Mataram (ekbisntb.com) — Menjelang Iduladha 1447 Hijriah/2026, harga hewan kurban di sejumlah titik penjualan mengalami kenaikan. Namun, kondisi ini tidak diikuti peningkatan daya beli masyarakat. Para pedagang mengaku penjualan tahun ini hingga 3 hari sebelum lebaran, justru menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Salah seorang pedagang hewan qurban di Kota Mataram, Rizki, mengatakan kenaikan harga sapi sudah terjadi sejak dari tingkat peternak. Harga sapi disebut naik sampai 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu kami ambil sapi di kisaran Rp12 juta sampai Rp13 juta per ekor, sekarang sudah naik jadi sekitar Rp14 juta hingga Rp15 juta. Ada yang naik sampai Rp1 juta sampai Rp2 juta per ekor,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga membuat masyarakat berharap harga qurban tetap seperti tahun lalu. Akibatnya, transaksi pembelian cenderung melambat.
“Orang maunya harga masih seperti tahun lalu, sementara harga dari peternak sudah naik. Jadi pembeli juga banyak yang masih menunggu,” katanya.
Rizki mengaku, hingga saat ini penjualan sapinya baru mencapai sekitar 17 ekor. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, penjualan sudah menembus sekitar 30 ekor.
“Biasanya sudah habis banyak, sekarang masih sepi. Mudah-mudahan mendekati hari H ada peningkatan,” harapnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Mall Qurban Mataram. Pengelola Mall Qurban, Romi Saepuddin, mengatakan kenaikan harga sapi, khususnya jenis limosin, terjadi cukup tajam.
Ia menjelaskan, sebelumnya harga sapi hidup jenis limosin berada di kisaran Rp53 ribu per kilogram. Kini harga mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram.
“Kalau dihitung per ekor, yang dulu harganya sekitar Rp37 juta, sekarang bisa sampai Rp62 juta. Jadi kenaikannya cukup tinggi,” jelasnya.
Menurut Romi, kenaikan harga terjadi karena kondisi peternakan mulai pulih setelah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Tahun sebelumnya, pasca wabah PMK melanda, banyak peternak menjual sapi dengan harga murah karena khawatir ternaknya sakit atau mati.
“Dulu waktu PMK banyak peternak melepas ternaknya murah. Sekarang kondisi sudah stabil, stok mulai terbatas dan harga kembali naik,” katanya.
Meski minat masyarakat untuk berqurban masih ada, daya beli dinilai belum pulih sepenuhnya. Hingga saat ini, penjualan sapi di Mall Qurban baru mencapai sekitar 28 ekor, jauh dibandingkan tahun lalu yang mencapai 66 ekor pada periode yang sama.
“Kalau melihat kondisi sekarang, penjualannya memang turun sekitar 40 sampai 50 persen dibanding tahun lalu,” ungkap Romi.
Ia menambahkan, banyak pedagang kini memilih tidak terlalu banyak menyetok hewan qurban karena khawatir tidak habis terjual.
“Kondisi ekonomi juga berpengaruh. Jadi pedagang sekarang lebih hati-hati menyetok,” katanya.
Sementara itu, pengumpul dan penjual sapi qurban asal Lombok Barat, H. Darwiti, mengaku harga sapi tahun ini memang mengalami kenaikan, terutama karena biaya perawatan dan pengadaan ternak semakin tinggi.
Ia menyebut harga sapi qurban ukuran sedang yang sebelumnya dijual sekitar Rp15 juta, kini naik menjadi sekitar Rp16 juta hingga Rp16,5 juta per ekor.
Meski demikian, penjualan di tempatnya masih cukup terbantu oleh pembelian dari sejumlah perusahaan, lembaga, dan kelompok masyarakat.
“Ada pembelian dari perusahaan, majelis taklim, hotel, sampai instansi. Alhamdulillah masih ada langganan tetap,” ujarnya.
Menurut Darwiti, kenaikan harga hewan qurban hampir terjadi setiap tahun, terutama menjelang Iduladha ketika permintaan meningkat.
“Biasanya memang naik saat mendekati Iduladha karena permintaan tinggi,” tandasnya. (bul)






