Home Blog Page 4

Tujuh Program Wisata Bahari Diusulkan ke Kemepar

0
Tujuh Program Wisata Bahari Diusulkan ke Kemepar
PERTEMUAN – Bupati Bima, Ady Mahyudi didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Muhammad Akbar saat bertemu langsung Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dwi Marhen Yono, di Jakarta, pada Selasa (20/10).(EKBIS NTB/ist)


Bima (EKBIS NTB) –Bupati Bima, Ady Mahyudi mengusulkan tujuh program prioritas pengembangan wisata bahari kepada Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Usulan tersebut mencakup pembangunan dermaga wisata, penataan kawasan destinasi, hingga pengembangan fasilitas pelayanan wisata.


Tujuh program wisata bahari langsung diserahkan Bupati saat bertemu langsung Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dwi Marhen Yono, di Jakarta, Selasa (20/10). Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar.


Ady mengatakan, pengembangan wisata bahari di Kabupaten Bima masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan penataan kawasan. Keterbatasan tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga fasilitas pendukung dan kapasitas pelaku pariwisata.


“Kami menyadari masih terdapat keterbatasan mulai dari infrastruktur dan amenitas wisata bahari, penataan kawasan, hingga penguatan kapasitas SDM pariwisata dan pelaku usaha lokal,” katanya.


Tujuh program yang diajukan meliputi pembangunan dermaga wisata, penataan kawasan destinasi, pengembangan atraksi wisata bahari, dan pembangunan fasilitas pelayanan wisata. Usulan lainnya mencakup pengembangan waterpark, penataan UMKM wisata, serta pelatihan SDM pariwisata dan pemandu wisata bahari.


Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar mengatakan dukungan Kementerian Pariwisata RI diharapkan dapat meningkatkan daya saing destinasi wisata daerah.


Pengembangan wisata bahari yang berdaya saing dan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan taraf hidup masyarakat melalui penataan UMKM dan pelatihan SDM lokal.


Akbar mengaku usulan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah pusat,sehingga diharapkan program itu bisa terealisasi di tahun 2027. “Kami optimistis usulan ini mendapat respons positif demi memajukan pariwisata Bima,” pungkasnya. (hir)

Revitalisasi Pasar Tanah Mira Tahap II Mulai Dikerjakan

0
Revitalisasi Pasar Tanah Mira Tahap II Mulai Dikerjakan
REVITALISASI - Tampak atap dereta ruko di Pasar Tanah Mira Taliwang sudah dibongkar sebagai persiapan dimulainya revitalisasi (EKBISNTB/bug)


Taliwang (EKBIS NTB) -Seluruh pedagang yang menempati blok ruko di Pasar Tanah Mira Taliwang telah direlokasi. Pemindahan sementara para pedagang tersebut, menyusul dimulainya proyek revitalisasi tahap II pasar induk KSB itu.


Kepala Dinas Koperasi dan Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) KSB, Suryaman mengatakan, proses relokasi para pedagang itu telah dilaksanakan pekan lalu. Pedagang menempati lapak sementara yang sebelumnya telah disediakan di bagian belakang pasar. “Jadi sekarang di ruko yang terkena rehab tidak ada lagi pedagang yang berjualan,” katanya, Selasa (20/10).


Proses negosiasi tidak berlangsung lama dengan para pedagang. Suryaman menyebut, pedagang yang selama ini menempati ruko langsung setuju saat disampaikan pemberitahuan akan adanya pemindahan sementara aktivitas berjualan mereka selama pekerjaan berlangsung. “Alhamdulillah tidak alot prosesnya,” klaimnya.


Kegiatan proyek revitalisasi Pasar Tanah Mira sudah mulai berjalan. Pantauan media ini seluruh ruko yang akan direhab bertahap mulai dibongkar di bagian atap.


Menurut Suryaman, selain merenovasi bangunan utama ruko, proyek revitalisasi tahap II ini juga akan ada pembangunan sejumlah unit ruko baru. “Nanti akan ditambah bangun ruko sebagai pengembangan,” ujarnya.


Selanjutnya Suryaman mengatakan, revitalisasi Pasar Tanah Mira tidak sekadar memperbaiki bangunannya,melainkan dilakukan penataan dan melengkapi seluruh fasilitas agar lebih representatif.


Sementara itu, para pedagang yang menempati ruko-ruko pasar Tanah Mira menyambut baik upaya revitalisasi tersebut. Haris, salah satu pedagang mengaku sudah selayaknya blok ruko diperbaiki karena kondisinya tidak layak. “Kalau benar juga akan ditambah fasilitasnya seperti musala itu lebih bagus lagi,” katanya.


Ia berharap proses pengerjaan kali ini tidak molor dari batas waktu pelaksanaan. “Kami tentu ingin cepat kembali berjualan di ruko, karena di tempat sementara ini bagaimana pun pasti ada kurangnya,” imbuhnya.


Sebagai informasi proyek revitalisasi Pasar Tanah Mira Taliwang tahap II ini menelan anggaran sebesar sekitar Rp14,8 miliar. Sementara sebelumnya di tahap I tahun 2025 menghabiskan dana senilai Rp16 miliar.(bug)

Hadapi Kemarau PanjangPemkab Sumbawa Hanya Miliki Dua Ton Cadangan Pangan

0
Hadapi Kemarau PanjangPemkab Sumbawa Hanya Miliki Dua Ton Cadangan Pangan
Syaihuddin (EKBIS NTB/dok)


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)-Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sumbawa mengaku, kondisi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sangat kritis di tengah kondisi kemarau panjang. Stok cadangan pangan hanya 2.192,18 kilogram atau 2 ton yang diperkirakan mampu bertahan selama satu bulan kedepan.


“Jika kita melihat angka itu stok akhir tahun 2026 berpotensi habis. Artinya,stok CPPD kita sangat kritis untuk mengantisipasi rawan bencana di awal tahun 2027 mendatang,” kata Sekretaris DKP Kabupaten Sumbawa, Syaihuddin kepada Suara NTB, Selasa (20/10).


Ketersediaan stok CPPD saat ini dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kondisi Indeks Ketahanan Pangan Daerah (IKD). Sebab yang paling beresiko adalah wilayah yang berada dalam kategori kerawanan pangan,sehingga dibutuhkan pola penanganan lebih lanjut.


Dikatakan, para petani akan panen sekitar bulan Maret 2027 di tengah kemarau panjang yang melanda. Peran CPPD ini nanti akan mengisi kekosongan pangan masyarakat melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).


“Sebenarnya dua ton itu kita rencanakan untuk mengintervensi daerah rawan pangan, tetapi karena stok kita kritis. Sehingga kita hanya bisa mengantisipasi kondisi darurat saja,” ucapnya.


Kondisi CPPD di tahun 2026 masih minim jelang. Sementara, pemerintah daerah hanya mampu mengadakan sekitar 25 ton dari target pemerintah 30 ton berdasarkan rencana strategis.


Sementara, berdasarkan target pengadaan Bapanas seharusnya pemerintah mampu mengadakan CPPD sekitar 113,19 ton. Sebab peruntukan CPPD tidak hanya mengacu ke bantuan tanggap darurat bencana tetapi harus menyentuh isu stunting dan masyarakat miskin.


“Kami berharap agar pemerintah bisa memberikan atensi khusus terutama kaitannya dengan pemenuhan CPPD sesuai standar Bapanas dan Renstra,agar tidak timbul persoalan di kemudian hari,” ujarnya.


Ia menjelaskan, stok awal CPPD tahun 2026 sebesar 15.371,39 kilogram. Penyaluran sampai dengan bulan Oktober sudah sekitar 12.834, 58 kilogram dan sisa stok tersedia saat ini hanya 2.192,18 kilogram.


Penambahan stok CPPD berdasarkan Renstra dianggap sangat penting,sehingga pengadaan beras diharapkan bisa memberikan rasa tenang bagi masyarakat, terutama dalam menyikapi dampak kemarau panjang yang diprediksi terjadi beberapa bulan kedepan.(ils)

Realisasi Belanja APBD Mencapai 59,95 Persen

0
Realisasi Belanja APBD Mencapai 59,95 Persen
Adel Linggi Ardi (EKBIS NTB/ist)


Bima (EKBIS NTB) –Realisasi belanja daerah Kabupaten Bima hingga akhir September 2026 mencapai Rp1,228 triliun atau 59,95 persen dari total alokasi Rp1,882 triliun.


Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bima, Adel Linggi Ardi meminta, organisasi perangkat daerah (OPD) yang penyerapan anggarannya masih di bawah 50 persen mempercepat pelaksanaan kegiatan menjelang akhir tahun anggaran.


“Perangkat daerah yang realisasi belanjanya belum mencapai 50 persen diminta segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat penyerapan anggaran,” ujar Adel pada Selasa (20/10).


Sementara, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga akhir September tercatat Rp149,24 miliar atau 67 persen dari target Rp221,66 miliar. Adel meminta perangkat daerah pengampu PAD yang capaiannya masih di bawah 50 persen meningkatkan kinerja untuk mengejar target pendapatan.


Sekda juga meminta percepatan proses pengadaan barang dan jasa, terutama untuk kegiatan yang bersumber dari APBD perubahan. Proses pemilihan penyedia perlu dilakukan lebih awal dengan tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kepala perangkat daerah diminta segera melakukan percepatan pemilihan penyedia lebih awal, khususnya untuk kegiatan yang bersumber dari anggaran perubahan, dengan tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.


Selain evaluasi anggaran, Sekda meminta perangkat daerah memelihara kendaraan dinas untuk memperpanjang usia pakai.

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga diminta menertibkan penggunaan kendaraan dinas roda empat. (hir)

Aspal Langka, Perbaikan Puluhan Ruas Jalan di NTB Terkendala

0
Aspal Langka, Perbaikan Puluhan Ruas Jalan di NTB Terkendala
Ilustrasi pengaspalan jalan. Sekarang ini, akibat aspal langka, perbaikan sejumlah ruas jalan di NTB terkendala. (EKBIS NTB/Artificial Intelligence)

Mataram (EKBIS NTB) – Perbaikan sejumlah ruas jalan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terkendala. Hal ini menyusul kelangkaan aspal sebagai media pengaspalan jalan yang langka sejak akhir Juli hingga puncaknya pada bulan September kemarin. Bahkan, hingga saat ini pengadaan semen di NTB pun masih ada kendala.


Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan Dinas PUPRKP menangani sekitar 20 titik ruas jalan yang rusak di NTB dengan total anggaran mencapai Rp15 miliar. Rp9 miliar dianggarkan di APBD murni.


Dari 20 titik ruas jalan itu, beberapa jalan telah diperbaiki, sebagian jalan belum tertangani. Meski begitu, Pemprov NTB, katanya kembali mengusulkan anggaran perbaikan di APBD Perubahan senilai Rp6 miliar.


“Pasokan aspal kita masih belum ada. Aspalnya langka, kemarin kan semen langka. Kemarin juga masih belum normal. Belum normal sampai ke pengecer-pengecer kecil,” ujarnya di Kantor Gubernur NTB, Selasa (20/10).


Akibat kelangkaan ini, ia mengaku sempat menghubungi beberapa penyedia pasokan aspal seperti Asphalt Mixing Plant (AMP) untuk memproduksi campuran aspal panas (hotmix). Namun, kondisi di hampir semua kawasan sama, bahkan perusahaan besar sekelas AMP juga mengalami kekurangan stok.


“Kita itu kendalanya itu. Jadi ada sedikit keterlambatan. Kemungkinan aspalnya masih belum normal. Berarti beberapa rencana penanganan jalan, titiknya akan kita tangani lebih banyak di perubahan ini,” katanya.


Beberapa perbaikan ruas jalan yang direncanakan dilaksanakan di APBD murni di antaranya Pengkolan Pusuk, Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Ruas jalan di Bima, dua titik ruas jalan Lingkar Tambora di Dompu. Dan ruas jalan Rabakodo, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima.


“Jadi APBD Perubahan 2026 bisa membantu juga untuk menambah penanganan-penanganan hampir 20 titik yang kita tangani tahun ini,” ungkapnya.


Adapun dengan adanya kelangkaan ini, pihaknya berharap pasokan aspal dan semen segera kembali normal agar perbaikan puluhan ruas jalan di NTB bisa tuntas di akhir tahun ini. Walau begitu, pihaknya tidak menampik kelangkaan ini tidak hanya terjadi di NTB, namun terjadi juga di provinsi lain yang juga menyebabkan terjadinya keterlambatan perbaikan infrastruktur jalan.


Karena kelangkaan ini terjadi di hampir seluruh provinsi, Wijaya mengaku perusahaan AMP akan memprioritaskan penyaluran aspal ke daerah-daerah yang melaksanakan proyek infrastruktur besar yang telah memiliki kontrak. Sementara, kebutuhan aspal di NTB hanya untuk perbaikan-perbaikan kecil untuk memperbaiki ruas jalan.


“Kita kan di kegiatan pemeliharaan yang secara volume itu kan tidak terlalu besar. Tapi kalau namanya paket-paket pekerjaan kabupaten/kota pasti masuknya paket, mungkin prioritasnya karena ada perjanjian kerja mereka.

Nah, bila mana tidak selesai, mereka kena penalti. Feeling saya itu, si AMP nya ini akan mendahulukan apa perikatan mereka. Karena berkonsekuensi hukum masalahnya itu kan,” bebernya.


Menurutnya, sejak terjadi kelangkaan ini, NTB seringkali tidak diprioritaskan dalam penyaluran kebutuhan aspal. Aspal dari AMP banyak disalurkan ke daerah-daerah lain yang sudah berkontrak dengan perusahaan tersebut. Meski begitu, ia yakin penanganan perbaikan puluhan ruas jalan di NTB tidak akan molor.


“Jadi kondisi itu yang menyebabkan penanganan kita jadi terkendala. Kalau molor, insya Allah enggak sih, karena kita dari sisi volume juga enggak terlalu banyak ya penanganan-penanganannya,” pungkasnya. (era)

Pakar Ekonomi: Program Unggulan NTB Desa Berdaya Bisa Mendorong Keluarga Miskin Naik Kelas

0
Pakar Ekonomi: Program Unggulan NTB Desa Berdaya Bisa Mendorong Keluarga Miskin Naik Kelas
Prof. Riduan Mas’ud (EKBIS NTB/ist)


Mataram (EKBIS NTB) –Program Desa Berdaya yang digagas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di bawah kepemimpinan Gubernur Dr. Lalu. Muhamad Iqbal dan Hj. Indah Damayanti Putri dinilai bisa menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkat desa.


Program ini tidak hanya berorientasi pada pengentasan kemiskinan, tetapi juga mendorong keluarga miskin agar mampu mengembangkan usaha produktif dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.


Pakar Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Riduan Mas’ud, menyoroti pentingnya pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan ekonomi. Melalui penguatan potensi lokal dan pemberdayaan keluarga, desa diharapkan tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi tumbuh sebagai pusat kegiatan ekonomi yang produktif.


Desa Berdaya menawarkan pendekatan yang menghubungkan penanganan kemiskinan dengan pengembangan potensi ekonomi desa.
“Strategi ini menjadi penting bagi NTB yang memiliki beragam sumber daya unggulan, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.


Program ini dikembangkan melalui dua pendekatan, yakni Desa Berdaya Transformatif dan Desa Berdaya Tematik. Pendekatan transformatif menyasar keluarga miskin ekstrem melalui pendampingan bertahap, sedangkan pendekatan tematik diarahkan untuk mengoptimalkan potensi unggulan desa agar menghasilkan nilai tambah ekonomi. “Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi,” tambahnya.


Di satu sisi, keluarga miskin didorong membangun usaha dan meningkatkan pendapatan. Di sisi lain, potensi ekonomi desa diperkuat agar mampu membuka peluang kerja, memperluas pasar, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.


Diketahui, pada 2026, Pemprov NTB mengalokasikan Rp128 miliar untuk Desa Berdaya Tematik dengan sasaran 257 desa. Setiap desa direncanakan memperoleh dukungan Rp300 juta. Sementara itu, Desa Berdaya Transformatif pada tahap awal menyasar 40 desa dengan 6.337 kepala keluarga miskin ekstrem.


“Dukungan tersebut menjadi peluang bagi desa untuk mengembangkan usaha sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat,” katanya.


Di sektor pertanian, misalnya, program dapat diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengolahan hasil, dan pemasaran. Desa dengan potensi pariwisata dapat mengembangkan homestay, kuliner, kerajinan, serta jasa wisata yang melibatkan masyarakat setempat.


Dengan pengembangan usaha yang tepat, manfaat program diharapkan tidak berhenti pada penerima bantuan, tetapi meluas melalui penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi di lingkungan desa.


“Tantangan kemiskinan di NTB memang masih besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan NTB pada September 2025 sebesar 11,38 persen atau sekitar 637,18 ribu orang. Angka ini turun dibandingkan September 2024 yang mencapai 11,91 persen,” papar Prof. Riduan.


Dalam konteks tersebut, Desa Berdaya berpotensi memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan yang lebih dekat dengan kondisi riil masyarakat. Bantuan produktif diharapkan menjadi modal awal bagi keluarga untuk membangun usaha, sementara pendampingan membantu memastikan usaha tersebut dapat tumbuh dan bertahan.


Penguatan program juga dapat dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan lembaga keuangan. Kemitraan diperlukan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, memperbaiki kualitas produk, membuka akses pembiayaan, serta mempertemukan usaha desa dengan pasar yang lebih luas.


Keberhasilan Desa Berdaya pada akhirnya tidak hanya terlihat dari jumlah desa penerima program atau besarnya anggaran yang tersalurkan. Dampak yang lebih penting menurutnya adalah, meningkatnya pendapatan keluarga, berkembangnya usaha masyarakat, terbukanya lapangan kerja, serta membaiknya kualitas hidup warga.


Melalui pendekatan tersebut, Desa Berdaya dapat menjadi fondasi pembangunan ekonomi dari bawah.

“Ketika keluarga semakin mandiri dan potensi lokal mampu menghasilkan nilai tambah, desa tidak hanya menjadi sasaran pembangunan, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan NTB,” demikian Prof. Riduan. (bul)

Program MBGTingkat Pengangguran di NTB Diklaim Menurun

0
Program MBGTingkat Pengangguran di NTB Diklaim Menurun
MBG - Program MBG di salah satu sekolah di Kota Mataram. Adanya program ini diklaim menurunkan tingkat pengangguran. (EKBIS NTB/ist


Mataram (EKBIS NTB) –Program prioritas nasional, Makan Bergizi Nasional (MBG) dinilai berkontribusi pada penurunan tingkat pengangguran di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Program ini dinilai membuka lowongan pekerjaan baru, serta dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Bumi Gora.


Kabid Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Perbendaharaan NTB, Adi Widyandana, mengatakan keberadaan MBG memberikan dampak ekonomi melalui keterlibatan para pemasok bahan pangan dan pelaku usaha lokal.


Menurutnya, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah membuka peluang bagi supplier dari tingkat desa, pelaku UMKM, hingga pemasok di tingkat kabupaten yang berada di wilayah NTB.


“MBG ini benar-benar sudah secara analisis berdampak pada perekonomian di NTB. Pertama, menggerakkan para supplier yang ada di sekitar SPPG, entah itu supplier dari desa, UMKM desa, atau supplier kabupaten selama tidak keluar dari NTB. Jadi sudah menggerakkan perekonomian NTB,” ujarnya, Selasa (20/10).


Ia menjelaskan, alokasi anggaran MBG sebesar Rp4,6 triliun juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, terutama dalam operasional dapur SPPG. Sejumlah posisi dalam pelaksanaan program tersebut melibatkan tenaga kerja yang memperoleh upah, mulai dari pengurus SPPG hingga relawan yang bertugas memasak dan tenaga pengolah makanan.


“Program ini sudah ikut membantu mengurangi pengangguran, meningkatkan tenaga kerja, dan menyerap bagian dari upaya penyerapan tenaga kerja,” terangnya.


Adi menilai MBG berpotensi mendukung upaya pengurangan kemiskinan melalui perputaran ekonomi dan terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakat. Di sisi lain, program ini tetap mengemban tujuan utama untuk meningkatkan pemenuhan gizi penerima manfaat sebagai bagian dari upaya penanganan stunting.


Meski memberikan dampak positif, ia menilai pelaksanaan MBG tetap membutuhkan pengawasan serta evaluasi secara berkelanjutan. Hal ini mengingat program tersebut dijalankan dalam skala besar dan membawa perubahan yang cukup signifikan.


“Bagaimanapun program yang berjalan secara masif pastinya di sana-sini banyak kekurangan. Menurut saya wajar. Yang penting evaluasinya terus dilakukan, pengawalan dari seluruh pemangku kepentingan termasuk pemerintah daerah,” ungkapnya.
Pengendalian Inflasi Perlu Diperkuat


Selain menyoroti dampak ekonomi dan ketenagakerjaan, Adi turut menanggapi anggapan bahwa pelaksanaan MBG dapat memicu kenaikan inflasi di daerah. Ia menjelaskan, tekanan inflasi pada dasarnya berkaitan dengan keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang. Apabila permintaan meningkat, sementara pasokan tidak mencukupi, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga.


Karena itu, Adi mendorong tim pengendalian inflasi daerah, termasuk Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah, untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan tetap terjaga. Upaya tersebut perlu didukung distribusi yang lancar serta intervensi langsung ketika terjadi ketidakseimbangan pasar.


Ia juga menyarankan pemerintah daerah mengoptimalkan anggaran untuk pelaksanaan pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Selain itu, koordinasi dengan Bulog dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pasokan bahan baku yang dibutuhkan masyarakat maupun pelaksanaan program MBG.


“Bulog bisa memasifikan karena gudangnya masih penuh. Selain itu, pastikan distribusi dan edukasi kepada masyarakat agar tidak panik,” pungkasnya. (era)

Saat HUT NTBEmpat Seaplane Direncanakan Mendarat di Batujai

0
Saat HUT NTBEmpat Seaplane Direncanakan Mendarat di Batujai
Ilustrasi seaplane di NTB. (EKBIS NTB/ist)


Mataram (EKBIS NTB) –Empat unit seaplane atau pesawat amfibi direncanakan mendarat perdana di Bendungan Batujai, Lombok Tengah pada 17 Desember 2026 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) NTB ke-68. Hingga kini, rencana pendaratan seaplane tersebut masih dalam proses perizinan operasional.


Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Ervan Anwar, mengatakan pihaknya masih melengkapi sejumlah persyaratan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) serta Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terkait izin pemanfaatan wilayah perairan.


“Masih di ruang ticketing ya. Kemarin (pihak maskapai) sudah di Benoa sebelum di Batujai. Karena banyak item izin air sama item-item yang harus dipenuhi,” ujarnya, Selasa, 20 Oktober 2026.


Perizinan dari Kementerian PU, lanjutnya hingga saat ini masih diupayakan dan berada dalam tahap penyelesaian. Ervan mengaku pihaknya rutin berkoordinasi intensif dengan Kemenhub berkaitan dengan pengadaan pesawat amfibi itu.


“Dengan pihak Benoa sudah selesai ya. Harapannya, kan di bandara dulu baru mendarat di Bendungan Batujai,” katanya.
Selain mengurus perizinan untuk mendarat di Bendungan Batujai, Ervan mengungkapkan kawasan Pantai Sire di Lombok Utara juga masuk dalam skema rute penerbangan seaplane ini.


“Tahun ini sedang mengurus izin KKPRL-nya kalau untuk di Pantai Sire. Kemarin dia sudah selesai sama Benoa, sudah MoU,” tegas Ervan.
Ervan membocorkan, maskapai yang siap bekerja sama dengan Pemprov NTB adalah PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (Aman Air) dengan menyiapkan empat unit pesawat.


“Ada empat ya pesawatnya. Mudahan ini menjadi kado ulang tahun NTB,” tandasnya.


Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk menjadikan Bendungan Batujai sebagai Waterbase Seaplane di NTB telah disepakati bersama Kemenhub.


“Tadi Pak Menteri menyempatkan diri menyaksikan penandatanganan. Ini akan memulai persiapan untuk pembukaan waterbase seaplane di Bendungan Batujai,” ujar Iqbal, Sabtu (28/2/2026).


Iqbal menjelaskan, keberadaan Waterbase Seaplane di Bendungan Batujai nantinya akan terkoneksi langsung dengan Bandara Internasional Lombok yang berada di sebelah selatan. “Jadi saat ini persiapan itu sudah resmi, meskipun penjajakan sudah lama dilakukan,” ungkapnya.


Dengan penandatanganan MoU tersebut, persiapan operasional penerbangan seaplane dari Lombok menuju berbagai destinasi wisata kepulauan akan dimulai secara sistematis. Meski begitu, terdapat beberapa regulasi teknis dari Kemenhub yang harus segera dipenuhi.

“Nanti ada regulasi baru khusus seaplane dari Kemenhub,” pungkasnya. (era)

Efisiensi Anggaran dengan Digitalisasi KTP

0
Efisiensi Anggaran dengan Digitalisasi KTP
Lalu Tesa (EKBIS NTB/ist)


PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mendorong peralihan penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) konvensional menuju Identitas Kependudukan Digital (IKD). Transformasi guna menekan anggaran pengadaan pencetakan dokumen fisik yang selama ini diduga membebani negara.


Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) Administrator Data Kependudukan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (DPMD Dukcapil) NTB, Lalu Tesa, mengatakan biaya produksi satu keping KTP fisik diperkirakan mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000.


Menurutnya, kebutuhan anggaran akan terus bertambah ketika masyarakat harus mengganti KTP akibat hilang atau mengalami perubahan domisili. Dengan penerapan IKD, ketergantungan terhadap dokumen fisik diharapkan berkurang sehingga potensi penghematan anggaran dapat mencapai triliunan rupiah.


“Layanan digital ini juga memberikan kemudahan bagi masyarakat karena warga tidak perlu lagi bolak-balik mengurus dokumen ke kantor Dukcapil.

Aplikasi IKD telah dilengkapi fasilitas permohonan pelayanan administrasi kependudukan. Ke depannya, seluruh data kependudukan ini terintegrasi ke dalam Satu Data Indonesia yang menjadi fondasi penyatuan data nasional,” ujarnya di Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB, Selasa (20/10).


Di balik upaya digitalisasi tersebut, tingkat penggunaan IKD di NTB masih perlu ditingkatkan. Tesa menyebutkan, pemerintah pusat menetapkan target aktivasi sebesar 25 persen, sedangkan realisasi di tingkat provinsi baru mencapai sekitar 5 persen.

Kabupaten Lombok Timur menjadi daerah dengan persentase aktivasi tertinggi, yakni lebih dari 10 persen. Kota Mataram menyusul di posisi berikutnya.


Capaian kedua daerah itu tidak terlepas dari penunjukannya sebagai wilayah percontohan penerapan IKD. Program tersebut turut mendorong peningkatan minat masyarakat untuk mengaktifkan identitas digital, termasuk warga yang ingin memenuhi persyaratan terkait program bantuan sosial.


Ia menjelaskan, Kementerian Sosial telah memanfaatkan basis data kependudukan Dukcapil untuk mendukung pengembangan program perlindungan sosial. Integrasi data tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan informasi kependudukan dengan pelaksanaan program pemerintah.


Meski demikian, proses perluasan penggunaan IKD tidak dapat dilakukan sekaligus. Kesiapan masyarakat masih menjadi tantangan, terutama bagi warga yang belum mempunyai telepon pintar atau belum terbiasa menggunakan layanan digital.


Karena itu, DPMD Dukcapil NTB memilih menerapkan aktivasi secara bertahap. Salah satu langkah yang dilakukan ialah mendatangi kantor-kantor perangkat daerah untuk membantu pegawai negeri sipil (PNS) mengaktifkan IKD sebagai tahap awal penerapan. (era)

Investasi Miliaran RupiahPuluhan SPPG Lotim Diharapkan Segera Beroperas

0
Investasi Miliaran RupiahPuluhan SPPG Lotim Diharapkan Segera Beroperas
H. Ahyan (EKBIS NTB/rus)

Selong (EKBIS NTB) -Sebanyak 82 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) didorong segera beroperasi untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah percepatan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat investasi masyarakat untuk pembangunan satu dapur SPPG telah mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.


Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) Monitoring dan Pengawasan Program MBG Kabupaten Lotim yang juga Asisten I Setdakab Lotim, H.

Ahyan, saat dikonfirmasi media di Kantor Bupati Lotim, Selasa (20/10/2026) mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dan peninjauan langsung terhadap sejumlah lokasi SPPG guna memastikan kesiapan serta kelengkapan persyaratan operasional.


Menurut Ahyan, tim telah turun ke lapangan untuk memverifikasi lokasi, bangunan, hingga titik koordinat 82 SPPG. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kejelasan status lokasi dan perizinan pembangunan dapur, sehingga proses operasional dapat segera memperoleh kepastian.


“Dokumen dan informasi terkait akan segera disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk proses tindak lanjut running atau pengoperasian dapur SPPG,” katanya.


Satgas mendukung pengusulan pengoperasian dapur yang terbilang sudah lama mendapat izin BGN tersebut. Dari hasil pemantauan, sebagian besar persyaratan administrasi dan teknis disebut telah terpenuhi hingga 100 persen. Namun, masih terdapat sejumlah komponen yang perlu dibenahi, terutama kondisi fisik dapur yang tingkat pemenuhan persyaratannya masih di bawah 75 persen.


Kondisi tersebut menjadi salah satu catatan yang harus segera ditindaklanjuti oleh mitra pengelola SPPG. Pembenahan diperlukan agar seluruh persyaratan yang ditetapkan BGN dapat dipenuhi dan dapur bisa menjalankan fungsinya sesuai ketentuan.


Ahyan menilai percepatan penyelesaian persoalan tersebut penting, terlebih karena pembangunan dapur SPPG membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Dengan nilai investasi masyarakat yang telah menembus Rp1,5 miliar untuk satu dapur, kepastian operasional menjadi hal yang mendesak untuk dikoordinasikan bersama BGN.


Selain mendorong percepatan operasional, Satgas juga membahas tindak lanjut terhadap dapur SPPG yang sebelumnya dikenai Surat Pemberhentian Sementara (SP2).


Dalam pembahasan tersebut, terdapat 15 dapur yang sebelumnya masuk dalam penanganan pemberhentian sementara. Saat ini, proses pengajuan untuk mengaktifkan kembali dapur-dapur tersebut tengah berjalan dengan tetap memperhatikan catatan dan persyaratan yang diberikan BGN.


Pengaktifan kembali tidak bisa dilakukan begitu saja. Mitra pengelola harus terlebih dahulu menyempurnakan berbagai kekurangan yang menjadi catatan hasil evaluasi BGN sebelum proses selanjutnya dapat dilaksanakan.


Karena itu, pihak terkait telah menyampaikan kepada para mitra agar segera menindaklanjuti dan melengkapi seluruh catatan tersebut. Percepatan perbaikan diharapkan dapat memperlancar proses pengajuan sekaligus memberikan kepastian terhadap keberlanjutan operasional dapur. (rus)