Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 251

Sambut Tahun Baru Islam, Pemprov NTB Gelar GPM

0
Kegiatan GPM di Lobar, Rabu, 25 Juni 2025. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemprov NTB melalui Dinas Ketahanan Pangan NTB terus gencar melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang disambut antusias oleh masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di halaman depan Pasar Seni Sesele, Lombok Barat, pada Rabu 25 Juni 2025.

Mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Kepala Bidang PSDE dan Distribusi Pangan, Raisah, SE., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan GPM ini telah digelar di beberapa lokasi, dan yang dilaksanakan kali ini merupakan yang ke-7.

Dijelaskan Kabid Raisah, GPM kali ini digelar dalam rangka menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Tahun Baru Islam 1447 H.

“Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan pangan jelang perayaan Tahun Baru Islam 1447 H,” ungkapnya.

Diharapkan, melalui kegiatan GPM ini, stabilisasi pasokan dan harga pangan dapat terjamin dan tetap terjangkau bagi masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.

Kabid Raisah menambahkan bahwa tujuan GPM adalah untuk menyediakan akses ekonomi yang lebih dekat bagi masyarakat dalam mendapatkan komoditas pangan murah, khususnya bagi mereka yang tinggal jauh dari akses pasar.

Dalam pelaksanaannya, GPM melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti perwakilan Bulog, Bank Indonesia, UMKM lokal binaan Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Perdagangan, Dinas Perindustrian, serta ID Food dan ritel modern seperti Niaga Supermarket, Ruby Supermarket, MGM Supermarket, Alfamart, Asosiasi Petarung, perwakilan Indo Lautan Makmur, dan lain sebagainya.

Salah seorang warga Sesele, Ibu Fatma, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas terselenggaranya kegiatan GPM yang menyediakan harga komoditas pangan di bawah harga pasar.

“Selain harganya murah, kualitasnya juga bagus. Beda dua ribuan dengan yang di pasar, lumayan untuk menghemat pengeluaran. Contohnya, saya di sini beli beras, telur, minyak, seperti masyarakat lainnya,” katanya. (era)

Mori Hanafi Desak Pemerintah Pusat Perkuat Fasilitas SAR di NTB

0
Proses evakuasi korban asal Brasil, Rabu, 25 Juni 2025 di Mataram. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, mendorong pemerintah pusat untuk segera meningkatkan standar dan kelengkapan sarana evakuasi serta penyelamatan di Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama pasca-insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana (27), yang jatuh di jurang kedalaman 600 meter menuju puncak Rinjani di kawasan Cemara Nunggal pada Sabtu, 21 Juni 2025 lalu.

Mori menyatakan dirinya telah memantau langsung proses evakuasi korban. Berdasarkan pantauannya, adanya kekurangan fasilitas yang dimiliki Basarnas di wilayah NTB, termasuk minimnya ketersediaan alat evakuasi modern. Saat ini, secara nasional Indonesia hanya memiliki sekitar 10 helikopter SAR, dan NTB belum memiliki satu pun unit yang siap siaga secara permanen.

“Berangkat daripada itu, apa yang terjadi di rinjani adalah pembelajaran bahwa kejadian ini tidak akan terulang,” ujarnya, Rabu, 25 Juni 2025.

Ia mengatakan telah menghubungi Sekretaris Utama Basarnas di Jakarta untuk meminta agar NTB segera dipenuhi standar minimum alat-alat SAR, mulai dari drone canggih, tali evakuasi, hingga peralatan darurat lainnya.

Meski menyadari bahwa pengadaan helikopter memerlukan biaya besar dan konsekuensi perawatan serta personel yang kompleks, Mori menekankan pentingnya efisiensi dan keberlanjutan.

“Tidak, saya tidak mengatakan seperti itu, karena pengadaan helikopter bisa saja katakanlan 100 miliar tapi setelah itu kan perawatan, pemeliharaan, awaknya harus ada di sini, rumah awaknya, kan repot juga, kita belum kuat,” katanya.

Selain sarana fisik, Mori juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat lokal, khususnya pemandu dan porter di kawasan Rinjani. Ia meminta agar Pemprov NTB bekerja sama dengan Basarnas untuk melatih masyarakat sekitar agar mampu memberikan pertolongan pertama saat insiden terjadi.

“Ini masyarakat sekitar yang menjadi gaet swakelola tentunya titik pesan saya agar Pemda dan Pemprov bisa memberdayakan masyarakat lokal, memberikan pengertian, pendidikan bahwa pentingnya pengamanan,” sambungnya.

Ketua Umum KONI NTB ini juga menyoroti polemik dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) yang seluruhnya disetor ke pusat dan tidak dialokasikan kembali untuk penguatan fasilitas daerah. Ia menyarankan agar pemerintah pusat mempertimbangkan kebijakan lebih adil demi menjaga keamanan kawasan wisata strategis seperti Rinjani.

“Pusat mohon kebijakan lah untuk menjaga kawasan itu. Cuma kan mungkin sudah, tapi tidak memadai. Jadi kalau bisa saran saya ke Pemerintah Pusat agar semua keselamatan dan standar kepada pendaki dipenuhi, pasti biayanya ga kecil biayanya besar, tapi kan cuma sekali,” pungkasnya. (era)

Dorong Pariwisata NTB Mendunia, Pemprov NTB Perlu Selesaikan Masalah Dasar

0
Ketua PHRI NTB, Ni Ketut Wolini saat menjelaskan tentang pariwisata NTB mendunia, Rabu, 25 Juni 2025 di Mataram. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) mendunia sebagaimana visi dalam RPJMD terus digaungkan oleh pemerintah daerah. Namun, di balik ambisi besar itu, masalah-masalah mendasar terkait kepariwisataan justru belum tuntas. Pelaku industri pariwisata menilai, jika masalah yang terjadi di lapangan tak segera diselesaikan, mimpi besar itu bisa mandek di tengah jalan.

Demikian disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini. Dalam rapat kerja penyusunan program kerja PHRI NTB yang dihadiri oleh asosiasi perhotelan dan stakeholder pariwisata, salah satu masalah yang disorot adalah lemahnya koordinasi antara pemerintah daerah.

“Bagaimana sinkronisasi antara stakeholder dengan pemerintah. Harusnya perizinan dipermudah,” ujarnya, Rabu, 25 Juni 2025.

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah sinkronisasi perizinan terkait pembangunan hotel bintang lima di kawasan pantai Tanjung Aan, Desa Sengkol Kecamatan Pujut, Lombok Tengah oleh Injourney Tourism Development Corporation (ITDC). “Yang seperti itu perlu kita bahas bersama,” sambungnya.

Selain itu, konflik yang terjadi di Teluk Ekas, Lombok Timur juga harus terselesaikan. Ia menilai, masalah yang melibatkan dua kabupaten yaitu Lombok Timur dan Lombok Tengah ini mencerminkan buruknya komunikasi dan penanganan masalah di sektor pariwisata.

“Itulah masalah kecil itu ya kita harus selesaikan dulu baru kita bisa mendunia. Kalau itu masih ada riak-riak seperti itu bisa saja orang yang ditawarkan enggak datang. Nah harus duduk bareng. Artinya jangan saling salahkan lah. Kita sama-sama punya misi membangun bagaimana pariwisata di NTB ini untuk maju,” jelasnya.

Yang tak kalah menjadi persoalan, kondisi perhotelan saat ini sebab adanya efisiensi. Efisiensi berdasarkan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 telah menyebabkan lebih dari seribu pekerja berpeluang dirumahkan, mulai dari pegawai kontrak hingga tenaga kerja lepas atau casual.

“Sangat turun (okupansi) daripada yang sebelum efisiensi gitu. Sangat terburuk dan ini kalau terus seperti ini imbasnya akan ke tenaga kerja. Nah sekarang ini kan sudah banyak hotel yang merumahkan karyawan, terutama karyawan kontrak,” jelasnya.

Adapun dengan adanya pelonggaran kebijakan dari Kementerian Dalam Negeri agar pemerintah daerah bisa kembali melakukan rapat di hotel, Wolini sangat menyambut hal ini. Namun, hingga kini belum ada bentuk nyata dari kebijakan kelonggaran tersebut.

“Bagus, cuman kan baru sebatas itu, belum ditindaklanjuti dengan anggaran. Kan kalau umpama, dibuka saja, dibolehkan, tapi kalau anggarannya tidak ada kan sama saja. Kan harus disertai dengan itu,” tuturnya.

Tak hanya itu, tingginya harga hotel juga masih menjadi persoalan. Untuk itu dalam program kerja PHRI tahun ini berupaya untuk menyepakati harga hotel bersama dengan pihak ketiga. “Mereka menaikan rate (harga) di situ. Itulah yang mau kita sikapi bersama,” pungkasnya.

Plh Kepala Dinas Pariwisata NTB, Chandra Aprinova mengatakan seluruh stakeholder di NTB, termasuk PHRI akan berupaya bagaimana memajukan pariwisata NTB ke depan sesuai dengan bidangnya, yaitu pelayanan hotel dan restoran.

Untuk mencapai visi pariwisata mendunia, PHRI wajib meningkatkan pelayanan, mulai dari digitalisasi pelayanan hotel, menjamin keamanan dan keselamatan tamu-tamu hotel dan restoran. “Itu cara kita memberikan pelayanan sehingga kualitas pariwisata kita mendunia,” ucapnya.

PHRI juga didorong untuk menjalin kerja sama dengan PHRI terdekat seperti Bali dan NTT. Sehingga pergerakan wisatawan dari Bali dan NTT bisa masuk radar NTB sehingga kunjungan wisatawan ke daerah ini meningkat.

Terakhir, PHRI diminta untuk bersiap memberikan pelayanan terbaik pada saat event-event besar daerah. “Dalam waktu dekat ada Fornas dan pertemuan Pedanda, nah bagaimana di situ hotel menyiapkan diri mulai dari kebersihannya, kenyamanannya, kebersihannya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah mempertahankan standar hotel yang layak dan berkeadilan,” pungkasnya. (era)

Dampak Perang Iran-Israel dan AS, BP3MI NTB: Belum Ada Laporan dari Keluarga PMI

0
Noerman Adhiguna (ekbisntb.com/ham)

Lombok (ekbisntb.com) – Memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, hingga kini belum berdampak langsung terhadap para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat. Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB, Noerman Adhiguna, memastikan belum ada laporan dari keluarga PMI terkait kondisi keluarganya yang bekerja di negara-negara yang terlibat konflik tersebut.

“Hingga saat ini belum ada satu pun laporan masuk ke kami dari keluarga PMI, baik yang bekerja di Iran, Qatar, maupun negara Timur Tengah lainnya yang tengah mengalami ketegangan geopolitik,” ujar Noerman, Rabu, 25 Juni 2025.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia sudah sejak lama memberlakukan moratorium pengiriman PMI ke sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Iran, sejak tahun 2015. Dengan demikian, jika saat ini masih ada WNI yang bekerja di kawasan konflik tersebut, besar kemungkinan mereka berangkat melalui jalur non-prosedural.

“Moratorium belum dicabut sampai sekarang. Kalau ada yang bekerja di negara-negara itu, kemungkinan mereka berangkat tidak lewat jalur resmi,” jelasnya.

Meskipun belum ada laporan resmi yang masuk, BP3MI NTB tetap waspada dan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah bersama kementerian terkait, terutama Kementerian Luar Negeri RI.

“Kami terus melakukan pemantauan, apalagi jika ada warga NTB yang terdampak secara langsung. Kalau ada kejadian darurat, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian P2MI pasti sudah menginformasikan,” katanya.

Menurut Noerman, salah satu bentuk kesiapsiagaan adalah memastikan jalur komunikasi tetap terbuka antara keluarga PMI dan lembaga resmi. Hal ini penting untuk mendeteksi lebih dini jika muncul ancaman terhadap keselamatan WNI di luar negeri.

BP3MI NTB mengimbau kepada masyarakat yang memiliki keluarga di luar negeri, terutama di kawasan rawan konflik, agar segera melapor jika mengalami kesulitan komunikasi atau mengetahui adanya potensi bahaya.

“Silakan laporkan ke kami jika ada hal yang mengkhawatirkan, agar kami bisa koordinasi lebih lanjut dengan kementerian terkait,” pungkasnya.(bul)

KADIN: Peluang Emas, NTB Kekurangan Ratusan Dapur MBG

0
H. Faurani(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Provinsi Nusa Tenggara Barat masih kekurangan ratusan Dapur MBG (Makanan Bergizi Gratis) untuk mendukung program makan siang gratis Presiden Prabowo.

Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Provinsi NTB, H. Faurani, SE., MBA mengungkapkan, dari kebutuhan 400 dapur MBG di NTB, baru sekitar 100 dapur yang siap beroperasi.

“Target kami sendiri dari KADIN NTB awalnya adalah membentuk 50 dapur. Alhamdulillah saat ini sudah 32 dapur berjalan. Sebagian lainnya masih menunggu kesiapan SDM seperti kepala dapur atau Supervisor Gizi,” ujarnya, Rabu, 25 Juni 2025.

Faurani, yang juga menjabat sebagai Satgas Dapur MBG KADIN Indonesia ini menyebutkan bahwa dapur MBG sangat penting untuk menciptakan perputaran ekonomi lokal. Setiap dapur membutuhkan investasi sekitar Rp1,2 miliar dan dapat menyerap hingga 47 tenaga kerja lokal.

“Satu dapur bisa menggerakkan uang hingga Rp900 juta per bulan kalau sudah mulai jalan. Belum termasuk bahan baku dari petani dan UMKM sekitar. Ini sangat berdampak bagi ekonomi masyarakat,” katanya.

Faurani menjelaskan bahwa pembangunan dapur MBG sangat fleksibel. Tidak harus membangun baru, pelaku usaha bisa menggunakan rumah kosong, kafe yang tutup, atau gudang tak terpakai. Biaya investasi pun bisa ditekan tergantung kondisi bangunan yang dimanfaatkan.

“Kalau pakai bangunan yang sudah ada, tentu lebih murah dari Rp1,2 miliar. Yang penting memenuhi standar kelayakan dapur,” katanya.

KADIN NTB siap mendampingi para pelaku usaha atau masyarakat yang ingin membuka dapur MBG, mulai dari proses perizinan, pembangunan, hingga operasional. Proses pendaftaran dilakukan secara online melalui sistem dari Badan Gizi Nasional, dengan masa persiapan pembangunan yang relative singkat.

“Setelah pembangunan selesai, akan ada verifikasi dan pendampingan lanjutan. Bahkan, untuk tenaga dapur tidak harus koki profesional. Orang kampung yang pandai masak pun bisa, nanti ada pelatihan dan sertifikasi dari BGN, dan Kadin juga akan tetap mendampingi,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan dukungan akuntansi dan pelaporan keuangan, serta pembekalan dari ahli gizi untuk mendukung operasional dapur MBG.

“Ini peluang yang luar biasa. Siapa pun yang tertarik, silakan. Kami siap mendampingi,” tambah Faurani.

Dengan target 400 dapur, peluang investasi di sektor ini masih sangat terbuka. KADIN NTB mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak melewatkan kesempatan ini.

“Sayang kalau dilewatkan. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga kontribusi untuk perbaikan gizi masyarakat. Ada 1,3 juta sasaran program MBG di NTB. Kita harus memenuhi kebutuhan dapur untuk mereka,” tegasnya.(bul)

Pendaki Brazil Ditemukan Meninggal Dunia di Jurang Rinjani

0
Tim SAR Gabungan terus melanjutkan evakuasi pendaki asal Brasil di Rinjani. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap JDSP (27), warga negara Brazil yang sebelumnya dilaporkan jatuh di Gunung Rinjani, berakhir dengan kabar duka.

Tim SAR gabungan menemukan korban dalam keadaan meninggal dunia pada Selasa 24 Ju di kedalaman sekitar 600 meter.

Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi menerangkan, salah satu personil berhasil mencapai lokasi korban di jurang sekitar pukul 18.00 WITA di datum point.

“Setelah pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan pada korban,” terang Hariyadi.

Konfirmasi status meninggal dunia diperkuat setelah tiga personil lainnya, menyusul turun dan memastikan kondisi korban. Jenazah kemudian langsung di-wrapping (dibungkus) untuk persiapan evakuasi.

“Menyusul temuan ini, tim SAR yang berada di Last Known Position (LKP) atau lokasi terakhir korban terlihat,segera menyiapkan sistem evakuasi,” tambahnya.

Tujuh orang personel melakukan flying camp atau menginap di sekitar lokasi, dengan tiga orang di anchor point kedua (kedalaman 400 meter) dan empat orang lainnya berada di samping korban (kedalaman 600 meter).

Keputusan untuk menunda evakuasi dikarenakan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dan visibilitas yang sangat terbatas. Proses evakuasi dilanjutkan pagi hari ini, Rabu 25 Juni 2025 dimana jenazah rencananya akan diangkat (lifting) terlebih dahulu ke atas (LKP).

“Kemudian dievakuasi dengan ditandu menyusuri rute pendakian menuju Posko Sembalun,” tambahnya.

Selanjutnya, dari Posko Sembalun, jenazah akan dievakuasi menggunakan helikopter menuju RS Bhayangkara Polda NTB untuk penanganan lebih lanjut.

Seluruh tim berharap proses evakuasi yang akan dilaksanakan pagi ini dapat berjalan lancar dan aman sesuai rencana.(bul)

Lotim Siapkan Strategi Entaskan Kemiskinan

0
Edwin Hadiwijaya (ekbisntb.com/rus)

Lombok (ekbisntb.com) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) sudah siapkan strategi untuk mengentaskan kemiskinan. Selain mengandalkan program bantuan sosial dalam berbagai bentuk, sejumlah trobosan sudah dicanangkan sehingga angka kemiskinan di Lotim yang saat ini 14,51 persen terus bisa ditekan.

Koordinator Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) yang juga Wakil Bupati Lotim H. Muhammad Edwin Hadiwijaya menguraikan ia akan coba memulai dengan menyisir data-data by name by address warga miskin.

Sebagai contoh sebut Wabup, data Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN sebanyak 95 ribu dinonaktifkan oleh pemerintah pusat. Hal ini diyakini karena persoalan data yang harus diselesaikan.

Bupati sudah memerintahkan untuk melakukan validasi data. Dicari data warga yang benar-benar miskin sehingga sasaran program bantuan tepat sasaran

Selain itu, akan dorong munculnya pelaku usaha muda yang kreatif dan inovatif. Melakukan hilirisasi komoditi pertanian seperti Porang. Dikatakan saat ini tengah dicari lahan tempat menanam Porang. Produksi Porang sudah siap dibeli dan diolah oleh pabrik Porang yang ada di Pringgabaya dengan kapasitas produksi 50-80 ton perhari.

Sedang cari juga lokasi lahan 200 ha untuk tanam pisang. Pisang ini diyakini juga pasarnya sangat jelas dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani.

Lainnya, mengembangkan budidaya bawang putih Sembalun. Sembalun diketahui sudah ditetapkan menjadi sentra benih nasional. Selama ini pemerintah kesulitan untuk mencari bibit. Sembalun yang pernah jaya dengan bawang putih ini kembali akan digencarkan untuk bisa terus produksi.

“Sekarang yang fokus kita di bawang putih,” imbuhnya. Selama republik berdiri negara tak pernah punya bibit. Tahun 2025, ada 95 ha untuk upland, 288 ha ditambah 60 ha untuk pengembangan . 10 hektar dari perhimpunan alumni perguruan tinggi negeri yang didorong Mentan. 13 hektar masuk satgas Pangan dan 55 ha dari perusahaan importir bawang putih.

Sekarang sedang cari lahan lagi untuk perluasan areal tanam. Sembalun hanya 1.400 ha. Jumlah itu tak mencukupi. Seme tata targetnya 5 ribu ha lahan tempat bawang putih dicanangkan. Sehingga untuk memenuhi itu akan cari lahan di Sapit, Suela, Bebidas, Berjarak. Termasuk di bagian atas Pringgasela.(rus)

Harga Rawit Melonjak Dampak Cuaca, Demo Sopir Truk, dan Stok Kosong

0
Komoditas cabai rawit merah(ekbisntb.com/dok)

Lombok (ekbisntb.com) – Harga cabai rawit merah di Kota Mataram melesat hingga Rp90 ribu per kilogram. Lonjakan drastis ini terjadi akibat tiga faktor yang bertemu dalam waktu bersamaan: cuaca buruk, aksi demo sopir truk ODOL, dan kosongnya pasokan cabai dari luar daerah.

Harga cabai makin pedas, kantong warga makin kering. Di Pasar Pagesangan, salah seorang pedagang cabai, Halimah menyebut lonjakan harga sudah terasa sejak minggu lalu, membuat jual-beli jadi serba tanggung.

“Dari minggu lalu sudah naik, sekarang Rp90 ribu per kilo. Sebelumnya cuma Rp30 sampai Rp40 ribu. Sekarang kami jual sedikit-sedikit saja, takut rugi. Awalnya kami kira karena cuaca, tapi kata pengepul stok dari luar kosong. Jadi yang kita jual ini cabai lokal,” ujarnya, Senin 23 Juni 2025.

Pedagang cabai lainnya di pasar yang sama, Junaidah, juga mengeluhkan hal serupa. “Biasanya ada dari Jawa. Sekarang kosong. Katanya truk-truk besar yang biasa angkut barang lagi demo, jadi nggak bisa masuk,” ujarnya.

Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Mataram memang tak bersahabat. Jika sebelumnya berkisar Rp40–Rp57 ribu per kilogram, kini melonjak hingga Rp90 ribu. Berdasarkan data Dinas Perdagangan Kota Mataram, Pasar Mandalika mencatat harga Rp75 ribu per kilogram, Kebon Roek Rp80 ribu, dan Dasan Agung sekitar Rp85 ribu.

Plh Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Martawang, melalui Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting), Sri Wahyunida, membenarkan tren kenaikan ini mulai terasa sejak Sabtu, 21 Juni 2025.

“Tiap hari naik. Tiga faktor saling terkait. Pertama cuaca buruk, lalu pasokan dari Jawa tidak masuk, dan demo sopir truk ODOL membuat distribusi antarpulau terganggu. Sekarang yang dijual di pasar hanya cabai lokal dari Lombok Timur dan Lombok Barat,” jelas Nida saat dikonfirmasi, Selasa 24 Juni 2025.

Menurutnya, demo sopir truk besar yang menolak aturan Over Dimension Over Loading (ODOL) telah menghambat distribusi bahan pokok, termasuk cabai.

“Seperti yang kita tahu, dua sampai tiga hari lalu ada demo ODOL. Itu salah satu penyebab stok dari luar tidak masuk ke NTB,” tambahnya.

Sebagai respons cepat, Pemerintah Kota Mataram menggelar Operasi Pasar Keliling (Kopling) sejak Minggu, 22 Juni 2025. Dalam operasi ini, cabai dijual lebih murah, yakni Rp60 ribu per kilogram, di sejumlah titik strategis.

“Kita gelar Kopling di Taman Udayana, Karang Anyar, Monjok, Banjar, dan terakhir nanti di Abian Tubuh. Harapannya bisa membantu masyarakat yang kesulitan,” sebutnya.

Ia juga membawa kabar baik: “Insyaallah, cabai dari Bima akan masuk besok dan langsung kita salurkan lewat Kopling,” pungkasnya. (hir)

Warga Miskin Ekstrem di KLU Tersisa 1.045 KK

0
Sekda Lombok Utara, Anding Duwi Cahyadi, S.STP.(ekbisntb.com/ari)

Lombok (ekbisntb.com) – Warga miskin ekstrem di Kabupaten Lombok Utara terus berkurang. Data tahun 2023 mencatat sisa warga pada kelompok ini sebanyak 1.045 KK.

Hal tersebut dikatakan Sekda Lombok Utara, Anding Duwi Cahyadi, S.STP., MM., dalam sidang paripurna DPRD KLU, Selasa 24 Juni 2025. Dikatakan, Pemda Lombok Utara terus berupaya untuk menurunkan data jumlah warga kategori miskin ekstrim melalui berbagai program.

“Verifikasi dan validasi data pensasaran penghapusan kemiskinan ekstrim dilajukan secara berkala, yakni tahun 2022 dan 2024. Sesuai data PPKE (percepatan penghapusan kemiskinan ekstrim), jumlah warga miskin ekstrim pada tahun 2023, sebanyak 1.045 KK,” papar Sekda.

Ia menyambung, Pemda Lombok Utara akan melakukan verivali kembali pada tahun 2024. Dimana tahap ini sedang berjalan oleh dinas terkait.

Intervensi kepada warga miskin ekstrim dilakukan oleh Pemda melalui berbagai pendekatan program sosial. Antara lain, pembangunan rumah layak huni sebanyak 7 unit, penyediaan bahan bakar memasak seperti kompor gas, tabung, regulator sebanyak 35 set. Kemudian penyediaan air minum melalui Sambungan Rumah (SR) sebanyak 8 KK, penyediaan septic tank sebanyak 1 unit. “Ada juga program perlindungan Jamsostek kepada sasaran sebanyak 13 orang,” imbuhnya.

Sementara pada aspek kesehatan, dukungan jaminan perlindungan kesehatan kepada warga telah dipenuhi melalui program UHC (Universal Health Coverage), serta pemberian sembako dan perlindungan dan penempatan pekerja migran Indonesia sebanyak 4 orang,” paparnya.

Pemda KLU juga menyadari, sebaran profesi warga masih dominan pada sektor pertanian. Oleh karena itu, dukungan yang diberikan daerah kepada warganya adalah dengan memberikan alat tangkap untuk 175 KK, Saprodi budidaya perikanan kepada 71 KK, peralatan pengolahan ikan kepada 4 KK, serta peningkatan keterampilan kepariwisataan, hingga penyediaan bibjt geenak kambing dan sapi untuk 327 KK. (ari)

Bulog Kembali Lelang Jagung Pengadaan Tahun 2025

0
Zuhri Hanafi(ekbisntb.com/dok)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik  (Bulog) Sumbawa, kembali melepas jagung pengadaan tahun 2024 melalui mekanisme lelang terbuka sebanyak 16.000 ton sehingga Bulog bisa melakukan penyerapan jagung kembali.

“Di tahap pertama kita sudah melepas sebanyak 10.000 ton, di tahap kedua kita akan kembali melepas 16.000 ton dan kami berharap dalam beberapa minggu kedepan sudah tuntas,” kata Pimpinan cabang Bulog Sumbawa, Zuhri Hanafi kepada Ekbis NTB, Selasa 24 Juni 2025.

Zuhri melanjutkan, pelepasan jagung ke pasar ini dilakukan supaya ada space gudang untuk menyerap jagung produksi tahun 2025. Apalagi kondisi saat ini produksi jagung di Sumbawa dan Sumbawa Barat cukup tinggi sementara gudang sangat terbatas.

“Keterbatasan serapan jagung kita saat ini yakni di ketersediaan gudang, sehingga kami berharap proses lelang bisa segera tuntas untuk penyerapan jagung tahun 2025,” ujarnya.

Dia melanjutkan, target serapan jagung tahun ini mencapai 23.000 ton sementara realisasi hingga saat ini baru di angka 8.000 ton. Belum maksimalnya serapan dilakukan karena keterbatasan tempat penyimpanan (gudang) belum lagi jagung yang diadakan tahun 2024 juga belum laku semuanya.

“Kita telat melepas jagung tersebut ke pasar karena pemerintah belum memberikan izin untuk melepas, sehingga itu yang menjadi kendala kita dalam penyerapan tahun ini,” jelasnya.

Dia pun meyakinkan, bahwa Bulog Sumbawa  pada prinsipnya sudah sangat siap melakukan penyHanafi jagung dengan catatan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Bahkan pihaknya akan tetap berupaya menyiapkan gudang untuk penyerapan jagung kembali.

“Pasti akan kita siapkan gudang jika kondisinya dalam keadaan kosong, makanya kita berharap agar mobilisasi jagung melalui lelang bisa terealisasi,” timpalnya.

Sementara untuk mekanisme penyerapan jagung lanjutnya, tetap sama seperti pembelian jagung dengan ketentuan kadar air tentu. Pihaknya pun melakukan penyerapan dengan menggandeng sejumlah mitra Bulog yang melakukan tanda tangan kontrak.

“Harga pembelian tetap disesuaikan dengan Kadar Air (KA). Misalnya KA 30 persen sesuai ketetapan Bapanas yakni Rp 4.000 per kilogram, KA 20 persen Rp 4.100 dan seterusnya. Nanti di gudang, Bulog terima dari mitra KA 15 persen harga Rp 5.500,” tukasnya. (ils)