Beranda blog Halaman 75

Harga Meningkat, Petani Tembakau di Lobar Butuh Bantuan Alsintan

0
Harga Meningkat, Petani Tembakau di Lobar Butuh Bantuan Alsintan
(EKBIS NTB/ist) PANEN TEMBAKAU - Petani di Telaga Lebur Kebon Sekotong Lobar sedang memanen tembakau.

Giri Menang (EKBIS NTB) – Petani tembakau di Lombok Barat (Lobar) sedang sumringah. Lantaran harga “emas putih” ini sedang bagus-bagusnya. Harga tembakau diperkirakan meningkat pada musim kemarau ini hingga 20 persen dibanding tahun lalu.


Peningkatan harga ini dipicu beberapa faktor, di antaranya petani yang menanam tidak terlalu banyak karena khawatir merugi dampak hujan seperti tahun lalu. Permintaan terhadap tembakau dari konsumen juga tinggi atau meningkat.


Ketua Poktan Bertekad Mau Maju Dusun Penarukan Daye, Ramilah mengatakan, harga tembakau di tingkat petani saat ini Rp60 ribu per satu tumpi dengan berat 0,75 Kilogram. “Naik harga tembakau, itu lumayan bagi kami,” katanya, Kamis (10/9/2026).


Dibanding tahun lalu, kenaikan harga tembakau mencapai 20 persen. Kenaikan harga disebabkan, petani yang menanam tembakau sedikit tidak seperti tahun lalu.


Tahun 2024 penanaman tembakau relatif lancar, sehingga produksi meningkat. Harga pun relatif mahal, tembakau hitam hingga Rp70 ribu per tumpi. Sedangkan kasturi harganya Rp55-60 ribu. Namun, ketika musim tanam 2025, banyak petani yang menanam. Namun, produksi anjlok karena cuaca yang tidak bersahabat.


“Nah sekarang ini tidak banyak yang menanam, dia kira seperti tahun lalu. Tahu-tahunya sekarang, belum dimasukkan ke plastik pengepul sudah antre mau mengambil,” katanya.


Tahun ini kalau khusus untuk tembakau kasturi (rokok), tidak seperti tahun 2025. Kalau tahun ini, tembakau kasturi permintaan dari konsumen tinggi. Bahkan, begitu selesai dijemur, para pengepul sudah antre untuk membeli.


Para pengepul ini berasal dari daerah Paok Kambut dan Bengkel Lombok Barat. Mereka membeli ke petani dengan harga Rp60 ribu per tumpi tetapi dijual lebih tinggi hingga Rp100 ribu satu tumpinya. Diakui para petani tidak menjual tembakau ke perusahaan, karena belum ada mitra dengan perusahaan.


Selain itu, petani di daerah itu juga mengembangkan tembakau lokal seperti jenis kasturi dan layur besar (hitam), sedangkan untuk perusahaan mengembangkan jenis tembakau simporis. Di daerah itu, 80 persen menanam tembakau dari luas areal taman di daerah itu. Ada juga yang menanam padi dan jagung.


Hasil produksi total kalau dihitung satu hektare, dengan rata-rata berat tembakau hitam satu Tumpi 0,85 kilogram maka hasil panen mencapai sekitar 1 ton lebih. Ongkos produksi tanaman tembakau dalam satu hektar sebesar Rp15 juta.


Kalau dibanding dengan hasil produksi, untung yang diperoleh dalam satu periode tanam rata-rata dengan 20-25 are tembakau kasturi bisa mencapai Rp11-12 juta setelah dipotong biaya produksi. Namun, risiko rugi akibat cuaca hujan, petani bisa merugi lebih dari belasan juta.
Diakui, sejauh ini intervensi dari Dinas Pertanian sudah ada. Kendati perlu lebih ditingkatkan lagi.


Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Beriuk Kemos Dusun Telaga Lebur Desa Sekotong Tengah, Mahnun menyampaikan harga tembakau untuk tahun ini bagus. Tetapi kalau dihitung dengan mahalnya biaya perawatan masih belum layak atau sebanding.
“Harga jual rata-rata tahun ini Rp37 ribu per kilogram, tergantung kualitas tembakaunya,” ujarnya.


Terdapat kenaikan harga sekitar Rp7 ribu. Dikatakan, produksi tembakau kali ini lebih sedikit disebabkan cuaca terlalu panas. Dampaknya petani mengalami kekurangan air untuk menyiram tanaman tembakau. Jumlah petani yang menanam tembakau pun berkurang menjadi 10 orang dengan luasan 0,50 hektare. Petani setempat bermitra dengan PT Sadana Arif Nusa Lombok Timur, menanam varietas somporis.


Dalam pengembangan tanaman tembakau ini petani setempat mengalami kendala kurangnya fasilitas Alat Mesin Pertanian (Alsintan), sehingga biaya produksi petani semakin membengkak.

Beberapa alat yang menjadi kendala dan dibutuhkan petani, seperti kultivator untuk mengurangi biaya pendangiran. Selain itu, sumur bor untuk pengairan tembakau di saat kemarau panjang seperti sekarang ini.


Petani juga tidak mendapatkan pupuk subsidi khusus untuk tanaman tembakau. “Jadi kami berharap mendapatkan pupuk subsidi,” harap dia.


Sejauh ini, intervensi yang sudah dilakukan Dinas Pertanian seperti pemberian pupuk dan obat-obatan, bibit tembakau lokal yang berkualitas dan peningkatan kapasitas bagi pengurus kelompok tani tembakau.


Sementara itu, Sekretaris Dinas pertanian Lobar Muhammad Taufik, S.P., M.Ling., menyebutkan luas areal tembakau pada tahun 2025 mencapai 814,22 hektar dengan produksi 1.040,82 ton. Rata-rata produksi sekitar 1,25 ton per hektare. “Areal tanaman tembakau ini tersebar di 23 desa di 5 kecamatan,” sebutnya.


Berbagai intervensi dilakukan pihak dinas, di antaranya memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan tembakau.


Seperti bibit tembakau berkualitas, pupuk dan pestisida, hand traktor roda dua, hand sprayer, kendaraaan roda tiga, alat perajang tembakau, para-para, kultivator, pembangunan gudang tembakau dan lainnya. Selain itu, dilakukan pendampingan pada petani yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian, PPL, tenaga ahli dari BRIN dan dari pihak swasta seperti PT Sadana Arif Nusa. (her)

Kekeringan dan Kebakaran Meningkat, Warga di Kawasan Pariwisata Batulayar Berebut Air dengan Damkar

0
Kekeringan dan Kebakaran Meningkat, Warga di Kawasan Pariwisata Batulayar Berebut Air dengan Damkar
(EKBIS NTB/ist) AMBIL AIR - Warga mengambil air di sumur bor Kantor Camat Batulayar. Bencana kekeringan memicu sejumlah persoalan di daerah Batulayar, Lombok Barat.

Giri Menang (EKBIS NTB) – Dampak bencana kekeringan memicu sejumlah persoalan di daerah Batulayar, Lombok Barat. Selain krisis air bersih melanda ribuan penduduk, kekeringan juga memuicu kejadian kebakaran. Bahkan, akibat krisis air dan kebakaran ini, warga harus berebut air dengan tim Damkar yang harus melakukan penyelamatan kejadian kebakaran.


Camat Batulayar, H. M. Subayyin Fikri mengatakan, untuk penanganan jangka pendek pihaknya menyiapkan sumur bor di kantor kecamatan. Namun, kondisi sumur bor masih dangkal, sehingga ketika di saat bersamaan membutuhkan air menjadi kendala tidak bisa terpenuhi dari sumur bor tersebut.


Bahkan, pernah terjadi warga mengambil air bersamaan dengan tim Damkar yang juga membutuhkan air untuk penanganan kebakaran. “Warga ribut dengan Damkar. Karena waktu itu damkar mau ambil air di tandon kecamatan yang sangat terbatas, warga juga butuh ambil air,” kata dia, Kamis (10/9/2026).


Pihaknya sendiri tidak menyalahkan keduanya, karena kebutuhan bagi kedua-duanya dinilai sangat urgen. Damkar butuh air untuk penyelamatan, sedangkan warga juga membutuhkan air untuk kehidupan. Untuk mengantisipasi kejadian itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Damkar dan Bapperida. Pihaknya meminta agar dibangun sumur lagi di kantor camat khusus untuk Damkar. “Mudah-mudahan disetujui,” harapnya.


Pihaknya berharap agar bisa disetujui pada APBD perubahan ini untuk menangani kebakaran, karena kasus kebakaran di Batulayar nomor dua tertinggi di Lombok Barat. “Karena Batulayar nomor dua kejadian kebakaran (tertinggi), setelah Gerung,” ujarnya.


Terlebih dalam penanganan kebakaran terkendala pasokan air. Seperti halnya pada waktu penanganan kebakaran di Locco, untungnya tersedia sumur hotel sehingga bisa diambil dari sana. Namun, kata dia, tidak bisa terus menerus bergantung ke hotel. Karena itu pihaknya sangat membutuhkan air untuk penanganan kebakaran.


“Saya susah komunikasi juga dengan Bapperida agar diatensi untuk pengeboran di areal kantor camat. Kami sudah ada titiknya, itu menjadi solusi untuk pengambilan air Damkar dan bisa juga dimanfaatkan oleh masyarakat,” imbuhnya. (her)

Puso di NTB Disebut Jauh di Bawah Ambang Batas

0
Puso di NTB Disebut Jauh di Bawah Ambang Batas
(EKBIS NTB/bul) Lalu Mirza Amir Hamzah

Mataram (EKBIS NTB) – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah NTB belum berdampak signifikan terhadap tanaman pangan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB mencatat luas tanaman yang mengalami puso masih sangat kecil.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengatakan dampak kekeringan terhadap tanaman padi dan jagung masih berada jauh di bawah ambang batas puso.


“Memang ada kekeringan, tetapi yang masuk laporan untuk padi dan jagung tidak signifikan mengalami puso. Hampir 98 persen dapat teratasi,” kata Mirza, Jumat (11/9/2026).


Menurutnya, langkah antisipasi dilakukan melalui Brigade Pangan yang memiliki peralatan seperti traktor dan pompa. Ketika terdapat areal yang membutuhkan pasokan air, pompa dapat langsung didistribusikan untuk menyelamatkan pertanaman.


Selain Brigade Pangan, UPTD Perlindungan Tanaman juga memberikan pelayanan pinjam pakai pompa kepada petani. Salah satunya dilakukan di wilayah Kuripan, Lombok Barat, untuk menjaga pertanaman tetap mendapatkan pasokan air.


Mirza mengatakan, antisipasi kekeringan tidak hanya dilakukan setelah tanaman mengalami kekurangan air. Petani sejak awal telah diarahkan untuk menyesuaikan komoditas dengan kondisi ketersediaan air.


Petani diimbau tidak memaksakan menanam padi apabila pasokan air tidak mencukupi. Lahan tetap dapat dimanfaatkan dengan menanam komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan lebih sedikit air.


“Jangan sampai lahan dibiarkan kosong. Banyak komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sedikit membutuhkan air,” ujarnya.
Komoditas yang dinilai sesuai untuk musim kemarau antara lain jagung, cabai, bawang, dan tembakau. Penyesuaian pola tanam tersebut melibatkan penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), petugas pengawas benih tanaman (PBT), hingga pekaseh.


Pemantauan ketersediaan air juga dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) NTB.


Mirza menyebutkan laporan dampak kekeringan berasal dari sejumlah daerah. Di Dompu terdapat sekitar 10 hektare tanaman padi yang terdampak, sedangkan di Gerung dan Kuripan, Lombok Barat, sekitar 20 hektare.


Namun, seluruh areal tersebut masih dapat diselamatkan sehingga tidak menjadi puso. Sementara tanaman yang benar-benar mengalami puso tercatat di Sumbawa.


“Kalau dihitung, masih di bawah satu persen dari luas areal. Jadi sangat jauh dari ambang batas,” katanya.


Kondisi tersebut, menurut Mirza, menunjukkan langkah antisipasi yang dilakukan petugas bersama petani cukup efektif dalam menekan dampak kekeringan.


Di tengah kekeringan yang diperkirakan berlangsung panjang hingga 2027, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB terus memantau ketersediaan air dan kondisi pertanaman.


Mirza mengatakan, berdasarkan potensi produksi yang dihitung bersama BPS, produksi gabah kering giling (GKG) NTB hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 1,66 juta ton.


“Angka tetap nanti setelah periodenya lewat. Tetapi potensi 1,66 juta ton dari Januari sampai Oktober itu tidak akan jauh berbeda,” jelasnya.


Produksi jagung juga diproyeksikan tetap aman. Hingga Oktober 2026, produksi jagung diperkirakan mencapai sekitar 1,1 juta ton pipilan kering dengan kadar air 14 persen.


Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1,2 juta ton. Namun, Mirza memastikan kondisi tersebut belum mengganggu ketersediaan pangan NTB. “Insyaallah aman,” pungkasnya.(bul)

Dukung Revitalisasi RTH Selagalas

0
Dukung Revitalisasi RTH Selagalas
(EKBIS NTB/dok) Herman Fanani


RENCANA revitalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Selagalas mendapat dukungan dari DPRD Kota Mataram. Penataan kembali kawasan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat sekaligus mempertahankan fungsi RTH sebagai ruang publik dan tempat aktivitas warga.


Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, Herman Fanani, A.Md., mengatakan RTH Selagalas saat ini telah menjadi salah satu destinasi yang cukup diminati masyarakat Kota Mataram, khususnya warga yang tinggal di wilayah sekitar.


Menurutnya, kawasan tersebut ramai dimanfaatkan masyarakat, terutama pada hari libur. Selain menjadi ruang rekreasi, RTH Selagalas juga digunakan warga sebagai lokasi berolahraga, khususnya pada pagi hari.


“RTH di Selagalas itu memang sudah menjadi salah satu destinasi masyarakat Kota Mataram, khususnya wilayah sekitar, terutama di hari libur. Dan juga dimanfaatkan untuk berolahraga di pagi hari,” ujar Herman kepada Suara NTB, kemarin.


Karena itu, apabila Penkot Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan melakukan revitalisasi, Herman menyatakan dukungannya. Ia menilai penataan yang dilakukan secara baik akan memberikan kenyamanan bagi masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik tersebut.


“Kalau memang akan ada revitalisasi, dalam hal ini saya mendukung sekali. Kalau sudah ditata dengan baik, aktivitas masyarakat juga nyaman,” katanya.


Politisi PPP inj menyebut manfaat keberadaan RTH Selagalas tidak hanya dirasakan oleh pengunjung. Kawasan tersebut juga memberikan dampak bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang beraktivitas di sekitar lokasi.


Selain itu, masyarakat yang memanfaatkan RTH untuk berolahraga maupun sekadar menikmati ruang terbuka juga akan mendapatkan manfaat dari revitalisasi apabila dilakukan sesuai kebutuhan.


Namun, Herman mengingatkan agar rencana revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Menurutnya, aspek pemeliharaan atau maintenance harus menjadi bagian penting yang dipikirkan sejak awal.


“DLH juga harus berpikir tentang biaya pemeliharaannya. Jangan sampai cuma bisa membangun saja, tanpa memikirkan pemeliharaan atau maintenance,” tegasnya.


Ia berharap revitalisasi RTH Selagalas benar-benar dilakukan berdasarkan kebutuhan dan disertai perencanaan pemeliharaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, hasil penataan dapat bertahan dalam jangka panjang dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, revitalisasi ini harus betul-betul berdasarkan kebutuhan,” pungkas anggota dewan dari Dapil Cakranegara ini. (fit)

Pengusaha Hotel: Konvoi Bermotor Bikin Tamu Takut

0
Pengusaha Hotel: Konvoi Bermotor Bikin Tamu Takut
Tangkapan layar konvoi bermotor yang diduga membawa sajam saat berkonvoi malam hari di Mataram. (EKBIS NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) – Keamanan dan kenyamanan Kota Mataram dinilai mulai terganggu oleh maraknya aksi kelompok yang berkonvoi mengendarai sepeda motor dengan diduga bersenjata tajam (Sajam) yang berkeliaran saat malam. Fenomena ini bahkan mulai dikeluhkan tamu hotel karena merasa khawatir saat datang ke Mataram pada malam hari.


Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Made Adyasa, menyampaikan, sejumlah tamu hotel yang melakukan check-in tengah malam mengaku takut setelah melihat kelompok pengendara motor berkumpul dan berkonvoi di sejumlah ruas jalan.


“Sering tamu yang check-in tengah malam mengeluhkan itu. Mereka melihat banyak konvoi motor dan merasa takut,” kata Made Adyasa, Jumat, 11 September 2026.


Made mengatakan, informasi mengenai keberadaan kelompok tersebut justru banyak diketahuinya dari keluhan tamu hotel. Beberapa tamu yang datang sekitar pukul 01.00 Wita hingga 01.30 Wita mengaku melihat kelompok pengendara motor berkumpul di sejumlah titik.
Menurutnya, keberadaan kelompok tersebut tidak hanya menyangkut persoalan keamanan, tetapi juga dapat berdampak terhadap citra Kota Mataram sebagai kota jasa dan tujuan wisata.


Ia menyebut kawasan Udayana dan sejumlah titik di jalur selatan Mataram menjadi lokasi yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, sebagian kelompok tersebut diduga berasal dari wilayah luar Kota Mataram dan kemudian berkumpul di kawasan kota.
“Walaupun mereka belum tentu menyerang tamu, image kota kita jadi jelek. Apalagi kita ini kota jasa,” ujarnya.


Made meminta aparat keamanan bersama Pemerintah Kota Mataram lebih serius mengantisipasi aktivitas geng motor, terutama pada malam hingga dini hari.


Salah satu langkah yang dinilai perlu dilakukan adalah mengaktifkan kembali pos-pos pengamanan di lokasi yang rawan menjadi tempat berkumpulnya kelompok tersebut. Patroli malam juga dinilai perlu diperkuat, termasuk di sejumlah titik perbatasan.


“Kalau bisa patroli malam itu wajib dilakukan. Jangan sampai mereka leluasa membawa senjata dan membuat masyarakat takut,” katanya.
Menurut Made, keresahan tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat. Ia bahkan mengaku pernah melihat kelompok pengendara motor membawa senjata tajam saat melintas pada malam hari.


Kondisi tersebut, lanjutnya, juga membuat aktivitas warga pada dini hari menjadi lebih mengkhawatirkan. Terlebih masih banyak masyarakat yang berolahraga atau melakukan aktivitas lain pada waktu tersebut.


Made menilai pemberitaan dan penyebaran video aksi geng motor melalui media sosial juga berpotensi memperburuk citra Mataram. Apalagi, informasi mengenai aksi tersebut dapat dengan cepat menyebar dan diketahui calon wisatawan maupun pelaku usaha dari luar daerah.


“Media sosial ini siapa yang bisa kontrol? Itu yang membuat imej kota kita kurang baik,” ujarnya.


Ia berharap persoalan tersebut segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan mengganggu sektor pariwisata serta iklim usaha di kota jasa ini. (bul)

Maulid Nabi di SMK PP Negeri Mataram: Meneladani Rasul, Menjaga Warisan Kuliner Lokal

0

Mataram (ekbisntb.com) – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMK PP Negeri Mataram, Jumat (11/9/2026), tidak sekadar diisi tausiah dan doa. Momentum keagamaan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mengenalkan kepada siswa pentingnya menjaga pangan, mengurangi pemborosan makanan, serta melestarikan kuliner lokal Lombok.
Suasana Maulid terasa berbeda ketika siswa dan guru menyajikan dulang berisi beragam makanan tradisional. Sajian tersebut kemudian dinikmati secara begibung, yakni makan bersama dalam satu wadah.
Dalam satu dulang terdapat nasi, ares, sayur nangka, sate pusut, ebatan, pelalah daging, garam, serta buah. Satu dulang dinikmati dua orang.
Menariknya, sebagian besar makanan tersebut diolah langsung oleh siswa dengan pendampingan guru dan praktisi pengolahan pangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas bagi siswa SMK PP Negeri Mataram.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza, mengatakan peringatan Maulid menjadi momentum untuk menanamkan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada generasi muda.
“Maulid ini untuk memperingati suri teladan Nabi Muhammad. Kita berharap anak-anak sebagai generasi penerus mengikuti apa yang menjadi teladan Nabi, karena keteladanan beliau tercermin dalam semua sisi kehidupan,” katanya.
Menurut Mirza, pelestarian tradisi Maulid juga penting karena telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Lombok. Karena itu, kegiatan keagamaan di sekolah diharapkan tidak hanya berorientasi pada ritual, tetapi juga menjadi sarana merawat budaya lokal.
Belajar Tidak Boros Pangan
Mirza juga mengaitkan peringatan Maulid dengan upaya menjaga ketahanan pangan. Salah satunya melalui kebiasaan mengonsumsi makanan secara bijak dan tidak berlebihan.
“Dalam agama kita dianjurkan jangan boros dalam makan. Itu juga bagian dari mempertahankan ketahanan pangan, terutama untuk menghentikan pemborosan pangan,” ujarnya.
Menurutnya, makanan yang disajikan dalam jumlah banyak tetap harus dikonsumsi secara bijak agar tidak berakhir menjadi sampah.
Di sisi lain, penggunaan bahan pangan lokal dalam sajian Maulid dinilai memberikan pelajaran penting kepada siswa. Mereka tidak hanya mengenal makanan tradisional, tetapi juga belajar mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Anak-anak belajar memasak sehingga setelah tamat mereka punya keterampilan. Tidak hanya teori di kelas, tetapi juga praktik yang bisa bermanfaat untuk membuka usaha rumah makan dan usaha lainnya,” katanya.
Siswa Belajar Mengolah Kuliner Tradisional
Kepala SMK PP Negeri Mataram, Sugiarta, mengatakan rangkaian Maulid tahun ini melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan, mulai dari lomba keagamaan, kebersihan lingkungan, makanan sehat, hingga pengolahan pangan.
Khusus pengolahan pangan, siswa dibagi dalam sejumlah kelompok. Mereka mengolah sayur ares, nangka, sate pusut, makanan ringan Maulid, serta minuman es kelapa muda dengan gula aren.
“Ini edukasi dan pendidikan. Anak-anak belajar mengolah pangan lokal sekaligus menjaga tradisi dan kearifan lokal,” jelasnya.
Kegiatan tersebut dikoordinasikan jurusan Pengolahan Hasil Pangan dengan melibatkan pelaku usaha sebagai guru tamu. Salah satunya, Zainab dari Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah yang mendampingi siswa dalam praktik memasak.
Bahan yang digunakan juga disiapkan dari lingkungan dan sekolah. Untuk membuat sate pusut, misalnya, sekolah menyediakan sekitar 15 kilogram daging. Sementara untuk olahan lainnya digunakan nangka dan batang pisang muda atau gedebog.
Sugiarta mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi media pembelajaran keterampilan bagi siswa.
“Jadi tidak sekadar merayakan Maulid, tetapi ada edukasi. Anak-anak belajar bagaimana makanan lokal ini diolah,” katanya.
Santunan 200 Paket
Selain kegiatan keagamaan dan pengolahan pangan, sekolah juga memberikan santunan kepada anak yatim dan anak kurang mampu dari lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar Labuapi.
Santunan tersebut dihimpun dari guru, pegawai, dan alumni. Tahun ini terkumpul sekitar 200 paket santunan.
“Kita berikan kepada anak-anak yatim, piatu, maupun anak yang memang berhak menerima infak,” ujar Sugiarta.
Dengan rangkaian tersebut, Maulid di SMK PP Negeri Mataram tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai keagamaan, kepedulian sosial, keterampilan siswa, ketahanan pangan, serta pelestarian kuliner lokal dipadukan dalam satu kegiatan.(bul)

Delapan WNA Cina Diamankan di Tambang Rakyat

0
Delapan WNA Cina Diamankan di Tambang Rakyat
(EKBIS NTB/ils) Abdul Haris


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)– Kantor Imigrasi kelas II TPI Sumbawa berhasil mengamankan delapan orang Warga Negara Asing (WNA) asal Cina di lokasi pertambangan rakyat di Desa Belo, Kecamatan Jereweh. Mereka diduga melakukan pelanggaran keimigrasian dengan menyalahi izin bekerja yang dikantongi.


“Mereka kita amankan pada hari Senin (7/9) saat mereka melakukan aktivitas di lokasi pertambangan rakyat. Saat ini,mereka sudah kita tahan di rumah detensi untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata Kasi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Tikkim), Abdul Haris kepada wartawan, Kamis (10/9).


Haris melanjutkan, pemeriksaan terhadap yang bersangkutan juga terus dilakukan sekaligus mendalami peran mereka masing-masing. Pihaknya juga saat ini masih menunggu keputusan dari pimpinan untuk proses lebih lanjut terhadap WNA asal Cina tersebut.


Berdasarkan hasil pemeriksaan awal lanjutnya, delapan orang WNA ini diduga melakukan pelanggaran izin tinggal di wilayah Indonesia. Haris mencontohkan, izin tinggal mereka bekerja di salah satu perusahaan tertentu, tetapi mereka malah bekerja di perusahaan yang lain.
“Di aturan sudah sangat jelas tidak boleh bekerja selain lokasi kerja yang ditetapkan sesuai izin tinggal yang mereka dapatkan dari pemerintah,” jelasnya.


Ia menegaskan, saat diamankan mereka sedang bekerja di tambang rakyat yang berada di Desa Belo, Kecamatan Jereweh. Padahal secara regulasi mereka tidak boleh berpindah tempat kerja sesuai dengan izin tinggal yang mereka kantongi dari pemerintah Indonesia.


Penegakan terhadap aturan keimigrasian merupakan bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Imigrasi dalam mendukung transformasi layanan keimigrasian yang profesional, transparan, dan berintegritas. Langkah ini juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak memberikan toleransi bagi pelanggaran keimigrasian.

“Kami mengimbau kepada seluruh WNA agar senantiasa mematuhi aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Siapa pun yang terbukti melanggar, akan kami tindak sesuai ketentuan hukum keimigrasian,” tukasnya. (ils)

Diskoperindag Periksa Takaran BBM di SPBU

0
Diskoperindag Periksa Takaran BBM di SPBU
(EKBIS NTB/ist) PENGECEKAN - Petugas Diskoperindag Kota Bima melakukan pengecekan dan tera ulang nozzle pompa BBM di SPBU Amahami pada, Kamis (10/9)


Kota Bima (EKBIS NTB) – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bima melakukan pemeriksaan terhadap takaran bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada, Kamis (10/9). Dua selang pengisian ditemukan rusak,sehingga tidak bisa dilakukan pengujian.


Kepala Diskoperindag Kota Bima, Ruslan mengatakan pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap takaran bahan bakar minyak SPBU. Dari hasil pemeriksaan ditemukan dua nozzle atau selang pengisian bahan bakar rusak, sehingga tidak bisa dilakukan pengujian atau tera ulang. “Dua nozzle kita temukan rusak,” jelasnya pada, Kamis (10/9).


Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan alat ukur pada pompa BBM memberikan hasil pengukuran sesuai ketentuan. Selain menguji volume BBM yang dikeluarkan, tim Metrologi Legal Diskoperindag memeriksa kondisi fisik dan kelengkapan pompa ukur, tanda tera serta kawat segel pada dispenser.


Hasil pemeriksaan menunjukkan 20 nozzle yang diuji masih berada dalam BKD. Kawat segel pada pompa ukur juga ditemukan dalam kondisi baik dan tidak terdapat segel yang terputus.


Ruslan mengatakan hasil tersebut menunjukkan alat ukur yang diperiksa masih memenuhi ketentuan. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan secara berkala untuk memastikan kondisi alat ukur tetap terjaga.


“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa alat ukur yang diuji memenuhi batas kesalahan yang diizinkan. Ini merupakan hal yang positif,” katanya.


Tim juga tidak menemukan pemasangan alat atau rangkaian elektronik tambahan berupa Printed Circuit Board (PCB) yang dapat memengaruhi hasil pengukuran.


Menurut Ruslan, pengawasan terhadap alat ukur diperlukan untuk menjaga kepastian ukuran dalam transaksi BBM sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen.


“Namun, pengawasan tetap perlu dilakukan secara berkala agar alat ukur yang digunakan dalam transaksi senantiasa memenuhi ketentuan,” ujarnya.


Tera dan tera ulang merupakan bagian dari pelaksanaan metrologi legal sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan alat ukur yang digunakan dalam transaksi perdagangan memberikan hasil pengukuran yang benar. (hir)


Masuk Tahap Uji Kelayakan, Mall Hybrid Mantika Butuh Anggaran Rp413,4 Miliar

0
Masuk Tahap Uji KelayakanMall Hybrid Mantika Butuh Anggaran Rp413,4 Miliar
(EKBIS NTB/hir) MALL HYBRID - Lahan yang disiapkan untuk pembangunan Mall Hybrid Mantika Kota Bima di kawasan bekas Kantor Bupati Bima. Proyek tersebut diproyeksikan membutuhkan investasi sekitar Rp413,4 miliar.


Kota Bima (EKBIS NTB) – Rencana pembangunan Mall Hybrid Mantika Kota Bima senilai sekitar Rp413,4 miliar mulai memasuki tahap pendalaman sebelum ditawarkan kepada investor.


Proyek tersebut sebelumnya lolos kurasi Sasambo Investment Challenge (SIC) 2026. Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB juga telah meninjau lokasi proyek yang direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 25.000 meter persegi. Peninjauan lapangan menjadi bagian dari Project Incubator untuk mematangkan proposal hingga memenuhi standar Investment Project Ready to Offer (IPRO).


Sekretaris Daerah Kota Bima, Drs. H. Muhammad Fakhrunraji, mengatakan proyek tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah menarik investasi sekaligus menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.


“Ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota Bima untuk menghadirkan investasi yang dapat menggerakkan perekonomian, membuka peluang usaha dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya, Kamis (10/9).


Plaza Hybrid Mantika dirancang sebagai kawasan mixed-use dengan berbagai fungsi ekonomi dan layanan. Konsep tersebut mencakup pusat perdagangan, kuliner, hotel, hiburan hingga ruang publik.


Menurut Fakhrunraji, proyek tersebut membutuhkan investasi dalam skala besar. Nilai investasi yang diproyeksikan mencapai Rp413,4 miliar untuk pembangunan di atas lahan sekitar 25.000 meter persegi.


Proses pendalaman bersama BI menjadi tahapan penting sebelum proyek dipromosikan kepada calon investor. Pemerintah Kota Bima berharap proposal yang dimatangkan melalui proses inkubasi tersebut, dapat memenuhi persyaratan dan dibawa ke agenda promosi investasi SIC pada Oktober 2026.


Jika terealisasi, pemerintah daerah menargetkan kawasan tersebut tidak hanya menjadi pusat perdagangan dan jasa, tetapi juga membuka peluang usaha serta mendorong aktivitas ekonomi baru di Kota Bima. (hir)


Peserta Magang ke Jepang Ikuti Pembekalan

0
Peserta Magang ke Jepang Ikuti Pembekalan
(EKBIS NTB/bug) Slamet Riadi


Taliwang (EKBIS NTB) – Sebanyak 96 calon peserta program pemagangan kerja ke Jepang mulai mengikuti pembekalan melalui kelas daring (dalam jaringan alias online). Kegiatan ini merupakan tahap lanjutan yang harus diikuti sekaligus proses seleksi lanjutan sebelum terpilih sebagai peserta magang.


Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Slamet Riadi mengatakan pembelajaran daring tersebut merupakan tahap awal sebelum peserta mengikuti proses seleksi dan pelatihan lanjutan.


“Saat ini ada 96 orang yang mengikuti kelas daring. Mereka sebelumnya telah lulus seleksi administrasi,” kata Slamet, Kamis (10/9).
Dijelaskan, proses pembelajaran dibagi dalam dua kelas. Dari 96 peserta dibagi menjadi 60 peserta dan 36 peserta. Mereka akan mengikuti pembelajaran yang didampingi langsung oleh Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) selama sebulan.


Pembekalan daring ini dikatakan Slamet, tidak hanya bertujuan meningkatkan kesiapan peserta, tetapi juga menjadi bagian dari proses evaluasi. Pada akhir masa pembelajaran, peserta akan dinilai berdasarkan sejumlah aspek, terutama kedisiplinan, komitmen, dan kesiapan mengikuti tahapan program selanjutnya.


“Pada akhir kelas daring akan dilakukan evaluasi. Aspek yang dinilai antara lain kedisiplinan,komitmen dan kesiapan peserta,” ujar Slamet.
Peserta yang memenuhi kriteria selanjutnya akan menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU). Berdasarkan hasil tahapan tersebut, akan dipilih peserta yang memenuhi seluruh persyaratan sesuai kuota program, yakni 50 orang untuk diberangkatkan ke Jepang.


Peserta yang lolos seleksi akhir akan melanjutkan pelatihan di Jakarta. Total masa pelatihan dan pembekalan diperkirakan berlangsung selama sekitar enam bulan.


Slamet menjelaskan, pelatihan tersebut akan dilaksanakan dalam dua tahap. Selama tiga bulan pertama, peserta mengikuti pembelajaran bahasa, sedangkan tiga bulan berikutnya diisi dengan pelatihan teknis. Pelatihan teknis bertujuan mengukur sekaligus meningkatkan kompetensi sesuai bidang keahlian masing-masing peserta.


Slamet menegaskan, program tersebut dirancang untuk menempatkan peserta sebagai pekerja formal di Jepang. Oleh karena itu, selain menguasai bahasa, peserta juga dituntut memiliki keterampilan teknis sesuai kebutuhan pekerjaan.


“Program ini disiapkan untuk penempatan sebagai pekerja formal. Karena itu, peserta tidak hanya membutuhkan kemampuan bahasa, tetapi juga kompetensi keahlian yang sesuai,” katanya.


Sebagai informasi jenis pekerjaan yang dipersiapkan pada program ini adalah sektor formal. Contohnya sektor pertanian dan industri manufaktur di Jepang.(bug)