Thursday, April 23, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 84

Beralih ke Mobil Listrik, Pemprov NTB Terkendala Minimnya SPKLU

0
Kendaraan dinas di Pemprov NTB. Pemprov NTB berencana mengganti kendaraan dinas bahan bakar fosil ke kendaraan dinas listrik. (Suara NTB/era)

Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mematangkan rencana peralihan kendaraan dinas ke mobil atau kendaraan listrik pada tahun 2026. Untuk tahap awal, kendaraan listrik akan digunakan oleh eselon II, sementara untuk eselon III masih menunggu keputusan lanjutan.

Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, Niken Arumdati, mengatakan rencana penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas telah melalui kajian teknis. Namun, kesiapan infrastruktur pendukung, khususnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), masih menjadi tantangan.

Menurutnya, jumlah SPKLU saat ini masih terbatas, terutama di kawasan perkantoran pemerintahan. Beberapa unit memang sudah terpasang di lokasi tertentu seperti Kantor Gubernur dan Dinas ESDM, tetapi belum menjangkau seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

“Tapi Pak Gubernur juga sudah bersurat ke PLN untuk meminta penambahan jumlah SPKLU,” ujarnya, kemarin.

Saat ini, jumlah SPKLU yang tersedia diperkirakan berkisar antara 20 hingga 30 unit. Namun, penyebarannya belum merata karena sebagian besar masih terkonsentrasi di pusat keramaian seperti pusat perbelanjaan dan hotel.

“Melalui surat gubernur tersebut, pemerintah daerah mendorong agar ke depan SPKLU juga ditambah dan diperluas ke kantor-kantor OPD guna mendukung rencana penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas,” katanya.

Lebih lanjut, Niken menjelaskan bahwa kajian teknis yang dilakukan Dinas ESDM menitikberatkan pada aspek efisiensi, terutama dari sisi perbandingan biaya operasional antara kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).

Dalam kajian tersebut, penghitungan mencakup potensi penghematan biaya energi, baik penggunaan listrik maupun BBM. Hasilnya menunjukkan bahwa kendaraan listrik berpotensi menghemat anggaran operasional sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan kendaraan konvensional.

“Yang diminta kemarin hanya kajian teknisnya, seberapa besar efisiensi yang bisa didapat dari sisi teknis, terutama perbandingan antara listrik dan BBM,” ujarnya.

Ia menegaskan, kajian tersebut tidak mencakup penentuan spesifikasi maupun merek kendaraan dinas yang akan digunakan. Penetapan spesifikasi kendaraan bukan menjadi kewenangan tim penyusun kajian.

“Dari segi anggaran sudah jelas lebih hemat. Selain itu, komponen utama kendaraan listrik juga lebih sederhana dibanding kendaraan konvensional, sehingga biaya operasional dan perawatannya lebih rendah,” pungkasnya. (era)

Pemprov NTB Temukan Banyak Aset Daerah Dipinjam Kabupaten/Kota

0
Pemprov NTB Temukan Banyak Aset Daerah Dipinjam Kabupaten/Kota
H. Nursalim (Suara NTB/era)

Mataram (suarantb.com) – Pemprov NTB sudah menuntaskan inventarisasi aset di kawasan Pulau Lombok. Inventarisasi itu bertujuan untuk optimalisasi aset daerah, dengan melakukan pendataan, pencatatan, dan pemutakhiran Barang Milik Daerah (BMD) secara menyeluruh (tanah, gedung, kendaraan) guna tertib administrasi, legalitas, dan optimalisasi.

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKD) NTB, Dr. H. Nursalim, S.Sos., M.M., mengatakan, setelah melakukan inventarisasi aset, pihaknya menemukan masih banyak aset yang milik Pemprov NTB yang dipinjam oleh kabupaten/kota. Seperti digunakan sebagai kantor kelurahan, digunakan oleh KPU, dan lainnya.

“Itu yang perlu kita komunikasikan agar aset-aset ini harus dijaga, diamankan baik secara fisik maupun administrasinya,” ujarnya.

Karena masih banyak ditemukan aset Pemprov dipinjam oleh kabupaten/kota. Nursalim mengaku Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal tidak mempermasalahkan pola hibah aset sepanjang aset tersebut mendukung tugas-tugas pemerintah. Yang utama, katanya Pemprov harus melakukan penertiban dahulu agar seluruh proses administrasi tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Nah setelah klir itu dengan kabupaten nanti ada pola hibah-menghibah. Ada aset kabupaten yang dibutuhkan provinsi, dan sebaliknya. Ada aset yang di tempat lain dipakai oleh kabupaten, kita juga hibahkan,” jelasnya.

Ia mencontohkan, lahan tempat dibangunnya Kantor Bupati Lombok Tengah merupakan aset milik Pemprov NTB. karena telah terbangun gedung di lokasi itu, Pemprov bisa saja menghibahkan aset tersebut ke Pemkab Lombok Tengah. Atas hibah dari Pemprov itu, Lombok Tengah juga akan menghibahkan aset tanah di sekeliling Kopang dan Batukliang.

Menurut Nursalim, hasil dari inventarisasi tidak menunjukkan nilai total seluruh aset daerah. Melainkan, hanya melakukan penertiban. “Ini aset yang dipakai oleh siapa, aset ini kemarin statusnya seperti apa,” ucapnya.

Di tengah kondisi fiskal yang melemah akibat adanya pengurangan transfer, aset menjadi salah satu kantong utama untuk menarik Pendapatan Asli Daerah (PAD). Rencananya, Pemprov NTB akan menjalin kerja sama aset pada bulan Januari 2026. “Ada aset di Dompu, sudah banyak antre yang mau menyewa,” ungkap Nursalim.

Selain hibah, Pemprov juga menyiapkan skema pinjam pakai bagi instansi vertikal yang belum memiliki kantor. Setelah proses penggabungan dan perampingan OPD, kantor-kantor yang sudah ada akan dimanfaatkan sementara oleh instansi yang membutuhkan kantor. Salah satunya kepada Kanwil Haji setelah terpisah dengan Kementerian Agama.

“Iya, itu kita kasih pinjam pilih. Misal sumber daya di sana 100 orang, ya kita cari yang representatif sesuai kapasitas,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) Perwakilan NTB menemukan adanya sejumlah kelemahan dalam perencanaan efektivitas manajemen aset di provinsi ini. Khususnya dalam perencanaan inventarisasi, pengendalian internal, digitalisasi sistem, serta pemanfaatan aset yang belum optimal.

Kepala BPK RI Perwakilan Provinsi NTB, Suparwadi, S.E., M.M., Ak., ERMAP, CSFA mengatakan berdasarkan pemeriksaan Semester II Tahun 2024 hingga Semester II Tahun 2025 ditemukan masih ada aset tanah yang belum tersertifikasi, dan data aset yang belum akurat.

Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal mengakui persoalan aset daerah bukanlah isu baru, melainkan persoalan lama yang selama ini belum dibuka dan ditangani secara komprehensif. Menurutnya, ketika proses penelusuran dilakukan secara terbuka, terlihat bahwa akar persoalan aset bersifat sangat mendasar, baik dari sisi sistem, struktur, maupun pola pikir pengelolaannya.

Ia menjelaskan, selama puluhan tahun aset daerah dikelola dengan pendekatan keuangan semata, sehingga penempatannya di bawah satu subbidang dinilai tidak sebanding dengan besarnya nilai dan kompleksitas aset milik daerah. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya pencatatan, belum tuntasnya legalitas, serta rendahnya integrasi sistem digital antarperangkat daerah.

Sebagai langkah perbaikan, Pemerintah Provinsi NTB mulai menerapkan tiga kebijakan utama. Pertama, penertiban aset hibah dengan mengedepankan mekanisme pinjam pakai atau sewa, tanpa mengalihkan kepemilikan aset daerah. (era)

Selama Tahun 2025, Investasi di Sumbawa Baru Mencapai 41 Persen

0
Selama Tahun 2025, Investasi di Sumbawa Baru Mencapai 41 Persen
H. Yudi Patria Negara (suarantb.com/ils)

Sumbawa Besar (suarantb.com) – Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sumbawa, mencatat selama tahun 2025 realisasi investasi berada di angka 41,05 persen atau Rp821 miliar dari target yang ditetapkan sebesar Rp2 triliun.

“Realisasi investasi kita hingga akhir tahun 2025 sebesar Rp821 miliar dari target yang diberikan provinsi. Sehingga kami pesimis target tersebut tercapai di triwulan IV,” kata Sekretaris Dinas PMPTSP, H. Yudi Patria Negara, kepada Suara NTB, Kamis (8/1/2026).

Realisasi itupun lanjut Haji Yudi, merupakan realisasi triwulan III tahun 2025 hingga bulan Desember. Sementara untuk triwulan IV baru akan dilaporkan pada tanggal 15 Januari 2026 mendatang dengan tetap mengacu pada Laporan Kegiatan Usaha Penanaman Modal (LKPM).

“Memang masih ada beberapa perusahaan yang belum memasukkan laporan LKPM. Data awal kita untuk triwulan IV sudah ada sekitar Rp54 miliar yang sudah masuk masih cukup jauh untuk mencapai target,” ujarnya.

Dia menyebutkan, pertumbuhan investasi di Sumbawa masih didominasi Penamaan Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp575 miliar. Sementara untuk Penanaman Modal Asing (PMA) hingga triwulan ketiga sebesar Rp245 miliar.

“Rata-rata yang paling mendominasi untuk penyumbang realisasi investasi yakni sektor pertambangan, sementara untuk sektor lainnya masih sangat kecil,” jelasnya.

Sementara untuk sektor pengurusan izin masih tetap berjalan normal yang didominasi perusahaan dengan modal usaha kecil hingga menengah. Pihaknya juga akan tetap turun lapangan untuk memastikan kondisi terkini dan membuka klinik LKPM untuk memberikan sosialiasi bagi seluruh perusahaaan.

“Kami akan tetap berupaya maksimal supaya target yang ditetapkan pemerintah tercapai dan meningkat termasuk mendorong perusahaan untuk segera melaporkan LKPM,” pungkasnya. (ils)

Pemkot Bima Sambut Baik Investor Bangun Mal

0
Pemkot Bima Sambut Baik Investor Bangun Mal
Tugu batas Kota Bima, Kamis (8/1/2026). (Suara NTB/hir)

Kota Bima (suarantb.com) – Pemerintah Kota Bima mengaku telah lama memimpikan hadirnya pusat perbelanjaan modern atau mal di wilayah Kota Bima. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus etalase produk luar yang lebih berkualitas, serta mendorong pergerakan ekonomi daerah.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Kota Bima, Muhammad Hasyim, gagasan menghadirkan mal bukan sekadar wacana baru. Pemerintah daerah sejak lama memimpikan adanya ruang perdagangan modern yang mampu menjawab dinamika konsumsi masyarakat Bima.

“Kami sudah lama memimpikan adanya retail modern, semacam mal, yang bisa memajang produk-produk. Baik produk luar yang berkualitas maupun produk lokal yang bisa ditampilkan dalam sistem perdagangan modern,” ujarnya saat diwawancarai Suara NTB pada Kamis (8/1/2026).

Salah satu pertimbangan utama pemerintah adalah daya beli masyarakat Bima. Menurut Hasyim, meskipun masyarakat kerap berada dalam situasi krisis, kemampuan konsumsi tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

“Dinamika daya beli masyarakat Bima ini cukup luar biasa. Walaupun sering menghadapi krisis, masyarakat kita kerap tidak menunjukkan kesulitan dalam menjangkau kebutuhan tertentu,” katanya.

Ia menilai, kehadiran mal justru dapat menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM lokal yang selama ini memiliki keterbatasan akses dan tempat untuk memasarkan produk secara lebih modern. Dengan konsep yang tepat, produk lokal tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi bisa tampil sejajar dengan produk luar.

“UMKM kita yang selama ini belum punya ruang bisa kita kolaborasikan di dalam mal. Ini bukan soal menyingkirkan produk lokal, tapi justru mengangkatnya agar sejajar dengan produk luar,” tegasnya.
Pemkab Bima terbuka hadirnya investor yang ingin membangun mal atau pusat perbelanjaan modern. Pihaknya siap menyambut dan mendukung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Kalau ada pihak ketiga atau investor yang ingin melakukan investasi pembangunan mal di Bima, saya rasa pemerintah sangat welcome. Kehadiran mereka bisa menjadi pemicu untuk mengungkit perekonomian daerah,” ujar Hasyim.

Ia menambahkan, pembangunan mal juga diharapkan dapat menekan arus belanja masyarakat ke daerah lain. Selama ini, warga Bima kerap harus keluar daerah untuk mendapatkan produk bermerek atau fasilitas belanja modern.

“Kalau di Kota Bima ada mal, masyarakat tidak perlu lagi menyeberang ke daerah lain hanya untuk berbelanja produk tertentu,” katanya.

Pemkot Bima memandang pusat perbelanjaan modern sebagai bagian dari identitas kota berbasis perdagangan. Kehadirannya diharapkan mampu memacu persaingan usaha yang sehat, meningkatkan kualitas pelayanan pedagang lokal, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Pusat perbelanjaan modern pasti punya dampak. Ada positif dan negatif, tapi secara ekonomi, dampak positifnya cukup besar, terutama bagi pergerakan perdagangan dan penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.

Meski demikian, pemerintah daerah juga menyadari adanya sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan lahan representatif, terutama di kawasan pusat kota yang menjadi lokasi ideal bagi investor.

“Kendala terbesar di Kota Bima memang ketersediaan lahan. Biasanya investor ingin membangun di pusat kota, sementara di sana sangat sulit menemukan lahan yang luas,” jelas Hasyim.

Namun, keterbatasan tersebut bukan tanpa solusi. Pemerintah kata dia, pernah memikirkan opsi pemanfaatan lahan-lahan besar yang sudah ada, salah satunya kawasan Pasar Senggol Bima, melalui konsep pengembangan vertikal.

“Pedagang lokal tetap berada di bawah, kemudian di atasnya bisa dimanfaatkan pihak ketiga untuk pengembangan mal atau retail modern,” ungkapnya.

Hasyim mengakui, hingga saat ini belum ada investor yang masuk ke tahap perencanaan detail. Kendati demikian, Pemkot Bima tetap membuka ruang komunikasi dan menunggu momentum yang tepat.

“Potensi kita ada, daya beli masyarakat kuat. Kalau ada kesepahaman antara pemerintah dan investor, kami siap mendukung,” pungkasnya. (hir)

Penyelesaian Aset Mataram Mall, Pemkot Mataram Bentuk Tim Hukum

0
Penyelesaian Aset Mataram Mall, Pemkot Mataram Bentuk Tim Hukum
H. Lalu Alwan Basri. (Suara NTB/cem)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram cukup berhati-hati menyelesaikan permasalahan aset. Salah satu bentuk kehati-hatiannya adalah membentuk tim hukum untuk menyelesaikan aset Mataram Mall.

Tim hukum ini kata Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri terdiri dari akademisi, praktisi, jaksa, dan pejabat di lingkup Pemkot Mataram. Tim hukum akan mengkaji, bernegosiasi sekaligus memberikan masukan ke kepala daerah tentang permasalahan aset. Salah satunya, penyelesaian aset yang dimanfaatkan oleh PT. Pasific Cilinaya Fantasi. “Tim hukum ini kita bentuk sejak lama, tetapi kita kuatkan lagi dengan memasukan praktisi dan akademisi,” terang Sekda.

Tim hukum juga akan mempelajari dan mengumpulkan keterangan maupun dokumen aset Mataram Mall. Rencananya kata Alwan, tim akan bertemu dengan managemen PT. Pasific Cilinaya Fantasi untuk membahas sekaligus membedah kontrak kerjasama.

Selain itu, tim juga akan meminta keterangan sumber-sumber lainnya supaya lebih komprehensif dan konkrit. “Kita akan bertemu dengan PT. Pasific Cilinaya untuk melihat kontrak sejak awal sampai kontrak perpanjangan,” ujarnya.

Menurut mantan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, pengelolaan dan penataan aset perlu kehati-hatian. Pemkot Mataram tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian maupun persoalan hukum. “Kami cukup berhati-hati menyelesaikan masalah aset ini,” katanya.

Disinggung mengenai dugaan aset Pemkot Mataram sebelumnya berstatus hak guna bangunan berubah menjadi hak milik dan dijadikan agunan di bank? Alwan menegaskan, persoalan itu juga menjadi bagian data yang akan dikaji oleh tim hukum.

Demikian juga lanjut Sekda, penetapan royalti yang diusulkan Rp1 miliar berdasarkan hasil perhitungan tim appraisal. Temuan tersebut akan menjadi gambaran untuk menata dan mengelola aset seluas dua hektar tersebut. (cem)

Event Otomotif di Sirkuit Mandalika Kian Padat, Mandalika 6 Hours Endurance Jadi Pembuka

0
Event Mandalika Festival of Speed (MFoS) 2025 yang digelar di SIrkuit Mandalika. Pada tahun 2026 ini, Mandalika 6 Hours Endurance jadi pembuka. (Suara NTB/themandalikagp.com)

Praya (ekbisntb.com) – Jumlah event otomotif di Pertamina Mandalika International Circuit pada tahun ini bakal semakin padat. Selain diisi dengan event otomotif yang sudah digelar sebelumnya, beberapa event otomotif baru direncanakan juga akan hadir. Salah satunya ajang Mandalika 6 Hour Endurance. Ajang otomotif roda empat yang berfokus pada uji ketahanan kendaraan di lintasan balap.

Bahkan event yang baru pertama kalinya digelar di Sirkuit Internasional Mandalika tersebut bakal menjadi ajang otomotif pembuka di awal bulan Februari mendatang. “Kalender event 2026 di Sirkuit Mandalika bakal menghadirkan rangkaian kompetisi dan festival yang menjanjikan adrenalin tinggi, pengalaman tak terlupakan bagi penonton dan fans serta sorotan internasional di berbagai kategori kejuaraan balap. Dengan Mandalika 6 Hours Endurance jadi pembuka,” ungkap Direktur Utama Mandalika Grand Prix Assocation (MGPA) Priandhi Satria, dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).

Event Mandalika 6 Hours Endurance sebutnya akan digelar pada 1 Februari 2026 mendatang. Pada event tersebut para pembalap akan memacu kendaraannya hingga batas kecepatan maksimal selama enam jam penuh. Sehingga penerapan taktik yang tepat ditunjang performa maksimal dan ketahanan yang baik menjadi kunci kemenangan.

“Mandalika 6 Hours Endurance akan menguji ketahanan dan strategi tim selama selama enam jam penuh. Dan, ini menjadi pemanasan ideal bagi kompetisi-kompetisi otomotif nasional maupun internasional yang akan berlangsung di Sirkuit Mandalika selama tahun 2026 ini,” sebutnya.

Priandhi mengatakan total setidaknya ada enam event otomiotif yang di gelar di Sirkuit Mandalika pad tahun ini. Setelah event Mandalika 6 Hours Endurance, ada ajang Mandlaika Racing Series yang tahun ini menggelar lima seri balapan. Dimulai pada 24–26 April 2026 dan berakhir pada 6 – 8 November 2026 mendatang.

Selanjutnya ada ajang GT World Challenge Asia pada 1–3 Mei 2026. Bersamaan dengan seri pertama ajang Mandalika Festival of Speed (MFoS) yang direncanakan menggelar empat seri balapan. Puncak dari semua event tersebut yakni Pertamina Grand Prix of Indonesia yang akan berlangsung pada 9-11 Oktober 2026 mendatang.

Di akhir tahun ada event lari Mandalika Last Sunday Run pada 27 Desember 2026 yang sekaligus menjadi ajang penutup di Sirkuit Mandalika. “Komitmen kami terus membangun ekosistem olahraga motor sekaligus menjadi wadah pembinaan pembalap muda nasional,” tegasnya.

Selain event besar tersebut lanjut Priandhi, juga ada aktivitas harian yang terbuka untuk umum dan komunitas, seperti Track Day dan Mandalika Experience dengan berbagai event di dalamnya, mulai dari Lampaq di Sirkuit, Honda ADV Experience, Taxi Ride hingga Arrive and Drive.

Dengan berbagai event tersebut kawasan The Mandalika khususnya Sirkuit Mandalika diharapkan tidak tidak hanya berfungsi sebagai venue balap. Tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan industri otomotif dan destinasi wisata yang terus bergerak sepanjang tahun. Yang tidaknya hanya mampu menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga bisa turut mendorong pertumbuhan pariwisata, UMKM dan layanan pendukung lainnya dan, pada akhirnya bisa memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah. (kir)

Bau Nyale 2026 Dipusatkan di Pantai Seger

0
Lalu Sungkul (suarantb.com/ist)

Praya (ekbisntb.com) – Kawasan Pantai Seger, Kuta Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah tetap akan menjadi lokasi puncak perayaan event Bau Nyale yang akan berlangsung pada 7-8 Februari 2026 mendatang. Persiapan pun sudah mulai dilakukan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) sebagai pelaksana. Beberapa event baru direncanakan akan dihadirkan untuk mendukung dan menyemarakkan event budaya nasional tahunan tersebut kali ini.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Loteng, Lalu Sungkul, kepada Suara NTB, Rabu, 7 Januari 2026, mengungkapkan, pihaknya tengah merancang beberapa event baru yang nantinya bisa dilaksanakan saat perayaan Bau Nyale. Salah satunya event Mandalika Heritage Lombok, berupa pameran budaya yang akan menampilkan berbagai warisan budaya Lombok.

Terutama warisan benda, seperti keris, kain tenun dan hal-hal unik lainnya yang menjadi kebanggan daerah. “Pameran budaya ini direncanakan digelar selama tiga hari. Dilaksanakan sebelum malam puncak perayaan Bau Nyale. Tapi teknisnya sedang dimatangkan,” sebutnya.

Pameran budaya tersebut, lanjut Sungkul, penting agar bisa menghadirkan cerita atau story telling soal kekayaan budaya masyarakat Lombok, khususnya Loteng. Sehingga orang akan semakin tahu dan mengenal soal masyarakat Lombok. Sekaligus bisa menjadi wahana promosi pariwisata daerah.

Bersamaan dengan itu juga akan ada event pendukung lainnya. Di antaranya peresean dan karnaval budaya yang akan diikuti sekitar 1.000 putri Mandalika perwakilan kecamatan dan desa di daerah ini. “Dengan adanya event-event pendukung tersebut, perayaan Bau Nyale tahun ini bisa semakin semarak,” imbuhnya.

Selain persiapan dari sisi eventnya, jelas Sungkul, persiapan dari sisi sarana pendukung juga dilakukan. Salah satu yang menjadi fokus yakni perbaikan Jembatan Seger. Mengingat, kondisi jembatan tersebut saat ini sudah rusak parah dan cukup membahayakan bagi masyarakat yang lewat, sehingga butuh penanganan yang intens. Supaya bisa digunakan oleh masyarakat nantinya.

“Untuk perbaikan Jembatan Seger ini, kita sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng. Harapannya, perbaikan Jembatan Seger ini bisa selesai sebelum puncak perayaan Bau Nyale,” ujarnya.

Sungkul mengaku belum bisa memastikan akan hadir artis nasional dalam perayaan Bau Nyale. Namun melihat kondisi keterbatasan anggaran yang ada sekarang ini, tampaknya akan sulit bisa mendatangkan artis nasional seperti pada beberapa perayaan Bau Nyale sebelumnya.

“Tapi mau ada atau tidak artis nasional, event Bau Nyale akan tetap ramai. Karena ini memang event rakyat,” pungkas mantan Camat Pujut ini. (kir)

Percepat Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Lotim Rehab 73 Rumah dengan Dana CSR dan Zakat

0
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin Menyerahkan secara simbolis bantuan rumah tidak layak huni yang sudah direhab kepada warga penerima manfaat di Pendopo Bupati Lotim, Kamis (8/1/2026). (suarantb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus mendorong percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem. Salah satu strategi nyata adalah dengan memperbaiki rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi rumah layak huni melalui kolaborasi dengan dunia perbankan dan lembaga zakat.

Bupati Lotim, H. Haerul Warisin secara simbolis menyerahkan 73 kunci rumah yang telah direhabilitasi kepada warga penerima manfaat. Bantuan ini merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Corporate Social Responsibility (CSR) Bank NTB Syariah, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Lotim dan Baznas NTB. Dari total 73 unit, 50 paket berasal dari CSR Bank NTB Syariah dan 23 unit dari Baznas Lotim.

Ia mengungkapkan, masalah RTLH di Lotim masih besar, dengan data mencapai sekitar 20 ribu unit yang tersebar di 21 kecamatan. Oleh karena itu, pemkab aktif berharap sebenarnya bisa menyentuh 3-4 ribu unit per tahun.

Untuk membangun Lotim, Bupati menyatakan tidak bisa berdiam diri dengan hanya menunggu. Saat datang ke kantor Kementerian Perumahan di Jakarta, Wamen Fahri Hamzah mengakui data perumahan dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Lotim adalah yang paling bagus secara nasional. Bantuan 3-4 ribu rehab rumah tidak layak huni diharapkan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Namun, dengan alasan Indonesia sedang dilanda musibah di Sumatra sehingga belum bisa terpenuhi dari target 3 juta perbaikan rumah se-Indonesia. Baznas Lotim diharapkan bisa sebagai solusi.

Baznas selain berikan bantuan modal. Diberikan juga bantuan untuk iuran kepesertaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS ini diyakinkan Bupati memiliki manfaat yang sangat besar.

Ketua Baznas Lotim, H. Muhammad Kamli, menyatakan bahwa lembaganya berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.

“Atas kerja sama dan sharing dengan Pemkab dan Pemerintah Provinsi, kita bisa menangani kemiskinan ekstrem dengan membangun rumah layak huni. Selain rehab rumah, dalam program ini kita juga menyerahkan 20 paket gerobak siap pakai dan suntikan modal usaha senilai Rp1,5 juta untuk setiap penerima,” jelas Kamli.

Ia menegaskan komitmen untuk memastikan tidak ada lagi warga Lotim yang tidur di bawah rintik air hujan. “Apa yang dititipkan muzakki (pembayar zakat) di Baznas akan disalurkan tepat sasaran kepada delapan asnaf (golongan penerima zakat),” tambahnya.

Wakil Ketua I Baznas Provinsi NTB, Dr. Lalu Muhyi Abidin, menyoroti pentingnya peran kepala daerah dalam pengembangan zakat.

“Kami yakin zakat di NTB akan terus berkembang karena semua kepala daerah sangat bergairah dan akomodatif. Bupati dan Gubernur adalah bagian terpenting. Ketika mereka akomodatif mendorong masyarakat berzakat, itulah pelaksanaan kepemimpinan yang sesungguhnya,” papar Abidin.

Ia juga mengapresiasi kedisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lotim dalam membayar zakat. “Zakat yang dikumpulkan secara kolektif melalui lembaga akan berdampak besar untuk pengentasan kemiskinan. Sedikit demi sedikit, jika dikumpulkan akan menjadi besar,” pungkasnya.

Kolaborasi multipihak ini menjadi harapan baru bagi percepatan penuntasan RTLH dan pengurangan kemiskinan ekstrem di Lombok Timur. Program ini juga menjadi bukti konkret pemanfaatan dana sosial keagamaan dan CSR untuk pembangunan berkelanjutan. (rus)

Gubernur Diminta Turun Tangan, Organda NTB Tolak Operasional Angkutan Pelat Luar di Jalur KSPN Lombok

0
Junaidi Kasum

Mataram (ekbisntb.com) – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Nusa Tenggara Barat menyatakan keberatan atas masuknya perusahaan angkutan dari luar daerah yang beroperasi di jalur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Pulau Lombok. Kehadiran angkutan pelat luar dinilai merugikan pelaku transportasi lokal.

Ketua Organda NTB, Junaidi Kasum, biasa dipanggil JK ini, Kamis, 8 Januari 2026 mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari anggota, khususnya pelaku usaha transportasi di Pulau Lombok, terkait munculnya perusahaan angkutan dari luar daerah yang tiba-tiba beroperasi di jalur KSPN. Jalur tersebut sebelumnya dikelola oleh perusahaan lokal.

“Hari ini kami mendapat laporan dari anggota bahwa ada perusahaan dari luar daerah yang masuk dan langsung beroperasi di jalur KSPN. Informasi yang kami terima, perusahaan tersebut adalah PO Sinar Jaya,” ujar Junaidi.

Ia menjelaskan, perusahaan tersebut disebut akan melayani sejumlah rute strategis pariwisata, antara lain Bandara- Senggigi-Bangsal-Geopark Rinjadi. Terminal Pancor Lombok Timur-Sembalun. Terminal Mandalika-Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Gili Mas-Pelabuhan Tawon Sekotong. Namun, Organda mempertanyakan mekanisme penunjukan maupun proses tender di pusat yang melatarbelakangi operasional perusahaan tersebut.

“Kami tidak tahu apakah ini pemenang tender murni atau bagaimana. Yang jelas, operasionalnya mengikuti jalur KSPN yang selama ini menjadi ruang usaha transportasi lokal,” tegasnya.

Menurut JK, sekalipun perusahaan luar memenangkan tender, seharusnya tetap melibatkan tenaga dan armada lokal. JK mengatakan, kemampuan transportasi lokal di NTB dinilai masih sangat memadai, baik untuk layanan kelas menengah maupun high class.

“Kalau pun pemenangnya dari luar daerah, gunakan tenaga lokal atau gandeng perusahaan lokal. Kenapa harus membawa kendaraan pelat luar, sementara armada di Lombok masih sangat siap?” katanya.

JK menambahkan, hal ini bertentangan dengan ketentuan yang dibuat oleh Pemprov NTB melalui Surat Pemberitahuan Dinas Perhubungan NTB pada 31 Oktober 2025. Didalamnya disampaikan, sesuai Perda NTB No 6 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Perhubungan, syaratnya adalah tidak mengoperasikan kendaraan luar. Namun, fakta sata ini justru menunjukkan kendaraan pelat luar yang akan beroperasi.

“Kami ini sudah rugi. Anggaran subsidi operasionalnya dari kementerian, yang datang ke sini kendaraan pelat luar. Pajak kendaraannya dari luar. Orangnya dari luar. Padahal, salah satu syarat tender itu harus memiliki kantor cabang atau minimal menggandeng perusahaan lokal,” ujarnya.

Ia menilai, kondisi ini berpotensi mencederai ekosistem pariwisata NTB yang baru saja mulai membaik. Organda pun mempertanyakan kehadiran perusahaan dimaksud yang dinilai tidak melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan di daerah, khususnya Organda.

“Tidak ada komunikasi, tidak ada laporan, tiba-tiba mobilnya sudah ada di Lombok. Ini yang membuat teman-teman di lapangan marah,” katanya.

Organda NTB pun meminta Gubernur NTB, Lalu. Iqbal melalui Dinas Perhubungan serta BPTD untuk meninjau kembali kebijakan operasional angkutan tersebut. JK menegaskan, kebutuhan armada di Lombok masih dapat dipenuhi oleh pengusaha lokal.

“Kalau kebutuhannya sampai ratusan unit dan Lombok tidak sanggup, itu lain cerita. Ini hanya sekitar belasan unit, dan Lombok masih sangat siap,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, ia mencontohkan operasional DAMRI di NTB yang meskipun dikelola pusat, tetap memberdayakan armada dan pengemudi lokal.

Organda NTB menyatakan akan menyurati kementerian terkait dan meminta rekomendasi resmi dari pemerintah daerah. JK menegaskan, organisasi tidak menolak kebijakan pemerintah, namun berkewajiban menampung aspirasi anggota.

“Anggota kami di semua titik jalur KSPN menolak keras kehadiran angkutan pelat luar ini. Pajaknya dibayar di luar daerah, tapi jalan NTB yang dipakai. NTB hanya dapat dampaknya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memicu gejolak di lapangan apabila tidak segera ditangani.

“Kalau ini dipaksakan dan tidak diindahkan, jangan salahkan teman-teman di lapangan kalau muncul aksi atau gerakan. Kami berharap pemerintah bijak dan lebih mengutamakan pelaku transportasi lokal,” demikian JK.(bul)

Pekerja NTB di Arab Saudi Jadi Penyumbang Terbesar Kiriman Uang

0
Pekerja NTB di Arab Saudi Jadi Penyumbang Terbesar Kiriman Uang

 

 

Mataram (ekbisntb.com) – Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat yang bekerja di Arab Saudi tercatat sebagai penyumbang terbesar remitansi atau kiriman uang ke daerah sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, total remitansi PMI NTB selama 2025 mencapai Rp105,17 miliar.


Dari total tersebut, Arab Saudi menempati posisi teratas sebagai negara penempatan PMI dengan nilai remitansi terbesar, yakni mencapai Rp40,64 miliar. Nilai ini jauh melampaui remitansi dari negara penempatan PMI NTB lainnya.


Di peringkat kedua, Malaysia menyumbang remitansi sebesar Rp13,37 miliar, sementara Uni Emirat Arab (UEA) berada di posisi ketiga dengan nilai kiriman uang mencapai Rp6,47 miliar.


Tingginya kontribusi remitansi dari Arab Saudi mencerminkan masih besarnya jumlah PMI asal NTB yang bekerja di negara tersebut, terutama pada sektor domestik dan jasa. Kiriman uang dari luar negeri ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi keluarga PMI sekaligus mendorong perputaran ekonomi di daerah, khususnya di wilayah-wilayah kantong pekerja migran.


Namun demikian, angka remitansi tersebut baru mencerminkan pengiriman uang yang tercatat melalui sistem perbankan. Bank Indonesia mencatat data remitansi berdasarkan transaksi resmi yang masuk melalui lembaga keuangan.


“Nilai tersebut belum termasuk remitansi yang dikirim melalui kantor pos atau melalui jalur tidak langsung, seperti titipan perorangan. Jika seluruh jalur pengiriman dihitung, nilainya diperkirakan bisa lebih besar,” ungkap Ponco Indrio, Kepala BP3MI NTB di kantornya, Kamis, 8 Januari 2025.


Besarnya remitansi dari Arab Saudi juga menimbulkan pertanyaan, mengingat secara kuantitas penempatan PMI NTB ke negara tersebut tidak sebesar ke beberapa negara lain. Kondisi ini diduga berkaitan dengan banyaknya warga NTB yang telah lama tinggal dan bekerja di Arab Saudi, termasuk pekerja yang memiliki pengalaman panjang di sektor informal maupun yang berstatus overstay namun tetap produktif bekerja.


Selain itu, lamanya masa kerja dan kestabilan penghasilan di negara tersebut turut memengaruhi besarnya nilai remitansi yang dikirim ke daerah asal.


Dengan meningkatnya aliran remitansi PMI, pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk bekerja ke luar negeri secara aman, legal, dan prosedural juga semakin tumbuh. Pemerintah menekankan bahwa kontribusi PMI terhadap perekonomian daerah harus berjalan seiring dengan perlindungan hak, keselamatan, dan kepastian hukum bagi para pekerja migran asal NTB.(bul)