Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 37

CFD Jalan Udayana Mataram Ditutup Selama Ramadan

0
CFD Jalan Udayana Mataram Ditutup Selama Ramadan
Masyarakat ramaikan kegiatan CFD setiap hari Minggu di Jalan Udayana, Kota Mataram yang dipotret beberapa waktu lalu. Kini, selama Ramadan kegiatan tersebut ditiadakan (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memutuskan menutup sementara aktivitas Car Free Day (CFD) di Jalan Udayana selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengatakan kegiatan CFD yang rutin digelar setiap Minggu pagi itu akan dihentikan sementara waktu. “CFD Udayana akan kita tutup sementara selama bulan Ramadan,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Menurut Nizar, kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Selain itu, penutupan bertujuan agar masyarakat dapat lebih fokus beribadah tanpa terdistraksi oleh aktivitas jual beli yang biasanya memadati kawasan tersebut.

“Untuk sementara ditiadakan demi menjaga kekhusyukan masyarakat selama bulan puasa,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu pertimbangan utama penutupan adalah karakteristik CFD Udayana yang saat ini didominasi sektor perdagangan, khususnya kuliner. Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar aktivitas di kawasan itu diisi oleh pedagang kaki lima (PKL) yang menjual makanan dan minuman.

“CFD Udayana seperti yang kita lihat sekarang, kebanyakan diisi pedagang kecil yang menjual makanan. Itu menjadi salah satu alasan kenapa kita tutup sementara,” ujarnya.

Nizar juga menegaskan tidak ada rencana menggeser waktu pelaksanaan CFD ke sore atau malam hari. Menurutnya, jika dipindahkan ke sore hari untuk kegiatan ngabuburit, dikhawatirkan akan menimbulkan kemacetan lalu lintas di jalur utama. Sementara jika digelar malam hari, berpotensi mengganggu pelaksanaan ibadah tarawih.

Meski CFD ditiadakan, ia mengingatkan aturan bagi PKL di ruang publik tetap diberlakukan secara ketat selama Ramadan. Pedagang tidak diperkenankan berjualan pada siang hari, termasuk di kawasan Teras Udayana.

“Ramadan memang bulan berkah untuk mencari rezeki, tetapi tetap harus mengikuti aturan. Tidak ada pedagang yang boleh berjualan di siang hari. Mulai pukul 17.00 Wita baru diperbolehkan membuka lapak untuk menjual takjil,” tegasnya.

Larangan tersebut berlaku bagi seluruh jenis pedagang, baik penjual makanan dan minuman maupun pakaian serta produk kriya lainnya.

Seiring dengan penghentian sementara CFD, penarikan retribusi bagi PKL di kawasan itu juga dihentikan. Nizar menyebutkan, retribusi yang biasa dipungut sebesar Rp5.000 per PKL, dengan total penerimaan mencapai sekitar Rp2,6 juta setiap pelaksanaan CFD.

Terkait potensi munculnya pedagang musiman selama Ramadan, ia menyebut pengaturan dan pengawasannya menjadi kewenangan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram.

DLH Kota Mataram dalam waktu dekat juga akan menerbitkan surat edaran resmi sebagai dasar pelaksanaan kebijakan penutupan sementara tersebut.

“Nanti akan ada SE yang kami keluarkan sebagai aturan selama bulan puasa,” pungkasnya. (pan)

Teluk Ekas Ditetapkan sebagai Pusat Riset Rumput Laut Dunia

0
Potensi rumput laut di Ekas, Kecamatan Jerowaru, Lotim. Sekarang ini, Teluk Ekas ditetapkan sebagai pusat riset rumput laut dunia. (Suara NTB/dok)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Pusat menetapkan Teluk Ekas, Lombok Timur (Lotim), sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut Tropis Dunia. Kebijakan ini sebagai bagian dari strategi nasional penguatan ekonomi pesisir dan hilirisasi sektor kelautan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, pembangunan ITSRC di Teluk Ekas menjadi fondasi awal membangun ekosistem riset bertaraf global sekaligus mendorong transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat.

Namun, posisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Karena itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional, termasuk kerja sama dengan University of California, Berkeley, serta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok. BGI berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal.

Sejumlah fasilitas akan dibangun di kawasan ITSRC, antara lain gedung penelitian, asrama peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya. Secara ekologis, Teluk Ekas dinilai ideal sebagai living laboratory, karena memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik. Kawasan ini juga potensial untuk pengembangan berbagai jenis rumput laut, seperti Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.

Menindaklanjuti penetapan tersebut, Pemprov NTB menyambut positif kehadiran ITSRC di Teluk Ekas. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, ST., MT., menyampaikan apresiasi atas hadirnya pusat riset bertaraf internasional tersebut, yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik budidaya rumput laut, khususnya kelangkaan bibit unggul.

“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depan, pusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujarnya.

Ia menambahkan, NTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional. Karena itu, kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi dari ITSRC diyakini akan mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sebagai bagian dari penguatan riset dan pengabdian berbasis potensi daerah, Universitas Mataram turut berperan dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana Lombok Timur. ITSRC akan dikembangkan sebagai pusat riset rumput laut bertaraf internasional melalui kolaborasi dengan para peneliti dunia, dilengkapi laboratorium, sarana riset, hingga dukungan kapal penelitian.

Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan wilayah kepulauan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialis, agar masyarakat pesisir—khususnya di Lombok Timur—dapat memperoleh akses layanan medis yang lebih dekat dan berkualitas.

Melalui kehadiran ITSRC, Pemprov NTB optimistis Teluk Ekas akan berkembang sebagai pusat inovasi rumput laut tropis dunia, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di NTB. (r/ham)

Bawa 1.380 Penumpang, Kapal Pesiar Viking Sky Sandar di Gili Mas Lembar Lobar

0
Bawa 1.380 Penumpang, Kapal Pesiar Viking Sky Sandar di Gili Mas Lembar Lobar
Kapal pesiar Viking Sky bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Kecamatan Lembar, Jumat (20/2/2026). (suarantb.com/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Kapal pesiar Viking Sky bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (20/2/2026). Kapal tersebut membawa sekitar 1.380 penumpang dari mancanegara.

Pantauan media, kapal tersebut sandar sekitar pukul 10.00 Wita. Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ) datang menyambut kehadiran para wisatawan dan pihak kapal pesiar, dengan membawa iring-iringan musik gendang beleq. “Saya kira kita harus dengan sigap menangkap peluang ini,” ujar LAZ, Jumat (20/2/2026).

LAZ mengatakan bahwa para wisatawan sudah disiapkan paket tur seputaran Lombok Barat dan Mataram supaya tidak terkesan hanya disambut secara seremonial menggunakan gendang beleq.

Untuk rute Lombok Barat, sudah disiapkan mulai dari Pelabuhan Gili Mas menuju sentra kerajinan gerabah di Desa Banyumulek, lanjut ke Pasar Seni Desa Sesela. Kemudian menuju Kecamatan Lingsar dan Narmada, lalu berakhir di Villa and Residence Sundancer, Sekotong. “Semua (destinasi) itu ada di Lombok Barat,” kata LAZ.

Sementara itu, Manajer Operasional Pelindo Lembar, Wawan Abiono, mengatakan bahwa Kapal Pesiar Viking Sky merupakan kapal kelima yang sudah sandar di Pelabuhan Gili Mas selama tahun 2026. “Ini kunjungan kapal yang kelima di tahun ini. Ukurannya medium, sekitar 930 turis dan 450 kru,” tuturnya.

Wawan mengatakan kapal berbendera Norwegia tersebut datang dari Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemudian singgah di Lombok Barat sebelum menuju tujuan berikutnya ke Tanjung Benoa, Bali. “Gak lama, sekitar sampai pukul 19.00 Wita nanti baru berlayar lagi,” ujarnya.

Meski waktu kunjungan yang singkat, Wawan berharap dapat memberikan dampak bagi masyarakat khusunya pelaku wisata atau penyedia jasa travel.
Ia juga menekankan peran pemerintah dalam menjaga kebersihan tempat wisata serta pelayanan yang baik. Menurutnya, kedua hal tersebut dapat memberikan memori baik bagi para wisatawan, sehingga mau berkunjung kembali. (her)

Kick Off SERAMBI 2026: BI Proyeksikan Kebutuhan Uang di NTB Naik 27,48 Persen

0
Kick Off SERAMBI 2026: BI Proyeksikan Kebutuhan Uang di NTB Naik 27,48 Persen
Kick Off SERAMBI 2026: BI Proyeksikan Kebutuhan Uang di NTB Naik 27,48 Persen

Lombok (ekbisntb.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi memulai rangkaian kegiatan Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 1447 H tahun 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan uang tunai yang berkualitas bagi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Kepala Perwakilan BI NTB, Hario Kartiko Pamungkas, mengungkapkan bahwa proyeksi kebutuhan uang Rupiah di wilayah NTB tahun ini mencapai Rp3,07 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 27,48% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk memastikan pemenuhan kebutuhan tersebut, saat ini KPwBI Prov. NTB telah menyiapkan uang Rupiah sebesar Rp3,3 triliun,” ujar Hario dalam acara kick off di Mataram, Kamis (19/2/2026).

Kick Off SERAMBI 2026: BI Proyeksikan Kebutuhan Uang di NTB Naik 27,48 Persen
Kick Off SERAMBI 2026: BI Proyeksikan Kebutuhan Uang di NTB Naik 27,48 Persen

Faktor Pemicu Kenaikan

Beberapa alasan utama di balik melonjaknya permintaan uang tunai di NTB antara lain:

  • Pembayaran gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, POLRI, serta sektor swasta.
  • Pencairan bantuan sosial (bansos).
  • Peningkatan aktivitas ekonomi akibat mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan selama libur panjang.

Lokasi dan Jadwal Penukaran

Masyarakat dapat mengakses layanan penukaran uang di 85 titik jaringan kantor bank di seluruh pelosok NTB pada tanggal 27 Februari 2026 dan 12 Maret 2026.

Selain itu, BI juga menyediakan layanan khusus:

  • Layanan Kas Keliling: Menjangkau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Terpencil) yang jauh dari akses perbankan.
  • Penukaran Terpadu: Dipusatkan di Halaman Parkir Islamic Center Mataram pada 9-12 Maret 2026.

Pendaftaran Online via PINTAR

Untuk menjaga ketertiban, masyarakat diimbau melakukan pendaftaran secara daring melalui situs resmi https://pintar.bi.go.id. Pendaftaran dibagi dalam dua termin:

  1. Termin 1: 14 – 27 Februari 2026.
  2. Termin 2: 2 – 12 Maret 2026.

Plh. Sekda Provinsi NTB, Lalu M. Faozal, mengapresiasi kolaborasi ini dan mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada. “Kami mengimbau masyarakat untuk bijak berbelanja dan menghindari penukaran uang di tempat ilegal guna menghindari risiko uang palsu,” tegasnya. (r)

Ribuan Warga Padati Jalan Majapahit Mataram, Perburuan Takjil Picu Kemacetan

0
Ribuan Warga Padati Jalan Majapahit Mataram, Perburuan Takjil Picu Kemacetan
Kondisi kemacetan di Jalan Majapahit dipicu oleh kendaraan warga yang terparkir di area bahu jalan saat berburu takjil, Kamis (19/2/2026). (suarantb.com/pan)

Mataram (suarantb.com) – Ribuan warga memadati kawasan Jalan Majapahit, Kota Mataram, Kamis (19/2/2026) sore, untuk berburu takjil berbuka puasa. Kepadatan pengunjung menyebabkan kemacetan panjang di sepanjang ruas jalan tersebut.

Pantauan Suara NTB, sejak pukul 16.00 Wita masyarakat mulai berdatangan untuk membeli aneka takjil. Beragam makanan dan minuman dijajakan pedagang, mulai dari jajanan kering, jajanan basah, hingga lauk-pauk. Para pedagang terlihat berjualan di sepanjang trotoar, sehingga turut mempersempit badan jalan dan memicu kemacetan.

Salah seorang pedagang, Warni, mengatakan suasana awal Ramadan 1447 Hijriah tahun ini sangat ramai sejak ia mulai berjualan sekitar pukul 16.30 Wita.

“Ramai sekali, memang setiap tahun kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Menurut Warni, kawasan Jalan Majapahit menjadi salah satu titik paling ramai dikunjungi masyarakat Kota Mataram karena pilihan makanan dan minuman yang cukup lengkap.

Ia menuturkan, tahun 2026 ini merupakan tahun ketujuh dirinya berjualan es teh dan gorengan saat Ramadan. Momentum bulan puasa dimanfaatkannya untuk meraih keuntungan lebih dibandingkan hari biasa.

“Kalau hari biasa saya jualan di depan SMPN 7 Mataram, Jalan Bung Karno. Alhamdulillah, hari ini lumayan banyak yang beli,” ucapnya.

Selama Ramadan, Warni berencana tetap berjualan di Jalan Majapahit, tepatnya di depan Taman Budaya NTB.

Di sisi lain, salah seorang pembeli, Anggina Lestari, mengaku senang membeli takjil di kawasan tersebut karena pilihannya lengkap sehingga tidak perlu berpindah tempat.

“Cukup banyak dan lengkap. Saya dari tahun lalu juga tetap datang ke sini mencari makanan untuk berbuka puasa,” katanya.

Menurut Anggina, harga makanan dan minuman relatif terjangkau, berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp15 ribu. Selain itu, transaksi juga semakin mudah karena sebagian besar pedagang telah menyediakan pembayaran digital melalui kode QRIS.

Sebagai informasi, perburuan takjil tidak hanya terpusat di Jalan Majapahit. Sejumlah titik lain di Kota Mataram juga menjadi lokasi favorit warga, di antaranya Jalan Gajah Mada, Jalan Bung Karno Pagutan, Jalan Adisucipto, kawasan bisnis Cakranegara (KBC), serta beberapa titik strategis lainnya. (pan)

Kemiskinan Turun, Ketimpangan Membaik, Capaian Nyata Tahun Pertama Iqbal–Dinda

0
Kemiskinan Turun, Ketimpangan Membaik, Capaian Nyata Tahun Pertama Iqbal–Dinda
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal saat berbincang dengan salah satu warga miskin di Desa Malaka, Lombok Utara, Kamis, 8 Januari 2026 lalu. (Suara NTB/Diskominfotik NTB)

Di tengah dinamika ekonomi 2025 yang sempat tertekan pada paruh awal tahun akibat koreksi sektor pertambangan, satu indikator sosial justru menunjukkan arah yang menggembirakan: kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil diturunkan secara signifikan.

DATA September 2025 mencatat jumlah penduduk miskin NTB sebesar 637,18 ribu orang, turun 17,39 ribu orang dibanding Maret 2025. Secara persentase, angka kemiskinan menurun menjadi 11,38 persen, atau berkurang sekitar 0,40 poin persentase.

Lebih penting lagi, NTB masuk 9 besar provinsi dengan penurunan kemiskinan tertinggi secara nasional pada 2025.

Ini bukan sekedar fluktuasi statistik. Penurunan tersebut terjadi dalam situasi ekonomi yang sedang bertransisi, saat pertumbuhan agregat belum sepenuhnya pulih, yang menandakan bahwa intervensi sosial dan ekonomi pemerintah daerah bekerja cukup efektif menjangkau kelompok rentan.

Jika dibandingkan dengan 2024, capaian ini semakin bermakna. Pada 2024, kemiskinan NTB masih berada di kisaran 11,9–12 persen, dengan tekanan kuat dari inflasi pangan dan daya beli pascapandemi. Tahun 2025 menjadi titik balik, ketika pemulihan ekonomi mulai menyentuh lapisan bawah masyarakat.
Bukan hanya jumlah orang miskin yang menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga ikut turun. Artinya:

– rata-rata pengeluaran warga miskin semakin mendekati garis kemiskinan
– jarak antarwarga miskin semakin menyempit
– beban kemiskinan menjadi lebih ringan

Dengan kata lain, mereka yang masih miskin pun berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Ketimpangan turun, pertumbuhan lebih merata. Perbaikan tidak berhenti pada kemiskinan. Pada September 2025, Gini Ratio NTB tercatat sekitar 0,364, lebih rendah dibanding beberapa provinsi besar seperti Jawa Barat (~0,383), DI Yogyakarta (~0,397), dan DKI Jakarta (~0,426).

Maknanya jelas:
– ketimpangan pengeluaran di NTB relatif lebih rendah
– hasil pertumbuhan ekonomi lebih merata
– distribusi manfaat pembangunan tidak terlalu terkonsentrasi di kelompok atas
Bahkan, porsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah di NTB telah mencapai sekitar 19,23 persen, yang menurut standar Bank Dunia sudah masuk kategori ketimpangan rendah. Ini indikator penting bahwa kelompok bawah mulai memperoleh bagian yang lebih adil dari aktivitas ekonomi.

Bagi daerah dengan struktur ekonomi yang selama ini sangat dipengaruhi sektor padat modal, seperti pertambangan, capaian ini patut dicatat sebagai kemajuan struktural.

Dari angka ke dampak nyata: Apa yang Membuat Kemiskinan Turun?
Penurunan kemiskinan 2025 tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia merupakan hasil kombinasi antara pemulihan ekonomi rakyat dan intervensi kebijakan yang lebih terarah pada tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda.

Beberapa faktor penguat yang paling terasa di lapangan antara lain:

1. Penguatan Ekonomi Rakyat Berbasis Pertanian
Sepanjang 2025, produksi padi meningkat tajam, dari sekitar 152 ribu ton menjadi hampir 200 ribu ton Gabah Kering Giling. Ini berdampak langsung pada:
– pendapatan petani
– serapan tenaga kerja musiman
– stabilitas harga pangan lokal
Karena sebagian besar penduduk miskin NTB berada di perdesaan dan sektor pertanian, peningkatan produksi pangan memberi efek cepat terhadap penurunan kemiskinan.
Program pendampingan petani, distribusi sarana produksi, serta stabilisasi harga gabah menjadi bantalan sosial-ekonomi yang sangat nyata.

2. Aktivasi UMKM dan Perdagangan Lokal
Pemulihan sektor perdagangan, jasa, dan UMKM sepanjang 2025 ikut membuka kembali sumber penghasilan rumah tangga miskin dan rentan.
Ketika pariwisata mulai bergerak, akomodasi dan makan minum tumbuh, dan mobilitas masyarakat meningkat, maka pedagang kecil, pekerja informal, hingga usaha rumahan kembali memperoleh pasar.
Ini penting karena sebagian besar warga miskin menggantungkan hidup pada sektor-sektor ini.

3. Perlindungan Sosial yang Lebih Tepat Sasaran
Program bantuan sosial tetap menjadi jaring pengaman, tetapi pada 2025 mulai dipadukan dengan pendekatan pemberdayaan:
– padat karya
– dukungan UMKM mikro
– integrasi bantuan dengan aktivitas produktif
– penguatan desa melalui belanja berbasis kebutuhan lokal

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa bantuan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi.

4. Lapangan Kerja Bertambah, Daya Beli Terjaga
Sepanjang 2025 tercatat penambahan tenaga kerja puluhan ribu orang, sementara pengangguran menurun. Konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 4,5 persen.

Bagi rumah tangga miskin dan hampir miskin, pekerjaan sekecil apa pun jauh lebih menentukan daripada angka pertumbuhan makro. Ketika peluang kerja meningkat, kemiskinan pun turun.

Kemiskinan turun di tengah tahun transisi. Yang membuat capaian ini semakin bermakna adalah konteksnya.

Tahun 2025 merupakan tahun transisi ekonomi NTB: sektor tambang sempat turun tajam, industri hilirisasi baru mulai berjalan, dan pertumbuhan agregat belum sepenuhnya pulih. Namun justru pada tahun seperti ini, kemiskinan berhasil ditekan dan ketimpangan membaik.

Ini menunjukkan bahwa kebijakan Iqbal–Dinda tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan besar berbasis modal, tetapi juga menjaga denyut ekonomi rakyat.

Penutup: Fondasi Sosial untuk Transformasi Ekonomi
Dalam satu tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda, NTB tidak hanya mencatat pemulihan ekonomi, tetapi juga memperbaiki kualitas pembangunan sosial.

Kemiskinan turun. Ketimpangan lebih rendah. Kelompok bawah mulai memperoleh porsi yang lebih adil dari aktivitas ekonomi.

Ini bukan akhir pekerjaan, melainkan fondasi penting.
Ke depan, tantangannya adalah menjaga momentum ini melalui:
– penguatan pertanian bernilai tambah
– penciptaan kerja padat karya
– industrialisasi berbasis sumber daya lokal
– UMKM yang terhubung dengan pariwisata dan industri
– serta perlindungan sosial yang semakin produktif
Sebab ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekedar angka pertumbuhan, melainkan seberapa banyak warga yang berhasil keluar dari kemiskinan dan memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Dan pada tahun pertama ini, arah itu sudah mulai terlihat. (r)

Lokus Penanganan Kemiskinan Ekstrem

0
Lokus Penanganan Kemiskinan Ekstrem
Hj. Nurul Adha (Suara NTB/dok)

DESA lumbung atau penghasil padi di Lombok Barat (Lobar) justru menjadi lokus kemiskinan ekstrem. Seperti Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung menjadi salah satu desa dengan jumlah serapan gabah Bulog tertinggi, tetapi ironis banyak warganya hidup miskin ekstrem. Sehingga Pemkab pun menjadikan lokus penanganan kemiskinan ekstrem.

“Desa-desa yang penyumbang padi justru masuk dalam miskin eketrem, seperti Banyu Urip, Tempos dan sebagainya,”sebut Una sapaan akrab dari Wabup Lobar Hj Nurul Adha, Kamis (19/2).

Menyikapi ini, Una menegaskan harusnya ada upaya menyeluruh berkolaborasi dengan OPD terkait seperti Dinas Pertanian dan PMD. OPD terkait perlu memotret apa yang perlu dilakukan dalam menangani petani ini.

Langkah-langkah penanganan OPD harus dilakukan terukur agar petani ini bisa mengangkat harkat dan martabatnya, bisa naik kelas dari yang kurang mampu atau miskin, naik hingga keluar dari kemiskinan. Sebab bagaimana pun mereka punya peranan besar dalam menjaga ketahanan pangan daerah dan negara. “Sering saya bilang tidak bisa makan kalau tidak ada petani,”ujarnya.

Wabup juga mendorong semua OPD harus berkolaborasi dalam penanganan suatu persoalan. Termasuk dalam mengentaskan ini maka semua OPD harus menggerakkan berbagai sektor pembangunan. OPD perlu berkolaborasi dengan OPD lain dalam mengembangkan semua sektor. Seperti Dinas Pariwisata, bagaimana kolaborasi untuk memberi peran pada pemuda dan masyarakat dalam ekonomi kreatif, sehingga warga yang datang itu nyaman karena bersih.
Menurutnya faktor kenyamanan dan kebersihan ini menjadi faktor penentu dalam pengembangan desa wisata. Hal ini menjadi kekuatan pariwisata untuk pengunjung tertarik datang berkunjung, sehingga dengan pariwisata ini, maka efeknya besar pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Sementara itu Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lobar Deny Arif Nugroho mengatakan bahwa dilihat dari angka penduduk miskin ekstrem tahun 2024 8.950 orang atau sebesar 1,57 persen. Terjadi peningkatan dibanding tahun 2023 1,17 persen atau 8.820 orang yang berstatus kemiskinan ekstrem.

Aktivis dari Lembaga Masyarakat Transparansi Anggaran Samsul menyampaikan berdasarkan data yang diperoleh dari BPS memuat semua daerah kategori miskin dan miskin ekstrem di NTB. Termasuk,di Lobar terdapat 14 desa yang masuk kategori miskin ekstrem.

‘’Dalam data itu terdapat variabel yang jelas. Di antara 14 desa itu dirinci, Desa Batulayar sebanyak 260 jiwa tinggal di kawasan hutan dan pesisir. Taman Ayu terdapat 296 Jiwa ada di non kawasan. Mekar Sari, ada 145 jiwa di kawasan hutan. Kuripan Utara, terdapat 304 jiwa di non kawasan,’’ ujarnya. Kemudian 318 jiwa di Desa Labuan Tereng ada di kawasan hutan dan pesisir. Desa Mareje, terdapat 356 di kawasan hutan.

Selanjutnya, Desa Mareje Timur, terdapat 252 jiwa di kawasan hutan. Sekotong Timur, terdapat 446 berada di kawasan hutan. Batu Mekar, 467 jiwa ada di kawasan hutan. Lebah Sempage terdapat 261 jiwa di kawasan hutan. 347 jiwa warga Desa Sedau berada di kawasan hutan. Kedaro, terdapat 401 jiwa di kawasan hutan. Desa Pelangan, 491 jiwa tinggal di kawasan hutan dan pesisir. Dan Desa Taman Baru, terdapat 412 jiwa di kawasan hutan. (her)

Dishub Mataram Petakan Titik Kemacetan saat Berburu Takjil Selama Ramadan

0
Dishub Mataram Petakan Titik Kemacetan saat Berburu Takjil Selama Ramadan
Salah satu titik rawan macet di Jalan Adisucipto saat masyarakat sedang berburu takjil berbuka puasa, Kamis (19/2/2026). (Suara NTB/pan)

Mataram (suarantb.com) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram memetakan sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan kemacetan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan. Kepadatan lalu lintas diperkirakan meningkat seiring tingginya aktivitas masyarakat yang berburu takjil dan melaksanakan kegiatan ngabuburit.

Sejumlah ruas jalan yang kerap mengalami kepadatan antara lain Jalan Airlangga, Jalan Majapahit, Jalan Adisucipto, Jalan Pejanggik, kawasan sekitar Pasar ACC Ampenan, serta Jalan Gajah Mada dan beberapa titik strategis lainnya. Lokasi-lokasi tersebut dinilai rawan karena menjadi pusat aktivitas pedagang musiman dan tempat berkumpulnya warga.

Kepala Dishub Kota Mataram, Zulkarwin, mengatakan pihaknya telah mengantisipasi potensi peningkatan volume kendaraan, khususnya menjelang berbuka puasa hingga selesai salat Tarawih. Menurutnya, lonjakan arus lalu lintas umumnya terjadi pada pukul 16.30 hingga 18.30 Wita.

“Pada dasarnya kami sudah menyiapkan pola pengamanan. Biasanya kepadatan terjadi ketika penjual takjil mulai beraktivitas sehingga terjadi penumpukan warga yang ngabuburit,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Ia menjelaskan, Dishub bersama kepolisian dan TNI akan membangun pos terpadu di sejumlah titik untuk memberikan rasa aman sekaligus meminimalisir kemacetan selama Ramadan. Pos tersebut berfungsi sebagai pusat pemantauan dan pengendalian arus lalu lintas, termasuk untuk merespons cepat apabila terjadi penumpukan kendaraan.

Sebelumnya, Dishub telah melakukan pemetaan ruas jalan yang berpotensi mengalami kemacetan selama bulan puasa. Langkah antisipasi tersebut dibahas bersama Bidang Pengendalian dan Operasional.

Tindak lanjut teknis juga akan dikoordinasikan dengan Polresta Mataram, Satpol PP, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang guna memastikan penataan pedagang dan parkir berjalan optimal.

Sejumlah skenario telah disiapkan, di antaranya menempatkan personel di titik-titik rawan macet, pengaturan arus lalu lintas secara situasional, serta rekayasa lalu lintas apabila diperlukan. “Kami maksimalkan anggota untuk turun mengawasi, terutama menjelang berbuka puasa,” jelas Zulkarwin.

Selain itu, petugas juga akan melakukan patroli secara mobiling untuk memantau kondisi lalu lintas di beberapa ruas jalan sekaligus. Pola ini diharapkan dapat mencegah penumpukan kendaraan dalam waktu lama dan menjaga kelancaran arus kendaraan.

Mantan Camat Selaparang ini mengharapkan partisipasi masyarakat, baik pengendara maupun penjual takjil, untuk bersama-sama menjaga ketertiban. Ia menegaskan aktivitas ekonomi tetap diperbolehkan selama tidak menggunakan trotoar dan bahu jalan yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas.

“Kami tidak melarang masyarakat berjualan, tetapi harus tetap tertib. Jangan sampai menggunakan badan jalan atau trotoar yang dapat membahayakan pengguna jalan,” tegasnya.

Ia juga meminta peran aktif juru parkir untuk mengarahkan pengendara memarkirkan kendaraan di lokasi yang telah ditentukan agar tidak menimbulkan kemacetan baru. Dengan kerja sama seluruh pihak, Dishub berharap suasana Ramadan di Kota Mataram tetap aman, nyaman, dan lancar bagi seluruh masyarakat. (pan)

Lonjakan Harga Cabai, Distan Lotim Sebut Tantangan Berat Tanam di Musim Hujan

0
Lonjakan Harga Cabai, Distan Lotim Sebut Tantangan Berat Tanam di Musim Hujan
Tanaman cabai yang rusak terkena hama saat musim hujan. (suarantb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Distan Lotim) mencatat tantangan besar dalam budi daya cabai selama musim hujan yang berkepanjangan. Kondisi ini menjadi penyebab utama fluktuasi harga yang terjadi di pasaran, cabai rawit sempat menyentuh harga tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini harganya sudah tembus Rp100 ribu per kilogram (kg).

Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, menjawab Suara NTB, Kamis (19/2/2026) mengungkapkan bahwa luas tanam cabai pada musim tanam 2025 hingga Januari 2026 tercatat seluas 693 hektare. Dari lahan seluas itu, total produksi mencapai 2.769 ton dengan rata-rata produktivitas 39,97 kuintal per hektare. Meski terbilang produktif, cuaca ekstrem menjadi kendala utama dalam budidaya. Selama beberapa bulan terakhir ini, tanaman cabai banyak yang rusak.

Menurutnya, curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan gagal panen akibat busuk buah dan serangan hama. Sebagai daerah sentra produksi cabai nasional, Lotim sebenarnya memiliki potensi besar. Dalam situasi cuaca normal, produksi cabai Lotim tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah luar Lotim. Champion Cabai kedap mengirim ke luar daerah 4-5 ton per hari.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lotim telah berupaya membantu petani melalui program pembuatan green house atau rumah tanaman. Namun, Mamiq Kas mengakui bahwa jumlahnya masih sangat terbatas sehingga belum bisa maksimal dalam melindungi tanaman dari curah hujan.

“Ada empat kelompok yang sudah kita berikan bantuan untuk pembuatan green house, dengan luas 5 are satu green house,” jelasnya .

Di sisi lain, lonjakan harga cabai di tingkat konsumen sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Data dari Dinas Perdagangan Lotim mencatat, harga cabai rawit sebelumnya sempat melonjak hingga Rp80.000 per kilogram, namun kini berangsur normal di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram . Bahkan, pada awal Februari 2026, harga cabai rawit di tingkat NTB sempat menyentuh Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram akibat curah hujan tinggi dan meningkatnya permintaan lokal serta pengiriman ke luar daerah .

Menanggapi dinamika harga ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Perdagangan terus berkolaborasi dengan para pengusaha atau yang disebut “Champion Cabai” untuk melakukan stabilisasi harga. Upaya yang dilakukan antara lain dengan menggelar gerakan pasar murah di seluruh wilayah kecamatan.

“Peran mereka sangat strategis dalam menjaga kestabilan harga cabai di pasar,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Lotim, Hadi Fathurrahman saat dikonfirmasi terpisah.

Gerakan pasar murah ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat di tengah fluktuasi harga sekaligus mengendalikan inflasi daerah menjelang bulan suci Ramadan. Pemerintah daerah juga terus mengimbau para distributor untuk memprioritaskan kebutuhan lokal sebelum mengirimkan komoditas ke luar daerah.

Dengan sinergi antara dinas teknis dan para pelaku usaha, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur optimistis dapat menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga cabai, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dengan harga yang terjangkau. (rus)

Selama Ramadan, Warung dan Tempat Hiburan di Loteng Diminta Tidak Buka Siang Hari

0
Selama Ramadan, Warung dan Tempat Hiburan di Loteng Diminta Tidak Buka Siang Hari
Zaenal Mustakim

Praya (ekbisntb.com) – Memasuki bulan Ramadan tahun ini para pemilik warung, rumah makan hingga tempat hiburan di seluruh wilayah di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) diminta untuk tidak buka pada siang hari. Jika peringatan tersebut tidak diindahkan, pemerintah daerah dalam hal ini Sat Pol PP Loteng tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas.

Demikian disampaikan Kasat Pol PP Loteng, Zaenal Mustakim, kepada awak media, Kamis (19/2/2026). Ditemuai usai mengikuti agenda rapat paripurna DPRD Loteng di gedung DPRD Loteng, Zaenal Mustakim mengatakan, tidak buka atau melayani konsumen pada siang hari sebagai cara untuk menghargai dan menghormati warga yang tengah menjalani ibadah puasa. Langkah ini juga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Bukannya pemerintah daerah melarang warung atau tempat hiburan untuk buka selama bulan puasa. Tapi waktunya yang perlu diatur. Jadi kalau mau buka, silahkan mulai pukul 16.00 Wita,” sebutnya.

Pol PP Loteng sendiri nantinya akan mengerahkan tim patroli untuk mengawasi warung, rumah makan hingga tempat hiburan yang ada. Jika kemudian ditemukan ada yang membandel, pihaknya tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas. “Kalau sudah diperingatkan, tetapi tetap membandel ya kita tindak tegas,” ujarnya.

Selain warung dan tempat hiburan, pengawasan juga akan dilakukan terhadap aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat saat bulan puasa. Seperti peredaran minas hingga petasan. Patroli dan pengawasan akan dilakukan secara berkala dengan melibatkan hampir semua personel Pol PP Loteng. Baik yang ada di kabupaten hingga kecamatan dan desa.

Dalam hal ini pihaknya juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang mengganggu ketertiban. Seperti menyalakan petasan, apalagi sampai perang petasan. Karena selain berbahaya, itu bisa mengganggu kenyamanan masyarakat saat beribadah.

“Prinsipnya mari kiita bersama-sama menjaga ketertiban selama bulan puasa kali ini. Agar masyarakat bisa tenang, beribadah juga bisa lebih khusyuk,” tegas mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Loteng ini. (kir)