahun 2025 cukup tinggi dengan angka mencapai Rp300 miliar. Dari deposito yang disimpan di bank daerah tersebut, bunga yang diperoleh Pemkab tahun 2025 menembus Rp8,8 miliar.


Demikian jawaban Asisten III Setda Lobar, H. Fauzan Husniadi mewakili Bupati Lobar dalam rapat paripurna dengan agenda jawaban kepala daerah terhadap LKPJ kepala daerah tahun 2025, menjawab pertanyaan perihal pengelolaan aset yang terkait pengelolaan deposito.


Fauzan menerangkan, Pemkab Lobar melakukan dua kali transaksi deposito sepanjang tahun 2025 dengan total nilai Rp300 miliar.

“Transaksi pertama senilai Rp200 miliar pada bulan April 2025. Transaksi kedua pada Agustus 2025 sebesar Rp100 miliar sesuai Surat Keputusan Bupati tentang Penempatan Uang Daerah dalam Rekening Deposito Pemerintah Kabupaten Lombok Barat,” terang Fauzan, Senin (22/6/2026).


Seluruh dana deposito tersebut kemudian dicairkan kembali pada bulan Desember 2025 dengan total pendapatan bunga yang berhasil diperoleh selama masa investasi sebesar Rp8.850 juta lebih. Lebih lanjut, ia menjawab terkait peningkatan saldo kewajiban daerah. Fraksi dewan meminta dijabarkan secara rinci komponen utang atau kewajiban apa saja yang mengalami kenaikan tersebut.


Mengenai skema penanganan dan jadwal penyelesaian kewajiban ini agar tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. Fauzan menerangkan, komponen kewajiban yang mengalami kenaikan di antaranya, tambahan penghasilan guru senilai Rp26,8 miliar lebih yang tidak bisa dibayarkan pada akhir tahun 2025 disebabkan transfer dari pusat terealisasi pada tanggal 30 Desember 2025. “Namun sudah dilakukan pembayaran pada bulan Februari 2026,” urainya.


Jasa Pelayanan dan Belanja operasional pada Badan Layanan Umum Daerah senilai Rp41,1 miliar lebih yang sudah terbayarkan pada triwulan kedua tahun 2026. Selanjutnya, utang belanja bagi hasil pajak dan retribusi daerah kepada desa mengalami peningkatan senilai Rp6,4 miliar lebih dan sudah terbayarkan pada bulan Maret 2026. (her)

Tidak Disalurkan Selama Libur Sekolah, Anggaran MBG di NTB Hemat Rp87 Miliar

0
Eko Prasetyo (Suara NTB/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak disalurkan selama tiga minggu libur sekolah. Akibat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak beroperasi tersebut, insentif harian senilai Rp6 juta tidak disalurkan. Tiadanya penyaluran ini mengakibatkan anggaran MBG di NTB dapat dihemat hingga puluhan miliar.


Berdasarkan hitung-hitungan yang diberikan oleh Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) NTB, Eko Prasetyo, khusus di NTB saja, APBN bisa hemat hingga sekitar Rp87 miliar.


“Secara nasional kan sekitar Rp3-4 triliun. Kalau di NTB harus dikali dulu, 808 SPPG dikali Rp6 juta, dikali lagi tiga minggu libur sekolah,” ujarnya.


Dia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 808 SPPG yang sudah beroperasi di NTB. Jumlah tersebut termasuk SPPG yang ada di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T).


Menyoal Badan Gizi Nasional (BGN) akan melakukan refocusing penerima manfaat MBG, yang mana siswa SMA tidak akan lagi menerima MBG, Eko mengaku kini pihaknya tengah melakukan pendataan. “Kami sedang melaksanakan pendataan. Tapi untuk keputusan, kami belum ada instruksi,” katanya.


Begitupun dengan jumlah siswa SMA penerima manfaat MBG di NTB, Korwil BGN itu mengaku belum mengetahui jumlah totalnya. Yang pasti, saat ini BGN NTB tengah mendata siswa SMA dengan ekonomi menengah ke atas. Bisa jadi, katanya siswa SMA yang ada di wilayah perkotaan tidak lagi terdata sebagai penerima manfaat MBG. “Kan kita hanya melaksanakan nih, yang mengambil keputusan tetap pusat,” ucapnya.


Adanya refocusing tersebut, Eko mengaku kemungkinan besar akan ada petunjuk teknis (juknis) baru dari BGN mengenai pelaksanaan MBG di daerah. Adapun yang melakukan pendataan saat ini yaitu Koordinator Kecamatan (Korcam) MBG, dan Kepala SPPG. “Kemungkinan besar ada Juknis baru, iya. Tapi masih belum tahu kapan terbitnya,” lanjutnya.


Untuk wilayah terpencil, BGN NTB mencatat terdapat 126 titik yang masuk kategori daerah terpencil. Dari jumlah tersebut, 16 titik telah melalui proses appraisal dan memiliki kepala SPPG yang ditunjuk. Sementara itu, pembangunan sejumlah dapur MBG yang masih dalam tahap pengerjaan untuk sementara dihentikan menyusul kebijakan moratorium yang diberlakukan pemerintah pusat.


“Untuk sementara ada moratorium pembangunan. Kami masih menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan terkait kelanjutan proyek-proyek yang sedang berjalan,” jelasnya.


Menyinggung soal kasus dugaan penipuan yang sempat mencatut program MBG, BGN NTB mengaku belum menerima laporan baru dari masyarakat. Namun pihaknya mendorong korban yang merasa dirugikan untuk melapor kepada aparat penegak hukum.


“Kalau ada yang merasa dirugikan atau ditipu mengatasnamakan program MBG, silakan dilaporkan. Kami siap kooperatif apabila diperlukan dalam proses hukum,” pungkasnya. (era)

Peringatan Penutupan Tak Digubris, Pemkab Loteng Siapkan Teknis Penutupan Retail Modern

0
H. L. Firman Wijaya (ekbisntb.com/kir)

Praya (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) saat ini tengah mempersiapkan langkah teknis untuk melakukan penutupan permanen terhadap 25 gerai retail modern yang sebelumnya sudah mendapat peringatan penutupan lantaran melanggar Peraturan Daerah (Perda) No. 7 tahun 2021. Langkah pemerintah daerah tersebut sebagai respons terhadap sikap pemilik retail modern yang hingga batas waktu peringatan penutupan sementara, gerai-gerai tersebut belum juga ditutup.


Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Loteng H. Lalu Firman Wijaya, S.T.,M.T., di kantornya, Senin (22/6). Ia menegaskan, dalam hal ini Pemkab Loteng berkomitmen untuk menegakkan aturan yang ada yakni Perda No. 7 tahun 2021. Pun demikian prinsip kehati-hatian tetap dikedepannya. Bahwa apapun sikap dan tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah harus sesuai dengan regulasi yang ada. “Yang jelas pemerintah daerah pasti akan bersikap. Tentu sesuai dengan aturan yang berlaku,” sebutnya.


Dalam waktu dekat ini Pemkab Loteng akan mengelar rapat khusus untuk membahas rencana tindakan terhadap retail modern yang sudah diminta untuk ditutup, tetapi tetap buka tersebut. Pemkab juga sembari mengkaji aturan-aturan, sehingga sikap yang diputuskan nantinya benar-benar tepat sesuai dengan aturan.


Sesuai tenggat waktu yang diberikan, gerai-gerai retail modern tersebut sudah harus ditutup per tanggal 10 Juni 2026. Fakta di lapangan, sampai saat ini gerai-gerai tersebur masih buka dan beroperasi secara normal. Belum adanya tindakan pemerintah daerah sampai saat ini karena sebelumnya Pemkab Loteng sedang fokus mengawal pelaskaanan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) NTB.


Dengan telah usainya MTQ NTB, Pemkab Loteng ini bisa mengalihkan perhatian untuk menyelesaikan terkait keberadaan retail modern tersebut. “Di rapat teknis itu nantinya akan dibahas kapan penutupan dilakukan, teknis penutupan, kebutuhan personel dan kebutuhan-kebutuhan lainya,” ujarnya.


Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng ini menambahkan, kalau Pemkab Loteng dalam persoalan ini tidak bisa dinegosiasi. Semua harus dijalankan sesuai aturan yang berlaku. Siapa yang melanggar harus ditindak.


Firman menjelaskan, pemerintah daerah memberikan peringatan kepada pemilik retail modern untuk menutup gerainya terlebih dahulu untuk melihat kepatuhan para pemilik retail modern terhadap peringatan pemerintah. Namun, nyatanya pemilik retail modern tidak mau mengindahkan peringatan yang ada.


Hal itu menunjukkan sikap tidak patuh pemilik retail modern kepada pemerintah daerah. Dan, itu bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk mengambil tindakan lebih jauh.


“Kita sudah memberikan peringatan terlebih dahulu. Tapi nyatanya peringatan tidak diidahkan, maka Tindakan tegas akan pemerintah daerah ambil,” tandas Ketua KONI Loteng ini. (kir)

Hidupkan Pasar Seni, KDMP Banyumulek Angkat Produk Unggulan Kerajinan Gerabah

0
Hidupkan Pasar Seni, KDMP Banyumulek Angkat Produk Unggulan Kerajinan Gerabah
Kepala Desa Banyumulek H. Jamiludin (bawah) dan KDMP Desa Banyumulek (atas). KDMP Banyumulek ini akan menampung kerajinan gerabah sekaligus untuk menghidupkan pasar seni. (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Keberadaan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Banyumulek Kecamatan Kediri, Lombok Barat (Lobar) yang dibangun di areal Pasar Seni didorong untuk mengangkat kerajinan gerabah yang menjadi produk unggulan lokal di desa itu. KDMP ini nantinya menampung dan menjual kerajinan gerabah.


KDMP ini diharapkan bisa menghidupkan Pasar Seni yang kini kondisinya mati suri. Kepala Desa Banyumulek, H. Jamiludin, S.IP., mengatakan, pembangunan gedung KDMP di desanya hampir rampung, tinggal pemasangan paving blok di halaman gedung. “Kami harapkan KDMP ini sesegera mungkin bisa diresmikan dan bisa dimanfaatkan untuk masyarakat,” harapnya.


Beberapa usaha telah disiapkan oleh pengurus KDMP untuk dibuka di gerai tersebut. Di antaranya, penjualan sembako dan gas elpiji yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari. KDMP itu juga akan menjual obat-obatan, karena selama ini warga harus pergi jauh ke daerah Rumak, Lelede, dan Kediri untuk beli obat. Dengan adanya obat-obatan yang dijual di KDMP ini, warga tidak perlu jauh-jauh lagi membeli obat. “Warga bisa beli di KDMP dekat kantor desa,” imbuhnya.


Untuk penjualan obat-obatan ini pun sudah disiapkan tenaga teknis atau ahli di bidangnya. Selain itu, KDMP itu juga mendampung kerajinan yang gerabah menjadi unggulan desa. Selain menjual Gerabah, di gerai KDMP itu juga akan disiapkan proses pembuatan gerabah dari awal sampai selesai. Sehingga menjadi daya tarik bagi tamu yang datang naik dari dalam dan luar negeri.


Dalam pengelolaannya, KDMP ini akan dikolabirasikan dengan Pasar Seni yang dikelola Pokdarwis. Dari sisi lokasi sangat strategis, karena KDMP ini berada di satu areal berlokasi di pinggir jalan umum. “Jadi KDMP ini mendukung pasar seni, tidak mematikan, sama-sama maju,” terangnya.


Pihaknya menargetkan KDMP itu bisa dioperasikan pada bulan Juli mendatang. Pengurus KDMP ini sendiri sudah dibentuk, tinggal ada tenaga Khusus nanti yang menjadi staf di KDMP tersebut. (her)

Retribusi Ditarget Rp2,75 Miliar, BLUD Persampahan Sasar Dapur MBG di KLU

0
Fathurrahman Wiratmo (Suara NTB/ari)

Tanjung (ekbisntb.com) – Retribusi Persampahan pada tahun 2026 ditarget cukup besar, mencapai Rp2,75 miliar. Dalam lima bulan, Januari hingga Mei realisasinya mencapai 24 persen atau sekitar Rp660 juta rupiah.


Kepala UPTD Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Utara (KLU), Faturrahman Wiratmo, Selasa (23/6/2026), mengungkapkan nominal target retribusi persampahan ditetapkan meningkat. Tahun 2025 lalu, target retribusi ditetapkan Rp1,5 miliar dengan capaian realisasi 104 persen atau sekitar Rp1,56 miliar.


“Dari target tahun ini sebesar Rp2,75 miliar, capaian hingga memasuki triwulan II sebesar 24 persen,” ujar Wiratmo.


Capaian retribusi hingga pertengahan tahun belum mencapai ekspektasi minimal 50 persen. Hal ini disebakan oleh banyak kondisi. Selain keterbatasan anggaran operasional, kebutuhan biaya operasional juga tidak sedikit.


Diakuinya, pagu anggaran operasional yang dialokasikan ke BLUD hanya mampu untuk memenuhi kegiatan pelayanan selama lima bulan. Untuk menutup kekurangan biaya operasional, pihaknya banyak bergantung pada pendapatan retribusi yang sudah dihimpun.


“Biaya operasional yang harus ditanggung cukup besar, mulai dari armada angkutan, alat berat, hingga aktivitas pengelolaan di TPST Gili Trawangan,” sebutnya.


Wiratmo melanjutkan, perolehan retribusi persampahan masih bergantung pada dominasi kontribusi pelaku usaha perhotelan khususnya di wilayah daratan Lombok Utara. Sedangkan penghimpunan retribusi sampah di Gili Trawangan, masih melibatkan KSM Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL).


BLUD Persampahan juga terus mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menjadi pelanggan Persampahan. Selain itu, BLUD juga menyasar pelanggan baru dari dapur SPPG program MBG. Dimana, retribusi tiap-tiap SPPG mengacu pada jumlah ritase dari volume pengangkutan sampah selama satu bulan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi. Dari data pelayanan persampahan pada dapur MBG, BLUD Persampahan memperoleh tambahan retribusi berkisar paling banyak Rp2 juta per bulan.


“Saat ini, sekitar enam hingga tujuh dapur MBG aktif telah menjadi pelanggan layanan pengangkutan sampah. Harapan kita, dapur-dapur yang lain segera berkoordinasi dengan BLUD Persampahan karena ada potensi sampah dari aktivitas penyediaan makanan program MBG,” tandasnya. (ari)

Anggaran Jadi Tantangan Penanganan Rabies

0
Anggaran Jadi Tantangan Penanganan Rabies
Muhamad Riadi (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Penanganan kasus rabies di Pulau Sumbawa, NTB menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan anggaran, terutama dalam penyediaan dan distribusi vaksin.


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Nakeswan) NTB, Muhamad Riadi, mengungkapkan bahwa estimasi populasi anjing di NTB saat ini mencapai sekitar 200 ribu ekor. Populasi ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kompleksitas pengendalian rabies di daerah, terutama di wilayah yang masih ditemukan kasus seperti di Pulau Sumbawa.


“Rabies itu memang terkait populasi,” kata Riadi.


Ia menjelaskan, kasus rabies masih ditemukan di Pulau Sumbawa, sementara Pulau Lombok hingga saat ini masih berstatus bebas rabies. Meski demikian, beberapa kasus gigitan anjing di Lombok tetap menjadi perhatian dan harus ditangani secara ketat untuk memastikan tidak berkembang menjadi kasus positif rabies.


Ia mencontohkan sejumlah kejadian gigitan di beberapa wilayah Lombok, sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Namun, kasus tersebut ditegaskan, tidak terbukti sebagai rabies, melainkan akibat luka gigitan yang terlambat ditangani.


“Untuk Lombok belum ditemukan rabies. Masih kita nyatakan bebas rabies,” jelasnya.


Salah satu tantangan di lapangan, lanjut Riadi, adalah pelacakan hewan yang diduga menjadi sumber gigitan. Dalam beberapa kasus, anjing yang terlibat tidak segera ditemukan, sehingga proses pengujian laboratorium menjadi terhambat.


Padahal, untuk memastikan status rabies, sampel otak hewan harus diperiksa di laboratorium rujukan. Keterlambatan menemukan hewan tersebut membuat proses konfirmasi menjadi lebih sulit.


“Kalau anjingnya tidak ditemukan, kita tidak bisa kirim sampel ke laboratorium untuk memastikan apakah rabies atau bukan,” katanya.


ebih jauh, Riadi menyoroti keterbatasan anggaran yang berdampak langsung pada pengadaan vaksin rabies. Ia menyebut dukungan vaksin dari pemerintah pusat saat ini sangat terbatas, sehingga daerah harus mengandalkan anggaran sendiri, dari APBD.


Kondisi ini membuat distribusi vaksin di kabupaten/kota harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran masing-masing. Pemerintah provinsi hanya memfasilitasi pengajuan dari daerah, sementara pelaksanaan dan pembiayaan operasional banyak bergantung pada daerah.
Riadi menjelaskan, mekanisme distribusi vaksin saat ini sangat bergantung pada tingkat serapan dan kesiapan daerah. Jika serapan rendah, alokasi dapat dialihkan ke daerah lain yang lebih siap.


“Kalau ada daerah yang progresnya rendah, bisa digeser ke wilayah lain. Jadi kita dorong daerah untuk mempercepat vaksinasi supaya alokasi tidak berkurang,” jelasnya.


Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan sebelumnya, ketika alokasi vaksin ditentukan sejak awal tahun. Saat ini, distribusi lebih fleksibel namun juga menuntut kesiapan daerah dalam hal operasional dan pelaksanaan vaksinasi.


Selain rabies, keterbatasan anggaran juga dirasakan pada penanganan penyakit hewan lain seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Menurut Riadi, jumlah vaksin yang tersedia mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga cakupan vaksinasi menjadi lebih terbatas.


“Dulu alokasinya lebih besar. Sekarang sangat terbatas, jadi kita harus menyesuaikan prioritas,” ujarnya. (bul)

BI NTB Siapkan Rp1,91 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Libur Sekolah

0
Hario K Pamungkas (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Memasuki masa libur sekolah, kebutuhan uang tunai masyarakat di Provinsi NTB mengalami peningkatan signifikan. Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB bahkan mencatat, jumlah uang yang keluar (outflow) dari BI sejak 1 hingga 19 Juni 2026 tumbuh 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, di Mataram, Selasa, 23 Juni 2026 mengatakan, peningkatan outflow tersebut mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi masyarakat menjelang dan selama periode liburan sekolah.


“Selama bulan Juni 2026, berdasarkan data sampai dengan 19 Juni 2026, jumlah uang yang keluar (outflow) dari Bank Indonesia di Provinsi NTB tumbuh 35 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” jelas Hario.


Data BI menunjukkan, realisasi outflow pada periode 1–19 Juni 2026 mencapai Rp657,68 miliar, meningkat dari Rp485,63 miliar pada periode yang sama tahun 2025.


Di sisi lain, jumlah uang yang masuk (inflow) ke BI justru mengalami penurunan. Hingga 19 Juni 2026, inflow tercatat sebesar Rp122,68 miliar, turun 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp156,90 miliar.


Menurut Hario, meningkatnya uang yang beredar di masyarakat tidak terlepas dari sejumlah faktor musiman yang mendorong aktivitas ekonomi di daerah.


Hario menjelaskan, kenaikan outflow tahun ini antara lain dipengaruhi oleh penyaluran berbagai program bantuan sosial pemerintah yang meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, musim panen sejumlah komoditas pertanian, khususnya jagung, turut mendorong perputaran uang di tingkat petani dan pelaku usaha.


“Peningkatan jumlah outflow ini antara lain disebabkan penyaluran bansos dan masa panen komoditas pertanian seperti jagung,” jelasnya.
Kondisi ini menurutnya menunjukkan likuiditas di masyarakat relatif meningkat seiring bertambahnya pendapatan rumah tangga dan aktivitas transaksi ekonomi di berbagai sektor.


Lebih lanjut, Hario menjelaskan, untuk mengantisipasi kebutuhan uang tunai yang lebih tinggi selama periode Juni hingga Juli 2026, BI NTB telah menyiapkan uang kartal dalam jumlah yang memadai.


Bank Indonesia memproyeksikan outflow selama periode libur sekolah, Juni–Juli, mencapai Rp1,91 triliun, meningkat 21 persen dibanding realisasi periode yang sama 2025 sebesar Rp1,57 triliun.


Sementara itu, aliran uang masuk (inflow) selama Juni–Juli 2026 diperkirakan mencapai Rp1,48 triliun, atau tumbuh tipis sekitar 1 persen dibanding realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,47 triliun.


“Bank Indonesia menyiapkan uang tunai sebesar Rp1,91 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode liburan sekolah. Penyiapan uang tunai ini merupakan komitmen Bank Indonesia dalam memastikan kecukupan uang kartal di masyarakat,” kata Hario. (bul)