Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 676

Pahami Beda “Baby Blues” dengan Depresi

0
Ilustrasi anak yang baru dilahirkan.(ekbisntb.com/alodokter)

Jakarta (ekbisntb.com) – Psikolog klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Vera Itabiliana Hadiwidjojo S.Psi, M.Psi menyampaikan bahwa baby blues dan depresi seusai melahirkan merupakan dua kondisi yang berbeda.

“Dua kondisi tersebut merupakan hal yang berbeda, ini dapat dilihat tergantung dari durasinya,” kata Vera saat dihubungi Ekbis NTB dari Jakarta, Minggu 14 juli 2024.

Vera menjelaskan, baby blues adalah masalah psikologis yang bisa menimbulkan perasaan sedih, marah, dan cemas pada perempuan yang baru melahirkan. Kondisi ini biasanya berlangsung selama satu hari sampai dua minggu.

Sedangkan perasaan sedih yang terjadi akibat depresi sehabis melahirkan, dia melanjutkan, dapat berlangsung hingga beberapa bulan.

Menurut dia, ibu yang mengalami baby blues bisa mengalami perubahan emosi seperti menjadi mudah marah, gampang menangis, mudah cemas, dan cepat kelelahan.

Pada ibu yang mengalami depresi sehabis melahirkan, gejala-gejala perubahan emosinya lebih intensif.

“Gejala depresi setelah melahirkan itu dapat termasuk perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat, kesulitan tidur, dan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” kata Vera.

Menurut dia, kondisi baby blues juga dapat berkembang menjadi depresi perinatal yang memerlukan penanganan profesional seperti terapi psikologis dan obat-obatan.​​​​​​​

Vera menyampaikan bahwa kondisi baby blues maupun depresi pada perempuan selepas melahirkan bisa berdampak buruk pada kesejahteraan ibu maupun bayi.​​​​​​​

Ibu yang mengalami masalah psikologis tersebut bisa kecapekan karena susah tidur sehingga kondisinya secara keseluruhan menurun. Dalam kondisi yang demikian, ibu akan kesusahan merawat bayinya.

Vera mengatakan bahwa pemberian ASI secara eksklusif maupun pembangunan ikatan antara ibu dan bayi pun dapat terganggu kalau ibu mengalami baby blues atau depresi sesudah melahirkan.

“Ini dapat mempengaruhi hubungan antara ibu dan bayi, termasuk kesulitan dalam berinteraksi dan mengembangkan keterampilan bayi. Bayi yang ibunya mengalami baby blues berkepanjangan mungkin mengalami perkembangan yang terhambat,” ia menjelaskan. (ant)

Mendes PDTT Berharap Transaksi Gelar TTG di NTB Lebih Besar daripada Lampung

0
Abdul Halim Iskandar(ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com)-Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes-PDTT) Abdul Halim Iskandar berharap transaksi yang diperoleh saat Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nusantara di Provinsi NTB bisa lebih besar daripada Gelar TTG Nusantara yang berlangsung tahun 2023 lalu di Lampung.

Mendes mengatakan, Gelar TTG Nusantara di lampung mencapai Rp2,3 miliar. Transaksi tersebut diperoleh dari penjualan produk aneka TTG yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Diharapkan, Gelar TTG Nusantara di NTB mencatatkan angka transaksi selama empat hari ini lebih dari angka tersebut.

“TTG tahun lalu di Lampung transaksinya dengan nilai Rp2,3 miliar. Nah mudah-mudahan ini nanti bisa lebih tinggi, Tolong dibantu ya untuk mempromosikan semua hasil teknologi tepat guna supaya masyarakat tertolong dan bisa memberikan solusi pada berbagai permasalahan di desa,” kata Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim kepada wartawan usai membuka pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nusantara (TTGN) Ke-XXV di Lapangan Islamic Center NTB pada Senin 15 Juli 2024 kemarin.

TTG sendiri merupakan bagian dari implementasi SDGs Desa Ke-9, Infrastruktur dan Inovasi Sesuai Kebutuhan yang titik tumpunya pada teknologi untuk mengoptimalkan pendayagunaan seluruh aspek sumber daya lokal baik alam, manusia, teknologi, dan sosial secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa TTG adalah kunci penting dalam membangun desa untuk membawa pada status maju hingga mandiri.

Kepala BPI Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Ivanovich Agusta mengatakan, TTG Nusantara ke-XXV yang diikuti berbagai provinsi di Indonesia, setiap tahunnya membawa dampak positif khususnya dalam mendorong kemandirian desa dengan memajukan ekonomi lokal.

Dengan teknologi tepat guna yang semakin berkembang dan tidak tergerus zaman, setiap desa bisa mencapai status mandiri dan desa tertinggal pun berhasil dientaskan, seperti yang terjadi di Provinsi NTB.

Gelaran TTG Nusantara ke-XXV digelar sejak 14-17 Juli 2024 di Lombok, NTB dan diikuti peserta dari 20 provinsi dalam kategori lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna diikuti peserta dari 20 provinsi. Kategori Teknologi Tepat Guna Unggulan diisi peserta dari 17 provinsi. Adapun kategori Pos Pelayanan Teknologi diikuti 14 provinsi.

Kategori Inovasi Teknologi Tepat Guna dimenangkan Provinsi Bangka Belitung, NTB, Lampung, dan Banten. Sedangkan untuk pemenang Tategori Teknologi Tepat Guna Unggulan adalah Provinsi Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Sementara itu, juara kategori Posyantek Desa/Kelurahan Berprestasi adalah Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan Kalimantan Utara. Adapun juara favorit berhasil diraih Provinsi Kepulauan Riau, NTB, dan Aceh Besar.(ris)

Pertamina Dukung Kegiatan Otomotif Lewat Produk Berkualitas

0
ilustrasi Drag fest.(ekbisntb.com/ist)

Jakarta (ekbisntb.com) – PT Pertamina Patra Niaga mendukung berbagai kegiatan otomotif untuk mewadahi bakat-bakat melalui produk-produk yang berkualitas.

“Kami mendukung kegiatan otomotif bagi masyarakat untuk menyalurkan kegemaran yang mereka miliki,” kata Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu.

Heppy menuturkan dukungan tersebut dapat dilihat dari diselenggarakannya Pertamax Turbo Drag Fest 2024 di Lapangan Udara Cicangkal yang berlangsung dari 13-14 Juli 2024, yang para pesertanya menggunakan produk bahan bakar Pertamax Turbo.

Dalam kompetisi yang diikuti oleh 159 motor pada lomba Drag Bike di putaran pertama, 56 mobil pada Drag Race dan Bike Contest yang diikuti sebanyak 39 motor, produk unggulannya itu diklaim telah memenuhi standar Euro 4.

Dilengkapi dengan formula Pertamina Technology (PERTATEC) dan Ignition Boost Formula menunjang akselerasi performa para pembalap beradu kecepatan di atas lintasan balap.

“Ke depan, baik itu Pertamax Series maupun Dex Series akan terus kami gaungkan lewat ajang seperti ini,” kata Heppy.

Peserta Drag Race Arlita Agustina mengaku telah menggeluti dunia otomotif sejak SMA. Menurutnya, dunia otomotif akan lebih maju bila ada keterlibatan perempuan, selain penyediaan produk-produk berkualitas tinggi.

Di sisi lain, dunia otomotif dapat membuka peluang memperkaya bakat individu. Contoh, dirinya yang berhasil menjabat sebagai Ketua Umum Indonesia Ladies Dragster.

“Berawal dari hobi dan kecintaan di dunia otomotif, kebetulan suka memacu adrenalin dan ingin upskill juga sebagai perempuan, terus senang berkecimpung dan lihat perempuan-perempuan balapan, akhirnya saya rekrut teman-teman dragster perempuan, yang kebetulan ada dari berbagai daerah,” ucapnya.

Putaran pertama Pertamax Turbo Drag Fest 2024 makin seru dengan kehadiran pembalap Indonesia, Rifat Helmy Sungkar.

Ia mengatakan kompetisi tersebut dapat dijadikan sebagai jalur pertama untuk bisa mencintai motorsport dan menanggulangi balap liar di jalanan.

“Drag Fest ini adalah event yang selalu dinanti oleh semua kalangan pecinta otomotif karena semua bisa ikutan, baik pria atau perempuan, dengan mobil biasa bisa, yang baru belajar pun juga bisa,” ucap Rifat. (ant)

Kebutuhan Sapi Tidak Tercukupi, ABN Cabut dari Pengelolaah RPH Banyumulek

0
Muhammad Riadi (ekbisntb.com/dok)

Mataram (ekbisntb.com) – Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kembali tidak memiliki pengelola. Dua pengelola sebelumnya, PT. Gerbang NTB Emas (GNE) hingga PT. Atra Begawan Nusantara (ABN) juga tidak mampu bertahan. Mereka memilih menghentikan kerja sama dengan Pemprov NTB, karena usaha pengembangan daging sapi tidak seperti diharapkan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB Muhammad Riadi, mengakui, PT. ABN telah menandatangani kerja sama untuk pengelolaan RPH Banyumulek selama 5 tahun. Semula, pihak ABN berasumsi mampu akan memenuhi kebutuhan operasionall perusahaan di NTB bisa melakukan pemotongan 200 ekor sapi setiap hari.

‘’DI dalam perjalanannya ternyata yang beratnya 3 kuintal per ekor sapi tidak didapatkan. Pernah diorder dua kali dari 100 ekor itu yang memenuhi syarat itu hanya 7 ekor, sehingga mau mendatangkan sapi yang berada di Tangerang dan diimpor dari Australia dan turun di Tangerang,’’ ujarnya saat ditemui di sela mengikuti pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna di Kompleks Islamic Center, Kota Mataram, Senin 15 Juli2024.

Namun, ketika mau memasukkan sapi impor dari Australia ini ke Lombok, ungkapnya, pihaknya menolak untuk memberikan izin masuk. Pasalnya, saat itu di Pulau Jawa sedang marak ternak terjangkit penyakit Lumpy Skin Disease (LSD), sehingga dikhawatirkan penyakit ini akan menyerang ternak yang ada di NTB.

‘’Kita tolak permintaannya. Kita buatkan analisis risikonya. Ternyata hasil analisis risikonya tinggi. Bahkan pihak Kementerian Pertanian mengingatkan, jangan main-main Pak Kadis. Risikonya besar kalau LSD terjadi di NTB. Akhirnya kita tolak,’’ ungkapnya.

Diakuinya, penolakan masuk ternak dari Pulau Jawa ini membuat perusahaan merasa rugi, karena usahanya di NTB tidak jalan. Untuk itu, setelah merasa usahanya tidak akan berkembang, pihak perusahaan membongkar fasilitas yang dibangun di RPH Banyumulek.

‘’Poinnya mereka bilang ke saya. Sudahlah Pak Kadis, kalau begitu, kami konsentrasi di Tangerang saja,’’ seraya menambahkan, pihak perusahaan sudah menerima risiko kerugian menanamkan investasi di RPH Banyumulek.

Sebelumnya, pihak perusahaan berinvestasi di NTB sebelum LSD merebak dan mengaku optimis usahanya akan berjalan seperti perencanaan awal. Namun, di tengah perjalanan, LSD merebak di Pulau Jawa, sehingga dikhawatirkan penyakit ini juga menjangkiti ternak di NTB dan berdampak pada larangan pemasukan ternak dari luar daerah. (ham)

Penggunaan Energi Baru Terbarukan di NTB Sudah Mencapai 22, 43 Persen

0
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, H. Sahdan. (ekbisntb.com/ulf)

Mataram (ekbisntb.com) – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, H. Sahdan menyebutkan bauran energi baru terbarukan di NTB sudah mencapai 22,43 persen. Angka tersebut sudah menjadi capaian target pada tahun 2023.

Ia berharap, target nol emisi karbon Net Zero Emission (NZE) NTB pada tahun 2050 mendatang sudah tercapai secara keseluruhan.
Proses transisi ke energi baru terbarukan yang memanfaatkan sumber daya matahari, angin, dan laut diharapkan mampu memberikan dampak nyata kehidupan yang bebas emisi dan berkelanjutan di masa depan.

Ia mengungkapkan, yang menjadi kendala masyarakat saat ini dalam masa peralihan menggunakan energi ramah lingkungan adalah, persoalan harga baterai yang cukup mahal untuk penggunaan energi berbasis matahari. Berbeda dengan pemanfaatan angin yang intermiten dan air yang sifatnya terus berputar.

“Nanti kalau batterai ini sudah bisa kita buat lebih murah, ini akan luar biasa. Seperti China misalnya, China itu 13 Milyar mega watt itu sumber mereka dari matahari, angin, air, dan laut. Semua bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa penggunaan energi terbarukan bukan berarti menghilangkan energi yang sudah ada, melainkan tingkat emisinya akan menjadi 0 persen.

“Nanti kalau harga baterai sudah lebih murah, mantap kita ini,” pungkasnya. (ulf).

Pemprov NTB Sambut Kehadiran Komunitas Petani Milenial

0
Kadistanbun NTB, M. Taufieq Hidayat . (ekbisntb.com/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Kepala Dinas Pertanian dan Pekebunan Provinsi NTB, Taufiek Hidayat merespon hadirnya petani milenial sebagai regenerasi krisis petani di NTB. Ia mengungkapkan, petani milenial yang hadir sudah jelas memiliki lahan dan membentuk kelompok tani untuk merealisasikan rencana program dari komunitas tersebut.

“Saya tanya kemarin dia tidak punya lahan, tapi ingin mengedukasi masyarakat. Dan itu boleh-boleh saja kalau memang ada yang mau melakukan edukasi,” ungkapnya.

Menurutnya, program yang akan dilakukan petani milenial tidak menjadi persoalan pihak pemerintah, dan pelaksanaannya akan dibantu secara optimal.

Baik bagi petani milenial maupun petani-petani yang sudah ada, dengan pendekatan CPCL, yaitu petani sudah memiliki lahan dan ada kegiatan usaha tani.

“Jadi bukan yang rencana, melainkan mereka sudah punya lahan dan punya komoditi pilihan yang akan dikembangkan. Catatannya yaitu, kelompok tani dan lahannya jelas, keluasannya jelas, komoditi yang ingin dikembangkan juga jelas, itu akan kita bantu,” tambahnya.

Lebih lanjut kata Taufiek, pemerintah akan memberikan dukungan secara penuh bagi petani yang sudah membentuk kelompok. Terlebih lagi bagi para generasi muda yang akan melanjutkan masa depan petani di NTB.

Ia menambahkan, bantuan yang akan diberikan berupa pendampingan yang intensif dengan penyuluh-penyuluh, mengingat usia komunitas petani milenial yang masih baru. Dengan catatan ada embrio dan fokus di sektor pertanian yang akan dikerjakan.

Ia mengharapkan, dengan adanya komunitas petani milenial tersebut, dapat membantu produktivitas sektor pertanian yang ada di NTB ke depannya. (ulf)

Tiga Hari Tim QRIS Jelajah Indonesia “Mengeksplore” NTB untuk Perluas Digitalisasi

0
Menyambut Tim QRIS Jelajah Indonesia di Kantor Perwakilan BI NTB, Minggu 14 Juli 2024.(ekbisntb.com/bul)

Mataram (ekbisntb.com)-Bank Indonesia terus mendorong inklusi keuangan di Provinsi NTB. Salah satunya, dengan kegiatan QRIS Jelajah Indonesia, yaitu kampanye perluasan digitalisasi sistem pembayaran dengan metode tidak konvensional.

Kegiatan QRIS Jelajah Indonesia dikemas dalam bentuk kompetisi di 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri (KPwDN) Bank Indonesia. Dimana peserta melakukan berbagai misi dalam rangka kampanye inisiatif digitalisasi sistem pembayaran serta misi pembuatan konten digital kreatif diantaranya adalah misi bertemakan QRIS, elektronifikasi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT), Manajemen Risiko, Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, BI-FAST, Kartu Kredit Indonesia (KKI), Pelindungan Konsumen, dan Keamanan dan Ketahanan Siber (KKS).

Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 12-14 Juli dan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari 10 tim. Dimana seluruh peserta mengeksplorasi dan mendokumentasikan keindahan alam yang ada di NTB sebagai salah satu dari destinasi pariwisata super prioritas. Mengedukasi masyarakat mengenai sistem pembayaran baik digital maupun non-digital.

Setelah 3 hari menjalankan misi yang sudah diberikan. Para peserta menjalani misi lapangan dan misi sosial media dari tanggal 12-14 Juli 2024 dengan baik. Dimulai dari Kota Mataram dengan memberikan sosialisasi mengenai QRIS Parkir sebagai salah satu penyumbang PAD bagi retribusi kota Mataram dan dilanjutkan dengan edukasi mengenai fitur-fitur yang ada pada QRIS seperti MPM (Merchant Presented Mode), CPM (Customer Presented Mode), TTM (Tanpa Tatap Muka), hingga QRIS Tuntas (Tarik Tunai, Transfer dan Setor Tunai).

Dilanjutkan dengan perjalanan menuju Mandalika untuk memperkenalkan aplikasi AR Rupiah dimana peserta dapat belajar sambil mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di sekitar Lombok Tengah. Selain itu, diberikan juga sosialisasi mengenai CBP sebagai sistem pembayaran tunai.

Hari selanjutnya di Lombok Timur, peserta melakukan pengolahan cabai kering oleh salah satu UMKM binaan Bank Indonesia. Cabai merupakan salah satu volatile food di Provinsi NTB, sehingga penggunaan produk olahan atau produk turunan seperti cabai kering, bubuk cabai maupun minyak cabai dapat menjadi salah satu solusi dalam menangani inflasi. Di destinasi selanjutnya yaitu Pantai Nipah, Kabupaten Lombok Utara peserta melakukan user experience QRIS dengan warga lokal, wisatawan mancanegara, dengan turut memperkenalkan QRIS Crossborder.

Misi Terakhir, yaitu mencari KUPVA BB di Senggigi, Lombok Barat. Seperti yang diketahui jika Senggigi merupakan salah satu destinasi utama bagi wisatawan mancanegara, sehingga terdapat banyak tempat penukaran uang yang terletak di daerah tersebut. Diperlukan literasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri KUPVA Legal sebagai salah satu bentuk dukungan dari kegiatan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT).

“Semoga dampak yang diberikan dari kegiatan QRIS Jelajah Indonesia tidak hanya memberikan manfaat bagi para peserta, namun juga masyarakat dalam edukasi sistem pembayaran serta perkembangan jumlah wisatawan di Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry Arifsyah.

“Selamat telah menyelesaikan misi pada QRIS Jelajah Indonesia pertama Provinsi NTB. Semoga pelaksanaan kegiatan ini dapat menjadi pengenalan bagi QRIS maupun inisiatif digitalisasi sistem pembayaran lain dan dapat menarik perhatian masyarakat terutama para pegiat sosial media. Hal ini juga sebagai bentuk dukungan dari Pre-Event FEKDI (Festival Ekonomi Keuangan Digital) dan pengumuman pemenang akan dilakukan serentak oleh seluruh KPwDN pada event FEKDI di tanggal 1 Agustus 2024,” jelas Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achmad Fauzi saat menyambut kembalinya Tim QRIS Jelajah Indonesia di Kantor Perwakilan BI NTB, Minggu 14 Juli 2024.

Untuk diketahui, volume transaksi QRIS Kantor Perwakilan BI NTB pada bulan Mei mencapai 2.282.375 kali transaksi dengan nominal transaksi sebesar Rp220,93 miliar. Dari posisi pengguna QRIS di Provinsi NTB tercatat telah mencapai 16.559 user. Penambahan user QRIS pada bulan Mei 2024 ini mencapai 3.641 user. Tentunya, melalui rangkaian acara QRIS Jelajah Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi dan mendorong pengguna user QRIS di NTB.(bul)

Pemprov NTB : Antisipasi Curah Hujan Saat Musim Tembakau

0
Muhammad Taufieq Hidayat(ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com)-Pemprov NTB tak merisaukan kekeringan akan berdampak kepada produksi tembakau virginia di Lombok. Meskipun, karena terbatasnya ketersediaan air, petani sampai menanam tembakau dengan es batu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, M. Taufieq Hidayat mengatakan, menanam tembakau dengan es batu adalah cara kreatif untuk efisiensi air.

“Itu supaya ndak terlalu terlambat menanam. Kalau pakai air, meresap langsung sehingga digunakan es batu,” katanya.

Ia meyakini, petani tembakau sudah cerdas, dan memiliki strategi untuk menyiasati kekurangan air. Bagi petani tembakau yang sudah menanam.

Jika disebut kekeringan, nyatanya, ketersediaan air di bendungan masih cukup. Kendatipun harus diatur penggunaannya secara ketat oleh pengelola bendungan.

Taufieq mengatakan, dalam kunjungan Pj.Gubernur NTB, Hassanudin ke Lombok Timur, salah satunya ke Bendungan Pandan Duri, pemerintah daerah melakukan audiensi dengan para petani. Khususnya diwilayah pertanian yang sumber airnya dari Bendungan Pandan Dure.

“Persoalan yang disampaikan petani adalah jaringan irigasi. Soal sedimentasi jaringan irigasi, dan ada juga yang ingin bangun jaringan irigasi baru. Dan hal itu diatensi,” katanya.

Taufieq menambahkan, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, khususnya yang mengelola bendungan. Khusus di Bendungan Pandan Dure, saat ini ketersediaan air sebesar 5 jutaan kubik yang bisa dimanfaatkan oleh petani. Walaupun diperioritaskan pemanfaatannya untuk tanaman padi menguatkan produksi komoditas pangan.

“Tidak boleh sampai habis airnya digunakan. Karena dapat mengakibatkan bendungan kering dan merusak bendungan. Bendungan bisa retak-retak kalau airnya sampai dihabiskan. Sehingga 5 jutaan kubik itu yang bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Justru sebaliknya yang dikhawatirkan. Berdasarkan komunikasi dengan BMKG, terdapat potensi curah hujan. Jika curah hujannya tinggi, tentu dapat mempengaruhi produksi tembakau.

Tembakau memang bukan tanaman yang sembarangan. Kondisi cuaca amat mempengaruhi kualitas tanaman. Karenanya, curah hujan yang tinggi di musim kemarau akan mempengaruhi hasil panen tembakau para petani. Juga menentukan harganya.

Tembakau adalah tanaman yang tidak boleh kena banyak air. Kadar air dalam tanaman harus dijaga, sehingga tembakau bisa menghasilkan kualitas yang baik. Proses pasca tanam juga menentukan kualitas tembakau.

“Itu yang kita khawatirkan malah la nina, kalau elnino, kekeringan, ndak masalah. Karena tembakau butuh itu sebetulnya,” demikian Taufieq.(bul)

NTB Siapkan Embung dan Waduk untuk Hadapi La Nina

0
Ilustrasi Waduk (ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi ancaman La Nina yang dapat memicu peningkatan curah hujan sebagai akibat dari penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik.

“Kami siapkan embung-embung dan waduk-waduk masyarakat untuk menampung kelebihan air agar nanti bisa dimanfaatkan pada musim tanam kedua,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Muhammad Taufieq Hidayat di Mataram, NTB, Minggu.

Taufieq menuturkan NTB memiliki banyak embung dan waduk yang berfungsi untuk mengairi lahan-lahan pertanian agar bisa terus berproduksi.

Sejak 2015 hingga 2024, pemerintah pusat membangun enam bendungan untuk mendukung sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat.

Sebanyak enam bendungan tersebut adalah Bendungan Bintang Bano dan Tiu Suntuk di Sumbawa Barat, Bendungan Mila dan Tanju di Dompu, Bendungan Sila di Bima, serta Bendungan Meninting di Lombok Barat.

Nusa Tenggara Barat adalah daerah dengan jumlah bendungan terbanyak di Indonesia mencapai 72 unit.

Pemerintah NTB juga membuat kantong-kantong air agar musim tanam kedua bisa dipompa untuk mengairi ladang dan persawahan.

“Perubahan iklim meningkatkan kewaspadaan kami dalam menentukan waktu tanam dan musim panen. Daerah banjir perlu waspada dalam menghadapi ancaman La Nina,” kata Taufieq.

La Nina merupakan pola iklim berulang yang melibatkan perubahan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Selama La Nina berlangsung, suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik mengalami penurunan.

Para ilmuwan memperkirakan La Nina mencapai puncak sekitar Oktober atau November 2024 dan diprediksi berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2025 mendatang.

Kemunculan fenomena La Nina berpotensi membuat puncak musim kemarau di Indonesia yang terjadi pada Agustus dan September 2024 cenderung basah. (ant)

Menkeu Masih Kaji Kebijakan Relaksasi “Automatic Adjustment”

0
Sri Mulyani Indrawati (Ekbis NTB-Ist)

Jakarta (ekbisntb.com)-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan masih mengkaji kebijakan relaksasi pemblokiran anggaran atau automatic adjustment (AA) kementerian/lembaga (K/L).

“Nanti kita lihat,” kata Sri Mulyani saat ditemui usai kegiatan Kampanye Simpatik Perpajakan Spectaxcular 2024 di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu.

Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata menjelaskan pihaknya akan melihat perkembangan arahan kebijakan ke depan. Dia juga menyebut Kementerian Keuangan akan tetap selektif dalam menentukan relaksasi pemblokiran anggaran.

“Ini sudah semester II, nanti kita lihat satu per satu arahan pimpinan. Kita akan tetap selektif,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mempertimbangkan opsi untuk membuka pemblokiran anggaran atau automatic adjustment (AA) kementerian/lembaga (K/L) yang sebelumnya sebesar Rp50,14 triliun untuk tahun 2024.

Namun, ia memberikan catatan bahwa relaksasi tersebut akan diterapkan dengan selektif mempertimbangkan kondisi keuangan negara.

“Ada catatan automatic adjustment akan direlaksasi,tetap dilakukan secara selektif dan tentu melihat kondisi keuangan negara. Saya rasa ini sangat sesuai dengan apa yang menjadi pegangan kami Bendahara Negara dalam mengelola keuangan negara,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) di Jakarta, Selasa 9 Juli 2024.

Sri Mulyani menegaskan bahwa relaksasi AA harus dilaksanakan dengan kehati-hatian yang tinggi. Kendati demikian, ia tidak menyebut berapa besar anggaran K/L yang akan dilepas, hanya menekankan bahwa relaksasi akan dilakukan jika terdapat kegiatan yang mendesak.

“Nanti kalau biasanya sesuai dengan praktik sebelumnya, kalau ada hal yang mendesak, penting, bisa saja automatic adjustment itu dibuka di dalam rangka untuk membiayai kegiatan yang prioritas nasional dan betul-betul penting dan mendesak. Tapi tadi disebutkan harus selektif dan sesuai kondisi keuangan negara berarti nanti kita lihat, tidak akan mempengaruhi keseluruhan outlook dari defisit,” ujarnya.

Adapun sebelumnya pemerintah membekukan anggaran K/L sebesar Rp50,14 triliun untuk tahun 2024 melalui kebijakan automatic adjustment yang diterapkan sejak awal tahun.

Dijelaskan bahwa automatic adjustment dilakukan sebesar 5 persen dengan tujuan untuk mengelola APBN secara fleksibel serta menambah daya tahan APBN, di tengah kondisi ketidakpastian perekonomian global saat ini.

Sri Mulyani menyebutkan automatic adjustment merupakan langkah yang diambil guna mengantisipasi kondisi di luar dugaan yang harus menjadi prioritas negara. (ant)