Mataram (ekbisntb.com)- Politeknik Negeri Bali saat ini sedang berada di salah satu titik puncaknya. Di konstelasi perguruan tinggi antarpoliteknik se-Indonesia tahun 2025, PNB menempati perangkat ke-9. Tercatat sudah bertahun-tahun lamanya, PNB selalu bertengger di 10 besar politeknik di negeri ini. Dalam peraihan skema penelitian BIMA 2026, dosen-dosen kampus penghasil SDM profesional ini bahkan menempati peringkat satu di antara begitu banyak dosen-dosen politeknik Indonesia yang terlibat.
Salah satu program studi unggulan PNB adalah Prodi Doktor Bisnis Pariwisata (S3 D’Bispar) di Jurusan Pariwisata. Program studi ini berdiri sejak 2024 atau pertama di antara seluruh politeknik di Indonesia. Meskipun masih seumur jagung, kenyataannya program studi ini tergolong sangat diminati. Jumlah mahasiswa meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahun pertama (2024), S3 D’Bispar menerima 11 mahasiswa sedangkan tahun kedua (2025) mencapai 15. Pada tahun ini (2026), dari tiga gelombang yang direncanakan, yang sudah diterima di gelombang pertama 11 orang, suatu jumlah yang menunjukkan betapa S3 D’Bispar menjadi favorit para peminat studi lanjut doktoral bidang pariwisata.
Apalagi pendaftar di gelombang kedua tercatat sudah mencapai 11 orang yang ujian masuknya berlangsung 22 Mei yang lalu. Ini belum termasuk perhitungan pendaftar di gelombang ketiga yang akan diadakan bulan Agustus. Kemungkinan jumlah pendaftar akan relatif banyak karena saat ini tersedia Beasiswa Doktoral Dosen Vokasi dari Kemendiktisaintek.
Keberhasilan S3 D’Bispar di antaranya berkat ekosistem pendidikan tinggi terapan kepoliteknikan yang berkualitas dan terukur, dengan dukungan kelembagaan internal yang berdaya saing internasional sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran kelembagaan yang ingin dicapainya. Tidak mengherankan, terhitung hingga Mei 2026, lembaga ini sudah memiliki 18 guru besar tetap. Jumlah ini menduduki peringkat ketiga di antara seluruh politeknik negeri se-Nusantara yang jumlah keseluruhan profesornya hingga tahun ini mencapai 173.
Strategi penting yang digunakan S3 D’Bispar dalam pengembangannya sebagai program studi unggulan adalah memanfaatkan keterlibatan guru besar internal dalam kegiatan akademiknya. Keterlibatan ini dimungkinkan karena bidang ilmu bisnis pariwisata bersifat inter- dan transdisiplin sebagai bagian dari KKNI (kerangka kualifikasi nasional Indonesia) jenjang 9 sehingga harus melibatkan sejumlah kepakaran terkait.
Para profesor ini tidak hanya mengajar tetapi juga membimbing dan menguji. Semua yang terlibat dalam proses pembelajaran di S3 D’Bispar, termasuk membimbing dan menguji, adalah guru besar. Itulah sebabnya, wibawa dan vibes intelektual guru besar tampak nyata misalnya dalam penyelenggaraan acara ujian-ujian di mana dua ujian terdekat untuk semester genap ini adalah Ujian Pra-proposal Penelitian Disertasi untuk angkatan 2025 (mahasiswa generasi 2) dan Ujian Seminar Hasil Penelitian Disertasi untuk angkatan 2024 (mahasiswa generasi 1) pada bulan Juli mendatang.
Koordinator S3 D’Bispar Prof Dr I Putu Astawa SE, MM menyatakan, kekuatan para profesor PNB justru menjadi daya tarik kuat para pimpinan industri pariwisata, profesional, dan dosen lulusan magister dari bidang ilmu apa pun untuk melanjutkan studinya di S3 D’Bispar. Buktinya sampai saat ini para mahasiswanya datang dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatera dan Jawa hingga Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.
Beberapa di antaranya magister lulusan perguruan tinggi di luar negeri seperti Inggris, Perancis, dan China. Menurut Prof Astawa, berdasarkan hasil survei dan pengalaman yang ada, para mahasiswa lebih memilih dan enjoy berdiskusi hal-ihwal ilmu terapan bisnis pariwisata dan persoalan-persoalan disertasinya dengan para profesor.
Sementara untuk program studi sejenis di perguruan-perguruan tinggi lain (di luar PNB), yang mengajar umumnya menggunakan komposisi guru besar dan kebanyakan non-guru besar.
“Dengan menerapkan standar tinggi pembelajaran melalui peran para profesor, tentu ini berarti S3 D’Bispar PNB memiliki keunggulan kompetitif yang kuat dalam konteks memperebutkan pasar lulusan S2 atau magister berupa pimpinan industri, entrepreneneur, dan akademisi”, tandasnya.(r)






