HomeBERANDATinggi Angka Pengangguran Terbuka di Sumbawa

Tinggi Angka Pengangguran Terbuka di Sumbawa

Sumbawa Besar (EKBIS NTB)-Pemkab Sumbawa mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) tahun 2025 mencapai 2,3 persen dari total jumlah penduduk 536,6 ribu jiwa atau sekitar 12.111 orang. Data itu bersumber dari Badan Pusat Statistik tahun 2024. “Memang TPT kita masih cukup tinggi di tahun 2025 di angka 2,3 persen. Meski demikian angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan tahun 2024 lalu yang berada di angka 2,6 persen,” kata Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo, Senin (21/9).

Pemerintah Kabupaten Sumbawa saat ini sudah menyiapkan strategi khusus untuk menurunkan angka pengangguran. Salah satunya dengan menyiapkan stimulus,sehingga sektor usaha bisa terus bergerak dan berkembang di Kabupaten Sumbawa. Menurut dia, perputaran ekonomi akan membuka lapangan kerja terutama di sektor pertanian.

- Advertisement -

“Sektor pertanian masih menjadi penyumbang tertinggi dalam upaya penurunan angka pengangguran dan itu harus terus kita jaga. Kami juga akan terus mendorong sektor lainnya untuk terus berperan,” ucapnya.

Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka 5,3 persen juga menjadi peluang bagi pemerintah untuk terus menurunkan angka pengangguran. Hal ini juga menjadi salah satu indikator terus bertumbuhnya angka angkatan kerja dan menekan jumlah pengangguran.

Penyiapan sumber daya manusia (SDM) dari pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) juga terus dilakukan pemerintah,sehingga kebutuhan tenaga kerja oleh perusahaan bisa disiapkan pemerintah sebagai salah satu upaya dalam menekan angka pengangguran.

“Kami juga akan terus berkoordinasi dengan perbankan untuk bisa memberikan modal usaha. Permodalan ini dianggap sangat penting melalui KUR dalam upaya menumbuhkan sektor usaha baru,” jelasnya.

Diakuinya, tingginya TPT ini terjadi karena penyiapan tenaga kerja yang masih sangat terbatas terutama kapasitas ruang kelas, anggaran, sarana penunjang yang dimiliki daerah. Bahkan untuk pelaksanaan diklat juga sangat terbatas seperti diklat alat berat, pelatihan perbaikan AC residensial, dan pengelasan.

“Kuota kita hanya 16 orang per satu kelas.Artinya, kita hanya mampu menciptakan tenaga terampil sebanyak 48 orang untuk sektor tersebut,” ucapnya.

Selain itu, pemerintah juga akan terus membuka pelatihan dalam mempersiapkan tenaga kerja lokal. Koordinasi dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja juga terus dilakukan dengan harapan mereka bisa membuka kebutuhan tenaga kerja untuk dipersiapkan lebih lanjut oleh daerah. (ils)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut