HomeBerandaFestival Pawai Rimpu, Ikhtiar Menggerakan Ekonomi Masyarakat

Festival Pawai Rimpu, Ikhtiar Menggerakan Ekonomi Masyarakat


Bima (Suara NTB) – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bima menggelar Festival Pawai Rimpu pada, Senin (29/6). Kegiatan tahunan ini sebagai ikhtiar pemerintah menggerakan ekonomi masyarakat.


Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar menjelaskan, anggaran tersebut digunakan untuk membiayai seluruh kebutuhan penyelenggaraan festival hingga malam puncak peringatan Hari Jadi Bima.


Anggaran itu dialokasikan untuk kebutuhan teknis, seperti panggung, tata suara, pencahayaan serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Selain itu, dana juga digunakan untuk latihan penampilan dan menghadirkan sejumlah talent.


“Kalau di Dispar untuk lighting, sound, kemudian panggung dan lain sebagainya itu kebutuhan anggarannya Rp200 juta. Kemudian untuk latihan, mengundang talent dan sebagainya Rp200 juta juga. Jadi total untuk keseluruhan penyelenggaraan festival Rp400 juta,” jelasnya, Selasa (30/6).


Selain menjadi rangkaian peringatan hari jadi daerah, Festival HJB juga dimanfaatkan sebagai ruang promosi bagi pelaku usaha lokal. Sebanyak 32 pelaku UMKM binaan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima dilibatkan untuk memasarkan produk mereka selama festival berlangsung.


Menurut Akbar, pemerintah daerah berharap tingginya jumlah pengunjung dapat mendorong perputaran ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM, pengrajin tenun, dan pedagang kuliner. Ia optimis keramaian festival akan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.


“Teman-teman yang menenun, yang menjual kuliner, dan pelaku usaha lainnya tentu akan merasakan peningkatan pendapatan dengan adanya keramaian seperti ini. Harapannya, itu berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Festival HJB ke-386 juga dikemas sebagai ajang promosi seni dan budaya daerah. Pada malam pertama ditampilkan berbagai kesenian tradisional Bima,dipadukan dengan lomba fashion show Dekranasda Kabupaten Bima. Malam kedua diisi pertunjukan seni kontemporer dan musik modern, sedangkan malam puncak menghadirkan kolaborasi seni tradisional dan modern.
Akbar mengatakan konsep tersebut disusun untuk menghadirkan keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan perkembangan seni modern.

“Kita ingin menampilkan sisi tradisional Bima dan sisi modernnya. Pada malam puncak, keduanya dipadukan dalam sebuah kolaborasi,” ujarnya.
Pihaknya berharap peringatan Hari Jadi Bima tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, memperkuat promosi budaya daerah, serta mendorong sektor pariwisata di Kabupaten Bima. (hir)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut