Giri Menang (ekbisntb.com) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Karantina NTB melakukan monitoring intensif terhadap lalu lintas hewan di Pelabuhan Gili Mas dan Bima. Data dari Aplikasi Best Trust Barantin menggambarkan adanya peningkatan lalu lintas sebanyak 11.565 ekor.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto yang hadir memonitoring langsung pengawasan menyampaikan, hanya dalam kurun waktu 16 hari pertama bulan April 2026, volume pengiriman melonjak tajam. Angka pengiriman sapi naik signifikan jika dibandingkan dengan bulan Januari yang hanya 1.454 ekor, Februari 733 ekor, dan Maret 4.791 ekor.
“Dari data Best Trust, sebanyak 18.543 ekor sapi asal NTB telah diberangkatkan ke Pulau Jawa melalui 734 frekuensi pengiriman, dengan Jabodetabek sebagai pasar utama,” ujar Sriyanto saat melakukan peninjauan di Pelabuhan Gili Mas, Sabtu, 18 April 2026.
Sriyanto menjelaskan, seluruh rangkaian pengawasan ini merupakan ejawantah dari kebijakan pusat.
“Sesuai surat edaran Deputi Bidang Karantina Hewan No 23 Tahun 2026 mengenai kesiapsiagaan dini pencegahan HPHK, Fokus kami adalah mitigasi risiko terhadap ancaman penyakit seperti PMK, LSD, dan Anthrax yang potensinya meningkat seiring tingginya mobilisasi ternak,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Balai Karantina NTB, Ina Soelistyani mengatakan pihaknya tidak hanya mengandalkan pemeriksaan fisik sapi. Beberapa hal juga dipersiapkan seperti penyiapan Satgas Terpadu, fasilitas laboratorium, serta pengetatan biosekuriti melalui disinfeksi armada angkut.
Di sisi operasional, Karantina NTB memastikan proses sertifikasi yang jauh lebih ramping berkat sistem digitalisasi. Hal ini memungkinkan layanan tetap cepat dan transparan meskipun volume pengiriman sedang tinggi-tingginya.
“Kondisi sarana angkut, termasuk Tol Laut Ternak Kapal Camara Nusantara 3 yang beroperasi di Pelabuhan Bima, dipastikan memenuhi standar teknis untuk meminimalisir stres pada hewan,” tegas Ina.
Meskipun grafik pengiriman mulai melandai setelah melewati puncak arus, Karantina NTB tetap membangun sinergi bersama KSOP, PT Pelindo, PT ASDP, hingga instansi perhubungan dan peternakan di tingkat daerah untuk memastikan tidak ada celah hambatan di setiap simpul distribusi.
Turut hadir dalam monitoring pengawasan lalu lintas hewan Asisten Deputi Pengembangan Konektivitas Antar Wilayah Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Djoko Hartoyo. Menurutnya kehadiran lintas kementerian ini menjadi sinyal kuat komitmen negara dalam memastikan rantai distribusi hewan kurban dari “lumbung ternak” NTB menuju Pulau Jawa tetap aman, sehat, dan lancar.
Sriyanto menyampaikan melalui sinkronisasi data dari hulu ke hilir, Barantin memastikan kedaulatan pangan dan keamanan hayati nasional tetap terjaga, sesuai amanat UU No. 21 Tahun 2019.
“NTB adalah aset strategis nasional. Kami hadir untuk menjamin bahwa setiap ekor sapi yang sampai ke tangan konsumen adalah hewan yang sehat, layak, dan melalui proses yang humanis,” pungkasnya. (bul)






