Beranda blog Halaman 37

Distan Mataram Pastikan Lahan Pertanian Masih Aman dari Kekeringan

0
Distan Mataram Pastikan Lahan Pertanian Masih Aman dari Kekeringan
PADI - Kondisi tanaman padi di persawahan di wilayah Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela pada Jumat (2/10/2026). (EKBIS NTB /pan)

Mataram (EKBIS NTB) – Dinas Pertanian Kota Mataram memastikan kondisi lahan pertanian di wilayahnya masih aman dari dampak kekeringan meski memasuki musim kemarau. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai lahan pertanian yang mengalami kekurangan air maupun gagal tanam akibat kondisi tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Johari, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi pertanian melalui petugas di lapangan. Berdasarkan laporan yang diterima hingga saat ini, belum ditemukan adanya dampak kekeringan yang mengganggu aktivitas pertanian di Kota Mataram.

“Masih aman. Kalau ada, kita laporkan nanti. Tapi ini belum ada,” ujarnya, Jumat (2/10).

Menurut Johari, kondisi ketersediaan air untuk pertanian di Kota Mataram saat ini masih mencukupi. Hal tersebut memungkinkan petani tetap melakukan aktivitas budidaya tanpa menghadapi kendala serius akibat kekurangan air.

Wilayah pertanian di Kota Mataram tersebar di sejumlah kecamatan. Beberapa kawasan yang menjadi sentra pertanian berada di Kecamatan Sekarbela, Selaparang, Sandubaya, serta sebagian wilayah Kecamatan Cakranegara.

Johari mengatakan komoditas yang saat ini banyak dibudidayakan petani di Kota Mataram antara lain padi dan sayuran. Padi masih menjadi salah satu tanaman utama yang dipertahankan petani karena kondisi ketersediaan air masih mendukung kegiatan bercocok tanam.

Kondisi tersebut membuat petani di Kota Mataram masih dapat menjalankan kegiatan pertanian seperti biasa. Dinas Pertanian pun tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan kondisi di lapangan.

Johari menegaskan, jika nantinya ditemukan wilayah pertanian yang mengalami kekeringan dan membutuhkan penanganan, pihaknya akan segera melakukan intervensi. Penanganan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan di lapangan.

“Kalau ada kekeringan, kita akan lakukan intervensi,” katanya.

Di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat, Johari menyebut Kota Mataram masih tergolong aman dari dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Ketersediaan air yang masih mencukupi membuat petani tetap dapat menanam dan mengelola lahan pertaniannya.

“Petani masih bisa menanam, aman, tidak terdampak,” jelasnya.

Meski demikian, Dinas Pertanian Kota Mataram tetap mengantisipasi perkembangan kondisi cuaca dan ketersediaan air. Pemantauan di lapangan diperlukan untuk memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan dan potensi dampak kekeringan dapat segera ditangani apabila mulai terjadi. (pan)

Kopi Arabika dan Robusta Sajang Tembus Pasar Internasional, Dorong Penguatan Kualitas Hulu-Hilir

0

Mataram (Ekbis NTB) – Potensi komoditas kopi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian bersinar di kancah nasional hingga global. Di bawah pendampingan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan NTB, komoditas unggulan ini sukses menembus pasar ekspor, salah satunya pengiriman 3 ton kopi robusta ke Korea Selatan pada Agustus 2026 lalu.

Kendati demikian, tingginya animo pasar luar negeri dan domestik menghadapi tantangan klasik: keterbatasan volume produksi, khususnya untuk varietas Arabika.

Permintaan Melonjak, Produksi Terbatas

Anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia, Ruslan, mengungkapkan bahwa kopi jenis Arabika asal Sembalun dan Sajang memiliki karakteristik cita rasa yang sangat diminati, seperti aroma yang kuat, tingkat keasaman yang pas, serta dominasi rasa cokelat.

“Arabika sangat dicari-cari. Cuma tahun ini quantity-nya sangat rendah sekali dalam produksi pascapanennya,” ujar Ruslan, Jumat (2/10/2026).

Berdasarkan data kelompok, produksi Arabika di Koperasi Bumi Tani Lestari Indonesia pada musim ini hanya berkisar 5 ton, sementara total produksi di seluruh Desa Sajang berada di angka 18–20 ton per musim. Padahal, estimasi kebutuhan pasar secara keseluruhan diyakini melampaui 50 ton per tahun. Tingginya permintaan juga datang secara rutin dari pelaku usaha kafe dan penikmat kopi di Kota Mataram.

Akibat keterbatasan stok, para petani menerapkan strategi penjualan yang fleksibel guna menghindari risiko bisnis. “Untuk saat ini kami masih kontrak putus. Begitu ada barang, dibayar, selesai. Kami khawatir kalau kerja sama terlalu intens tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan, nanti terkena penalti,” jelas Ruslan.

Sebagian besar stok green bean Arabika kini bahkan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan produk bubuk lokal serta wisatawan yang berkunjung ke Sembalun. Sebaliknya, untuk varietas Robusta, kelompok ini mencatatkan produksi yang jauh lebih besar yakni mencapai 50 ton di tingkat kelompok dan hingga 300 ton secara keseluruhan di Desa Sajang.

Harga Jual Menjanjikan dan Nilai Ekonomis Tumpangsari

Di tingkat petani, tren harga kopi dalam tiga tahun terakhir dinilai sangat baik dan menguntungkan. Harga green bean Robusta berada di kisaran Rp90.000 per kilogram, sedangkan Arabika menyentuh angka Rp150.000 hingga Rp190.000 per kilogram.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengantisipasi fluktuasi harga komoditas, petani di atas lahan seluas 45 hektare dengan 35 anggota ini menerapkan sistem pertanian tumpangsari. Kopi ditanam berdampingan dengan tanaman lain seperti alpukat. “Kalau salah satu harga komoditas kurang bagus, masih ada komoditas lain yang bisa menutupi,” ujar Ruslan.

Peran Strategis Bank Indonesia dan Penguatan Mandiri

Peningkatan kualitas kopi Sajang tidak terlepas dari intervensi program Bank Indonesia (BI). Konsultan Pendamping UMKM Kopi, Edy Suhardiman, menyampaikan bahwa pendampingan difokuskan dari sektor hulu hingga hilir. Petani diedukasi untuk melakukan pemetikan buah merah (red cherries) guna mendongkrak mutu hasil akhir serta meninggalkan metode panen campur yang merugikan.

Melalui program capacity building dan studi tiru ke Bandung yang difasilitasi BI, para petani kini mampu mengoperasikan mesin roasting secara mandiri serta memanfaatkan fasilitas pendukung seperti ruang diskusi (FGD).

Mengingat ruang ekspansi lahan di Desa Sajang sudah terbatas akibat status kepemilikan hak milik warga, fokus utama ke depan diarahkan pada optimalisasi produktivitas dan kualitas. Kelompok tani secara mandiri rutin melakukan pembibitan varietas unggul seperti Ateng Super dan Ateng Janda yang disemai sendiri untuk dibagikan kepada para anggota demi menjaga kesinambungan jangka panjang. (fan)

Kebangkitan Bawang Putih Sembalun: BI NTB Dorong Modernisasi Pertanian untuk Tekan Inflasi dan Kejar Swasembada

0

Mataram (Ekbis NTB) — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi NTB mengambil langkah strategis untuk membangkitkan kembali kejayaan komoditas bawang putih di kawasan dataran tinggi Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Melalui modernisasi pertanian, intervensi difokuskan pada efisiensi biaya produksi lewat mekanisasi serta penerapan teknologi budidaya untuk bawang putih konsumsi.

Langkah ini tertuang dalam program pendampingan yang menyasar empat kelompok tani di Sembalun, yaitu Kelompok Tani Lendang Luar, Kelompok Tani Pelangi, Kelompok Tani Gumilang, dan Kelompok Tani Maju Wangi, dengan total luas areal mencapai sekitar 151 hektar.

Strategi Tekan Inflasi dan Pangkas Biaya Produksi

Konsultan PUMKM KPw BI NTB, Edy Suhardiman, menjelaskan bahwa komoditas bawang putih selama ini menjadi salah satu faktor penyumbang inflasi daerah. Oleh karena itu, mulai tahun 2026, arah pendampingan diperluas tidak hanya pada penyediaan benih, tetapi juga pada pembesaran umbi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Sebagai bentuk nyata dukungan, BI NTB menyalurkan bantuan melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) seperti traktor besar dan traktor tangan.

“Tujuannya adalah untuk mengurangi cost biaya pengolahan tanah yang cukup tinggi di tingkat petani,” ujar Edy Suhardiman, Jumat (2/10/2026).

Sebelum adanya bantuan ini, biaya sewa hand tractor di Sembalun bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hektar. Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Ruspaini Efendi Sembahulun, menyambut antusias bantuan mekanisasi tersebut karena mampu mengatasi kendala keterbatasan tenaga kerja manusia.

“Kalau pakai cangkul manual, satu orang paling kuat menyelesaikan kurang dari 3 are per hari. Dengan traktor dari BI, dari pagi sampai sore bisa menyelesaikan pengolahan tanah hingga 2 hektar per hari. Perbandingannya sangat jauh,” ungkap Ruspaini.

Dalam menggenjot produktivitas, BI NTB menggandeng akademisi dari Universitas Mataram (UNRAM) untuk mendampingi petani menerapkan teknologi budidaya modern. Sebanyak 2 hektar lahan disiapkan sebagai demonstration plot (demplot), di mana masing-masing kelompok tani mendapat alokasi 0,5 hektar.

Kendati demikian, Manajer Bank Indonesia NTB, Rahardian Luthfan Ihtifazhuddin, menjelaskan bahwa pelaksanaan demplot pembesaran umbi yang semula dijadwalkan pada November 2026 harus diundur hingga awal tahun 2027.

Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan hasil diskusi dengan para petani mengingat bulan November sudah memasuki musim penghujan. Tanaman bawang putih memerlukan intensitas sinar matahari yang cukup saat memasuki fase transisi dari pertumbuhan vegetatif menuju pembentukan umbi.

“Proyek demplot kita mundur sampai awal tahun depan menunggu musim yang optimal,” ujar Rahardian.

Dari sisi teknis budidaya, riset bersama UNRAM menunjukkan bahwa pengaturan jarak tanam sangat menentukan ukuran umbi. Jika budidaya benih biasanya menggunakan jarak rapat (7,5 x 10 sentimeter), maka untuk menghasilkan umbi konsumsi berukuran besar diterapkan jarak tanam yang lebih jarang, yakni sekitar 15 x 20 sentimeter.

Potensi ekonomi dari komoditas ini tergolong sangat menjanjikan. Menurut Ruspaini, produktivitas bawang putih di Sembalun rata-rata mencapai 13 hingga 14 ton basah per hektar. Dengan harga jual di tingkat sawah sekitar Rp16.000 per kilogram, nilai produksi kotor secara matematis dapat melampaui Rp200 juta per hektar dalam satu musim tanam berdurasi sekitar tiga bulan.

Potensi tersebut sejalan dengan kebutuhan konsumsi bawang putih nasional yang mencapai 650.000 hingga 700.000 ton per tahun, di mana pemerintah menargetkan swasembada benih pada 2029 dan swasembada nasional pada 2031.

Meskipun petani di Sembalun kini dihadapkan pada tantangan fragmentasi lahan sempit serta alih fungsi ke komoditas lain seperti stroberi, karakteristik khas bawang putih Sembalun—yang memiliki kandungan minyak atsiri tinggi serta aroma kuat—tetap menjadi daya tarik utama pasar lokal hingga nasional.

“Luas hamparan di Sembalun ini hampir 5.000 hektar. Jika semua bisa ditanami bawang putih secara serentak seperti dulu, insyaAllah target swasembada itu ada di depan mata,” pungkas Ruspaini optimistis. (fan)

Promo Menarik Menanti, Astra Motor NTB Hadirkan Program ‘Honda Optimis’

0

Mataram (Ekbis NTB) — Astra Motor NTB kembali memanjakan konsumen setianya melalui program penjualan bertajuk “Honda Optimis” sepanjang Oktober 2026. Program ini dirancang khusus untuk memberikan kemudahan kepemilikan sepeda motor Honda dengan skema promo yang disesuaikan berdasarkan karakteristik wilayah pemasaran di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Marketing Manager Astra Motor NTB, Yehezkiel Felix, menjelaskan bahwa perbedaan skema promo di setiap wilayah merupakan bentuk adaptasi perusahaan terhadap kebutuhan riil di lapangan.

“Melalui Honda Optimis, kami ingin memberikan pilihan pembelian yang lebih beragam kepada masyarakat. Setiap wilayah memiliki karakteristik konsumen yang berbeda, sehingga program yang kami hadirkan juga disesuaikan, baik dari sisi DP, angsuran, maupun tenor,” ujar Felix, Jumat (2/10).

Secara rinci, Astra Motor NTB membagi penawaran menarik ini ke dalam tiga wilayah utama:

  • Wilayah Pulau Lombok: Menawarkan total penghematan hingga Rp7,2 juta. Konsumen juga bisa membawa pulang motor impian dengan uang muka (DP) ringan mulai Rp900 ribu serta potongan angsuran hingga Rp200 ribu per bulan.
  • Wilayah Bima dan Dompu: Menghadirkan pilihan fleksibel berupa potongan angsuran hingga Rp200 ribu per bulan atau potongan hingga lima kali angsuran tenor. Tersedia pula opsi alternatif berupa potongan angsuran Rp100 ribu per bulan ditambah satu kali potongan tenor.
  • Wilayah Sumbawa: Menawarkan kemudahan DP mulai Rp1,2 juta dengan potongan angsuran hingga Rp200 ribu per bulan, atau pilihan potongan hingga empat kali tenor.

Komitmen Layanan Purnajual

Lebih lanjut, Felix menegaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada penjualan unit semata, melainkan bagian dari upaya memberikan pengalaman kepemilikan kendaraan secara menyeluruh (after-sales experience).

Setelah proses pembelian, konsumen didorong untuk memanfaatkan berbagai ekosistem layanan purnajual Honda yang terintegrasi, salah satunya melalui aplikasi Motorku X. Aplikasi digital ini memudahkan konsumen melakukan booking service, mencari lokasi jaringan bengkel resmi AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) terdekat, hingga memantau promo dan informasi produk terbaru.

“Setelah memiliki kendaraan, konsumen tentu membutuhkan layanan perawatan yang mudah dan terpercaya. Karena itu, kami mengajak konsumen memanfaatkan Motorku X untuk melakukan booking service,” kata Felix.

Perawatan berkala di jaringan AHASS sendiri didukung oleh teknisi tersertifikasi serta penggunaan suku cadang asli berstandar Honda. Selain itu, bagi konsumen yang mengalami kendala darurat di jalan raya, Astra Motor NTB tetap menyiagakan layanan Honda CARE (Customer Assistance Road Emergency) untuk memberikan penanganan awal di lapangan.

“Harapan kami, Honda Optimis dapat menjadi solusi bagi masyarakat NTB yang sedang merencanakan pembelian sepeda motor. Kami juga ingin memastikan bahwa setelah pembelian, konsumen tetap mendapatkan dukungan penuh melalui jaringan AHASS, aplikasi Motorku X, dan layanan pendukung lainnya,” tutup Felix. (r/fan)

Pemprov NTB Dorong Operator Lakukan Peremajaan Kapal Tua di Rute Kayangan-Pototano

0
diantara kapal – kapal yang melayani penyeberangan Pelabuhan Kayangan Lombok dengan Pelabuhan Pototano Sumbawa


Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB mendorong operator-operator kapal yang melayani penyeberangan Pelabuhan Kayangan Lombok dengan Pelabuhan Pototano Sumbawa untuk meremajakan kapal-kapal yang sudah berusia tua.


Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Ervan Anwar, mengatakan saat ini terdapat sekitar 28 kapal yang beroperasi di lintasan tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 10 kapal melayani angkutan penumpang setiap hari.


Menurutnya, secara kasat mata kondisi kapal yang beroperasi relatif masih baik. Namun, kondisi kapal sangat bergantung pada perawatan yang dilakukan masing-masing operator.
“Relatif bagus, tergantung perawatan dari perusahaan,” kata Ervan.


Terkait aspek keamanan dan keselamatan pelayaran, Ervan menegaskan pemeriksaan teknis kapal bukan menjadi kewenangan Dishub NTB semata. Pemeriksaan kelayakan dan keselamatan kapal dilakukan oleh instansi berwenang melalui inspeksi terhadap aspek teknis pelayaran.
Dishub NTB lebih banyak melakukan pengawasan terhadap aspek pelayanan, seperti standar pelayanan minimum (SPM), kebersihan dan fasilitas penumpang.


Meski demikian, Pemprov NTB tetap mendorong seluruh operator untuk melakukan peremajaan armada, terutama kapal-kapal yang sudah berusia tua.
“Kita sangat berharap, wajiblah kita berharap,” ujarnya.


Dorongan peremajaan kapal dinilai penting seiring meningkatnya aktivitas penyeberangan di Selat Sape. Selain mengangkut penumpang, arus logistik di lintasan tersebut juga terus meningkat, salah satunya dipengaruhi pertumbuhan perdagangan daring.


Peningkatan aktivitas logistik tersebut turut membutuhkan dukungan infrastruktur penyeberangan yang memadai. Karena itu, selain mendorong pembaruan armada, Pemprov NTB juga menyiapkan penguatan fasilitas pelabuhan, termasuk penambahan dermaga.


Ervan mengatakan penambahan dermaga diperlukan untuk mengurangi antrean kendaraan dan mempercepat pelayanan penyeberangan. Pemprov NTB bahkan membuka kemungkinan membangun fasilitas tersebut apabila pengelola belum mampu memenuhinya.
“Kalau mereka tidak sanggup, pemda mau bangun,” katanya.


Penguatan fasilitas dimaksud diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pembenahan pelayanan dan keselamatan pelayaran. Dengan begitu, meningkatnya arus penumpang dan logistik di Selat Sape tidak menimbulkan persoalan baru, khususnya terkait keselamatan dan lamanya waktu tunggu kendaraan.(bul)

Stok BBM dan LPG Diperkuat Jelang MotoGP Mandalika 2026

0
Stok BBM dan LPG Diperkuat Jelang MotoGP Mandalika 2026


Mataram (Suara NTB)– Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memperkuat kesiapan layanan energi di wilayah NTB, jelang perhelatan MotoGP Mandalika 2026 yang berlangsung 9-11 Oktober ini.
Pemantauan juga dilakukan secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan stok BBM dan LPG, kelancaran distribusi, hingga kondisi pelayanan di SPBU, untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat, wisatawan, dan pelaku usaha selama penyelenggaraan ajang internasional tersebut tetap terpenuhi.


Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan Pertamina telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran pasokan energi seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan Mandalika.


“Pertamina terus melakukan monitoring stok, optimalisasi distribusi, dan pemantauan kondisi penyaluran di lapangan. Kesiapan ini kami lakukan untuk memastikan kebutuhan BBM dan LPG masyarakat tetap terpenuhi, sekaligus mendukung kelancaran mobilitas masyarakat selama gelaran Mandalika,” ujar Ahad.


Sebagai bagian dari kesiapan layanan, Pertamina menyiagakan tujuh SPBU yang berada di jalur wisata dan jalur menuju kawasan Mandalika. SPBU tersebut terdiri atas tiga SPBU di Lombok Tengah, dua SPBU di Lombok Barat, dan dua SPBU di Kota Mataram.


Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan selama periode gelaran MotoGP, Pertamina juga menyiapkan tambahan pasokan sekitar 20–30 persen pada jalur wisata dan jalur menuju sirkuit. Penambahan pasokan dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan throughput harian serta perkembangan kebutuhan di masing-masing SPBU.


Dari sisi pasokan, Pertamina turut memastikan kesiapan armada untuk mendukung kelancaran suplai energi di wilayah NTB. Sebanyak lima armada kapal disiapkan dengan total kapasitas sekitar 34.400 KL, terdiri atas kapal tipe Small Tanker II dengan kapasitas 3.500–6.499 DWT.


“Dari sisi suplai dan distribusi, kami juga memastikan kesiapan armada dan pola suplai agar kebutuhan energi di wilayah NTB dapat terlayani dengan baik. Monitoring dilakukan secara berkelanjutan sehingga pola distribusi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan,” jelas Ahad.


Selain memastikan ketersediaan stok, Pertamina memonitor pergerakan distribusi mulai dari titik suplai hingga lembaga penyalur. Pengaturan distribusi dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan kebutuhan di lapangan, sehingga pasokan dapat dioptimalkan ke wilayah yang mengalami peningkatan permintaan.

Kondisi pelayanan di SPBU, termasuk antrean kendaraan, juga menjadi bagian dari pemantauan. Peningkatan mobilitas kendaraan menjelang dan selama gelaran Mandalika berpotensi meningkatkan aktivitas pengisian BBM di sejumlah titik. Karena itu, Pertamina berkoordinasi dengan pengelola SPBU untuk memastikan pelayanan berjalan optimal serta mengatur antrean agar tetap tertib dan tidak mengganggu akses maupun arus lalu lintas di sekitar SPBU.


“Apabila terdapat peningkatan antrean di SPBU, kami melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui kondisi serta penyebabnya. Pengelola SPBU juga kami dorong untuk mengatur pelayanan dan antrean dengan baik, sehingga masyarakat tetap dapat memperoleh BBM dengan nyaman dan tertib,” jelas Ahad.


Di sisi lain, kesiapan LPG juga terus diperkuat seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan sektor usaha selama periode gelaran Mandalika. Pertamina memastikan penyaluran LPG berjalan sesuai kebutuhan melalui jaringan agen dan pangkalan resmi. Monitoring dilakukan secara berkala untuk memastikan ketersediaan LPG di tingkat penyalur sekaligus mengantisipasi perubahan kebutuhan selama periode kegiatan.(bul)
Foto :

Perkuat Layanan ASN Pendidikan, Direksi Bank NTB Syariah Konsultasi ke Mendikdasmen

0
Perkuat Layanan ASN Pendidikan, Direksi Bank NTB Syariah Konsultasi ke Mendikdasmen


Mataram (Suara NTB) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menerima langsung audiensi jajaran PT Bank NTB Syariah dalam rangka memperkuat sinergi dan koordinasi terkait peningkatan layanan transaksi keuangan bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).


Audiensi dilakukan oleh Direktur Pembiayaan Bank NTB Syariah Agus Suhendro dan Direktur Keuangan & Operasional Bank NTB Syariah Ajar Susanto Broto. Pertemuan yang berlangsung di Jakarta, 1 Oktober 2026. Membahas penguatan layanan perbankan bagi guru dan tenaga kependidikan, khususnya di Provinsi NTB.


Bank NTB Syariah sebelumnya telah diberikan kepercayaan untuk mengelola rekening gaji dan tunjangan sertifikasi sebanyak 54.395 guru di Provinsi NTB. Kepercayaan tersebut menjadi salah satu landasan bagi perseroan untuk terus mengoptimalkan layanan transaksi keuangan bagi guru dan tenaga kependidikan.


Direktur Pembiayaan Bank NTB Syariah, Agus Suhendro, mengatakan audiensi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan Kemendikdasmen, khususnya dalam meningkatkan layanan perbankan bagi ASN di sektor pendidikan.


“Kami berharap sinergi ini dapat terus diperkuat sehingga layanan perbankan bagi guru dan tenaga kependidikan di Nusa Tenggara Barat semakin optimal dan mampu memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan transaksi keuangan,” ujar Agus.


Sementara itu, Direktur Keuangan & Operasional Bank NTB Syariah, Ajar Susanto Broto, menyampaikan bahwa peningkatan kualitas layanan transaksi menjadi bagian penting dari komitmen Bank NTB Syariah dalam memberikan pengalaman layanan yang semakin mudah dan sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Audiensi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi Bank NTB Syariah dengan Kemendikdasmen sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan layanan perbankan bagi guru dan tenaga kependidikan di Provinsi NTB.(bul)

Relokasi Terminal Tente Masih Dikaji

0
Relokasi Terminal Tente Masih Dikaji
(EKBIS NTB/dok) A. Rifai


Bima (EKBIS NTB) – Dinas Perhubungan Kabupaten Bima masih mengkaji rencana relokasi Terminal Tente untuk mendukung penataan kawasan perdagangan dan pembangunan pasar modern. Relokasi terminal diharapkan tidak menimbulkan persoalan baru terutama kemacetan.


Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bima, A. Rifai mengatakan penentuan lokasi baru Terminal Tente perlu mempertimbangkan pola pergerakan masyarakat dan barang dari wilayah sekitar. Hal itu menjadi bagian dari kajian bersama Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bima, untuk menentukan lokasi yang dinilai paling strategis.


“Karena itu, kami bersama Bappeda masih terus membahas lokasi strategis Terminal Tente. Salah satu pendekatan yang kami minta digunakan adalah analisis SWOT, sehingga kekuatan, kelemahan, peluang dan dampak dari setiap pilihan lokasi dapat diperhitungkan,” kata Rifai saat dikonfirmasi Suara NTB, Kamis (1/10).


Menurut Rifai, pola pergerakan masyarakat dari wilayah sekitar perlu dipetakan sebelum lokasi terminal ditentukan. Masyarakat dari Monta, Parado, Palibelo maupun Langgudu memiliki pola perjalanan yang perlu diperhitungkan, termasuk pergerakan menuju Tente dan Kota Bima.
Kawasan Tente kata Rifai, menjadi bagian dari pola pergerakan masyarakat menuju pusat aktivitas perdagangan di Woha. Karena itu, arus orang dan barang perlu diperhitungkan agar keberadaan terminal tidak menimbulkan penumpukan.


Di sisi lain, Rifai menyoroti persoalan yang terjadi di Terminal Tente saat ini. Menurut dia, fungsi terminal sebagian telah beralih menjadi aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut juga menjadi pertimbangan dalam pembahasan rencana relokasi.


“Sekarang sebagian fungsi terminal sudah menjadi 40 persen. Sementara, 60 persen sudah dikuasai pedagang ilegal,” ujarnya.
Menurut Rifai, kondisi tersebut perlu diantisipasi agar persoalan serupa tidak kembali muncul di lokasi baru. Pemindahan terminal, kata dia, berpotensi diikuti tumbuhnya aktivitas perdagangan yang tidak terkendali di sekitar lokasi.


Karena itu, pemerintah masih membandingkan dampak dari sejumlah pilihan penataan kawasan Tente. Kajian tidak hanya menyangkut kemungkinan pemindahan terminal, tetapi juga mempertimbangkan pilihan penataan atau pemindahan pasar. (hir)


Bulog Serap 49.700 Ton Gabah Petani

0
Bulog Serap 49.700 Ton Gabah Petani
(EKBIS NTB/ils) Muhammad Nur Ristanto


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)
– Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Sumbawa telah menyerap gabah petani mencapai 49.700 ton sampai bulan September 2026. Serapan gabah ini baru mencapai 86 persen dari target ditetapkan pemerintah pusat mencapai 57.700 ton.


“Kami masih punya waktu sekitar dua bulan untuk mengejar target tersebut. Kalau kita hitung ada sekitar 8.000 ton yang menjadi pekerjaan kita di sisa waktu yang ada untuk mengejar target itu,” kata Pimpinan Cabang Perum Bulog Sumbawa, Muhammad Nur Ristanto,Kamis (1/10).


Nur melanjutkan, sisa target serapan tersebut tetap diupayakan bisa terealisasi. Pasalnya, petani di beberapa wilayah masih panen sehingga akan dimaksimalkan penyerapan gabah milik petani.


Ia mengakui bahwa penyerapan gabah tidak ada kendala. Akan tetapi, harga gabah yang berlaku di pasaran masih cukup tinggi,sehingga petani lebih memilih menjual gabah mereka ke swasta dibandingkan ke Bulog.


“Bulog sifatnya hanya mengamankan dan menstabilkan harga saja ketika harganya anjlok, maka Bulog siap melakukan penyerapan, termasuk untuk memenuhi target tahunan yang diberikan pemerintah,” ujarnya.


Pada prinsipnya Bulog kata dia,sudah sangat siap menyerap gabah setara beras dengan catatan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Kondisi gudang saat ini sudah cukup luas untuk kembali menyerap gabah setelah dilakukan mobilisasi beras secara nasional.


“Kita sudah beberapa kali melakukan pengiriman beras ke NTT,sehingga space di beberapa gudang Bulog dan mitra masih sangat aman untuk kembali melakukan penyerapan,” tambahnya.


Sementara untuk mekanisme penyerapan lanjutnya, tetap sama seperti pembelian gabah di tahun sebelumnya dengan ketentuan kadar air tentu. Pihaknya menyerap gabah petani dengan menggandeng sejumlah mitra Bulog yang telah melakukan tanda tangan kontrak.


“Meskipun target kita sudah terpenuhi nanti, penyerapan gabah tetap akan kita lakukan dan tidak ada penutupan. Karena fungsi utama Bulog yakni menstabilkan harga yang berlaku di pasar,” pungkasnya.

Audensi ke Kementerian PerdaganganPemkab Sumbawa Upayakan Pembangunan Pasar Sumer Payung

0
Audensi ke Kementerian PerdaganganPemkab Sumbawa Upayakan Pembangunan Pasar Sumer Payung
kunjungan ke Kementerian Perdagangan


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)
– Pemkab Sumbawa melakukan audiensi ke Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia, Rabu (30/9). Kunjungan itu sebagai bentuk ikhtiar bersama dalam mewujudkan Pasar Induk Sumer Payung, di Kecamatan Labuhan Badas.


“Kehadiran pasar induk ini sebagai salah satu ikhtiar pemerintah dalam menguatkan sistem perdagangan, distribusi, dan logistik daerah yang lebih terencana dan terintegrasi,” kata Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot saat melakukan audiensi dengan Direktur Prasarana Perdagangan dan Logistik Kemendag RI di Jakarta.


Pembangunan Pasar Induk Sumer payung memiliki arti strategis dalam membangun tata niaga yang lebih terstruktur. Pasar induk ini diharapkan dapat menjadi salah satu simpul utama yang mempertemukan rantai pasok dari produsen, pedagang, pelaku usaha hingga konsumen.


Dikatakan,sistem perdagangan yang semakin terintegrasi melalui pasar induk diharapkan tidak hanya bergerak dalam aktivitas jual beli. Tetapi akan mampu menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.


“Pembangunan pasar induk juga diarahkan untuk menghadirkan fasilitas perdagangan yang lebih representatif bagi para pedagang dan pelaku usaha,” ujarnya.


Bupati menambahkan penguatan sarana perdagangan tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan sistem logistik yang efisien. Infrastruktur pasar yang terintegrasi diharapkan bisa mendukung pengelolaan distribusi komoditas, memperlancar pergerakan barang, serta memperkuat konektivitas antara sentra produksi dan pusat perdagangan.


Penguatan infrastruktur pasar juga diharapkan bisa memberikan manfaat bagi berbagai pihak mulai dari produsen, pedagang, pelaku UMKM, distributor hingga masyarakat sebagai konsumen. Artinya, pasar bukan hanya tentang tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan tentang membangun ekosistem.


“Kami berharap pembangunan pasar ini akan mampu memperlancar distribusi, memperkuat logistik, membuka ruang ekonomi, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” harapannya. (ils)