Selong (EKBIS NTB) – Produksi bawang putih khususnya di Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini cukup melimpah. Pada musim tanam saat ini, para penangkar justru sudah kesulitan untuk menaruh benihnya.
Karena itu, mereka sangat menyambut kehadiran gudang penyimpanan. Diyakini, Sembalun bisa diwujudkan sebagai tempat produksi benih nasional.
H. Egi, salah satu penangkar benih bawang putih kepada Suara NTB via telepon, Senin (10/8/2026) menjelaskan sudah cukup lama penangkar menanti adanya gudang. Rencana pembangunan gudang bantuan Satgas Pangan disambut sangat gembira.
Dukungan Satgas Pangan tersebut diwujudkan melalui pembangunan gudang penampungan benih bawang putih yang akan dimanfaatkan untuk menampung hasil panen petani binaan.
“Rencana pak Kapolri akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gudang tersebut dijadwalkan pada 19 Agustus 2026,” tuturnya.
Kegiatan itu akan dirangkaikan dengan agenda panen dan penanaman bawang putih.
Menurutnya, keberadaan gudang sangat dibutuhkan mengingat hasil panen petani yang akan diproses menjadi benih membutuhkan tempat penyimpanan selama masa dormansi.
“Gudang itu untuk menampung hasil petani sementara menunggu masa dormansi untuk bisa menjadi benih. Jadi memang sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Selama ini, hasil panen bawang putih masih ditampung di gudang milik pribadi. Namun, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu menampung produksi dalam jumlah besar.
Ia menyebut kapasitas gudang dan lantai jemur yang dimiliki secara pribadi saat ini berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 ton. Bahkan, satu lantai jemur saja mampu menampung sekitar 750 ton bawang putih yang telah melalui proses pengeringan.
“Karena setiap hari ada proses panen, jadi sangat-sangat butuh gudang itu,” katanya.
Egy menjelaskan, gudang yang akan dibangun nantinya telah dipersiapkan lahannya. Lahan tersebut akan dihibahkan untuk mendukung pembangunan fasilitas penampungan benih.
Pengelolaan gudang tersebut nantinya tetap dilakukan oleh pihaknya sebagai penangkar yang fokus pada produksi benih nasional. Ia mengatakan kerja sama dengan Satgas Pangan Polri telah berlangsung cukup lama.
Satgas pangan, kata dia, melihat kapasitas fasilitas penyimpanan yang dimiliki saat ini belum mencukupi untuk mendukung produksi benih dalam skala yang lebih besar. Karena itu, pembangunan gudang menjadi salah satu solusi untuk memperkuat rantai produksi benih bawang putih.
“Satgas Polri melihat kapasitas gudang yang ada tidak mencukupi. Alhamdulillah sekarang dibuatkan gudang penampungan,” jelasnya.
Egy mengatakan sebagian hasil panen bawang putih memang masih dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pasar lokal. Namun, hasil panen dari petani-petani binaannya diarahkan khusus untuk produksi benih.
Untuk menjaga pasar lokal, sebagian kecil hasil produksi tetap dialokasikan untuk konsumsi. Pasar tersebut antara lain Masbagik, Pormoton, hingga wilayah Lombok Tengah.
Meski demikian, orientasi utama saat ini adalah mengejar swasembada benih bawang putih terlebih dahulu.
Dari sisi harga, ia menyebut harga bawang putih grade A di tingkat petani binaannya saat panen mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram dalam kondisi basah, belum termasuk ongkos.
Sementara untuk harga dalam bentuk benih, belum dapat ditentukan karena masih harus melihat persentase penyusutan selama proses pengeringan serta lamanya masa dormansi hingga bawang putih siap menjadi benih.
“Nanti kita lihat persentase penyusutannya, kemudian berapa lama dormansinya sampai bisa menjadi benih. Dari sana baru bisa menentukan harga standar,” katanya.
Ia berharap pembangunan gudang tersebut dapat mempercepat peningkatan kapasitas produksi benih bawang putih di Sembalun. Dalam jangka panjang, target yang ingin dicapai bukan hanya memenuhi kebutuhan benih di daerah, tetapi turut mendukung swasembada benih secara nasional.
Menurutnya, kebutuhan bawang putih nasional sangat besar. Ia menyebut kebutuhan bawang putih masyarakat Indonesia berada di kisaran 550.000 ton per tahun.
“Harapannya mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa swasembada benih dulu secara nasional. Kalau sudah bisa swasembada benih, baru kita berbicara bagaimana cara swasembada konsumsi,” demikian. (rus)






