Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 42

Festival Lakey Diharapkan Bisa Masuk KEN

0
Festival Lakey Diharapkan Bisa Masuk KEN
Bupati Dompu, Bambang Firdaus saat audiensi dengan Eni Komiarti selaku Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan, Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata RI, Kamis (5/2/2026).

Dompu (suarantb.com) – Festival Lakey menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Kegiatan harus dilaksanakan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah, agar bisa diusulkan sbeagai lokasi Kharisma Event Nusantara (KEN).

Untuk mendukung perjuangan ini, Bupati Dompu langsung melakukan audiensi dengan Kementerian Pariwisata RI dan diterima oleh Eni Komiarti, S.ST.Par, M.Si, selaku Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan, Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata RI, Kamis (5/2/2026) pekan kemarin.

Eni Komiarti pun menyampaikan, bahwa Festival Lakey sebagai salah satu program prioritas Kemenpar untuk diarahkan menjadi bagian dari KEN. Syaratnya, kegiatan ini harus tetap dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga Pemda Dompu didorong untuk tetap melaksanakannya tahun 2026, sehingga Agustus 2026 bisa diusulkan sebagai lokasi KEN untuk 2027.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Zainal Afrodi, M.Si mengakui, untuk bisa diajukan sebagai Lokasi KEN sebuah event harus konsisten dilaksanakan minimal 2-3 tahun. Karena Festival Lakey baru kembali dilaksanakan 2025, Pemda Dompu mengusulkan untuk didukung Kementerian Pariwisata melalui skema Non KEN. “Bupati melakukan audiensi di Kementrian Pariwisata untuk memperjuangkan skema Non KEN pada pelaksanaan Festival Lakey,” ungkap Zainal Afrodi.

Pelaksanaan Festival Lakey tahun 2026 ini, lanjut Zainal Afrodi, masih akan dibahas bersama Bupati usai audiensi dengan Kementerian Pariwisata. “Kita tunggu kepulangan pak Bupati untuk mendengar arahan beliau,” jelasnya. (ula)

Meski Ada Surat Peringatan, Investor di Pantai Serangan Diduga Tetap Membangun

0
Ilustrasi. (Suarantb/Pexels)

Praya (suarantb.com) – Salah satu investor di kawasan wisata Pantai Serangan Desa Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah (Loteng) diduga tetap melanjutkan aktivitas pembangunan hotel. Pembangunan tetap berlanjut meski sebelumnya pemerintah daerah telah memberikan peringatan keras kepada investor bersangkutan untuk menghentikan aktivitas pembangunannya, sekaligus membongkar bangunan yang ada.

Peringatan keras itu diberikan lantaran investor melanggar aturan penggunaan sepadan pantai. Dugaan pembangunan hotel itu berlanjut mencuat setelah sejumlah video yang diambil oleh masyarakat setempat di lokasi pembangunan tersebar luas. Dalam video tersebut tampak tiang bangunan hotel sudah mulai berdiri. Para pekerja juga terlihat masih bekerja untuk menyelesaikan bangunan hotel.

Dalam video itu juga terlihat aparat keamanan bersenjata lengkap tengah berada di lokasi pembangunan. Masyarakat pun meminta agar aktivitas pembangunan dihentikan sementara, karena sebelumnya sudah ada peringatan dari pemerintah daerah agar proses pembangunan dihentikan.

Bangunan permanen yang ada juga sudah diminta untuk dibongkar. Pasalnya, lokasi tempat pembangunan hotel tersebut diduga menyalahi aturan penggunaan sepadan pantai. Di mana bangunan hotel dibangun di atas lahan yang berada sangat dekat dengan bibir pantai. Masyarakat pun mempertanyakan pihak yang telah memberikan izin kepada pihak investor untuk melanjutkan aktiftas pembangunan.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Praya Barat H. Lalu Syamsul Rijal, kepada Suara NTB, Sabtu, 7 Februari 2026, mengaku mendapat informasi kalau pihak investor melanjutkan kembali aktivitas pembangunan hotel di lokasi yang dilarang. Ia pun membantah kalau investor tersebut melanjutkan pembangunan hotel atas izin dari pihaknya.

“Saya diduga yang memberikan izin melanjutkan pembangunan hotel. Makanya saya tegaskan itu tidak benar,” ujarnya

Ia mengatakan, kalau persoalan pembangunan hotel di Pantai Serangan tersebut sudah ditangani oleh Satgas Investasi kabupaten. Artinya, apapun keputusan maupun kebijakan terhadap pembangunan hotel tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan satgas di kabupaten. “Kita hanya menjalankan tugas sesuai batas kewenangan. Jadi bisa atau tidak dilanjutkan pembangunan hotel tersebut, kewenangannya ada di tim yang di kabupaten,” sebutnya.

Dalam hal ini masyarakat mendorong tim kabupaten bisa segera mengambil tindakan terhadap investor bersangkutan. Jangan sampai terjadi bias ditengah masyarakat. Sekaligus untuk menjawab isu-isu yang berbau fitnah terkait aktivitas pembangunan hotel tersebut. “Aspirasi masyarakat berharap tim kabupaten bisa segera bertindak terkait persoalan pembangunan hotel ini,” tegasnya. (kir)

DKP Lotim Harapkan Ada Sentuhan Teknologi Pakan untuk Masa Depan Kampung Lobster

0
Kampung Lobster di kawasan Teluk Jukung Telong Elong Lombok Timur. DKP Lotim harapkan ada sentuhan teknologi pakan untuk perkembangan masa depan budi daya lobster. (suarantb.com/rus)

Selong (suarantb.com) – Budi daya lobster di sentra-sentra seperti Kampung Lobster Teluk Jukung Lombok Timur kini menghadapi tantangan multidimensional, mulai dari ketergantungan pada pakan alami yang tidak terjamin hingga kalah bersaing dengan negara lain seperti Vietnam dalam pengembangan benih. Dinas Kelautan dan Perikanan (DPK) Lotim harapkan ke depan ada sentuhan teknologi pakan dan lainnya untuk perkembangan masa depan budi daya lobster.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim, Muhammad Tasywirudin, menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, mejelaskan salah satu hambatan terbesar adalah ketergantungan pembudidaya lokal terhadap ikan rucah sebagai pakan utama. “Selama ini yang dicacah jadi pakan lobster adalah ikan rucah yang masih layak konsumsi. Ini sayang sebenarnya,” ujarnya.

Praktik ini dinilai tidak efisien dan berisiko pada ketersediaan, karena sangat bergantung pada hasil tangkapan nelayan. “Kalau dapat nangkap, lobster bisa ikut makan. Kalau tidak, ya susah,” tambahnya.

Upaya substitusi dengan bahan lain seperti bekicot telah dicoba. “Hasilnya masih kurang. Harga bekicot memang lebih murah, tapi pertumbuhan lobster tidak sebanding dengan pakai ikan rucah,” jelas Tasywirudin.

Solusi jangka panjang yang sedang diupayakan adalah penciptaan pakan formulasi khusus lobster berupa pelet, mirip dengan budi daya ikan air tawar. “Sedang diujicoba. Harapannya, kualitas baik, harga terjangkau, dan ketersediaan pasti mencukupi sehingga tidak tergantung ikan rucah,” paparnya.

Selain soal pakan, teknologi budi daya secara keseluruhan juga menjadi perhatian. Tasywirudin menyebut teknologi seperti nano gelembung untuk meningkatkan aerasi air menjadi kebutuhan. Namun, kemampuan eksperimen dan inovasi di tingkat pembudidaya masih terbatas. “Kita berharap ada sentuhan teknologi,” ucapnya.

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah pasar Benih Benih Lobster (BBL). Tasywirudin mengakui daya saing BBL lokal kalah dengan Vietnam, yang teknologinya lebih maju. “BBL ke Vietnam berarti bisa banyak berkembang karena teknologi. KJA (Keramba Jaring Apung) kita tak seperti di Vietnam,” katanya.

Meski ekspor BBL diperbolehkan dengan harga acuan terendah dari Kementerian, minat menangkap BBL sekarang menurun drastis. “Harga menurun, tidak menarik seperti dulu. Kurang dari Rp10 ribu per ekor. Pembeli yang menjadi penentu,” tuturnya, mengingatkan pada era Menteri Susi Pudjiastuti yang melarang ekspor BBL.

Di sisi konsumsi, harga lobster hidup untuk pasar lokal tetap mahal. Namun rantai pasok dan efisiensi budidaya perlu ditingkatkan untuk menjaga keberlanjutan. Untuk itu, Dinas tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Asosiasi Budi Daya Lobster, utamanya untuk mendorong terciptanya pakan buatan pabrikan yang dapat meniru keunggulan gizi ikan rucah.

Masa depan Kampung Lobster, menurut Tasywirudin, sangat bergantung pada terobosan di hulu: pakan dan teknologi pembesaran. Tanpa itu, ketergantungan pada kondisi alam dan fluktuasi pasar akan terus membayangi industri budidaya lobster nasional. (rus)

Bersaing dengan F1 di Singapura, ITDC Siapkan Strategi agar MotoGP Mandalika 2026 Tetap Diminati

0
Troy Reza Warokka (ekbisntb.com/ris)

Mataram (suarantb.com) — Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 dipastikan akan berlangsung bersamaan dengan ajang Formula 1 (F1) Singapura, yang selama ini dikenal sebagai magnet besar wisatawan internasional. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) untuk tetap menjaga daya tarik MotoGP Mandalika, khususnya bagi penonton dan wisatawan mancanegara.

Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Waroka, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi khusus agar MotoGP Mandalika 2026 tetap kompetitif dan diminati, meski harus berbagi perhatian dengan balapan F1 di kawasan Asia Tenggara.

“Persiapan MotoGP sesungguhnya sudah kami lakukan sejak tahun lalu. Karena ini event berulang, tapi dikemas dengan cara yang berbeda,” ujar Troy.

Didukung Penuh Pemprov dan Pemkab

Troy menjelaskan, kesiapan MotoGP Mandalika 2026 mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah kabupaten/kota. Bahkan, Gubernur NTB, Lalu. Iqbal menginisiasi pertemuan khusus bersama para kepala daerah untuk membahas persiapan MotoGP sebagai agenda strategis pariwisata di Mataram, Rabu, 4 Februari 2026.

“Salah satu concern utama dalam pertemuan hari ini memang persiapan MotoGP. Kami berterima kasih karena ini didukung langsung oleh Pemprov dan Pemkab,” jelasnya.

Menurut Troy, ITDC tidak memandang F1 Singapura sebagai pesaing mutlak, melainkan sebagai event global yang berlangsung bersamaan dan sama-sama memiliki pasar sendiri.

“Kami tidak bilang lawan, tapi bersama dengan F1. Secara race tidak akan berubah, tapi yang kami siapkan adalah penguatan side event, tontonan pendukung, dan kreativitas baru yang bisa memberi pengalaman berbeda bagi penonton,” katanya.

Salah satu strategi utama ITDC adalah menghadirkan paket terintegrasi antara menonton MotoGP dan berwisata di Lombok serta destinasi sekitar. ITDC akan mengembangkan skema tiket yang tidak hanya berfokus pada balapan, tetapi juga pengalaman wisata secara menyeluruh.

“Bulan Maret nanti kami rencanakan meluncurkan tiket dalam bentuk bundling. Jadi tidak hanya nonton MotoGP, tapi juga bisa berwisata ke Gili, kawasan ekonomi khusus (KEK), dan destinasi lain di NTB,” terang Troy.

Ia menilai pendekatan ini akan memperluas segmentasi pasar, sekaligus memperkuat posisi MotoGP Mandalika sebagai ajang sport tourism kelas dunia.

“Artinya, kita kembangkan tiket ini lebih luas spektrumnya, tidak hanya sekadar MotoGP,” tambahnya.

Dengan dukungan pemerintah daerah, kolaborasi lintas sektor, serta keterlibatan berbagai pelaku industri pariwisata, ITDC optimistis MotoGP Mandalika 2026 tetap mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Insyaallah, bismillah, pemerintah sangat mendukung. Gubernur dan Bupati juga optimistis, dan kami sebagai pelaksana tentu harus optimistis,” tegas Troy.

Ia menambahkan, kehadiran berbagai pemangku kepentingan pariwisata yang datang langsung ke Mataram untuk membahas MotoGP menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ajang balap dunia tersebut di Lombok. (bul)

Kapal Penyeberangan di Lembar Mulai Persiapkan Angkutan Nyepi dan Lebaran

0
Kapal Penyeberangan di Lembar Mulai Persiapkan Angkutan Nyepi dan Lebaran
Firman Dandy (suarantb.com/bul)

Mataram (suarantb.com) – Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Lembar, Firman Dandy, memastikan kesiapan armada kapal penyeberangan di Pelabuhan Lembar dalam menghadapi angkutan Lebaran tahun ini. Ia menegaskan, jumlah kapal yang tersedia saat ini sudah ideal dan berimbang antara kebutuhan penumpang dan kapasitas angkut.

Menurut Firman, penambahan kapal justru berpotensi menimbulkan persoalan baru karena dapat mengganggu keseimbangan antara supply dan demand.

“Jumlah kapal yang ada sekarang sudah ideal. Kalau ditambah justru bisa mengganggu, karena supply-nya bisa lebih besar dari demand. Itu tidak sehat bagi dunia usaha,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi penyeberangan di Lembar dengan beberapa lintasan lain yang mengalami kelebihan armada. Di Lembar, kata dia, keseimbangan antara jumlah kapal dan kebutuhan penumpang masih terjaga.

Saat ini, tercatat ada 26 kapal yang mengantongi izin operasi di lintasan penyeberangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 21 kapal dalam kondisi operasional, sementara sisanya tengah menjalani docking dan perawatan rutin sebagai bagian dari persiapan angkutan Lebaran.

“Kapal-kapal yang docking memang disiapkan agar saat puncak angkutan Lebaran semuanya bisa beroperasi. Jangan sampai nanti justru kekurangan kapal,” jelasnya.

Firman menyebutkan, proses pemeriksaan kelaiklautan kapal atau ramp check telah mulai dilakukan, baik di Pelabuhan Padangbai maupun Pelabuhan Lembar. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh otoritas pelabuhan bersama pihak terkait untuk memastikan seluruh kapal siap melayani penumpang secara aman dan nyaman.

Ia menambahkan, ramp check yang dilakukan mencakup pemeriksaan menyeluruh terhadap kapal, mulai dari aspek nautika, teknis, hingga radio dan keselamatan.

“Mulai dari mesin, konstruksi, kelistrikan, alat keselamatan, alat navigasi, sampai kelengkapan dokumen dan kompetensi kru semuanya diperiksa, termasuk kesehatan dan sertifikat awak kapal,” paparnya.

Selain lintasan Lembar–Padangbai, persiapan serupa juga dilakukan untuk lintasan Lombok–Jawa Timur. Kapal-kapal yang beroperasi dari Pelabuhan Gili Mas menurutnya telah menjalani ramp check dan dinyatakan layak laut.

“Untuk lintasan Lombok–Jawa, seluruh kapal sudah dilakukan ramp check dan dinyatakan siap mengikuti angkutan Lebaran,” katanya.

Firman juga menyoroti adanya potensi pergeseran pola mudik tahun ini karena Hari Raya Nyepi yang jatuh sehari sebelum Lebaran. Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat pergerakan penumpang terjadi lebih awal, baik dari Lombok ke Bali maupun sebaliknya.

“Kita prediksi akan ada pergeseran arus mudik. Masyarakat kemungkinan bepergian lebih awal,” ujarnya.

Terkait kebijakan pemerintah, Firman menyampaikan bahwa saat ini masih ada pembahasan mengenai kemungkinan pemberian stimulus angkutan Lebaran, seperti potongan tarif atau program mudik gratis.

“Apakah nanti bentuknya potongan harga atau mudik gratis, kita masih menunggu kebijakan resmi dari pemerintah,” katanya.

Untuk mengantisipasi penumpukan penumpang menjelang Lebaran, Gapasdap Lembar juga telah melakukan sosialisasi lebih awal kepada masyarakat melalui penyebaran informasi jadwal dan tarif penyeberangan.

“Kami sudah menginformasikan ke masyarakat agar perjalanan bisa direncanakan lebih awal. Harapannya, tidak terjadi penumpukan penumpang di puncak arus mudik,” demikian Firman. (bul)

Waspada Kejahatan Skimming

0
Rudi Sulistyo (suarantb.com/ist)

KEJAHATAN keuangan digital (skimming) cukup mengkhawatirkan. Masyarakat diminta harus tetap waspada bujuk rayu pelaku kejahatan skimming, apalagi menjelang hari-hari besar seperti lebaran.

Kerugian masyarakat akibat penipuan atau scam sepanjang 2025 hingga awal 2026 tercatat menembus Rp46 miliar. Sebagaimana data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB. Tingginya angka kerugian kejahatan skimming ini tak lepas dari rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan digital yang kian kompleks.

Kepala OJK Provinsi NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan, laporan penipuan yang masuk ke Indonesia Anti-Scam Center (IASC) terus meningkat. Kota Mataram menjadi daerah dengan jumlah aduan tertinggi, yakni 912 laporan dengan total kerugian mencapai Rp10,3 miliar. Setelah itu disusul Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Barat.

“Tingginya kasus penipuan ini mencerminkan adanya kesenjangan serius antara akses keuangan dan pemahaman masyarakat terhadap risikonya,” ujar Rudi.

Ia menjelaskan, indeks inklusi keuangan di NTB telah mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasi keuangan baru berada di angka 66,46 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat sudah aktif menggunakan layanan keuangan digital, namun belum sepenuhnya memahami potensi ancaman dan modus kejahatan yang menyertainya.

Menurut Rudi, keuangan digital memang menawarkan kemudahan, efisiensi, dan biaya transaksi yang lebih rendah. Namun, di sisi lain, celah kejahatan juga semakin terbuka lebar. Di NTB, kasus penipuan paling banyak berkaitan dengan transaksi jual beli daring, investasi bodong, hingga penyalahgunaan data pribadi dan aplikasi palsu.

Korban penipuan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegawai swasta, ibu rumah tangga, hingga aparatur sipil negara. Pegawai swasta menjadi kelompok yang cukup dominan terdampak, karena aktivitas bisnis dan transaksi mereka kerap melibatkan pihak yang mengaku sebagai mitra atau pemasok.

Dalam upaya penanganan dan pencegahan, OJK bersama Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) terus mengoptimalkan peran Indonesia Anti-Scam Center. Secara nasional, hingga 21 Januari 2026, IASC telah menerima 432.637 aduan dan berhasil memblokir dana korban senilai Rp436,88 miliar.

Rudi menegaskan, kecepatan pelaporan menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan dana korban penipuan. Pasalnya, pelaku biasanya memindahkan dana hasil kejahatan ke berbagai rekening, virtual account, bahkan aset kripto hanya dalam hitungan jam.

“Begitu merasa menjadi korban, jangan menunda. Segera lapor ke portal iasc.ojk.go.id. Semakin cepat dilaporkan, semakin besar peluang dana bisa diselamatkan,” tegasnya.

Selain melalui IASC, korban juga dapat melapor ke OJK NTB, pelaku usaha jasa keuangan (PUJK), maupun bank terkait. Seluruh laporan tersebut akan terintegrasi dalam sistem IASC sebagai pusat penanganan nasional.

Satgas PASTI NTB juga mengidentifikasi sejumlah modus penipuan yang diperkirakan masih marak sepanjang 2026. Di antaranya love trap atau love scam, yakni penipuan bermodus hubungan asmara melalui media sosial, di mana pelaku membangun kedekatan emosional sebelum meminta uang.

Modus lainnya adalah penipuan berkedok investasi melalui grup WhatsApp atau Telegram. Korban biasanya diarahkan mengunduh aplikasi dari tautan di luar Play Store atau App Store. Setelah melakukan top up, dana tidak dapat dicairkan. Selain itu, marak pula penipuan dengan mencatut nama lembaga resmi atau lembaga jasa keuangan untuk memperoleh data pribadi korban.

Untuk menghindari kejahatan keuangan ilegal, Satgas PASTI NTB mengimbau masyarakat menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum berinvestasi atau menggunakan layanan keuangan. Masyarakat juga diminta mengingat konsep pencegahan 3A: jangan asal, jangan abai, dan jangan abal-abal.

“Jangan asal menerima telepon atau pesan yang tidak jelas sumbernya. Jangan abai dengan langsung mentransfer uang tanpa verifikasi. Dan jangan abal-abal, karena banyak modus palsu seperti phishing yang sengaja dirancang agar korban lengah,” ujar Rudi.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang Lebaran, saat aktivitas transaksi keuangan biasanya meningkat signifikan. (bul)

Cerita Korban Scam, Terjebak Iming-iming, Uang Raib Rp65 Juta

0

Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di NTB dilaporkan menjadi korban kejahatan penipuan keuangan berbasis digital atau scamming. Beragam modus digunakan pelaku untuk memperdaya korban, bahkan dengan menyamar sebagai orang dekat atau mitra bisnis korban. Berikut kisah salah satu pelaku UMKM yang menjadi korban penipuan tersebut.

Pelaku usaha yang menggeluti berbagai bidang usaha ini tampak pasrah saat menceritakan kerugian yang dialaminya kepada Ketua Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, di Markas UMKM depan Hotel Aston Mataram. Akibat penipuan tersebut, korban mengalami kerugian hingga Rp65 juta.

Kronologi kejadian bermula saat korban dihubungi seseorang melalui aplikasi WhatsApp menggunakan nomor baru. Namun, akun tersebut menggunakan foto profil serta gaya komunikasi yang sangat mirip dengan salah satu kolega bisnisnya yang telah menjadi mitra usaha selama bertahun-tahun.

Dalam percakapan tersebut, pelaku mengajak korban melanjutkan kerja sama bisnis yang biasa mereka jalankan. Karena merasa yakin dan tidak menemukan kejanggalan, korban kemudian mentransfer dana kerja sama sebesar Rp65 juta sesuai permintaan pelaku.

“Saya transfer dengan nilai berbeda-beda dari rekening anak saya. Anak saya saya minta mentransfer ke nomor rekening yang diberikan oleh oknum pelaku penipuan,” ujar korban.

Korban mengaku tidak menaruh kecurigaan sedikit pun. Pasalnya, rencana kerja sama bisnis tersebut memang telah dibahas sebelumnya dengan mitra aslinya.

“Sebelumnya kami memang sudah sepakat melanjutkan bisnis itu. Makanya saya langsung transfer. Foto profil dan gaya komunikasinya persis seperti teman saya. Saya heran, kok dia tahu rencana kerja sama kami,” tuturnya.

Korban sempat menanyakan perbedaan nama pemilik rekening tujuan transfer dengan rekening yang biasa digunakan. Pelaku kemudian berdalih bahwa rekening tersebut merupakan milik bendahara perusahaan.

Korban baru menyadari telah menjadi korban penipuan setelah dana ditransfer dan komunikasi terhenti. Ia kemudian bergegas melaporkan kejadian tersebut ke Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB di Malomba pada malam hari saat itu, sekitar akhir Desember 2025.

Ia juga memastikan diri menjadi korban penipuan scam setelah mengkonfirmasi perihal yang dialaminya kepada mitra bisnisnya yang asli. Kagetnya memuncak, setelah mendapat penjelasan, bahwa mitranya yang asli tersebut tidak pernah melakukan komunikasi, apalagi meminta mentransfer dana untuk kerjasama bisnis.

“Saat itu saya seperti terhipnotis. Yang aneh, ketika saya dalam perjalanan untuk melapor ke OJK, semua percakapan di ponsel saya sudah terhapus. Seolah-olah pelaku tahu pergerakan saya. Ini sangat rapi cara mereka bekerja,” katanya.

Korban berharap laporannya ke OJK dan Polda NTB dapat ditindaklanjuti. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti dan berhati-hati terhadap modus penipuan digital.

Sementara itu, Ketua PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH, mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat sedikitnya tiga pengusaha perempuan yang tergabung dalam PIM telah menjadi korban penipuan scam, dengan total kerugian mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

“Hingga hari ini sudah ada tiga pelaku UMKM yang menjadi korban scam. Ironisnya, mereka adalah orang-orang berpendidikan dan memiliki gelar. Bukan orang awam. Kalau yang berpendidikan saja mudah tertipu, apalagi masyarakat awam,” ujar mantan anggota DPD RI tersebut.

Ratu Ganefi menyayangkan belum maksimalnya perlindungan negara terhadap masyarakat, khususnya UMKM, dari kejahatan siber yang semakin canggih.

“Saya heran, pelaku kejahatan siber ini begitu mudah menjalankan aksinya dan sangat memahami karakter komunikasi masyarakat. Di mana kehadiran negara dalam memberikan perlindungan?” tegasnya.

Menurutnya, respons cepat dan layanan pengaduan selama 24 jam sangat dibutuhkan, mengingat korban kerap berada dalam kondisi panik dan tertekan, sementara kejahatan dapat terjadi kapan saja.

“Minimal harus ada layanan pengaduan 24 jam dari otoritas. Kejadian bisa terjadi kapan saja, dan masyarakat harus benar-benar dilayani saat mengalami peristiwa seperti ini,” katanya.

Ia menambahkan, dampak kerugian finansial akibat penipuan sangat besar bagi pelaku UMKM.

“Jika UMKM yang menjadi korban, dampaknya sangat luar biasa. Ini sudah darurat kejahatan keuangan karena efek berantainya panjang,” jelasnya.

“Kami meminta pemerintah serius menangani persoalan ini. Saya juga sudah menyampaikannya kepada Presiden Prabowo. Ini menyangkut masyarakat dan UMKM kita. Penanganan terhadap scam harus jauh lebih serius agar tidak terus berulang. Negara harus maksimal melindungi warganya, termasuk soal kebocoran dan akses data pribadi,” pungkas Ratu Ganefi. (bul)

Kolaborasi Berkah Bermakna: Bank NTB Syariah Siap Kawal Tata Kelola Keuangan Badan Gizi Nasional untuk Indonesia dan NTB

0

Jakarta (Suara NTB) – Badan Gizi Nasional resmi memperkuat sinergi dengan sektor perbankan syariah melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama PT Bank NTB Syariah terkait Penyediaan Layanan Jasa Perbankan. Acara penandatanganan ini berlangsung khidmat di Kantor Pusat Badan Gizi Nasional, Jakarta, pada Jumat, 6 Februari 2026.

Prosesi penandatanganan dilakukan langsung oleh Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, bersama Nazaruddin, Direktur Utama PT Bank NTB Syariah. Kolaborasi ini menandai langkah strategis kedua belah pihak dalam mendukung program penguatan gizi nasional melalui dukungan sistem keuangan yang transparan, akuntabel, dan berbasis syariah.

Kerja sama ini merupakan langkah konkret dalam menindaklanjuti pembicaraan strategis antara Gubernur NTB, Lalu. Iqbal dengan Kepala Badan Gizi Nasional sebelumnya, terkait penguatan program ketahanan gizi di daerah.
Langkah ini juga menjadi bukti nyata dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTB selaku pemegang saham mayoritas PT Bank NTB Syariah dalam mendorong bank daerah untuk berperan aktif di kancah nasional, khususnya dalam menyukseskan program prioritas pemerintah pusat.

Melalui kerja sama ini, Bank NTB Syariah berkomitmen menyediakan solusi perbankan menyeluruh guna mendukung kelancaran operasional Badan Gizi Nasional. Layanan tersebut mencakup pengelolaan rekening operasional, optimalisasi layanan perbankan digital, hingga fasilitas pembiayaan syariah lainnya yang menunjang efisiensi kerja lembaga di tingkat pusat maupun daerah.

Komitmen untuk Penguatan Gizi di NTB Selain lingkup nasional, kerja sama ini secara khusus akan memperkuat koordinasi pengelolaan program gizi di Provinsi NTB. Bank NTB Syariah, sebagai bank pembangunan daerah yang telah bertransformasi, memegang peran kunci dalam memastikan distribusi dan pengelolaan dana program gizi nasional di wilayah NTB berjalan tepat sasaran. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di Bumi Gora melalui sistem keuangan yang inklusif hingga ke pelosok desa.

Nazaruddin menyampaikan, bahwa, kerja sama ini adalah bentuk partisipasi nyata Bank NTB Syariah dalam mendukung misi kemanusiaan dan pembangunan sumber daya manusia unggul yang diusung oleh Badan Gizi Nasional.
“Kami merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan oleh Badan Gizi Nasional. Kami berharap kerja sama ini menjadi jembatan bagi Bank NTB Syariah untuk berkontribusi lebih luas secara nasional, dan secara khusus memberikan dampak bermakna bagi masyarakat di NTB. Kami berkomitmen memastikan tata kelola keuangan yang amanah demi mendukung keberhasilan program pemenuhan gizi, serta menghadirkan layanan digital guna mendukung efisiensi operasional di seluruh wilayah kerja agar lebih berkah,” ungkapnya.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyambut baik inisiatif ini sebagai upaya modernisasi tata kelola lembaga. Kehadiran layanan perbankan syariah diharapkan mampu memberikan nilai tambah dalam hal transparansi dan integritas dalam setiap transaksi yang mendukung program-program strategis pemerintah di bidang gizi.

Sinergi ini menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang yang memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat luas, sejalan dengan visi transformasi Bank NTB Syariah dalam memperluas jangkauan layanan serta menjaga kepercayaan nasabah di tingkat nasional dengan tetap mengakar kuat pada pembangunan daerah.(bul)

Jadi Jalur Pariwisata, Astindo NTB Soroti Pembuangan Sampah Mataram di Bintaro

0
pembuangan sampah di Bintaro menjadi sorotan karena lokasinya di akses utama pariwisata.

Mataram (Suara NTB) — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Astindo) NTB menyoroti persoalan lokasi pembuangan sampah yang berada di kawasan Bintaro, Kota Mataram. Keberadaan tumpukan sampah di jalur yang kerap dilalui wisatawan dinilai berdampak negatif terhadap citra pariwisata NTB.

Ketua Astindo NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan persoalan sampah merupakan masalah bersama, namun penempatan lokasi pembuangan sampah harus dilakukan secara lebih arif dan bijaksana, terutama di wilayah yang menjadi akses utama pariwisata.

“Persoalan sampah ini memang belum selesai-selesai. Tapi Kota Mataram harus lebih arif meletakkan lokasi pembuangan sampah. Jangan sampai berada di area pariwisata atau jalur yang sering dilalui wisatawan,” ujar Sahlan, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurutnya, tumpukan sampah di pinggir jalan kawasan Bintaro sudah sangat tidak elok dipandang. Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan dari wisatawan yang melintas, sehingga pelaku pariwisata harus memberikan penjelasan tambahan yang seharusnya tidak perlu.

“Ketika wisatawan melewati jalur itu, pagi, siang, maupun sore, mereka bertanya kenapa ada pembuangan sampah di pinggir jalan. Kami sebagai pelaku pariwisata jadi harus menjelaskan bukan hanya tentang destinasi, tapi juga soal sampah,” katanya.

Sahlan menilai, lokasi pembuangan sampah seharusnya ditempatkan di lokasi lebih ke dalam dan tidak berada di jalan utama menuju destinasi wisata, termasuk jalur yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata di Lombok bagian utara.

“Mohon kepada Wali Kota Mataram agar lokasi pembuangan sampah itu direlokasi. Jangan di jalan utama, carilah lokasi yang lebih ideal dan tidak terlihat langsung oleh wisatawan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pariwisata Kota Mataram, tetapi juga citra pariwisata NTB secara umum. Pasalnya, jalur tersebut merupakan akses menuju sejumlah destinasi unggulan di Pulau Lombok seperti ke Senggigi, Gili-gili di Lombok Utara, dan akses ke Gunung Rinjani.

Lebih jauh, Sahlan juga menyinggung arahan Presiden Prabowo terkait penanganan sampah di destinasi wisata saat Raker dengan seluruh kepala daerah di Indonesia. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi hilir, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku masyarakat.

“Pengelolaan sampah di destinasi wisata kita masih belum cukup baik. Salah satu yang kurang adalah perilaku masyarakat. Edukasi harus terus dilakukan, baik melalui kampanye, pelatihan, sekolah, hingga tempat ibadah,” jelasnya.

Ia menilai, fasilitas tempat sampah di lingkungan permukiman juga masih minim. Kondisi ini membuat masyarakat cenderung membuang sampah sembarangan karena tidak tersedia sarana yang memadai.

“Kita harus edukasi masyarakat bagaimana cara membuang sampah yang benar. Bukan menyalahkan, tapi memberikan pemahaman. Kalau dari hulunya tidak berubah, sebaik apa pun pengelolaan di hilir akan tetap bermasalah,” katanya.

Meski demikian, Sahlan mengakui bahwa secara umum pengelolaan sampah di destinasi wisata NTB relatif lebih baik dibandingkan beberapa daerah lain. Namun, ia menegaskan masih diperlukan pembenahan serius agar NTB benar-benar siap sebagai destinasi wisata berkelas dunia.(bul)

Imbas SOTK Baru, NTB Mall Tak Lagi Beroperasi

0
NTB Mall yang pemandangannya kini hanya rak-rak pajangan yang nyaris kosong dari produk-produk UMKM

Mataram (suarantb.com) – Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) di bawah kewenangan Dinas Perdagangan, NTB Mall berhenti beroperasi. Diduga, NTB Mall mati suri imbas penerapan Struktur Organisasi dan Tata Kelola (SOTK) baru. Penghentian operasional NTB Mall berdampak pada puluhan UMKM yang memasok produk mereka ke UPTD tersebut. Selain itu, ada juga dugaan penghentian kerja sekitar 12 karyawan.

Kepala Biro Organisasi Setda NTB, Ahmadi membenarkan NTB Mall berhenti beroperasi akibat adanya penggabungan dua UPTD, yaitu NTB Mall dan Balai Kemasan yang sebelumnya berada di bawah kewenangan Dinas Perindustrian.

Kedua UPTD itu digabung kini menjadi Balai Kemasan Promosi dan Pemasaran Produk Daerah. Akibat penggabungan itu, NTB Mall tidak lagi memiliki payung hukum untuk terus beroperasi.

“Jadi dari penggabungan itu ya otomatis NTB Mall sudah tidak ada. Tapi ini itu di sini (UPTD baru, red),” ujarnya, Kamis, 5 februari 2026.

Selain penggabungan, UPTD itu dikatakan juga mengalami penurunan eselon. Dari yang sebelumnya eselon ll, kini menjadi eselon IV. Adapun alasan penggabungan, menurut Ahmadi karena adanya merger Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang semula Dinas Perindustrian dan Perdagangan dipisah, kini digabung.

Dalam UPTD baru, Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) dikatakan masih memiliki kewenangan dalam mengaktifkan kembali NTB Mall. Apalagi, UPTD baru itu dinilai memiliki tupoksi yang sama dengan NTB Mall dan Balai Kemasan.

“Jadi fungsi Balai Kemasan, Promosi dan Layanan Kemasan, kemudian pendayagunaan fasilitas sarana dan prasarana. Jadi di situ ada juga menyelenggarakan kegiatan promosi dan pemasaran produk daerah, berkaitan dengan NTB Mall,” jelasnya.

Namun, untuk menghidupkan kembali Mall milik daerah itu, perlu adanya persetujuan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui SOTK.

Menyinggung soal terjadi penurunan eselon, Ahmadi mengaku penerapan SOTK baru salah satunya untuk efisiensi. Sehingga, dengan penggabungan UPTD tersebut, sub bagian kepegawaian dihapus, diganti oleh satu kepala berasal dari pejabat fungsional.

Usulan SOTK itu, lanjutnya juga sudah mendapatkan rekomendasi oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pun dalam pembahasannya, Biro Organisasi Setda NTB juga meminta usulan dari OPD terkait yang membidangi dua UPTD tersebut.

Dinas Perindustrian Perdagangan NTB memastikan NTB Mall masih akan terus dilanjutkan, namun dengan arah dan fungsi yang tengah dibenahi. Ke depan, NTB Mall tidak hanya diposisikan sebagai etalase pemasaran, melainkan sebagai pusat pembinaan, pendampingan, dan peningkatan kualitas produk UMKM.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi NTB, H. Irnadi Kusuma, mengatakan penguatan peran NTB Mall menjadi bagian dari action plan kerja sama regional antara Provinsi NTB, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru-baru ini ditandatangani oleh para kepala daerah.

Saat ini NTB Mall belum difokuskan sebagai pusat penjualan langsung. Fungsinya masih berada dalam konteks pembinaan, pendampingan, dan fasilitasi UMKM. Ia menambahkan, NTB Mall saat ini sedang dalam proses pembenahan seiring dengan adanya penyesuaian Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) yang baru. Penyesuaian ini akan menentukan arah dan peran NTB Mall ke depan. (era)