Beranda blog Halaman 49

KUA PPAS APBD-P 2026, Estimasi Pendapatan Lotim Naik Rp97 Miliar

0
KUA PPAS APBD-P 2026, Estimasi Pendapatan Lotim Naik Rp97 Miliar
(Suara NTB/ist) PENANDATANGANAN - Penandatanganan Nota Kesepakatan eksekutif dan legislatif Lotim tentang KUA PPAS Perubahan APBD 2026, Jumat (25/9/2026).

Selong (EKBIS NTB) – Badan Anggaran (Banggar) DPRD Lombok Timur (Lotim) membacakan hasil pembahasan Perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026 dalam sidang paripurna, Jumat (25/9/2026). Laporan dibacakan anggota DPRD Lotim, Hj. Nirmala Luk Santi. Angka pendapatan daerah naik hampir Rp97 miliar, tetapi belanja daerah justru dikoreksi naik dari Rp3,108 triliun menjadi Rp3,400 triliun.


Sorotan utama berkaitan dengan penganggaran tahun jamak Rehabilitasi Masjid Agung Al-Mujahidin Selong senilai Rp50 miliar, dengan APBD hanya Rp30 miliar dan Rp20 miliar dari sumbangan sukarela masyarakat
Dari sisi pendapatan, proyeksi berubah dari Rp3,320 triliun menjadi Rp3,417 triliun, atau naik Rp96,983 miliar. Pendapatan Asli Daerah (PAD) naik Rp13,419 miliar menjadi Rp597,897 miliar.

Kenaikan didorong retribusi daerah yang naik Rp10,831 miliar (3,16%) dari Rp342,824 miliar ke Rp353,655 miliar, serta lain-lain PAD sah yang melesat 22,12% dari Rp11,698 miliar ke Rp14,286 miliar. Pajak daerah tidak berubah, tetap Rp210,468 miliar. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan juga tetap Rp19,486 miliar.


Lonjakan lebih besar terjadi pada pendapatan transfer: dari Rp2,381 triliun menjadi Rp2,550 triliun, naik Rp169,649 miliar, bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH). Sementara lain-lain pendapatan daerah yang sah melonjak dari Rp525 juta menjadi Rp9,699 miliar, naik Rp8,942 miliar. Sumbernya, pendapatan bagi hasil pemegang IUP atas pertambangan mineral logam dan batu bara.


Di sisi belanja, dokumen awal pemerintah daerah sebesar Rp3,108 triliun dikoreksi menjadi Rp3,400 triliun. Belanja operasi turun tipis dari Rp2,546 triliun menjadi Rp2,544 triliun. Rinciannya: belanja pegawai turun dari Rp1,324 triliun menjadi Rp1,304 triliun (turun Rp20,186 miliar); belanja barang dan jasa naik dari Rp1,103 triliun menjadi Rp1,121 triliun (naik Rp18,176 miliar); belanja bunga tetap, bertambah Rp200 juta; belanja subsidi turun dari Rp1,5 miliar menjadi Rp1 miliar; dan belanja hibah naik tipis dari Rp117,290 miliar menjadi Rp117,301 miliar.


Belanja modal naik dari Rp395,461 miliar menjadi Rp398,512 miliar. Belanja tidak terduga ditetapkan Rp21 miliar, atau berkurang Rp5,125 miliar dari anggaran semula. Belanja transfer naik Rp21,074 miliar, dari Rp415,474 miliar menjadi Rp436,549 miliar. Pada sisi pembiayaan, penerimaan pembiayaan terkoreksi dari Rp124,047 miliar menjadi Rp121,199 miliar, sedangkan pengeluaran pembiayaan turun dari Rp27 miliar menjadi Rp23 miliar.


Dalam rapat paripurna yang sama, pemerintah daerah mengajukan penganggaran tahun jamak Sub Kegiatan Rehabilitasi Masjid Agung Al-Mujahidin Selong sebesar Rp50 miliar untuk tiga tahun anggaran, dimulai pada perubahan anggaran 2026. Menurut penjelasan TAPD dalam rapat dengan Banggar, dana itu untuk renovasi bangunan masjid dan penataan Taman Tugu Selong. Disepakati porsi APBD Rp30 miliar, sisanya Rp20 miliar dari sumbangan sukarela masyarakat.


Banggar menilai mekanisme tahun jamak tidak menyimpangi PP Nomor 12 Tahun 2019 dan Permendagri Nomor 77 Tahun 2020. “Penganggaran dengan mekanisme tahun jamak tidak menyimpangi ketentuan peraturan perundang-undangan,” demikian petikan laporan Banggar.


Namun, Banggar memberi catatan agar pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dalam Peraturan Daerah, termasuk pengaturan sumber pembiayaan di luar APBD, serta disosialisasikan masif kepada masyarakat agar tidak menimbulkan penafsiran berbeda.


Banggar merekomendasikan pemerintah daerah menyempurnakan dasar hukum penyusunan KUA dan PPAS karena masih ada aturan yang sudah tidak berlaku. PPAS 2026 yang akan diturunkan ke rencana kerja anggaran SKPD diminta disusun lebih selektif dan matang, dengan mempertimbangkan alokasi waktu penyelesaian pekerjaan agar tidak meninggalkan kewajiban pemerintah daerah di tahun berikutnya.


Dengan pendapatan yang naik dari transfer dan bagi hasil tambang, koreksi belanja serta proyek Rp50 miliar menjadi ujian transparansi. Jika sosialisasi tidak masif, bukan tidak mungkin proyek masjid agung dan sumbangan Rp20 miliar dari masyarakat menimbulkan polemik. Di tengah keterbatasan fiskal, publik menunggu apakah anggaran ini benar-benar untuk peningkatan ekonomi umat dan sarana ibadah, atau sekadar proyek simbolik yang membebani rakyat.


Pada momentum sidang paripurna ini, diteken langsung kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif tentang KUP PPAS perubahan APBD 2026 tersebut. Wakil Bupati Lombok Timur H. Edwin Hadiwijaya menegaskan penandatanganan Nota Kesepakatan Perubahan KUA dan PPAS APBD 2026 serta Nota Kesepakatan Pelaksanaan Sub Kegiatan Tahun Jamak Rehabilitasi Masjid Agung Al-Mujahidin Selong merupakan bukti nyata sinergi dan kolaborasi harmonis antara eksekutif dan legislatif. Hal itu disampaikan dalam Rapat Paripurna I Masa Sidang I Rapat Ke-2 DPRD Kabupaten Lombok Timur, 25 September 2026.


Ia menjelaskan, Rancangan Perubahan KUA-PPAS yang disampaikan pada 9 September 2026 telah melalui proses pembahasan Badan Anggaran DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah. Berbagai masukan, saran, dan perbaikan dihimpun, termasuk penjelasan dari OPD terkait kebijakan penganggaran.


“Berkat komitmen bersama yang mengutamakan kepentingan masyarakat Lombok Timur dan semangat kemitraan yang kuat, kita telah menyelesaikan tahapan ini dengan lancar,” ujar Wabup.


Menurut Wabup, catatan dan saran konstruktif selama pembahasan akan menjadi pedoman bagi perangkat daerah dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Perubahan 2026. Kesepakatan ini juga menjadi dasar pemerintah daerah menyusun Raperda tentang Perubahan APBD 2026 untuk dibahas dan disahkan sesuai peraturan perundang-undangan. (rus)

Pemda KLU Diminta Rancang Relokasi Pasar Tanjung

0
Pemda KLU Diminta Rancang Relokasi Pasar Tanjung
(EKBIS NTB/ist) I Made Karyasa

Tanjung (EKBIS NTB) – Jumlah penduduk yang semakin bertambah serta mobilitas yang makin tinggi, adalah dua di antara banyak faktor yang menuntut Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) untuk merelokasi Pasar Tanjung. Lokasi pasar saat ini dinilai sudah tidak ideal dengan perkembangan daerah. Selain luasan yang sempit, letak yang bersentuhan langsung dengan akses jalan nasional ikut memengaruhi kelancaran lalu lintas pada hari kerja.


Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua II DPRD Lombok Utara, I Made Karyasa, S.Pd.H., MM., Jumat (25/9/2026). Menurutnya, Pemda harus mencari alternatif lokasi pasar baru di seputaran Tanjung sebagai tempat transaksi harian. Mengingat, letak pasar tradisional Tanjung sudah tidak relevan dengan perkembangan wilayah.


“Kami mendorong supaya lokasi Pasar Tanjung direlokasi ke lokasi lain. Sedangkan lokasi pasar Tanjung digunakan untuk kepentingan lain, bisa untuk kantor, pusat kuliner atau lainnya,” ungkap Karyasa.


Ia menjelaskan, dengan kondisi saat ini, pasar Tanjung praktis menjadi bahan evaluasi dan diskusi di setiap siklus musim hujan. Bahkan setiap harinya, penumpukan sampah kerap menjadi pemandangan yang disaksikan oleh masyarakat dan pengguna jalan.


Karyasa menilai, sudah saatnya Pemerintah Lombok Utara menyesuaikan fasilitas Pasar Tradisional (yang sekarang disebut Pasar Rakyat) Tanjung, dengan ketentuan regulasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Regulasi tersebut mensyaratkan ketentuan luas area perdagangan dan zonasi pasar tradisional berdasarkan klasifikasi kelas atau tipe pasar.


Sekilas menurut Politisi PDIP KLU ini, berdasarkan aturan terbaru dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui SNI 8152:2025, serta regulasi Kementerian Perdagangan, terdapat ukuran luas pasar, luas bangunan, maupun luas ruang dagang (kios dan los).
“Misalnya untuk kios/toko, disyaratkan minimal 4 meter persegi, sedangkan untuk los pasar minimal 2 meter persegi,” ujarnya.


Begitu pula terhadap standar lahan Pasar Rakyat. Merujuk pada pembagian purwarupa dan tipe pasar oleh Kementerian Perdagangan, syarat minimum luas lahan yang harus disediakan bervariasi. Misalnya, Tipe A, lebih dari atau sama dengan 400 meter persegi hingga 5.000 meter persegi.


Karyasa mendorong pasar-pasar di Lombok Utara dikelola dengan penyediaan standar fasilitas penunjang yang mendukung kenyamanan dan keamanan pengunjung. Saat ini, lokasi parkir di pasar-pasar masih berorientasi jangka pendek. Dimana, kendaraan diparkir seadanya, kemudian pengunjung ditarik retribusi parkir sesuai Peraturan Bupati.


Karyasa melihat hampir seluruh pasar di Lombok Utara, terletak di akses jalan raya atau jalan nasional. Sehingga aktivitas pasar setiap harinya berpengaruh terhadap kelancaran pengguna jalan yang datang dari dan menuju Lombok Utara.


“Kita berharap persoalan ini segera diatensi. Berhubung kita juga sedang membahas soal tata ruang. Menjadi momentum bagi Pemda untuk menata ulang ruang publik, termasuk lokasi pasar,” tandasnya. (ari)

Harga Semen di Pengecer Capai Rp87 Ribu per Sak

0
Harga Semen di Pengecer Capai Rp87 Ribu per Sak
(EKBIS NTB/ist) MEMANTAU - Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Lobar, Lale Widiani turun memantau stok semen ke sejumlah distributor di wilayah Lobar.

Giri Menang (EKBIS NTB) – Penutupan Selat Hormuz di Iran disebut berdampak langsung pada pasokan semen global karena gangguan logistik kargo curah, serta melonjaknya biaya energi dan transportasi laut. Salah satu yang terdampak langsung adalah daerah Lombok Barat (Lobar). Sejak tiga bulan terakhir, pasokan semen ke distributor limit sehingga memicu kelangkaan.


Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Lobar, Lale Widiani, SH., menyampaikan bahwa pihaknya sudah turun mengecek stok semen di sejumlah distributor besar di wilayah Lobar, seperti Semen Tiga Roda, Bosowa, Tonasa, dan lainnya. Pengecekan juga dilakukan di tingkat pengecer.


Hasil pengecekan di tingkat pengecer, stok semen ditemukan kosong. Dari sisi harga semen di tingkat distributor tidak berubah. Artinya dari distributor ke toko tidak menaikkan harga di tengah kondisi limitnya semen ini.


Begitu pula di toko, harga semen tetap, tetapi dari hasil pengecekan timnya di lapangan yang menaikkan harga di tingkat pengecer. “Harga semen sampai Rp65-80 ribu per sak, kemarin tim kami temukan di Meninting dan Lembar harganya Rp87 ribu per sak,” sebutnya.


Kondisi kelangkaan dan melonjaknya harga semen ini tidak saja di Lobar, tetapi di semua daerah di Indonesia. Terkait langkah penanganan Pemkab, selain turun pemantauan ke lapangan. Sedangkan langkah lain tidak bisa dilakukan, karena persoalan pada pengiriman yang kurang karena kendala produksi secara nasional
Sementara itu, dari keterangan para distributor diperoleh informasi bahwa inti persoalannya hampir sama secara nasional.


“Pertama, pengiriman solar dari luar negeri masuk ke Indonesia tersendat karena Selat Hormuz itu tidak bisa dilewati, permasalahannya di sana. Sedangkan untuk bahan pembakaran semen itu juga diperlukan solar murni,” kata Lale, Jumat (25/9/2026).


Permasalahan kedua, pasokan batubara terkendala akibat sungai di Kalimantan airnya surut. Akibatnya, kapal untuk pengiriman batu bara pun tidak bisa lewat di sungai tersebut. “Jadi kapal batubara untuk pembakaran semen tidak bisa lewat,” imbuhnya.


Beberapa kendala ini menyebabkan produksi semen berkurang sehingga berpengaruh pada pasokan semen ke distributor. Menurut keterangan distributor, kondisi ini terjadi sejak bulan Juli, Agustus hingga September ini. “Dari distributornya saya tanya tadi mulai Juli, Agustus, September mulai limit pasokannya,” ungkapnya. (her)

Polda NTB Siapkan 2.667 Personel Kawal MotoGP Mandalika 2026

0
Polda NTB Siapkan 2.667 Personel Kawal MotoGP Mandalika 2026
RAPAT KOORDINASI - Rapat Koordinasi Pengamanan Penyelenggaraan Event MotoGP Series ke-18 Tahun 2026, di Hotel Lombok Raya, Kamis (24/9/2026). (EKBIS NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) – Polda NTB mempersiapkan 2.667 personel untuk mengamankan gelaran MotoGP Mandalika pada 9 hingga 11 Oktober 2026. Tak hanya personel Polri, pengamanan ajang balap internasional itu juga melibatkan personel TNI, pemerintah terkait, serta stakeholder terkait.

Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, Jumat (25/9/2026) mengatakan, personel Polri akan mengawal rangkaian gelaran MotoGP. Termasuk pengamanan di wilayah Polres jajaran.

“Dari Polri sendiri akan melibatkan 2.667 personel pengamanan. Untuk polres juga melakukan pengamanan di wilayah masing-masing,” kata Irjen Kalingga.

Selain kekuatan personel, Polda NTB nantinya akan melakukan cipta kondisi bersama Korem 162/WB, Pemda, ITDC, Lanal serta unsur terkait.

Kesiapan pengamanan, lanjutnya, telah dibahas dalam Rapat Koordinasi Pengamanan Penyelenggaraan Event MotoGP Series ke-18 Tahun 2026, di Hotel Lombok Raya, Kamis (24/9/2026). Rakor diikuti jajaran Polda NTB, Gubernur NTB, Danrem 162/WB, Kabinda NTB, Danlanal, Danlanud ZAM hingga pihak ITDC dan MGPA.

Kalingga juga menyebutkan, dukungan pengamanan juga datang dari Polda Bali. Penguatan lintas wilayah ini disiapkan untuk mendukung kelancaran rangkaian MotoGP Mandalika.

“Dari Polda Bali juga akan turut membackup,” tuturnya.

Ia juga mengimbau agar masyarakat ikut menjaga ketertiban selama event MotoGP berlangsung. Menurutnya, keamanan penonton dan pembalap akan mendukung dampak positif bagi sektor pariwisata.

“Kami imbau seluruh masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keamanan baik bagi penonton dan pembalap, demi kesuksesan pelaksanaan event MotoGP Mandalika,” tegasnya.

Kalingga berharap seluruh rangkaian MotoGP Mandalika 2026 berjalan aman, sukses dan kondusif. (mit)

Ketua DPRD NTB Serukan Seluruh Kabupaten/Kota Ikut Sukseskan MotoGP Mandalika

0
Ketua DPRD NTB Serukan Seluruh Kabupaten/Kota Ikut Sukseskan MotoGP Mandalika
Hj. Baiq Isvie Rupaeda (EKBIS NTB/dok)

Mataram (EKBIS NTB) – Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda mengajak masyarakat dan semua pihak untuk bersatu bersama-sama menyukseskan ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 9-11 Oktober 2026 mendatang. Mengingat dampaknya yang sangat besar bagi peningkatan perekonomian masyarakat lokal.

Ia menegaskan status NTB sebagai tuan rumah ajang balap motor paling bergengsi di dunia itu merupakan sebuah kehormatan besar yang harus dijaga bersama. Sehingga penyelenggaraanya berjalan lancar dan sukses.

“Pemda di seluruh Lombok saya kira harus ikut mendukung program ini. Ini kan gawe internasional, kita menjadi tempat MotoGP dan ini menjadi sebuah kehormatan bagi kita semua, sehingga kita perlu mendukung ajang dunia agar berjalan sukses dan aman,” serunya pada Kamis (24/9) malam.

Untuk itu, ia mendorong seluruh pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat luas, untuk memberikan dukungan penuh menyukseskan perhelatan ajang internasional tersebut. Apalagi, tamu dari berbagai negara akan datang ke Sirkuit Mandalika dalam beberapa hari ke depan, sehingga harus ada persiapan yang baik.

Isvie menekankan pentingnya pembenahan dan kesiapan matang dari segenap pemangku kepentingan. Persiapan ini dinilai sangat strategis mengingat NTB akan menyambut kedatangan para wisatawan dan tamu dari berbagai negara.

“Menyambut MotoGP Mandalika 2026 ini, kita harus kompak dan bersatu untuk bahu membahu menyukseskan gawe internasional yang kelima digelar di wilayah kita,” katanya.

Menyinggung penjualan tiket yang masih terus berlangsung, Isvie menilai bahwa urusan teknis pemasaran merupakan kewenangan pihak penyelenggara, dalam hal ini Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) bersama mitra kerja mereka.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menyukseskan gelaran ini berada di tangan seluruh elemen masyarakat NTB. Isvie mengimbau seluruh lapisan masyarakat hingga jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi NTB maupun pemerintah kabupaten/kota se-Pulau Lombok untuk berpartisipasi aktif, mengingat keterlibatan ASN dalam membeli tiket dan menonton langsung di sirkuit merupakan bentuk nyata dukungan terhadap ajang daerah.

“Soal tiket, mereka yang punya urusan. Tapi kita semua harusnya membeli dan mendukung. Kita mengimbau kepada seluruh ASN untuk ikut berpartisipasi dengan membeli tiket. Kan banyak kategori tiket di situ, saya kira tidak ada masalah. Kecuali memaksa yang tidak boleh, tapi kalau menghimbau saya kira boleh,” kata Isvie.

Dilihat dari sisi ekonomi, Isvie mengaku optimistis keberadaan MotoGP membawa dampak positif yang signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Apalagi, aktivitas perdagangan dan geliat ekonomi yang meningkat selama gelaran dinilai mampu memberikan “multiplier effect” bagi perekonomian lokal. (ndi)

Disperkim Verifikasi 300 Calon Penerima Tambahan Program RTLH

0
Disperkim Verifikasi 300 Calon Penerima Tambahan Program RTLH
DAPAT BANTUAN - Kondisi rumah tidak layak huni di Kota Mataram yang akan mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah. (EKBIS NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) – Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Mataram mulai melakukan verifikasi dan validasi terhadap calon penerima tambahan program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) sebanyak 300 unit. Tambahan kuota tersebut diperoleh Pemerintah Kota Mataram dari pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk pelaksanaan program pada 2026.

Dengan tambahan 300 unit tersebut, total RTLH yang masuk dalam program perbaikan di Kota Mataram tahun ini mencapai 1.144 unit. Sebelumnya, Kota Mataram telah mendapatkan kuota perbaikan sebanyak 844 unit.

Kepala Disperkim Kota Mataram, Muhammad Nazaruddin Fikri, mengatakan proses verifikasi terhadap calon penerima tambahan 300 unit tersebut masih berlangsung. Calon sasaran tersebar di enam kecamatan di Kota Mataram.

“Alhamdulillah, kemarin kita dapat penghargaan di nasional sehingga Pak Wali menerima 300 unit RTLH,” ujar Nazaruddin, Jumat (25/9).

Ia menjelaskan, tambahan kuota tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah pusat terhadap upaya penanganan rumah tidak layak huni di daerah. Namun, sebelum program direalisasikan, Disperkim harus memastikan calon penerima memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Menurut Nazaruddin, verifikasi dan validasi dilakukan untuk memastikan bantuan benar-benar diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria. Pemeriksaan antara lain meliputi kelengkapan administrasi, kartu keluarga (KK), status kepemilikan lahan, serta kondisi rumah yang akan mendapatkan bantuan.

Selain kelengkapan dokumen, Disperkim juga harus memastikan lokasi rumah calon penerima. Hal tersebut menjadi perhatian karena karakteristik permukiman di Kota Mataram cukup beragam, termasuk adanya kawasan dengan akses jalan yang relatif sempit.

“Sekarang kita masih melakukan verifikasi dan validasi. Kita cek dokumennya, KK, kepemilikan lahannya, kemudian lokasi rumahnya,” katanya.

Nazaruddin mengatakan, penentuan lokasi menjadi bagian penting dalam proses persiapan pelaksanaan program. Hal ini berkaitan dengan proses pengerjaan sekaligus distribusi material bangunan ke lokasi penerima bantuan.

Ia mengakui, akses menuju sejumlah rumah yang menjadi sasaran program cukup terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mobilisasi material, terutama apabila rumah penerima berada di tengah kawasan permukiman padat.

“Rata-rata akses jalan ke lokasi RTLH sempit sehingga membutuhkan tenaga ekstra saat distribusi material. Tapi, alhamdulillah, sejauh ini masih bisa diatasi,” ucap Ujang.

Selain persoalan akses, faktor cuaca juga menjadi perhatian Disperkim. Pengerjaan fisik yang dilakukan menjelang akhir tahun berpotensi menghadapi kendala apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Karena itu, pihaknya berupaya memastikan tahapan persiapan, termasuk verifikasi calon penerima, dapat diselesaikan sehingga pekerjaan fisik bisa segera dilaksanakan.

Sementara itu, dari total 844 unit RTLH yang telah diperoleh sebelumnya, sekitar 600 unit di antaranya telah selesai dikerjakan. Adapun sisanya masih dalam proses pengerjaan dan ditargetkan dapat dituntaskan hingga akhir 2026. (pan)

Nunggak PajakDelapan Papan Reklame Disegel

0
Nunggak PajakDelapan Papan Reklame Disegel
(EKBIS NTB/ist) DISEGEL – Badan Keuangan Daerah Kota Mataram menyegel papan reklame yang menunggak pajak di Jalan Airlangga pada, Kamis (24/9). Masyarakat diimbau meningkatkan ketaatan dan kepatuhan membayar pajak.

Mataram (EKBIS NTB) –Badan Keuangan Daerah Kota Mataram menyegel delapan papan reklame. Penyegelan dilakukan karena pengusaha menunggak pajak. Papan reklame yang disegel berada di Jalan Brawijaya, Jalan Catur Warga, Jalan Airlangga, SPBU Malomba dan seputaran depan Mataram Mall.


Kepala Bidang Pelayanan, Penyuluhan dan Penagihan Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, Ahmad Amrin dikonfirmasi pada, Jumat (25/9) menerangkan, penyegelan papan reklame dilakukan mulai Senin-Kamis (21-24/9) di delapan titik. Penyegelan itu karena pengusaha menunggak pajak setelah berulangkali diberikan surat peringatan untuk melunasi kewajiban mereka. “Yang jelas kita sudah melakukan penagihan sesuai peraturan kemudian belum membayar sehingga dilakukan penempelan,” kata Amrin.


Penempelan ini sebagai bentuk sanksi sosial kepada wajib pajak,karena tidak mentaati peraturan. Pihaknya menjalankan tugas sesuai dengan ketentuan aturan yang berlaku. Pasca penempelan kata Amrin, tiga pengusaha kooperatif dengan membayar tunggakan pajak daerah. Sementara, salah seorang wajib pajak yang membuka paksa penyegelan papan reklame telah datang melunasi tunggakan pajak mereka. “Pemilik papan reklame membuka sendiri tempelan itu dan langsung datang melunasi tunggakan pajak ke kantor,” jelasnya.


Di satu sisi diakui Amrin, beberapa piutang pajak reklame terjadi sengketa. Artinya, piutang yang ditagihkan periode Januari-Agustus 2024 ternyata mitra membatalkan pemasangan iklan, sehingga harus diselesaikan dengan menunjukan bukti dokumen pembatalan dari klien.


Amrin mengingatkan masyarakat taati dan patuhi waktu pembayaran pajak. Pajak yang tidak disetor ke kas daerah memiliki dampak yang tidak bagus bagi usaha yang dijalankan oleh pengusaha. “Masyarakat sudah menitipkan pajak jadi harus diteruskan ke daerah,” ujarnya.


Target pajak reklame pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2026 mencapai Rp6 miliar. Realisasi baru mencapai 57,66 persen atau sekitar Rp3,4 miliar lebih. (cem)

Rayakan HUT ke-56, Astra Motor Resmikan Desa Bengkaung Sebagai Desa Sejahtera Astra

0

Mataram (Ekbis NTB) — Dalam rangka memperingati HUT ke-56, Astra Motor kembali memperkuat komitmen kontribusi sosialnya melalui langkah nyata pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Desa Bengkaung yang terletak di Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, secara resmi diresmikan sebagai Desa Sejahtera Astra (DSA) binaan Astra Motor pertama di Indonesia pada Jumat, 25 September 2026.

Peresmian yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Chief Executive Astra Motor Robien Tony, Kepala Wilayah Astra Motor NTB Suryanto Wirawan beserta jajaran manajemen, Kepala Desa Bengkaung H. Faizul Bayani, M.Pd., para perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Potensi Besar Desa Bengkaung Menuju Desa Mandiri

Kepala Desa Bengkaung, H. Faizul Bayani, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan haru atas terpilihnya Desa Bengkaung sebagai lokasi program Astra. Mengingat pada tahun 2019 desa ini sempat berstatus sebagai Desa Tertinggal, kini statusnya telah meningkat menjadi Desa Maju. Kehadiran Astra Motor diibaratkan sebagai “bulan jatuh ke pangkuan” yang diyakini mampu menjadi katalisator bagi Desa Bengkaung untuk menggapai status tertinggi berikutnya, yakni Desa Mandiri.

Secara geografis dan demografis, Desa Bengkaung memiliki potensi yang sangat besar. Terdiri dari 7 dusun dengan luas wilayah lebih dari 522 hektare, desa ini dihuni oleh lebih dari 4.103 jiwa atau sekitar 1.484 hingga 1.700 kepala keluarga.

Implementasi 4 Pilar CSR Astra di Bengkaung

Chief Executive Astra Motor, Robien Tony, menegaskan bahwa bagi perusahaan, keberlanjutan bukan sekadar tentang pertumbuhan bisnis semata, melainkan bagaimana pertumbuhan tersebut mampu memberikan dampak positif dan manfaat jangka panjang bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.

“Bagi Astra Motor, keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana sebuah perusahaan dapat terus tumbuh, tetapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ujar Robien Tony.

Program pemberdayaan ini diwujudkan melalui empat pilar Corporate Social Responsibility (CSR) Astra Motor, yang mencakup:

  1. AM Health (Kesehatan): Pelatihan kader posyandu serta penyerahan sumbangan makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil dan balita.
  2. AM Growth (Kewirausahaan): Melanjutkan dan memperluas pembinaan UMKM lokal—setelah tahun sebelumnya sukses mendukung pengembangan produk Madu Trigona.
  3. AM Smart (Pendidikan): Dukungan infrastruktur berupa pembangunan tembok keliling untuk keamanan sekolah TK/PAUD Rinjani, serta bantuan meja dan kursi guna menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar. Selain itu, dihadirkan pula fasilitas edukasi Safety Riding for Kids untuk menanamkan kesadaran tertib berlalu lintas sejak usia dini.
  4. AM Greeners (Lingkungan): Solusi darurat krisis air bersih dan sanitasi melalui pembuatan pipa sanitasi serta fasilitas biopori guna menjaga kesuburan tanah dan penyerapan air secara optimal.

Kolaborasi Jangka Panjang Bersama Masyarakat

Sementara itu, Kepala Cabang Astra Motor NTB, Suryanto Wirawan, menambahkan bahwa pendekatan pemberdayaan ini dirancang secara relevan dengan melihat potensi serta kebutuhan riil masyarakat setempat.

“Kami tentunya berharap berbagai fasilitas dan program yang telah diberikan dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Desa Bengkaung. Kami ingin tumbuh dan maju bersama masyarakat Desa Bengkaung,” tutup Suryanto.

Melalui momentum HUT ke-56 ini, Astra Motor berharap jalinan kolaborasi dan komunikasi yang baik—yang direncanakan berjalan berkesinambungan hingga tahun 2031—dapat terus dijaga demi mewujudkan masyarakat Desa Bengkaung yang semakin mandiri, makmur, dan sejahtera. (r/fan)

Korban Perdagangan Orang Asal NTB Terdeteksi di Myanmar

0
Korban Perdagangan Orang Asal NTB Terdeteksi di Myanmar
Muhamad Yanuar Fikri


Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) bersama KBRI Yangon berhasil mendeteksi keberadaan seorang warga NTB, Muhamad Yanuar Fikri, yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban perdagangan orang ke Myanmar.


Warga asal Kota Mataram itu kini diketahui berada di kawasan Myawaddy, Kayin State, Myanmar, wilayah yang berbatasan langsung dengan Thailand.


Kepala Disnakertrans NTB, Aidi Furqon, Jumat, 25 September 2026 mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk memastikan kondisi Yanuar sekaligus menyiapkan langkah penjemputan dan pemulangan ke Indonesia.


“Lokasinya sudah berhasil diidentifikasi. Sekarang kita terus berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk memastikan kondisi yang bersangkutan dan bagaimana mekanisme penjemputannya,” katanya.
Berdasarkan laporan perkembangan penanganan, KBRI Yangon telah berhasil berkomunikasi dengan Yanuar melalui WhatsApp pada 24 September 2026. Dari komunikasi tersebut diketahui Yanuar tiba di Myanmar melalui Bandara Yangon sekitar 15 September 2026.


Sehari kemudian, lokasi keberadaannya berhasil ditelusuri hingga kawasan Asia Road, Myawaddy–Thin Gan Nyi Naung Road, Myawaddy.


Kawasan tersebut berada di wilayah perbatasan Myanmar-Thailand. Myawaddy dikenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam kasus perdagangan manusia dan online scam.
“Keberadaan di Myawaddy belum otomatis berarti yang bersangkutan korban TPPO. Itu masih harus diverifikasi. Kita menunggu hasil pendalaman KBRI,” ujar Aidi.


Aidi menjelaskan, upaya pemulangan tidak dapat dilakukan seperti penjemputan biasa. Myawaddy merupakan wilayah perbatasan dengan situasi keamanan yang kompleks.


Berdasarkan laporan Disnakertrans NTB, perjalanan dari lokasi Yanuar menuju Yangon membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam melalui jalur darat. Waktu tempuh tersebut dapat berubah bergantung kondisi jalan, pemeriksaan di checkpoint, keamanan dan jalur yang dapat dilalui.


Kondisi keamanan Myanmar sendiri masih dinamis. Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya juga mencatat penanganan WNI yang terjebak di Myawaddy sebagai salah satu kasus kompleks. Faktor konflik bersenjata dan penguasaan sejumlah wilayah oleh kelompok bersenjata menjadi kendala dalam proses penyelamatan dan pemulangan WNI.


Karena itu, Pemprov NTB menyerahkan koordinasi teknis penjemputan kepada KBRI Yangon dan pemerintah pusat.


Saat ini, beberapa hal masih didalami KBRI Yangon, mulai dari kondisi keselamatan dan kesehatan Yanuar, kebebasan bergerak, pihak yang bersamanya, dokumen perjalanan, hingga status pekerjaan dan proses keberangkatannya ke Myanmar.


Termasuk kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, penyekapan, TPPO atau tindak pidana lainnya.


“Yang paling penting sekarang memastikan dia aman. Setelah itu baru kita lihat bagaimana mekanisme pemindahannya dari Myawaddy ke Yangon dan selanjutnya dipulangkan ke Indonesia,” jelas Aidi.


Pemprov NTB juga terus berkomunikasi dengan keluarga Yanuar. Pemerintah daerah menyatakan siap mendukung proses perlindungan dan pemulangan yang dilakukan Kementerian Luar Negeri, KBRI Yangon dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.


Sementara itu, KBRI Yangon merupakan perwakilan resmi Indonesia yang menangani perlindungan WNI di Myanmar. Kanal Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri juga mencantumkan hotline pelindungan WNI +62-812-9007-0027. (peduliwni.kemlu.go.id)


“Koordinasi terus kami lakukan. Fokus kita sekarang memastikan keselamatan yang bersangkutan dan mendapatkan arahan KBRI terkait langkah penjemputan yang aman,” tandasnya.(bul)

Perluas Layanan Transaksi Internasional, Bank NTB Syariah Siapkan Transformasi jadi Bank Devisa

0

Mataram (Suara NTB)- Bank NTB Syariah terus mempersiapkan langkah transformasi untuk menjadi Bank Devisa sebagai bagian dari pengembangan bisnis dan perluasan layanan transaksi internasional. Rencana tersebut menjadi salah satu agenda transformasi Bank NTB Syariah dengan target Go-Live pada Triwulan I 2028, sebagaimana tercantum dalam roadmap dan Rencana Bisnis Bank (RBB) Perubahan Tahun 2026–2028.

Direktur Keuangan dan Operasional Bank NTB Syariah, Ajar Susanto Broto, mengatakan proses menuju Bank Devisa dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan internal serta pemenuhan ketentuan dan persyaratan regulator.

“Transformasi menuju Bank Devisa merupakan bagian dari langkah pengembangan Bank NTB Syariah untuk memperluas kapasitas layanan dan menjawab kebutuhan transaksi internasional masyarakat serta pelaku usaha di Nusa Tenggara Barat,” ujar Ajar.

Ia menjelaskan, pada 2026 Bank NTB Syariah telah menyiapkan sejumlah tahapan awal, mulai dari inisiasi proyek, pembentukan tim Project Management Office (PMO), benchmarking, penyusunan feasibility study, identifikasi kebutuhan sistem dan kebijakan, gap analysis terhadap ketentuan regulator, hingga persiapan sumber daya manusia.

Tahapan selanjutnya mencakup pengembangan kebijakan dan standar operasional prosedur (SOP), penguatan kesiapan SDM dan infrastruktur teknologi, pengembangan sistem, pelaksanaan User Acceptance Test (UAT), hingga regulatory submission sebelum memasuki tahap Go-Live.

Menurut Ajar, kesiapan fundamental Bank NTB Syariah menjadi salah satu aspek yang terus diperkuat dalam proses transformasi tersebut. Total aset Bank NTB Syariah meningkat dari sekitar Rp11,21 triliun pada 2020 menjadi Rp17,35 triliun pada 2025. Pada periode yang sama, pembiayaan meningkat dari sekitar Rp7,41 triliun menjadi Rp12,21 triliun.

“Pertumbuhan aset dan pembiayaan tersebut menjadi bagian dari fondasi yang terus kami perkuat. Ke depan, status Bank Devisa diharapkan dapat membuka peluang pengembangan layanan transaksi internasional, termasuk trade finance, pembiayaan ekspor dan impor, serta layanan bagi pelaku usaha yang memiliki aktivitas berorientasi ekspor,” jelas Ajar.

Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank NTB Syariah meningkat dari sekitar Rp8,14 triliun pada 2021 menjadi Rp14,05 triliun pada 2025. Pengembangan status Bank Devisa juga membuka peluang bagi Bank NTB Syariah untuk mengembangkan sumber dana dan transaksi dalam valuta asing sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam mempersiapkan transformasi tersebut, Bank NTB Syariah juga melakukan benchmarking kepada Bank NTT yang telah lebih dahulu memperoleh izin sebagai Bank Devisa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk memperoleh referensi mengenai tahapan persiapan dan pemenuhan berbagai aspek yang diperlukan.

“Melalui benchmarking, kami memperoleh gambaran dan pembelajaran mengenai sejumlah aspek penting, mulai dari pemenuhan dokumen perizinan, penguatan organisasi dan SDM, sistem informasi, kebijakan dan SOP, penerapan APU PPT, hingga kesiapan hubungan dengan bank koresponden luar negeri, termasuk Nostro dan kustodian,” kata Ajar.

Hasil benchmarking tersebut selanjutnya menjadi salah satu referensi Bank NTB Syariah dalam menyusun gap analysis dan roadmap persiapan, khususnya pada aspek organisasi, manajemen risiko, SDM, sistem informasi, kebijakan dan SOP, APU PPT, serta infrastruktur transaksi valuta asing.

Dari sisi infrastruktur, Bank NTB Syariah juga mempersiapkan sejumlah sistem pendukung yang diperlukan untuk menunjang kegiatan Bank Devisa. Kajian dan persiapan antara lain mencakup Treasury System, FX Branch Dealing System, Core Banking System Devisa, Remittance System, Trade Finance System, dan Treasury Telephone System.

Penguatan kompetensi SDM juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut melalui pelatihan dan sertifikasi yang berkaitan dengan kegiatan usaha dalam valuta asing, foreign currency remittance, dan trade finance.

Ajar menegaskan, proses transformasi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pemenuhan ketentuan regulator.

“Kami menargetkan kesiapan operasional Bank Devisa pada Triwulan I 2028. Namun, seluruh tahapan tetap akan berjalan sesuai kesiapan Bank serta pemenuhan persyaratan dan proses perizinan dari regulator,” tutup Ajar.

Transformasi menuju Bank Devisa diharapkan dapat memperkuat kapasitas Bank NTB Syariah dalam menyediakan layanan keuangan yang semakin beragam, sekaligus mendukung kebutuhan transaksi internasional masyarakat dan pelaku usaha di NTB.(bul)