Friday, April 24, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 109

Wagub NTB Minta Jajaran Bappenda Tingkatkan Kualitas Pelayanan dan Minimalisir Kebocoran

0
Wagub NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri saat memberikan pengarahan di Bappenda Provinsi NTB, Selasa (18/11/2025). (ekbisntb.com/Biro Adpim Setda NTB)

Lombok (ekbisntb.com) –

Wakil Gubernur (Wagub) Hj. Indah Dhamayanti Putri atau Umi Dinda meminta jajaran Bappenda NTB untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan meminimalisir kebocoran pendapatan baik dari sistem maupun yang mungkin dilakukan oleh sejumlah oknum.

“Saya hadir untuk memastikan tempat pelayanan yang tentunya menentukan sumber-sumber pendapatan dan pembelanjaan kita bisa berjalan dengan baik. Kita harus meminimalisir kebocoran baik dari sistem maupun yang dilakukan oleh sejumlah oknum,” ujarnya saat memberi pengarahan di Kantor Bappenda NTB, Selasa (18/11/2025).

Kunjungan Ke Bappenda sekaligus untuk memastikan target yang sudah dicapai sejumlah UPT yang tersebar di kabupaten/kota, apakah sudah mencapai angka di atas 50 persen dan untuk mengetahui UPT di wilayah mana yang paling rendah capaiannya pada bulan November ini.

Hal ini bertujuan agar dalam memutuskan target pendapatan pada tahun selanjutnya juga harus melihat sejauh mana capaian yang terlaksana pada tahun berjalan.

“Bapak/ibu harus mampu memetakan dengan baik, apa saja kendala kemudian sumber atau kantong-kantong PAD dan apa permasalahan yang dihadapi serta potensi yang dimiliki,” imbuh Umi Dinda – sapaan akrabnya.

Mantan Bupati Bima ini juga meminta jajaran Bappenda NTB terus bekerja dengan baik dan tidak membuat kegaduhan yang berimbas pada kurangnya kepercayaan publik terhadap sistem pemerintahan yang saat ini sekarang sedang berjalan.

Kunjungan ke Bappenda, didampingi Asisten III Setda NTB, Inspektur Provinsi NTB dan Kepala BKD. Selain memberikan arahan, Wagub NTB juga meninjau sejumlah ruangan dan berdialog dengan para staf di Ruang Bidang Pajak Daerah, Ruang Bidang Pengendalian dan Pembinaan serta Ruang Control Center. (r/ham)

Diskop UKM Lombok Timur Pastikan Segera Cairkan Bansos UMKM Rp20 Miliar

0
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Lombok Timur Baiq Farida Apriani. (ekbisntb.com/rus)

Lombok (ekbisntb.com) –

Dinas Koperasi dan UKM Lombok Timur (Lotim) memastikan segera akan mencairkan bantuan sosial (Bansos) senilai Rp 20 miliar untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bantuan yang telah dianggarkan dalam APBD induk 2025 ini  pada bulan November ini diyakinkan akan langsung dimasukkan ke rekening masing-masing calon penerima yang sudah terverifikasi.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Lotim, Baiq Farida Apriani, Selasa (18/11/2025) di kantor Bupati Lotim menjelaskan, verifikasi terhadap 30 ribu calon penerima manfaat bansos ini sudah rampung proses verifikasinya. Sehingga pencairan dipastikan dalam waktu dekat dapat dilakukan sesuai petunjuk Bupati Lotim.

“Saya mau melapor ke Bupati ini soal ini, rencana Bulan November ini sudah bisa dicairkan,” ungkap Baiq Farida.

Anggaran yang sudah disiapkan tersebut katanya tidak boleh tidak dicairkan karena akan jadi Selisih Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa). “Tidak boleh jadi Silpa,” ungkapnya.

Mengingat jumlah sasaran penerima bansos cukup besar, diakui kemungkinan besar yang akan diterima tidaklah terlalu besar. Bagi pelaku usaha kecil, tetap itu akan sangat bermakna. “Bagi pedagang urap-urap, pedagang cilok itu pasti sangat membantu,” demikian ucapnya

Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPRD Lotim, H. Lalu Hasan Rahman mendesak pemerintah daerah Kabupaten Lotim, khususnya Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil segera mencairkan bantuan modal Rp 20 miliar untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Diketahui, alokasi bantuan gratis untuk pelaku usaha kecil itu sudah teralokasi lama.

“Kita minta dana Rp 20 miliar itu segera dicairkan, jangan terlalu lama,” pesan Lalu Hasan Rahman. Menurutnya, bantuan untuk para pengusaha kecil ini akan memiliki dampak besar bagi ekonomi masyakarat. (rus)

Diduga Telantarkan Lahan, Bupati Lombok Timur akan Panggil Investor Pemegang Izin

0

Lombok (ekbisntb.com) –

 Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengambil sikap tegas terhadap para investor yang dianggap menelantarkan lahan yang telah memperoleh izin pengelolaan. Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menyampaikan rencananya untuk memanggil para investor tersebut dalam waktu dekat.

Langkah ini diambil setelah pemkab mendata puluhan izin pengelolaan lahan yang tidak dioptimalkan oleh para investor pemegangnya. Luas lahan terlantar yang telah teridentifikasi mencapai ratusan hektar dan tersebar di beberapa lokasi di wilayah Lotim.

“Kita akan panggil PT-PT itu dalam waktu dekat ini,” tegas Bupati yang akrab disapa H. Iron tersebut, saat dikonfirmasi oleh media di Selong, Senin (17/11/2025).

Meskipun tidak menyebutkan secara rinci nama-nama perusahaan yang akan dipanggil, H. Iron menegaskan pemanggilan ini merupakan langkah awal untuk melakukan evaluasi dan klarifikasi. Pemerintah ingin mengetahui kendala yang dihadapi oleh investor hingga menyebabkan lahan yang seharusnya dikelola justru terbengkalai.

“Kami perlu duduk bersama. Ada apa dengan izin yang sudah diberikan, mengapa lahannya tidak kunjung digarap? Ini penting untuk kepastian hukum dan yang utama untuk mendorong perekonomian di Lotim,” ujar H. Iron.

Penelantaran lahan dalam jangka waktu yang lama dinilai merugikan masyarakat dan daerah. Lahan yang tidak produktif menghambat potensi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Selain itu, lahan telantar juga sering menimbulkan permasalahan sosial dan lingkungan.

Rencana pemanggilan ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Masyarakat berharap langkah tegas ini dapat membangkitkan kembali aset-aset produktif yang selama ini terbengkalai. Jika setelah pemanggilan dan proses mediasi investor tetap tidak menunjukkan keseriusan, Pemerintah Kabupaten Lotim tidak menutup kemungkinan untuk mengambil tindakan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan, termasuk mencabut izin yang telah diberikan.

Kebijakan Bupati Haerul Warisin ini sejalan dengan komitmennya untuk mendorong iklim investasi yang sehat dan bertanggung jawab, di mana investasi yang masuk harus memberikan dampak nyata bagi kemajuan Lombok Timur. (rus)

Pemesanan Kamar Hotel untuk Momentum Natal 2025 di Senggigi Sudah di Atas 50 Persen

0
Ketut Jaya (ekbis NTB/Ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, tingkat pemesanan kamar hotel di kawasan Senggigi mulai menunjukkan peningkatan. Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, Ketut Jaya, mengungkapkan bahwa okupansi hotel untuk Malam Natal saat ini sudah melampaui 50 persen dan terus bergerak naik.

“Booking untuk Malam Natal sudah di atas 50 persen. Bahkan beberapa hotel sudah mencatat reservasi hingga 72 persen,” ujar Ketut Jaya, Senin, 17 November 2025.

Ia menjelaskan, tren kenaikan okupansi menjelang Nataru (Natal dan tahun Baru) selalu terjadi setiap tahun. Hotel-hotel di Senggigi rutin menyiapkan berbagai promo akhir tahun, mulai dari paket malam Natal, buffet dinner, brunch, hingga gala dinner pada malam Tahun Baru. Semua penawaran tersebut sudah dipublikasikan melalui situs resmi hotel dan media sosial masing-masing.

Menurutnya, permintaan kamar meningkat karena momen Natal dan Tahun Baru selalu menjadi periode liburan puncak. Kondisi ini membuat sejumlah hotel melakukan penyesuaian harga, meski tetap mempertimbangkan dinamika permintaan.

“Demand biasanya naik sehingga tarif ikut disesuaikan. Banyak hotel menjual paket lengkap termasuk dinner, brunch, hingga gala dinner,” kata General Manager Holiday Resort ini.

Dari sisi wisatawan, komposisi tamu yang menginap cukup beragam. Hotel-hotel butik cenderung didominasi wisatawan mancanegara, sementara hotel-hotel resor besar dihuni campuran tamu domestik dan turis asing.

“Segmentasinya campur, tamu lokal ada, tamu mancanegara juga cukup banyak,” jelasnya.

Untuk malam Tahun Baru, ditambahkannya, tingkat pemesanan saat ini mencapai sekitar 60 persen dan diperkirakan terus naik seiring semakin dekatnya tanggal puncak. Meski saat ini masih low season, okupansi hotel di Senggigi pada November sudah berada di kisaran 60 persen. Angka yang dinilai cukup baik.

Ketut menjelaskan bahwa puncak kenaikan okupansi biasanya terjadi mulai 21 Desember hingga 5 Januari, di mana permintaan kamar berada pada level tertinggi. Pada periode tersebut, sebagian besar hotel juga menerapkan sistem tarif bertingkat sesuai tingkat keterisian, mulai dari 45 persen, 50 persen, 75 persen, hingga penyesuaian harga di atasnya.

“Harga akan mengikuti demand. Saat okupansi belum tinggi, tarif lebih fleksibel. Begitu permintaan naik, hotel menyesuaikan strategi harga masing-masing. Hal ini lumrah Dimana-mana,” terangnya.

Saat ini, kawasan Senggigi memiliki sekitar 2.300 kamar hotel dari berbagai kelas, mulai dari hotel butik, resor, hingga properti menengah. Seluruhnya tengah mempersiapkan fasilitas dan layanan untuk memastikan kenyamanan wisatawan selama musim libur akhir tahun.

Dengan tren kenaikan pemesanan yang terus bergerak positif, Asosiasi Hotel Senggigi optimistis okupansi saat Nataru tahun ini akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

“Ada harapan besar bahwa okupansi Desember tahun ini akan meningkat berkat kontribusi libur Natal dan Tahun Baru,” demikian Ketut.(bul)

Bupati Lombok Timur Pastikan Gaji 12.570 ASN Aman  

0
Suasana Rapat paripurna KUA PPAS di DPRD Lotim, Senin 17 November 2025. (ekbis NTB/rus)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur (Lotim) telah mengajukan draf Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA PPAS) untuk tahun 2026. Di tengah kondisi fiskal yang ketat dan pemangkasan anggaran mencapai Rp 402 miliar, Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, memastikan hak-hak 12.570 Aparatur Sipil Negara (ASN) akan terlindungi.

Komitmen ini disampaikan Bupati yang akrab disapa Bupati Iron usai sidang paripurna di gedung DPRD Lotim, Senin (17/11/2025).

Ia menegaskan belanja pegawai sebesar Rp 1,448 triliun merupakan pos yang tidak terganggu, meski daerah harus berhemat.

“Di tengah keterbatasan fiskal daerah, kami pastikan belanja pegawai sebesar Rp 1,4 triliun aman. Ini diperuntukkan untuk gaji 12.570 orang ASN, tambahan penghasilan, tunjangan kepala daerah dan DPRD, serta jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan,” ujar Bupati Iron.

Total belanja daerah dalam Rancangan APBD 2026 dianggarkan sebesar Rp 3,072 triliun. Selain belanja pegawai, anggaran tersebut dialokasikan untuk beberapa pos penting lainnya:

Belanja Barang dan Jasa: Rp 831,99 miliar, digunakan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Kesehatan, honor non-ASN, dan operasional Puskesmas/Rumah Sakit.

Belanja Modal dialokasikan Rp 262,295 miliar, dialokasikan untuk pembangunan sarana prasarana publik seperti pengadaan tanah, peralatan mesin, alat kesehatan, dan jalan.

Belanja Hibah Rp 95,053 miliar, untuk operasional sekolah swasta, PAUD, dan partai politik. Belanja Bantuan Sosial: Rp 6,7 miliar, diperuntukkan bagi anak yatim dan masyarakat kurang mampu. Belanja Bantuan ke Desa: Rp 391,382 miliar, berupa Dana Desa dan Alokasi Dana Desa yang akan disalurkan ke 239 desa. Belanja Tak Terduga: Rp 10 miliar, sebagai cadangan untuk penanggulangan bencana.

Untuk mendanai belanja tersebut, target pendapatan daerah ditetapkan sebesar Rp 3,72 triliun. Sumber pendapatan utama berasal dari Transfer Pusat sebesar Rp 2,487 triliun, yang mencakup Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) ditargetkan sebesar Rp 584,478 miliar.

Bupati Iron menekankan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun yang kompetitif. Seluruh perangkat daerah diminta aktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menarik lebih banyak program dan kegiatan, khususnya di bidang ketahanan pangan, energi, revitalisasi pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

“Kami berharap dengan sinergi yang baik, program-program pusat dapat dimaksimalkan untuk kemajuan Lombok Timur,” pungkasnya.

Draf KUA PPAS 2026 ini disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan, termasuk Permendagri No. 14 Tahun 2025, yang mengamanatkan penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Rancangan ini kini menunggu pembahasan lebih lanjut dengan DPRD Lotim untuk mendapatkan persetujuan.

Selanjutnya di tengah keterbatasan anggaran transfer daerah tersebut, ia terus berusaha untuk melakukan lobi anggaran ke pemerintah pusat. Sesuai arahan dari Presiden agar seluruh kepala daerah lebih kreatif dan inovatif.

Karena terus berusaha berada di Ibu Kota Jakarta, Bupati mengakui tidak bisa menemui warga Lotim langsung. Upaya lobi anggaran terus dilakukan agar dapat program tambahan dari pusat guna menutupi defisit. Kepada seluruh pimpinan OPD jiga didorong untuk melakukan hal sama agar pengurangan anggaran Rp 402 miliar ini bisa tertutupi dari hasil lobi-lobi tambahan yang dilakukan.   (rus)

Harus Sesuai dengan Kebutuhan Daerah

0
I Wayan Wardana(ekbis NTB/fit)

RENCANA perampingan struktur organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemkot Mataram kembali mencuat. Ketua Komisi I DPRD Kota Mataram, I Wayan Wardana, SH., menilai langkah tersebut memiliki sisi positif dan negatif, namun dapat membawa manfaat signifikan dalam upaya mengefektifkan birokrasi serta menekan belanja pegawai yang saat ini masih melampaui batas amanat undang-undang.

Wardana menjelaskan bahwa setiap kebijakan perubahan organisasi pasti memiliki konsekuensi. “Sisi apa pun keputusan atau perubahan pasti ada plus minusnya. Tapi kalau kita lihat dari sisi positif, ada penyederhanaan birokrasi, perampingan, dan tentu saja efisiensi,” ujarnya kepada Suara NTB di ruang kerjanya Senin 17 November 2025.

Ia memaparkan bahwa belanja pegawai dalam Rancangan APBD 2026 masih mencapai 42 persen. Angka tersebut jauh di atas batas maksimal 30 persen sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). “Kita masih melampaui itu. Semoga dengan adanya perampingan, belanja pegawai bisa kita kurangi sehingga memenuhi amanat undang-undang. Pada 2027 aturan itu diberlakukan penuh, jadi 2026 adalah kesempatan menata ulang birokrasi,” katanya.

Lebih lanjut politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa efisiensi tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas APBD. Anggaran yang sebelumnya terserap untuk belanja pegawai dapat dialihkan ke sektor yang lebih berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. “Kita ingin APBD yang berkualitas, yang pro-poor, benar-benar berpihak kepada kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Terkait rencana penggabungan beberapa OPD—seperti kemungkinan penggabungan Bappeda dengan Badan Riset Daerah—Komisi I menyebut bahwa hal itu masih menunggu arahan resmi pemerintah pusat maupun pemerintah kota.

“Apakah harus merujuk pada pusat atau kita bisa berkreasi sendiri, kita belum tahu. Kalau harus merujuk pusat, kita lihat dulu nomenklaturnya. Tapi kalau bisa berimprovisasi, tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing,” katanya.

Anggota dewan tiga periode ini mengingatkan bahwa tidak semua pola penggabungan di kementerian dapat langsung diadopsi di tingkat daerah. “Keputusan pusat menggabungkan satu kementerian dengan lainnya itu bagus, tapi belum tentu di tataran OPD akan efektif. Semua harus kembali pada kondisi dan kebutuhan daerah,” imbuhnya.

Di tengah proses rencana perampingan, muncul kekhawatiran di kalangan pejabat Pemkot terkait potensi kehilangan jabatan. Menanggapi hal tersebut, Wardana menilai hal itu sebagai dinamika yang wajar dalam sistem birokrasi.

“Itu dinamika biasa. Ada promosi dan demosi, dan itu lumrah. Kita sudah disumpah untuk mengabdi di mana pun dan dalam keadaan apa pun sesuai jabatan. Jadi jangan baper,” tegas Wardana.

Menurutnya, dalam birokrasi, rotasi jabatan tidak semestinya dianggap keberuntungan atau kesialan, tetapi sebagai upaya memastikan birokrasi berjalan di arah yang tepat dan berdampak bagi masyarakat. (fit)

Kebudayaan Mulai Dirumuskan Jadi Arah Pembangunan Daerah

0
Dialog Pemajuan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat 2025 Seri I yang digelar di Ballroom Marina Inn Kota Bima, Senin 17 November 2025.(ekbis NTB/ist)

Kota Bima (ekbisntb.com) – Dialog Pemajuan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat 2025 Seri I yang digelar di Ballroom Marina Inn Kota Bima, Senin 17 November 2025, menjadi ruang penting untuk mulai merumuskan arah pembangunan daerah berbasis kebudayaan. Forum ini tidak hanya mempertemukan para pemangku kebijakan, tetapi juga membuka kembali kesadaran kolektif bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan NTB ke depan.

Ketua Dewan Kebudayaan NTB, Prof. Dr. Abdul Wahid, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa dialog tersebut dirancang untuk memperluas pertukaran gagasan antarwilayah dan antarpelaku budaya. Ia menegaskan perlunya membaca ulang potensi budaya yang dimiliki setiap daerah, sekaligus memastikan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya.

“Tujuan dialog ini adalah agar terjadi lintas pengetahuan dan pemahaman tentang kebudayaan kita. Kita perlu mengungkapkan secara jujur apakah kita memiliki potensi budaya dan sejauh mana keterlibatan kita dalam mengelola potensi itu. Semua ini penting agar visi Presiden dalam Asta Cita poin ke-8 mengenai aspek kebudayaan benar-benar dapat kita kontribusikan,” ujarnya.

Momentum tersebut mendapat dukungan Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofyan, SH., ia menekankan bahwa penguatan kebudayaan harus dipahami bukan sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai langkah strategis membangun karakter dan arah pembangunan daerah.

“Kehadiran forum ini mengajak kita kembali merefleksikan nilai-nilai yang selama ini hidup di tengah masyarakat, seperti tradisi bermufakat yang menjadi jati diri kita,” kata Wakil Wali Kota.

Ia menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan tidak cukup berhenti pada pelestarian. Upaya tersebut harus bergerak seiring perkembangan zaman agar budaya tetap hidup dan relevan. Pemerintah, menurutnya, perlu membangun sinergi antara pelestarian budaya, inovasi, dan pemanfaatannya dalam sektor ekonomi kreatif.

“Ada tiga aspek utama pemajuan kebudayaan: pelestarian, pengembangan dan inovasi, serta pemanfaatan budaya dalam sektor ekonomi pariwisata kreatif. Inilah tugas penting Dewan Kebudayaan agar budaya kita terus bergerak dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dialog ini juga menjadi pijakan awal bagi Kota Bima untuk merumuskan arah kebijakan kebudayaan secara lebih terukur. Pemerintah daerah berharap langkah tersebut mampu memperkuat identitas dan memperluas kontribusi budaya dalam pembangunan sosial ekonomi.

Feri berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi landasan kuat bagi kemajuan kebudayaan yang bermartabat di Kota Bima dan NTB secara keseluruhan. (hir)

Pembangunan Talud dan Bronjong Dikerjakan 2026 dengan Anggaran Rp25 Miliar

0
Kondisi talud yang rusak akibat luapan air Sungai Ancar di kawasan Lingkungan Pamotan, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, beberapa waktu lalu. Pembangunan talud dan bronjong mulai diikerjakan 2026 dengan anggaran Rp25 miliar. (ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram telah mengajukan proposal pembangunan peninggian talud dan pemasangan bronjong di Sungai Ancar dan Sungai Unus kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Pekerjaan tersebut dipastikan mulai dikerjakan pada 2026 dengan alokasi anggaran sebesar Rp25 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahening, mengatakan pihaknya menerima kabar baik dari BWS Nusa Tenggara I bahwa pembangunan talud di dua sungai tersebut akan direalisasikan pada 2026. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp25 miliar.

“Kalau tidak salah, akan ada dana untuk bronjong dan talud. Masing-masing dialokasikan Rp15 miliar untuk Sungai Ancar dan Rp10 miliar untuk Sungai Unus,” ujarnya, Senin 17 November 2025.

Ia menambahkan, pembangunan talud dan pemasangan bronjong yang belum dapat diintervensi Pemkot Mataram pada 2025 akan dilanjutkan oleh BWS pada 2026.

Kerusakan talud tersebut, kata Lale, disebabkan oleh bencana alam berupa banjir dan gempa bumi yang terjadi pada 2018. “Untuk talud, kami sudah petakan mana saja yang rusak parah saat gempa. Insya Allah pembangunan ini sudah pasti terlaksana pada 2026,” ungkapnya.

Terkait normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan di Sungai Ancar dan Sungai Unus, Lale menjelaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan permohonan tersebut baik secara lisan maupun tertulis. Menurutnya, BWS juga telah mengetahui kondisi pendangkalan di dua sungai tersebut.

Sementara itu, menanggapi keluhan warga terkait pendangkalan sungai yang tak kunjung dinormalisasi, Lale menilai persoalannya bukan hanya sedimentasi. Penyempitan ruang sungai akibat bangunan yang didirikan di sempadan sungai turut memicu penyumbatan.

“Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin mencegah bangunan liar di bantaran sungai. Namun setiap penertiban selalu ada penolakan. Jadi tetap seperti itu,” jelasnya.

Selain kondisi sungai, Lale juga mengungkapkan adanya masalah drainase yang tertutup plat beton oleh masyarakat untuk dijadikan akses atau fasilitas tambahan. Penutupan drainase tersebut menghambat aliran air dan berpotensi menyebabkan genangan hingga banjir lokal di beberapa wilayah kota. “Ada derinase yang tersubata, itu akibat plat yang banyak di lingkungan,” pungkasnya.

Dengan adanya kepastian anggaran dan jadwal pelaksanaan pada 2026, Pemkot Mataram berharap pembangunan talud dan bronjong ini menjadi solusi struktural yang dapat mengurangi risiko banjir di kawasan padat penduduk sekitar Sungai Ancar dan Sungai Unus.(pan)

Kementerian PU Gelontorkan Rp90 Miliar untuk Bangun TPST Kebon Talo

0
H.Lalu Alwan Basri (ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram mendapat kepastian dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) soal pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern di Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan.

Melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya, Kementerian PU menyetujui pembiayaan pembangunan TPST tersebut dengan alokasi anggaran mencapai Rp90 miliar.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengatakan pembangunan TPST Kebon Talo merupakan bagian dari program nasional dalam meningkatkan sistem pengelolaan sampah di daerah. Ia memastikan bahwa seluruh biaya pembangunan akan ditanggung sepenuhnya oleh Kementerian PU.

“Kami sudah menerima informasi bahwa Kementerian PU setuju membiayai pembangunan TPST Kebon Talo. Anggarannya Rp90 miliar,” ujarnya, Senin 17 November 2025.

Sebelumnya, Kementerian PU telah melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen administratif dan teknis pembangunan TPST yang diajukan melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) NTB. Seluruh persyaratan dinyatakan lengkap sehingga pembangunan dapat segera diproses.

“Harapan kita awal tahun pekerjaan bisa dimulai karena proposal sudah masuk. Kementerian juga sudah melakukan monitoring dan kunjungan lapangan,” jelas Alwan.

Alwan menambahkan, pembangunan TPST Kebon Talo juga merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Lingkungan Hidup, namun pelaksana pembangunan dilaksanakan Kementerian PU. Pola ini sama seperti pembangunan fasilitas dapur makan bergizi (MBG) yang dibiayai kementerian lain tetapi dilaksanakan Kementerian PU.

Menurut informasi yang diterima Pemkot Mataram, pembangunan TPST Kebon Talo akan masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Kementerian PU tahun 2026.

Alwan menegaskan bahwa Kota Mataram sangat membutuhkan keberadaan TPST Kebon Talo. Dengan produksi sampah yang mencapai 250 ton per hari, keberadaan fasilitas pengolahan modern dinilai menjadi solusi krusial bagi penanganan sampah perkotaan.

TPST Kebon Talo dirancang sebagai fasilitas modern yang dapat mengolah sampah secara lebih efisien, mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta mendukung pengelolaan sampah terintegrasi berbasis pengurangan dan pemanfaatan kembali.

“TPST Kebon Talo nantinya akan sangat membantu sebagai pusat pengolahan sampah. Ini bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah kota yang semakin kompleks,” ujarnya.

Dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat, Pemkot Mataram optimistis proyek ini akan menjadi langkah besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan mengurangi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan utama kota. (pan)

Tarik Wisatawan Kalimantan melalui Promosi dan “Business Matching” di Balikpapan

0
Sahlan M. Saleh

Mataram (ekbisntb.com)– Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB melakukan langkah strategis untuk memperluas pasar wisatawan. Salah satunya, melalui kegiatan promosi dan business matching di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 17–19 November 2025.
Kegiatan yang diikuti bersama Dinas Pariwisata NTB serta sejumlah pelaku industri pariwisata ini bertujuan memperkuat penetrasi pasar Kalimantan dan mendorong peningkatan jumlah wisatawan ke Lombok dan Sumbawa.
Ketua BPPD NTB, Sahlan M. Saleh, mengatakan Kalimantan merupakan salah satu pasar potensial yang selama ini belum tergarap maksimal. Dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat serta mobilitas masyarakat Kalimantan Timur yang tinggi, peluang untuk menarik wisatawan ke NTB dinilai sangat besar.
“Karena itu, BPPD bersama seluruh pemangku kepentingan pariwisata melakukan pendekatan langsung melalui kegiatan promosi terpadu di Balikpapan,” ujar Sahlan yang juga ketua DPD Astindo NTB ini.
Menurutnya, pemilihan Balikpapan sebagai lokasi agenda promosi bukan tanpa alasan. Selain menjadi kota dengan tingkat mobilitas udara yang tinggi, Balikpapan juga merupakan pintu gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Kondisi ini dinilai membuka peluang besar bagi NTB untuk memperkenalkan destinasi wisata unggulan kepada segmen wisatawan yang lebih luas.
Sahlan menambahkan, salah satu fokus kegiatan promosi dan business matching ini juga untuk mendorong peningkatan load factor (keterisian kursi pesawat) penerbangan langsung rute Lombok–Balikpapan–Lombok.
“Saat ini, penerbangan langsung masih belum digelar setiap hari. Dengan meningkatnya minat dan pergerakan wisatawan, diharapkan jadwal penerbangan dapat menjadi harian dan semakin memudahkan akses wisatawan dari Kalimantan ke NTB, atau sebaliknya,” tambahnya.
Sahlan menambahkan, dari business matching, pelaku usaha pariwisata NTB bertemu langsung dengan asosiasi, agen perjalanan, dan pemilik usaha wisata di Balikpapan. Pertemuan ini tidak hanya memperkenalkan paket-paket wisata Lombok dan Sumbawa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi bisnis, penjualan paket bundling, serta penguatan jaringan pemasaran lintas daerah.
BPPD NTB berharap kegiatan promosi ini menjadi langkah awal dari kerja sama yang lebih intensif antara industri pariwisata kedua daerah. Dengan dukungan maskapai, agen perjalanan, serta pelaku usaha, peningkatan arus wisatawan dari Kalimantan ke NTB diyakini dapat segera terwujud.
“Ini momentum yang harus dimanfaatkan. Pasar Kalimantan besar, mobilitas tinggi, dan punya daya beli yang kuat. NTB siap menangkap peluang itu,” demikian Sahlan.(bul)