Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 48

Harga Cabai Rawit di Mataram Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

0
Harga Cabai Rawit di Mataram Tembus Rp90 Ribu per Kilogram
Seorang pedagang sedang melayani pembeli cabai di Pasar Tradisional Induk Mandalika, Selasa (2/3/2026). (suarantb.com/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Dari sebelumnya berkisar Rp30 ribu per kilogram, kini harganya melonjak hingga mencapai Rp90 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit tersebut diduga dipicu oleh faktor cuaca buruk yang menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah sentra produksi.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan pergerakan harga cabai rawit mulai menunjukkan tren kenaikan sejak sepekan terakhir dan terus melonjak secara bertahap.

“Beberapa hari ini kita lihat kenaikannya bertahap, Rp5 ribu, lalu naik Rp5 ribu lagi secara berulang. Kemarin sempat berada di Rp70 ribu per kilogram, dan hari ini di pasar induk, yakni Pasar Mandalika, sudah tembus Rp80 ribu per kilogram,” ujarnya usai rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Selasa (3/2/2026).

Menurut Wahyunida, harga cabai rawit di pasar-pasar tradisional lainnya di Kota Mataram diperkirakan bisa mencapai Rp90 ribu per kilogram, bahkan berpotensi lebih tinggi apabila pasokan terus terganggu. Lonjakan harga tersebut terjadi hampir merata di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kota Mataram.

Ia menjelaskan, meroketnya harga cabai rawit disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak menentu, sehingga berdampak pada produksi petani. Curah hujan yang tinggi dan kondisi cuaca ekstrem menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen.

“Rata-rata memang karena faktor cuaca. Menurut informasi dari BMKG, cuaca saat ini sedang tidak stabil. Di Pulau Jawa dan Bali, harga cabai rawit juga sudah lebih dulu tinggi,” katanya.

Untuk mengantisipasi tingginya harga cabai dan menjaga stabilitas harga bahan pokok penting (bapok), Pemerintah Kota Mataram berencana menggelar pasar murah serta program operasi pasar menjelang bulan suci Ramadan.

“Kami akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Saat pasar murah digelar, masyarakat bisa mendapatkan potongan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu melalui transaksi menggunakan QRIS,” jelasnya.

Pemerintah daerah berharap, melalui berbagai langkah intervensi pasar tersebut, laju kenaikan harga bahan pokok dapat ditekan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga menjelang Ramadan. (pan)

Akibat “Permainan” Tender, Kontraktor Tersisa Tak Sampai Sepuluh Persen

0
Akibat “Permainan” Tender, Kontraktor Tersisa Tak Sampai Sepuluh Persen
H. Salman (suarantb.com/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Dunia jasa konstruksi di Nusa Tenggara Barat disebut berada di titik nadir. Ribuan kontraktor yang dulu aktif kini rontok satu per satu. Kondisi ini bukan semata karena faktor alam atau ekonomi, tetapi kuat dipengaruhi praktik permainan tender, beban administrasi, serta politisasi proyek pemerintah.

Kontraktor senior NTB sekaligus mantan Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Lombok Barat, H. Salman, S.H., blak-blakan mengungkap sisi gelap dunia konstruksi saat ini.

“Dulu kontraktor itu ribuan jumlahnya di NTB. Sekarang, yang benar-benar masih hidup, yang masih bekerja, tidak sampai hitungan jari. Yang eksis itu tidak sampai 10 persen,” ujar H. Salman yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Ditemui di kantornya, Selasa, 3 Februari 2026, H.Salman mengemukakan, sebelum tahun 2020, jumlah kontraktor di NTB mencapai ribuan. Namun, pascagempa bumi Lombok tahun 2018, disusul pandemi Covid-19, serta perubahan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, jumlah tersebut merosot tajam.

“Setelah gempa, kemudian Covid, lalu kebijakan-kebijakan pemerintah, itu mulai habis. Sekarang di Mataram saja, kontraktor yang benar-benar masih eksis tidak sampai 10 orang. Yang lama-lama, mungkin tidak sampai lima,” katanya.

Ia menegaskan, yang dimaksud “mati” bukan berarti meninggal dunia, melainkan profesinya sudah tidak lagi berjalan sebagai kontraktor. Banyak yang menutup kantor dan beralih ke usaha lain demi bertahan hidup.

Salman menjelaskan, salah satu penyebab utama rontoknya kontraktor adalah tingginya beban administrasi dan pungutan yang harus ditanggung, sementara pekerjaan justru semakin sulit didapat.

“Sekarang kontraktor dituntut profesional dari sisi administrasi. Mengurus izin perusahaan, SBU, tenaga teknis, itu biayanya besar. Belum lagi pajak-pajak, BPJS, dan pungutan-pungutan lain,” ujarnya.

Namun, menurut Salman, persoalan paling merusak dalam dunia konstruksi adalah praktik ijon proyek yang melibatkan penguasa, pemodal, dan tim sukses politik.

“Ini praktik ijon. Yang melakukan ijon itu (diduga) pejabat. Tidak hanya di dunia konstruksi, tapi di semua lini,” ujarnya.

Ia menggambarkan, dalam kontestasi politik seperti pilkada dan pemilu, calon kepala daerah kerap meminjam dana besar kepada pemodal. Ketika terpilih, utang tersebut harus dibayar, dan proyek fisik menjadi salah satu alat pembayarannya.

“Akhirnya proyek diatur. Siapa jadi PPK harus siap, siapa di pokja harus siap. Begitu tender masuk, sudah ditentukan siapa yang punya. Persyaratan diatur supaya hanya satu perusahaan yang bisa masuk,” jelas Salman.

Akibatnya, kontraktor profesional yang memiliki administrasi dan kemampuan teknis justru tersingkir.

“Sehebat apa pun administrasi kita, sekuat apa pun finansial kita, kalau tidak ‘sefrekuensi’ dengan penguasa, tidak bisa masuk,” katanya.

Salman menegaskan, praktik ini berdampak langsung pada kualitas proyek pemerintah. Proyek yang dimenangkan bukan oleh kontraktor pelaksana, melainkan oleh pemilik ‘bendera’, lalu dijual lagi ke pihak lain.

“Kadang-kadang yang bekerja itu sudah tangan keempat, tangan kelima. Nilai kontraknya tetap, tapi kualitasnya yang turun jauh,” ujarnya.

Ia mencontohkan, misalnya dari nilai kontrak Rp10 miliar, sebagian besar dana sudah terpotong untuk membayar hutang politik dan berbagai pihak.

“Untuk hasil pengerjaan fisik yang bagus itu, idealnya minimal butuh anggaran ril 75 persen dari nilai kontrak. Sekarang tidak, dengan berbagai potongan-potongan nilai kontrak, nilai anggaran di bawah 50 persen dari nilai kontrak juga dikerjakan dan terpaksa. Dari mana mau cari mutu?” katanya.

Akibatnya, muncul berbagai masalah seperti proyek mangkrak, kualitas bangunan rendah, banjir, bangunan cepat rusak, tukang tidak dibayar, hingga kontraktor melarikan diri dan berujung persoalan hukum.

Dalam kondisi tersebut, kontraktor pendatang baru menjadi kelompok paling rentan. Mereka kerap tergiur janji proyek besar, lalu mengeluarkan dana miliaran rupiah, namun akhirnya tertipu.

H. Salman mencontohkan kasus seorang kontraktor baru yang mengeluarkan dana hampir Rp1,2 miliar dari janji proyek senilai Rp10 miliar, namun proyek tersebut tak pernah terealisasi.

“Uangnya tidak kembali sampai sekarang. Anehnya, orang ini tidak jauh dari lingkaran penguasa di instansi itu,” ungkapnya.

Dengan kondisi dunia konstruksi yang dinilainya sudah tidak sehat, H. Salman mengaku kini tidak lagi menaruh harapan besar pada usaha jasa kontraktor. Ia memilih mencari peluang usaha lain untuk bertahan hidup.

“Sekarang saya berpikir usaha lain. Makanan, kafe, atau usaha kecil-kecilan. Banyak kontraktor sekarang makan saja susah, apalagi mau modal usaha besar. Karena mau proyek pusat, mau proyek provinsi, kabupaten/kota, sama saja,” ujarnya.

Ia menyebut, profesi kontraktor yang dulu dianggap mapan dan bergengsi, kini justru berada dalam kondisi memprihatinkan.

“Dulu kontraktor itu profesi. Sekarang benar-benar kasihan. Kalau dibilang tidak menjanjikan, ya bisa saja dibilang begitu,” tandasnya. (bul)

Final, 40 Desa Berdaya di NTB

0
Lalu Hamdi (suarantb.com/bul)

Mataram (ekbisntb.com) — Pemprov menetapkan secara final 40 desa dan kelurahan sebagai sasaran awal Program Desa Berdaya Transformatif tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari Program Unggulan Desa Berdaya Gubernur NTB, Lalu. Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Damayanti Putri, yang dirancang sebagai instrumen strategis dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem secara terukur dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Kependudukan dan Pencatatan Sipil, L. Hamdi, M.Si, Selasa, 3 Februari 2026 menjelaskan, bahwa Program Unggulan Desa Berdaya dibangun dengan dua pilar utama sebagai lokomotif pembangunan daerah, yakni sektor pariwisata untuk memperkuat posisi NTB sebagai destinasi wisata dunia, serta sektor pertanian melalui pembangunan ekosistem industri pertanian dan subsektornya guna mendukung ketahanan pangan.

“Strategi implementasinya berbasis kolaborasi, melibatkan sinergi pemerintah desa, kabupaten/kota, provinsi hingga pusat, bersama swasta, perguruan tinggi, mitra pembangunan, dan komunitas lokal,” ujar mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB ini.

Program Unggulan Desa Berdaya, lanjut Lalu Hamdi, dilaksanakan melalui dua skema utama, yaitu Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif.

Untuk Desa Berdaya Tematik, sasaran mencakup 1.166 desa dan kelurahan di NTB, yang didukung melalui program dan bantuan keuangan pemerintah provinsi secara bertahap sesuai prioritas dan kemampuan keuangan daerah. Desa atau kelurahan dapat mengusulkan tema pembangunan yang paling relevan dengan persoalan lokalnya.

Terdapat 20 tema Desa Berdaya Tematik yang dapat dipilih, antara lain: Desa Tanpa Kemiskinan, Desa BUMDes Maju, Desa Sadar Zakat dan Pajak, Desa Koperasi Merah Putih, Desa Tangguh Bencana, Desa Tanpa Banjir, Desa Mandiri Pangan, Desa Tanpa Rumah Tidak Layak Huni, Desa Hijau, Desa Bebas Sampah, Desa Bebas Narkoba dan Judi Online, Desa Sehat dan Bebas Stunting, Desa Belajar dan Literasi, Desa DIACantik, Desa Wisata Maju, Desa Tanpa Kawasan Kumuh, Desa Industri dan Produk Ekspor, Desa Tanpa Krisis Air Bersih, Desa Inklusi/GEDSI, serta Desa Agro-Maritim dan Agro-Forestry.

Sementara itu, lanjutnya, Desa Berdaya Transformatif merupakan program penajaman dari Desa Berdaya Tematik yang secara khusus menyasar 106 desa dan kelurahan miskin ekstrem di NTB secara bertahap. Program ini menggunakan pendekatan bottom-up dan place-based development, di mana desa diposisikan sebagai simpul strategis pembangunan lintas sektor menuju visi NTB Makmur Mendunia.

Pada tahap awal tahun 2026, Desa Berdaya Transformatif difokuskan pada 40 desa dan kelurahan, dengan sasaran 7.250 kepala keluarga miskin ekstrem atau sekitar 19.052 jiwa. Penetapan dilakukan berdasarkan verifikasi data Regsosek dan DTSEN Desil 1, serta kesiapan wilayah dan potensi ekonomi lokal.

40 desa dan kelurahan tersebut meliputi: Desa Taman Ayu, Desa Buwun Mas, Desa Batu Putih, Desa Mekar Sari, Desa Batu Mekar, Desa Barabali, Desa Bangket Parak, Desa Banyu Urip, Desa Mangkung, Desa Pemepek, Desa Kelebuh, Desa Ungga.

Desa Pijot, Desa Sakra, Desa Tetebatu, Desa Lendang Nangka Utara, Desa Pringgabaya Utara, Desa Pesanggrahan, Desa Sembalun Bumbung. Desa Pada Suka, Desa Motong, Desa Lape, Desa Labuhan Aji.

Desa Saneo, Desa Sori Tatanga, Desa Mbawa, Desa Nipa, Desa Seteluk Tengah, Kelurahan Telaga Bertong, Desa Sigar Penjalin, Desa Gumantar, Desa Bayan, Desa Senaru, Desa Malaka, Kelurahan Bintaro, Kelurahan Pagutan Timur, Kelurahan Jempong Baru, Kelurahan Mandalika, Kelurahan Jatibaru dan Kelurahan Ntobo.

“Sasaran desa berdaya transformatif sudah ada (40 desa, 7.250 KK) saat ini sampai akhir Februari 2026 sedang diverivali oleh pendamping desa,” jelas Lalu Hamdi.

Sebagai pembeda dari bantuan konvensional, Desa Berdaya Transformatif menitikberatkan pada ketepatan sasaran dan pendampingan intensif selama dua tahun, mencakup aspek sosiologis, psikologis, dan finansial, serta mendorong transisi keluarga miskin ekstrem dari pola konsumsi menuju kegiatan produktif.

Untuk itu, Pemprov NTB akan melibatkan 144 tenaga pendamping Desa Berdaya Transformatif, dengan rasio satu pendamping untuk 50 kepala keluarga. Pendamping bertugas melakukan verifikasi data, pemetaan potensi lokal, fasilitasi bantuan sosial dan pengembangan usaha, serta memantau progres keluarga dampingan secara berkala.

“Targetnya jelas, dalam dua tahun keluarga miskin ekstrem di desa sasaran sudah keluar dari kemiskinan ekstrem dan memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (bul)

Biaya Operasional Membengkak, Pengusaha Pelayaran Swasta Desak Kemenhub Berikan Insentif

0

Mataram (ekbiantb.com)- Sejumlah pengusaha angkutan pelayaran mengeluhkan tingginya biaya operasional di tengah situasi perekonomian global dan pertumbuhan ekonomi domestik saat ini. Salah satunya PT Dharma Lautan Utama. 

Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama (DLU) Erwin H Poedjono mengungkapkan, bahwa biaya operasional perusahaan angkutan pelayaran sangat rentan terhadap fluktuasi mata uang asing.

Terpantau pada Senin (2/2/2026), kurs Dolar AS terhadap Rupiah telah menyentuh angka Rp16.806,15. Sementara, Kementerian Perhubungan dinilai belum menunjukkan keberpihakan pada pengusaha swasta yang selama ini telah membantu mobilitas perekonomian lintas pulau. Sedangkan operasional kapal tetap berjalan di tengah tantangan pembengkakan biaya komponen.

“Sekitar 80 persen komponen biaya operasional kami, mulai dari suku cadang (spare parts), perawatan harian, pengedokan (docking), hingga pemenuhan alat keselamatan, mengikuti kurs Dolar AS,” ungkap Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama, Erwin H Poedjono.

Meskipun tantangan itu sangat memberatkan, kata Erwin, perusahaannya terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik tanpa menurunkan standar keselamatan angkutan pelayaran. 

“Selama ini kami dituntut untuk memberikan layanan keselamatan dan kenyamanan sesuai dengan standarisasi UU Pelayaran no 17 Tahun 2008, dan persyaratan internasional (SOLAS) sebagai konsekuensi ratifikasi IMO yang membutuhkan biaya cukup tinggi”, ucapnya

“Hal ini menjadikan komponen biaya kami bersifat tetap (fixed cost). Ketika kurs Dolar naik, beban fixed cost ini melonjak signifikan, termasuk biaya Sumber Daya Manusia (SDM),” jelasnya.

Di sisi lain, Erwin juga mengungkapkan tantangan menghadapi iklim kompetisi yang tidak setara, dimana operator pelayaran pemerintah/BUMN mendapatkan fasilitas subsidi Public Service Obligation (PSO) yang nilainya bisa mencapai 2-3 kali lipat dari harga tiket untuk total penumpang mereka.

Angka tersebut kemudian disesuaikan setiap tahun mengikuti kenaikan komponen biaya. Selain itu, operator pelayaran pemerintah/BUMN juga mendapatkan suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) dan bantuan modal kerja berupa armada kapal. Sementara, pihak swasta harus berjuang mandiri tanpa fasilitas tersebut.

“Akibatnya, kami kesulitan bersaing dengan mereka yang dapat menetapkan harga tiket rendah karena adanya PSO,” keluhnya.

Erwin mewakili sejumlah perusahaan angkutan pelayaran swasta berharap agar Kementerian Perhubungan segera mengambil tindakan cepat untuk menentukan kebijakan yang benar-benar berpihak.
Antara lain seperti adanya penurunan biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), biaya sandar, biaya sertifikasi, dan perpajakan.

“Kami juga meminta agar pihak swasta diberikan kesempatan yang sama untuk melayani rute lintas keperintisan (subsidi) yang selama ini didominasi oleh perusahaan BUMN, karena selama ini ada perlakuan yang tidak adil yaitu ketika swasta beroperasi menggantikan kapal BUMN di lintas keperintisan, maka keperintisan tersebut dicabut.” ucap Erwin.

Pihaknya juga menginginkan penambahan fasilitas sandar kapal untuk mengatasi antrean trafik. Keterbatasan fasilitas saat ini disebutnya menyebabkan inefisiensi waktu dan lonjakan biaya bahan bakar (BBM) akibat waktu tunggu yang lama.

Berikutnya, Erwin meminta kepada pemerintah agar melakukan pengerukan akibat pendangkalan alur masuk pelabuhan dan area dermaga.

Kondisi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan pelayaran akibat risiko kandas atau gesekan lunas kapal dan memicu high cost economy akibat kerusakan sistem pendingin mesin kapal yang terhisap lumpur.

“Jika langkah-langkah perbaikan ini tidak segera dilakukan, hal ini akan mengancam keberlanjutan usaha dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Erwin.(bul)

NTB Mall “Mati Suri”

0
NTB Mall yang pemandangannya kini hanya rak-rak pajangan yang nyaris kosong dari produk-produk UMKM

Mataram (Suara NTB) — Aktivitas NTB Mall yang berlokasi di lantai II Gedung belakang Islamic Center, Nusa Tenggara Barat, kini tampak jauh berbeda dibandingkan masa jayanya. Pusat promosi dan penjualan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) unggulan NTB itu terlihat sepi, dengan sebagian besar rak pajangan kosong tanpa produk.

Pantauan Suara NTB pada Selasa, 3 Februari 2026, suasana NTB Mall nyaris tanpa aktivitas. Tidak tampak pengunjung maupun pembeli yang datang selama beberapa waktu pemantauan dilakukan. Yang terlihat hanyalah deretan rak kosong dan beberapa produk UMKM yang masih tersisa.

Padahal sebelumnya, NTB Mall dikenal sebagai etalase UMKM daerah. Aneka produk lokal mulai dari makanan, minuman, fesyen, hingga kerajinan, berjejer memenuhi rak-rak pajangan dan ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

Kini, sebagian besar rak tersebut kosong. Kondisi ini membuat NTB Mall boleh dibilang berada dalam situasi “mati suri”. Di lokasi hanya terlihat beberapa pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB yang bertugas menunggu tamu atau pelaku UMKM yang datang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, belum jelasnya pengelolaan NTB Mall berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTB yang menggabungkan dua organisasi perangkat daerah (OPD), yakni Dinas Perdagangan dan Dinas Perindustrian, menjadi satu dinas baru, yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB.

Hingga saat ini, dinas hasil penggabungan tersebut belum memiliki kepala dinas definitif. Dampaknya, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) NTB Mall yang sebelumnya berdiri sendiri kini digabung dengan UPTD lain di bawah UPTD Balai Kemasan. Kondisi ini membuat arah dan kepastian pengelolaan NTB Mall belum jelas.

Sejumlah pegawai Pemprov NTB yang berjaga di NTB Mall mengaku masih kebingungan terkait kebijakan operasional, termasuk penerimaan dan penempatan produk UMKM.
Sumber informasi Suara NTB di NTB Mall menyebutkan, kosongnya rak-rak pajangan disebabkan adanya proses penggantian produk. Produk UMKM yang sebelumnya dipajang dinilai sudah terlalu lama, bahkan ada yang sejak awal NTB Mall dibentuk.

“Produk-produk lama itu sedang diganti. Prosesnya masih berlangsung sampai sekarang,” ujar sumber tersebut.

Namun, di sisi lain, sejumlah pelaku UMKM yang ingin tetap memajang produknya di NTB Mall belum berani difasilitasi sepenuhnya. Hal ini lantaran belum ada keputusan resmi terkait status dan pola pengelolaan NTB Mall ke depan.

Meski demikian, UMKM yang ingin menitipkan produknya tetap difasilitasi. Hanya saja, produk tersebut tidak dipajang langsung di NTB Mall. Jika ada pembeli yang berminat, mereka akan diarahkan untuk bertransaksi langsung dengan produsen UMKM bersangkutan.

“Dulu transaksi bisa langsung di NTB Mall. Sekarang belum bisa sampai pengelolaannya definitif,” tambah sumber itu.

Saat masih aktif, NTB Mall menampung hingga sekitar 5.000 jenis produk UMKM dari kurang lebih 300 pelaku usaha. Jumlah tersebut kini menyusut drastis.

Tak hanya itu, sebelumnya NTB Mall juga menjalin kerja sama dengan sejumlah hotel di Pulau Lombok. Di setiap kamar hotel mitra, tersedia barcode yang terhubung langsung ke katalog produk NTB Mall dan bisa langsung ditransaksikan. Layanan ini memungkinkan tamu hotel memesan produk UMKM langsung dari kamar mereka.

Namun, seluruh skema kerja sama tersebut kini terhenti sambil menunggu kejelasan status dan penataan ulang NTB Mall.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB, Irnadi, membenarkan bahwa NTB Mall saat ini sedang dalam tahap penataan menyusul penggabungan dua dinas besar tersebut.

“NTB Mall sedang ditata terkait penggabungan Dinas Perindustrian dan Dinas Perdagangan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Meski demikian, Irnadi menegaskan bahwa fungsi promosi produk UMKM tetap berjalan. Pemerintah Provinsi NTB, kata dia, masih melakukan fasilitasi temu mitra antar pelaku usaha serta mendukung pemasaran produk UMKM.

Ia juga menyebutkan bahwa penguatan sektor perindustrian dan perdagangan, termasuk dukungan terhadap UMKM, menjadi salah satu poin kerja sama regional yang telah ditandatangani Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, bersama Gubernur Bali dan Gubernur Nusa Tenggara Timur.

“Insya Allah penataan NTB Mall segera diselesaikan. Pada intinya, fasilitasi dan dukungan Pemprov NTB terhadap UMKM tetap berjalan,” pungkas Irnadi.(bul)

Komisi III DPRD NTB Dorong Bank NTB Syariah Perbesar Porsi Pembiayaan Produktif

0
Komisi III DPRD NTB Dorong Bank NTB Syariah Perbesar Porsi Pembiayaan Produktif
Sambirang Ahmadi (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Komisi III DPRD Provinsi NTB yang membidangi urusan keuangan dan perbankan mendorong Bank NTB Syariah untuk lebih berani membuat terobosan. Yakni mengubah arah kebijakan dengan memperbesar porsi pembiayaan kredit produktif, tanpa mengurangi pembiayaan kredit konsumtif yang selama ini menjadi penopang stabilitas bisnis Bank milik daerah tersebut.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, Sambirang Ahmadi. Disampaikannya bahwa dari awal pihaknya sudah memberikan rekomendasi kepada jajaran direksi baru Bank NTB Syariah agar lebih agresif membidik nasabah produktif dari sektor ritel, seperti pelaku usaha kecil dan menengah.

“Rekomendasi kami jelas agar Bank NTB Syariah di 2026 ini dengan direksi yang baru agar lebih cekatan membidik potensi nasabah produktif. Potensi ini selama ini dikuasai oleh Bank-bank konvensional,” ujar Sambirang pada Senin (2/2/2026).

Politisi PKS itu mengatakan, pihaknya menilai kinerja Bank NTB Syariah selama ini masih kurang kompetitif dalam menggarap segmen nasabah produktif tersebut. Harapannya dibawah jajaran direksi yang baru, Bank NTB Syariah bisa lebih agresif merambah pangsa pasar nasabah produktif.

“Kita berharap di bawah jajaran direksi yang baru ada membawa perubahan di Bank NTB Syariah. Jangan sampai kinerjanya sama saja dengan yang sebelumnya, karena direksi yang baru ini melalui proses seleksi yang ketat,” katanya.

Sambirang mengungkapkan bahwa dari data total pembiayaan Bank NTB Syariah sekarang ini sebesar Rp11 triliun lebih. Porsi pembiayaan kredit produktif baru sebesar 10 persen, atau sekitar Rp1,1 triliun. Sementara 90 persennya ke pembiayaan konsumtif.

“Kondisi ini masih sangat jomplang sekali, kedepan sektor produktif harus lebih di perbesar. Meksipun sektor pembiayaan konsumtif terus dipertahankan karena memang ini yang paling aman,” katanya.

Sekali lagi dia menegaskan bahwa peningkatan pembiayaan produktif merupakan sebuah keniscayaan untuk memperbesar Bank NTB Syariah. Selain itu keberadaan Bank NTB Syariah juga bisa ikut dirasakan oleh masyarakat luas, terutama yang memiliki usaha kecil.

“Kredit produktif ini juga jangan terlalu besar main di korporasi, tapi harus diarahkan oleh sektor rill usaha kecil, seperti pedagang pasar, pedagang kios. Maka baru Bank NTB Syariah bisa ikut dinikmati oleh masyarakat bawah,” pungkasnya. (ndi)

Pengadaan Mobil Listrik, Imbas Efisiensi Anggaran

0
Pengadaan Mobil Listrik, Imbas Efisiensi Anggaran
Yus Harudian Putra (Suara NTB/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemprov NTB menegaskan pengadaan mobil listrik dengan skema sewa imbas dari efisiensi anggaran. Meski kebijakan ini beberapa kali menimbulkan kritikan, Pemprov NTB yakin peralihan dari mobil konvensional ke mobil listrik dapat menghemat anggaran hingga Rp5 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Umum dan Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda NTB, Yus Harudian Putra menyatakan, dengan skema ini, Pemprov NTB tidak lagi menganggarkan hingga Rp19 miliar hanya untuk pemeliharaan kendaraan. Cukup dengan Rp14 miliar saja, Pemprov sudah bisa menyewa 72 unit mobil listrik. “Tidak perlu lagi menganggarkan untuk pajak kendaraannya,” ujarnya, Senin, 2 Februari 2026.

Dengan peralihan kendaraan listrik di awal tahun ini, kendaraan konvensional yang dimiliki oleh Pemprov NTB masih dikaji pemanfaatannya. Beberapa aset bisa dilelang, menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTB.

Rencananya, peralihan kendaraan ke mobil listrik dimulai pada bulan Februari ini. Peralihan dari mobil dinas berbahan bakar fosil ke mobil listrik melalui skema sewa bertahap. Dengan sistem sewa, pemerintah terhindar dari biaya pajak, perpanjangan STNK, bahan bakar, perawatan, hingga belanja kendaraan berulang.

Kebijakan ini sejalan dengan inpres No. 7/2022 tentang penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas pemerintah pusat dan daerah. Selain efisiensi anggaran, langkah ini menjadi bagian dari komitmen NTB sebagai pelopor energi baru terbarukan (EBT)-termasuk rencana pemasangan panel surya di seluruh kantor pemerintah.

“Karena semua masuk di komponen biaya sewanya, begitu. Bahwa kalau sekarang kita berbicara konvensional pengadaan yang seperti biasa misalnya, kan kita harus hitung juga penyusutan aset, sekarang kita sudah tidak perlu lagi. Kan ada istilahnya setiap aset yang kita beli kan pasti ada nilai penyusutannya,” jelasnya.

Ia mengatakan, penggunaan kendaraan ini sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan potensi energi baru terbarukan yang ada di NTB. Potensi EBT di NTB 13.563 MW atau 13 GW. Pemprov NTB mengharapkan program baru ini bisa menjadi pelopor dengan konversi kendaraan konvensional ke listrik ini. Sekaligus memaksimalkan potensi EBT yang ada di daerah ini.

“Kita berikhtiar menjadi pelopor untuk memaksimalkan EBT ini. Bertransisi dari kita mulai dari saat ini kendaraan dinas berbahan bakar fosil ke kendaraan dinas yang menggunakan listrik,” katanya.

Selain itu, untuk mendukung kesiapan NTB mendukung mobil listrik sudah tersedia 40 SPKL tersebar di Lombok-Sumbawa. Jumlah ini akan terus bertambah. “Sistem kelistrikan stabil, rasio elektrifikasi lebih dari 95 persen dan cadangan daya 15-20 persen. Harga listrik stabil (Rp310-1.467/kWh), biaya charging lebih hemat (Rp1.444/kWh rumah),” pungkasnya. (era)

Sumbawa Pastikan Gaji PPPK BGN Tidak Ditanggung Daerah

0
Sumbawa Pastikan Gaji PPPK BGN Tidak Ditanggung Daerah
Kaharuddin (suarantb.com/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa memastikan untuk pembayaran gaji bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Badan Gizi Nasional (BGN) tidak ditanggung pemerintah daerah, melainkan langsung dibayarkan pemerintah pusat.

“Mekanisme APBN tidak lewat APBD untuk gaji mereka. Jadi mereka murni merupakan pegawai pusat yang ada di daerah sehingga tidak sangkut paut dengan kita di daerah,” kata Sekretaris Badan Keuangan Aset Daerah (BKAD), Kaharuddin, kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Ia melanjutkan, berdasarkan informasi yang diterima para pegawai yang ditanggung pemerintah pusat yakni kepala dapur, ahli gizi, dan akuntan di masing-masing satuan layanan pemenuhan gizi. Besaran gaji yang akan diterima mereka masing-masing berkisar di angka Rp1,9 juta hingga Rp7 juta tergantung jabatan dan pendidikan terakhir.

“Kalau untuk gaji mereka langsung ditransfer dari pusat tidak nyantol di APBD. Karena jika dibebankan ke daerah juga akan berat di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas,” ucapnya.

Kendati demikian lanjut Kahar, pihaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari BGN terkait kebijakan lebih lanjut. Namun, ia berharap kebijakan penggajian yang saat ini ditanggung pemerintah pusat tidak dibebankan ke daerah.

“Apapun itu kami masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari Pusat. Tetapi kami berharap skema penggajian awal yang ditanggung pusat tetap berlaku,” tukasnya. (ils)

Disnakertrans KSB Siap Awasi Penerapan UMK

0
Slamet Riadi(ekbisntb.com/ist)

Taliwang (ekbisntb.com) – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyatakan komitmennya untuk mengawasi ketat penerapan upah minimum kabupaten (UMK) tahun 2026.

Kepala Disnakertrans KSB, Slamet Riadi mengatakan, pengawasan maksimal diperlukan mengingat saat ini nilai UMK KSB menjadi yang tertinggi di NTB. “Kenaikannya signifikan. Jadi kita yang tertinggi di NTB sekarang ini,” katanya, Senin (2/2/2026).

Diakui Slamet, memasuki Januari tahun ini, pihaknya belum satu pun menerima aduan adanya perusahaan yang lalai menerapkan UMK. Demikian juga dengan adanya perusahaan yang mengajukan penundaan penerapannya.

Namun begitu, Disnakertrans akan rutin melakukan pemantauan terhadap seluruh perusahaan di daerah. Termasuk juga selalu membuka layanan aduan yang bisa dijadikan karwayan untuk menyampaikan laporannya. “Sejauh ini masih aman, tidak ada aduan karyawan dan belum juga ada perusahaan yang mengajukan penangguhan penerapan UMK 2026,” ujarnya.

Menurut Slamet, besaran UMK tahun 2026 yang ditetapkan senilai Rp3.136.468 merupakan hasil kesepakatan bersama antara pengusaha dengan pekerja. Karena itu, tidak ada alasan bagi perusahaan untuk lalai dari ketentuan tersebut. “Itu kan hasil kesepakatan di Dewan Pengupahan yang anggotanya ada perusahaan dan pekerja. Kita (pemerintah) bersifat memfasilitasi dan mengawasi,” tandasnya.

Kesepakatan terkait nilai UMK itu lanjut Slamet, tidak muncul dengan sendirinya. Artinya, mengikuti formulasi perhitungan yang telah diatur oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), dewan pengupahan menyusun nilai UMK yang paling relevan diterapkan tahun ini.

“Faktor pemicu naiknya UMK kita adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kita mencapai 12 persen jauh di atas kabupaten/kota lainnya,” katanya.

Pengawasan lanjut dia, akan lebih difokuskan pada perusahaan yang bergerak di sektor non tambang. Mantan Sekretaris Dinas Perikanan ini, mengungkap potensi pemberian gaji di bawah UMK berpeluang terjadi di usaha-usaha jasa, karena hal itu semakin memberatkan biaya operasionalnya. “Tapi intinya mereka harus tetap mengikuti aturan UMK itu, karena kembali itu sudah jadi kesepakatan bersama,” tegasnya seraya menambahkan pihaknya dalam waktu dekat akan segera turun lapangan melakukan kroscek ke perusahaan.

“Kalau perusahaan yang bergerak di sektor tambang kita akan awasi untuk penggajian bagi karyawan di bawah masa kerja 1 tahun. Karena itu potensi juga ada pelanggaran penerapan UMK,” pungkasnya.(bug)

MGPA Jajaki Peluang Gelar Balapan Selevel di Bawah F1

0
Sirkuit Mandalika(ekbisntb.com/ant)

Praya (ekbisntb.com) – Mandalika Grand Prix Assocation (MGPA) selaku pengelola Pertamina Mandalika International Circuit saat ini tengah menjajaki peluang untuk bisa menggelar balapan roda empat internasional Le Mans Asia. Persiapan-persiapan awal pun kini mulai dilakukan MGPA untuk bisa mewujudkan terselenggaranya balapan edurance (ketahanan) grade dua tersebut.

Demikian diungkapkan, Pgs. Vice President Business Development MGPA Rully Habibie, akhir pekan kemarin. Ditemui di Sirkuit Mandalika, Rully mengatakan, MGPA punya obsesi untuk menghadirkan balapan internasional dengan level yang lebih tinggi. Khususnya balapan roda empat. Karena untuk balapan roda empat yang digelar di Sirkuit Mandalika sejauh ini yang paling tinggi levelnya yakni GT World Challange Asia, balapan roda empat grade 3.

“Obsesi kami ke depan bisa menghadirkan balapan roda empat dengan level lebih tinggi lagi. Salah satu balapan Le Mans Asia,” ujarnya seraya menambahkan, kalau untuk balapan roda dua, Sirkuit Mandalika sudah punya MotoGP, ajang balap roda dua tertinggi di dunia.

Balapan Le Mans sendiri termasuk balapan internasional grade dua. Bisa dikatakan selevel di bawah balapan F1. Karena itu, untuk bisa menggelar balapan tersebut, pembenahan dari sisi Sirkuit Mandalika mutlak dilakukan. Supaya bisa memenuhi homologasi grade 2 sesuai yang disyaratkan FIA.

“Saat ini Sirkuit Mandalika baru mengantongi homologasi grade 3. Sehingga bisa menyelenggarakan ajang GT World Challange Asia. Tapi untuk bisa menggelar ajang Le mans Sirkuit Mandalika harus mengantongi homologasi FIA grade 2,” jelasnya.

Balapan Le Mans diikuti sekitar 40 mobil balap dengan spesifik hyper car, di atas super car dengan fokus pada ketahanan mobil. Di mana para pembalap akan melaju di lintasan selama 24 jam penuh.

Sebagai persiapan, pihaknya sudah mulai mengumpulkan regulasi atau persyaratan yang dibutuhkan untuk bisa menggelar balapan tersebut. Baik itu dari sisi teknis maupun lay out sirkuitnya. Menurutnya, mungkin tidak tahun ini bisa digelar, karena butuh persiapan cukup panjang.

“Tahun ini fokus kita pada persiapan-persiapan dulu. Targetnya tahun depan, ajang balap ini bisa terwujud,” ujarnya.

Menurut Rully, ajang balap Le mans bisa menjadi batu pijakan untuk bisa menghadirkan ajang balap roda tertinggi dunia, F1. Walaupun untuk bisa mewujudkan harapan tersebut tidak mudah dan masih butuh proses cukup panjang. Tapi setidaknya MGPA terus berupaya selangkah demi selangkah untuk bisa menghadirkan ajang balapan bergengsi di Sirkuit Mandalika.

Balapan Endurance Perdana Sukses

Sebelumnya, Sirkuit Mandalika sukses menggelar ajang Pertamina 6 Hours Endurance pada Sabtu (31/1/2026) hingga Minggu (1/2/2026) kemarin. Balap endurance yang perdana digelar di Sirkuit Mandalika itu diikuti 29 pembalap dengan sembilan tim. Selain pembalap nasional, ada beberapa pembalap internasional yang juga turut ambil bagian.

Pada balapan yang berlangsung selama 6 jam tersebut tim Razaiq Motosport sukses menjadi juara. Mengandalkan mobil Honda Brio, meraih waktu tercepat untuk satu putaran yakni 2 menit 3,618 detik. Dengan total putaran sebanyak 167 putaran. Diposisi kedua dan ketiga diisi Cargloss Racing Team (165 putaran) dan Banteng Motosport yang menorehkan 164 putaran. “Kedepan, Pertamina 6 Hours Endurance ini bakal jadi event rutin tahunan di Sirkuit Mandalika,” tegas Rully. (kir)