Thursday, April 9, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 440

Sejumlah Harga Komoditi di Pasar Induk Dompu Naik

0
Penjual ikan di Pasar Induk Dompu. (ekbisntb.com/ant)

SEJUMLAH harga komoditi atau barang pokok (Bapok) di Pasar Induk, Kabupaten Dompu merangkak naik di awal tahun 2025.

“Semuanya sudah naik, harga cabai kriting perkilonya sekarang sudah Rp70 ribu, cabai rawit Rp100 ribu, tomat Rp30 ribu dan bawang merah Rp40 ribu per kilogram,” kata Inang penjual di pasar Induk Dompu, Minggu 12 Januari 2025.

Kenaikan ini, lanjutnya, terjadi pada jenis sayuran seperti kol Rp15 ribu per setengah kilo, bayam, kangkung, biasanya Rp.1.000/ikat kini Rp2.000/ikat. Namun, nasib kurang beruntung justru dialami pedagang ikan.

“Saat ini harga ikan di pasar justru murah dan mengalami penurunan. Semisal ikan kembung yang pada dua hari lalu dijual Rp25 ribu per dua ekor sekarang menjadi Rp10 ribu per ekor. Begitu pun dengan ikan-ikan lain,” jelas Ratna yang mengaku sudah puluhan tahun berjualan ikan.

Ia menjelaskan, ikan-ikan yang dijual di pasar Induk Dompu ini didatangkan dari Kempo, Sanggar, Bima hingga Sape.(ant)

OP Cabai dan Galakkan Pemanfaatan Pekarangan

0
H. Lalu Pelita Putra(ekbisntb.com/ris)

KOMODITAS cabai kembali menjadi perhatian masyarakat setelah harga bumbu dapur ini meningkat tajam beberapa pekan terakhir. Kini harganya sekitar Rp100 ribu per kg.

Kenaikan harga cabai tersebut, banyak dikeluhkan oleh masyarakat, karena kebutuhan cabai tak pernah menurun. Justru di hari-hari besar keagamaan, permintaan pasar semakin besar.

Terkait dengan hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD NTB H. Lalu Pelita Putra meminta masyarakat untuk melakukan beberapa kebijakan untuk menormalkan harga cabai di pasar.

Misalnya kegiatan operasi pasar (OP) untuk komoditas cabai serta beberapa komoditas yang mulai merangkak naik. Kegiatan ini dipandang bisa menurunkan harga di pasar karena harga jual di kegiatan OP biasanya lebih rendah.

“Terhadap dampak bagi masyarakat tentu mempengaruhi daya beli masyarakat kita, untuk itu mungkin ada kebijakan subsidi terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau program apalah sejenis operasi pasar dan lain-lain,” ujar Lalu Pelita Putra kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Pemda melalui OPD terkait juga diminta untuk mengawasi dan menindak tegas jika ada pihak-pihak yang mempermainkan harga cabai di pasar. “Harus dilakukan pengawasan harga cabai di pasar dan tegas terhadap pelanggaran harga,” ujar politisi PKB ini.

Pelita juga mengajak masyarakat untuk mulai menggalakan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam beberapa komoditas untuk kebutuhan rumah tangga dengan sistem hidroponik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebab sesungguhnya pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, seperti sumber pangan. Pekarangan bisa ditanami sayuran, cabai, tomat, buah, umbi-umbian, tanaman obat, dan tanaman hias. Hasil panennya bisa menjadi sumber pangan tambahan untuk keluarga dan meningkatkan ketahanan pangan.

“Pekarangan juga bisa menjadi sumber pendapatan sehingga bisa menjadi sumber penghasilan keluarga. Disamping memang pekarangan bisa menjadi tempat yang menarik, nyaman, dan sehat,”  katanya.(ris)

Tangani Oknum WP Nakal dan Aset, Pemkab akan Tempuh Jalur Hukum

0
H. Ilham (ekbisntb.com/ist)

Pemkab Lombok Barat (Lobar) akan menempuh jalur hukum untuk menangani sejumlah wajib pajak (WP) nakal dan perkara aset yang tak kunjung tuntas, seperti STIE AMM. Langkah ini disarankan oleh KPK ketika memberikan sosialisasi pencegahan Korupsi di Lobar pekan kemarin.

Penjabat (Pj) Bupati Lobar H. Ilham menegaskan beberapa catatan KPK kaitan dengan aset dengan pihak ketiga, piutang pajak ditindaklanjuti pihaknya. “Kita terus berkoordinasi dengan Korsupgah KPK, Kejati maupun Polda untuk ada percepatan penyelesaian,” tegasnya.

Pihak Pemkab akan terus didampingi KPK, supaya persoalan ini bisa dipercepat.  Termasuk dengan lahan aset STIE AMM. Terkait langkah hukum yang disarankan KPK, Pj Bupati menegaskan pihaknya akan melakukan itu. “Kalau memang itu yang harus kita lakukan, ya kita harus kita Lakukan. Tidak masalah,”ujarnya.

Diketahui pada pertengahan tahun lalu, Tim KPK mendampingi Pemkab Lobar untuk memasang spanduk di sejumlah tempat usaha penunggak pajak. Terdiri dari rumah makan, lapang golf dengan nilai tunggakan mencapai Rp1,5 miliar.

Kepala Bapenda Lobar Muhammad Adnan yang mendampingi tim KPK turun pemasangan Spanduk Peringatan Penunggak Pajak yang dipasangkan plang, menjelaskan tunggakan pajak di lapangan golf yang berada di Desa Golong, Kecamatan Narmada mencapai Rp1,4 miliar.“Tunggakan pajaknya mencapai Rp1,4 miliar,”sebutnya.

Tunggakan merupakan pokok dan denda terhitung selama tiga tahun.  Alasan pihak pengelola belum membayar pajak disebabkan sepi pengunjung. Bahkan, kondisi bangunan rusak mau roboh. Pihak pengelola meminta keringanan pengurangan atau penyesuaian besaran pajak dan denda pajak yang dibayar ke Pemda. Dan itu sudah diajukan ke Pemda, namun pihak Pemda belum menyetujui.

Selain itu, ada juga tunggakan pajak di Rumah Makan MM yang berlokasi di wilayah Labuapi. Jumlah tunggakannya mencapai Rp100 juta. “Tunggakannya Rp100 jutaan tahun ini belum bayar,”sebutnya.

Oleh tim KPK, meminta Pemkab memasang plang tunggakan secara mandiri. “Termasuk penyegelan,”tegasnya kemudian.

Ia menambahkan, pihaknya melakukan pendekatan ke pengelola usaha. Jika tidak ada iktikad baik, barulah dilakukan upaya penyegelan.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup)Dian Patria mengatakan jangan sampai ada pembiaran terhadap pengusaha yang nunggak pajak. Karana itu, pihaknya mendampingi Pemda melakukan upaya memaksimalkan potensi pajak daerah. Pihaknya turun mendampingi Pemda memasang plang penunggak pajak di beberapa objek wajib pajak.

Ia menyebut, ada lapangan Golf yang menyewa hingga 70 tahun. Dan beberapa tahun belum bayar pajak. Selain itu, tempat usaha rumah makan juga belum bayar pajak. Ia mendorong agar semua pihak terkait taat, membayar pajak sesuai kewajibannya. Dikatakan, kalau sudah dilakukan upaya persuasif semacam ini tidak bisa juga, maka Pemkab didorong untuk melaporkannya ke APH. “Kami dorong Pemda lapor ke APH,” tegasnya. (her)

Jalan Lingkar Utara Lombok Butuh Pembebasan Lahan di 7 Km untuk Penuhi Standar  

0
Salah satu jalur Lingkar Lombok Utara yang butuh pelebaran jalan untuk memenuhi standar (ekbisntb.com/ist)

PEMBANGUNAN jalan nasional sepanjang 41 kilometer yang menjadi bagian dari jalur lingkar utara Pulau Lombok kini telah tuntas. Pembangunan jalan dengan total anggaran hampir Rp 400 miliar yang bersumber dari pembiayaan Bank Dunia tersebut kini menjadi akses primadona pengguna jalan.

Proyek ini dilengkapi dengan empat jembatan utama yang diharapkan dapat memperlancar akses transportasi di wilayah tersebut. Namun, masih ada sekitar tujuh kilometer jalan yang perlu diperlebar agar sesuai dengan standar lebar jalan nasional.

Jalan selebar 7 meter di jalur tersebut mengalami penyempitan menjadi 4,5 meter pada beberapa titik akibat kendala dalam pembebasan lahan. Pembebasan lahan yang belum sepenuhnya tuntas di beberapa lokasi ini menjadi hambatan utama dalam penyelesaian perlebaran jalan tersebut.

Terkait masalah ini, anggota Komisi V DPR RI Dapil NTB 2 H Abdul Hadi menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan hambatan yang ada, khususnya dalam hal pembebasan lahan dan perlebaran jembatan.

“Saya berharap pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Lombok Utara, dapat mempercepat proses pembebasan lahan. Dengan begitu, pembangunan jalan nasional ini bisa selesai sepenuhnya dan manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat,” ujar Abdul Hadi akhir pekan kemarin.

Abdul Hadi menegaskan komitmennya untuk menjadi fasilitator antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah guna mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di NTB, termasuk di Kabupaten Lombok Utara.

Abdul Hadi juga menambahkan, dengan rampungnya sebagian besar jalan lingkar utara, jalur ini diharapkan dapat mendukung konektivitas antarwilayah di Pulau Lombok, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di wilayah Lombok Utara.

Di sisi lain, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTB, Rikson, mengungkapkan bahwa pelebaran jalan di jalur Pemenang-Bayan Lombok Utara masih membutuhkan perhatian.

‘’Sekitar 7 kilometer jalan masih memerlukan pelebaran untuk mencapai lebar standar 7 meter. Jalan yang sudah ada kini hanya memiliki lebar 4,5 meter,” ujar Rikson.

Ia menambahkan, pihaknya membutuhkan dukungan dari Pemerintah Daerah Lombok Utara untuk pembebasan lahan sepanjang 7 kilometer tersebut.

“Kami berharap pada tahun 2025 ini Pemda Lombok Utara dapat segera menyelesaikan pembebasan lahan, sehingga pada tahun depan kami bisa menganggarkan untuk perlebaran jalan tersebut,” tambahnya.

Dengan penyelesaian proyek ini, diharapkan aksesibilitas dan distribusi barang di Pulau Lombok akan semakin lancar, serta dapat mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Lombok Utara.(ris)

Meroketnya Harga Cabai  Akibat Cuaca

0
Baiq Nelly Yuniarti (ekbisntb.com/dok)

PADA awal tahun 2025, masyarakat dihadapkan dengan tingginya harga komoditas cabai yang cukup mahal. Pengaruh cuaca hingga stok yang minim menyebabkan harga cabai semakin mahal. Laporan Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB per tanggal 10 Januari 2025, harga cabai rawit di angka lebih dari Rp80 ribu per kg. Begitu juga cabai merah berada di angka Rp68 ribu per kg. Belum lagi di tingkat pedagang eceran warung dan keliling, tentunya harga cabai makin ‘’pedas’’.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si., menyebutkan tingginya harga cabai ini disebabkan belum memasuki musim panen dan petani tidak memiliki stok cabai sama sekali. Tingginya curah hujan juga berdampak pada kenaikan harga karena lambannya musim panen.

Kondisi ini diperparah dengan tidak bisanya NTB mendatangkan cabai dari luar daerah karena kondisi di Jawa juga sama, yaitu kekosongan stok sehingga transaksi bisnis ke bisnis antar pengusaha tidak bisa berjalan.

“Yang naik harga bapok kita minggu-minggu ini kita di cabai dan tomat. Itu memang sangat tinggi sekali dan kami harus akui. Penyebabnya setelah kami koordinasi dengan distributornya karena mereka tidak punya stok, mereka mencari stok dari seberang, kondisi di Jawa juga sedang tidak ada,” ujarnya kepada pada Ekbis NTB, Selasa, 7 Januari 2024.

Menurutnya, meski harga cabai sangat tinggi, namun sedikit terselamatkan karena daya beli masyarakat masih rendah karena tidak adanya kegiatan seperti megiatan keagamaan yang menyebabkan daya beli masyarakat tinggi.

Namun, Nelly mengatakan pihaknya perlu mengantisipasi lonjakan harga pada saat bulan puasa yang akan berlangsung bulan Maret 2025 mendatang. “Pada saat bulan puasa kita takut cabai masih tinggi. Karena itu kita perlu menstok sebelum bulan Puasa,” katanya.

Stok cabai ini nantinya akan didatangkan dari luar pulau apabila petani cabai NTB belum panen. Kendati demikian, pihaknya berharap agar cabai segera memasuki musim panen karena setelah bulan Ramadhan, ada hari raya Galungan sehingga tingkat konsumsi masyarakat terhadap bapok khususnya cabai akan tinggi dalam beberapa bulan ke depan. “Jangan sampai di hari raya yang dua itu harga tinggi, mudah-mudahan tidak,” ucapnya.

Nelly menyatakan, NTB memasuki musim panen cabai sekitar bulan Maret, sehingga diharapkan harga pada bulan tersebut bisa terkendali dan tidak membebani masyarakat. “Sekarang kita belum panen dan stoknya tidak ada. Itu yang membuat tinggi,” tegasnya.

Sementara tomat, dikatakan kenaikan harga komoditas ini hanya berlaku di Pulau Lombok. Kenaikan tidak disebabkan kekurangan stok, melainkan memang waktunya mengalami kenaikan.

“Tomat ya memang dia musiman gitu. Kadang-kadang dia ambruk sekali. Jadi kalau saya bilang dia mengejar ke harga normal. Karena memang tomat ini kalau tidak berharga dia hanya Rp500 per kilogram. Jadi memang saat-saat ini dia di harga Rp20 ribu. Jangan sampai Rp40 ribu,” jelasnya. (era)

Ketika Harga Cabai Makin ‘’Pedas’’

0
Salah satu petani menunjukkan cabai yang sedang dalam proses pemeliharaan. Sekarang ini, banyak tanaman cabai yang rusak akibat hujan deras beberapa hari terakhir. (ekbisntb.com/ist)

Awal tahun 2025, harga cabai di NTB melonjak tajam. Namun, awal tahun 2025. Harga cabai semakin pedas. Kondisi ini selalu menjadi fenomena tahunan. Sejumlah kebijakan atau program dicanangkan dalam mengatasi cabai. Namun, bukannya teratasi. Saat tertentu, khususnya pada awal musim hujan, harga cabai melonjak naik. Tidak hanya itu, harga cabai turun drastis dan petani memilih membiarkan cabai di pohonnya daripada menjual ke pasaran. Hal ini selalu berulang dan menjadi masalah tahunan yang belum ada solusi.

BAGI yang sering berbelanja ke pasar, melakukan penawaran terhadap harga kebutuhan pokok, terutama cabai adalah hal yang lumrah. Bahkan, melakukan penawaran dengan serendah-rendahnya harga. Bagaimana tidak, cabai yang merupakan salah satu kebutuhan yang paling pokok ini harus ada di setiap memasak di dapur. Belum lagi, petani yang dihadapkan dengan tantangan cuaca ekstrem (intensitas hujan tinggi) menjadi salah satu penyebab naiknya harga cabai di tingkat petani.

Sebagai contoh, harga cabai di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini sudah menembus Rp 100 ribu per kilogram (kg). Meroketnya harga cabai ini dinilai sejumlah petani sangatlah wajar di tengah kondisi musim hujan. Pasalnya, petani membutuhkan biaya besar untuk merawat cabainya agar bisa selamat dari guyuran hujan.

Amaq Fahri petani cabai di Desa Tirtanadi menilai di satu sisi cukup sumringah dengan lompatan harga cabai sebulan terakhir ini. Akan tetapi di sisi lain, kondisi cuaca yang cukup ekstrem membuat tanaman cabai butuh perlakuan lebih agar bisa selamat.

Diakui, tantangan terberat tanaman hortikultura termasuk cabai adalah guyuran hujan yang terlalu sering. Hal inilah yang membuat banyak petani justru tidak dapat apa-apa karena cabai tidak bisa berkembang dengan baik. Ketika tanaman cabai mulai berbunga, kemudian diterpa hujan maka diyakini tidak akan bisa terselamatkan.

Seperti dialami oleh Amaq Ani, petani cabai di Subak Kendang Mudung Kecamatan Pringgabaya. Ia justru tidak bisa menikmati harga mahal, karena cabainya banyak yang membusuk sebelum matang dan panen.

Banyak juga tanaman cabai yang mati karena cuaca dingin. Amaq Ani mengaku tidak bisa menyelamatkan tanaman cabainya, karena terlambat memberikan featisida sebagai pelindung dan pengaturan drainase.

Diakuinya, petani yang menaman hortikultura di tengah musim hujan lebat sebulan terakhir ini memang. harus berbekal keberanian berspekulasi. Pasalnya, biaya perawatan yang dilakukan memang cukup ekstra dibandingkan dengan musim lainnya. Seperti pemberian obat-obatan pada tanaman yang memang dikhususkan sebagai pelindung tanaman.

Harga obat-obatan mulai dari featisida, fungisida, herbisida dan bahan pupuk lainnya tidak ada yang murah. “Sekarang semua serba mahal, satu botol obat-obatan ini ada yang Rp 500 ribu,” akunya.

Champion Cabai, H. Subhan, menyampaikan produksi cabai saat ini menghadapi tantangan besar akibat cuaca ekstrem (intensitas hujan tinggi). Mestinya, saat ini sudah memasuki musim panen raya pada minggu pertama dan kedua Februari 2025. Intensitas hujan yang tinggi disertai angin kencang menyebabkan tanaman cabai banyak yang layu dan mati.

“Cuaca ekstrem setiap hari dengan hujan dan angin menyebabkan tanaman cabai terendam air. Jika terendam selama dua hari saja, cabai sudah layu, apalagi jika berminggu-minggu,” ujar H. Subhan.

Menurutnya, sekitar 10 persen tanaman cabai petani masih tersisa akibat kondisi ini. Untuk mengatasi situasi tersebut, para petani mulai melakukan tanam ulang menggunakan bibit hibrida.

“Kami menggunakan bibit hibrida yang cepat berbuah. Dengan usia tanam 2,5 bulan, bibit ini sudah bisa dipanen, berbeda dengan cabai biasa yang membutuhkan waktu hingga 4-5 bulan baru bisa panen,” jelasnya.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kebutuhan cabai menjelang bulan puasa Ramadhan hingga lebaran. H. Subhan juga menyampaikan tingginya harga cabai saat ini, yang mencapai Rp75.000 per kilogram di tingkat petani. Akibat produksi cabai yang tidak maksimal.

Untuk membantu masyarakat, H. Subhan mengatakan rutin mengadakan bazar yang menyediakan 800 hingga 1.000 paket cabai setiap hari di Kabupaten Lombok Timur.

“Setiap paket berisi seperempat kilogram cabai, dan ini kami lakukan untuk mencegah pihak-pihak yang membeli dalam jumlah besar lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi,” tambahnya.

Ia menegaskan tingginya harga cabai bukan disebabkan oleh distribusi hasil panen ke luar daerah, melainkan semata-mata akibat faktor cuaca.

“Kami juga telah mengusulkan kepada pemerintah agar manajemen produksi cabai dilakukan dengan teknologi green house,” ungkapnya.

Dengan teknologi ini, risiko kerugian akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan. “Teknologi green house akan menjadi lebih terjangkau jika pemerintah turun tangan,” pungkasnya.

Pengiriman Dihentikan Sementara

Kabupaten Lotim diketahui merupakan sentra produksi cabai nasional, ungkapnya, dirinya sering mengirim cabai keluar daerah. Akan tetapi, semenjak terjadi lonjakan harga ia diminta setop sementara pengiriman keluar daerah. Seperti pengiriman biasa dilakukan  ke Pasar Kramat Jati Jakarta untuk sementara ini dihentikan dulu. “Kita selamatkan dulu daerah masing-masing,” ucap H. Subhan.

Dilihat dari kapasitas produksi di Kabupaten Lotim sampai saat ini masih cukup terpenuhi. Hanya saja, harganya disebut memang cukup mahal.

H. Subhan memprediksi, harga cabai ini akan mahal sampai Idul Fitri ke depan. Diketahui, puasa Ramadhan. Lonjakan harga cabai ini katanya terjadi secara nasional. Pasar-pasar di Jakarta dan daerah serta kota besar lainnya di Pulau Jawa harga cabai sudah menembus Rp 120 ribu per kg.

Champion Cabai Lotim turut melakukan upaya stabilitasi harga cabai ini  bekerjasama dengan Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID). Telah digelar beberapa kali operasi pasar dengan menjual cabai di dalamnya. Operasi pasar ini akan digelar sampai tanggal 19 Januari 2025 mendatang.

Harga jual cabai dari giat operasi pasar ini katanya relatif lebih murah, yakni dari harga Rp 60-75 ribu per kg. Harga ini sudah jauh lebih murah dibandingkan harga pasar. Apalagi harga jual di tengah petani sekarang juga terus naik.  Akibat lonjakan harga cabai ini, tidak jarang petani terpaksa juga menunggu cabainya di tengah ladang karena takut kecurian. “Namanya barang mahal, diincar banyak orang,”  ungkapnya. (bul/rus)

Harga Tinggi, Cabai Bisa Pengaruhi Inflasi Daerah

0
Foto : Wahyudin (Ekbis NTB/bul)

KOMODITAS cabai, baik cabai rawit maupun cabai merah sedang menjadi bahan kebutuhan masyarakat yang harganya sangat tinggi. Laporan Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB per tanggal 10 Januari 2025, harga cabai rawit di angka lebih dari Rp80 ribu per kg. Begitu juga cabai merah berada di angka Rp68 ribu per kg.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin mengatakan, cabai rawit sebenarnya belum masuk menjadi komoditas penyumbang inflasi di bulan Desember 2024 kemarin. Namun kini harga cabai semakin tinggi di pasaran, sehingga diperkirakan akan memberi andil yang besar terhadap inflasi.

“Sekarang ini sudah naik lagi, bahkan kemarin saya dengar Rp100 ribu ( per kg). Ini sudah pasti akan mempengaruhi inflasi, karena memang cabai kebutuhan kita yang cukup banyak di NTB. Disamping kebutuhan rumah tangga, juga untuk industri makanan dalam hal ini rumah makan,” kata Wahyudin kepada Ekbis NTB.

Wahyudin mengatakan, komoditas yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat kemudian harganya naik berkali lipat, hal itu akan mempengaruhi angka inflasi di daerah. Terlebih untuk komoditas cabai merah pada bulan Desember kemarin, BPS mencatat komoditas ini menjadi salah satu komoditas yang cukup dominan memberi andil inflasi bulan ke bulan (m-to-m) yaitu sebesar 0,06 persen.

“Cabai merah, indikasinya sudah naik, 0,06 persen pengaruhnya. Ini juga akan naik lagi kemungkinan. Namun mudah-mudahan tidak sampai satu koma sekian persen inflasi bulan ke bulan ini,” katanya.

Sebagai solusi agar harga cabai kembali normal kembali, ia menyarankan agar pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan swasta misalnya Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) NTB untuk berkolaborasi dalam hal menjalin kemitraan dengan pemda serta pelaku usaha di luar daerah.

Jika harga cabai di luar daerah lebih rendah daripada di NTB, maka Kadin bersama dengan Pemda bisa mendatangkan stok cabai ke dalam daerah. Harga cabai yang dijual harus lebih rendah daripada harga pasar, sehingga harga cabai yang tinggi sedang naik tajam bisa menurun.

“Kita berharap kerjasama antara pemerintah dan swasta. Seperti Kadin bisa kerja sama dengan Jatim atau di luar NTB. Dibading dengan harga kita plus transport dan trade margin berapa sehingga bisa menjual di NTB dengan harga pasar sekarang,” ujarnya.

Ia menilai, lalu lintas komoditas antara Jawa dengan NTB sudah semakin dekat. Terlebih dengan adanya tol laut berupa penyeberangan Lombok – Surabaya akan menghemat waktu dan biaya pengiriman barang. Jika satu komoditas di NTB sedang mahal, maka opsi mendatangkan barang dari luar daerah menjadi hal yang perlu dilakukan untuk menormalkan pasar.

Untuk diketahui, ingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi NTB bulan Desember 2024 sebesar 0,46 persen. Beberapa komoditas yang menyumbang inflasi seperti ikan layang/ikan benggol 0,09 persen, bawang merah 0,06 persen, cumi-cumi 0,06 persen, cabai merah 0,06 persen dan daging ayam ras 0,04 persen. (ris)

Harga Cabai di Pasar Mandalika Tembus Rp100 Ribu

0
Transaksi di lapak sayuran Fhia yang ada di Pasar Mandalika, Minggu 12 Januari 2025. Harga cabai sekarang ini di pasar sudah menembus Rp100 ribu per kilogramnya. (ekbisntb.com/era)

HARGA komoditas cabai di pasaran menyentuh angka tertinggi. Kini, harga per kilogramnya mencapai Rp100 ribu untuk kualitas super, dan Rp95 ribu untuk kualitas campuran.

Pedagang di salah satu Pasar Mandalika, Fhia mengaku harga ini sudah naik sejak seminggu sebelum tahun 2024 berakhir. Kenaikan harga cabai ini secara bertahap, yang mulanya naik dari Rp40 ribu, Rp70 ribu, hingga kini menjadi Rp100 ribu per kilogram.

“Naik sudah dari sebelum tahun baru. Sekarang harganya Rp100 ribu untuk kualitas super, Rp95 ribu untuk kualitas campuran,” ujarnya kepada Ekbis NTB, Minggu, 12 Januari 2024.

Dikatakan, harga cabai biasanya berkisar di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu. Kali ini, dikatakan cabai mencapai harga puncaknya, karena menyentuh angka ratusan ribu.

Fhia mengaku, kenaikan cabai ini disebabkan oleh kekosongan stok cabai petani yang disebabkan oleh cuaca ekstrem. Selain itu, banyak juga cabai yang busuk akibat intensitas curah hujan yang sangat tinggi di penghujung 2024 dan awal tahun 2025.

“Tingginya akibat cuaca mungkin karena enggak terlalu banyak cabainya. Dia rusak juga. Petani-petani itu rusak semua cabainya karena hujan yang ekstrem sekali,” katanya.

Menurutnya, petani lokal mengalami kekosongan stok cabai, sehingga, pihaknya mengambil cabai dari luar, yaitu dari Pulau Jawa dengan harga Rp75 sampai Rp85 ribu per kilogramnya.

Meski mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi, Fhia mengaku tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas cabai juga turut meninggi. Sehingga dengan kenaikan ini, dirinya tidak terlalu rugi.

“Lebih ramai kalau mahal seperti sekarang. Kalau harga semua mahal ramai pasar. Kalau harga normal agak sepi,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan oleh penjual sayuran lainnya, Nurhidayah mengaku kenaikan harga cabai ini sangat melonjak dibandingkan akhir tahun lalu. Yang mana terdapat kenaikan harga lebih dari dua kali lipat dari harga sebelumnya. Kekosongan stok menjadi faktor utama tingginya harga komoditas ini.

“Naik sekali karena di petani lokal tidak ada stoknya,” katanya.

Dikatakan, kenaikan harga cabai ini merata di seluruh penjual cabai yang ada di Lombok karena belum adanya petani yang panen cabai. Pun juga karena tingginya curah hujan menyebabkan banyak cabai yang busuk.

Di samping itu, menurutnya kenaikan ini bisa terjaid hingga bulan puasa nanti mengingat bulan Ramadhan tinggal satu bulan lagi. Apalagi, belum ada tanda-tanda petani akan melakukan panen cabai, begitupun dengan kondisi cuaca yang sering turun hujan.

Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Fitri, salah satu warga mengaku membeli cabai dengan harga tinggi. Di pasaran, harga cabai mencapai Rp100 ribu per kilogram. Fitri mengharapkan harga cabai bisa menurun, karena berpengaruh besar terhadap uang belanja kebutuhan sehari-hari.(era)

Distanbun Pastikan Ketersediaan Stok Cabai saat Ramadhan

0
Muhammad Taufieq Hidayat(ekbisntb.com/era)

DINAS Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB memastikan ketersediaan stok komoditas cabai saat bulan Ramadhan nanti. Dikatakan, petani akan panen cabai pada bulan Maret 2025 mendatang yang mana bertepatan dengan memasuki bulan puasa, sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir akan lonjakan harga komoditas ini di bulan Ramadhan.

Kepala Distanbun Provinsi NTB, Muhammad Taufieq Hidayat mengatakan kondisi cuaca saat ini memperhambat musim panen petani, sehingga terjadi keterbatasan stok. Dikatakan, karena tingginya curah hujan di akhir tahun 2024 hingga awal tahun 2025, di bulan ketiga nanti diperkirakan curah hujan akan rendah, sehingga panen cabai bisa dilakukan oleh petani.

“Kita bulan depan sudah mulai panen kita ini. Sampai puncaknya bulan Maret,” ujarnya saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu, 11 Januari 2025.

Selain sebagai lumbung pangan nasional, ujarnya, NTB juga surplus cabai. Namun, karena kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini, musim panen molor, begitupun banyak cabai petani yang busuk dan gagal berbuah. “Kita itu 10 ribu ton cabai per tahun, jadi surplus. Cabai tidak bisa disimpan lama, sehingga harus ada lahan yang berkesinambungan,” katanya.

NTB juga sudah membuka lahan tanam cabai baru untuk memastikan kesiapan stop bahan dasar sambal ini. Sehingga, jika cuaca kembali normal, dikatakan cabai NTB akan kembali surplus karena cabai biasa tumbuh di lahan yang kering.

“La nina kita normal, tapi curah hujan harian kita yang tinggi. Sehingga bulan Maret, April, curah hujan sudah mulai turun. Karena Mei kita masuk musim kering,” jelasnya.

Untuk menekan harga cabai ini, Distanbun sempat berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan (Disdag) NTB untuk mendatangkan cabai dari luar. Tapi, karena kondisi di Jawa juga sama-sama kekurangan stok, sehingga kenaikan harga komoditas ini tidak bisa terhindarkan.

Untuk mencegah situasi ini akan berulang kembali, Taufieq mengaku tidak bisa bekerja sendiri. Artinya harus ada koordinasi dengan OPD lain seperti Dinas Perindustrian untuk membangun hilirisasi cabai. Hal ini karena cabai merupakan komoditas yang cepat busuk, oleh karena itu, perlu pabrik olahan untuk membuat olahan cabai. Sehingga, saat cabai di NTB surplus, petani tidak mengeluarkan hasil panennya ke luar daerah.

“Cabai ini enggak bisa lama. Jadi kalau kita ada hilirisasi, dikeringkan, bisa disimpan lama. Atau dibuat serbuk, jadi ada proses setelah panen supaya produksi bisa bertahan lama,” pungkasnya.(era)

Bank Indonesia Terus Kembangkan Kluster Cabai

0
Kepala Bank Indonesia NTB, Berry A Harapan melakukan panen cabai yang dikembangkan dengan teknologi green house di Ponpes Thohir Yasin, Lombok Timur beberapa waktu lalu. (ekbisntb.com/ist)

BANK Indonesia (BI) Provinsi NTB menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kluster cabai sebagai langkah strategis dalam pengendalian inflasi di wilayah tersebut. Kepala BI Perwakilan NTB, Berry A Harahap.

Berry A Harahap menjelaskan cabai merupakan salah satu komoditas utama yang memberikan kontribusi signifikan terhadap fluktuasi inflasi di NTB.

“Kami melihat bahwa pengelolaan kluster cabai sangat penting untuk menciptakan stabilitas harga. Dengan mendorong produktivitas dan efisiensi distribusi, kita dapat memitigasi risiko gejolak harga,” ungkapnya.

Kluster cabai yang dikembangkan BI NTB melibatkan petani lokal, penyuluh pertanian, serta pihak-pihak terkait lainnya seperti pondok pesantren. Program ini mencakup pemberian bantuan teknis, penguatan kapasitas petani, serta penyediaan akses terhadap teknologi pertanian modern. Selain itu, BI NTB juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan adanya pasar yang stabil bagi hasil panen petani.

“Kami juga memfokuskan pada peningkatan koordinasi antara hulu dan hilir. Salah satu pendekatan kami adalah mendorong penggunaan teknologi pascapanen untuk memperpanjang masa simpan cabai, sehingga dapat mengurangi lonjakan harga ketika pasokan menurun,” tambah Berry.

Ditambahkannya, produksi cabai dalam daerah cukup tinggi. Melampaui jumlah kebutuhan dalam daerah. untuk kluster cabai di Lombok Timur, saat ini terdapat 600 hektar lahan cabai. Dengan produksi 1 ton per hari.

Namun, cabai-cabai yang diproduksi oleh petani NTB banyak yang dibeli oleh pengusaha dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan.

“Produksi kita sebenarnya sudah cukup dari kebutuhan konsumsi. Sehingga yang harus dipikirkan sebenarnya dilakukan penanaman serentak dengan daerah lain seperti jawa, Sumatera, Kalimantan, itu baru bisa menekan harga. Kalau hanya NTB saja, itu tadi, pedagang luar yang mengambil. Dan ini sebenarnya tidak pas juga kalau kita tahan. Apa iya misalnya beras, kalau ada daerah lain yang minta terus ndak kita kasih, berisiko juga inflasi di tempat lain. Kita saling menyelamatkan konsepnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Berry menegaskan bahwa konsistensi mengembangkan kluster cabai ini sejalan dengan program nasional pengendalian inflasi yang digagas oleh Bank Indonesia.

“Pengembangan kluster cabai di NTB merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga daya beli masyarakat,” katanya.

Bank Indonesia NTB berharap langkah ini dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi stabilitas harga, tetapi juga bagi peningkatan kesejahteraan petani lokal. Dengan kolaborasi yang kuat antara semua pihak, Berry optimistis bahwa NTB dapat menjadi model dalam pengelolaan komoditas pangan strategis di Indonesia.(bul)