Beranda blog Halaman 107

Stok Daging Sapi Tersedia untuk Maulid Nabi

0
Stok Daging Sapi Tersedia untuk Maulid Nabi
(Suara NTB/dok) Muhammad Riadi

Mataram (EKBIS NTB) –Ketersediaan daging sapi di NTB dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026. Pemerintah daerah memastikan stok ternak siap dipotong mencukupi, meski permintaan diperkirakan meningkat pada momentum Maulid Nabi.


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Muhammad Riadi, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan daging. Pasokan ternak untuk kebutuhan konsumsi dalam daerah telah diperhitungkan melalui pengaturan kuota pengeluaran sapi.


“Kalau daging, butuh berapa, tinggal kita potong dan kita kasih. Jadi untuk ketersediaan daging tidak perlu khawatir,” kata Riadi.
Menurutnya, peningkatan permintaan daging menjelang Maulid merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun. Kondisi tersebut secara otomatis dapat mendorong kenaikan harga, namun sejauh ini kenaikannya masih dalam batas normal.


“Kalau harga, namanya permintaan naik, pasti naik. Tetapi kenaikannya masih dalam batas normal,” ujarnya.
Riadi menjelaskan, kebutuhan daging masyarakat NTB sebagian besar dipenuhi dari daging lokal. Selain itu, terdapat pula pasokan daging beku yang umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sektor hotel, restoran, dan usaha jasa boga.


Ia menegaskan, pemerintah telah memperhitungkan kebutuhan konsumsi daging di dalam daerah ketika menetapkan kuota pengeluaran sapi dari NTB. Dengan demikian, pengeluaran ternak tidak dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat lokal.


“Pada saat penetapan kuota sapi keluar, kebutuhan untuk konsumsi dalam daerah itu sudah kita alokasikan. Jadi kita sudah menghitung kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Terkait perkembangan harga, Riadi menyebut harga daging sapi di sejumlah daerah masih berada pada level yang dianggap wajar.

Di Sumbawa, misalnya, harga daging yang dipantau pemerintah berada di kisaran Rp144 ribu per kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga menjelang Maulid lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat.

Momentum Maulid di NTB memang identik dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dalam menyiapkan hidangan untuk keluarga maupun kegiatan keagamaan.


Riadi menilai kenaikan harga tersebut tidak semata-mata disebabkan persoalan pasokan. Faktor psikologis dan pola konsumsi masyarakat saat Maulid turut berpengaruh terhadap peningkatan permintaan.


“Bagaimana pun kita suplai sebanyak apa pun, ketika Maulid, permintaan daging pasti naik. Itu juga faktor psikologis dan kebiasaan masyarakat,” ujarnya.


Karena itu, Disnakeswan NTB memastikan pemantauan terhadap ketersediaan dan harga daging tetap dilakukan untuk menjaga agar kebutuhan masyarakat selama momentum Maulid dapat terpenuhi.


Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena stok daging dan ternak untuk kebutuhan konsumsi NTB masih tersedia. (bul)

Banyak Armada Kapal Penumpang Berusia Uzur Jadi Sorotan

0
Banyak Armada Kapal Penumpang Berusia Uzur Jadi Sorotan
(Suara NTB/ist) Mori Hanafi

Mataram (EKBIS NTB) -Anggota Komisi V DPR RI dari Dapil NTB 1, Mori Hanafi memberikan sorotan tajam terhadap usia sejumlah armada kapal penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang diduga sudah sangat tua. Kondisi tersebut diduga sebagai salah satu pemicu banyaknya kecelakaan kapal belakangan ini.


Dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Kepala BMKG, Kepala BNPP, serta Kepala Basarnas. Hal itu diungkapkan Mori setelah insiden kecelakaan Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin yang terbakar di perairan Selat Lombok pada Rabu, 12 Agustus 2026 lalu.


Mori membeberkan bahwa lebih dari separuh total armada yang dioperasikan Pelni saat ini telah berumur di atas tiga dekade, yang berpotensi tinggi memicu risiko kecelakaan di perairan Indonesia. Mori pun menyampaikan fakta-fakta usia kapal-kapal tua tersebut secara langsung.


“Saya mau bacain kapal-kapalnya Pelni sekarang. KM Tidar umurnya sudah 35 tahun, KM Serimau umurnya sudah 35 tahun, KM Binaya umurnya sudah 32 tahun. KM Awu umurnya sudah 35 tahun. KM Tilongkabila 31 tahun. KM Lawit 40 tahun. Bapak punya 26 kapal. 14 kapal sudah lewat 30 tahun,” ungkap Mori.


Ketua DPW Partai NasDem NTB itu menekankan bahwa tingginya usia kapal berbanding lurus dengan penurunan fungsi serta kelayakan peralatan keselamatan darurat, seperti instrumen kebakaran saat kondisi darurat.


Mori memperkirakan penyelesaian keselamatan pelayaran kerap terjadi akibat prosedur pemeriksaan keselamatan (ramp check) yang tidak berjalan optimal.


“Kalau saya bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa ada kemungkinan memang alat-alat itu karena usia yang sudah tua dan mungkin ramp check-nya itu tidak pernah dilakukan, itu tidak mampu untuk menyerap api,” ujarnya.


Mori juga memperhitungkan efektivitas pengawasan kelaikan laut serta kerapian pendataan penumpang atau manifes yang sering menjadi masalah berulang setiap kali terjadi kecelakaan kapal.


“Kapal yang sudah tua, yang alat-alatnya tidak berfungsi, dan manifes yang tidak jelas. Pertanyaan saya mau sampai kapan kita gini-gini,” tegasnya.


Karena itu Mori mendesak Kemenhub untuk memastikan kelayakan armada dan kesiapan fasilitas keselamatan sebelum kapal diizinkan berlayar, agar keselamatan nyawa masyarakat tidak terus dijadikan taruhan. (ndi)

NTB Ekspor Kerajinan Ketak Lombok ke Tiga Negara

0
NTB Ekspor Kerajinan Ketak Lombok ke Tiga Negara
(Suara NTB/ist) EKSPOR - Pelepasan ekspor kerajinan anyaman ketak Lombok ke tiga negara di dunia, Senin (24/8).


Mataram (EKBIS NTB) –Produk kerajinan anyaman ketak asal Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menembus pasar internasional. Pemerintah Provinsi NTB melepas ekspor tiga kontainer produk home décor berbahan anyaman ketak produksi PT Fatih Craft Lombok, Senin (24/8).


Tiga kontainer tersebut dikirim ke Jerman, Belgia, dan Malaysia. Pelepasan ekspor dilakukan oleh istri gubernur, sekaligus Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Hj. Sinta Iqbal, bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Lalu Wiranata, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait lainnya.


Ekspor ini menunjukkan semakin terbukanya peluang produk kerajinan NTB untuk masuk ke pasar global.
Ketua Dekranasda NTB, Hj. Sinta Iqbal, mengapresiasi konsistensi PT Fatih Craft Lombok yang mampu membawa produk kerajinan lokal hingga ke pasar Eropa.


Menurut Sinta, keberhasilan tersebut penting bukan hanya dari sisi nilai ekspor, tetapi juga sebagai contoh bagi para perajin kecil di NTB bahwa produk lokal memiliki peluang besar jika dikelola secara kreatif dan mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.


“Saya sangat berterima kasih. Ini sudah kelima kalinya PT Fatih Craft Lombok mengekspor produk kita dan membawa produk NTB ke pasar internasional,” kata Sinta.
Ia mengaku mendapatkan banyak cerita dan pembelajaran ketika pertama kali berkunjung ke tempat produksi Fatih Craft.

Salah satu hal yang menurutnya menarik adalah cara perusahaan tersebut mendapatkan pembeli dari luar negeri.
Berbeda dengan anggapan bahwa mencari pembeli ekspor harus selalu melalui pameran internasional, PT Fatih Craft justru berhasil mendapatkan pembeli atau buyer melalui media sosial, khususnya Facebook.


“Cara mendapatkan buyer-nya cukup out of the box. Saya berpikir untuk mendapatkan buyer ekspor harus ikut pameran di sana-sini, dibawa ke berbagai tempat dan diperkenalkan. Ternyata mereka mendapatkan buyer dari Facebook,” ujarnya.


Sinta menilai pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran bagi perajin lain di NTB. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing dan mengelola komunikasi digital menjadi salah satu kunci agar peluang pasar dari luar negeri tidak terlewatkan.


Sinta juga menilai masuknya produk ketak NTB ke pasar Eropa menjadi indikator bahwa produk tersebut telah melewati persyaratan dan kurasi yang tidak sederhana.


Ia menyebut pasar Eropa memiliki standar yang ketat, termasuk terkait kualitas produk dan aspek lingkungan.
Karena itu, ia meminta keberhasilan Fatih Craft tidak berhenti sebagai pencapaian satu perusahaan. Produk yang diminati pasar internasional, menurutnya, perlu menjadi referensi bagi perajin lain dalam mengembangkan desain dan kualitas produknya.


Sinta juga menekankan pentingnya menjaga identitas daerah dalam setiap produk yang dibawa ke pasar internasional. Ia berharap produk kerajinan asal NTB tetap membawa identitas NTB, Indonesia ketika dipasarkan di luar negeri.


Di sisi lain, Sinta menyoroti masih adanya sejumlah persoalan yang perlu dibenahi untuk memperkuat industri kerajinan NTB, salah satunya ketersediaan bahan baku.


Menurutnya, bahan baku yang berasal dari Kalimantan harus melewati Jawa sebelum sampai ke NTB. Jika bahan baku dapat diproduksi dan diolah langsung di NTB, rantai distribusi tersebut dapat dipangkas. “Kalau bisa diproduksi langsung dari Sumbawa, ada dua tahapan distribusi yang bisa kita potong. Ini tentu akan membuat biaya lebih efisien,” ujarnya.


Karena itu, Dekranasda NTB bersama Disperindag akan mendorong kerja sama dengan para pihak di Sumbawa untuk mencari skema pengembangan bahan baku tersebut.


Selain bahan baku, penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Sinta mendorong agar keterampilan kerajinan mulai diperkenalkan kepada generasi muda melalui sekolah, termasuk SMA, SMK hingga SLB.
Sinta pun mengajak para perajin untuk tidak berhenti berinovasi. Menurutnya, produk kerajinan yang mampu menembus pasar internasional harus terus menjaga kualitas, kreativitas dan inovasi agar permintaan pasar dapat dipertahankan.


Sementara itu, Kepala Disperindag NTB, H. Lalu Wiranata, mengatakan pemerintah saat ini fokus mendorong peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi untuk menjawab permintaan pasar ekspor.
Menurutnya, meningkatnya permintaan harus diimbangi dengan kemampuan produksi agar konsumen internasional mendapatkan kepastian pasokan sepanjang tahun.


Pemerintah juga tengah mendorong perlindungan merek agar identitas NTB tetap melekat pada produk meskipun proses ekspor dilakukan melalui daerah lain.
“Kita berkoordinasi dan bekerja sama dengan Kementerian Hukum untuk mematenkan mereknya. Fasilitasinya ada di Disperindag.

Jadi, walaupun nanti diekspor dari Jogja atau Surabaya, tetap ada merek Lombok di produk tersebut,” jelas Wiranata.
Persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah belum tersedianya titik keberangkatan ekspor kontainer langsung dari NTB.

Saat ini, produk yang akan diekspor masih harus dikirim terlebih dahulu ke Surabaya atau daerah lain sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.


Wiranata berharap pengembangan Pelabuhan Gili Mas ke depan dapat membuka peluang bagi NTB untuk menjadi titik departure ekspor langsung.


“Harapan kita ke depan ada departure point ekspor di sini. Kita belum memiliki pelabuhan kontainer untuk ekspor langsung. Kalau ekspor bisa dilakukan dari NTB, devisa dan penerimaan lainnya juga akan lebih banyak masuk ke daerah,” pungkasnya. (bul)

Pasar Seni Senggigi Krisis Air Bersih : Toilet Umum Bau, Wisatawan Beli Mineral untuk Wudhu

0

Lombok Barat (ekbisntb.com) – Pesona Senggigi yang selama ini menjadi salah satu ikon pariwisata legendaris di Lombok terusik persoalannya klasik, air bersih.
Minggu, 22 Agustus 2026 petang, suasana Pasar Seni Senggigi, Lombok Barat, mendadak riuh selepas azan Magrib berkumandang.
Bukan karena keramaian wisatawan menikmati matahari terbenam, melainkan karena banyak pengunjung kebingungan mencari air untuk berwudhu dan menggunakan toilet.
Keran-keran air di kawasan Pasar Seni Senggigi tidak mengeluarkan air. Kondisi serupa terjadi di musala Polsek Senggigi yang selama ini menjadi salah satu tempat pengunjung menunaikan salat.
Pengunjung yang hendak menunaikan salat Magrib terpaksa mencari alternatif. Sebagian membeli air mineral, sementara lainnya mencari air ke tempat lain. Bahkan, pedagang mengaku harus memanfaatkan air laut untuk kebutuhan tertentu.
“Sudah lima hari tidak ada air,” ujar salah seorang pedagang di Pasar Seni Senggigi.
Menurut pedagang, persoalan air bukan baru terjadi sekali. Pasokan air bersih ke kawasan ini disebut kerap bermasalah. Air dari jaringan PDAM datang tidak menentu, bahkan dalam beberapa hari terakhir sama sekali tidak mengalir.
Kondisi itu tidak hanya menyulitkan pedagang. Fasilitas toilet umum di kawasan pasar ikut terdampak. Tanpa pasokan air, toilet menjadi kotor dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi ini dirasakan wisatawan mancanegara yang hendak menggunakan toilet. Mereka merasa terganggu dengan kondisi fasilitas umum yang tidak ditunjang ketersediaan air.
Wisatawan Beli Air Mineral untuk Wudhu
Pedagang akhirnya mengambil inisiatif menyediakan air mineral bagi pengunjung yang membutuhkan air untuk berwudhu.
Air mineral ukuran botol besar dijual dijual Rp10 ribu.
“Yang penting bisa salat,” kata seorang pengunjung yang terpaksa membeli air mineral untuk berwudhu.
Pedagang mengaku kondisi ini sebenarnya juga menyulitkan mereka. Untuk mencuci tangan, membersihkan tempat jualan, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka kesulitan memperoleh air bersih.
Sebagian pedagang bahkan terpaksa menggunakan air laut untuk kebutuhan tertentu.
“Kadang kami ambil air di laut. Untuk wudhu, kami juga gunakan air laut,” ungkap pedagang lainnya.
Persoalan ini menjadi ironi bagi kawasan Senggigi yang tengah kembali didorong dihidupkan menjadi salah satu pusat pariwisata NTB. Apalagi, kawasan ini merupakan destinasi yang sudah lama dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara.
Masalah air bersih berpotensi menjadi persoalan serius bagi kenyamanan wisatawan jika tidak segera ditangani.
Terlebih, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat bersama Pemerintah Provinsi NTB tengah berupaya menghidupkan kembali kawasan Senggigi sebagai salah satu motor pariwisata daerah.(bul)

PLN UIP Nusra Serahkan Mesin Kapal Listrik untuk Nelayan Sambelia, Tekan Biaya Operasional Sekaligus Tingkatkan Keselamatan Nelayan

0

Mataram (ekbisntb.com)- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra), melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Empower Island Transport Electrifying Marine Transport for Clean Ocean Safe Crossing & Sustainable Island Mobility Program, menyerahkan bantuan mesin kapal berbasis listrik, baterai, serta peralatan keselamatan kepada dua kelompok nelayan di Desa Labuan Pandan, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 20 Agustus 2026.

Bantuan tersebut terdiri atas lima unit mesin kapal berbasis listrik beserta baterai, serta jaket keselamatan dan pelampung. Program ini dihadirkan sebagai bagian dari komitmen PT PLN (Persero) UIP Nusra dalam mendukung pemanfaatan energi listrik yang lebih efisien sekaligus meningkatkan produktivitas dan keselamatan masyarakat pesisir.

Program Electrifying Marine menyasar dua kelompok nelayan di Desa Labuan Pandan yang selama ini menghadapi tantangan biaya operasional akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi lokasi pengisian BBM yang relatif jauh dan harga bahan bakar yang terus meningkat membuat biaya melaut menjadi salah satu beban bagi nelayan.

Salah seorang nelayan penerima manfaat, Faisal, menyambut baik bantuan tersebut. Menurutnya, penggunaan mesin kapal berbasis listrik dapat membantu nelayan mengurangi pengeluaran untuk bahan bakar sehingga hasil tangkapan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi keluarga.

“Senang dengan adanya bantuan ini karena bisa mengurangi pengeluaran. Kalau sedang tidak punya uang untuk beli bensin, kadang kami harus meminjam. Dengan mesin ini, mudah-mudahan biaya melaut bisa lebih ringan,” ujar Faisal.

Selain membantu menekan biaya operasional, bantuan mesin kapal juga diharapkan meningkatkan keamanan nelayan saat melaut. Faisal mengungkapkan, nelayan di wilayahnya pernah mengalami kondisi mesin kapal mati ketika berada di tengah laut sehingga harus menunggu bantuan dari nelayan lain.

“Kalau mesin mati di tengah laut, kami biasanya menunggu ada nelayan lain yang lewat untuk membantu,” katanya.

Melalui pemanfaatan mesin kapal berbasis listrik, PT PLN (Persero) UIP Nusra berupaya menghadirkan alternatif teknologi yang lebih efisien sekaligus mendukung transformasi sektor perikanan menuju aktivitas yang lebih ramah lingkungan.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menjelaskan program Electrifying Marine menjadi bagian dari upaya PLN dalam mendukung transisi energi bersih di sektor kelautan. Pemanfaatan motor listrik dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan potensi emisi dan risiko pencemaran akibat penggunaan BBM di wilayah pesisir.

Selain aspek energi dan lingkungan, PLN turut memperhatikan aspek keselamatan melalui pemberian jaket keselamatan dan pelampung kepada kelompok nelayan. Peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kesiapan nelayan dalam menghadapi kondisi darurat saat berada di laut.

Program ini sejalan dengan kontribusi PLN terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDGs 14 tentang ekosistem laut.

“PLN berkomitmen untuk terus mengembangkan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkenalkan pemanfaatan teknologi dan energi bersih kepada masyarakat pesisir,” ujar Manurung.

Ke depan, kolaborasi antara PLN, masyarakat nelayan, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat ekosistem perikanan yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan.(bul)

Perkuat Sinergi Penanganan Kebakaran Desa Adat Sade, Utusan Khusus Presiden Zita Anjani Salurkan Bantuan Bersama BULOG

0

Lombok Tengah (Ekbis NTB) — Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak kebakaran di Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah. Kunjungan ini bertujuan memastikan penanganan darurat serta penyaluran bantuan bagi warga berjalan secara cepat dan tepat sasaran.

Dalam peninjauan tersebut, Zita berdialog langsung dengan warga dan pemangku kepentingan setempat guna memetakan kebutuhan mendesak selama masa tanggap darurat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—termasuk pemerintah daerah, TNI, dan Perum BULOG—dalam mempercepat pemulihan kawasan aset budaya tersebut.

“Pemerintah akan mengupayakan percepatan restorasi untuk pemulihan Desa Adat Sade yang merupakan salah satu situs budaya kebanggaan Indonesia. Hari ini kami hadir bersama Perum BULOG untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi melalui penyediaan bahan pangan di dapur umum,” ujar Zita Anjani.

Sebagai bentuk dukungan logistik, Perum BULOG menyalurkan bantuan pangan untuk menyokong operasional dapur umum. Bantuan yang disiapkan meliputi:

  • Beras: 1.000 kilogram
  • Minyak Goreng: 300 liter
  • Gula Pasir: 25 kilogram
  • Mi Instan: 20 dus

Sinergi antara Staf Khusus Presiden, Perum BULOG, TNI, dan pemerintah daerah ini diharapkan tak hanya meringankan beban warga selama masa tanggap darurat, tetapi juga mempercepat pemulihan ekonomi dan keberlangsungan Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata prioritas. (r/fan)

BULOG, TNI, dan Pemda Didirikan Dapur Umum untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade

0

Lombok Tengah (Ekbis NTB) — Perum BULOG Kantor Wilayah NTB bergandengan tangan dengan TNI dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi korban kebakaran di Desa Adat Sade. Sinergi ini difokuskan pada penyediaan bahan pangan untuk kebutuhan operasional dapur umum di lokasi pengungsian.

Dalam aksi tanggap darurat tersebut, BULOG berkoordinasi dengan Korem, Kodim, serta pemerintah daerah setempat guna mendata kebutuhan mendesak para pengungsi. Beras disalurkan sebagai pasokan utama untuk menjamin ketersediaan makanan siap saji selama masa tanggap darurat berlangsung.

Tak hanya bahan pangan, BULOG NTB juga menyalurkan bantuan logistik nonpangan berupa 100 lembar selimut dan 50 lembar sarung bagi warga yang kehilangan tempat tinggal beserta harta bendanya.

Pimpinan Wilayah BULOG NTB, Mara Kamin Siregar, menegaskan bahwa aksi kolaboratif ini merupakan bentuk kepedulian bersama dalam merespons situasi krisis.

“Sinergi antara BULOG, TNI, dan pemerintah daerah adalah langkah nyata untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak tetap terpenuhi secara memadai,” ujar Mara Kamin Siregar.

Ia menambahkan, BULOG akan terus memantau dinamika di lapangan dan bersiaga menjaga ketahanan serta kelancaran pasokan pangan di wilayah terdampak bencana. (r/fan)

Kampung Nelayan Merah Putih Desa Jala Hampir Rampung

0
Kampung Nelayan Merah Putih Desa Jala Hampir Rampung
RAMPUNG - Proyek Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Desa Jala, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu yang hampir rampung dikerjakan. (Suara NTB/ula)

Dompu (EKBIS NTB) – Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Jala, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, hampir rampung. Proyek yang menelan anggaran Rp21,1 miliar tersebut kini tinggal menyelesaikan sejumlah pekerjaan tahap akhir.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Dompu, Amiruddin, S.Hut., menyebutkan, anggaran sekitar Rp21,1 miliar tersebut, dialokasikan untuk paket pekerjaan konstruksi senilai Rp11,1 miliar yang dikerjakan PT Aulia Berlian Konstruksi. Sementara, anggaran senilai Rp10 miliar lainnya digunakan untuk pengadaan sarana dan prasarana pendukung.

“Saat ini sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan finishing yang belum rampung,” ungkap Amiruddin.

Pekerjaan konstruksi KNMP Desa Jala meliputi pembangunan pagar kawasan, gapura, saluran drainase kawasan, pendaratan ikan, shelter coolbox, kios nelayan, rehabilitasi pasar ikan, genset, bengkel nelayan, tangki air, toilet, gudang beku, pabrik es, kantor pengelola, balai pertemuan, jalan kawasan, hingga docking kapal.

Selain pembangunan fisik, program tersebut juga dilengkapi dengan pengadaan sejumlah sarana untuk mendukung aktivitas nelayan. Di antaranya mobil pendingin, kapal, mesin kapal, serta alat penangkap ikan.

Amiruddin menjelaskan, mobil pendingin nantinya akan dikelola oleh Koperasi Merah Putih Jala. Sedangkan kapal, mesin kapal dan alat penangkap ikan akan diberikan kepada penerima manfaat dengan status hak pakai dan pengelolaannya dilakukan oleh pengurus koperasi.

Menurutnya, keberadaan KNMP di Desa Jala diharapkan semakin memberdayakan masyarakat pesisir sekaligus mendorong pengembangan wilayah setempat. Sarana yang tersedia juga diharapkan dapat membantu nelayan memenuhi kebutuhan dalam aktivitas melaut serta memudahkan pemasaran hasil tangkapan.

“Dengan adanya program ini, para nelayan diharapkan semakin terbantu, baik dalam memenuhi kebutuhan melaut maupun dalam memasarkan hasil tangkapannya,” jelasnya.

Sembilan Desa Lolos Verifikasi KNMP

Sementara itu, sebanyak sembilan desa di Kabupaten Dompu dinyatakan lolos verifikasi Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2026 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sembilan desa tersebut merupakan bagian dari 12 lokasi yang sebelumnya diusulkan Pemkab Dompu.

Kesembilan desa itu yakni Desa Hu’u di Kecamatan Hu’u, Desa Jambu di Kecamatan Pajo, Desa Soro dan Desa Tolokalo di Kecamatan Kempo, Desa Pekat dan Desa Nangamiro di Kecamatan Pekat, Desa Kramat dan Desa Malaju di Kecamatan Kilo serta Desa Kwangko di Kecamatan Manggelewa.

Amiruddin mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima penetapan lokasi KNMP tersebut oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dijadwalkan pada September mendatang.

“Informasi yang kami terima penetapannya oleh menteri nanti di bulan September. Saat ini dalam proses penyesuaian DED dan pemilihan penyedia barang/jasa,” katanya.

Ia berharap program KNMP yang akan dikembangkan di sembilan desa tersebut, dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya para nelayan, sekaligus memperkuat sarana pendukung sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Dompu. (ula)

Lima Desa di Sumbawa Kembali Terima Program KNMP Tahap III

0
Lima Desa di Sumbawa Kembali Terima Program KNMP Tahap III
Rahmat Hidayat.  (Suara NTB/dok)

Sumbawa Besar (EKBIS NTB) – Lima desa di Kabupaten Sumbawa dipastikan menerima program Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap III di tahun 2026. Lima desa tersebut yakni Teluk Santong, Labuhan Alas, Pulau Kaung, Labuhan Jambu, dan Labuhan Mapin.

“Alhamdulillah, hasil koordinasi ke Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) ditetapkan lima desa di Kabupaten Sumbawa mendapatkan program KNMP Tahap III tahun 2026,” kata Kepala Dinas Kelautan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat pekan kemarin.

Pihaknya juga telah menyerahkan Rincian Anggaran Biaya (RAB) ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI untuk penyesuaian perencanaan pembangunan. Bahkan KKP juga sudah menerbitkan SPMK bernomor B. 21900/DJPT.6/PI.420/PPK/VIII/2026 tentang paket pekerjaan pembangunan KNMP tahun anggaran 2026.

“Di surat tersebut juga ditetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kegiatan KNMP pada Satuan Kerja Sekretariat DJPT KKP, Umar Soleh yang menandatangani SPMK tersebut,” jelasnya.

Dalam surat tersebut, KKP menunjuk PT Asuka Engineering Indonesia sebagai penyedia jasa pekerjaan konstruksi. SPMK itu sekaligus memerintahkan penyedia jasa untuk segera memulai pekerjaan konstruksi pembangunan KNMP di sejumlah lokasi di NTB.

Dayat menjelaskan, kontrak pekerjaan konstruksi pembangunan dimulai 9 Agustus-18 Desember 2026. Penyedia jasa mendapat waktu 135 hari kalender untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai ketentuan kontrak. Ia memastikan pemerintah tetap memberikan atensi khusus terkait pelaksanaan program tersebut.

“Kami akan terus mengikuti perkembangan pelaksanaan program tersebut bersama pemerintah pusat untuk memastikan pembangunan di desa penerima berjalan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan,” tambahnya.

Ia menambahkan, adanya program kampung nelayan merah putih ini dianggap sangat menguntungkan bagi masyarakat di desa,sehingga masyarakat yang dulunya mencari ikan keluar daerah bisa tertarik kembali dan menggeluti sektor perikanan yang ada di desanya.

“Potensi kelautan di Kabupaten Sumbawa sangat banyak terutama hasil perikanan tangkapnya. Tentu dengan adanya pembangunan pabrik es maka ikan yang ditangkap masyarakat bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama,” demikian kata Rahmat. (ils)

Kabupaten Dompu Berpeluang Punya Balai Pembibitan Ternak

0
Kabupaten Dompu Berpeluang Punya Balai Pembibitan Ternak
Ilham. (Suara NTB/dok)

Dompu (EKBIS NTB) – Rencana pembentukan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Tambora oleh Kementerian Pertanian mulai menunjukkan progres. Pemerintah pusat kini tengah menyiapkan naskah urgensi. Sementara Pemerintah Kabupaten Dompu telah menyerahkan data pendukung sebagai persyaratan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham, SP., kepada Suara NTB kemarin mengungkapkan, rencana pembentukan BPTU-HPT Tambora masih dalam tahap persiapan. Namun, Kementerian Pertanian RI telah memiliki komitmen untuk segera mewujudkan balai tersebut berdasarkan hasil kunjungan Bupati Dompu, Bambang Firdaus beberapa bulan lalu.

Sebagai tindak lanjut, Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Denpasar pada 15 April 2026 telah menyurati Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu. Surat tersebut meminta dukungan data dan dokumen untuk penyusunan Naskah Urgensi Rencana Pembentukan BPTU-HPT Tambora.

Data yang diminta antara lain luas lahan padang penggembalaan dan kawasan peternakan di Kabupaten Dompu, populasi ternak berdasarkan jenis selama 2021-2025, serta data pemasukan dan pengeluaran ternak periode 2020-2025.

Selain itu, diminta data produksi daging tahun 2021-2025, sumber pakan ternak termasuk potensi limbah pertanian, laporan tahunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu tahun 2024 dan 2025, serta dokumen Renstra Kabupaten Dompu 2025-2029.

“Surat permintaan itu sudah kita balas dengan mengirimkan data yang diminta. Kita berharap, pembentukan BPTU-HPT ini bisa segera diwujudkan agar kita tidak lagi bergantung ke BPTU-HPT Denpasar dan bisa mengembangkan sumber daya kita sendiri,” ungkap Ilham.

Keberadaan BPTU-HPT Tambora dinilai strategis bagi pengembangan sektor peternakan Dompu. Selain mendukung penyediaan bibit ternak unggul dan hijauan pakan, keberadaan UPT Kementerian Pertanian di daerah akan memperpendek koordinasi teknis antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Ilham menambahkan, saat kunjungan Bupati Dompu diterima Direktur Hilirisasi Peternakan, Dr. drh. Makmun, M.Sc dan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Dr. Harry Suhada, S.Pt., M.Sc., IPU. Pertemuan membahas akselerasi sejumlah program prioritas sektor peternakan di Kabupaten Dompu.

Saat itu, Makmun menyampaikan perhatian Kementerian Pertanian terhadap potensi peternakan Dompu cukup besar. Salah satu pertimbangannya adalah keberadaan kawasan pelepasan ternak Doro Ncanga yang luas serta populasi ternak yang terus berkembang.

Potensi tersebut menjadi salah satu dasar bagi Kementerian Pertanian untuk mendorong pembentukan UPT tersendiri berupa BPTU-HPT Tambora. Dengan keberadaan balai tersebut, koordinasi program peternakan antara Kabupaten Dompu dan Kementerian Pertanian diharapkan menjadi lebih dekat dan cepat.

Pihaknya berharap ini menjadi momentum memperkuat posisi Dompu sebagai salah satu sentra peternakan, sekaligus mengoptimalkan potensi kawasan penggembalaan, pembibitan ternak dan sumber pakan yang dimiliki daerah. (ula)