Tuesday, April 21, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 582

BI Sarankan Pemda jaga Stok Komoditas untuk Kendalikan Laju Inflasi

0
Seorang pedagang telur di Pasar Mandalika menunggu pembeli belum lama ini. BI meminta pemda memastikan stok pangan terpenuhi guna mengantisipasi inflasi. (ekbisntb.com/cem)

Padang (ekbisntb.com) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) menyarankan pemerintah daerah (pemda) untuk tetap menjaga stok berbagai macam komoditas sekitar 10 persen dari kebutuhan guna mengendalikan laju inflasi.

“Pertama, pemerintah harus bisa menjaga stok komoditas termasuk cabai sekitar 10 persen untuk mencegah inflasi,” kata Kepala BI Perwakilan Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram di Padang, Selasa.

Hal tersebut disampaikan Majid mengingat masih banyak petani cabai di Provinsi Sumbar yang lebih memilih menjual hasil panennya ke provinsi tetangga seperti Provinsi Riau dengan pertimbangan selisih harga. Imbasnya, tak jarang harga cabai di Ranah Minang mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

Selain mendorong pemerintah daerah menyiapkan pasokan 10 persen, BI juga menyarankan agar pemangku kepentingan menekan biaya produksi bagi petani yang selama ini harus dikeluarkan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu memperbaiki berbagai infrastruktur pendukung seperti jalan, pemberian subsidi pupuk dan lain sebagainya.

Di satu sisi Majid memahami kecenderungan petani cabai lebih memilih menjual hasil panennya ke provinsi tetangga dibandingkan menjualnya di Provinsi Sumbar. Pertimbangan selisih harga hingga ongkos produksi menjadi alasan kuat petani.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemerintah daerah harus bisa memastikan atau menjamin harga yang bersaing dari provinsi lain. Sebab, harus dipahami, di saat bersamaan petani juga bertindak sebagai pengusaha yakni berusaha mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar Sugeng Arianto mencatat Ranah Minang mengalami inflasi sebesar 1,52 persen secara year on year (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 106,12.

Sugeng menyebut inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 2,85 persen dengan IHK 107,00. Sementara inflasi terendah yakni di Kota Padang 1,28 persen dengan IHK 106,02.

“Inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga sejumlah kelompok pengeluaran di antaranya makanan, minuman dan tembakau, pakaian dan alas kaki,” ujar dia. (ant)

Tren Inflasi di Dua Bulan Terakhir Diklaim Masih Normal

0
Budi Prasetiyo(ekbisntb.com/dok)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa, mengklaim tren inflasi dalam kurun waktu bulan Juli hingga Agustus masih dalam kategori normal meski setiap bulannya terjadi peningkatan dengan kisaran 0,01 persen.

“Di bulan Juli angka inflasi kita berada di angka 0, 95 persen dan di bulan Agustus naik menjadi 1,14 persen atau mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen, ” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Sumbawa, Dr. Budi Prasetiyo,  Selasa 1 Oktober 2024.

Meski terjadi kenaikan lanjut nya, namun angka tersebut masih normal sehingga tidak mengalami gejolak di masyarakat. Apalagi selama ini Sumbawa dianggap masih sangat terjaga untuk inflasinya dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya.

“Kalau terjadi kenaikan paling di angka nol koma sekian persen, itu dianggap masih sangat normal jika kenaikannya mencapai 2 persen atau lebih baru menjadi persoalan, ” ucapnya.

Doktor Budi pun meyakinkan, penyumbang inflasi masih didominasi kebutuhan jenis holtikultura termasuk makanan dan minuman. Meski nilainya kecil-kecil tetapi menjadi penyumbang terbesar, ” tambahnya.

Doktor Budi pun meminta kepada sejumlah pihak untuk memberikan atensi khusus dalam pengendalian inflasi daerah. Pertama yakni memastikan pasokan tetap tersedia termasuk juga produksi bahan pangan yang menjadi bahan pokok masyarakat.

Kedua, memastikan keterjangkauan harga dengan melakukan intervensi gerakan pangan murah bagi daerah rawan pangan atau terindikasi potensi itu. Ketiga, aksesibilitas distribusi menjadi fokus yang harus diperhatikan baik itu pangan, maupun hasil kelautan, perikanan, dan pertanian.

“Terakhir yakni menjalin komunikasi yang efektif dengan semua pihak, mulai dari Bulog, penyedia, pasar, termasuk pegerakan keuangan dalam rangka memastikan semua harus betul-betul terkendali, ” tambahnya.

Ia menambahkan, yang menjadi fokus dalam mengantisipasi nanti yakni di bulan Desember terutama jelang natal dan tahun baru.  Budi mengingatkan dua bulan tersebut harus betul-batul melakukan startegi dalam pengedalian inflasi daerah.

“Perlu upaya bersama menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga untuk kesejahteraan masyarakat. Sinergi semua pihak adalah kunci menghadapi tantangan ekonomi ke depan, ” tukasnya.(ils)

Pisang Jadi Penyumbang Inflasi di NTB

0
Pisang (ekbisntb.com/ant)

Lombok (ekbisntb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pisang masuk ke dalam lima komoditas penyumbang inflasi di NTB pada September 2024 dengan andil sebesar 0,02 persen.

Kepala BPS NTB, Wahyudin mengatakan masyarakat NTB gemar makan pisang meski pisang bukan komoditas utama daerah tersebut. “Harga pisang relatif stabil sebenarnya, kalaupun ada kenaikan itu tidak terlalu tinggi. Kenaikan yang terjadi pada September dan Oktober karena masih Maulid Nabi,” ujarnya di Mataram, Selasa 1 Oktober 2024.

Masyarakat NTB, terutama Pulau Lombok, merayakan Maulid Nabi selama sebulan penuh. Perayaan yang berlangsung lama itulah yang membuat beberapa komoditas mengalami kenaikan harga karena permintaan meningkat.

Pisang merupakan buah yang selalu ada di atas dulang atau nampan yang disuguhkan untuk para tamu undangan saat menghadiri perayaan Maulid Nabi di Lombok.

“Dulang untuk hantaran Maulid Nabi pasti ada pisang di atasnya, entah pisang hijau (ambon lokal), pisang susu, ataupun pisang mas. Makanya, pisang sekarang ini mulai tampak sebagai penyumbang inflasi karena sangat dibutuhkan untuk perayaan Maulid Nabi,” kata Wahyudin.

BPS NTB mencatat angka inflasi bulan ke bulan sebesar 0,09 persen dan inflasi tahun kalender hanya 0,17 persen. Inflasi di Nusa Tenggara Barat masih di bawah angka inflasi nasional dengan angka bulan ke bulan sebesar 0,12 persen dan tahun kalender 0,74 persen.

Pada September 2024, andil inflasi terbesar di NTB berasal dari akademik atau perguruan tinggi dengan angka mencapai 0,11 persen, lalu ikan layang/ikan benggol 0,08 persen, ikan tongkol 0,02 persen, beras 0,02 persen, dan pisang 0,02 persen. (ant)

“High Season”, Hunian Kamar di NTB Bulan Agustus 2024 Meningkat

0
Wahyudin (ekbisntb.com/dok)

Lombok (ekbisntb.com) – Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang Bulan Agustus 2024 mengalami kenaikan dibandingkan Bulan Juli 2024. Hal ini tak lepas dari datangnya musim ramai kunjungan wisatawan yang datang atau “high season”.

TPK Hotel Bintang Bulan Agustus 2024 tercatat sebesar 55,26 persen, naik sebesar 6,61 poin dibandingkan TPK Bulan Juli 2024 tercatat sebesar 48,65 persen. Jika dibandingkan dengan TPK Hotel Bintang Bulan Agustus 2023 sebesar 44,47 persen, TPK Hotel Bintang Agustus 2024 mengalami kenaikan sebesar 10,79 poin.

Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin M.M mengatakan, berdasarkan kelas Hotel Bintang, TPK Hotel Bintang tertinggi dicapai oleh Hotel Bintang 4 yaitu mencapai sebesar 69,15 persen, disusul Hotel Bintang 5 sebesar 54,87 persen, Hotel bintang 3 sebesar 48,46 persen, Hotel bintang 1 sebesar 44,74 persen dan Hotel Bintang 2 hanya sebesar 35,04 persen.

“TPK Hotel Bintang Bulan Agustus 2024 dibandingkan dengan bulan lalu menurut kelas terlihat TPK Hotel Bintang kelas Bintang 2 hingga 4 mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi pada Hotel Bintang 4 naik sebesar 9,03 poin, diikuti oleh Hotel Bintang 3 naik sebesar 7,65 poin, Hotel Bintang 5 naik sebesar 2,49 poin, dan Hotel Bintang 2 naik sebesar 0,18 poin, sementara Hotel Bintang 1 mengalami penurunan sebesar 0,59 poin,” kata Wahyudin saat menyampaikan berita statistik di Kantor BPS NTB  Selasa 1 Oktober 2024.

Ia mengatakan, jumlah tamu yang menginap di Hotel Bintang pada Bulan Agustus 2024 tercatat sebanyak 120.457 orang yang terdiri dari 71.999 orang Tamu Dalam Negeri (59,77 persen) dan 48.458 orang Tamu Luar Negeri (40,23 persen).

“Hotel Bintang 4 merupakan pilihan sebagian besar tamu dengan jumlah 48.958 atau sekitar 40,64 persen, dengan tamu dalam negeri sebanyak 27.971 orang dan tamu luar negeri sebanyak 20.987 orang,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan Bulan Juli 2024, jumlah tamu menginap di Hotel Bintang Bulan Agustus 2024 bertambah sebanyak 9.505 orang atau naik sebesar 8,57 persen. Tamu Dalam Negeri bertambah 2.203 orang, sedangkan Tamu Luar Negeri bertambah 7.302 orang.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di Hotel Bintang pada Bulan Agustus 2024 sebesar 2,02 hari dan mengalami kenaikan sebesar 0,03 hari dibandingkan RLM Bulan Juli 2024 sebesar 1,99 hari. Jika dilihat menurut kelas Hotel Bintang, maka RLM Hotel Bintang 1 paling lama dibandingkan dengan Hotel Bintang lainnya, yaitu mencapai 2,45 hari dan RLM terendah.

Jika dibandingkan dengan bulan Juli lalu, RLM pada tiga kelas Hotel Bintang mengalami penurunan, sedangkan sisanya mengalami kenaikan. Kenaikan RLM tertinggi pada Hotel Bintang 4 sebesar 0,19 hari, diikuti dengan Hotel Bintang 3 sebesar 0,01. Selanjutnya penurunan terbesar pada Hotel Bintang 1 sebesar 0,32 hari, diikuti dengan Hotel Bintang 2 sebesar 0,22 hari dan Hotel Bintang 5 sebesar 0,21 hari.(ris)

Awasi Legalitas Usaha Sektor Pariwisata, Dinas PMPTSP KLU Turun Lapangan

0
Tim Pengawasan Dinas PM PTSP TK KLU melakukan inspeksi dokumen perizinan usaha-usaha di sektor pariwisata 3 Gili belum lama ini. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja  (DPM PTSP TK) memantau legalitas izin pada usaha-usaha yang bergerak di sektor pariwisata. Belum lama ini, Dinas PMPTSP turun ke 3 Gili untuk memastikan hal tersebut.

Sekretaris Dinas PMPTSP-TK KLU, Erwin Rahadi, S.Sos., M.M., menjelaskan, kegiatan pengawasan dengan melakukan sidak ke lapangan dilakukan, terutama di Gili Trawangan dan Gili Air. Pengawasan tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh usaha masyarakat dikelola sesuai dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah.

“Kita ingin pastikan semua usaha yang berjalan memiliki tingkat kepatuhan yang sama, memiliki izin dan memenuhi kewajiban pelaporan kegiatan penanaman modal secara berkala kepada pemerintah,” ungkap Erwin.

Ia menjelaskan, saat turun selama empat hari kemarin, pihaknya menargetkan setidaknya ada 4 perusahaan yang bisa diinspeksi per hari. Dinas dalam hal ini, melibatkan Tim Pengawasan yang dibagi ke dalam 2 kelompok. Masing-masing tim mengarah ke Gili Air dan Gili  Trawangan.

Salah satu aspek yang menjadi fokus utama pengawasan, kata dia, tidak lain menyangkut legalitas usaha serta kewajiban perusahaan untuk melaporkan kegiatan investasinya. Jika usaha tersebut diketahui belum memiliki izin atau izinnya tidak lengkap, maka Tim Pengawasan selanjutnya mengarahkan pemilik usaha untuk melengkapi.

“Inspeksi ini sangat penting untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mematuhi seluruh peraturan yang berlaku, termasuk memberi laporan 3 bulanan terkait perkembangan usahanya,” jelas Erwin.

Pengawasan ini juga mencakup evaluasi terhadap standar usaha dan legalitas yang dimiliki oleh perusahaan. Pasalnya, legalitas yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku usaha terbagi menjadi dua kategori, yaitu persyaratan dasar dan izin operasional. Terhadap usaha-usaha yang sudah berjalan namun tidak memiliki izin lengkap, maka secara prosedur, usaha tersebut dinyatakan ilegal untuk beroperasi.

Oleh karenanya, penting bagi setiap pemilik usaha untuk memenuhi syarat dasar usaha mencakup izin lokasi, persetujuan lingkungan, dan izin bangunan. “Yang lebih penting adalah usaha itu memiliki izin operasional sesuai dengan regulasi yang berlaku,” ucapnya.

Ia tak menampik, pengawasan yang berjalan masih memiliki tantangan. Terutama terkait dengan kesadaran pelaku usaha terhadap kewajiban melaporkan kegiatan usaha secara berkala. Dimana, diakuinya banyak perusahaan yang belum sepenuhnya memanfaatkan sistem OSS dengan optimal, sehingga tidak jarang, saat dilakukan pengisian pelaporan di tempat, membutuhkan waktu sampai 5 jam. (ari)

Peminat Tinggi, Fasilitas Penonton VIP di Sirkuit Mandalika Bakal Ditambah

0
Usai pagelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, logistik MotoGP siap diangkut menuju Jepang dari BIZAM. (ekbisntb.com/ist)  

Lombok (ekbisntb.com) – Mandalika Grand Prix Association (MGPA) selaku pelaksana event MotoGP Mandalika mengaku mendapat banyak catatan pada gelaran MotoGP Mandalika 27-29 September 2024 kemarin. Salah satunya soal terbatasnya kapasitas fasilitas bagi penonton kelas VIP yang dimiliki Sirkuit Mandalika. Padahal peminat untuk fasilitas tersebut nyatanya cukup tinggi. Terbukti, tiket VIP untuk Royal Box sudah terjual habis sejak awal penjualan tiket nonton MotoGP.

Melihat tingginya animo masyarakat untuk menonton balap MotoGP di fasilitas VIP, pada gelaran MotoGP tahun depan MGPA berencana akan menambah kapasitas untuk penonton VIP tersebut. Dengan membangun fasilitas tambahan bagi penonton VIP. Sehingga jumlah penonton untuk kelas VIP bisa lebih banyak lagi kedepanya.

“Kapasitas untuk kategori VIP yang ada sekarang hanya sekitar 3 ribu orang. Sementara peminatnya ternyata cukup tinggi jauh diatas kapasitas yang tersedia,” aku Deputy Chief Executive Officer (CEO) MGPA Samsul Purba, kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Pada gelaran MotoGP Mandalika 2024 sendiri pihaknya coba berinovasi dengan membangun fasilitas VIP tambahan dengan menggandeng BRI yakni BRI Lounge. Begitu ditawarkan ke public, langsung direspon positif. Bahkan semula fasilitas tersebut didesain dengan kapasita 400 tempat duduk. Karena peminatnya banyak, kapasitasnya kemudian ditambah hingga 500 tempat duduk.

Sehingga pihaknya berpikir untuk event MotoGP tahun depan, fasilitas penonton VIP akan diperbanyak. Mengingat, area sirkuit Mandalika masih cukup luas. Masih bisa untuk menambah fasilitas VIP. “Mungkin tidak banyak sekitar tambahan 1.000 penonton lagi,” sebutnya.

Karena memang penonton yang datang ke sirkuit Mandalika, banyak juga romboangan. Baik itu rekan kerja, keluarga maupun mitra usaha. Jadi mereka ternyata butuh tempat yang nyaman untuk berkumpul sembari menonton balapan. Tidak melulu harus menonton di area tribun.

“Peluang ini yang coba kita tangkap. Kalau penjualan tiket VIP bisa tinggi, maka pendapatan juga tinggi. Sehingga kita bisa menekan harga tiket kategori grandstand. Jadi masyarakat tidak perlu mengeluh soal tiket nonton yang mahal lagi,” terangnya.

Inilah kenapa kemudian tiket kategori grandstand cenderung mahal, karena pihaknya harus bisa menutupi biaya penyelenggaraan MotoGP itu dan tidak sampai rugi. Di satu sisi pemasukan dari hasil penjualan tiket VIP terbatas, akibat kapasitas yang terbatas. “Ke depan, dengan bertambahnya fasilitas VIP, pemasukan bisa lebih besar lagi. Bisa untuk mensubsidi harga tiket untuk kategori grandstand. Supaya harganya bisa lebih murah,” tandas Samsul. (kir)

Kota Mataram Butuh Tambahan Hotel

0
Salah satu hotel di Kota Mataram(ekbisntb.com/ant)

Lombok (ekbisntb.com) – Dinas Pariwisata Kota Mataram, menyebutkan, sebagai daerah penyangga Kawasan Ekonomi Kreatif Mandalika, Kota Mataram membutuhkan tambahan hotel guna mewujudkan diri sebagai daerah tujuan wisata, pusat pertemuan, kegiatan nasional, internasional, dan bisnis.

“Untuk mewujudkan kota itu sebagai daerah tujuan wisata dan memenuhi kebutuhan wisatawan, kita butuh tambahan kamar hotel,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudra di Mataram, Selasa.

Hal tersebut disampaikan seusai melakukan evaluasi dampak pariwisata dan ekonomi setelah perhelatan ajang balap motor dunia MotoGP 2024 di Sirkuit Mandalika pada 27-29 September 2024.

Menurutnya, berdasarkan evaluasi dan laporan dari Asosiasi Hotel Mataram (AHM) menyebutkan, saat puncak MotoGP, sebanyak 2.800 kamar hotel di Mataram terisi penuh hingga di atas 90 persen.

Sisanya sengaja tidak diisi sebagai antisipasi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kamar hotel lainnya. Misalnya, kerusakan listrik, AC, dan fasilitas-fasilitas lain yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan tamu.

“Sebanyak 2.800 kamar tersebut khusus dari 35 hotel bintang yang menjadi anggota AHM se-Kota Mataram,” katanya.

Sementara, jika melihat permintaan kamar terutama saat kegiatan besar seperti MotoGP, Kota Mataram butuh lebih banyak kamar hotel.

“Banyak tamu mencari penginapan, tetapi hotel sudah penuh. Hal itu menjadi evaluasi kami untuk pembangunan hotel baru ke depan,” katanya.

Dia mengatakan, ketersediaan kamar hotel ini menjadi tantangan yang harus diantisipasi sebab dengan jumlah kamar yang terbatas itu Kota Mataram dinilai membutuhkan tambahan fasilitas penginapan untuk mengakomodasi tingginya permintaan selama kegiatan besar seperti MotoGP.

Karena itu, ke depan Dispar Kota Mataram berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan mengantisipasi kebutuhan para wisatawan, termasuk terkait sistem pemesanan kamar dan penambahan jumlah penginapan.

“Tantangan itu harus segera diatasi agar Kota Mataram dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata yang mendukung berbagai kegiatan baik nasional maupun internasional,” katanya.

Di sisi lain, Cahya mengatakan, kegiatan MotoGP Mandalika memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Kota Mataram, selain perhotelan juga pada pelaku UMKM terutama kuliner.

“MotoGP tidak hanya meningkatkan okupansi hotel, tetapi juga mendongkrak perekonomian masyarakat setempat,” katanya.

Menurutnya, banyak wisatawan yang berbelanja dan menginap di Mataram, menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.

“Kehadiran MotoGP membuat sektor perhotelan dan usaha masyarakat, seperti kuliner dan jasa lainnya berkembang. Tapi untuk nominal perputaran uang belum kami hitung,” katanya. (ant)

Mobilitas Wisatawan Nusantara Capai 1,23 Juta Orang di NTB

0
Wahyudin (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah mobilitas wisatawan nusantara di wilayah NTB mencapai 1,23 juta orang pada Agustus 2024.

“Data intra sebanyak 1,13 juta orang dan ekstra 92 ribu orang, sehingga total perjalanan wisatawan nusantara sebanyak 1,23 juta orang,” kata Kepala BPS Nusa Tenggara Barat Wahyudin di Mataram, Selasa 2 Oktober 2024.

Data intra merupakan jumlah wisatawan nusantara dari NTB yang melakukan kunjungan ke NTB, sedangkan ekstra merupakan jumlah wisatawan dari provinsi lain yang melakukan kunjungan ke Nusa Tenggara Barat.

Wahyudin mengungkapkan, perjalanan wisatawan nusantara berada pada tren positif yang menunjukkan kenaikan selama empat bulan terakhir.

Jumlah pergerakan wisatawan nusantara tercatat sebanyak 1,07 juta orang pada Mei, naik menjadi 1,41 juta orang pada Juni, lalu turun sedikit ke angka 1,21 juta orang pada Juli, dan sebanyak 1,23 juta orang pada Agustus 2024.

Secara bulan ke bulan perkembangan jumlah wisatawan nusantara tujuan Nusa Tenggara Barat mengalami kenaikan sebesar 9,79 persen, sedangkan secara tahunan masih terkoreksi sebanyak 12,4 persen.

Pada Agustus 2024, mobilitas wisatawan nusantara paling banyak untuk tujuan Kota Mataram mencapai 226 ribu orang dan Lombok Barat berjumlah 171 ribu orang.

Berdasarkan data BPS NTB, tingkat penghunian kamar hotel bintang tercatat sebesar 55,26 persen atau naik sebesar 6,61 poin dibandingkan periode Juli 2024 yang hanya sebanyak 48,65 persen.

Rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang sebanyak 2,02 hari dan mengalami kenaikan 0,03 hari dibandingkan Juli 2024 sebesar 1,99 hari.

Untuk tingkat penghuni kamar hotel non bintang pada Agustus 2024 sebesar 35,20 persen atau naik 1,24 poin dibandingkan Juli 2024 yang berjumlah 33,96 persen. Rata-rata lama menginap tamu di hotel non bintang adalah 1,67 hari dan mengalami penurunan 0,02 hari dibandingkan Juli 2024 sebesar 1,69 hari. (ant)

Inflasi Terendah Sejak Awal Tahun

0
Foto : Wahyudin (Ekbis NTB/bul)

BADAN Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB menyatakan bahwa perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2024 secara umum menunjukkan adanya kenaikan pada September 2024. Sehingga terjadi inflasi year on year (y-o-y) atau inflasi tahunan Provinsi NTB sebesar 1,77 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,87.

Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin M.M mengatakan, pada September 2024, seluruh wilayah IHK di Provinsi NTB yang berjumlah tiga kabupaten/kota mengalami inflasi y-on-y. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 2,49 persen dengan IHK sebesar 106,46 dan terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 1,28 persen dengan IHK sebesar 105,55.

Wahyudin mengatakan, inflasi y-on-y bulan September 2024 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,37 persen, kelompok pendidikan sebesar 3,82 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,09 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,91 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,74 persen.

Selanjutnya inflasi dipengaruhi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,60 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,32 persen, kelompok transportasi sebesar 1,23 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,10 persen dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,17 persen.

“Adapun tingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi NTB bulan September 2024 sebesar 0,09 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) di bulan September 2024 sebesar 0,17 persen,” kata Wahyudin saat menyampaikan berita statistik, Selasa 1 Oktober 2024.

Adapun komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y pada September 2024, antara lain emas perhiasan, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, akademi/perguruan tinggi, bahan bakar rumah tangga, sigaret kretek tangan (SKT), angkutan udara, dan puluhan komoditas lainnya.

Jika melihat data inflasi y-o-y sejak Januari 2024, maka inflasi NTB di Bulan September sebesar 1,77 persen ini merupakan inflasi yang terendah. Yang cukup mendekati inflasi bulan September yaitu bulan Juli lalu sebesar 1,91 persen. Adapun inflasi y-o-y tertinggi di tahun 2024 ini terjadi di Maret yaitu 3,63 persen.(ris)

Lelang Merchandise MotoGP, Helm Bertanda Tangan Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi Laku Rp25,5 Juta

0
Jaket UMKM Songket Lombok produk Allea Gallery bertandatangan Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi dari harga Rp500 ribu, laku terjual Rp 5 juta. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Mataram berkolaborasi dengan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) menyelenggarakan lelang amal merchandise MotoGP 2024 yang bertanda tangan pembalap MotoGP, pada tanggal 29 September 2024 di Deluxe 2GH Pertamina Mandalika International Circuit.

Lelang amal ini diikuti para penikmat balapan MotoGP. Jumlah objek yang dilelang sebanyak 7 barang yang terjual dalam waktu kurang dari setengah jam dengan hasil lelang sebesar Rp76 juta. Jumlah ini, meningkat hampir 17 kali lipat dari nilai limit sebesar Rp4,7 juta.

Jaket UMKM Songket Lombok produk Allea Gallery bertandatangan Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi dari harga Rp500 ribu, laku terjual Rp 5 juta. (ekbisntb.com/ist)

Kepala KPKNL Mataram Kurniawan Catur Andrianto dalam keterangan tertulis yang diterima ekbisntb.com, Selasa 1 Oktober 2024, menyebut, barang-barang yang dilelang berupa kaos bertandatangan Brad Binder, Jack Miller, dan Augusto Fernandez dari harga Rp200 ribu laku terjual Rp2 juta. Jumlah ini, meningkat 10 kali lipat dari nilai limit.

Selain itu, ujarnya, topi bertanda tangan Aleix Espargaro, Brad Binder, Jack Miller, dan Pedro Acosta dari harga Rp100 ribu, laku terjual Rp2,5 juta, meningkat 25 kali lipat dari nilai limit. Sweater bertandatangan Marco Bezzecchi dan Enea Bastianini dari harga Rp200 ribu, laku terjual Rp3 juta, meningkat 15 kali lipat dari nilai limit.

Vest bertandatangan Jorge Martin, Franco Morbidelli, Marco Bezzecchi, dan Pedro Acosta dari harga Rp200 ribu, laku terjual Rp17 juta, meningkat 85 kali lipat dari nilai limit. Jaket UMKM Songket Lombok produk Allea Gallery bertandatangan Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi dari harga Rp500 ribu, laku terjual Rp 5 juta, meningkat 10 kali lipat dari nilai limit.

Helm bertandatangan Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi dari harga Rp2 juta, laku terjual Rp25,5 juta, meningkat 12,75 kali lipat dari nilai limit. Shirt bertandatangan Francesco Bagnaia dan Enea Bastianini dari harga Rp1,5 juta, laku terjual Rp21 juta, meningkat 14 kali lipat dari nilai limit.

Menurutnya, lelang diikuti oleh penonton, yang salah satunya berasal dari Provinsi Papua, dengan memenangkan Vest bertanda tangan Jorge Martin, bahkan ada pemenang lelang yang merupakan warga negara Thailand.

Seluruh hasil lelang ini, ujarnya, akan dipergunakan untuk kepentingan amal. Hal tersebut menjadikan balap MotoGP di Mandalika Indonesia berbeda dengan di negara lainnya, tidak hanya sekedar menonton balapan, tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian sosial bagi sesama. Bahkan melalui lelang amal tersebut, selain kampanye kepedulian sosial, KPKNL Mataram juga mempromosikan UMKM kepada dunia internasional, serta sosialisasi pengenalan mekanisme lelang kepada publik termasuk aturan terbaru bahwa warga negara asing dapat mengikuti lelang di Indonesia.

Kepala Kantor Wilayah DJKN Bali dan Nusa Tenggara Sudarsono turut hadir untuk mendukung pelaksanaan lelang tersebut. Sudarsono menyampaikan bahwa lelang berlangsung dengan sangat luar biasa, baik dari objek lelangnya, harga lelang yang terbentuk, maupun antusiasme para penonton dan peserta lelang.

Lelang amal merchandise MotoGP menjadi salah satu side event dari gelaran MotoGP yang dinanti oleh para penonton MotoGP. Dengan demikian lelang amal menjadikan gelaran MotoGP Mandalika Indonesia berbeda dari gelaran MotoGP di negara lainnya.

Salah satu pemenang lelang menyampaikan testimoni bahwa telah mengikuti lelang amal merchandise MotoGP untuk kali keduanya yaitu tahun 2023 dan 2024 serta memberikan apresiasi, karena lelang terorganisir dengan waktu yang jelas, serta tahun ini publikasi kegiatan sangat luas, antara lain adanya video promosi kegiatan sehingga calon peserta dapat terinformasi lebih awal.(ham)