Selong (EKBIS NTB) – Peredaran rokok ilegal di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Tingginya minat masyarakat terhadap rokok murah membuat daerah ini dinilai menjadi pasar yang menjanjikan bagi para pelaku peredaran rokok tanpa cukai.
Daya beli masyarakat menjadi penyebab utama banyaknya peredaran rokok ilegal di daerah dengan jumlah penduduk terbesar di NTB ini.Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lombok Timur, Salmun Rahman, saat diwawancara Suara NTB, Rabu (8/7/2026) mengungkapkan, pihaknya bersama Bea Cukai dan aparat penegak hukum lainnya terus menggencarkan operasi gabungan (opgab) untuk menekan peredaran rokok ilegal. Terakhir, tim gabungan Pol PP, Bea Cukai, Kepolisian dan Kejaksaan menyisir pemasok rokok ilegal di Kecamatan Pringgabaya dan Wanasaba.
Sebelumnya, razia serupa juga digelar di Kecamatan Suralaga dan Pringgasela. Dari serangkaian operasi tersebut, petugas berhasil menemukan sekitar 20 ribu bungkus rokok ilegal.
“Operasi gabungan terus kami lakukan bersama Bea Cukai, kepolisian, dan kejaksaan. Temuannya cukup banyak, mencapai sekitar 20 ribu bungkus rokok ilegal,” ujar Salmun.Ia menjelaskan, rokok ilegal yang ditemukan memiliki berbagai modus. Sebagian tidak dilengkapi pita cukai sama sekali, sementara sebagian lainnya menggunakan pita cukai yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Menurutnya, mayoritas rokok tersebut merupakan produk pabrikan dengan kemasan yang terlihat sangat menarik dan berkualitas sehingga sulit dibedakan dengan rokok legal.
“Kalau dilihat dari kemasannya sangat bagus. Barang ini merupakan kiriman dan diduga masuk melalui berbagai jalur distribusi, baik jalur laut, udara maupun jalur lainnya,” katanya.Ia menilai tingginya peredaran rokok ilegal tidak lepas dari kondisi daya beli masyarakat. Banyak konsumen memilih rokok murah karena memiliki cita rasa yang dianggap tidak jauh berbeda dengan rokok legal.
“Sebagian besar masyarakat mencari harga yang lebih murah. Kalau ada rokok legal harganya Rp20 ribu sampai Rp50 ribu per bungkus, sementara ada yang ditawarkan Rp10 ribu dengan kemasan menarik, tentu banyak yang tergiur,” jelasnya.






