Home Blog Page 995

Harga Emas Antam Naik Rp5.000 Jadi Rp1,338 Juta Per Gram

0
Emas Batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) (Ekbis NTB-Ist)

Jakarta (Ekbis NTB) – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang dipantau dari laman Logam Mulia, Rabu pagi, naik sebesar Rp5.000 per gram, sehingga menjadi Rp1.338.000 per gram.

Sebelumnya, harga emas batangan berada di posisi Rp1.333.000 per gram pada Selasa 28 Mei 2024.

Adapun harga jual kembali (buyback) emas batangan pada Rabu, yakni sebesar Rp1.224.000 per gram.

Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017. Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP. PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di Logam Mulia Antam pada Rabu:

– Harga emas 0,5 gram: Rp719.000
– Harga emas 1 gram: Rp1.338.000
– Harga emas 2 gram: Rp2.616.000
– Harga emas 3 gram: Rp3.899.000
– Harga emas 5 gram: Rp6.465.000
– Harga emas 10 gram: Rp12.875.000
– Harga emas 25 gram: Rp32.062.000
– Harga emas 50 gram: Rp64.045.000
– Harga emas 100 gram: Rp128.012.000
– Harga emas 250 gram: Rp319.765.000
– Harga emas 500 gram: Rp639.320.000
– Harga emas 1.000 gram: Rp1.278.600.000

Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22.(Ant)

Pengusaha Hotel Sayangkan, Pemkot Mataram Tak Izinkan MXGP Lombok

0
MXGP Lombok tahun 2023 lalu (Ekbis NTB/bul)

Mataram (Ekbis NTB) – Pengusaha perhotelan di Kota Mataram menyayangkan, pemerintah Kota Mataram tidak memberikan izin penyelenggaraan event internasional Motor Cross Grand Prix (MXGP) yang direncanakan dilaksanakan di sirkuit MXGP di eks Bandara Selaparang, Rembiga, dengan alasan.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Made Adiyasa mengaku kaget mendapat informasi eksekutif dan legislative di Kota Mataram menolak dilaksanakan event bergengsi kelas dunia ini dilaksanakan di Mataram.

“Terlepas dari masalah apapun, mestinya itu harus tetap bisa dilaksanakan. Solusinya kan bisa diselesaikan, antara pemerintah dengan BUMN,” katanya.

Menurutnya, mestinya pemerintah mempertimbangkan dampak ikutan dari penyelenggaraan MXGP, seperti yang dirasakan saat diselenggarakannya MXGP Samota Sumbawa dan MXGP Lombok tahun lalu.

“Saat seri MXGP digelar di Lombok tahun lalu, dampaknya terhadap akomodasi, hunian kamar (hotel) dari event hiburannya cukup tinggi. Di tempat saya saja okupansi hotel diatas 70 persen,” katanya.

Event MXGP Lombok tahun lalu yang dirangkai dengan kegiatan hiburan, mampu mendatangkan cukup banyak orang ke Mataram. Meskipun itu wisatawan antar daerah di dalam provinsi. Hotel-hotel di Kota Mataram berisi. Bahkan, saat itu, hotel-hotel menambah melibatkan lebih banyak tenaga kerja untuk melayani tamu hotel.

“Tiga hari event hiburan di Sirkuit Selaparang tahun lalu kita kaget juga, karena ramai tamu. Nah, event sekelas ini yang bisa mendongkrak ekonomi. Jadi sangat sayang kalau ditolak,” tambahnya.

Made Miyasa menambahkan, saat ini event-event sepi, apalagi event internasional. Mestinya, saat ada peluang diselenggarakannya event bergengsi dunia seperti MXGP diselenggarakan di Kota Mataram, menurutnya pemerintah harus mendukung.

“Terlepas dari persoalan apapun, mestinya pemerintah melihat peluang positif dari dampak diselenggarakannya event tersebut,” katanya.

MXGP adalah event dunia, dengan diselenggarakannya event ini di daerah, salah satu dampak positif yang diterima daerah adalah promosi daerah.

“MXGP ini sama dengan MotoGP. Sama – sama benggengsi di dunia. Bedanya, satunya balap di aspal, satunya balap di lintasan ekstrem. Dan tidak jarang daerah menjadi tuan rumah event ini,” ujarnya.

Tidak diberikannya izin penyelenggaraan MXGP di eks Bandara Selaparang, dikatakan Made Miyasa, bertolak belakang dengan semangat mendorong sektor pariwisata di daerah ini. sektor pariwisata berkaitan erat dengan promosi, dan mendatangkan orang luar.

“Ini kontradiktif dengan semangat mengundang orang berkunjung ke daerah kita. Orang mau berkunjung itu harus ada event yang jadi magnetnya,” tambahnya.

Padahal, sejak tahun lalu event ini dinanti oleh pelaku usaha akomodasi di Kota Mataram. Berdasarkan informasi yang diterima dari anggota AHM, hotel-hotel terdekat yang ada di Eks Bandara Selaparang sudah menerima pesanan kamar untuk moment MXGP Lombok tahun 2024 ini.

Masih ada waktu, sebelum penyelenggaraan tahun ini. Menurut Made Miyasa, pemerintah diharapkan bijak. Melihat kepentingan lain yang tak kalah besar atas dampak penyelenggaraan MXGP.(bul)

Artikel lainnya….

Musim Tangkapan, HNSI Berharap Pasokan BBM Tak Terganggu

Angkasa Pura Komitmen Bayar Tunggakan PBB

Dana Irigasi Perpompaan Senilai Rp112.800.000 Dalam Proses Transfer

Musim Tangkapan, HNSI Berharap Pasokan BBM Tak Terganggu

0
Kunjungan silaturrahim HNSI NTB ke Pertamina Depot Ampenan, untuk memastikan penyaluran BBM ke SPBN tidak terganggu (Ekbis NTB/bul)

Mataram (Ekbis NTB) – Bulan Mei masuk bulan musim tangkapan bagi para nelayan. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) mengharapkan musim seperti ini, produksi perikanan tangkap tak terganggu.

Karena itu, HNSI Provinsi NTB melakukan kunjungan ke pengelola Depot Pertamina BBM Ampenan, di Ampenan, Kota Mataram, Selasa 28 Mei 2024. Kunjungan silaturrahmi HNSI NTB ini untuk memastikan, penyaluran BBM ke SPBN tidak terganggu.

Ir. H. Djoko Supriyanto, Dewan Penasehat HNSI NTB yang ikut dalam kunjungan ini menyampaikan, sebelumnya HNSI menerima laporan dari nelayan soal pasokan BBM yang sempat berkurang ke SPBN di Labuhan Lombok, Lombok Timur. Kekurangan pasokan BBM ini menurutnya mempengaruhi mobilitas nelayan untuk melakukan tangkapan.

“SPBN yang di Labuhan Lombok kapasitasnya diatas 30 Kiloliter, tapi yang diterima harian dibawah 10 Kiloliter. Hal ini terjadi beberapa hari. Bulan Mei adalah musim tangkapan, bisa berpengaruh produksi nelayan kalau BBM yang diterima kurang. Karena itu kami datang silaturrahmi ke Pertamina,” ungkapnya.

Mantan Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB ini mengatakan, menurut informasi yang diterima, sempat kurangnya distribusi BBM ke SPBN Labuhan Lombok terjadi karena keterlambatan pasokan BBM yang masuk ke Depot Ampenan.

“Jadi kekurangan pasokan BBM untuk nelayan tidak hanya terjadi di Labuhan Lombok. Di tempat – tempat lain juga sama. Tapi alhamdulillah, hanya beberapa hari saja itu terjadi dan sudah normal. Bahkan diatribusi BBM dilakukan Pertamina sudah bisa mencapai kebutuhan maksimal. Kita menyampaikan terimkasih ke Pertamina,” ujarnya.

HNSI sebagai wadah organisasi nelayan mengharapkan tidak terjadi kendala dalam pendiatribusian BBM hingga ke nelayan, untuk mendukung produksi perikanan tangkap dapat dilakukan secara maksimal.

Terpisah, Ahad Rahedi, Area Manager Comm Rel & CSR Pertamina Patraniaga Jatimbalinus mengatakan, terhadap pasokan BBM ke SPBN, sebagaimana disampaikan HNSI NTB, Pertamina Patra Niaga telah menindaklanjutinya dengan melakukan build up stock.

Dan telah melakukan penyaluran yang dilaksanakan pada hari Senin 27 Mei 2024 sejumlah 24 Kiloliter. Berikutnya, Selasa 28 Mei 2024 dilakukan pengiriman kembali dengan jumlah total 43 Kiloliter ke SPBUN.

“Dan untuk permintaan dari SPBUN selanjutnya Pertamina Patra Niaga Wilayah NTB telah berkoordinasi dengan pihak SPBUN. Pertamina menjaga penyaluran ke SPBUN berjalan lancar dan memastikan stok BBM tetap aman untuk kebutuhan SPBUN,” demikian Ahad.(bul)

Artikel lainnya….

Angkasa Pura Komitmen Bayar Tunggakan PBB

Dana Irigasi Perpompaan Senilai Rp112.800.000 Dalam Proses Transfer

Program ICARE Bank Dunia, Konsorsium Koperasi Loteng Dapat Fasilitas Pinjaman Senilai Rp 1,5 Triliun

Angkasa Pura Komitmen Bayar Tunggakan PBB

0
Kendaraan melintas di depan bekas Bandara Selaparang pada, Rabu 29 Mei 2024. PT. Angkasa Pura I komitmen menyelesaikan tunggakan pajak bumi dan bangunan. Penyelesaian tunggakan menunggu koordinasi Pemprov NTB dan Pemkot Mataram. (EkbisNTB.com/cem)

Mataram (EkbisNTB.com) – PT. Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok berkomitmen menyelesaikan tunggakan pajak bumi dan bangunan atas lahan bekas Bandara Selaparang di Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Penyelesaian tunggakan perlu dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Kota Mataram.

Humas PT. AP I Bandara Internasional Lombok, Arief Haryanto mengklarifikasi munculnya tunggakan pajak bumi dan bangunan tahun 2023 atas lahan bekas Bandara Selaparang tersebut. Menurutnya, permasalahan tunggakan PBB bukan ranah Angkasa Pura, tetapi justru menunggu koordinasi dari Pemprov NTB dengan Pemerintah Kota Mataram. “Sebenarnya, permasalahanya sudah bukan ranah kami lagi,” jawab Arief.

Pada prinsipnya kata dia, Angkasa Pura I berkomitmen untuk melaksanakan atau menyelesaikan kewajiban dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan atas aset bekas Bandara Selaparang.

Ia mengklaim, selama ini tidak pernah terlambat dalam melakukan pembayaran PBB untuk objek di Kecamatan Selaparang tersebut.

Namun, pembayaran PBB di tahun 2023 ini, ada beberapa hal yang perlu dikoordinasikan oleh pihak Pemprov NTB dan Pemerintah Kota Mataram. “Karena pada prinsipnya Angkasa Pura I berkomitmen melaksanakan kewajiban,” terangnya.

Dari hasil rapat antara PT. Angkasa Pura I dengan Pemprov NTB dan Pemkot Mataram pada tanggal 15 Desember 2023 telah disepakati beberapa hal diantaranya, pertama, Pemprov NTB akan melaporkan hasil rapat kepada pimpinan termasuk rencana pendampingan oleh Badan Pemeriksa Keuangan guna penyelesaian pemberian kompensasi pembayaran pajak bumi dan bangunan tahun 2023 atas penggunaan lahan Eks Bandara Selaparang yang dipergunakan untuk penyelenggaraan Motorcross Grand Prix 2023.

Kedua, PT. Angkasa Pura I dan Pemprov NTB akan bersurat ke Pemkot Mataram terkait permohonan penundaan dan penangguhan pembayaran PBB tahun 2023 dan penghapusan denda pajak atas penggunaan lahan Eks Bandara Selaparang.

Ketiga, penundaan atau penagguhan penagihan pembayaran PBB tahun 2023 dan penghapusan denda pajak, agar dapat dilaksanakan oleh Pemkot Mataram sampai selesainya permasalahan pemberian kompensasi berupa pembayaran PBB tahun 2023.

Arief menegaskan, komitmen ini sebenarnya sudah selesai, tetapi masih menunggu komitmen dari Pemprov NTB belum tertunaikan. (cem)

Artikel lainnya….

Dana Irigasi Perpompaan Senilai Rp112.800.000 Dalam Proses Transfer

Program ICARE Bank Dunia, Konsorsium Koperasi Loteng Dapat Fasilitas Pinjaman Senilai Rp 1,5 Triliun

Realisasi Rendah, Investor Teluk Mekaki Dipanggil DPMPTSP Lobar

Dana Irigasi Perpompaan Senilai Rp112.800.000 Dalam Proses Transfer

0
Muhammad Taufieq Hidayat(ekbisntb.com/ist)

Mataram (Ekbis NTB) – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Muhammad Taufieq Hidayat, S.Sos.,M.T., mengaku bahwa dana untuk irigasi perpompaan senilai Rp112.800.000 juta yang akan diberikan kepada kelompo tani sudah di transfer.

Irigasi perpompaan ini merupakan bantuan yang diberikan oleh Kementan kepada seluruh provinsi yang ada di Indonesia, selain irigasi perpompaan, Kementan juga memberikan bantuan pompanisasi dengan tujuan daerah bisa mengalami peningkatan Indeks Pertanaman (IP) sehingga bisa menghadapi krisis pangan.

“Irigasi perpompaan dan pompanisasi ini untuk mengejar target tanam yang terdiri dari perluasan areal tanam dan luas tempat tanam kita, menghadapi krisis pangan,” katanya pada Selasa, 28 Mei 2024.

Terkait dengan dana irigasi perpompaan, NTB mendapat jatah sebanyak 251 unit yang mana sebanyak 251 kelompok tani NTB mendapat dana senilai Rp112.800.000 untuk membeli mesin perpipaan, rumah pompa, dan untuk pembuatan kantong air. Adapun spesifikasi untuk mesinnya menggunakan Pipa 6 inch.

Taufiq berharap dengan bantuan pompanisasi dan irigasi perpompaan ini, NTB bisa mengalami peningkatan IP, yang mulanya IP 100, meningkat menjadi IP 200 sampai IP 400 setiap tahunnya. Ia nelanjutkan bahwa, sebagai lumbung pangan nasional, NTB tidak pernah mengalami darurat pangan, namun, sebagai lumbung pangan, NTB juga turut menopang pangan nasional.

Adapun di musim kemarau ini, BPBD menyarankan agar petani Padi agar tidak berlebihan menggunakan air. Namun, menurut Taufieq bantuan perpompaan dan irigasi perpompaan ini harus di optimalkan sebaik-baiknya sehingga bisa menongkatkan Indeks Pertanaman.

“Kita dikasih areal bantuan untuk menanam padi, bahkan dari indeks pertanamannya 100, naik jadi 200, bahkan kalau bisa 300, bahkan dengan adanya benih bisa meningkat jadi 400. Kita jangan menahan diri,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Taufieq menjelaskan bahwa untuk memaksimalkan irigasi perpompaan, harus ada sumber air permanen yang ada sepanjang tahun. (era)

Artikel lainnya….

Program ICARE Bank Dunia, Konsorsium Koperasi Loteng Dapat Fasilitas Pinjaman Senilai Rp 1,5 Triliun

Realisasi Rendah, Investor Teluk Mekaki Dipanggil DPMPTSP Lobar

Rp40 Miliar Utang Jatuh Tempo Belum Terbayar

Program ICARE Bank Dunia, Konsorsium Koperasi Loteng Dapat Fasilitas Pinjaman Senilai Rp 1,5 Triliun

0
Ihsan (Ekbis NTB/kir)

Praya (Ekbis NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) telah memfasilitasi pembentukan konsorsium koperasi yang beranggotakan tujuh koperasi unggulan di daerah ini.

Langkah tersebut untuk menyabut program ICARE. Program kerjasama antara Bank Dunia dengan Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan sektor publik maupun swasta di sektor pertanian guna mewujudkan pertanian dan rantai nilai yang cerdas iklim.

Salah satu bentuk programnya ialah penyediaan fasilitas loan (pinjaman) oleh Bank Dunia yang diperuntukkan bagi koperasi yang bergerak di sektor pertanian. Nilai pinjaman yang disiapkan oleh Bank Dunia pun tidak main-main. Mencapai hingga Rp 1,5 triliun yang bisa diakses untuk mendukung pengembangan sektor pertanian di daerah ini.

“Langkah awal sudah kita lakukan, dengan membentuk koperasi sekunder Tani Tastura beberapa waktu lalu. Berisikan tujuh koperasi yang ada di Loteng,” terang Kepala Diskop UKM Loteng Ihsan, S.Hut., kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa 28 Mei 2024.

Koperasi sekunder inilah yang nantinya akan berhubungan pihak Bank Dunia selaku penyedia pinjaman. Berapa besaran pinjaman yang akan diberikan tergantung kebutuhan koperasi itu sendiri disesuaikan dengan rencana pengembangan usaha yang sudah diprogramkan oleh pihak koperasi. “Jadi pinjaman tersebut tidak diberikan sekaligus Rp 1,5 triliun. Bertahap sesuai kebutuhan dan rencana pengembangan usahanya,” ujar Ihsan.

Ia menjelaskan, dalam rencana pengembangan usahanya Koperasi Sekuder Tani Tastura akan fokus pada pengembangan tanaman jagung serta ternak ayam pedaging dan telur. Harapannya, bisa memenuhi kebutuhan daging serta telur di daerah ini.

Kenapa jagung dan ayam? karena dua sektor usaha ini pada dasarnya berkaitan satu dengan lain. Jadi unuk program hulu, koperasi sekunder akan memperluas area tanam jagung. Hasil jagung tersebut kemudian akan diolah menjadi pakan ternak ayam. Pakan yang dihasilkan kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pakan di sektor usaha pengembangan ayam pedaging dan telur.

Untuk itu, dalam usaha pengembangan ayam pedaging dan petelur, Koperasi Tani Tastura tidak kesulitan lagi untuk bisa memenuhi kebutuhan pakan, karena sudah ada produksi jagungnya sebagai bahan utama pakan ternak ayam yang dikembangkan. “Selama ini salah satu persoalan dalam usaha ternak ayam ialah soal ketersediaan pakan. Maka Koperasi Tani Tastura menjawabnya dengan menyediakan bahan baku pakan dalam mendukung pengembangan usaha ternak ayamnya,” imbuhnya.

Atas dasar itu butuh beberapa koperasi yang terlibat. Dari sisi kemampuan, penggabungan beberapa koperasi tersebut secara kelembagaan membuatnya lebih kuat dan mumpuni. Dengan begitu, penyedia dana juga akan lebih percaya untuk memberikan dukungan berupa pinjaman.

“Program ICARE ini sudah berjalan sejak beberapa tahun di tingkat pusat. Mudah-mudahan masuknya program ini bisa membantu pengembangan koperasi di Loteng pada khususnya. Sekaligus mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Karena ini melibatkan koperasi, maka tentu banyak anggota yang nantinya bisa mendapatkan manfaat secara ekonomi,” pungkas Ihsan. (kir)

Artikel lainnya….

Realisasi Rendah, Investor Teluk Mekaki Dipanggil DPMPTSP Lobar

Rp40 Miliar Utang Jatuh Tempo Belum Terbayar

Listrik Andal Selama Pelayanan Pemberangkatan Haji di NTB

Realisasi Rendah, Investor Teluk Mekaki Dipanggil DPMPTSP Lobar

0
Tim DPMPTSP turun melihat progres pembangunan di Teluk Mekaki Sekotong, Lobar belum lama ini. (Ekbis NTB/ist)

Giri Menang (Ekbis NTB) – Setelah melakukan peninjauan lapangan ke lokasi investasi di Teluk Mekaki Sekotong, Lombok Barat (Lobar), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mengundang investor tersebut untuk dimintai klarifikasi tentang progres perkembangan fisik investasi saat ini maupun target realisasi fisik investasi ke depannya.

Menurut Kepala DPMPTSP Lobar Hery Ramadhan, hal ini penting dilakukan, karena berdasarkan hasil inspeksi ke lokasi investasi, progres fisik eksisting masih belum signifikan padahal investor bersangkutan telah memegang kuasa investasi selama kurang lebih 3 tahun.

Dari sekitar 12 kaveling rencana pembangunan hotel dan fasilitas pendukungnya, baru 1 kaveling di sekitar lokasi groundbreaking yang sudah nampak aktivitas pembangunan fisik berupa pematangan lahan untuk pembangunan salah satu hotel (Kempinski). Di samping pelebaran dan pengeprasan jalan akses masuk ke lokasi. “Inilah yang perlu diklarifikasi agar pemerintah daerah mendapat informasi detail tentang kepastian investasi di Teluk Mekaki untuk selanjutnya dijadikan bahan pengambilan keputusan,” tegasnya.

Pertemuan klarifikasi yang berlangsung di aula rapat DPMPTSP dipimpin oleh Kepala Dinas DPMPTSP Hery Ramadhan, dihadiri oleh prinsipal investor Teluk mekaki yang sekaligus mewakili 12 perusahaan pemegang izin prinsip pengembangan wilayah Teluk Mekaki.Terdapat sejumlah persoalan yang terungkap dalam pertemuan tersebut yang menjadi alasan pihak investor lamban dalam merealisasikan pembangunan fisik di lokasi investasi (Teluk Mekaki).

Pertama, iklim pariwisata Indonesia belum sepenuhnya prospektif dipengaruhi situasi global (perang Rusia-Ukraina dan pasca pandemi Covid-19). Kedua, pihak investor masih fokus investasi di beberapa wilayah prioritas lainnya di Indonesia. Ketiga, pihak investor masih mengharap dukungan pemerintah daerah untuk membantu penataan akses jalan masuk ke lokasi sebagaimana yang pernah dijanjikan. (her)

Artikel lainnya….

Rp40 Miliar Utang Jatuh Tempo Belum Terbayar

Listrik Andal Selama Pelayanan Pemberangkatan Haji di NTB

120 Hektar Lebih Lahan di Lobar Tergerus Perumahan Tiap Tahun

Rp40 Miliar Utang Jatuh Tempo Belum Terbayar

0
H. Hasni(Ekbis NTB/dok)

Selong (Ekbis NTB) – Dari Rp164 miliar utang jatuh tempo tahun 2023, hingga akhir Mei 2024 ini masih tersisa Rp40 miliar belum dituntaskan pemerintah daerah Kabupaten Lotim. Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Lotim, H. Hasni mengatakan,  sebenarnya Mei ini utang tersebut sudah tuntas. Akan tetapi karena ada kendala sehingga target molor sampai Juni mendatang.

Menjawab Ekbis NTB, Senin kemarin, H. Hasni menjelaskan belum terbayarnya utang jatuh tempo tersebut bukan karena Lotim tidak memiliki anggaran. Kendala utamanya semata-mata karena sistem.

“Janji kita memang akan selesaikan Bulan Mei, tapi Ada gangguan di SIPD (Sistem Informasi Pemerintah Daerah),” terangnya. Gangguan dimaksud pun hanya ada di dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Yakni di Dinas  Kesehatan dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

” Soal dana sudah cukup,” ungkap Hasni. Kendala dimaksud adalah ada selisih anggaran dari APBD Induk ke APBD Perubahan 2023. Selisihnya hanya Rp3 ribu. Hal ini membuat tidak bisa terbaca dalam SIPD.

Kendala tersebut membuat tidak bisa menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM). Kendala tersebut dipastikan segera ditangani dan pada awal bulan Juli akan dituntaskan.

Proses perubahan ini harus dengan peraturan bupati. Saat ini tengah diproses dan dalam waktu dekat sudah bisa dirampungkan. Disebut sebagian besar utang jatuh tempo ada di Dikes. Bentuknya adalah pembangunan sarana prasarana kesehatan. Sekda meyakini, semua utang tersebut segera tuntas sehingga Lotim tak ada lagi utang yang harus dibayar hingga pertengahan tahun 2024. (rus)

Artikel lainnya….

Listrik Andal Selama Pelayanan Pemberangkatan Haji di NTB

120 Hektar Lebih Lahan di Lobar Tergerus Perumahan Tiap Tahun

Tuntaskan Visi – Misi Walikota, Pemkot Tambah Rp130 Miliar di APBD Perubahan

Listrik Andal Selama Pelayanan Pemberangkatan Haji di NTB

0
Asrama Haji NTB (Ekbis NTB/Dok)

Mataram (Ekbis NTB) – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTB memastikan keandalan pasokan listrik selama pelayanan hingga pemberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) kelompok terbang (Kloter) terakhir Embarkasi Lombok tahun 1445 Hijriah. Asrama Haji NTB di Lingkar Selatan, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram menjadi fokus utama PLN dalam menjaga stabilitas listrik pada musim haji tahun ini.

Asrama Haji Lombok menggunakan total daya sebesar 345.000 VA. PLN menurunkan tim khusus untuk mengawasi kelistrikan, melakukan peninjauan lokasi dan jaringan sekitar, serta memastikan kelistrikan aman selama keberangkatan Jemaah haji kata Mahadhir, Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mataram.

Kegiatan pelayaan keberangkatan JCH di Asrama Haji NTB berlangsung sejak 12 – 28 Mei 2024. Untuk memastikan keandalan pasokan listrik, Asrama Haji NTB disuplai dari Gardu Induk (GI) Jeranjang. Selain itu, Asrama Haji NTB juga memiliki dua suplai penyulang, yaitu Penyulang Pagutan dengan back up Penyulang Lingkar.

PLN telah mengambil berbagai langkah antisipatif untuk memastikan keandalan kelistrikan di Asrama Haji Lombok. Langkah-langkah tersebut antara lain melakukan perabasan dan penggantian material penunjang.

Rina Margasari, Ketua Tim Pelayanan Asrama Haji Lombok, mengungkapkan apresiasinya terhadap PLN.

“Alhamdulillah, selama proses pemberangkatan haji listrik aman ya. Terima kasih banyak PLN, kami Asrama Haji Embarkasi Lombok mengucapkan terima kasih atas dukungannya, listrik semua aman dan jemaah juga nyaman,” katanya.

Sementara itu, General Manager PLN UIW NTB, Sudjarwo, menyatakan kesiapan PLN dan seluruh personel menyediakan pasokan listrik yang andal.

“Pasokan listrik ke Asrama Haji Lombok aman dan andal, semua sistem kelistrikan dipastikan berfungsi baik, mulai dari kamar, aula, kantor, hingga tempat ibadah di Asrama Haji. InsyaAllah, semuanya dalam keadaan yang aman dan andal,” kata Sudjarwo.

Sudjarwo juga berharap agar semua kegiatan berjalan lancar dan semua jemaah haji dapat berangkat dalam keadaan sehat dan nyaman menuju tanah suci serta menjalankan ibadah haji yang mabrur. “Mari kita doakan agar semuanya berjalan lancar, dan semua jemaah haji, hingga kloter terakhir, dapat berangkat dalam keadaan sehat dan selamat,” tutup Sudjarwo.

Dengan berbagai Langkah-langkah yang dilakukan, PLN UIW NTB berkomitmen untuk mendukung kelancaran ibadah haji tahun ini dengan memastikan keandalan pasokan listrik. (bul)

Artikel lainnya….

120 Hektar Lebih Lahan di Lobar Tergerus Perumahan Tiap Tahun

Tuntaskan Visi – Misi Walikota, Pemkot Tambah Rp130 Miliar di APBD Perubahan

Hambatan Aksesibilitas Penerbangan

120 Hektar Lebih Lahan di Lobar Tergerus Perumahan Tiap Tahun

0
Lahan pertanian produktif di Lobar dialihfungsikan untuk pembangunan perumahan(Ekbis NTB/her)

Giri Menang (Ekbis NTB) – Berdasarkan data Dinas Pertanian Lombok Barat, luas lahan yang terpakai untuk pembangunan perumahan maupun infrastruktur publik lainnya mencapai rata-rata 120 hektar lebih. Angka ini meningkat berkali-kali lipat dibanding beberapa tahun sebelumnya yang berkisar antara 20-30 hektar per tahun.

Tingginya alih fungsi lahan ini pun berupaya dikendalikan oleh Pemkab setempat melalui OPD terkait. Diantaranya dengan menggejot aturan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Selain itu, OPD selektif memberikan kajian dalam penerbitan rekomendasi penggunaan lahan untuk pembangunan perumahan. Kepala Distan Lobar Damayanti Widyaningrum mengatakan, luas lahan sawah di Lobar mencapai 14.560 hektar.

Dari luas lahan itu, selama tiga tahun terakhir (2021-2023) dialih fungsikan mencapai rata-rata 120 Hektar tiap tahun, “itu terdiri dari semua jenis lahan, irigasi pertanian dan kebun,”jelas Damayanti, akhir pekan kemarin. Dirinci dari tahun 2023 ada 120 hektar lebih, tahun 2022 seluas 156 hektar dan 2021 yang dialih fungsikan seluas 187 hektar.

Diakuinya, faktor posisi Lobar yang strategis karena dekat dengan kota Mataram menyebabkan lahan-lahan pertanian terutama yang produktif banyak yang terpakai untuk pembangunan. “Karena kita dekat dengan kota Mataram, jadinya lahan Lobar itu banyak sekali menjadi primadona (Untuk pembangunan perumahan),” terangnya.

Dimana Lobar masuk sebagai tunggal kendali Mataram metro sehingga banyak sekali pengusaha developer ingin membangun perumahan di wilayah Lobar terutama yang berada di perbatasan dengan Kota Mataram. Hal ini pun sulit dielakkan, karena masyarakat juga berhak mendapatkan sandang, pangan dan papan terkait Perumahan. “Disatu sisi harus disiapkan perumahan dan satu sisi juga siapkan ketahanan pangan,” ujarnya.

Untuk menyikapi dan mengantisipasi makin tergerusnya lahan produktif tersebut. Pihaknya saat ini sedang menyusun aturan Perbup LP2B. Kaitan dengan itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas PU. Sejauh ini sudah ada titik-titik yang akan dijadikan LSD yang berkisar 10 ribu hektar. Nantinya lahan yang masuk LSD ini tidak boleh diutak-atik. Lahan pertanian ini akan dibagi zonasinya. Zona yang bisa dibangun perumahan, zona warning harus ada syarat-syarat tertentu untuk dibangun dan ada zona tidak boleh sama sekali dibangun perumahan.

“Sementara hal tersebut (aturan) belum jadi, kami betul-betul selektif untuk menentukan apakah boleh untuk dibangun perumahan,” jelasnya. Sejauh ini sudah banyak yang masuk permohonan untuk membuat kajian sebagai dasar rekomendasi boleh tidak dibangun. Namun pihaknya melihat dulu secara selektif. Kalau lahannya sudah terhimpit perumahan, maka itu jadi pertimbangan untuk dilepas. “Tapi kalau masih dalam bentuk hamparan luas, tunggu dulu, kami selektif,” tegasnya.

Titik lahan inipun sudah dipetakan, dan itu sudah diserahkan ke Dinas PUTR. Dimana tiap kecamatan ada yang dijadikan lahan pertanian berkelanjutan dan untuk pembangunan perumahan. Data inilah lanjut dia yalang belum selesai dibahas dengan PU, sehingga itu yang digenjot diselesaikan hingga dihasilkan dalam bentuk Perbup. Lebih lanjut dijelaskan, dalam proses penertiban izin itu sendiri masing-masing OPD diminta kajian untuk diberikan ke TKPRD. Dinas pertanian dari sisi lanan, kemudian OPD lain menyangkut irigasi dan limbah serta Lalin.

Kalau Dinas Pertanian melihat dan mengkaji dulu lahan tersebut, layak atau tidak diberikan izin. Apakah termasuk hamparan, hasil produksinya bagus atau tidak, berapa kali tanam dan apakah lahan itu jauh atau tidak dengan jalan umum. “Kalau tidak layak maka kami tidak akan berikan,” ujarnya. Pihaknya pun menggunakan skor dari tim teknis di masing-masing item yang dikaji tersebut. Dimana tim teknis akan turun ke lapangan melakukan survei, kemudian dibuatkan kajiannya bukan rekomendasi. Pihaknya tidak berhak memberikan rekomendasi, sebab rekomendasi itu dikhawatirkan di salah gunakan untuk menjadi dasar membangun.

Hasil kajian masing-masing OPD dibahas bersama untuk menentukan boleh tidak direkomendasikan untuk dibangun. Pihaknya sangat berharap para pengembang tidak terkonsentrasi membangun di kota atau perbatasan kota. Namun di tempat yang jauh-jauh juga. Soal penggantian lahan yang terpakai untuk pembangunan, apakah harus diganti? Menurutnya kalau sudah ada aturan LSD, tentu harus ada penggantian. Lahan yang dipakai di zona kuning, dipersyaratkan boleh dibangun asalkan mengganti lahan tersebut sesuai dengan aturan.

“Rencananya kami akan buat begitu, sebab aturannya di UU nomor 41 tahun 2009, kalau menggunakan lahan irigasi maka harus diganti tiga kali lipat dari itu,” tegasnya. Kemungkinan dengan begitu pengembang akan lebih berpikir membangun di lahan subur. Langkah ini harus dilakukan mengingat ketahanan pangan di dalam daerah perlu diamankan. Sebab kalau ketahanan pangan terganggu maka statbilitas nasional pun terganggu. (her)