Sunday, April 19, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 391

Politisi PDIP Kritisi Pemkab Lotim Kucurkan Bansos Rp40 Miliar di Tengah Efisiensi

0
Ahmad Amrullah(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Alokasi anggaran untuk Bantuan Sosial (Bansos) senilai Rp40 miliar di Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menjadi sorotan, mengingat situasi efisiensi anggaran yang tengah dilakukan pemerintah. Bantuan tersebut rencananya akan diberikan kepada sekitar 273 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang akan disalurkan oleh pemerintahan baru Bupati Haerul Warisin dan Wakil Bupati Edwin Hadiwijaya.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Timur, Ahmad Amrullah, memberikan sejumlah catatan terkait pemberian bansos ini, mulai dari skema pengalokasian, dasar penentuan penerima bansos, hingga keberpihakan pada aspek pembangunan.

Politisi PDI Perjuangan ini mempertanyakan dasar penentuan alokasi penerima bansos yang berbasis kecamatan. “Dasar pengalokasian jumlah bansos berbasis kecamatan ini apa? Dari mana persentasenya muncul? Jika mengacu pada jumlah penduduk, sepertinya tidak proporsional. Perlu dicek lagi penerimanya berdasarkan by name by address. Jangan sampai salah sasaran,” kata Amrullah pada Jumat 28 Februari 2025.

Amrullah yang juga anggota DPRD asal Dapil II Lombok Timur itu meminta Pemkab lebih transparan dalam menjelaskan data penerima bansos kepada publik. Ia menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawal pendistribusian bansos agar tidak menimbulkan gejolak di kalangan masyarakat.

“Kami berpesan agar Pemkab lebih teliti dalam menentukan sasaran penerima bansos. Jangan sampai hal ini menjadi polemik. Kecamatan dengan jumlah penduduk besar justru penerima bansosnya kecil, dan sebaliknya. Kami harap program bansos ini tidak hanya sekadar mengakomodir keinginan bupati, tetapi juga lebih visioner,” sambung Amrullah.

Selain itu, Amrullah mengingatkan Pemkab Lombok Timur agar tidak terlalu banyak membuat program yang bersifat bantuan sosial. “Bansos ini bukan program jangka panjang, dampaknya hanya sesaat. Kami ingatkan, karena ini awal pemerintahan bupati baru, jangan sampai latah dengan program-program seperti ini,” ujarnya.

Amrullah juga menilai bahwa pemberian bansos dalam jangka panjang tidak berkorelasi signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan. Ia berharap Pemkab Lotim dapat lebih fokus pada program-program yang berkesinambungan, bukan hanya program populis. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir 2024, angka kemiskinan di Lombok Timur mencapai 14,51 persen, yang setara dengan sekitar 185 ribu jiwa.

“Bansos yang akan dibagikan kepada 273 ribu penerima, padahal jumlah penduduk miskin kita tidak sebesar itu. Kemana saja sasarannya? Jangan sampai malah digunakan untuk bagi-bagi kepada tim sukses,” tegas Amrullah.

Lebih jauh, Amrullah menilai alokasi anggaran sebesar Rp40 miliar untuk pemberian bansos terlampau besar, apalagi di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah. “Bupati dan Wakil Bupati mesti ingat, kita tengah berada dalam situasi yang cukup sulit imbas efisiensi anggaran. Belanja pemerintah pasti terganggu. Lihat lagi postur fiskal APBD,” ujarnya.

Dari sisi mekanisme penganggaran, Amrullah menjelaskan bahwa anggaran untuk program bansos ini diajukan untuk mengakomodasi keinginan bupati dan wakil bupati terpilih. “Program ini diwacanakan setelah ada bupati terpilih. Eksekutif melakukan sinkronisasi untuk menampung keinginan bupati dalam APBD 2025. Namun, dari sisi perencanaan, sepertinya ada masalah karena ini dilakukan terlalu cepat,” jelasnya.

Amrullah pun menilai pemberian bansos pada saat ini kurang tepat. Ia mengingatkan bahwa sejumlah sektor di Lombok Timur, seperti infrastruktur, membutuhkan perhatian lebih.

“Mesti ada skala prioritas. Infrastruktur kita masih banyak yang butuh perhatian. Jalan, jembatan, bangunan pelayanan publik, rumah sakit, dan sekolah membutuhkan perbaikan segera. Sementara alokasi dana untuk infrastruktur banyak dipangkas. Pemkab harus mencari solusi terbaik,” pungkasnya. (ndi)

Jelang Ramadan, Komisi IX DPR RI Sidak Harga Bahan Pokok di Pasar Renteng

0
Jelang Ramadhan, Anggota Komisi IX DPR RI melakukan pantauan harga bahan pokok di Pasar Renteng, Praya, Lombok Tengah.(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Menjelang bulan suci Ramadhan, Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik (kunspek) ke NTB untuk memastikan keamanan dan kelayakan peredaran makanan yang sehat dan layak konsumsi, serta terbebas dari bahan-bahan berbahaya. Kunjungan ini juga bertujuan untuk memantau harga bahan pokok menjelang dan saat Ramadhan.

Rombongan Komisi IX DPR RI pertama kali mengunjungi Pasar Renteng, Praya, Lombok Tengah. Dalam kegiatan ini, turut hadir Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Kepala Balai Besar POM Mataram, dan Kabid P2P Dinas Kesehatan NTB.

Mereka melakukan pengecekan langsung terhadap para pedagang di pasar yang cukup padat tersebut. Rombongan yang dipimpin oleh anggota Komisi IX DPR RI, Muazzim Akbar, menanyakan harga beberapa bahan pokok menjelang Ramadhan, khususnya cabai yang mengalami kenaikan signifikan dari Rp70.000 menjadi Rp120.000 per kilogram.

Selain itu, mereka juga memeriksa kesesuaian produk dengan standar keamanan pangan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Muazzim Akbar menegaskan bahwa pengawasan ini sangat penting mengingat bulan Ramadhan adalah momen di mana konsumsi makanan meningkat pesat.

“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat dapat mengonsumsi makanan yang aman, sehat, dan halal, terutama saat berbuka puasa dan sahur,” ujar Muazzim Akbar pada Jumat 28 Februari 2025.

Kunjungan kerja ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya pengawasan peredaran makanan, terutama selama bulan Ramadhan. Komisi IX DPR RI berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan rutin guna melindungi kesehatan, hak konsumen, dan keamanan pangan selama Ramadhan.

“Kami akan rutin turun untuk memastikan bahwa sepanjang bulan puasa, masyarakat sebagai konsumen mendapatkan pangan yang sehat dan harga yang terjangkau,” tegas anggota DPR RI dari dapil NTB 2 itu.

Setelah melakukan pengecekan langsung di pasar Renteng, rombongan Komisi IX DPR RI kemudian diterima oleh Kepala Dinas Perindag Lombok Tengah, Asisten II Setda Lombok Tengah, dan Kepala Pasar Renteng di lantai dua pasar tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Muazzim Akbar menegaskan.

“Menjelang dan selama Ramadhan, harga bahan pokok tidak boleh naik. Kami akan terus melakukan pengawasan bersama Pemerintah Daerah. Yang boleh naik hanya harga gabah, sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo, yang tidak boleh kurang dari Rp. 6.500/kg, harga lebih tinggi diperbolehkan,” tegasnya.

Ketua DPW PAN NTB tiga periode ini didampingi oleh Nurhadi, S.Pd., MH., anggota Komisi IX dari Fraksi Nasdem Dapil Jatim VI. Dalam sambutannya, Nurhadi menambahkan bahwa Komisi IX akan selalu melakukan pengawasan terhadap harga-harga bahan pokok, terutama menjelang dan selama Ramadhan. “Hal ini untuk menjamin keamanan dan kenyamanan warga masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa,” pungkasnya. (ndi)

Jelang Bulan Ramadhan, Sumbawa Gelar Gerakan Pangan Murah

0
GPM di kantor Dinas Ketahanan Pangan (DKP) diserbu masyarakat yang membutuhkan pangan murah(ekbisntb.com/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sumbawa, menggelar gerakan pangan murah (GPM) yang dilaksanakan selama dua hari (27-28 Februari) untuk menekan inflasi jelang bulan Ramadhan.

“Saat ini memang untuk GPM sangat dibutuhkan oleh masyarakat, apalagi jelang bulan Ramadhan sehingga pasokan pangan sangat dibutuhkan,” kata Kadis DKP, Irin Wahyu Indarni kepada wartawan, Jumat 28 Februari 2025.

Irin pun meyakinkan, kegiatan GPM ini dilakukan dalam rangka menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) jelang bulan Ramadhan. Tentu tujuan akhirnya untuk memastikan Indeks  Harga Konsumsi (IHK) bisa terjaga selama bulan Ramadhan.

“Jadi, GPM ini kita laksanakan agar stabilisasi harga dan pasokan pangan tidak terkendala selama bulan Ramadhan,” ujarnya.

Irin melanjutkan, kegiatan ini sebagai bentuk ikhtiar Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, telur, minyak goreng, daging ayam, dan sembako lainnya. Tentu barang tersebut dibeli dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kios masyarakat.

“Alhamdulillah untuk kondisi pangan kita tidak menghawatirkan, tetapi membutuhkan sedikit sentuhan pemerintah untuk menekan harga bahan pokok yang terjadi di pasaran makanya kita gelar GPM ini,” tambahnya.

Dia pun meyakinkan, GPM ini setiap tahun dilakukan agar Indeks Harga Konsumsi (IHK) bisa turun. Karena pada prinsipnya untuk menekan laju inflasi ditentukan oleh perilaku konsumen jika harga tinggi maka daya beli masyarakat akan rendah.

“Kami tetap berusaha agar IHK kita terkendali dan turun salah satunya adanya opsi pembelian pangan dengan harga yang lebih murah untuk membantu masyarakat,” timpalnya.(ils)

Selama Ramadan, Pedagang Makanan Diminta Layani Pembeli Jelang Berbuka

0
Gatot Gunawan PP(ekbisntb.com/ist)

Dompu (ekbisntb.com) – Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu mengeluarkan larangan agar para pengusaha tidak menjual minuman beralkohol dan petasan selama bulan Ramadan. Larangan ini untuk menghormati Umat Islam yang sedang beribadah puasa Ramadan sebulan penuh.

Tidak hanya larang menjual miras dan petasan, pedagang makanan juga diminta untuk membuka dagangannya menjelang waktu berbuka puasa. “Pengelola restoran, rumah makan, kafe dan sejenisnya hanya dapat menjual makanan dan minuman menjelang buka puasa,” tulis pengumuman yang ditandatangani Sekda Dompu, Gatot Gunawan Perantauan Putra, SKM, MMKes tanggal 25 Februari 2025 ini.

Untuk keamanan dan ketertiban dalam pelaksanaan ibadah pada Ramadan, kegiatan membangunkan sahur (patroli sahur) masih dapat dilaksanakan selama bisa dijaga ketertibannya. Sehingga tidak mengganggu ketertiban umum dan ketentraman Masyarakat. Para orang tua juga dituntut mengawasi anaknya untuk tidak melakukan aktivitas yang membahayakan dan melanggar hukum.

Warga juga dituntut menjaga kondusifitas dan ketentraman dengan menjunjung tinggi nilai toleransi selama bulan suci Ramadan dan hari Raya Idul Fitri 1446 H.

Keindahan dan kebersihan lingkungan serta tempat ibadah juga menjadi bagian dari himbauan yang dikeluarkan Sekda Dompu. Termasuk menyemarakkan tempat ibadah dengan kegiatan shalat 5 waktu dan shalat tarawih secara berjamaah serta kajian keagamaan. (ula)

Bulog Baru Serap 1.099 Ton Beras dari Petani hingga Februari

0
Zuhri Hanafi(ekbisntb.com/dok)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Sumbawa, baru melakukan penyerapan gabah kering panen (GKP), beras, dan setara beras sebesar 1.099 ton dari target tahun 2024 sebesar 49.000 ton.

“Serapan kita masih cukup rendah dari target bulan Februari sebesar 1.340 ton dengan realisasi 1.099 ton tetapi kami tetap optimis untuk mencapai target tersebut hingga akhir tahun,” kata pimpinan cabang Bulog Sumbawa, Zuhri Hanaf, kenapa Ekbis NTB, Jumat 28 Februari 2025.

Penyerapan beras sebesar 49.000 ton hingga akhir tahun 2025 nantinya akan dijadikan sebagai beras cadangan pangan pemerintah. Beras Pemerintah nantinya bisa dikeluarkan ketika terjadi kondisi yang tidak diinginkan salah satunya bencana alam.

“Penyerapan gabah setara beras itu dilakukan untuk kebutuhan cadangan pangan pemerintah dalam rentan waktu satu tahun,” ucapnya.

Dikatakannya, untuk harga beras yang diterima digudang Bulog senilai Rp11.000 perkilo gramnya. Sementara untuk gabah kering panen dihargai sebesar Rp6.500 perkilo gramnya dengan kadar air 17 persen supaya rusak saat disimpan di gudang nantinya.

“Harga tersebut sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah termasuk kualitasnya, karena diperuntukkan untuk beras cadangan pemerintah,” sebutnya.

Dia pun menyakinkan target serapan tersebut pasti bisa tercapai karena capaian 1.099 ton itu merupakan realisasi dalam rentan waktu dua bulan. Nanti di puncak panennya sekitar bulan April hingga Juni baru akan dilakukan penyerapan secara full, bahkan tim juga akan intens turun ke petani.

“Panen kan baru mulai dan kami optimis target tersebut bisa tercapai. Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk penyerapan juga masih sangat panjang, sehingga target tersebut pasti bisa tercapai,” tandasnya. (ils)

Realisasi Pajak Restoran Cukup Progresif

0
Sejumlah tamu di salah satu hotel di Kota Mataram sedang menikmati makan siang belum lama ini. Realisasi pajak restoran cukup progresif di awal tahun 2025. Diprediksi akan terjadi peningkatan pada bulan Ramadan. (ekbisntb.com/cem)

Lombok (ekbisntb.com) – Realisasi dari pajak restoran cukup responsif. Salah satu sumber pendapatan asli daerah Kota Mataram, diproyeksi akan meningkat selama bulan Ramadan.

Kepala Bidang Pelayanan, Penyuluhan, dan Penagihan Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, Ahmad Amrin dikonfirmasi pada, Jumat 28 Februari 2025 menerangkan,realisasi pajak restoran sampai tanggal 15 Februari 2025, mencapai 19,34 persen atau Rp7,7 miliar lebih dari target Rp40 miliar.

Pendapatan pajak rumah makan ini, diproyeksi akan mengalami peningkatan selama bulan Ramadhan. “Kita prediksi akan terjadi peningkatan dari pajak restoran,” katanya.

Meskipun secara detail tidak disebutkan persentase kenaikan pajak rumah makan, tetapi pihaknya berusaha mempertahankan pendapatan tersebut melalui penungguan dan uji petik.

Amrin mengatakan, tradisi masyarakat di bulan Ramadan memilih berbuka puasa bersama di rumah makan. “Sebenarnya tidak banyak kenaikannya tetapi kita coba mempertahankan saja. Rumah makan tutup juga dari pagi sampai siang hari,” ujarnya.

Di satu sisi, pendapatan dari pajak hotel dan pajak hiburan akan mengalami penurunan signifikan selama bulan Ramadan. Hal ini disebabkan menurun drastisnya tingkat kunjungan atau okupansi hotel.

Apakah dengan efisiensi anggaran akan berpengaruh terhadap pajak hotel? Amrin menegaskan, kemungkinan penerimaan dari pajak hotel akan berpengaruh dengan kebijakan efisiensi anggaran. Sebab, pemerintah mengurangi kegiatan sifatnya seremoni dan lain sebagainya.

Namun demikian, pihaknya berusaha melakukan pengawasan maupun uji petik supaya salah satu sumber pendapatan asli daerah tersebut, mengalami peningkatan atau sesuai target. Amrin mengimbau wajib pajak meningkatkan kepatuhan mereka untuk membayar pajak sesuai ketentuan atau tenggat waktu yang ditentukan.(cem)

Minimnya Anggaran Pemeliharaan PJU di Lombok Barat

0
Tim Dishub Lobar sedang memperbaiki lampu PJU(ekbisntb.com/her)

Lombok (ekbisntb.com) – Anggaran untuk pemeliharaan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) hanya dialokasikan sekitar Rp 110 juta. Jumlah ini dianggap sangat minim jika dibandingkan dengan banyaknya titik PJU yang harus ditangani di seluruh wilayah Lobar. Kondisi jalan yang gelap akibat kurangnya lampu PJU juga diduga menjadi salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas yang fatal, merenggut nyawa korban.

Plt Kadis Perhubungan melalui Kabid Sarpras Dinas Perhubungan (Dishub) Lobar, Kadarusman, mengatakan anggaran penanganan PJU terdiri dari dua komponen, yakni pengadaan dan pemeliharaan. Untuk pengadaan PJU, alokasi anggarannya sebesar Rp 200 juta, yang juga mencakup perencanaan, pengawasan, dan honorarium. Sementara anggaran untuk pemeliharaan PJU sebesar Rp 98 juta yang bersumber dari APBD murni, ditambah Rp 12 juta, sehingga total anggaran pemeliharaan mencapai Rp 110 juta.

“Jumlah titik lampu PJU yang harus ditangani mencapai ribuan titik. Meskipun anggaran pemeliharaan terbilang kecil, namun kita tetap berupaya mengoptimalkan pemeliharaan dengan anggaran yang ada,” jelas Kadarusman. Ia juga mengungkapkan bahwa hasil pertemuan dengan stakeholder Jasaraharja menunjukkan bahwa tingkat kecelakaan lalu lintas di Lobar, khususnya kecelakaan tunggal, terbilang tinggi. Salah satu penyebabnya diduga karena kondisi jalan yang gelap. “Meskipun begitu, penyebab kecelakaan tidak selalu langsung terkait dengan lampu jalan, namun kondisi jalan yang gelap memang berkontribusi,” tambahnya.

Kadarusman berharap, dengan adanya kepemimpinan baru, masalah terkait lampu jalan, sampah, dan kondisi jalan raya dapat mendapatkan perhatian serius. Pihaknya sangat berharap Bupati baru dapat memprioritaskan permasalahan PJU, karena isu ini sering kali muncul di bawah dan sangat dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, terkait kerja sama pemerintah daerah dengan badan usaha (KPBU) dalam pengelolaan PJU, Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat yang baru diminta untuk meninjau kembali skema pembiayaan KPBU tersebut. Hal ini karena skema pembiayaan KPBU PJU dinilai memaksakan daerah untuk mencari sumber pembayaran utang yang mencapai lebih dari Rp 10 miliar per tahun.

Jika skema ini diterapkan, Lobar akan membayar utang sebesar Rp 22 miliar per tahun. Jika ditambah dengan bunga dan pokok pinjaman, total pembayaran yang harus dilakukan mencapai Rp 33 miliar per tahun, dengan beban utang selama 10 tahun. Samsul, salah satu aktivis Lobar, mengungkapkan bahwa beban pembayaran utang tersebut melebihi penerimaan pajak penerangan jalan (PPJ) yang hanya mencapai maksimal Rp 23 miliar per tahun. “Beban utang dan pokok pinjaman KPBU PJU mencapai lebih dari Rp 33 miliar per tahun. Sedangkan PPJ hanya memberi pemasukan sebesar Rp 23 miliar. Ini sangat memberatkan daerah,” ujarnya.

Samsul menegaskan bahwa pemerintah daerah jangan sampai terjebak dalam utang yang membebani anggaran daerah, terlebih dengan adanya pengurangan anggaran daerah. Ia berharap Bupati dan Wakil Bupati yang baru dapat meninjau kembali kesepakatan dan kontrak KPBU PJU, karena jika diteruskan, ini akan membebani anggaran daerah dalam jangka panjang.

Sebelum adanya KPBU, Pemda menerima pajak penerangan jalan dari PLN sebesar Rp 23 miliar, dan masih terdapat surplus Rp 5 miliar setiap tahunnya. Namun, dengan adanya skema KPBU, Pemda harus membayar bunga dan pokok pinjaman mencapai Rp 33 miliar per tahun selama 10 tahun, yang pada akhirnya akan membebani anggaran daerah.

Samsul mempertanyakan siapa yang akan memiliki aset KPBU setelah 10 tahun masa pinjaman, dan apakah pemda akan mampu menanggung biaya operasional dan pemeliharaan PJU yang mencapai 12 ribu titik lampu. “Siapa yang bisa menjamin dalam 10 tahun nanti infrastruktur KPBU ini masih layak digunakan? Mesin dan peralatan tentu akan mengalami penurunan nilai,” jelasnya.

Sebelumnya, Pemkab di era Bupati H. Fauzan Khalid menandatangani KPBU untuk penataan dan pengelolaan PJU dengan pemenang PT SEI. Nilai investasi yang disepakati mencapai Rp 94,9 miliar selama 11 tahun, dengan satu tahun untuk konstruksi dan 10 tahun untuk masa operasi komersial. (her)

DPRD Minta Pemprov NTB Gelar Pasar Murah hingga Desa di Ramadhan

0
Kegiatan pasar murah di Pasar Renteng, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah(ekbisntb.com/ant)

Lombok (ekbisntb.com) – Wakil Ketua Komisi II Bidang Perekonomian DPRD NTB, Megawati Lestari meminta pemerintah provinsi (Pemprov) untuk memperbanyak kegiatan pasar murah,  tidak hanya di se-putaran perkotaan tapi juga harus merambah hingga ke desa-desa selama Ramadhan.

“Kami minta pemerintah provinsi (Pemprov) NTB melalui OPD untuk memperbanyak kegiatan pasar murah khususnya kebutuhan bahan pokok di Ramadhan tahun ini. Utamanya pasar murah ini harus lebih diperbanyak di desa-desa tidak hanya di satu titik perkotaan saja seperti yang digelar selama ini,” ujarnya di Mataram, Jumat.

Megawati Lestari mengakui permintaan untuk memperbanyak kegiatan pasar murah atau bazar kebutuhan pokok ini banyak disuarakan oleh masyarakat saat dirinya melakukan reses di sejumlah desa-desa yang mengaku tidak pernah disentuh kegiatan pasar murah. Padahal, kehadiran pasar murah ini menurutnya sangat membantu meningkatkan akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah terhadap kebutuhan bahan pokok serta dapat mengurangi beban hidup selama Ramadhan.

“Jadi kenapa penting harus di desa, supaya masyarakat penghasilan rendah ini menjadi terbantu mengurangi beban hidupnya,” ujar Mega.

Selain memperbanyak pasar murah hingga ke desa-desa, dirinya berharap pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota untuk memastikan dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok mulai gula, telur, daging sapi, daging ayam, minyak goreng, cabai, dan bumbu dapur selama Ramadhan hingga sampai Hari Raya Idul Fitri.

“Selain harga, persediaan bahan pokok juga harus menjadi perhatian pemerintah, termasuk juga distribusi-nya utamanya yang datang dari luar daerah, sehingga tetap lancar,” katanya.

Diketahui menjelang Ramadhan tahun ini, sejumlah komoditi pertanian di Kota Mataram mengalami kenaikan. Seperti harga cabai merah besar saat ini naik dari Rp55.000 per kilogram menjadi Rp60.000 per kilogram, begitu juga dengan cabai rawit merah naik dari Rp80.000 per kilogram menjadi Rp88.000 per kilogram.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan NTB, Baiq Nelly mengaku saat ini tengah menyiapkan pasar murah untuk mendongkrak gairah belanja masyarakat agar pertumbuhan ekonomi di wilayah setempat bergerak sesuai koridor dengan tingkat inflasi tahunan ideal sebesar 1-2 persen.

“Inflasi di NTB ada di nol koma, artinya masyarakat agak kurang belanja. Mudah-mudahan nanti di Ramadhan kondisi agak membaik,” ujarnya.

Nelly mengatakan menggelar pasar murah selama 20 hari saat Ramadhan sebagai upaya mengendalikan harga-harga komoditas yang merangkak naik, sekaligus mendongkrak daya beli masyarakat.

“Kabupaten/kota sedang mendesain itu (pasar murah) dan baru Kabupaten Bima yang melaporkan menyiapkan subsidi. Kalau kabupaten lain belum, beda-beda cara,” kata Nelly. (ant)

BUMD Butuh Tambahan Modal Agar Terhindar dari Kolaps

0
H. Edwin Hadiwijaya(ekbisntb.com/dok)

Lombok (ekbisntb.com) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) memiliki empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yaitu PT Selaparang Energi, Selaparang Finansial, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan PT Selaparang Agro. Dari keempat BUMD tersebut, satu perusahaan mengalami kesulitan finansial dan membutuhkan tambahan modal agar terhindar dari kolaps.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati Lotim, H. Edwin Hadiwijaya, saat diwawancarai Suara NTB di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Pemkab Lotim, yang dipimpin oleh H. Haerul Warisin dan H. Edwin, berkomitmen untuk menyelamatkan BUMD yang mengalami kesulitan tersebut.

Menurut Edwin, PT Selaparang Energi membutuhkan sekitar Rp 5 miliar untuk bisa bertahan. Permintaan ini sudah disampaikan oleh Plt Direktur perusahaan kepada pemerintah. PT Selaparang Energi, yang sebelumnya memproduksi air kemasan merek Asel, berencana untuk menghidupkan kembali mesin produksi tersebut.

“Mesin AMDK PT Selaparang Energi perlu diperbarui dengan teknologi digitalisasi agar produk air mineral dalam kemasan yang dihasilkan bisa lebih berkualitas,” ujar Edwin. Meskipun permintaan sebesar Rp 5 miliar sudah disampaikan, dana tersebut belum sepenuhnya bisa diberikan. “Mungkin separuh dari jumlah yang diminta yang bisa disalurkan, karena tergantung pada anggaran kita,” tambahnya.

Selain itu, PDAM Kabupaten Lombok Timur berencana untuk meningkatkan statusnya menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) tahun ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, jumlah pelanggan harus ditingkatkan. Saat ini, PDAM Lotim baru memiliki 39 ribu pelanggan, padahal minimal jumlah pelanggan yang dibutuhkan untuk menjadi Perumda adalah 50 ribu. “Kami kekurangan sekitar 20 ribu pelanggan,” sebut Edwin. Untuk mencapai target ini, diperlukan investasi tambahan agar proses penambahan pelanggan dapat dipercepat.

Selanjutnya, PT Selaparang Agro, yang bergerak di bidang pertanian, juga membutuhkan tambahan modal dalam jumlah besar agar dapat mengembangkan kembali usahanya. Edwin menjelaskan bahwa dalam pengelolaan usaha, pihaknya akan lebih selektif dalam menggunakan tenaga kerja dan memastikan tata kelola yang lebih teliti.

Terakhir, PT Selaparang Finansial, yang menjadi satu-satunya BUMD di Lotim yang masih dalam kondisi sehat, juga menghadapi penurunan jumlah deviden yang diberikan. Dulu, PT Selaparang Finansial mampu memberikan deviden sebesar Rp 6,5 miliar sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lotim. Namun, pada tahun terakhir, deviden yang diberikan hanya mencapai Rp 3 miliar.

Meski demikian, Edwin mengatakan PT Selaparang Finansial tetap membutuhkan suntikan modal tambahan untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi daerah. “Deviden yang diberikan juga belum dikembalikan dalam bentuk penyertaan modal,” tutupnya. (rus)

Lalu Kusnawan Kembali Terpilih Pimpin IHGMA NTB

0
Foto bersama usai Kongres IHGMA NTB di Hotel Merumata Senggigi, Jumat, 28 Februari 2025, yang kembali memilih Lalu Kusnawan sebagai Ketua IHGMA untuk periode 2025-2028.(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Kongres Daerah Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berlangsung pada Jumat, 28 Februari 2025, di Hotel Merumata, Senggigi, Lombok Barat, berjalan dengan lancar dan kondusif. Proses pencalonan telah dibuka secara terbuka mulai 13 hingga 19 Februari 2025, dengan mengikuti ketentuan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (ADRT) organisasi.

Dalam proses pencalonan, akhirnya muncul satu nama yang dipilih untuk memimpin IHGMA NTB, yaitu Lalu Kusnawan. Pemilihan ini dilakukan berdasarkan keberhasilan yang telah dicapai selama kepemimpinan periode sebelumnya. Oleh karena itu, Kongres memutuskan untuk memberikan kepercayaan kepada Lalu Kusnawan untuk memimpin IHGMA NTB kembali pada periode 2025-2028.

Pada periode kedua ini, IHGMA NTB berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan dengan baik pada periode sebelumnya. Salah satu agenda utama yang harus dihadapi adalah kesuksesan pelaksanaan Kongres Nasional IHGMA yang akan dilaksanakan di Solo pada 26-28 April 2025.

Namun, tantangan besar juga masih menanti. Salah satunya adalah upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor perhotelan dan pariwisata secara umum. IHGMA NTB juga berencana untuk terus memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan terkait, karena sektor pariwisata memerlukan sinergi antar berbagai pihak untuk berkembang. IHGMA NTB siap mendukung berbagai upaya untuk meningkatkan sektor ini.

Lalu Kusnawan, Ketua terpilih, menyampaikan bahwa sektor pariwisata NTB telah menunjukkan kebangkitan pasca-pandemi COVID-19. Tahun 2022 menandai kebangkitan dunia setelah pandemi, dan pada 2023 sektor pariwisata mengalami lonjakan pertama, yang kemudian diikuti oleh lonjakan kedua pada 2024.

Namun, tantangan terbesar yang akan dihadapi pada tahun 2025 adalah apakah tren positif ini dapat berlanjut atau justru mengalami kemunduran. Beberapa faktor, termasuk pemangkasan anggaran dan pembatasan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di hotel, menjadi potensi ancaman bagi sektor ini.

Pembatasan kegiatan MICE di hotel berdampak signifikan pada industri perhotelan, mengingat 40 persen pangsa pasar hotel yang memiliki fasilitas MICE berasal dari kegiatan tersebut. Banyak mitra hotel yang menghentikan kerja sama sementara akibat minimnya kegiatan MICE, yang dapat memaksa hotel melakukan efisiensi di berbagai lini. Oleh karena itu, IHGMA NTB mendorong agar kebijakan pembatasan MICE ini ditinjau ulang untuk menghindari dampak negatif lebih lanjut terhadap industri perhotelan.

Salah satu program unggulan yang akan terus dilanjutkan adalah “1 GM 1 SMK,” yaitu kerja sama antara General Manager hotel dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mencetak SDM pariwisata yang siap terjun ke dunia kerja. Melalui program ini, IHGMA NTB berupaya mempersiapkan siswa-siswi SMK agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan dapat berkontribusi dalam industri pariwisata NTB.

Selain itu, keterbatasan jumlah penerbangan dari dan ke Lombok menjadi tantangan serius bagi sektor pariwisata di NTB. Beberapa maskapai penerbangan telah membatasi operasionalnya, yang berpotensi menghambat arus wisatawan. IHGMA NTB berharap pihak terkait dapat memberikan solusi konkret untuk mengatasi masalah ini, sehingga sektor pariwisata NTB dapat terus berkembang.

Dengan berbagai tantangan yang ada, IHGMA NTB di bawah kepemimpinan Lalu Kusnawan berkomitmen untuk terus mengembangkan sektor perhotelan dan pariwisata di NTB. Dukungan dari semua pihak sangat diharapkan untuk membawa pariwisata NTB semakin maju dan kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional. (bul)