Wednesday, April 22, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 78

Bappeda NTB Pacu Percepatan Perencanaan, Hindari Penumpukan Program di Akhir Tahun

0
Baiq. Nelly Pun kartu


Mataram (Suara NTB) – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB mendorong percepatan pelaksanaan program pembangunan dengan menekankan ketepatan jadwal sejak tahap perencanaan. Langkah ini dilakukan untuk menghindari penumpukan kegiatan di akhir tahun anggaran serta memastikan manfaat pembangunan lebih cepat dirasakan masyarakat.


Kepala Bappeda NTB, Baiq Nelly Yuniarti, di ruang kerjanya, Rabu, 14 Januari 2026 menegaskan, bahwa percepatan pelaksanaan program sangat bergantung pada kedisiplinan seluruh perangkat daerah dalam mematuhi jadwal perencanaan yang telah disepakati bersama.


“Kalau dari perencanaan sudah sesuai jadwal, maka kami berharap pelaksanaannya oleh OPD juga berjalan sesuai rencana masing-masing. Dengan begitu, penumpukan kegiatan di akhir tahun bisa dihindari,” ujar Nelly yang baru-baru dilantik Gubernur NTB, Lalu. Iqbal ini sebagai Kepala Bappeda NTB.


Mantan Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dinas Perdagangan NTB, dan Kepala BPSDM Provinsi NTB ini menambahkan, jika kegiatan pembangunan dapat dilaksanakan sejak awal tahun, dampaknya akan lebih cepat dirasakan oleh masyarakat. Hal inilah yang menjadi pedoman bersama agar seluruh OPD benar-benar mematuhi kalender perencanaan yang telah ditetapkan oleh Bappeda.


Menurut Nelly, selama ini keterlambatan pelaksanaan program kerap terjadi karena adanya pergeseran atau perubahan dalam perencanaan yang belum optimal. Akibatnya, banyak kegiatan menumpuk di penghujung tahun anggaran.


“Dalam perencanaan itu sudah ada jadwal pelaksanaan. Kalau perencanaannya matang dan on the track, pelaksanaan juga tidak akan menumpuk di akhir tahun,” katanya.
Untuk itu, Bappeda meminta OPD mulai menajamkan dokumen perencanaan dan penganggaran masing-masing, termasuk DPA, agar sejalan dengan arah kebijakan pembangunan yang telah ditetapkan dalam RPJPD.


Ia juga mengungkapkan bahwa sejak awal tahun 2026, Bappeda sudah mulai membahas perencanaan untuk tahun 2027. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi keterlambatan serupa pada tahun berikutnya.


“Kami berharap perencanaan 2027 benar-benar berjalan sesuai jadwal. Tapi ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Kami membutuhkan kecepatan dan komitmen dari teman-teman OPD,” tegasnya.


Lebih lanjut, Nelly menekankan bahwa percepatan perencanaan dan pelaksanaan program memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Keterlambatan program, menurutnya, akan berdampak pada tertundanya pembangunan di masyarakat.
“Kalau proses perencanaan terlambat, pelaksanaan juga terlambat. Otomatis pembangunan di masyarakat ikut tertunda dan itu akan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.


Ia menambahkan, belanja daerah memiliki peran besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi NTB. Oleh karena itu, realisasi anggaran harus dijaga agar sesuai dengan target yang telah disepakati.


Bappeda NTB juga akan secara rutin melakukan evaluasi realisasi program dan anggaran setiap bulan. Target realisasi pun telah ditetapkan secara bertahap, yakni 20 persen pada triwulan pertama, 30 persen pada triwulan kedua, 30 persen pada triwulan ketiga, dan 20 persen pada triwulan keempat.

“Kesepakatan angka-angka inilah yang harus kita eksekusi dengan baik. Ini yang terus kami jaga agar pembangunan berjalan sesuai rencana,” jelas Mantan Pj. Bupati Dompu ini.(bul)

Wujudkan Sinergi Hijau, Bank NTB Syariah Serahkan Fasilitas Nursery Farm untuk Program Sumbawa Hijau Lestari

0

Sumbawa (ekbisntb.com) – Sebagai wujud nyata komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan dukungan penuh terhadap pembangunan daerah, Bank NTB Syariah secara resmi menyerahkan bantuan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) berupa fasilitas Nursery Farm (Kebun Bibit) kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Penyerahan bantuan ini dilakukan secara simbolis oleh Branch Manager Bank NTB Syariah KC Sumbawa, Ika Gita Listiana dan Analis Program Corporate Secretary Bank NTB Syariah, I Gede Wiradharma kepada Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., bertempat di lokasi pembibitan, Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas, Jumat (09/01).

Komitmen Terhadap Kelestarian Lingkungan

Fasilitas Nursery Farm ini dirancang sebagai pusat penyediaan bibit berkualitas guna mendukung program unggulan “Sumbawa Hijau Lestari”. Selain bangunan sarana prasarana, Bank NTB Syariah juga menyerahkan 2.000 bibit tanaman produktif, yang terdiri dari komoditas Kelengkeng, Nangka, Alpukat, hingga Matoa.

“Penyerahan Nursery Farm ini adalah wujud nyata komitmen Bank NTB Syariah untuk senantiasa hadir dan bersinergi dengan Pemerintah Daerah. Kami ingin memastikan bahwa kehadiran bank syariah ini memberikan dampak langsung bagi pembangunan yang berkelanjutan, khususnya dalam mendukung program lingkungan yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang di Kabupaten Sumbawa.” Ujar I Gede Wiradharma, Analis Program Corporate Secretary Bank NTB Syariah.

“Sebagai bank milik daerah, kami merasa bangga dapat berkontribusi dalam memperkuat sektor pertanian melalui penyediaan kebun bibit ini. Kami berharap fasilitas ini tentunya dirawat sebagai sarana penghijauan, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan bagi para petani kita di masa depan.”, tambahnya.

Langkah ini diambil sejalan dengan semangat perbankan syariah yang mengedepankan kemaslahatan umat dan keseimbangan alam. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan:
• Ketersediaan bibit mandiri bagi para petani di Kabupaten Sumbawa dapat terjamin.
• Rehabilitasi lahan melalui program penghijauan dapat berjalan lebih cepat dan masif.
• Peningkatan ekonomi masyarakat melalui penanaman pohon buah produktif di masa depan.

Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P.,, dalam sambutannya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bank NTB Syariah. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi ini sangat strategis dalam mewujudkan tatanan lingkungan yang hijau sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbawa..

“Kami telah menerima nursery farm atau kebun bibit yang dibuat oleh Bank NTB Syariah. Fasilitas ini sangat menunjang program penghijauan Sumbawa Hijau Lestari yang tengah kami laksanakan. Dengan adanya nursery farm ini, kebutuhan bibit bagi petani-petani kita untuk periode penanaman 2025-2026 dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Bupati Jarot.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bank NTB Syariah yang telah menyediakan sarana ini. Ini adalah penunjang program unggulan kami dalam rangka mewujudkan Sumbawa yang Unggul, Maju, dan Sejahtera melalui semangat Sumbawa Hijau Lestari,” tandasnya.(bul)

Pakai CSR Perusahaan, Gerbang Perbatasan dan Ikon Patung Sapi Lobar Bakal Dipoles

0
Pakai CSR Perusahaan, Gerbang Perbatasan dan Ikon Patung Sapi Lobar Bakal Dipoles
Patung sapi di wilayah Narmada ini bakal dipoles oleh Pemkab Lobar. (suarantb.com/her)

Giri Menang (suarantb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) menata wilayah Lobar agar semakin cantik. Setelah merevitalisasi ikon monumen Giri Menang Squre (GMS), giliran Monumen Patung Sapi di Gerung dan Narmada serta gapura pintu masuk Kabupaten Lobar siap dipoles.

Beberapa tugu monumen yang berada di titik strategis, seperti di depan Pasar Narmada, juga masuk dalam daftar prioritas perbaikan.

Kepala Dinas PUPR Lobar, Lalu Ratnawi, menegaskan langkah ini diambil agar setiap orang yang melintas di wilayah Lobar selalu terkesan dengan keindahannya. “Patung Sapi di GMS dan beberapa tugu monumen di depan Pasar Narmada kita poles tahun ini,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Tampilan monumen itu akan dipoles sehingga terlihat megah dan estetik. Kemudian untuk gapura atau gerbang perbatasan akan didesain khusus dengan konsep menonjolkan kekayaan budaya lokal. Sebab seperti arahan bupati Gerbang ini dianggap sebagai “wajah” pertama yang dilihat wisatawan maupun warga saat memasuki wilayah Lobar. Sehingga harus memperlihatkan estetik yang terkesan.

Sekitar empat hingga lima titik gerbang yang akan dibangun ulang atau diperbaiki secara total.

“Itu konsepnya Pak Bupati, memang itu harus kita buat desain khusus yang kelihatan corak Lobar,” jelasnya.

Prioritas pembangunan ini akan menyasar gerbang perbatasan dengan Kabupaten Lombok Tengah dan Kota Mataram, termasuk wilayah di Gerung, Mataram, dan Pusuk. Pembiayaan sejumlah proyek itu tidak seluruhnya bersumber dari dana APBD murni. Sebab untuk gerbang perbatasan yang membutuhkan anggaran lebih besar, Pemda akan berupaya mengoptimalkan kontribusi melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

“Ada sekitar empat atau lima titik gerbang yang akan kita bangun ulang, dan itu nanti Pak Bupati akan dari dana CSR,” ungkap Lalu Ratnawi.

Ia menilai penggunaan dana CSR menjadi strategi cerdas Pemda mempercepat pembangunan tanpa membebani kas daerah secara berlebihan. Sedangkan untuk pemeliharaan rutin seperti pemolesan patung dan monumen yang sudah ada, biayanya relatif lebih kecil dan sudah dialokasikan melalui dana pemeliharaan infrastruktur.

“Itu cuma sedikit, bagian dari dana yang kita untuk melakukan pemugaran perbatasan itu kita ambil. Tinggal mengecat saja itu, tidak banyak,” pungkasnya. (her)

Selama 2025, 2.015 Warga Sumbawa Bekerja sebagai Selama 2025, 2.015 Warga Sumbawa Bekerja sebagai PMI

0
Selama 2025, 2.015 Warga Sumbawa Bekerja sebagai PMI
H. Varian Bintoro (suarantb.com/ils)

Sumbawa Besar (suarantb.com) – Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa, mencatat 2.015 warga Sumbawa berangkat ke luar negeri menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Jadi, jumlah PMI yang sudah berangkat tersebut berdasarkan data yang tertera SISKOP2MI dengan berbagai negara tujuan, baik ke negara timur tengah maupun asia pasifik,” kata Plt Kepala Dinas Nakertrans Sumbawa, H. Varian Bintoro kepada Suara NTB, Selasa (13/1/2026).

Berdasarkan data tersebut, lanjut Varian, Asia dan Afrika masih menjadi salah satu negara tujuan yang paling dominan bagi PMI asal Sumbawa sebanyak 1.734 orang. Sementara untuk negera Eropa dan Timur Tengah (Timteng) masih di angka 280 orang serta Amerika dan Pasifik satu orang.

“Memang untuk negara Eropa dan Timur Tengah masih sangat sedikit. Di timur tengah masih sedikit karena masih adanya kebijakan moratorium di sejumlah negera,” ucapnya.

Selain itu lanjut Varian, dari segi pendapatan (gaji) negara asia pasifik lebih besar dibandingkan dengan negara timur tengah. Namun, karena masih adanya moratorium di sejumlah negara Timur Tengah menjadi kendala, sehingga penempatan di negera tersebut masih sedikit.

“Kita tetap bisa memaksa mereka untuk memilih negara tujuan tertentu, karena itu itu merupakan pilihan PMI itu sendiri,” tambahnya.

Ia berharap kepada masyarakat yang hendak menjadi pekerja migran untuk tetap berangkat secara legal atau secara prosedural. Termasuk harus melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

“Sekarang PMI ini wajib didaftarkan ke aplikasi ke Siap Kerja Naker sehingga bisa ketahuan dia bekerja secara legal atau illegal. Kalau dia tidak dimasukan ke dalam Siap Kerja, walaupun dikirim perusahaan resmi dia pasti illegal, karena tidak masuk data,” tukasnya. (ils)

Kepala Bappeda NTB Tekankan Pembangunan Butuh Kolaborasi Kuat

0
Kepala Bappeda NTB Tekankan Pembangunan Butuh Kolaborasi Kuat
Kepala Bappeda NTB Baiq Nelly Yuniarti memberikan sambutan pada Lokakarya Inisiasi Pembentukan FP3HI di Hotel Aston Inn, Selasa (13/1/2026). (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, membuka Lokakarya Inisiasi Pembentukan Forum Perempuan Penjaga dan Pengelola Hutan Indonesia (FP3HI) di Hotel Aston Inn, Selasa (13/1/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Mitra Pembangunan KONSEPSI ini menjadi langkah awal penguatan peran perempuan dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Mantan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi NTB ini menyampaikan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan. Pemprov NTB, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan melalui program NTB Lestari dan Berkelanjutan, dengan memberi ruang lebih besar bagi peran perempuan sebagai penggerak ekonomi lokal.

Pembentukan FP3HI diharapkan menjadi wadah koordinasi dan diskusi lintas desa serta lintas sektor dalam memetakan potensi hutan, mulai dari hasil hutan non-kayu, pertanian, hingga pariwisata berbasis alam. Dengan dukungan data yang akurat dan kolaborasi antarperangkat daerah, forum ini diharapkan mampu menghadirkan program yang tepat sasaran, khususnya bagi perempuan di sekitar kawasan hutan yang berada dalam kantong kemiskinan.

Melalui sinergi yang berkelanjutan, Pemprov NTB optimistis potensi sumber daya alam yang dimiliki dapat dikelola secara optimal untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan, dan mewujudkan NTB yang makmur, berdaya saing, serta mendunia.

Sejalan dengan itu, Direktur KONSEPSI, Dr. Muhammad Taqiuddin, menekankan peran strategis perempuan dalam perhutanan sosial yang inklusif dan berkeadilan. Menurutnya, forum FP3HI diharapkan menjadi ruang penguatan jejaring, berbagi praktik baik, serta mendorong keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan pengelolaan hutan.

“Perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian hutan. Melalui Forum FP3HI, kami ingin membangun jejaring yang kuat agar perempuan semakin berdaya, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan menjadi aktor penting dalam perhutanan sosial yang inklusif dan berkeadilan,” ujarnya. (r)

Jalin Kerja SAMA dengan Kejaksaan, Pembayaran Retribusi Sampah Gunakan Non-Tunai

0
Jalin Kerja SAMA dengan Kejaksaan, Pembayaran Retribusi Sampah Gunakan Non-Tunai
Syahrial Nuryadin foto bersama dengan Kepala Kejaksaan Negeri Bima Heru Kamarullah pada Selasa (13/1/2026). (Suara NTB/ist)

Kota Bima (suarantb.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima terus melakukan pembenahan layanan publik, baik dari sisi kemudahan pelayanan maupun penguatan tata kelola pemerintahan. Salah satunya menerapkan pembayaran retribusi sampah menggunakan non tunai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima, Syahrial Nuryadin, S.IP., M.M., menjelaskan bahwa pembayaran retribusi sampah non tunai diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam membayar retribusi sampah. Selain itu, sistem non-tunai dinilai dapat meminimalisasi potensi kebocoran serta memperkuat akuntabilitas pengelolaan pendapatan daerah.

“Melalui QRIS, proses pembayaran menjadi lebih mudah dan tercatat secara digital. Ini bagian dari upaya kami untuk membangun sistem pengelolaan persampahan yang transparan dan berkelanjutan,” ujarnya pada Selasa (13/1/2026).

Selain inovasi layanan, DLH Kota Bima juga memperkuat aspek kepastian hukum dengan menjalin kerja sama resmi bersama Kejaksaan Negeri Bima. Penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan pada, Selasa (13/1/2026) sebagai langkah strategis dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan yang berlandaskan hukum.

“Kerja sama ini mencakup pemberian bantuan hukum, konsultasi hukum, serta pertimbangan hukum dalam bidang perdata dan tata usaha negara. Kejaksaan Negeri Bima akan memberikan pendampingan apabila menghadapi permasalahan hukum, seperti sengketa aset, sengketa lahan, gugatan terhadap keputusan administrasi hingga persoalan kerja sama dengan pihak ketiga,” paparnya.

Selain itu, ruang lingkup kerja sama juga meliputi pemberian pendapat hukum atau legal opinion terhadap kebijakan dan program dinas, telaah hukum terhadap perjanjian atau kontrak, serta pendampingan dalam pengambilan keputusan strategis agar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurutnya, dukungan lembaga adhyaksa tersebut, sangat penting dalam menjaga agar setiap kebijakan dan langkah pemerintah daerah memiliki dasar hukum yang kuat.

“Kerja sama ini memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi kami sebagai perangkat daerah. Pendampingan yang profesional akan membantu kami bekerja lebih fokus dan bertanggung jawab dalam melayani masyarakat,” katanya.

Melalui dua langkah strategis ini, DLH Kota Bima berharap dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat tata kelola pemerintahan yang akuntabel, serta membangun kepercayaan masyarakat. Sinergi antara inovasi digital dan penguatan hukum tersebut diharapkan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pemerintahan yang profesional, transparan, dan berpihak pada kepentingan publik. (hir)

Apresiasi Capaian PAD, Bupati Lotim Beri Hadiah Umrah untuk Dua ASN Berprestasi

0
H. Haerul Warisin (suarantb.com/rus)

Selong (suarantb.com) – Pencapaian monumental Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) pada tahun 2025 direspons dengan apresiasi nyata oleh Bupati, Drs. H. Haerul Warisin. Atas realisasi PAD yang menyentuh 99,5 persen dari target, Bupati memberikan hadiah umrah kepada dua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dinilai berprestasi.

Kunjungan Bupati ke Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim pada Selasa (13/1/2026) menjadi momen penyerahan penghargaan tersebut. Berdasarkan data Sistem Evaluasi dan Monitoring Pendapatan Asli Daerah (Sempad), realisasi PAD hingga Desember 2025 mencapai Rp553.768.271.412, atau 99,50 persen dari target Rp556.548.670.438. Ini merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah Lotim.

“Hari ini saya tepati janji itu. Berdasarkan rekomendasi Kepala Dinas, Sekretaris, dan para Kabid, ada dua orang yang akan langsung saya umrahkan sebagai tanda penghargaan atas dedikasi mereka,” tegas Bupati Haerul Warisin yang akrab disapa Iron.

Meski sangat memuaskan, Bupati mengingatkan bahwa angka 99,5 persen itu adalah hasil kerja keras sejak Maret hingga Desember. Masih ada sisa 0,5 persen atau sekitar Rp2,78 miliar yang berasal dari masa transisi di Januari dan Februari yang harus dituntaskan.

“Kita tidak boleh langsung puas. Kita baru akan benar-benar puas jika capaian melampaui 100 persen. Saya minta sisa 0,5 persen ini segera dicari solusinya agar semua kewajiban pajak benar-benar clear,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti masih adanya sektor potensial, seperti restoran dan penginapan, yang belum terjangkau maksimal. Ia menginstruksikan agar pendekatan penagihan pajak di lapangan dilakukan dengan santun dan penuh kerendahan hati.

“Penagih pajak tidak boleh emosi. Berikan penjelasan yang baik kepada masyarakat. Jelaskan bahwa pajak yang mereka bayar akan kembali ke mereka dalam bentuk pembangunan jalan, sekolah, dan kepentingan publik lainnya,” pesan Iron.

Ia mengakui bahwa sosialisasi manfaat pajak masih menjadi kendala. Untuk itu, ia berharap petugas pajak dapat menjadi jembatan informasi yang efektif untuk menghilangkan keraguan masyarakat dalam menunaikan kewajiban perpajakannya.

Pemberian hadiah umrah ini diharapkan dapat memotivasi seluruh ASN di lingkungan Pemkab Lotim untuk terus meningkatkan kinerja dan inovasi dalam mendongkrak pendapatan daerah, sekaligus menegaskan komitmen kepemimpinan dalam memberikan apresiasi terhadap dedikasi dan prestasi para ASN. (rus)

Empat Investor Incar Objek Wisata “Sunrise Land Lombok” Labuhan Haji

0
Empat Investor Incar Objek Wisata “Sunrise Land Lombok” Labuhan Haji
Kawasan Wisata Sunrise Land Lombok yang tengah ramai diperbincangkan di Lotim karena diperebutkan oleh sejumlah pihak atas nama investor. (suarantb.com/ist)

Selong (suarantb.com) – Empat Investor disebut mengincar objek wisata Sunrise Land Lombok (SLL). Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) sedang melakukan penilaian mendalam terhadap sejumlah investor yang berminat mengelola kawasan wisata yang dibangun oleh Pemda Lotim. Proses ini dilakukan setelah kontrak pengelolaan sebelum berakhir tanpa adanya perpanjangan dari pengelola lama.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim, Widayat menjelaskan, bahwa aset wisata daerah tersebut saat ini dalam tahap evaluasi oleh Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TK-KSD). Penilaian ini melibatkan beberapa pihak untuk memastikan transparansi dan keputusan terbaik bagi daerah.

“Kita tidak bekerja sendiri. Ada beberapa investor yang sedang dinilai, termasuk yang lama dan beberapa calon baru, totalnya ada empat,” jelas Widayat, menjawab Suara NTB, Selasa (13/1/2026).

Dia menegaskan bahwa kriteria pemilihan investor tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial (profit oriented), tetapi lebih pada keberlanjutan (sustainable oriented) dan dampak bagi masyarakat. Pemerintah ingin memastikan destinasi wisata itu dapat menarik wisatawan secara kualitas dan kuantitas.

Mengenai berakhirnya kontrak dengan pengelola sebelumnya, Widayat memberikan penjelasan. Menurutnya, seharusnya perpanjangan kontrak diajukan paling lambat tiga bulan sebelum berakhir. Namun, hingga batas waktu 31 Desember 2025, tidak ada pengajuan sama sekali dari pihak pengelola lama, yang disebutnya sebagai SLL.

Keempat calon investor yang sedang dalam proses penilaian tersebut beragam latarnya. Salah satunya adalah sebuah perusahaan dari Jakarta yang berpengalaman mengelola kawasan seperti Ancol. Ada juga kelompok pemuda lokal dan investor dari luar daerah lainnya.

Widayat menyampaikan harapan agar aset daerah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesehatan ekonomi masyarakat. Dari kontrak sebelumnya, Pemda Lotim hanya menerima sekitar Rp50 juta per tahun. Untuk masa depan, harapannya tentu lebih besar.

“Harapannya lebih dong, kalau bisa satu miliar harapan kami. Tetapi yang logisnya kami masih menunggu penilaian dari TK-KSD, berapa pantasnya aset itu dihargai,” imbuhnya.

Kawasan wisata yang luasnya sekitar 4 hektare itu rencananya akan ditata ulang. Pemerintah berkomitmen untuk mengikuti master plan yang telah dibuat oleh Kementerian Pariwisata, baik dengan investor baru maupun lama yang akan terpilih nanti.

Proses penilaian oleh TK-KSD ini menjadi penentu bagi masa depan kawasan wisata tersebut, dengan tujuan akhir menciptakan destinasi yang berkelanjutan dan memberi manfaat optimal bagi masyarakat Lombok Timur.

Harapkan Tetap Berlanjut

Direktur SLL, Qori’ Bayyinaturrosy saat dikonfirmasi menyampaikan harapannya tetap berlanjut kontraknya sisa satu tahun 2026 saja. Dia sampaikan, niatan awalnya memang akan mengakhiri masa kontraknya pada tahun ini. Dimana, semua yang sudah disiapkan dalam master plan sudah diimplementasikan.

“Secara pribadi, semua konsep saya sudah terealisasi. Dan saya sendiri sudah ada niat lama mau mundur dari Direktur SLL,” ungkapnya.

Untuk tahun 2027 dipastikan tidak akan dilanjutkan lagi. Akan tetapi, kalau ada kebijakan Bupati yang memberikan masa perpanjang lebih lama, akan dipertimbangkan. Masa kontrak yang lebih panjang akan memudahkan pengelola lebih leluasa untuk menata objek wisata bahari tersebut menjadi lebih baik.

Menurut Qori’, Dispar tidak etis melalukan tindakan pemutusan kontrak secara sepihak. Dikatakan, sebenarnya sudah lama mengajukan permohonan kontrak dan sudah disiapkan dokumen perpanjangan 2026 dan sudah siap diteken. Akan tetapi dibatalkan secara sepihak.

Direktur SLL ini meminta diberikan masa transisi tiga bulan ke depan jika dipaksa untuk tetap meninggalkan SLL. Ditambahkan, sejumlah pengelola sudah memilih keluar dan menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Disebutkan, jumlah karyawan tetap 24 orang dan tidak tetap 28 orang. Sebagian besar karyawan juga merupakan warga sekitar Labuhan Haji. (rus)

Jelang Panen Raya Jagung, DPRD NTB Minta Pemprov Hadir Jaga Stabilitas Harga

0
Hulaemi (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Anggota Komisi II DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Hulaemi, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk menyiapkan gudang penyimpanan jagung menjelang panen raya kuartal I tahun 2026 yang telah mulai berlangsung di sejumlah wilayah.

DPRD memprediksi hasil panen tahun ini akan melimpah, sehingga diharapkan menjadi momentum penguatan ketahanan pangan, sekaligus ujian bagi kesiapan pemerintah daerah dalam melindungi petani dari permainan harga oleh tengkulak dan spekulan.

“Kebutuhan jagung dalam negeri sangat tinggi. Bahkan pabrik pengolahan jagung masih sering impor. Artinya, sebenarnya hasil produksi dalam negeri bisa terserap semua,” kata Hulaemi pada Selasa (13/1/2026).

Ia menilai, kekhawatiran harga jagung anjlok saat panen raya semestinya tidak terjadi jika pemerintah hadir sejak awal. Hulaemi menekankan kunci utamanya adalah kesiapan gudang dan penyerapan hasil panen, khususnya oleh Bulog.

“Kemungkinan harga jagung turun itu kecil, apalagi kalau pemerintah turun tangan. Ketika harga ditekan tengkulak, pemerintah harus langsung menyerap hasil panen,” ujarnya.

Sebagi seorang yang berlatar belakang pengusaha, Hulaemi menilai pengendalian harga jagung sebenarnya bukanlah hal yang sulit, selama ada sikap tegas dari pemerintah dan keberpihakan yang jelas kepada petani.

“Pemerintah bisa mengatur pabrik pengolahan jagung agar membeli dari Bulog. Kalau tidak mau, izinnya bisa dicabut. Sebenarnya mudah, asal ada kemauan,” katanya.

Saat ini, harga jagung di tingkat petani dan pasar disebut berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, menurutnya harga tersebut terlalu tinggi dan berpotensi memberatkan sektor lainnya, yakni khususnya peternak ayam petelur. “Idealnya harga di kisaran Rp5.500. Kalau terlalu tinggi, peternak menjerit. Ini harus dijaga keseimbangannya,” ujar Hulaemi.

Hulaemi mengingatkan pengalaman tahun sebelumnya, ketika harga jagung dipermainkan atau diatur oleh spekulan, yang justru mengakibatkan harga jagung melonjak terlalu tinggi di pasaran karena pemerintah terlambat melakukan penyerapan dengan alasan keterbatasan gudang.

Hingga hal tersebut pun membuat para peternakan ayam petelur dan sebagainya menjerit, lantaran harga pakan mahal. “Tahun lalu harga melonjak karena pemerintah terlambat menyerap panen dengan alasan gudang tidak tersedia. Ke depan, gudang harus dipersiapkan sejak sekarang, jangan menunggu panen,” tegasnya.

Jika pemerintah benar-benar serius berada di pihak petani, dengan menyiapkan gudang penyimpanan kemudian menyerap hasil panen lebih awal, Hulaemi menilai hal tersebut akan tetep menempatkan NTB pada posisi strategis dalam mendukung ketahanan dan swasembada pangan nasional.

Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan visi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Damayanti Putri dalam salah satu triple agendanya, yakni ketahanan pangan. “Petani adalah pahlawan pangan. Mereka harus dihargai dengan menjaga harga hasil panennya,” pungkasnya. (ndi)

Targetkan 8.125 Titik, Program “Tempah Dedoro” Butuh Anggaran Rp8 Miliar

0
Targetkan 8.125 Titik, Program “Tempah Dedoro” Butuh Anggaran Rp8 Miliar
H. Lalu Alwan Basri

Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram akan mengalokasikan anggaran untuk memperluas cakupan program Tempah Dedoro dengan target pembangunan 8.125 titik yang tersebar di 50 kelurahan. Program ini disiapkan sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah dari hulu dengan mengkombinasikan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta optimalisasi dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengatakan sebagai langkah awal pada tahun 2026, pemerintah telah menyiapkan dana stimulan sebesar Rp5 juta untuk setiap kelurahan. Dana tersebut diharapkan menjadi pemantik partisipasi masyarakat untuk membangun minimal lima unit Tempah Dedoro di setiap lingkungan.

“Kami sudah menganggarkan dana stimulan untuk kelurahan, masing-masing Rp5 juta. Ini untuk mendorong masyarakat mulai bergerak,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Untuk menguji efektivitas program secara masif, Pemkot Mataram menetapkan Kelurahan Karang Baru sebagai pilot project atau proyek percontohan. Di wilayah tersebut, partisipasi masyarakat dinilai cukup tinggi, terbukti dengan terbangunnya 25 titik Tempah Dedoro secara swadaya hanya dalam satu lingkungan.

“Karang Baru akan menjadi percontohan. Di sana ada sembilan lingkungan, dan kita targetkan masing-masing lingkungan memiliki 25 titik. Kita akan evaluasi efektivitasnya dalam enam bulan ke depan sebelum diterapkan secara masif di seluruh kelurahan,” jelas Alwan.

Ia merincikan, untuk menuntaskan persoalan sampah di hulu secara optimal, satu lingkungan idealnya memiliki 25 titik Tempah Dedoro. Dengan total sekitar 325 lingkungan di Kota Mataram, maka kebutuhan keseluruhan mencapai 8.125 titk.

“Jika satu titik kita estimasikan sekitar Rp1 juta, maka kebutuhan anggaran secara keseluruhan mencapai kurang lebih Rp8 miliar. Ini hitungan ideal agar sampah organik benar-benar dapat ditangani di tingkat lingkungan,” tambahnya.

Mengingat besarnya kebutuhan anggaran tersebut, Alwan menegaskan Pemkot Mataram tidak hanya bergantung pada APBD. Saat ini, pemerintah tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak melalui dana CSR, baik dari perbankan, BUMN, maupun BUMD yang beroperasi di Kota Mataram.

Sementara itu, Wali Kota Mataram Dr. H. Mohan Roliskana menegaskan Tempah Dedoro merupakan salah satu strategi utama pemerintah kota dalam mereduksi sampah dari sumbernya. Menurutnya, meskipun Mataram telah memiliki insinerator serta merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, pengelolaan dari hulu tetap menjadi kunci.

“Kita sudah memiliki insinerator dan rencana pembangunan TPST Sandubaya. Namun, jika pengelolaan dari hulunya tidak dilakukan dengan baik, maka hasilnya tidak akan maksimal. Tempah Dedoro ini menjadi salah satu alternatif strategis,” ujarnya.

Berdasarkan hasil evaluasi di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Mohan menyebut produksi sampah rata-rata mencapai 200 kilogram per hari. Setelah diterapkan 25 titik Tempah Dedoro, volume sampah berhasil direduksi hingga 50 persen.

“Dari sekitar 200 kilogram per hari, bisa ditekan menjadi 100 kilogram. Ini capaian yang sangat signifikan hanya dari satu lingkungan. Karena efektivitasnya nyata, program ini akan kita perluas,” pungkasnya. (pan)