Lombok Tengah (Ekbis NTB) — Di balik megahnya deru pembangunan kawasan pariwisata super prioritas Mandalika, tersimpan sebuah cerita tentang ketangguhan, kesadaran ekologis, dan inovasi ekonomi kerakyatan yang berdenyut di jantung Pulau Lombok. Tepatnya di Dusun Bongak, Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah perubahan besar tengah berlangsung. Dusun yang dahulu dikenal gersang dan tertinggal, kini menjelma menjadi teladan nasional dalam memadukan konservasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pendidikan berbasis komunitas.
Cerita ini berpusat pada sebuah inisiatif lokal yang dimotori oleh pemuda setempat melalui Gawah Bonga Foundation, dengan tokoh penggeraknya, Burhanuddin. Bersama warga dusun yang menaungi 211 kepala keluarga atau sekitar 845 jiwa di atas lahan seluas 96 hektar, mereka membuktikan bahwa desa di tengah hutan pun mampu menembus batas geografis hingga melirik pasar benua biru, Eropa.

Dari Lahan Gersang Menuju Sabuk Hijau 96 Hektar
Bukan perkara mudah bagi masyarakat Dusun Bongak untuk berada di titik hari ini. Berdasarkan penuturan Burhanuddin dalam catatan dokumentasi lapangan, kondisi geografis Gawah (Hutan) Bongak pada masa lalu jauh dari kata subur. Wilayah ini sempat mengalami fase kekeringan dan kegersangan yang cukup parah.
Ironisnya, mayoritas warga setempat berprofesi sebagai peternak kerbau dan kambing. Setiap harinya, para peternak harus merelakan waktu, tenaga, dan biaya hingga Rp50.000 per hari hanya untuk mencari rumput atau pakan ternak ke wilayah Mataram atau Lembar yang berjarak 1,5 hingga 2 jam perjalanan. Di tengah lingkungan hutan tempat mereka tinggal, tidak banyak sumber pakan hijau yang bisa diandalkan untuk hewan ternak.
Menyadari ancaman ekologis yang kian nyata bagi generasi masa depan, para pemuda yang tergabung dalam yayasan bergerak cepat. Pada tahun 2021, mereka menginisiasi gerakan penanaman massal sebanyak 13.000 bibit pohon dari 10 jenis varietas berbeda. Mayoritas tanaman yang dipilih adalah Lamtoro, sebuah langkah strategis bermata dua: mengembalikan unsur hara tanah yang kritis sekaligus menyediakan cadangan pakan ternak yang melimpah bagi warga lokal.
Bagi Burhan dan warga Gawah Bongak, merawat lingkungan adalah harga mati. Mereka memegang prinsip kuat agar anak cucu mereka kelak tidak mewarisi tanah yang gersang dan tandus. Komitmen ekologis ini bahkan diintegrasikan secara langsung ke dalam lini bisnis yang mereka bangun: setiap satu botol produk yang terjual, disisihkan 10 persen dari keuntungannya untuk mendanai penanaman pohon baru. Pohon-pohon tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga fungsi utama: penghasil air, penghasil buah, dan penghasil pakan ternak.

Transformasi Ekonomi: Minyak Kelapa Tradisional Menuju Virgin Coconut Oil (VCO)
Potensi alam Gawah Bongak sebenarnya bertumpu pada melimpahnya pohon kelapa di sekitar perkampungan. Dahulu, kaum ibu di dusun ini telah lama mengolah buah kelapa secara tradisional menjadi minyak goreng kelapa biasa. Namun, metode konvensional tersebut memiliki keterbatasan: proses yang memakan waktu lama (bisa berhari-hari), tenaga yang terkuras, kadar air yang tinggi, serta nilai jual yang relatif rendah di pasaran lokal.
Titik balik ekonomi dusun ini mulai bergulir ketika Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok hadir memberikan intervensi program Community Development. Melalui dukungan korporasi tersebut, Gawah Bongak mendapatkan suntikan teknologi mesin modern yang ramah lingkungan (zero emission), seperti mesin sentrifugal untuk memisahkan santan dan minyak secara cepat, serta alat pengurang kadar air untuk mendongkrak kualitas produk akhir.
Jika proses manual sebelumnya membutuhkan waktu hingga 24 jam penuh untuk satu siklus kecil, kehadiran mesin modern berteknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 KWP dengan penyimpanan baterai 20 kWh ini mampu memangkas waktu produksi secara drastis—hanya dalam hitungan jam dengan efisiensi maksimal.

Dari sinilah lahir produk unggulan baru: Virgin Coconut Oil (VCO) atau yang oleh masyarakat lokal kerap disebut sebagai “minyak katak” (minyak murni). Tidak berhenti pada minyak mentah, kreativitas warga dan pemuda setempat berkembang pesat dengan menciptakan berbagai produk turunan bernilai ekonomis tinggi, antara lain:
- VCO Murni untuk kesehatan, perawatan kulit, dan rambut.
- Sabun natural berbahan dasar VCO.
- Losion anti nyamuk alami.
- Deodoran organik.
- Surf wax (pelapis papan selancar) yang sangat dibutuhkan oleh para peselancar di kawasan wisata pantai.
Seluruh rangkaian proses produksi ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat—melibatkan kaum pemuda dalam manajemen dan operasional teknis, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengolah ampas sisa kelapa menjadi tepung bernilai gizi tinggi.

Menembus Pasar Eropa dan Jaringan Internasional
Perubahan mendasar tidak hanya terjadi pada aspek teknologi produksi, tetapi juga pada orientasi pasar. Jika produk minyak kelapa masa lalu hanya berputar di lingkup tetangga desa, kini komoditas Gawah Bongak sukses memikat hati para pelancong mancanegara, khususnya wisatawan asal Eropa.
Dusun Gawah Bongak yang terletak di kawasan penyangga pariwisata internasional Mandalika mendatangkan sekitar 800 hingga 1.000 wisatawan asing setiap tahunnya. Uniknya, para wisatawan ini tidak sekadar datang berlibur, melainkan berkunjung ke dusun untuk belajar, menjadi relawan, atau mengikuti kelas memasak dan ekowisata.
Bagi wisatawan Eropa, produk VCO dan aneka turunannya menjadi buah tangan wajib. Dalam sekali kunjungan, seorang wisatawan bahkan bisa memborong 10 hingga 15 botol sekaligus untuk dibawa ke negara asal mereka.
Jaringan internasional ini kian diperluas oleh Burhanuddin, yang juga merupakan lulusan Pendidikan Bahasa Prancis. Dengan kemampuan linguistik dan jejaring global yang ia bangun, dokumen legalitas dan pemasaran produk Gawah Bongak saat ini tengah dipersiapkan untuk menembus pasar Spanyol dan Prancis.
Menurut Burhanuddin, ketertarikan mitra dan investor asing terhadap produk Gawah Bongak bukan semata-mata karena kualitas fisik barangnya, melainkan karena filosofi di balik produk tersebut. Model bisnis sosial yang diusung—di mana setiap tetes produk yang dibeli bermakna penanaman satu pohon dan pemberdayaan masyarakat desa—membuat produk ini memiliki “jiwa” yang kuat di mata konsumen global.
Integrasi Pendidikan, Ekowisata, dan Perubahan Paradigma
Keberhasilan Gawah Bongak tidak bisa dilepaskan dari fondasi pendidikan yang telah diletakkan sejak dua dekade silam. Yayasan pendidikan di dusun ini dirintis sejak tahun 2004 oleh almarhum ayah Burhanuddin yang juga pernah menjabat sebagai kepala desa, dan diresmikan pada tahun 2008.
Kini, buah dari pendidikan tersebut terlihat nyata: hampir 50 persen warga dusun berlatar belakang sarjana, menjadikan mereka motor penggerak perubahan pola pikir (mindset) di tengah masyarakat. Rasa rendah diri (inferiority complex) sebagai “orang desa yang tidak bisa apa-apa” telah terkikis habis. Warga dusun kini memiliki mimpi besar; para orang tua yang dulunya hanya bertani dan menggembala kini berani bermimpi dan berinvestasi agar anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi hingga ke luar negeri.
Menariknya lagi, interaksi kultural terjadi secara organik di dusun ini. Berkat kerja sama dengan berbagai yayasan dan kampus luar negeri, Dusun Gawah Bongak rutin kedatangan mahasiswa magang atau relawan asal Eropa (seperti Prancis dan Belgia) yang tinggal selama belasan hari untuk mengajar bahasa Prancis, matematika, hingga kesenian kepada anak-anak dan warga setempat secara cuma-cuma. Tidak heran jika warga paruh baya di dusun ini fasih menyapa dengan ucapan “bonjour” di sela-sela aktivitas harian mereka.
Epilog: Ketika Desa Menginspirasi Dunia
Apa yang dibangun di Dusun Gawah Bongak, Desa Tumpak, adalah sebuah manifestasi nyata dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kolaborasi harmonis antara kesadaran ekologis, intervensi teknologi tepat guna dari dunia industri (seperti Pertamina), semangat kewirausahaan pemuda, serta keterbukaan terhadap jejaring global telah mengubah sebuah dusun terpencil menjadi mercusuar inspirasi.
Di tengah gempuran modernisasi pariwisata global, Gawah Bongak tetap berdiri kokoh mempertahankan identitasnya: merawat bumi lewat setiap pohon yang ditanam, menghidupkan ekonomi lewat tetesan murni Virgin Coconut Oil, dan mencerdaskan generasi masa depan melalui jembatan pendidikan internasional. Dusun ini telah membuktikan bahwa dari balik rimbunnya pohon kelapa di tanah Lombok, sebuah asa global dapat diwujudkan nyata dari desa. (fan)






