Beranda blog Halaman 38

Komitmen Wujudkan Program Hilirisasi Garam di Wilayah Timur

0
Komitmen Wujudkan Program Hilirisasi Garam di Wilayah Timur
(EKBIS NTB/ist) GARAM RAKYAT - Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot saat melakukan kunjungan kerja membahas hasil kajian awal terkait program pengembangan garam rakyat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional di Jakarta pada, Rabu (30/9).


Sumbawa Besar (EKBIS NTB) – Pemkab Kabupaten Sumbawa bersama DPRD Kabupaten Sumbawa melakukan audiensi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada, Rabu (30/9). Audiensi itu membahas hasil kajian awal terkait program pengembangan kawasan garam nasional di wilayah Timur Indonesia.


“Audiensi ke BRIN menjadi momentum pemerintah untuk memperkuat posisi Sumbawa dalam merealisasikan program pengembangan potensi pergaraman rakyat,agar lebih terarah dan berkelanjutan,” kata Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot.


Bupati menegaskan program pengembangan kawasan produksi garam tidak hanya diarahkan untuk peningkatan produksi garam sebagai bahan baku. Tetapi pada penguatan proses hilirisasi untuk bisa meningkatkan nilai tambah bagi daerah dan kesejahteraan masyarakat khususnya petani garam.


“Pengembangan kawasan pergaraman merupakan bagian penting dari upaya mendorong hilirisasi potensi daerah sekaligus memperkuat posisi Sumbawa dalam mendukung kebutuhan garam nasional,” ujarnya.


Kabupaten Sumbawa lanjut Jarot, memiliki potensi pergaraman yang dapat dikembangkan dalam mendukung ketersediaan garam nasional,sehingga diperlukan kajian dan perencanaan yang matang agar pengembangan kawasan memiliki arah yang jelas serta mampu menjawab kebutuhan industri dan pasar.


“Kami berkomitmen untuk mewujudkan program pengembangan kawasan pergaraman rakyat di Sumbawa bisa terealisasi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan garam nasional,” ucapnya.


Menurut dia, hasil kajian ini tentu menjadi salah satu dasar penting dalam mematangkan konsep dan usulan pengembangan kawasan, termasuk kaitannya dengan penguatan usulan Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengembangan kawasan pergaraman membutuhkan dukungan dan sinergi lintas sektor.


Oleh karena itu, hilirisasi garam menjadi salah satu fokus utama dalam rencana pengembangan. Pemkab Sumbawa akan terus mendorong komoditas garam tidak berhenti pada tahap produksi bahan baku, tetapi dapat dikembangkan melalui pengolahan dan kegiatan ekonomi lainnya.


“Keberadaan petani garam tetap menjadi perhatian penting. Pengembangan tersebut diharapkan bisa meningkatkan produktivitas, memperluas peluang usaha, sehingga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” timpalnya.


Disamping itu menurut Jarot, pengembangan kawasan produksi garam juga diarahkan agar selaras dengan kebutuhan nasional. Pengelolaan terintegrasi antara produksi, pengolahan, pemasaran, dan penguatan kelembagaan diharapkan dapat berkontribusi lebih besar terhadap pemenuhan kebutuhan garam nasional.


“Kami akan tetap menindaklanjuti hasil pembahasan bersama BRIN. Tindak lanjut tersebut mencakup pematangan hasil kajian, penyusunan langkah pengembangan kawasan,serta penguatan usulan pembangunan kawasan pergaraman dalam agenda pembangunan strategis nasional,” demikian kata dia. (ils)

Persoalan Data Desil di Lobar, Jompo Miskin di Desa Merembu Dicoret dari Penerima Bantuan

0
Persoalan Data Desil di Lobar, Jompo Miskin di Desa Merembu Dicoret dari Penerima Bantuan
WARGA - Warga jompo di Desa Merembu, Lombok Barat tidak mendapatkan bantuan karena persoalan desil. Mereka diberikan Bapang melalui kebijakan pengganti dan tambahan oleh pemerintah desa setempat. (EKBIS NTB/her)

Persoalan pengelompokan tingkat kesejahteraan melalui desil menjadi momok bagi masyarakat di Lombok Barat (Lobar), lantaran data ini diduga tidak tepat sasaran. Data desil ini merugikan sebagian warga tak mampu, karena tak bisa mengakses bantuan. Seperti dialami sejumlah warga jompo tak mampu di Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Lobar yang tak memperoleh Bantuan Pangan (Bapang).

PADAHAL dalam kondisi faktual, mereka menyambung hidup dengan menjadi buruh tani. Bahkan ada yang tidak memiliki pekerjaan dan hidup sebatang kara dari belas kasihan orang.


Munasip, warga Dusun Tangkeban, Desa Merembu duduk menunggu menerima bantuan Bapang, pada Kamis (1/10). Kulitnya tampak keriput termakan suai, bahkan saat ditanya ia tak lagi mampu mengingat berapa usianya. Pendengarannya juga terganggu. Ia diketahui sebagai pengganti Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tidak ditemukan.


Ia mengaku tinggal sendiri di rumahnya. Ada sanak keluarganya, tetapi kondisi mereka juga tak jauh berbeda dengannya. “Saya tinggal sendirian karena istri meninggal ada mungkin 30 tahunan,” tuturnya.


Beban hidupnya kian berat, karena ia tidak punya pekerjaan. Ditambah lagi usia yang menggerogoti, sehingga ia tak kuat lagi berkerja. Ia pun tidak ada sumber penghidupan tetap, sehingga harus bergantung dari pemberian sanak keluarga dan orang lain. “Ndak ada penghasilan, ada keluarga (yang berikan),” ujarnya.


Ia mengaku pernah menerima bantuan yang nominalnya Rp900 ribu. Tetapi sekarang ia tak lagi menerima bantuan, karena menurut data desil, ia masuk desil 8.


Untungnya, pihak desa memberikan bantuan melalui data tambahan Bapang, itu pun dengan mengganti KPM yang tidak bisa ditemukan. Ia pun mengaku sedih karena tak menerima bantuan, padahal ia sangat membutuhkan. “Seharusnya saya layak dapat bantuan,” ujarnya.


Hal serupa dialami Masnah, warga Dusun Karang Sembung, Desa Merembu. Ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan terkadang Rp70 ribu, tetapi itu kalau ada yang memintanya bekerja. “Kalau tidak ada yang suruh kerja, ya tidak ada penghasilan,” kata dia.


Bebannya kian berat ketika suaminya meninggal beberapa tahun silam. Ia harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga untuk menghidupi anak-anaknya. Kadang kala ia diberikan uang oleh anaknya. “Saya biayai hidup sendiri dari buruh tani itu,” imbuhnya.


Di rumahnya ia tinggal sendiri, karena anaknya telah menikah. Ia mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah, karena persoalan desil. Bahkan ia tidak tercatat sebagai peserta BPJS. Ia memiliki kartu PKH tetapi tidak ada isinya. Padahal ia sendiri sangat layak dan membutuhkan bantuan. “Saya butuh bantuan,” imbuhnya.


Sementara itu, Kepla Desa Merembu, H. Muhazzab mengatakan, persoalan desil menjadi momok di desanya karena tidak sesuai dengan faktual lapangan. Padahal pihak desa jelas dia, telah melakukan pendataan secara manual warga masyarakat baik ekonomi menengah ke bawah dan menengah ke atas.


“Tetapi selama ini pemerintah seolah-olah mengabaikan. Yang menjadi pertanyaan kami siapa yang mengatur dssal ini,” tegasnya.
Kondisi faktual di lapangan, banyak di antara warga miskin malah berada di atas desil 6 sampai 8. Justru yang menjadi momok dan pertanyaan, kata dia, warga mendapatkan desil 1-4 kebanyakan warga mampu, punya sawah, kendaraan artinya memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas.


Ia dengan tegas mempertanyaan adanya pernyataan dari pemerintah, yang menyebutkan bahwa data itu dari desa, karena sampai saat ini ada warga meninggal masih muncul datanya sebagai penerima bantuan. “Ini jadi pertanyaan besar kami,” tegasnya.


Sementara kata dia, yang dirugikan dari desil ini adalah desa maupun warga yang layak mendapatkan bantuan, akibat berada di desil tinggi tidak bisa diberikan. Ia mendesak agar pemerintah mengevaluasi data desil ini agar sesuai fakta lapangan. (her)

Tolak Kembalikan ke Pemerintah, Pemdes Merembu Bagikan Bapang ke Warga Miskin Tak Masuk Desil 1-4

0
Tolak Kembalikan ke Pemerintah, Pemdes Merembu Bagikan Bapang ke Warga Miskin Tak Masuk Desil 1-4
Kepala Desa Merembu, H. Muhazzab (kanan) membagikan Bantuan Pangan (Bapang) kepada warganya yang layak tapi tidak masuk Desil 1-4. (EKBIS NTB/her)

Giri Menang (EKBIS NTB) – Pemerintah Desa (Pemdes) Merembu, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat (Lobar) dalam hal ini Kepala Desa Merembu, H. Muhazzab menolak mengembalikan bantuan pangan (Bapang) berupa beras ke pemerintah melalui Bulog. Pasalnya, banyak warga yang berhak menerima bantuan itu tetapi tidak memenuhi syarat karena tidak masuk data desil 1-4.

Karena itu, pihak desa mengambil langkah, lebih mementingkan warga miskin dengan membagikan Bapang tambahan atau pengganti KPM yang tidak ditemukan itu kepada warga tak mampu tersebut.

Kepala Desa Merembu, H. Muhazzab menyampaikan, jumlah KPM pengganti dan tambahan di desanya sekitar 136 orang.

Pihaknya telah berkomunikasi dengan Bulog, di mana ia menyampaikan bahwa pihaknya tetap membagikan beras itu kepada warganya yang berhak sebagai pengganti. “Saya akan bertanggung jawab apapun risikonya, ketika ada pergantian-pergantian yang Kita berikan sebagai kebijakan kepada masyarakat yang tidak mampu,” tegasnya, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, secara faktual, warga yang menerima bantuan ini tak tepat sasaran, mereka ada yang memiliki tanah, mobil dan rumah lantai dua. “Karena ini ada warga yang punya sawah 1-2 hektare, kenapa kok bisa jadi Desil 2 dan 3?” tanyanya.

Sebaliknya, ada jompo sebatang kara miskin, punya anak yatim empat orang tetapi masuk Desil 8.

“Silakan cek ke bawah, kalau saya berikan mereka dianggap pelanggaran saya bertanggung jawab,” tegasnya.

Atas dasar itulah ia berani membagikan bantuan ini kepada mereka. Walaupun tidak masuk desil tapi logika dan atas rasa kemanusiaan mereka lebih berhak diberikan daripada yang mampu.

Dalam persoalan desil ini, pihak desa yang justru terpojok, karena warga menganggap pihak warga desa yang melakukan pendataan desil ini. Hal ini juga dipicu pernyataan dari pemerintah pusat bahwa data ini berasal dari desa. Untuk itu pihaknya meminta kepada pemerintah mengevaluasi data desil ini. “Karena kalau ini dilakukan terus menerus (jadi patokan) tidak akan pernah berakhir masalahnya,” tegasnya. (her)

TFG Jelang MotoGP Mandalika, Astamaops Polri Soroti ‘’Call Sign’’ hingga Jalur Evakuasi

0
TFG Jelang MotoGP Mandalika, Astamaops Polri Soroti ‘’Call Sign’’ hingga Jalur Evakuasi
RAPAT - Asisten Utama (Astama) Bidang Operasi Kapolri Komjen Pol. Roycke Harry Langie memimpin rapat terkait pola pengamanan Pertamina Grand Prix of Indonesia, melalui TFG Operasi Mandalika Rinjani 2026 di Ball Room Raja Hotel, Kuta-Mandalika, Kamis (1/10/2026). (EKBIS NTB/ist)

Praya (EKBIS NTB) – Asisten Utama (Astama) Bidang Operasi Kapolri Komjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H., bersama Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, mematangkan pola pengamanan Pertamina Grand Prix of Indonesia, melalui Tactical Floor Game (TFG) Operasi Mandalika Rinjani 2026 di Ball Room Raja Hotel, Kuta-Mandalika, Lombok Tengah, Kamis (1/10/2026).


Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja mengatakan, TFG menjadi tahapan penting untuk memastikan setiap personel memahami tugas, pola bertindak serta titik pengamanan saat MotoGP Mandalika berlangsung.


“Bagi Polda NTB, penyelenggaraan MotoGP Mandalika bukan sekadar agenda olahraga internasional. Event ini membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Karena itu, keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh tamu maupun peserta menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraannya,” ungkapnya.


Polda NTB sebelumnya menjalankan Operasi Kresna Mandalika Rinjani pada 14-27 September 2026 dengan sekitar 200 personel. Operasi Cipta Mandalika Rinjani berlangsung 28 September-4 Oktober dengan kekuatan 500 personel, untuk menjaga situasi kamtibmas di Kota Mataram, Lombok Tengah dan Lombok Barat.


“Sepuluh Polres lainnya juga melakukan operasi imbangan untuk menciptakan kondisi kondusif menjelang, selama dan setelah pelaksanaan MotoGP,” ujarnya.


Irjen Kalingga mengatakan, tahapan pengamanan selanjutnya ditingkatkan melalui Operasi Mandalika Rinjani Kontijensi. Skema tersebut disiapkan untuk menghadapi gangguan yang membutuhkan penanganan cepat.


“Kita progresikan manajemen krisis. Ketika ada gangguan yang timbul, kami sudah siap dalam pelaksanaan kontijensi. Mari kita amankan Mandalika, kita jaga kepercayaan dunia dan kita buktikan Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang aman, profesional dan berkelas dunia,” tegas Irjen Pol. Kalingga.


Sementara Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H. menilai TFG menjadi ruang simulasi visual, untuk mengurai seluruh sasaran pengamanan. Empat sasaran utama mencakup orang, barang atau fasilitas, lokasi serta rangkaian kegiatan.


“TFG ini simulasi secara visual. Kita merangkai sasaran pengamanan supaya jelas siapa berbuat apa, cara bertindaknya bagaimana dan tidak ada lagi yang raba-raba saat pelaksanaan,” katanya.


Komjen Pol. Roycke meminta pola operasi terus disempurnakan melalui analisis potensi kerawanan. Ia juga menekankan penggunaan call sign, kesiapan pospam sesuai tingkat kerawanan, serta keseragaman perlengkapan personel yang bertugas di area sentral sirkuit.
“Semakin lengkap analisis yang disusun, semakin besar peluang kita mencegah dan mengurangi berbagai permasalahan selama pengamanan,” ucapnya.

Pengaturan jalur keluar-masuk, drop off, parkir hingga jalur escape juga diminta dipastikan sejak awal. Peta lokasi lengkap perlu disiapkan agar pergerakan tamu, personel maupun kendaraan dapat berlangsung terarah.


“Jalur masuk, jalur keluar, jalur parkir, pembagian area dan jalur escape harus jelas. Termasuk helipad, karena nanti banyak pejabat negara yang akan hadir,” tuturnya.
Antisipasi kebakaran lahan turut menjadi perhatian. Komjen Roycke meminta jajaran mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran, yang dapat mengganggu pandangan pembalap maupun aktivitas di sekitar sirkuit.


“Hotspot harus dipantau. Lahan di sekitar lokasi perlu dibasahi untuk mengurangi potensi karhutla. Humas dan Bhabinkamtibmas juga perlu menyampaikan imbauan kepada masyarakat,” pesannya.


Komjen Roycke juga meminta penguatan komunikasi publik melalui media lokal. Imbauan terkait barang bawaan, alur kedatangan, keselamatan anak serta informasi jalur keluar-masuk perlu disampaikan sebelum event berlangsung.


“Masih ada waktu untuk bermain di sisi komunikasi. Humas perlu menyampaikan imbauan melalui televisi daerah, radio dan kanal informasi lainnya, agar masyarakat memahami aturan sebelum datang ke lokasi,” tandasnya.


Menurut perwira tinggi (Pati) Polri bintang tiga itu, seluruh unsur pengamanan perlu mendapat briefing secara menyeluruh. Setiap kepala pengamanan (kapam) objek harus memahami personel, tugas serta cara bertindak, sehingga seluruh titik pengamanan dapat terintegrasi.
“Jangan sampai personel justru fokus menonton event. Sedikit melirik boleh, tetapi tugas pengamanan harus tetap menjadi fokus utama,” tegas Komjen Pol Roycke. (kir)

Data Berkualitas Jadi Fondasi Perencanaan Pembangunan NTB

0
Data Berkualitas Jadi Fondasi Perencanaan Pembangunan NTB
POSE BERSAMA - Kepala Diskominfotik NTB H. Ahsanul Halik pose bersama dengan peserta Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Produsen Data dengan tema “Data Berkualitas untuk Perencanaan Pembangunan yang Lebih Tepat dan Berdampak”, di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Kamis (1/10/2026). (EKBIS NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola data melalui Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Produsen Data dengan tema “Data Berkualitas untuk Perencanaan Pembangunan yang Lebih Tepat dan Berdampak”, di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Kamis (1/10/2026).


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penyelenggaraan NTB Satu Data sekaligus mendorong budaya kerja pemerintahan yang berbasis data dan bukti.


Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi NTB, Ahsanul Halik atau Aka menegaskan, bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari kerja bersama seluruh perangkat daerah dalam meningkatkan kualitas data untuk mendukung pembangunan daerah.


“Kegiatan ini bukanlah sekadar pekerjaan yang bersifat seremonial ataupun sekadar wacana. Ini adalah kerja bersama seluruh perangkat daerah, di bawah arahan dan bimbingan Bapak Gubernur,” ujarnya.


Menurutnya, data tidak semata-mata berbicara mengenai angka. Data merupakan instrumen bagi pemerintah untuk melihat kondisi daerah, memahami persoalan masyarakat, menentukan prioritas pembangunan, menjalankan program, serta mengukur keberhasilannya.


Ia menekankan, bahwa keputusan yang diambil pimpinan daerah maupun kepala perangkat daerah harus didukung data yang dihasilkan oleh para pengelola data di masing-masing perangkat daerah.


“Data yang baik akan menghasilkan informasi yang baik. Informasi yang baik akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat. Dan dari keputusan yang tepat, kita berharap dapat menghadirkan pembangunan yang benar-benar memberikan manfaat dan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.


Aka menegaskan, pembangunan sistem dan portal data tidak akan cukup tanpa kualitas SDM yang mampu menghasilkan dan mengelola data secara benar.


Menurutnya, portal hanyalah wajah dari sebuah sistem. Di balik teknologi tersebut terdapat proses, standar, tata kelola, dan manusia yang bertanggung jawab terhadap kualitas data.


“Portal boleh dibangun dengan teknologi terbaik, tetapi kualitas data tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menghasilkan data tersebut,” tegasnya.


Untuk itu, para produsen dan pengelola data dituntut memiliki kompetensi, pemahaman terhadap tugas dan fungsi, integritas, serta komitmen. Setiap data yang dihasilkan memiliki konsekuensi karena dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan menentukan arah pembangunan.


Data yang berkualitas juga harus memenuhi unsur kebenaran, akurasi, kelengkapan, konsistensi, memiliki definisi yang jelas, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut, persoalan pembangunan tidak hanya menyangkut ekonomi, tetapi juga pendidikan, kesehatan, infrastruktur, sosial, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan harus didasarkan pada data yang mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara utuh.


Ia mencontohkan, penggunaan data disabilitas dalam menentukan lokasi fasilitas pendidikan khusus. Penentuan lokasi sekolah luar biasa (SLB), misalnya, perlu memperhatikan persebaran masyarakat penyandang disabilitas agar pembangunan fasilitas benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.


“Kita harus membangun berdasarkan data dan melihat karakteristik masyarakatnya. Jangan sampai fasilitas dibangun di suatu lokasi, tetapi masyarakat yang membutuhkan justru berada di lokasi lain.” kata Aka.


Aka juga menegaskan, bahwa Dinas Kominfotik NTB selaku wali data tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kualitas data. Kolaborasi antara produsen data, wali data, pembina data, serta seluruh perangkat daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem NTB Satu Data.


Ia menyampaikan apresiasi kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB atas pembinaan, pendampingan, dan kontribusinya dalam penguatan statistik sektoral di NTB. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh perangkat daerah, khususnya pengelola data, serta mitra pembangunan SKALA yang turut mendukung penguatan tata kelola NTB Satu Data.


“Apa yang kita miliki hari ini bukanlah hasil kerja satu institusi. Ini adalah hasil dari kerja bersama,” ujarnya.
Ia menyampaikan, bahwa NTB terus memperkuat koordinasi dan integrasi data sektoral. Salah satu capaian yang disebutkan adalah sekitar 830 data yang telah terkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai bagian dari penyelenggaraan Satu Data Indonesia.


Ia juga menyampaikan bahwa Indeks Satu Data Indonesia NTB saat ini berada di kisaran 81 poin, meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran 75 poin.


Capaian tersebut diharapkan terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui penguatan kapasitas SDM, tata kelola, koordinasi, dan integrasi data.


Sementara itu, Kepala Bidang Statistik Dinas Kominfotik Provinsi NTB, Anugerah Fajar Fahrurazie, dalam laporannya menyampaikan bahwa data yang akurat, berkualitas, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan merupakan fondasi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.


Menurutnya, keberhasilan NTB Satu Data tidak hanya bergantung pada ketersediaan data dan sistem, tetapi juga pada kapasitas SDM yang menghasilkan, mengelola dan menyediakan data.


Karena itu, kegiatan Bimtek dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dan teknik visualisasi data, meningkatkan literasi data dan statistik, mendorong budaya kerja berbasis data dan bukti, serta memperkuat sinergi antara pengelola data dan produsen data pada masing-masing perangkat daerah.

“Data yang tersedia perlu diolah dan disajikan menjadi informasi yang mudah dipahami serta mampu mendukung pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Oleh karena itu, kemampuan statistik, literasi data, dan visualisasi data menjadi semakin penting,” jelasnya.


Melalui grafik, diagram, peta, dan infografis, data diharapkan dapat disampaikan secara lebih sederhana, komunikatif, dan informatif.
Kegiatan tersebut menghadirkan BPS Provinsi NTB bersama tim teknis bidang statistik sebagai narasumber dan fasilitator. Materi yang diberikan meliputi teknik dasar statistika dalam visualisasi data, konsep dasar statistika dalam penyusunan infografis, serta lokakarya penyusunan infografis berbasis data sektoral. (r/ham)

MotoGP Mandalika Harus Jadi Penggerak Ekonomi

0
MotoGP Mandalika Harus Jadi Penggerak Ekonomi
Hj. Indah Dhamayanti Putri (EKBIS NTB/ist)

MOTOGP Mandalika tidak boleh berhenti sebagai event olahraga internasional yang ramai ketika balapan berlangsung. Bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), panggung global tersebut harus menjadi penggerak ekonomi yang manfaatnya terus berjalan sepanjang tahun, memperluas pasar UMKM, memberi ruang bagi seniman dan budaya lokal, memperkuat pariwisata, serta menghidupkan kalender event di berbagai daerah.


Pandangan itu disampaikan Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, M,Si, saat menghadiri peluncuran buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata di Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (30/9/2026).


Bagi NTB, kajian tersebut memberikan pijakan penting untuk melihat MotoGP bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengungkit pembangunan kawasan dan ekonomi daerah. Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun, mencakup dampak langsung, tidak langsung dan lanjutan.


Angka tersebut, menurut Wagub, menunjukkan besarnya peluang yang dapat dikembangkan dari sebuah event olahraga internasional. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat tersebut tidak berhenti ketika event selesai.


“Keberhasilan MotoGP tidak hanya kita lihat dari jumlah penonton, tetapi bagaimana citra Mandalika semakin kuat, wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik, dan kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah secara berkelanjutan,” ujar Wagub yang akrab disapa Umi Dinda.


Salah satu ruang yang terus diperkuat adalah keterlibatan UMKM. Menurut Umi Dinda, dari tahun ke tahun semakin banyak pelaku UMKM yang mengambil bagian dalam rangkaian MotoGP dan memperoleh peluang meningkatkan pendapatan.


Ruang yang sama diberikan kepada seniman dan pelaku budaya lokal. Penampilan tari daerah, karya seni hingga tradisi seperti Betabeq terus didorong hadir dalam rangkaian kegiatan sebagai cara memperkenalkan identitas NTB di tengah panggung internasional.
“Semuanya bagian dari kearifan lokal dan mengangkat adat budaya yang ada di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.


Karena itu, Pemprov NTB terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar penyelenggaraan event internasional tersebut tetap memberi ruang bagi local tourism, UMKM dan kekuatan budaya daerah.


Strategi tersebut kemudian diperluas melalui kalender event daerah yang disusun sejak awal hingga akhir tahun. Mandalika menjadi salah satu magnet utama, tetapi wisatawan diharapkan tidak berhenti di kawasan sirkuit. Mereka perlu memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, bergerak ke berbagai destinasi, menikmati budaya dan mengikuti berbagai kegiatan di Lombok maupun Pulau Sumbawa.


Pandangan tersebut sejalan dengan arah yang mulai dibangun ITDC, yakni menggeser pendekatan dari event-based economy menuju event-led development. Bagi NTB, perubahan itu berarti menjadikan event besar sebagai pengungkit agar aktivitas ekonomi dan pariwisata terus bergerak setelah event berakhir.


Dalam kerangka tersebut, ITDC memiliki posisi sebagai mitra strategis Pemprov NTB dan pemerintah kabupaten/kota untuk mengembangkan Mandalika sebagai destinasi yang hidup sepanjang tahun. Pengelolaan kawasan, infrastruktur, fasilitas dan jejaring industri perlu terhubung dengan kalender pariwisata daerah, UMKM, seni, budaya dan berbagai atraksi lokal.


Dengan cara pandang itu, MotoGP tetap menjadi magnet global, tetapi manfaatnya dapat diperluas ke ekosistem yang lebih besar.
Temuan Bappenas memperkuat peluang tersebut. Survei terhadap lebih dari 1.800 responden mencatat skor pengalaman penonton sebesar 5,07 dari skala 6. Kajian juga memperkirakan eksposur Mandalika berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan sekitar 11 persen apabila didukung promosi destinasi yang terintegrasi.


Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan pembelajaran dari MotoGP Mandalika menunjukkan pentingnya pengembangan ekosistem industri olahraga yang terpadu. Pemerintah pun mulai menyusun Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional sebagai acuan pengembangan industri olahraga secara berkelanjutan.


Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai MotoGP Mandalika telah menunjukkan bagaimana event olahraga internasional dapat memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.


Bagi NTB, arah tersebut mempertegas satu hal: MotoGP adalah magnet, tetapi bukan tujuan akhir. Event internasional membuka pintu dunia, sementara UMKM, budaya, destinasi dan masyarakat lokal harus menjadi bagian dari ekosistem yang tumbuh di baliknya.


Ukuran keberhasilan MotoGP bagi NTB pada akhirnya bukan hanya apa yang terjadi selama balapan, tetapi apa yang tetap tumbuh setelahnya: UMKM yang semakin kuat, budaya lokal yang semakin dikenal, wisatawan yang terus datang, dan Mandalika yang terus hidup sebagai destinasi, bukan hanya ketika MotoGP berlangsung, tetapi sepanjang tahun. (r/ham)


Harga Hotel saat MotoGP Tidak Dijual Asal-asalan

0
Harga Hotel saat MotoGP Tidak Dijual Asal-asalan
Ahmad Nur Aulia (EKBIS NTB/era)

PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan harga hotel di tahun ke lima MotoGP tidak dijual asal-asalan. Di tahun ini, harga hotel dipastikan tidak mengalami peningkatan signifikan seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.


“Berkaitan dengan harga (hotel, red), kami juga memantau, harganya sangat bagus. Tidak terjadi kenaikan yang luar biasa,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, Kamis, 1 Oktober 2026.


Terkait dengan tingkat hunian hotel, hingga H-9 MotoGP Mandalika, Aulia mengklaim okupansi khusus hotel berbintang di ring dua atau Kota Mataram mencapai 80-90 persen. Sementara, okupansi hotel non bintang masih berada di angka 40 persen.
“Biasanya kalau yang berbintang sudah penuh, yang melati juga ngikut,” katanya.


Begitupun dengan okupansi di kawasan Senggigi, dipastikan sudah menyentuh 80 persen. Berbeda dengan Senggigi dan Mataram, tingkat okupansi hotel di Kawasan Mandalika selaku lokasi perhelatan MotoGP telah mencapai 100 persen.


Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengharapkan perputaran ekonomi pada ajang MotoGP Mandalika 2026 bisa mencapai Rp5 triliun. Nominal ini dinilai realistis mengingat pada tahun-tahun sebelumnya, perputaran ekonomi mencapai Rp4,9 triliun pada MotoGP Mandalika 2025, dan Rp4,2 triliun pada MotoGP 2024.


Sebelumnya, Direktur Operasional ITDC, Troy Reza Warokka, mengatakan selain melihat angka di tahun sebelumnya, tingginya animo masyarakat dalam pembelian tiket membuatnya cukup optimis di tahun ini MotoGP mampu menggerakkan ekonomi. Di tambah lagi, beberapa maskapai telah meminta tambahan penerbangan atau ekstra flight dari dan menuju Lombok. Di samping itu, MotoGP Mandalika tahun ini juga mendapat dukungan promosi dari Danantara.


“Garuda, Pelita, Transnusa, Citilink komit. Itu juga menggerakkan pertumbuhan ekonomi secara baik,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.
Ia melanjutkan, 25 hari menjelang MotoGP Mandalika 2026, penjualan tiket di kuota kedua telah mencapai 53 persen. Untuk KTP NTB, penjualan lebih dari 90 persen. Bahkan, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, katanya akan melakukan pertemuan dengan NTT dan Kalimantan Timur untuk mempromosikan perhelatan Grand Prix Sepeda Motor Internasional tersebut.


“Itu pun akan kita lakukan hal yang sama. Bilamana menggunakan tiket provinsi terkait terkait, NTT, Kalimantan Timur juga akan kita berikan diskon,” lanjutnya.


Menurutnya, Gubernur Iqbal sangat gencar memanfaatkan koneksi Bali, Nusa Tenggara dalam mempromosikan MotoGP. Menariknya lagi, promosi tidak hanya dilakukan antara Bali, NTB, dan NTT, tetapi sampai Kalimantan Timur.

Menyinggung soal akomodasi, hingga saat ini belum ditemukan masalah terkait dengan akomodasi di ring satu atau sekitar Mandalika. Ia mengungkapkan, selama tiga hari ajang MotoGP Mandalika, okupansi hotel di kawasan tersebut telah mencapai 100 persen.


Karena telah penuh, ITDC, sambungnya menyiapkan akomodasi alternatif seperti camping ground, camper van, serta Sade Social Club. Di Sade Social Club, tersedia 38 kamar baru yang bisa difungsikan mulai bulan ini.


“Dan memang harus diakui saat ini Mandalika okupansi telah 100 persen. Tapi ketersediaan kamar baru itu ditambah oleh pengelola hotel lama, contohnya Montana menyediakan kamar-kamar baru,” katanya. (era)

Jelang MotoGP Mandalika, Hunian Wisata di Lotim Mulai Terisi 40 Persen

0
Jelang MotoGP MandalikaHunian Wisata di Lotim Mulai Terisi 40 Persen
(EKBIS NTB/rus) BERWISATA - Aktivitas wisatawan saat berwisata di Kabupaten Lombok Timur. Lombok Timur menawarkan berbagai fasilitas, salah satunya camping ground di objek wisata Tetebatu, Lombok Timur.

Selong (EKBIS NTB) – Perhelatan MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, pada pekan kedua Oktober 2026 mulai berdampak terhadap tingkat hunian akomodasi wisata di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).


Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Mirayang menyebutkan, jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang mulai datang ke Lombok Timur cukup besar menjelang perhelatan balap motor internasional tersebut.


Menurutnya, sepekan menjelang MotoGP, sekitar 40 persen dari 309 hotel dan homestay yang ada di Lombok Timur telah terisi. “Jumlahnya sekitar 1.300 kamar yang tersebar di Tetebatu, Sembalun dan hotel-hotel yang ada di wilayah Lombok Timur bagian selatan,” ujar Mirayang, menjawab Suara NTB via telepon, Kamis (1/10/2026).


Selain hotel dan homestay, Pemkab Lombok Timur juga menyiapkan alternatif akomodasi berupa 18 titik camping ground. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan tempat menginap apabila kapasitas hotel dan homestay telah penuh. Beberapa lokasi camping ground tersebut berada di kawasan wisata Tetebatu, Sembalun dan Jeruk Manis.


“Kalau hotel sudah penuh, camping ground bisa digunakan. Seperti di Tetebatu, Sembalun dan Jeruk Manis. Jadi Lombok Timur tidak hanya menjual hotel, tetapi juga camping ground,” katanya.

Jadi Daerah Penyangga

Mirayang berharap momentum MotoGP di Sirkuit Mandalika dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata Lombok Timur. Sebagai daerah yang berada di sekitar kawasan Mandalika, Lombok Timur dinilai memiliki potensi menjadi salah satu daerah penyangga bagi kebutuhan akomodasi wisatawan.


Menurutnya, wisatawan yang datang tidak seluruhnya memilih menginap di kawasan yang berdekatan dengan Sirkuit Mandalika. Sebagian wisatawan justru memilih menginap di wilayah yang lebih jauh agar dapat sekaligus menikmati destinasi wisata yang ada di Lombok Timur.
“Setelah Lombok Tengah dan Mataram, Lombok Timur menjadi pilihan. Ini bukan hanya limpahan wisatawan. Ada juga yang memang sengaja memilih menginap di lokasi yang lebih jauh dari areal MotoGP agar bisa sambil liburan panjang,” jelasnya.


Sejumlah destinasi wisata seperti Tetebatu, Sembalun, dan Jeruk Manis menjadi pilihan karena menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari kawasan sekitar sirkuit.


Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Timur, terutama dari sektor pajak hotel dan restoran.


Pemkab Lombok Timur menargetkan penerimaan PAD dari pajak hotel dan restoran mencapai sekitar Rp19 miliar pada tahun ini. Hingga September 2026, realisasi penerimaan disebut telah mencapai sekitar Rp10 miliar.


Dengan adanya peningkatan kunjungan wisatawan menjelang dan selama perhelatan MotoGP, pemerintah daerah optimistis target tersebut dapat tercapai. “Kita yakin target PAD tersebut bisa tercapai,” kata Mirayang.


Ia berharap meningkatnya kunjungan wisatawan tidak hanya memberikan dampak selama berlangsungnya MotoGP, tetapi juga mendorong wisatawan untuk memperpanjang masa tinggal dan mengunjungi berbagai destinasi wisata di Lombok Timur.


Dengan demikian, momentum MotoGP tidak hanya menjadi agenda olahraga internasional, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan kontribusi ekonomi bagi daerah penyangga, termasuk Lombok Timur. (rus)

Pengangkutan Sampah Pasar Gunung Sari Terkendala Pembatasan Ritase TPA Kebon Kongok

0
Pengangkutan Sampah Pasar Gunung Sari Terkendala Pembatasan Ritase TPA Kebon Kongok
(EKBIS NTB/hert) SAMPAH - Tumpukan sampah di Pasar Gunungsari, Lombok Barat dikeluhkan para pedagang. DLH Lombok Barat mengalami kendala pengangkutan sampah karena pembatasan ritase pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongok.

Giri Menang (EKBIS NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berupaya maksimal menangani penumpukan sampah di kawasan Pasar Gunungsari, Lobar. Pengangkutan dilakukan secara rutin dengan armada yang tersedia, disertai kegiatan gotong royong untuk mempercepat pembersihan di lokasi. Namun, Pemkab Lobar mengalami kendala pengangkutan sampah, karena pembatasan ritase ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kebon Kongok.


Kepala DLH Lombok Barat, Muhammad Busyairi mengatakan, penumpukan sampah di Pasar Gunungsari menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian serius. Namun, upaya pengangkutan saat ini menghadapi kendala berupa pembatasan ritase pembuangan sampah ke TPA.


“Memang tumpukan sampah di Pasar Gunungsari cukup banyak. Kami tetap melakukan pengangkutan secara rutin dengan armada yang ada,” ujar Busyairi, Kamis (1/10/2026).


Menurutnya, sebelumnya setiap armada dapat melakukan hingga dua kali ritase ke TPA dalam sehari. Saat ini, setiap armada dibatasi hanya satu kali ritase per hari. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan pengangkutan, terutama ketika volume sampah meningkat.


“Sebelumnya masing-masing armada bisa melakukan dua kali ritase ke TPA. Saat ini dibatasi satu kali ritase per armada setiap hari. Tentunya ini berdampak terhadap penumpukan sampah,” jelasnya.


Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DLH Lobar melakukan pengangkutan tambahan melalui kegiatan gotong royong dengan mengerahkan armada yang tersedia.


Salah satunya dilakukan pada Minggu (20/9), dengan membuka layanan TPA dan memfokuskan pengangkutan di sejumlah titik, termasuk kawasan Pasar Gunungsari. Busyairi menjelaskan, kegiatan pengangkutan bersama pada hari Minggu menjadi pilihan agar penanganan sampah dapat dilakukan secara maksimal tanpa mengganggu pelayanan rutin di lokasi lainnya.


“Kalau kita fokus mengangkut sampah di satu tempat pada hari kerja, Senin sampai Sabtu, konsekuensinya sampah di tempat lain tidak terangkut. Karena itu, hari Minggu menjadi waktu yang paling memungkinkan untuk melakukan gotong royong pengangkutan dengan seluruh armada yang tersedia,” katanya.


Ia menambahkan, Pasar Gunungsari merupakan salah satu lokasi yang cukup sering mendapat penanganan melalui kegiatan gotong royong pengangkutan sampah. Langkah tersebut akan terus dilakukan sesuai kemampuan armada dan kondisi di lapangan. DLH Lobar juga mengajak masyarakat dan pengelola pasar untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dengan mengurangi penumpukan sampah dan meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan sampah.


“Kalau diperbolehkan dua atau tiga kali ritase, tentu kami akan berupaya mengangkut lebih banyak sampah. Namun, saat ini memang ada pembatasan ritase di TPA,” pungkasnya. (her)

Kedisperindag NTB: Harga Bahan Pokok Tetap Stabil

0
Kedisperindag NTB: Harga Bahan Pokok Tetap Stabil
(EKBIS NTB/bul) PEMANTAUAN HARGA - Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Disperindag NTB, Lalu. Afghan dan tim melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar percontohan.

Mataram (EKBIS NTB) – Harga sejumlah barang kebutuhan pokok (bapok) di NTB dinilai masih stabil, kendati terdapat beberapa jenis komoditas yang mengalami kenaikan harga akibat penurunan produksi.


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata, menyampaikan hasil pantauan di pasar-pasar percontohan, secara umum harga bapok masih relatif stabil. Namun, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan maupun penurunan dibandingkan sehari sebelumnya.


Pada komoditas beras, harga beras premium Cap Tanjung turun dari Rp15.625 menjadi Rp15.450 per kilogram. Penurunan Rp175 terjadi seiring meningkatnya stok.


Sebaliknya, beras premium Cap Mataram naik dari Rp14.600 menjadi Rp15.300 per kilogram atau bertambah Rp700. Kenaikan tersebut dipengaruhi pasokan yang menurun. Sementara harga beras medium, beras premium lainnya, dan beras SPHP relatif stabil.


Pergerakan harga juga terjadi pada komoditas cabai. Wiranata mengemukakan, cabai merah keriting naik dari Rp44.433 menjadi Rp44.867 per kilogram. Cabai merah besar naik dari Rp32.067 menjadi Rp32.933 per kilogram.


“Keduanya dipengaruhi penurunan pasokan,” ujarnya, Kamis, 1 Oktober 2026.
Sementara cabai rawit merah justru turun dari Rp60.083 menjadi Rp59.917 per kilogram karena stok meningkat. Harga bawang merah juga turun Rp200 menjadi Rp25.067 per kilogram.


Di sektor peternakan dan perikanan, harga telur ayam ras naik tipis dari Rp28.800 menjadi Rp28.889 per kilogram. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan.


Kenaikan lebih terasa pada ikan kembung yang mencapai Rp45.000 per kilogram dari sebelumnya Rp42.500. Harga ikan tongkol juga naik dari Rp33.833 menjadi Rp34.183 per kilogram. Kedua komoditas tersebut terdampak menurunnya hasil tangkapan nelayan.


Wiranata mengatakan, dinamika harga tersebut menunjukkan perubahan pasokan dan permintaan masih menjadi faktor utama pergerakan harga bapok di NTB.


Meski demikian, sejumlah komoditas utama lainnya masih stabil, di antaranya gula pasir, minyak goreng, daging sapi, tepung terigu dan kedelai. (bul)