Wednesday, April 22, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 80

Penurunan Produksi, KLU Defisit 6 Ribu Ton Beras

0
Penurunan Produksi, KLU Defisit 6 Ribu Ton Beras
Petani di Desa Gondang, Kecamatan Gangga mulai melakukan penanaman padi. Pada komoditas ini, produksi Lombok Utara mengalami defisit 6 ribu ton lebih dan akan ditingkatkan tahun 2026 ini. Berita selengkapnya di halaman 4. (Suara NTB/ari)

Tanjung (suarantb.com) – Stabilitas ketahanan pangan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) sedang berada pada fase penurunan produksi. Pasalnya, dalam lima tahun terakhir, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) KLU menghadapi defisit produksi gabah setara beras. Terakhir, pada tahun 2025 lalu, defisit gabah setara dengan 6.874,18 ton.

Kepala Dinas KPPP KLU, Tresnahadi, S.Pt., Senin (12/1/2026) saat dikonfirmasi Suara NTB mengakui, neraca produksi padi/gabah di Lombok Utara menurun dalam lima tahun terakhir. Kendati demikian, defisit dapat ditekan dari tahun 2024 ke tahun 2025. Tahun 2024 produksi mengalami defisit sebesar 10.000 ton lebih, berkurang menjadi 6 ribu ton lebih pada 2025.

Ia memaparkan, produksi Gabah Kering Panen (GKP) pada tahun 2025 sebesar 45.967.41 ton atau setara Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 38.152,95 ton. Jumlah GKG tersebut ekuivalen dengan jumlah beras sebesar 24.124,11 ton.

“Jumlah kebutuhan beras per kapita per tahun adalah 113,94 kilogram. Artinya kita membutuhkan 30.998,39 ton beras per tahun untuk jumlah penduduk terkini sebanyak 272.052 jiwa,” ujar Tresnahadi.

Ia mengakui, defisit produksi gabah setara beras dipengaruhi oleh banyak faktor. Utamanya adalah degradasi lahan produksi sawah basah akibat alih fungsi lahan pertanian. Faktor lainnya, daya dukung sektor pertanian seperti jaringan irigasi, alat dan mesin pertanian (alsintan) pada petani, serta ketersediaan air turut mempengaruhi volume produksi petani.

Sebaliknya, ketimpangan pasokan terhadap jumlah pertumbuhan penduduk masih menciptakan gap antara penawaran atau supply dan permintaan atau demand pada komoditas beras.

“Kita sudah mulai defisit sejak lima tahun terakhir karena masifnya pembangunan pertokoan, gedung kantor, dan permukiman masyarakat di areal lahan sawah basah. Sedangkan produksi padi dari program cetak sawah belum bisa berjalan secara konsisten,” ujarnya.

Ia bersyukur, defisit gabah beras tidak diikuti oleh inflasi pada komoditas tersebut. Harga relatif terkendali karena didukung oleh kelancaran distribusi komoditas yang stabil melibatkan penyuplai beras dari luar Lombok Utara, seperti Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Tresnahadi juga tak menampik, defisit komoditas kebutuhan konsumsi tidak hanya terjadi pada beras. Defisit juga berlaku pada komoditas telur, daging ayam dan daging sapi. Minimnya pasokan suplai telur disebabkan minimnya masyarakat yang terlibat dalam produksi. Sedangkan pada daging ayam dan sapi, pemenuhan kebutuhan masyarakat dipengaruhi minimnya jumlah pemotongan.

Menurut Kadis DKP3 KLU, diperlukan upaya optimal untuk mengurangi bahkan menormalkan keseimbangan permintaan dan penawaran di tingkat lokal, khususnya beras dan komoditas hortikultura. Pemda berupaya meningkatan kemandirian masyarakat pada produksi hortikultura memanfaatkan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Sementara, pada produksi padi, optimalisasi dilakukan dengan mendorong lebih banyak budidaya Padi Gora pada lahan kering dan tadah hujan.

Untuk mencegah meluasnya degradasi lahan, Tresnahadi juga menekankan pentingnya percepatan pembahasan regulasi Raperda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Raperda ini sudah berproses, di mana dinas telah menuntaskan draf dan naskah akademik Raperda.

“Harapan kita, Raperda LP2B dapat dibahas minimal pada masa sidang kedua tahun 2026 ini. Sehingga regulasi bisa disosialisasikan lebih cepat dan alih fungsi lahan dapat ditekan. Melalui Perda LP2B, kita batasi alih fungsi lahan. Hanya areal dengan jarak 100 meter dari jalan nasional yang boleh dibangun, lebih dari itu, statusnya terlindungi,” tandas Tresnahadi. (ari)

Jembatan Bailey Rampung, Akses Vital Warga Dusun Aik Beta Perigi Kembali Pulih

0
Jembatan Bailey Rampung, Akses Vital Warga Dusun Aik Beta Perigi Kembali Pulih
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin mengecek progres pembangunan jembatan Bailey di Dusun Aik Beta Desa Perigi Kecamatan Suela, Lotim, Senin (12/1/2026). (suarantb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Pemasangan jembatan Bailey (jembatan rangka baja) di Dusun Aik Beta, Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur (Lotim), akhirnya rampung. Proses pemasangan yang tidak memakan waktu lama ini dicek secara langsung oleh Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, pada Senin (12/1/2026).

Kehadiran Bupati yang akrab disapa H. Iron itu untuk memantau progres penyelesaian jembatan sementara yang dibangun untuk mengatasi putusnya akses transportasi akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Peninjauan dilakukan didampingi Kepala Pelaksana BPBD Lotim, Lalu Muliadi, tim Zeni TNI AD yang masih berada di lokasi serta perwakilan instansi teknis terkait.

“Alhamdulillah, progresnya tinggal tahap penyelesaian akhir saja. Kami upayakan secepat mungkin agar masyarakat mudah melintas,” ujar H. Iron. Terlihat tinggal penambahan penimbunan di ujung jembatan agar bisa lebih mudah dilalui warga. Bupati siap mengalokasikan lewat bantuan Biaya Tidak Terduga (BTT) Pemkab Lotim.

Bupati menegaskan, jembatan ini sangat vital sebagai urat nadi mobilitas logistik, pendidikan, dan kesehatan warga. Untuk mempercepat dan menjamin keamanan konstruksi, Pemkab Lotim bersinergi dengan TNI AD, dengan mengerahkan 30 personel Zeni.

Mengingat jembatan Bailey ini bersifat pinjam pakai dengan masa maksimal satu tahun, Bupati menyatakan sedang mengupayakan penganggaran untuk pembangunan jembatan permanen.

Akibat bencana hidrometeorologi, diketahui ada tiga jembatan putus di Lotim. Persoalan ini, kata Bupati, sudah disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kami berharap sebelum masa pinjam satu tahun berakhir, anggaran pembangunan jembatan permanen sudah tersedia. Kami sudah lapor ke BNPB agar jembatan-jembatan yang putus akibat bencana di beberapa kecamatan segera diatensi,” jelasnya.

H. Iron juga menyoroti kerusakan serupa di titik lain, seperti jembatan yang menghubungkan dua desa dua kecamatan, Lendang Nangka dan Jurit Baru. Bupati berkomitmen melakukan normalisasi sungai-sungai rawan bencana. Ia menegaskan, pembangunan akses dasar seperti jalan dan jembatan tidak boleh terlambat karena menyangkut pergerakan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Kehadiran jembatan Bailey di Perigi ini disambut riang gembira oleh warga Dusun Aik Beta. Sahrin, salah satu warga mengaku sangat bersyukur dan sampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah membangunkan jembatan.

“Sejak saya kecil, baru kali ini jembatan ini diperhatikan dengan serius. Sebelumnya kami harus memutar jauh. Dengan adanya jembatan ini, akses kami kembali lancar,” ujarnya haru. Saat jembatan putus, Sahrin mengaku harus jalan memutar puluhan kilometer jauhnya.

Penyelesaian jembatan ini diharapkan dapat sepenuhnya memulihkan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yang sempat terhambat akibat bencana. (rus)

Sampah Menggunung Gili Tramena, Komisi II DPRD NTB Desak Pemprov Adakan Mesin Mixer

0
Lalu Pelita Putra (ekbisntb.com/dok)

Mataram (ekbisntb.com) – Pengelolaan sampah di kawasan wisata Tiga Gili yakni Trawangan, Meno dan Air (Tramena) di Desa Gili Indah, Kabupaten Lombok Utara (KLU), hingga kini masih menjadi persolan yang banyak dikeluhkan warga dan pelaku wisata.

Parahnya, pengelolaan sampah tersebut sejauh ini, belum terorganisir dengan baik. Padahal, dengan luas daratan hanya sekitar 3,4 kilometer persegi, khusus di Gili Trawangan, wilayah ini menanggung jumlah sampah 18 ton perharinya.

Ketua Komisi II DPRD NTB Lalu Pelita Putra mengatakan, kedatangannya ke salah satu distinasi unggulan pariwisata di Provinsi NTB dan Indonesia ini untuk berdialog dengan para pelaku wisata dan masyarakat hingga jajaran OPD lingkup Pemkab KLU.

Menurut Politisi PKB ini, dengan tingginya jumlah wisatawan yang terus membanjiri wilayah tiga Gili, maka penanganan sampah ini harus dipastikan dengan serius.

Terlebih, menurut informasi warga dan pelaku usaha di wilayah tiga Gili, tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang ada belum optimal untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

“Jadi, kenapa banyak sampah menggunung di TPST, ini karena mesin insimenator yang berfungsi hanya dapat mengelola sampah 5-10 ton perharinya. Ini tentu enggak sebanding dengan jumlah sampah yang mencapai 18 ton perharinya,” tegas Pelita kepada wartawan pada Senin, 12 Januari 2026.

Ia mengatakan bahwa dengan tidak optimalnya mesin insimenator melayani jumlah sampah yang ada, maka seharusnya antara Pemkab dan Pemprov NTB perlu melakukan kolaborasi dan sinergi.

Pasalnya, pihaknya tidak menghendaki jika laju kunjungan wisatawan yang terus meningkat akan terganggu kenyamanannya, lantaran tumpukan sampah yang menggunung akibat terbatasnya kemampuan mesin insimenator dalam mengurai sampah yang ada.

“Tumpukan sampah yang menggunung ini harus disikapi dengan adanya mesin mixer untuk mencacah ribuan ton sampah yang ada. Bila perlu juga ada sebagian sampah yang diangkut ke daratan. Disinilah perlu ada koloborasi Pemprov dan Pemkab KLU untuk mengadakan alat mesin mixer ini,” tegas Pelita.

Sejauh ini Pemkab KLU sendiri berkomitmen mengurai sampah di kawasan wisata tiga gili (Trawangan, Meno, dan Air). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang. (ndi)

Disnaker Mataram akan Buka Posko Pengaduan UMK

0
Disnaker Mataram akan Buka Posko Pengaduan UMK
Disnaker Kota Mataram akan buka posko pengaduan UMK. (suarantb.com/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram akan membuka posko pengaduan terkait penerapan Upah Minimum Kota (UMK) Mataram tahun 2026. Posko ini disiapkan untuk menampung keluhan dari pekerja maupun perusahaan menyusul diberlakukannya UMK sejak 1 Januari 2026.

Pemerintah Kota Mataram telah menetapkan UMK Mataram tahun 2026 sebesar Rp3.019.015. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 5,7 persen dibandingkan UMK tahun sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, Ir. H. Miftahurrahman, mengatakan penetapan UMK 2026 tersebut berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat. Sebelum ditetapkan, pemerintah daerah terlebih dahulu melakukan pembahasan bersama Dewan Pengupahan Kota yang melibatkan unsur akademisi, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, praktisi, serta pihak terkait lainnya.

“Kalau memang ada pelanggaran atau keberatan terkait penerapan UMK, silakan dilaporkan. Nanti akan kita bahas dan ditinjau sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya, Senin, 12 Januari 2026.

Miftahurrahman menjelaskan, hingga saat ini surat edaran resmi terkait kenaikan UMK belum sepenuhnya disebarluaskan kepada seluruh pengusaha di Kota Mataram. Namun demikian, informasi mengenai besaran UMK 2026 telah disampaikan melalui media massa, asosiasi pengusaha, serta serikat pekerja sehingga pada prinsipnya sudah diketahui oleh para pihak.

“Sosialisasi secara masif memang belum kita lakukan karena penetapan ini masih baru. Ke depan, kami akan menyiapkan langkah-langkah teknis untuk sosialisasi secara kedinasan, termasuk mekanismenya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan UMK Mataram sebesar 5,7 persen didasarkan pada sejumlah indikator. Di antaranya UMK tahun sebelumnya, tingkat inflasi Provinsi NTB, pertumbuhan ekonomi Kota Mataram, masukan dari unsur pengusaha dan pekerja, kebutuhan hidup layak, iklim investasi, serta kondisi dan perluasan lapangan kerja.

Menurut Miftahurrahman yang juga menjabat sebagai Asisten II Sekretariat Daerah Kota Mataram, pemerintah kota mengambil nilai alfa sebesar 0,7 sebagai jalan tengah untuk mengakomodasi kepentingan pekerja dan dunia usaha. Dengan nilai tersebut, kenaikan UMK Mataram tahun 2026 berada di kisaran Rp150 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, ia mengingatkan bahwa penetapan upah minimum tahun 2026 secara nasional dilakukan paling lambat pada 24 Desember 2025. Pemerintah pusat melalui Kementerian Ketenagakerjaan juga telah menetapkan regulasi terbaru berupa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2025 tentang Pengupahan yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto. (pan)

Kampung Nelayan Dikelola Koperasi

0
Kampung Nelayan Dikelola Koperasi
H. Muslim (Suara NTB/era)

PEMBANGUNAN tiga kampung nelayan merah putih (KNMP) tahap pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) rampung. Tiga KNMP itu dibangun di Pulau Bungin Kabupaten Sumbawa, Desa Ekas Buana, Kabupaten Lombok Timur, dan Desa Bilelando, Kabupaten Lombok Tengah.

Anggaran pembangunan tiga KNMP di NTB mencapai Rp60 miliar, berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dalam hal ini Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) karena program tersebut merupakan program pusat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, H. Muslim, ST., mengatakan tiga KNMP yang dibangun sejak tahun 2025 tersebut akan dikelola oleh koperasi. Meski telah ada pengelola, Pemprov cukup khawatir mengenai optimalisasi pengembangan aset agar dapat secara maksimal.

“Tanggal ini (12 Januari, red) rampung 100 persen. Artinya secara fisik sudah selesai. Sudah di-setting semua alat-alat juga. Cuma menjadi tantangan kita ke depan ini adalah bagaimana koperasi bisa mengelola dan mengembangkan aset yang dibangun itu bisa lebih maksimal,” ujarnya, Senin, 12 Januari 2026.
Untuk memastikan keberlanjutan pengembangan program pusat itu di daerah, Pemprov NTB menegaskan pengelola kampung nelayan harus dilakukan oleh koperasi yang profesional. Untuk itu, ia meminta koperasi pengelola segera merampungkan business plan yang matang.

Menurutnya, business plan penting untuk memetakan potensi sekaligus mitigasi kampung nelayan. Terutama dalam memastikan koperasi bisa menutupi biaya operasional yang besar, seperti tarif listrik, agar usaha tetap berjalan berkelanjutan.

“Ini kan perlu keuletan, perlu bisnis plan yang bagus, sekaligus melakukan mapping terhadap potensi dan hambatan-hambatan ketika melakukan pengelolaan ke depan. Sehingga sejak awal mitigasi-mitigasi terkait dengan potensi hambatan itu sudah bisa terdeteksi lebih awal. Itu harapan kita,” jelasnya.

Koperasi, lanjutnya diharapkan mampu melakukan inovasi seperti menjalin kemitraan dengan pihak ketiga, merangkul pengepul ikan lokal, serta memobilisasi potensi sosial masyarakat untuk menghidupkan sektor kuliner di sekitar kawasan.

Setelah membangun tiga KNMP di NTB, Pemprov NTB akan kembali membangun tiga kampung nelayan lain di NTB. Berdasarkan hasil verifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di akhir tahun 2025, telah ditetapkan tiga lokasi tambahan untuk wilayah NTB, yaitu Desa Jala, Kabupaten Dompu, Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, dan lingkungan Bintaro, Kota Mataram.

Saat ini, pembentukan KNMP tahap kedua di NTB masih dalam proses verifikasi persyaratan, seperti lahan, harus ada aktivitas ekonomi di desa sasaran, dan surah ada koperasi desa.

Muslim menjelaskan, Pemprov NTB akan membentuk 40 KMNP secara bertahap di tahun 2026, namun hingga kini baru 31 desa yang telah terverifikasi. “Baru 31, ada beberapa lokasi yang doubel. Sehingga sekarang lagi proses verifikasi ini,” ucapnya. (era)

Target Kunjungan Wisatawan Naik, Sampah Masih Jadi Masalah Pariwisata NTB

0
Target Kunjungan Wisatawan Naik, Sampah Masih Jadi Masalah Pariwisata NTB
Lahan yang dipergunakan sebagai lokasi pembuangan sampah di Gili Trawangan yang belum dibayar sejak 2014. (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Target kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2026 naik menjadi 2,5 juta. Naik sekitar 200 ribu daripada target kunjungan tahun 2025 yang hanya 2,3 juta kunjungan wisatawan. Meski menaikkan target kunjungan wisatawan, NTB masih menghadapi sejumlah masalah dalam pengelolaan objek wisata, terutama masalah sampah.

Misalnya saja, di Gili Trawangan yang menjadi salah satu destinasi wisata NTB yang mendunia, baru-baru ini viral soal sisi lain kawasan wisata tersebut, menunjukkan gunungan sampah di Gili Trawangan. Saat ini produksi sampah harian di Trawangan rata-rata mencapai 18 ribu ton per hari. Bahkan bisa bertambah saat peak season.

Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia menegaskan masalah sampah menjadi atensi pihaknya. Sebagai Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Gili Tramena, pihaknya tidak akan menyelesaikan sampah di Gili Trawangan, tetapi juga permasalahan lain, seperti aset, air, dan lainnya.

Termasuk dengan status lahan, yaitu peralihan dari kawasan konservasi ke Area Penggunaan Lain (APL) juga menjadi perhatian satgas.

“Tetap menjadi perhatian, air dan sampah di Gili Trawangan itu tetap menjadi perhatian kita untuk penanganannya,” ujarnya.

Dia mengakui, sampah di kawasan Gili Trawangan juga mengganggu ekosistem di wilayah itu. Permasalahan menahun ini, lanjutnya akan segera diharmonisasi agar cepat ditemukan solusi. “Ya tentunya provinsi hadir juga menjadi mitra, tentunya ada pemerintah kabupaten, ada pemerintah desa juga yang ada dalam Satgas. Ya tentunya bagaimana kita mengharmonisasi untuk mengurai permasalahan-permasalahan, tidak hanya soal air dan sampah di sana,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah sampah di Trawangan, Pemprov dan Satgas memiliki opsi-opsi, seperti pembangunan Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kebijakan itu, lanjutnya masih dalam pembahasan untuk ditemukan solusi konkret agar masalah sampah di NTB, khususnya objek wisata tidak berulang.

“Tentunya mana yang memang paling ideal dan efektif dilaksanakan sebagai quick win, ya tentunya itu akan diambil pada saat yang paling ideal,” katanya.

Ketua Komisi II DPRD NTB, Lalu Pelita Putra, meminta Pemprov NTB serius menangani sampah yang ada di Gili Trawangan. Menurutnya, Pemprov beserta dengan pengelola harus bisa memaksimalkan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang sudah dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Dijelaskan, saat ini mesin insinerator di TPST hanya bisa mengelola sekitar 5-10 ton sampah per hari. Tidak sebanding dengan sampah yang dihasilkan per harinya. Akibatnya, banyak sampah menggunung yang hingga kini belum ada solusi nyata untuk penanganannya.

Terbatasnya kapasitas pengolahan sampah TPST Gili Trawangan, DPRD mendorong upaya serius dari Pemprov melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB. Dengan memberikan dukungan yang pengadaan sarana dan prasarana untuk mengurangi timbulan sampah di kawasan wisata tersebut. (era)

Pengelolaan Dermaga Labuhan Haji, Pemkab Lotim akan Cari Investor Baru

0
Pengelolaan Dermaga Labuhan Haji, Pemkab Lotim akan Cari Investor Baru
Bupati Lotim H. Haerul Warisin mengecek dermaga Labuhan Haji yang terlihat penuh oleh kapal-kapal rusak, Senin (12/1/2026). Bupati berjanji akan mencari investor dalam mengelola dermaga Labuhan Haji. (suarantb.com/ist)

Selong (suarantb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) memastikan telah memenangkan jalur hukum sengketa dengan PT Natura Samudra Lestari (NSL) terkait pengelolaan dermaga Labuhan Haji. Kemenangan ini membuka jalan bagi pemkab untuk membuka peluang investasi baru guna mengoptimalkan aset strategis tersebut.

Hal ini disampaikan Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, saat berkunjung ke Dermaga Labuhan Haji, Senin (12/1/2026). Untuk menyelesaikan persoalan di Dermaga Labuhan Haji ini, Bupati dalam waktu dekat akan bertemu dengan instansi terkait untuk membahasnya.

“InsyaAllah dalam waktu dekat ini saya akan koordinasi dengan pihak-pihak. Kita akan undang semua, nanti ada pengadilan, kapolres, jajaran terkait lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bupati menegaskan komitmen pemkab untuk menghidupkan kembali dermaga dengan mendatangkan investor baru yang serius. Ia mempromosikan potensi aset yang dinilainya sangat bagus, lengkap dengan gedung perkantoran, gudang, dan fasilitas pendukung.

“Kita tetap menunggu investor yang mau memanfaatkan, ya, karena ini kan barang bagus. Nanti kalau misalnya investor yang bersangkutan minta dibangunkan pusat tambahan, kita akan bangunkan pusat tambahan. Yang penting dia serius mau memanfaatkan dermaga kita ini,” tandas Haerul Warisin.

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum Setdakab Lotim, Biawansyah Putra, memberikan penjelasan lebih rinci mengenai perjalanan panjang sengketa hukum tersebut. Pihak Pemkab Lotim telah menempuh jalur hukum setelah tidak memperpanjang masa perjanjian kerjasama dengan NSL.

“Pada sidang tingkat pertama dan banding, Lotim diakui kalah. Pemkab Lotim menempuh jalur kasasi, bahkan sudah melalui proses Peninjauan Kembali (PK), dan menguatkan posisi Lotim yang menang atas kasus NSL,” papar Biawansyah.

Dengan status kemenangan hukum yang sudah inkrah (tetap), Pemkab Lotim kini memiliki posisi kuat untuk mengambil alih aset kembali dan mengatur masa depan dermaga.

Menurutnya, setelah NSL dinyatakan kalah dalam persidangan, pemkab telah berulang kali meminta perusahaan tersebut mencabut seluruh alat dan peralatannya dari lokasi.

“Sejak kalah itu kita sudah bersurat untuk meminta mereka mengangkat semua alat yang dia punya,” demikian imbuhnya. (rus)

Harga Emas Diprediksi akan Tembus Diatas Rp3 Jutaan per Gram

0
Iskandar menunjukkan lembaran-lembaran kecil logam mulia atau yang disebut sebagai baby gold


Mataram (ekbisntb.com) – Harga emas diprediksi akan terus mengalami kenaikan signifikan dan berpeluang menembus angka di atas Rp3 juta per gram dalam beberapa waktu ke depan.


Per Senin, 12 Januari 2026, harga logam mulia ini bahkan sudah tembus Rp2,6 juta per gram.


Ketua Asosiasi Pedagang Emas Sekarbela (Ampera), Iskandar mengatakan, kenaikan harga emas yang terus menerus ini dianggap sebagai kenaikan harga paling “brutal”. Karena kenaikannya dalam waktu yang relative singkat.


Menurutnya, kenaikan harga ini seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi paling aman di tengah ketidakpastian global.


Iskandar mengatakan, tren investasi emas di masyarakat saat ini menunjukkan kecenderungan yang sangat positif. Menurutnya, emas masih menjadi aset paling aman dibandingkan instrumen investasi lain yang bersifat digital maupun spekulatif.


“Kalau tren sekarang sangat positif. Masyarakat mulai sadar, daripada uang dipakai untuk hal yang tidak jelas, lebih baik disimpan dalam bentuk emas. Emas itu aset nyata, kita kuasai secara fisik, dan harganya bisa dicek secara terbuka mengikuti harga emas dunia,” ujarnya.


Ia menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global, potensi gejolak geopolitik, serta kekhawatiran terhadap sistem keuangan digital menjadi faktor utama meningkatnya minat masyarakat terhadap emas. Dalam kondisi krisis, aset digital dinilai rentan terganggu, sementara emas tetap memiliki nilai dan mudah diperjualbelikan.


“Ketika ada gejolak ekonomi atau konflik, aset biasanya kembali ke emas. Ini sudah hukum pasar sejak dulu,” katanya.


Berdasarkan analisis dan pandangan para pakar investasi emas, Iskandar memprediksi harga emas berpotensi menembus kisaran Rp3 jutaan lebih. Meski demikian, kenaikan tersebut diperkirakan tidak terjadi secara instan dalam waktu dekat, melainkan bertahap.


“Kalau mengacu pada pendapat para pakar, angkanya bisa di atas Rp3 juta. Tapi kemungkinan bukan dalam waktu singkat, bisa dalam satu tahun atau lebih,” jelasnya.


Ia menambahkan, secara historis harga emas memang cenderung mengalami koreksi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, namun tren jangka panjangnya tetap menunjukkan peningkatan. Menjelang momentum tertentu seperti bulan puasa hingga akhir tahun, harga emas biasanya kembali menguat.


Dari sisi produk, Iskandar menyebut emas batangan atau logam mulia masih menjadi pilihan utama untuk investasi karena memiliki selisih harga jual dan beli yang lebih kecil dibandingkan emas perhiasan.


“Kalau murni untuk investasi, emas batangan lebih disarankan. Perhiasan ada biaya pembuatan dan operasional, sehingga markup-nya lebih besar,” ujarnya.


Meski demikian, ia mengakui permintaan emas perhiasan tetap ada, meski tidak setinggi sebelumnya.


“Karena harganya tinggi, daya beli masyarakat kurang,” terangnya.


Sebaliknya, permintaan logam mulia justru meningkat tajam, seiring masuknya investor-investor baru yang sebelumnya belum pernah berkecimpung di bisnis emas.


Di Kota Mataram, khususnya di sentra perdagangan emas seperti Sekarbela, Cakranegara, dan Ampenan, penjualan emas secara umum masih tergolong stabil. Namun, terdapat pergeseran pola belanja masyarakat yang kini lebih banyak memburu emas batangan dibandingkan perhiasan.


Ditengah trend kenaikan harga emas ini, Iskandar mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membeli emas, terutama dari sumber yang tidak jelas. Ia mengingatkan bahwa standar utama dalam transaksi emas adalah kadar karat dan berat yang jelas serta mengacu pada harga pasar resmi.


“Emas itu ukurannya jelas: karat dan berat. Selama itu jelas dan mengikuti harga pasar, silakan beli. Jangan mudah terpengaruh informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.(bul)

Organda NTB : Usulan Penambahan Kapal di Rute Kayangan – Pototano Bukan Solusi

0
Junaidi Kasum

 
Mataram (ekbisntb.com) – Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Angkutan Darat (DPD Organda) Nusa Tenggara Barat menolak rencana penambahan armada kapal penyeberangan di lintasan Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, menuju Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Organda menilai, akar persoalan kemacetan dan antrean panjang bukan terletak pada jumlah kapal, melainkan minimnya dermaga sandar.


Diketahui, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Kayangan secara resmi mengusulkan pengadaan satu unit armada kapal baru kepada ASDP Pusat. Guna memperkuat keandalan layanan penyeberangan di lintas Kayangan – Poto Tano serta memastikan standar keselamatan penumpang tetap terjaga di level tertinggi.


Ketua DPD Organda NTB, Junaidi Kasum, menegaskan bahwa jumlah kapal yang saat ini beroperasi sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan penyeberangan. Ia menyebut, total kapal yang beroperasi di lintasan Kayangan–Poto Tano mencapai 28 unit, jumlah yang dinilai ideal.


“Penanganan yang dibutuhkan bukan penambahan kapal, tapi peremajaan kapal yang sudah tidak layak operasi. Kapal yang sering macet dan mati mesin di tengah laut harus segera diganti, bukan ditambah,” kata Junaidi, Senin (12/1/2026).


Menurutnya, antrean panjang yang terjadi hampir setahun terakhir bukan disebabkan kekurangan armada, melainkan karena keterbatasan dermaga. Saat ini, baik di Pelabuhan Kayangan maupun Poto Tano, hanya tersedia dua dermaga aktif, sehingga kapal harus mengantre lama untuk bisa sandar.


“Masalah utama itu kekurangan dermaga. Sudah saatnya dermaga ditambah dari dua menjadi empat, baik di Kayangan maupun Poto Tano,” ujarnya.


Organda NTB mendorong agar penambahan dermaga tidak hanya dibebankan kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), tetapi juga melibatkan pemerintah daerah. Junaidi menilai, pemerintah provinsi memiliki kewenangan strategis karena Pelabuhan Kayangan dan Poto Tano merupakan kewenangan Provinsi NTB.


“Kalau pemerintah daerah membangun dermaga, maka pelayanan akan jauh lebih lancar dan kapal tidak lagi antre di tengah laut. Selain itu, pendapatan dari dermaga bisa menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) provinsi,” tegasnya.


Ia menyebut, selama ini pendapatan dari dermaga ASDP langsung masuk ke pusat, sementara daerah hanya menanggung dampak kemacetan dan kerugian ekonomi masyarakat. Padahal, kata dia, pelabuhan tersebut menjadi urat nadi distribusi barang dan mobilitas masyarakat NTB.


Junaidi juga menyoroti dampak langsung antrean terhadap masyarakat dan pelaku usaha angkutan. Waktu penyeberangan normal yang seharusnya hanya sekitar satu jam, kini bisa membengkak menjadi dua jam, bahkan hingga lima jam jika terjadi gangguan teknis atau cuaca.


“Ini jelas merugikan masyarakat dan anggota kami. Tambah kapal justru menguntungkan ASDP, tapi beban antrean tetap ditanggung penumpang dan sopir,” ujarnya.


Menjelang libur Lebaran, Organda NTB meminta ASDP fokus mencari solusi konkret untuk mengurai antrean tahunan yang kerap mencapai kilometer. Salah satu solusi jangka pendek yang diusulkan adalah pembangunan dermaga sementara.


“Yang harus dipikirkan ASDP sekarang adalah bagaimana mengatasi antrean saat Lebaran. Jangan tambah kapal, karena kalau dermaganya tetap, kapal nambah justru antreannya makin panjang,” kata Junaidi.


Organda NTB secara tegas menyatakan menolak penambahan kapal berdasarkan hasil investigasi internal dan aspirasi masyarakat serta anggotanya. Mereka meminta pemerintah dan ASDP fokus menyelesaikan persoalan mendasar agar pelayanan penyeberangan Kayangan–Poto Tano berjalan normal, aman, dan berkeadilan bagi masyarakat.(bul)

Penerimaan Negara dari Pendaki Rinjani Tembus Rp25,9 Miliar

0

Mataram (ekbisntb.com) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat penurunan jumlah pendaki Gunung Rinjani sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dihasilkan justru mengalami peningkatan signifikan dan melampaui target.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan di ruang kerjanya, Senin, 12 Januari 2025 menjelaskan bahwa total pengunjung pendakian Gunung Rinjani selama 2025 tercatat sekitar 132 ribu orang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 180 ribu pendaki.

“Jumlah pendaki memang mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Budhy.

Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, penutupan rutin jalur pendakian pada Januari hingga Maret sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem. Kedua, adanya penutupan sementara pendakian akibat penanganan musibah yang menimpa pendaki, sehingga pengelola memutuskan menghentikan aktivitas pendakian untuk alasan keselamatan.

“Penutupan-penutupan ini cukup berdampak terhadap jumlah kunjungan pendaki ke Gunung Rinjani,” jelasnya.

Dari sisi komposisi pengunjung pendakian, Budhy menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara (WNA) masih mendominasi. Sepanjang 2025, jumlah pendaki WNA tercatat sebanyak 43.236 orang, sementara pendaki domestik atau WNI sebanyak 36.976 orang. Secara persentase, sekitar 60 persen pendaki merupakan wisatawan mancanegara.

Selain pendakian, TNGR juga mencatat kunjungan wisata non-pendakian, seperti ke air terjun dan kawasan wisata alam lainnya. Jumlah pengunjung non-pendakian mencapai 52.108 orang, yang didominasi hampir 90 persen wisatawan nusantara.

Meski jumlah pendaki menurun, PNBP TNGR tahun 2025 justru mencapai Rp25.926.000.691 atau sekitar Rp25,9 miliar. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sekitar Rp22,5 miliar, atau naik kurang lebih Rp3 miliar.

Budhy menjelaskan, peningkatan PNBP tersebut salah satunya dipengaruhi oleh penyesuaian tarif yang diberlakukan pada layanan wisata di kawasan TNGR.
“Kenaikan tarif menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan mendorong peningkatan PNBP,” katanya.

Ia menambahkan, capaian PNBP 2025 tersebut melampaui target yang ditetapkan, mengingat target PNBP tahun itu berada di kisaran Rp23–24 miliar.

“Realisasi PNBP 2025 ini jelas di atas target,” tegas Budhy.

Untuk pemanfaatan PNBP, Budhy menjelaskan bahwa sesuai ketentuan perundang-undangan, seluruh PNBP disetorkan ke kas negara dan dikelola pemerintah pusat. Dana tersebut kemudian dikembalikan ke daerah dalam berbagai bentuk, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) atau program yang melekat pada kementerian, khususnya untuk kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberadaan TNGR memberikan multiplier effect bagi daerah, terutama bagi masyarakat sekitar kawasan.

“Kita bicara dampak berganda. Ada ratusan usaha akomodasi, restoran, jasa transportasi, dan usaha lainnya yang hidup dari aktivitas wisata Rinjani. Itu kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat daerah,” ujarnya.

Balai TNGR berharap ke depan pengelolaan wisata Gunung Rinjani tetap mampu menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan, keselamatan pengunjung, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(bul)