Beranda blog Halaman 102

Lobar Peroleh Tambahan Dana Transfer Rp73 Miliar

0
RAPAT - Banggar DPRD Lobar melaksanakan rapat untuk membahas tambahan dana transfer dari pusat sebesar Rp73 miliar pada APBD perubahan 2026.(Suara NTB/her)
RAPAT - Banggar DPRD Lobar melaksanakan rapat untuk membahas tambahan dana transfer dari pusat sebesar Rp73 miliar pada APBD perubahan 2026.(Suara NTB/her)

Giri Menang (EKBIS NTB) -Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) mendapatkan angin segar dari sisi fiskal atau keuangan daerah. Menyusul, adanya tambahan kucuran dana transfer sebesar Rp73 miliar dari pemerintah pusat. Tambahan dana ini pun masuk menjadi salah satu pembahasan Badan Anggaran DPRD dalam penyusunan APBD Perubahan 2026.

Wakil Ketua II DPRD Lobar, Abubakar Abdullah, mengatakan dana tersebut sudah masuk dalam transfer daerah. Namun, pemerintah daerah masih harus menentukan arah penggunaannya melalui pembahasan APBD Perubahan. “Kita dapat juga dana transfer tambahan sekitar Rp73 miliar,” kata Abubakar, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, pemerintah pusat telah memberikan sejumlah arahan terkait penggunaan tambahan transfer tersebut. Abubakar mengatakan, pemerintah perlu memastikan tambahan anggaran itu menjangkau wilayah yang membutuhkan.

“Bagaimana percepatan pembangunan itu juga bisa menyasar daerah-daerah 3T,” ujar legislator dari fraksi PKS tersebut.

Abubakar belum merinci sektor dan wilayah penerima alokasi Rp73 miliar itu. Ia menegaskan DPRD masih melakukan sinkronisasi bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah.

Menurut Abubakar, dana tersebut menjadi bagian dari perubahan anggaran Lombok Barat tahun 2026. Pemerintah dan DPRD akan menentukan penggunaannya melalui pembahasan bersama. Dana tambahan itu juga harus mengikuti arah pembangunan yang tertuang dalam dokumen perencanaan daerah. Abubakar mengatakan DPRD tetap menjadikan RPJMD sebagai salah satu acuan utama.

DPRD juga membahas perubahan postur APBD Lobar tahun anggaran 2026.Abubakar menyebut APBD murni 2026 sebelumnya berada di kisaran Rp2,055 triliun. Dalam pembahasan perubahan, nilai tersebut meningkat menjadi sekitar Rp2,451 triliun.

Dengan demikian, terdapat peningkatan sekitar Rp396,19 miliar dalam postur anggaran tersebut. Tambahan transfer pusat sekitar Rp73 miliar menjadi salah satu komponen dalam perubahan anggaran.

Banggar DPRD nantinya akan menyinkronkan pembahasan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah. Hasil pembahasan tersebut akan menentukan program yang masuk dalam APBD Perubahan 2026.DPRD juga akan melihat kembali program yang dianggap kurang prioritas. Menurut Abubakar, perubahan anggaran harus mengarah pada kebutuhan masyarakat dan prioritas daerah. “Perubahan ini harus jelas arahnya, menuju keadaan yang lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya. (her)

Bank Dunia akan Bantu Lotim Tangani Masalah Sampah

0
Bank Dunia akan Bantu Lotim Tangani Masalah Sampah
PERTEMUAN – Bupati Lotim, H. Haerul Warisin bersama jajarannya saat menerima kunjungan tim LSDP ke Lombok Timur pada Kamis (27/8/2026). Pertemuan itu untuk membahas penanganan sampah.(Suara NTB/ist)

Selong (EKBIS NTB) –Lombok Timur (Lotim) dipastikan menjadi salah satu dari 30 daerah di Indonesia yang mendapatkan program Local Service Delivery Project (LSDP). Kabupaten Lombok Timur bahkan berada di peringkat pertama dalam program tersebut.

LSDP merupakan program nasional yang digagas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Bappenas dengan dukungan pendanaan dari Bank Dunia. Program ini diarahkan untuk meningkatkan layanan infrastruktur sekaligus memperkuat tata kelola persampahan di daerah.

Kepastian tersebut ditindaklanjuti dengan kunjungan tim LSDP ke Lombok Timur pada Kamis (27/8/2026). Kunjungan dilakukan untuk melakukan verifikasi lapangan sekaligus memastikan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjalankan program tersebut.

Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menyambut positif program tersebut. Ia mengaku memiliki semangat besar untuk mewujudkan Lombok Timur sebagai daerah yang bersih.

“Saya sangat bersemangat untuk bagaimana Lombok Timur ini bersih. Sangat saya idam-idamkan itu. Dan rasanya kita tidak akan pernah tenang berhenti jadi Bupati kalau tetap dia kotor,” tegas Haerul.

Menurutnya, Pemkab Lombok Timur siap memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan agar program LSDP dapat dilaksanakan secara optimal. Komitmen tersebut mencakup kesiapan kelembagaan maupun dukungan anggaran melalui APBD.

Bupati juga berharap program LSDP tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah dari sisi kebersihan, tetapi mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah, kata dia, harus dilihat sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Ia optimistis keberadaan LSDP dapat mendorong terwujudnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus mengembangkan ekonomi sirkular di Lombok Timur.

Haerul juga meminta tim LSDP memberikan masukan dan koreksi selama proses verifikasi lapangan. Menurutnya, hasil verifikasi tersebut penting bagi Pemda untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan agar seluruh persiapan sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan.

Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah II Kemendagri, Suprayitno, mengatakan kunjungan tim tidak hanya untuk melakukan verifikasi lapangan. Tim juga ingin memastikan kesiapan Pemkab Lombok Timur dan masyarakat dalam melaksanakan program LSDP.

Ia memastikan berbagai kekurangan yang ditemukan dalam proses verifikasi akan disampaikan kepada pemerintah daerah sehingga dapat segera diperbaiki.

Sementara itu, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah IV Kemendagri, Paudah, menjelaskan bahwa salah satu arah utama LSDP adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Perubahan tersebut salah satunya akan dimulai dari lingkungan sekolah. Anak-anak diharapkan menjadi agen perubahan yang kemudian membawa kebiasaan baik dalam pengelolaan sampah ke lingkungan keluarga.

Ia menyatakan Kemendagri akan mendukung kesiapan dan semangat Pemkab bersama masyarakat Lombok Timur untuk mewujudkan perubahan perilaku tersebut.

Koordinator Tim Kelembagaan Pemerintah Daerah dan Pembangunan Daerah Bappenas, Septaliana Dewi Prananingtyas, menambahkan bahwa kunjungan tersebut juga bertujuan mengukur dan memastikan besaran dana hibah yang nantinya akan diberikan kepada Lombok Timur.

Menurutnya, LSDP memiliki pendekatan berbeda dibandingkan proyek pengelolaan sampah lainnya. Program ini menitikberatkan pada reformasi pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak sekadar mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah dan masyarakat.

Selain dukungan pendanaan, pemerintah daerah nantinya juga akan mendapatkan asistensi di tingkat regional maupun lokal untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target.

Verifikasi lapangan tersebut turut dihadiri Sekda Lombok Timur, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala BPKAD, Kepala Bappeda, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, masyarakat pemerhati lingkungan, serta perwakilan masyarakat di sekitar TPA Ijo Balit.

Dengan masuknya Lombok Timur sebagai penerima LSDP, pemerintah daerah berharap persoalan persampahan yang selama ini menjadi salah satu tantangan daerah dapat ditangani secara lebih terintegrasi. Tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, program tersebut juga diharapkan membuka nilai ekonomi baru dari pengelolaan sampah serta mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. (rus)

Jembatan Putus di Sekotong Timur-Mareje Mulai Dikerjakan

0
Jembatan Putus di Sekotong Timur-Mareje Mulai Dikerjakan
(Suara NTB/ist) MULAI DIKERJAKAN - Jembatan putus dan jalan rusak di ruas Sekotong Timur menuju Mereje mulai dikerjakan

Giri Menang (EKBIS NTB) -Pembangunan jembatan putus dan jalan rusak di Sekotong Timur menuju Mareje Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar) mulai dikerjakan. Jembatan yang putus dampak bencana pada Februari 2026 itu ditangani Pemkab Lombok Barat melalui APBD murni 2026 ini. Untuk sementara, jembatan itu masih menggunakan darurat menggunakan pohon kelapa dan papan.


Kepala Desa Sekotong Timur, H. Marwan Hakim mengatakan, jalan dan jembatan sudah mulai dikerjakan. “Jalan sudah mulai dikerjakan sepekan lalu,” kata Marwan, Rabu (27/8).
Saat ini masih dilakukan pembersihan dan pemerataan lahan serta penggalian saluran yang tertimbun di pinggir bukit. Saluran ini akan dinormalkan kembali dengan membangun saluran pada kiri dan kanan jalan. Pengerjaan dilakukan penggalian untuk fondasi.


Sebagai jalur sementara dibangun jalan menggunakan beton udit. Akses sementara ini pun jauh lebih kuat, karena dilalui kendaraan mobil. Pihaknya berharap akees bisa selesai sebelum musim hujan tiba.
Anggota DPRD Lobar dapil Lembar-Sekotong, Hery Irawan menyampaikan apresiasi terhadap Pemkab yang telah menangani jembatan putus jalan rusak tersebut. Jembatan putus dan jalan rusak itu dalam kondisi sangat darurat akibat dampak bencana beberapa waktu lalu.

Pihaknya pun sudah turun mengecek ke lapangan pengerjaan jembatan dan jalan tersebut.
Progres pengerjaan di kisaran 40 persen. Begitu pula dengan jembatan diperkirakan sudah mencapai 20 persen.

Penanganan Jembatan dan jalan ini sendiri telah lama dinanti masyarakat yang ada di tiga desa terdampak, yakni desa Sekotong Timur, Mareje Timur dan Mareje Barat. Karena kondisinya memang tidak layak, terparah dua tahun terakhir sangat dikeluhkan Warga.


Setelah sekian lama dinanti dan dikawal oleh pihaknya bersama para Kades, akhirnya akses viral itu akhirnya ditangani. “Kami selaku anggota DPRD komisi III selalu mendorong infrastruktur-infrastruktur yang sangat butuh untuk diperbaiki,” katanya. (her)

Hutan Sambelia Memprihatinkan, Mata Air Menghilang di Tengah Ekspansi Lahan Jagung

0
Hutan Sambelia Memprihatinkan, Mata Air Menghilang di Tengah Ekspansi Lahan Jagung
DISKUSI - Kegiatan Diskusi Publik tentang Wise Watch hutan Sambelia dan Sugian yang digelar di Kantor Bupati Lotim, Kamis (27/8/2026).(Suara NTB/rus)

Selong (EKBIS NTB) –Hutan di wilayah Sugian dan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, menyimpan cerita yang kian mengkhawatirkan. Kawasan yang dahulu dikenal rimbun dan hijau kini mengalami perubahan bentang alam secara signifikan. Di sejumlah titik, hutan berubah menjadi lahan pertanian jagung, sementara mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat dilaporkan mulai menghilang.

Temuan tersebut disampaikan Koordinator Program Wise Watch, Diar Ruly Juniari, berdasarkan pemantauan Gema Alam di wilayah Sugian dan Sambelia dalam diskusi publik di Kantor Bupati Lotim, Kamis (27/8/2026).

Menurut Ary, sapaan akrab aktivis Gema Alam ini menyampaikan, kondisi kawasan hutan di dua wilayah tersebut sudah berada pada situasi yang memprihatinkan. Sejumlah mata air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan masyarakat kini tidak lagi mengeluarkan air. Bahkan, aliran sungai di beberapa lokasi terlihat mengering.

“Temuan Gema Alam di Sugian dan Sambelia ada yang memprihatinkan. Mata air banyak yang hilang, terlihat sungai mengering. Semua mata air hilang,” ungkap Ary.

Hilangnya sumber air tersebut turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Kawasan yang sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk bercocok tanam, kini tidak lagi memberikan dukungan yang sama seperti sebelumnya.

Perubahan itu, kata Diar, semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Sugian dan Sambelia merupakan bagian dari kawasan Rinjani yang bentang alamnya mengalami perubahan cukup signifikan.

Sejak Oktober 2025, pemantauan terhadap kondisi tersebut terus dilakukan. Bagi Gema Alam, perubahan tutupan lahan bukan sekadar persoalan hilangnya pepohonan, tetapi juga menyangkut hilangnya sumber kehidupan masyarakat.

Di tengah persoalan tersebut, program Wise Watch memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan perempuan dalam menjaga kawasan hutan.

Diar mengatakan perempuan selama ini sering kali hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat dalam pengelolaan wilayah hutan kemasyarakatan maupun kemitraan. Padahal, perempuan merupakan bagian penting dari masyarakat yang secara langsung merasakan dampak perubahan lingkungan. Karena itu, perempuan didorong menjadi aktor utama dalam pemantauan kawasan.

Mereka diberikan pengetahuan dan keterampilan menggunakan teknologi untuk mengamati kondisi hutan. Salah satu teknologi yang digunakan adalah aplikasi Forest Watcher, yang memungkinkan masyarakat melakukan pemantauan kawasan menggunakan telepon pintar.

Dengan teknologi tersebut, perempuan tidak hanya belajar membaca kondisi wilayah, tetapi juga mengumpulkan bukti perubahan yang terjadi di lapangan.

Ketua Gema Alam, Suhupawati alias Eci, melihat perjalanan program tersebut sebagai proses pembelajaran yang panjang. Selama sekitar 18 bulan, perempuan yang terlibat tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga menjalani proses untuk memahami kembali hubungan antara kehidupan rumah tangga, lingkungan dan keberlanjutan hutan.

Menurut Eci, data yang dikumpulkan para perempuan memiliki nilai penting karena lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang merasakan langsung dampak perubahan lingkungan.

Mereka melihat perubahan mata air, mengamati kondisi hutan dan membawa cerita dari lapangan menjadi data serta bukti.

Manajer Program Women Research Institute (WRI), Benita Nastami, menegaskan pentingnya posisi perempuan dalam upaya menjaga hutan dan lingkungan. Menurutnya, Wise Watch sejak awal tidak semata-mata berbicara mengenai hutan dan pohon. Program tersebut memiliki cakupan yang lebih luas, yakni lingkungan dan kehidupan masyarakat yang bergantung terhadapnya.

Melalui Wise Watch, perempuan didorong untuk mampu mengamati, mengumpulkan bukti dan melakukan patroli secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi Forest Watcher.

Peran perempuan dalam menghasilkan data lapangan juga mendapat perhatian dari Novia Ariana dari Bappeda. Ia menilai pengalaman perempuan di lapangan memiliki nilai penting karena selama ini banyak cerita yang mereka sampaikan dapat dikembangkan menjadi data dan bukti.

Perempuan, dalam konteks tersebut, bukan hanya pihak yang terdampak. Mereka juga dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus bagian dari solusi.

Pengamat sekaligus akademisi, Dr. M. Saleh, melihat persoalan hutan Sambelia tidak dapat dilepaskan dari persoalan kewenangan pengelolaan hutan.

Ia mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang mengatur pembagian kewenangan pemerintahan, termasuk terkait pengelolaan kehutanan yang banyak berada pada kewenangan pemerintah provinsi dan pusat.

Namun, jika dilihat dari sisi mikro, masyarakat di sekitar kawasanlah yang merasakan langsung dampaknya. Karena itu, menurutnya, rehabilitasi hutan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab bersama untuk memulihkan kawasan hutan, termasuk di Sambelia.

Ia juga menyoroti kebutuhan masyarakat terhadap tanaman produktif dalam program penghijauan. Upaya menghijaukan kembali kawasan diharapkan tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat sehingga tanaman yang dipilih dapat memberikan manfaat produktif tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan.

Karena itu, ia mendorong agar penelitian mengenai kondisi hutan terus ditingkatkan, sekaligus memperkuat sumber daya manusia masyarakat di sekitar kawasan. Sebab, menjaga hutan pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan, kemampuan dan keberanian untuk merawat serta mengawasi wilayah tempat mereka menggantungkan kehidupan.  (rus)

Program Riset Brida Harus Berdampak ke Masyarakat

0
Program Riset Brida Harus Berdampak ke Masyarakat
RAKER – Rapat kerja (Raker) Komisi IV DPRD NTB dengan OPD mitra lingkup Pemprov NTB, pada Kamis (27/8).(Suara NTB/ndi)

Mataram (EKBIS NTB) -Komisi IV DPRD NTB menggelar Rapat Kerja (Raker) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB dalam rangka pembahasan Rancangan KUA-PPAS APBD Provinsi NTB pada Kamis (27/8). Dalam Raker tersebut, Komisi IV menyoroti kinerja Brida NTB mulai dari arah riset, inovasi, realisasi anggaran, hingga dampak hasil riset dan penelitian yang dilakukan Brida.

Anggota Komisi IV DPRD NTB, Syamsul Fikri menyoroti rancangan Perubahan APBD 2026, di mana pagu Brida diusulkan meningkat Rp1,479 miliar, dari sebelumnya Rp11,013 miliar menjadi Rp12,493 miliar. Tambahan terbesar dialokasikan untuk Program Penelitian dan Pengembangan Daerah sebesar Rp1,456 miliar.

Anggaran tersebut antara lain diarahkan untuk Litbang Bidang Sosial dan Kependudukan sebesar Rp956,3 juta, termasuk dukungan penelitian perguruan tinggi swasta di NTB dan Kajian Desa Berdaya bersama Litbang Kompas. Sementara Rp500 juta lainnya dialokasikan untuk Litbang Bidang Ekonomi dan Pembangunan.

“Tambahan anggaran tentu diharapkan tidak hanya menghasilkan laporan penelitian, tetapi juga menghasilkan inovasi, kebijakan, teknologi, atau model pemberdayaan yang dapat digunakan masyarakat,” ucap Fikri.

Politisi partai Demokrat itu juga mempertanyakan belum terlihatnya riset Brida yang secara langsung menjawab persoalan kebencanaan di NTB. “Mitigasi bencana seperti apa yang bisa ditawarkan Brida ketika terjadi bencana seperti di Desa adat Sade kemarin?” tanya Fikri.

Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah berapa banyak riset yang telah dihasilkan Brida dan berapa banyak pula yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat? Termasuk riset mengenai kantong-kantong kemiskinan di NTB. Sebab, riset daerah semestinya tidak berhenti pada produksi dokumen akademik saja, tetapi menjadi dasar intervensi kebijakan pemerintah.

Sementara itu Sekretaris Komisi IV DPRD NTB, H. Hasbullah Mu’is alias Konco menekankan pentingnya hasil konkret dari program Brida. Ia meminta agar riset dan inovasi diarahkan pada produk yang dapat digunakan masyarakat, terutama dalam mendukung ketahanan pangan.

Salah satu contoh yang disorot adalah pengembangan prototipe peralatan pertanian yang dapat membantu meningkatkan produktivitas petani. “Produk Brida harus memberikan dampak konkret di masyarakat,” pintanya.

Dalam rapat tersebut Konco juga meminta Brida untuk mengubah paradigma pengelolaan riset daerah. Yakni dari sekadar mengejar jumlah penelitian menuju riset yang memiliki rantai manfaat yang jelas, mulai dari identifikasi persoalan, penelitian, prototipe atau rekomendasi kebijakan, inkubasi, pendampingan, hingga penerapan di masyarakat.

“Dengan tambahan anggaran lebih dari Rp1,47 miliar dalam Perubahan APBD 2026, tantangan Brida bukan lagi sekadar bagaimana anggaran tersebut dapat diserap, melainkan bagaimana setiap rupiah anggaran penelitian dapat dikonversi menjadi pengetahuan, inovasi, kebijakan, produk, dan perubahan nyata bagi masyarakat NTB,” pungkasnya. (ndi)

BI NTB Fasilitasi Penukaran Uang bagi Korban Kebakaran Desa Adat Sade

0
BI NTB Fasilitasi Penukaran Uang bagi Korban Kebakaran Desa Adat Sade
TUKARKAN UANG - Kepala Kantor Perwakilan BI NTB, Hario K Pamungkas (kiri) mendampingi kegiatan kas keliling BI untuk memfasilitasi korban kebakaran Desa Adat Sade menukarkan uangnya yang terdampak kebakaran.(Suara NTB/ist)

Praya (EKBIS NTB) –Musibah kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), tidak hanya menghanguskan bangunan dan harta benda warga. Sebagian uang tunai milik warga juga ikut terbakar dan mengalami kerusakan.

Namun, uang yang sempat dianggap tidak lagi bernilai itu ternyata masih bisa diselamatkan. Salah seorang warga Desa Adat Sade, Warman, dapat menukarkan uang miliknya yang sebagian terbakar senilai Rp7.676.000 melalui layanan Bank Indonesia (BI).

Uang tersebut sebelumnya bahkan sempat hendak dibuang karena mengalami kerusakan akibat terbakar. Setelah mendapat penjelasan mengenai ketentuan penukaran uang rusak dari Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Hario K Pamungkas, Warman kemudian membawa uang tersebut untuk diperiksa melalui layanan Kas Keliling BI.

Petugas melakukan pemeriksaan dan pengukuran terhadap kondisi fisik uang sesuai ketentuan yang berlaku. Hasilnya, uang tersebut memenuhi persyaratan untuk mendapatkan penggantian sehingga Warman memperoleh penukaran sebesar Rp7.676.000.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan layanan penukaran diberikan sebagai bagian dari upaya BI membantu masyarakat terdampak kebakaran sekaligus memastikan uang yang rusak akibat musibah tetap dapat ditukarkan apabila memenuhi persyaratan.

BI memberikan penggantian terhadap uang tidak layak edar, baik uang lusuh, uang cacat maupun uang rusak, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Untuk uang kertas, penggantian dapat diberikan apabila kondisi fisiknya masih lebih dari dua pertiga ukuran aslinya. Sementara uang logam yang rusak dapat ditukarkan apabila kondisi fisiknya masih lebih dari setengah ukuran aslinya.

Karena itu, BI mengimbau warga Desa Adat Sade lainnya yang masih menyimpan uang yang terbakar untuk tidak langsung membuangnya. Warga dapat menghubungi Bank Indonesia untuk mendapatkan pemeriksaan dan memastikan apakah uang tersebut masih memenuhi ketentuan untuk ditukarkan.

Selain memberikan layanan penukaran uang rusak, BI NTB juga menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terdampak kebakaran Desa Adat Sade, Rabu (26/8).

Bantuan diserahkan langsung Hario K. Pamungkas bersama jajaran BI NTB dan diterima perangkat dusun setempat, Sanah.

Bantuan yang disalurkan berupa sembako, alas tidur, dan pakaian layak pakai untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat setelah kehilangan sebagian harta benda akibat kebakaran.

Hario mengatakan perhatian BI tidak hanya diwujudkan melalui bantuan kemanusiaan, tetapi juga dengan melihat kebutuhan pemulihan masyarakat dan kawasan adat Sade setelah musibah.

Menurutnya, pemulihan kawasan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali bangunan yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupannya secara normal.

Melalui bantuan kemanusiaan dan layanan penukaran uang rusak tersebut, BI berharap dapat meringankan beban warga sekaligus mendukung percepatan pemulihan masyarakat dan kawasan Desa Adat Sade pascakebakaran. (bul)

140 Calon PMI NTB Disiapkan Tembus Pasar Kerja Dunia

0
140 Calon PMI NTB Disiapkan Tembus Pasar Kerja Dunia
DIMULAI - Program SMK Go Global dimulai pada Rabu (26/8). Untuk Provinsi NTB, kick off SMK Go Global dipusatkan di BLK Skill Center NTB, dan juga di SMKPPN Mataram dan Universitas Mataram.(Suara NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) -Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melaksanakan Kick Off  Program SMK Go Global yang dipusatkan di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta Timur, Rabu (26/8). Program ini merupakan komitmen pemerintah menyiapkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terampil, kompeten, dan berdaya saing global melalui program SMK Go Global.

Kick off SMK Go Global diikuti oleh 20 Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) yang telah siap melaksanakan pelatihan pada batch pertama.

Untuk Provinsi NTB, kick off SMK Go Global dipusatkan di BLK Skill Center NTB, dan juga dua lokasi lainnya berada di SMKPPN Mataram dan Universitas Mataram (Unram). Sebanyak 140 peserta yang terdiri dari 100 peserta pelatihan Perkebunan akan mengikuti pelatihan yang disselenggarakan oleh SMKPPN Mataram, 20 peserta pelatihan barista akan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh BLK Skill Center NTB dan 20 peserta pelatihan bahasa inggris (IELTS) akan diselenggarakan oleh Universitas Mataram.

Kepala BP3MI NTB, Kadir, menyampaikan bahwa untuk batch pertama sebanyak 140 peserta akan dibagi menjadi 7 kelas, masing-masing terdiri dari 20 peserta per kelas. Sementara ini yang siap dari mitra pelatihan dan peserta adalah untuk jenis pelatihan perkebunan/plantation, barista dan bahasa inggris (IELTS) kata Kadir.

“Saat ini kami juga berkejaran dengan waktu dalam mempersiapkan mitra pelatihan untuk jenis pelatihan lain seperti house keeping, caregiver, serta bahasa Jepang. Kami ingin mendapatkan mitra yang kompeten serta transparan dalam melaksanakan pelatihan. Jika kompeten dalam melaksanakan pelatihan maka hasil dari pelatihan peserta akan kompeten serta layak untuk bekerja keluar negeri sesuai dengan kebutuhan negara penempatan,” ungkap Kadir.

Hadir dalam kegiatan kick off SMK Go Global, Disnakertrans Provinsi NTB, Dikpora Provinsi NTB, Dinas Pertanian Provinsi NTB, Kepala BLK Skill Center NTB dan Kepala Sekolah SMKPPN Mataram, Sugiarta.

Kementerian P2MI menyiapkan 2.000 kelas pelatihan yang tersebar di 23 wilayah kerja BP3MI. Program tersebut ditargetkan menghasilkan 500.000 Pekerja Migran terampil secara bertahap hingga 2029. (bul)

Sensus Ekonomi 2026 di Mataram Capai 100 Persen

0
Sensus Ekonomi 2026 di Mataram Capai 100 Persen
Mohammad Reza Nugraha Kusumowinoto (Suara NTB/pan)

Mataram (EKBIS NTB) –Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram mencatat cakupan pendataan dan verifikasi lapangan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Mataram telah mencapai 100 persen. Meski target awal telah terpenuhi, BPS masih memaksimalkan pendataan di lapangan hingga 31 Agustus 2026.

Kepala BPS Kota Mataram Mohammad Reza Nugraha Kusumowinoto mengatakan, secara akumulatif target awal pendataan mencakup sekitar 120.000 keluarga dan 60.000 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah Kota Mataram.

“Capaian verifikasi target awal telah menyentuh angka 100 persen, tetapi kami terus memaksimalkan pendataan hingga 31 Agustus 2026,” ujar Reza di Mataram, Kamis (26/8).

Ia menjelaskan, perpanjangan waktu tersebut dilakukan untuk memetakan dinamika usaha yang terjadi di lapangan. Dinamika tersebut antara lain munculnya usaha baru, perpindahan lokasi usaha, hingga usaha yang sudah tidak lagi beroperasi.

Menurut Reza, seluruh perubahan tersebut tetap perlu dicatat agar cakupan Sensus Ekonomi 2026 semakin optimal dan mampu menggambarkan kondisi perekonomian Kota Mataram secara lebih akurat.

Dalam proses pendataan, BPS memastikan seluruh elemen masyarakat dan pejabat daerah di Kota Mataram telah menjadi bagian dari pendataan. Termasuk Wali Kota Mataram yang juga telah disensus.

Reza menegaskan, seluruh data yang dikumpulkan dari masyarakat maupun pelaku usaha bersifat rahasia dan mendapatkan perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah pendataan lapangan berakhir pada 31 Agustus 2026, BPS Kota Mataram akan melanjutkan proses pembersihan (cleaning) dan validasi data. Tahapan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 15 September 2026.

“Proses itu bertujuan untuk memeriksa kembali serta mengoreksi jika terdapat anomali data sebelum hasil akhir disahkan,” jelasnya.

Reza mengatakan, hasil Sensus Ekonomi 2026 nantinya akan disajikan dalam bentuk data agregat dan publikasi resmi. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran terkini mengenai struktur ekonomi Kota Mataram, menyusun peta direktori perusahaan, serta menyediakan basis data populasi usaha berdasarkan lapangan dan skala usaha.

Hasil sensus tersebut, lanjutnya, tidak hanya menjadi landasan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan investasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat luas untuk melihat potensi ekonomi daerah.

“Sensus ini tidak hanya bertujuan memotret kondisi perekonomian terkini, tetapi juga menjadi landasan penting dalam mendorong investasi dan pembangunan daerah,” katanya.

Ia menambahkan, data yang dihasilkan Sensus Ekonomi 2026 nantinya dapat menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan dan perencanaan pembangunan, sekaligus menjadi basis informasi mengenai aktivitas ekonomi di Kota Mataram.

“Data yang dihasilkan juga dapat menjadi basis informasi kegiatan ekonomi di daerah,” pungkasnya. (pan)

Perayaan Maulid, Harga Daging Ayam Mencapai Rp47 Rib Per Kilogram

0
Perayaan MaulidHarga Daging Ayam Mencapai Rp47 Rib Per Kilogram
PANTAU HARGA – Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida memantau harga di Pasar Pagesangan pada, Kamis (27/8).(Suara NTB/ist)    

Mataram (EKBIS NTB) –Para ibu rumah tangga perlu merogoh kantong lebih dalam. Pasalnya, harga daging ayam mencapai Rp47 ribu per kilogram di pasaran.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida dikonfirmasi, Kamis (27/8) menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemantauan harga kebutuhan barang pokok di pasar tradisional.

Dari hasil pemantauan diketahui harga daging ayam mengalami lonjakan drastis mencapai Rp47 ribu per kilogram. Sementara, harga komoditi lainnya relatif stabil. “Tadi (kemarin, red) kita turun memantau harga di Pasar Pagesangan harga daging ayam mencapai Rp47 ribu per kilogram,” kata Nida.

Lonjakan harga daging ayam diakui, dipicu tingginya permintaan masyarakat pada perayaan maulid. Hal ini dijadikan momen bagi pedagang atau pengepul untuk memainkan harga. Padahal, stok ayam di peternak melimpah.

Nida – sapaan akrabnya, mengatakan permasalahan akan dicek langsung ke distributor jangan sampai terjadi permainan harga di tingkat pedagang. “Nanti kita koordinasikan dengan distributor. Apakah kenaikan harga ini dari distributor atau permainan pedagang di pasar,” katanya.

Kenaikan harga daging ayam dikhawatir menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Mataram. Pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk menstabilkan harga sejumlah barang pokok tersebut.

Masyarakat diingatkan agar tetap tenang dan tidak punik buying, sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Yani pengunjung di Pasar Mandalika mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. Ia menyebutkan harga daging ayam sebelumnya Rp32 ribu-35 ribu per kilogram melonjak drastis mencapai Rp47 ribu-Rp52 ribu per kilogram. Kondisi ini berdampak terhadap kebutuhan dapur. “Saya beli ayam seperempat Rp17 ribu. Berarti kalau beli 1 kilo bisa mencapai Rp64 ribu,” katanya mengeluh.

Kebutuhan pokok lainnya juga mengalami kenaikan. Sayur, cabai rawit, tomat dan lain sebagainya. Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun, sehingga pemerintah diharapkan mengintervensi agar tidak menyulitkan masyarakat. “Pasti begini (kenaikan harga,red) terjadi setiap tahunnya,” demikian kata dia. (cem)

                                                        

   

PIM NTB Pertegas Pentingnya Sensus Ekonomi 2026

0

Mataram (ekbisntb.com) – Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB mendorong masyarakat ikut menyukseskan Sensus Ekonomi 2026. Sensus yang digelar setiap 10 tahun sekali itu dinilai penting untuk menyediakan data akurat mengenai kondisi dan perkembangan perekonomian masyarakat.

Hal ini disampaikan Ketua PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH., usai melakukan pertemuan terkait Sensus Ekonomi 2026 dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, di Kantor BPS NTB, Jalan Lingkar Selatan, Kota Mataram, Kamis, 27 Agustus 2026.

Bersama rombongan PIM NTB, turut juga pengurus DPC PIM dari enam kabupaten/kota, yakni Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Utara (KLU), Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa. Serta beberapa organisasi perempuan lainnya juga turut hadir. Salah satu agenda utama pertemuan tersebut adalah sosialisasi mengenai pentingnya Sensus Ekonomi dan mengapa masyarakat perlu berpartisipasi.

Ratu Ganefi menyampaikan, masih ada masyarakat yang belum memahami tujuan dan manfaat sensus ekonomi. Bahkan, sebagian masyarakat terkadang mempertanyakan alasan petugas mengajukan sejumlah pertanyaan yang cukup detail terkait aktivitas ekonomi mereka.

“Kadang masyarakat tidak tahu mereka disensus untuk apa dan apa kepentingannya. Apalagi pertanyaannya cukup detail. Karena itu, sosialisasi seperti ini penting agar masyarakat memahami tujuan Sensus Ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, data hasil sensus memiliki peran penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian masyarakat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran.

Tidak hanya bagi pemerintah, Ratu Ganefi menilai data Sensus Ekonomi juga dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan data yang lebih lengkap, pelaku usaha dapat melihat peta aktivitas ekonomi dan menentukan peluang maupun lokasi usaha yang potensial.

“Misalnya ada pengusaha UMKM yang ingin mengembangkan usaha, dia bisa memetakan di mana peluang untuk berusaha. Data hasil sensus ini bisa menjadi salah satu referensinya,” katanya.

Dorong Sensus Berkualitas

Dalam audiensi ini, PIM NTB juga memberikan masukan terkait proses perekrutan dan peningkatan kapasitas petugas sensus. Menurut Ratu Ganefi, kualitas petugas di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengumpulan data.

Ia berharap petugas sensus yang dilibatkan oleh BPS tidak hanya mendapatkan pelatihan secara singkat, tetapi benar-benar memahami konsep sensus, substansi pertanyaan, serta mampu menjelaskan kepada masyarakat apabila terdapat pertanyaan yang belum dipahami.

“Petugas sensus berkualifikasi itu penting, agar mampu menjawab kebingungan masyarakat di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini untuk memastikan data yang dikumpulkan berkualitas. Sebab, kesalahan pemahaman petugas maupun responden dapat berpengaruh terhadap akurasi data yang dihasilkan.

PIM NTB, lanjut Ratu Ganefi, siap ikut membantu menyosialisasikan pentingnya Sensus Ekonomi kepada masyarakat melalui jaringan organisasi yang tersebar di berbagai daerah.

Ia berharap hasil Sensus Ekonomi nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi perekonomian NTB dan menjadi pijakan pembangunan ekonomi daerah dalam satu dekade mendatang.

“Insyaallah, kami akan tetap mendukung program-program negara. Mudah-mudahan hasil sensus ini bisa memberikan manfaat untuk pembangunan dan menjadi dasar yang baik bagi kebijakan ekonomi ke depan,” pungkasnya.(bul)