Friday, April 24, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 184

Dapat Menghambat Investasi

0

BADAN Akuntabilitas Publik (BAP) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI memberikan perhatian khusus terhadap sengketa agraria yang masih berlarut-larut di NTB, khususnya di kawasan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Dalam pertemuan antara perwakilan DPD RI, ATR/BPN, dan Pemprov NTB, pemerintah pusat itu menyoroti bekas Hak Guna Bangunan atas nama PT Lingga Permata Utama di wilayah Dusun Pangsing, Dewa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong.

Wakil Ketua BAP DPD RI, Yulianus Henock Sumual mengatakan masalah pertanahan yang dibiarkan berlarut dapat menghambat investasi, merugikan masyarakat, bahkan memicu kriminalisasi.

“Prinsipnya kami DPD RI hadir untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap laporan masyarakat. Baik kerugian daerah, kerugian masyarakat, maupun kerugian negara akibat masalah administrasi,” ujarnya, Jumat, 29 Agustus 2025.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Pegendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN, Agus Sutanto menegaskan komitmennya untuk mempercepat penyelesaian persoalan tanah di kabupaten Lobar. Dengan tetap mengacu pada aturan hukum yang berlaku merujuk pada Perpres Nomor 62 tentang Percepatan Reforma Agraria.

Dia melanjutkan, proses redistribusi tanah di NTB, khususnya Lobar bisa dimulai pada akhir 2025 untuk dituntaskan di awal 2026, menyusul adanya alokasi anggaran untuk penertiban aset tidak bergerak itu.

Dalam proses ini, BPN memiliki sejumlah hambatan karena lahan berada di kabupaten/kota. Untuk itu, pemerintah pusat akan memperkuat kapasitas Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Lobar agar bisa mengambil keputusan secara objektif sesuai aturan.

“Kalau itu bisa terurai, proses penetapan tanah objek reforma agraria (TORA) akan lebih cepat karena TORA ini ada di tangan Pak Menteri,” tambahnya.

Sebelumnya, pihak Kementerian telah meminta Bupati Lombok Barat, untuk segera menuntaskan permasalahan Hak Guna Usaha di kawasan Sekotong tersebut. Namun, sampai kini belum ada tanggapan dari Pemda.

“Sampai sekarang pak Bupati Lobar belum ada info ke kami bagaimana tindak lanjut hasil pertemuan kami tiga bulan lalu,” katanya.

Menyikapi hal itu, Pj Sekda NTB, Lalu Mohammad Faozal mengatakan akan mengundang Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini untuk memberikan penjelasan langsung mengenai langkah yang sudah dilakukan dalam menyelesaikan persoalan sengketa lahan antara masyarakat dan pihak korporasi.

Menurutnya, NTB mempunyai segudang masalah pertanahan. Khususnya di wilayah pariwisata. Dengan banyaknya kasus sengketa lahan di NTB, mengakibatkan daerah ini kurang dilirik investor.

“Kami berharap ini bisa selesai, maka hal yang lain bisa kita sesuaikan dengan model yang sekarang kita sesuaikan di Lombok Barat,” pungkasnya. (era)

Delegasi Negara-Negara Balkan Kunjungi Lombok, Tinjau Potensi Energi Terbarukan PLN

0
PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) menerima kunjungan delegasi dari perwakilan Kedutaan Besar negara-negara Balkan, yakni Kroasia, Bosnia & Herzegovina, Serbia, Albania, Bulgaria, dan Romania(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbistb.com) – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) menerima kunjungan delegasi dari perwakilan Kedutaan Besar negara-negara Balkan, yakni Kroasia, Bosnia & Herzegovina, Serbia, Albania, Bulgaria, dan Romania. Kunjungan ini bertujuan melakukan kajian awal potensi kerja sama energi baru terbarukan (EBT) antara Indonesia dan negara-negara Balkan, khususnya pada sektor pembangkit listrik tenaga air skala kecil (PLTA/M).

Delegasi turut didampingi pejabat eselon II dari Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI. Rombongan melakukan kunjungan lapangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Santong dan PLTMH Segare di Lombok sebagai bagian dari agenda diplomasi energi.

Dalam kunjungan ini, para tamu memperoleh penjelasan mengenai kebijakan energi Indonesia, implementasi Kebijakan Energi Nasional (KEN), serta capaian dan tantangan dalam transisi menuju energi bersih. PLN juga menyampaikan strategi perusahaan dalam mendukung target bauran EBT sekaligus menjadikan NTB sebagai salah satu daerah percontohan pemanfaatan energi terbarukan.

Selain mendengarkan paparan PLN, delegasi Balkan juga berdiskusi mengenai peluang dan tantangan pengembangan energi bersih di wilayah mereka. Beberapa poin yang menjadi perhatian bersama antara lain potensi kerja sama dalam transfer teknologi, pengembangan investasi PLTA/M, serta penelitian bersama di sektor energi hijau.

General Manager PLN UIW NTB, Sri Heny Purwanti, menyampaikan bahwa kunjungan delegasi Balkan menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang investasi di sektor EBT. “NTB memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, angin, biomassa, hingga arus laut. Potensi ini dapat menjadi dasar kolaborasi strategis antara Indonesia dan negara-negara Balkan dalam mendukung transisi energi global,” ungkap Sri Heny.

Ia menambahkan, melalui kolaborasi internasional, pemanfaatan teknologi dan pendanaan dapat mempercepat realisasi proyek-proyek EBT di NTB maupun di wilayah lain di Indonesia. “Kami berharap hasil dari kunjungan ini dapat diterjemahkan menjadi program teknis dan kerja sama konkret yang mendukung Kebijakan Energi Nasional sekaligus sejalan dengan European Green Deal,” lanjutnya.

Salah satu perwakilan delegasi dari Bosnia & Herzegovina, Momcilo Vukovic, menyampaikan kesannya terhadap potensi EBT di Lombok.

“Saya melihat banyak peluang untuk tenaga air dan surya di sini. Kondisinya mirip dengan Bosnia, di mana energi bersih bisa dimaksimalkan untuk menjaga lingkungan tetap lestari sekaligus mengurangi polusi. Ini adalah langkah terbaik untuk masa depan NTB,” ujarnya.

Para tamu delegasi menyampaikan apresiasi terhadap pengelolaan pembangkit EBT oleh PLN di NTB. Mereka menilai, sistem pengelolaan PLTMH di Lombok dapat direplikasi di negara-negara Balkan, dengan adaptasi sesuai kondisi lokal masing-masing negara.

Kunjungan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam diplomasi energi, dengan menawarkan praktik pengelolaan EBT berbasis kearifan lokal yang adaptif.(bul)

Tuan Rumah 2nd KUSEA Championship dan 1st Beach Kurash Championship, Kesempatan NTB Promosikan Pariwisata di ASEAN

0
Pembukaan The 2nd KUSEA Championship dan The 1st KUSEA Beach Kurash Championship tahun 2025 di Gelanggang Pemuda Mataram, Jumat, 29 Agustus 2025. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – NTB menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 2nd KUSEA Championship dan The 1st KUSEA Beach Kurash Championship tahun 2025. Event yang dibuka di Gelanggang Pemuda Mataram oleh Asisten III (Administrasi Umum) Setda NTB Hj. Eva Dewiyani, SP., mewakili Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal ini digelar di dua lokasi, yakni di Gelanggang Pemuda dan Pantai Senggigi, Lombok Barat, Jumat 29 Agustus 2025.

Event ini diikuti 200 peserta dari 7 negara ASEAN, yakni Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Myanmar, Thailand dan tuan rumah Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Perkushi, Mayjen TNI (Purn) Teuku Abdul Hafil Fuddin, menyebut, jika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah The 2nd KUSEA Championship dan The 1st KUSEA Beach Kurash Championship tahun 2025 dan panitia pusat menunjuk NTB sebagai lokasi penyelenggaraan.

Kepada wartawan usai pembukaan, Teuku Hafil Fuddin mengakui, jika pihaknya sengaja menunjuk Lombok sebagai lokasi penyelenggaraan, karena akan menjadi tuan rumah pada tahun 2028. Selain itu, NTB, khususnya memiliki banyak objek wisata menarik yang bisa dijual pada peserta. ‘’Mereka kan jumlahnya yang datang sebanyak 200 orang. Jika peserta yang junior, pasti akan datang bersama orang tuanya. Kami perkirakan sekitar 500 orang yang datang bersama keluarga mereka,’’ ujarnya.

Untuk itu, harapnya, peserta yang bertanding dan datang bersama keluarganya bisa menikmati objek wisata yang ada di daerah ini. Tidak hanya itu, para peserta juga mempromosikan potensi wisata di daerah ini di negara masing-masing. ‘’Hal ini sejalan juga dengan visi misi Pak Gubernur yang fokus pada pengembangan pariwisata,’’ tambahnya.

Hal senada disampaikan panitia pelaksana dari Thailand Pulshak Satyatam Nukul. Pulshak mengaku pertama kalinya datang ke Lombok dan terkesan dengan potensi objek wisata yang dimiliki. Begitu juga dengan keramahtamahan masyarakat Lombok yang membuatnya terkesan, sehingga membuat dirinya dan delegasi dari peserta The 2nd KUSEA Championship dan The 1st KUSEA Beach Kurash Championship tahun 2025 betah.

Begitu juga dengan lokasi penyelenggaraan di Senggigi, cukup indah dan bisa membuat betah peserta yang bertanding.

Sementara Asisten III Setda NTB Hj. Eva Dewiyani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kejuaraan kurash di NTB. Menurutnya, olahraga ini tidak hanya menumbuhkan semangat kompetisi, tetapi juga membentuk karakter generasi muda.

Adanya kejuaraan ini, NTB mendapat daya tarik tersendiri, khususnya bagi generasi muda. Olahraga ini mendidik masyarakat dalam hal disiplin dan sportivitas.

Kejuaraan ini diikuti atlet dari tujuh negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia (98 atlet), Malaysia (32), Singapura (22), Vietnam (51), Filipina (41), Thailand (16), dan Myanmar (1). Selain pertandingan, digelar pula seminar wasit internasional. (ham)

NTB Dorong Hilirisasi Komoditas Perikanan untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

0
Salah satu kegiatan hilirisasi perikanan di NTB(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mendorong hilirisasi sektor kelautan dan perikanan guna mengoptimalkan pendapatan daerah. Hal ini menjadi langkah strategis di tengah berkurangnya kewenangan daerah oleh pemerintah pusat. Apalagi diketahui, transfer pemerintah pusat pada tahun 2026 mendatang diketahui berkurang hingga Rp900 miliar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, H Muslim, MT, mengatakan bahwa hilirisasi merupakan jawaban mutlak untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. “Dalam rancangan perda yang sudah kami susun bersama DPRD, kami mencantumkan kewajiban hilirisasi terhadap komoditas strategis kelautan dan perikanan agar daerah mendapatkan nilai tambah,” ujarnya di Mataram, Jumat 29 Agustus 2025.

Menurut Muslim, terdapat lima komoditas strategis yang menjadi fokus hilirisasi, yakni tuna, cakalang, rumput laut, udang vaname, dan garam. Beberapa di antaranya, seperti garam dan tuna, sudah mulai masuk tahap pengolahan, namun pemerintah daerah berupaya memperluas skala industri hilirisasi di masa mendatang.

Potensi terbesar terdapat pada produksi udang vaname yang mencapai lebih dari 197 ribu ton per tahun. Selama ini hasil budidaya banyak dikirim ke luar daerah untuk diproses, seperti ke Surabaya. “Ke depan, pengolahan harus dilakukan di NTB. Kami sudah siapkan regulasi dalam perda untuk mendorong keterlibatan pihak swasta, termasuk penyediaan lahan, perizinan, dan pembangunan cold storage,” jelasnya.

Selain meningkatkan pendapatan daerah, hilirisasi juga diharapkan menyerap tenaga kerja lokal. Muslim menegaskan bahwa perusahaan yang berinvestasi wajib mempekerjakan tenaga kerja NTB, khususnya lulusan SMK yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Ini bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menekan angka kemiskinan dengan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” tambahnya.

Pemerintah Provinsi NTB juga memanfaatkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2016 tentang insentif investasi sebagai instrumen untuk menarik mitra swasta dalam pengembangan industri perikanan.(bul)

Bentuk Penjaminan Pembiayaan Syariah, Aceh Belajar ke Jamkrida NTB Syariah

0
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh melakukan kunjungan kerja ke PT Jamkrida NTB Syariah di Mataram(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh melakukan kunjungan kerja ke PT Jamkrida NTB Syariah di Mataram, Jumat 29 Agustus 2025.

Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPR Aceh, Hj Aisyah Ismail, S.Ag, dengan tujuan silaturahmi sekaligus berdiskusi terkait pengembangan lembaga penjaminan pembiayaan berbasis syariah.

Kunjungan kerja Komisi III DPR Aceh di Kantor Jamkrida NTB Syariah ini disambut langsung Plt Kepala Biro Ekonomi NTB, H. Muslim, MT, Direktur Utama Jamkrida NTB Syariah Lalu. Taufik Mulyajati, perwakilan Biro Hukum, serta BPKAD NTB.

Hj Aisyah menjelaskan, Aceh hingga saat ini belum memiliki lembaga penjaminan syariah. Karena itu, pihaknya melakukan konsultasi ke NTB yang dinilai berhasil mengembangkan Jamkrida NTB Syariah.

“Kami ingin belajar dari NTB, karena keberhasilan Jamkrida NTB Syariah bisa menjadi referensi dalam pembentukan lembaga serupa di Aceh,” ujarnya.

Menurut Aisyah, Aceh dan NTB memiliki banyak kesamaan, terutama dari sisi karakter masyarakat yang mayoritas muslim hingga mencapai 90 persen. Kondisi ini dinilai relevan dengan upaya penguatan ekonomi berbasis syariah yang tengah digagas di Aceh.

“Seperti halnya NTB, Aceh juga sedang berproses menuju penerapan sistem keuangan berbasis syariah secara menyeluruh. Kehadiran lembaga penjaminan syariah akan sangat membantu masyarakat, khususnya dalam mengakses pembiayaan,” tambahnya.

Aisyah menegaskan, kunjungan kerja ini sekaligus menjadi langkah awal Komisi III DPR Aceh dalam merancang regulasi serta mendorong lahirnya lembaga penjaminan syariah di Aceh.

“Harapannya, pengalaman NTB bisa kami terapkan di Aceh agar masyarakat merasakan manfaat yang sama,” tutupnya.

Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama Jamkrida NTB Syariah, Lalu Taufik Mulyajati memaparkan pengalaman Jamkrida NTB dalam proses pendirian hingga konversi ke sistem syariah. Diskusi juga berjalan hangat dan berimbang, terutama terkait langkah-langkah yang ditempuh hingga perusahaan dapat beroperasi penuh sebagai penjaminan daerah berbasis syariah.

“Alhamdulillah, tadi kita bisa sharing bagaimana proses dari perda pendirian sampai dengan konversi menjadi syariah. Termasuk berbagi pengalaman menghadapi tantangan yang ada, sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi rencana pendirian Jamkrida di Aceh,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam pendirian perusahaan penjaminan syariah adalah penyusunan regulasi, khususnya perda, serta pemenuhan modal dasar. “Modal ini menjadi hal krusial. Apalagi regulasi dari OJK mengharuskan penambahan modal dasar hampir setiap lima tahun,” jelas Taufik.

Lebih lanjut, Taufik menekankan bahwa keberadaan Jamkrida Syariah akan memberi peluang besar dalam mendukung pembiayaan daerah. Dengan mayoritas bank di Aceh sudah beroperasi secara syariah, potensi bisnis penjaminan diyakini sangat besar.

“Setelah menjadi syariah, justru akan semakin mempermudah. Seperti di NTB, Bank NTB sudah syariah, sehingga hampir 100 persen bisnis bisa dijamin oleh Jamkrida. Hal yang sama juga bisa dilakukan di Aceh melalui Jamkrida Aceh Syariah,” terangnya.

Menurut Taufik, optimalisasi penjaminan pembiayaan berbasis syariah berpotensi menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru di Aceh. Selain itu, perusahaan penjaminan juga dapat memberikan kontribusi dalam bentuk dividen bagi pemerintah daerah.(bul)

Emas Antam Jumat Ini Naik Lagi, Kini Melonjak Rp20.000/gram ‎

0
Emas Antam (ekbisntb.com/ant)

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia, Jumat (29/8) terus mengalami kenaikan sejak 26 Agustus. Kini meroket Rp20.000 dari semula Rp1.944.000 menjadi Rp1.964.000 per gram.

‎Adapun harga jual kembali (buyback) sebesar Rp1.790.000 per gram.
‎Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017.

‎Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.

‎PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback. Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di laman Logam Mulia Antam pada Jumat:

‎- Harga emas 0,5 gram: Rp1.032.000.

‎- ⁠Harga emas 1 gram: Rp1.964.000.

‎- ⁠Harga emas 2 gram: Rp3.868.000.

‎- ⁠Harga emas 3 gram: Rp5.777.000.

‎- ⁠Harga emas 5 gram: Rp9.595.000.

‎- ⁠Harga emas 10 gram: Rp19.135.000.

‎- Harga emas 25 gram: Rp47.712.000.

‎- ⁠Harga emas 50 gram: Rp95.345.000.

‎- ⁠Harga emas 100 gram: Rp190.612.000.

‎- ⁠Harga emas 250 gram: Rp476.265.000.

‎- ⁠Harga emas 500 gram: Rp952.320.000.

‎- ⁠Harga emas 1.000 gram: Rp1.904.600.000.

‎Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

‎Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22.(ant)

Rupiah Melemah Dipengaruhi Dampak Negatif dari Demo

0
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS(ekbisntb.com/ant)

Jakarta (ekbisntb.com) – Ekonom Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah sedikit dipengaruhi dampak negatif dari demo.​

“Hari ini masih ada ruang pelemahan karena faktor global dan juga mungkin ada sedikit dampak negatif dari demo,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, video kejadian rantis barracuda Brimob melindas seorang pengendara ojek online (ojol) tersebar di berbagai platform media sosial (medsos) masyarakat, yang diperkirakan berlokasi di Pejompongan, Jakarta.

Setelah melindas korban, kendaraan taktis tersebut lanjut memacu kecepatan dan meninggalkan lokasi kejadian.

Sejumlah warga dan pengendara yang geram pun mengejar kendaraan itu hingga ke Jalan Layang Non-Tol Kasablanca.

Korban, yang diketahui seorang laki-laki, dikabarkan meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit terdekat di kawasan Jakarta Pusat.

Pada Kamis (29/8/2025), aksi unjuk rasa yang semula terpusat di depan Kompleks MPR, DPR, DPD RI, Jakarta, sejak siang hari, kemudian berlanjut sampai sore hari berujung ricuh.

Beberapa lokasi di sekitar Kompleks Parlemen, Senayan, pun menjadi tempat massa bentrok dengan aparat. Titik-titik terjadinya bentrok itu antara lain di Jalan Penjernihan, Jalan Penjompongan, Bendungan Hilir, KS Tubun Petamburan, dan Palmerah.

Di samping itu, kurs rupiah memang terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir karena dipengaruhi oleh faktor global.

“DXY-nya (US Dollar Index) juga sedang mengalami penguatan dalam 4 hari terakhir di atas 98,” ucap Rully.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Jumat di Jakarta melemah sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.354 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.353 per dolar AS. (ant)

BAZNAS NTB Raih Dua Penghargaan Bergengsi di BAZNAS Awards 2025

0
Wakil Ketua I Baznas NTB, Muhyi Abidin menerima penghargaan dari Pimpian BAZNAS RI, Rizaludin Kurniawan M.Si.(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Kamis, 28 Agustus 2025 menjadi momentum istimewa bagi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam ajang BAZNAS Awards 2025 yang digelar secara meriah di Jakarta, BAZNAS NTB berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Dua Kategori Penghargaan Sekaligus, yakni:

1. BAZNAS Provinsi Pengumpulan ASN Terbaik

2. BAZNAS Provinsi Pengumpulan Palestina Terbaik

Penghargaan ini diterima langsung oleh Ketua Baznas NTB Dr. Lalu M. Iqbal Murad, MA beserta komisioner BAZNAS NTB yang hadir dalam acara bergengsi tersebut. Rasa syukur dan haru menyelimuti seluruh jajaran karena penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi atas kerja keras lembaga, melainkan juga pengakuan nasional terhadap dedikasi dan konsistensi BAZNAS NTB dalam mengelola Zakat, Infak dan Sedekah secara profesional, transparan, dan amanah.

Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa BAZNAS NTB terus berupaya menghadirkan layanan terbaik bagi umat, khususnya melalui program-program yang menyasar peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB serta kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan internasional, seperti dukungan untuk rakyat Palestina.

Dalam kesempatan ini, Ketua BAZNAS NTB menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh ASN, masyarakat NTB, serta para muzaki dan donatur yang telah mempercayakan Zakat, Infak, dan Sedekahnya melalui BAZNAS NTB. Kepercayaan dan Partisipasi tersebut menjadi energi utama bagi lembaga ini untuk terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas.

BAZNAS Awards sendiri merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan BAZNAS RI untuk memberikan penghargaan kepada lembaga-lembaga BAZNAS dan LAZ provinsi maupun kabupaten/kota yang menunjukkan kinerja terbaik dalam berbagai aspek. Penghargaan yang diterima BAZNAS NTB tahun ini menegaskan komitmen untuk menguatkan peran zakat sebagai instrumen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan prestasi ini, BAZNAS NTB berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas jangkauan program, serta menjaga amanah masyarakat agar Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) benar-benar menjadi solusi bagi pengentasan kemiskinan dan penguatan solidaritas umat.

“Terima kasih NTB, Mari terus bersama BAZNAS NTB dalam menebar manfaat dan membangun negeri,” tandasnya.(bul)

Imbas Syarat Pembayaran TPP Lunas Pajak Sebulan, Setoran Pajak di Dompu Capai Rp900an Juta

0
Joni Ardiansyah(ekbisntb.com/ula)

Dompu (ekbisntb.com) – Kebijakan Bupati mengharuskan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi contoh warga taat pajak membuahkan hasil. Dalam sebulan ini, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dibayarkan di Dompu mencapai Rp900an juta dari target Rp1,7 miliar.

“Ini (Rp900an juta) murni dari PNS dan PPPK yang membayar PBB. Belum dari desa-desa (yang memungut PBB),” kata Kepala Bidang Penagihan dan Pengendalian Pendapatan Bappendda Kabupaten Dompu, Joni Ardiansyah, SE., yang dikonfirmasi, Rabu 27 Agustus 2025 siang.

Contoh kepatuhan pembayaran pajak ini diberlakukan Bupati dengan mensyaratkan setiap ASN di Dompu bisa dibayarkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), bila melunasi tunggakan PBB. ASN yang memiliki tanah dan bangunan bersertifikat, juga harus melampirkan bukti Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) hingga 2025 atau bukti cicilannya.

Kendati TPP dan PBB diatur oleh regulasi berbeda, namun keinginan pimpinan agar pegawai menjadi garda terdepan memberi contoh atas kebijakan daerah juga tidak keliru. Apalagi PBB yang dibayarkan, akan kembali ke ASN dan Masyarakat luas dalam bentuk program kegiatan Pembangunan.

Joni Ardiansyah juga mengungkapkan, 80 persen SPPT yang diterbitkan tidak sinkron dengan sertifikat hak milik. Kondisi ini sering disalahgunakan oleh ahli waris untuk memproses hukum dengan merujuk riwayat tanah. Sehingga didorong, bagi pemilik sertifikat untuk segera menyesuaikan riwayat tanah yang dimiliki dengan bukti SPPT terbaru.

Terkait keluhan kenaikan PBB dibandingkan tahun sebelumnya. Joni mengatakan, kenaikan hanya 10 persen. Kenaikan ini akibat penyesuaian Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang tidak kena pajak, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

“Kenaikannya tidak seberapa, karena perhitungan kita masih hitung per are dan hectare. Berbeda dengan di kota yang hitungannya per meter. Itulah kenapa seperti di Pati itu menjadi gejolak, karena terasa besar jadinya,” kata Jon sapaan akrab Joni ini.

Bappenda saat ini, kata Joni, bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) untuk melakukan pemutakhiran data tanah dan bangunan. Ke depan ada tiga klasifikasi tanah berdasarkan posisinya dari jalan dan itu mempengaruhi nilainya. Kecamatan Hu’u dipilih lebih awal karena transaksinya cukup tinggi, sehingga dibutuhkan data yang akurat dalam menghitung BPHTB-nya. (ula)

Perumda Barinas Akui Beras ASN KSB Tak Sesuai Takaran

0
Beras ASN KSB saat ditimbang menunjukkan takaran yang tidak mencapai berat netto 5,5 kilogram(ekbisntb.com/ist)

Taliwang (ekbisntb.com) – Jatah beras bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Sumbawa Barat diduga tidak sesuai takaran. Sedianya beras yang diterima para ASN setiap bulan itu, takarannya memiliki berat (netto) 5,5 kilogram (kg). Namun fakta di lapangan saat dilakukan penimbangan, beratnya berkurang.

Kondisi itu pun diakui oleh Perusahaan Umum Daerah Bariri Aneka Usaha (Perumda Barinas) selaku pihak penyalur. Menurut Perusda KSB ini, pihaknya telah mendeteksi kurangnya takaran beras ASN tersebut sejak beberapa waktu lalu, dan bahkan telah menindaklanjutinya. “Sebelum ramai diposting di medsos itu. Kita sudah tahu kok dan kita pun langsung menindaklanjutinya ke pihak Bulog,” kata Direktur Perumda Barinas KSB, Baharuddin Ang, Kamis 28 Agustus 2025.

Ketika awal mengetahuinya, Baharuddin mengungkap, pihaknya langsung mengecek ke pabrik penggilingan Bulog di Lape, Kabupaten Sumbawa, tempat beras ASN itu diolah. Ditemukan kekurangan pada setiap kemasannya sekitar 0,02 gram. “Teman-teman yang saya kirim saya suruh foto hasil timbangannya sebagai bukti, dan memang kuranya sampai 0,02 gram,” paparnya.

Mendapat bukti itu, Perumda Barinas selanjutnya bersurat resmi ke Bulog untuk meminta penjelasan resmi Bulog terkait takaran beras ASN yang menyusut tersebut. “Sekarang kami sedang menunggu jawaban resmi Bulog. Dan harapan kami jawabannya sekaligus mereka mengembalikan takaran beras ASN itu sesuai dengan yang kita sepakati (5,5kg),” kata Baharuddin.

Dalam kesempatan itu, Baharuddin turut mengungkit masih adanya kritik mengenai kualitas beras ASN yang tidak sesuai spesifikasi beras premium. Mengenai hal ini, ia dengan tegas menantang para pengkritik. Baharuddin menyatakan, kualitas beras ASN yang disalurkan pihaknya bekerja sama dengan Bulog itu memenuhi standar beras premium.

“Kalau ada yang bilang jelek, pertemukan saya dengan orangnya langsung. Saya akan tantang dia membuktikan tudingannya itu,” tandasnya seraya menambahkan kualitas beras ASN sekarang ini banyak dipuji oleh para pegawai.

“Para kepala dinas, guru-guru dan banyak lagi pegawai bilang beras yang kami salurkan pulen ketika sudah menjadi nasi. Itu artinya yang kita salurkan adalah beras yang diolah dari gabah baru,” sambung Baharuddin.

Selanjutnya ia juga menanggapi mengenai harga Beras ASN yang dianggap banyak pihak terlampau mahal. Pasalnya uang bulanan para ASN untuk menebus beras itu sebesar Rp100 ribu, namun hanya memperoleh beras 5,5kg. “Kalau mengacu HET beras premium senilai Rp14.900, 5,5kg itu jatuh pada harga Rp81.950. Memang ada lebihnya Rp18.050. Tapi kan harus dihitung juga biaya produksi, pengemasan, distribusinya termasuk keuntungan kami selaku penyalur,” imbuhnya. (bug)