Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 241

Ditengah Cuaca Buruk, Dewan Pertanyakan Kelayakan Kapal Penyeberangan Kayangan-Poto Tano 

0
Abdul Rahim(ekbisntb.com/ndi)

Lombok (ekbisntb.com) – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi NTB, Abdul Rahim menyoroti kelayakan kapal penyeberangan yang beroperasi di Pelabuhan Poto Tano – Kayangan. Pasalnya, kondisi sebagian kapal penumpang penyeberangan rute tersebut dinilai sudah tak layak.

Abdul Rahim meminta Dinas Perhubungan (Dishub) NTB agar memberikan atensi serius terhadap kondisi tersebut dengan segera melakukan pengecekan kondisi kapal-kapal tersebut. Menurut dia, hal ini jadi penting untuk diperhatikan, karena menyangkut kenyamanan, keamanan dan keselamatan para penumpang.

“Banyak pengaduan dan keluhan dari masyarakat soal kelayakan kapal-kapal penyeberangan yang beroperasi di Pelabuhan Tano-Kayangan dan Kayangan-Tano ini. Kita harapkan Dishub tidak menutup mata atas kondisi tersebut,” ujar Abdul Rahim.

Disamping menerima banyaknya keluhan masyarakat, politisi PDIP yang akrab disapa Bram itu mengaku secara pribadi juga pernah memiliki pengalaman yang kurang mengenakan pada saat melakukan penyeberangan.

Hal itu terjadi lantaran sebagian kapal dinilai sudah uzur atau tua dan kecil. Oleh karenanya, beberapa kapal dinilai sudah tidak layak untuk beroperasi. Ditambah lagi, dengan situasi dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat saat ini.

Sehingga dibutuhkan kapal-kapal penyebrangan yang betul-betul layak memenuhi standar dengan kondisi baik untuk beroperasi. “Karena bagaimanapun atau apapun teorinya, keamanan, kenyamanan dan keselamatan penumpang yang utama diatas segala-galanya,” tegasnya.

“Disini saya juga mempertanyakan khusus kepada Dishub NTB, memangnya seperti apa dan bagaimana standar kelayakan kapal penyeberangan (beroperasi) di Tano-Kayangan dan Kayangan-Tano ini,” tanyanya sembari meminta Dishub NTB segera bersikap.

Abdul Rahim pun lantas mengingatkan, agar persoalan ini jangan sampai berlarut dan menimbulkan kesan pemerintah abai dengan keselamatan para penumpang. Lebih-lebih ditengah situasi kondisi cuaca yang sedang tidak bersahabat.

“Jangan sampai menimbulkan kesan seolah-olah kita ini abai kepada keselamatan penumpang. Sekali lagi saya tekankan kepada semua pihak terkait, bahwa kenyamanan, keamanan dan keselamatan diatas segala-galanya,” tegasnya.

“Apalagi kondisi cuaca seperti saat ini. Jadi pihak-pihak terkait harus intens berkoordinasi. Kalau memang cuaca kiranya belum aman untuk diseberangi, jangan dipaksakan untuk menyeberang atau dibukanya penyeberangan sampai keadaan cuaca di laut benar-benar aman. Intinya, keamanan, kenyamanan dan keselamatan penumpang yang utama diatas segala-galanya,” pungkasnya. (ndi)

Gapasdap Lembar Pastikan Kapal di Selat Lombok Layak Operasi

0
Firman Dandy(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) –Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Lembar menegaskan bahwa seluruh kapal penyeberangan yang beroperasi di lintasan Selat Lombok dalam kondisi laik laut dan aman untuk berlayar.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Gapasdap Lembar, Firman Dandy, menyusul insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu (2/7) malam, yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan pelayaran di wilayah sekitar.

Firman menekankan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam operasional kapal di Selat Lombok. Ia memastikan seluruh kapal telah menjalani perawatan rutin, diawaki kru profesional, serta dilengkapi sistem manajemen keselamatan yang memadai. “Kondisi cuaca saat ini tergolong aman untuk pelayaran. Memang usia armada menjadi perhatian, tetapi semua kapal selalu dirawat dengan baik dan diawaki oleh tenaga yang kompeten,” ujarnya, Minggu (6/7).

Menurutnya, kelayakan kapal dicek secara berkala oleh otoritas pelabuhan. Kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan tidak akan mendapat izin berlayar. “Tidak ada kapal yang bisa beroperasi tanpa lolos pemeriksaan. Semua kapal yang berlayar telah dinyatakan laik laut oleh Syahbandar,” tambahnya.

Firman menjelaskan bahwa keselamatan pelayaran ditentukan oleh tiga unsur utama, yakni kondisi kapal, kualitas sumber daya manusia (SDM) atau kru, dan sistem pengawasan. Ketiga faktor ini harus berjalan seimbang untuk menjamin keamanan pelayaran. “Kalau hanya ada kapal dan kru, tapi tidak ada pengawasan dari regulator, maka keselamatan akan berisiko,” tegasnya.

Saat ini, Gapasdap Lembar membawahi sekitar 26 koperasi pengelola kapal penyeberangan, dengan sekitar 15 kapal yang beroperasi setiap hari di lintas Selat Lombok. Seluruh kapal ini berada di bawah pengawasan ketat otoritas pelabuhan, mulai dari pemeriksaan kondisi kapal, kru, hingga kelengkapan alat keselamatan.

Insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali diketahui terjadi sekitar pukul 23.35 WIB saat kapal dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali. Hingga Sabtu pagi (5/7), dari total 65 orang dalam manifest, 36 orang telah ditemukan, terdiri dari 30 selamat dan 6 meninggal dunia. Sebanyak 29 orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.

Gapasdap Lembar berharap kejadian serupa tidak terjadi di wilayah perairan Nusa Tenggara Barat. Firman menegaskan pentingnya sinergi antara operator kapal dan regulator dalam menjaga standar keselamatan. “Kami semua berkomitmen agar keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama,” tutupnya. (bul)

Warga Mataram Diimbau Waspadai Ancaman Virus Hanta dan Leptospirosis

0
H.Emirald Isfihan (ekbisntb.com/hir)

Lombok (ekbisntb.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dua penyakit yang ditularkan melalui tikus, yakni virus Hanta dan Leptospirosis. Kedua penyakit ini menjadi perhatian, terutama di saat hujan dan kondisi lingkungan yang lembab serta kurang bersih.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H.Emirald Isfihan, mengatakan bahwa penularan bisa terjadi melalui kotoran maupun urin tikus. “Untuk tikus itu, selain virus Hanta, ada juga namanya Leptospirosis. Itu biasanya dari kencing tikus. Kita harus jaga sekali sanitasi, karena biasanya ada campuran dari kotoran tikus,” ujarnya, Jumat, 4 Juli 2025.

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam urin hewan terinfeksi, seperti tikus, anjing, sapi, dan babi. Bakteri ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka, bahkan melalui kulit sehat apabila kontak terjadi cukup lama.

Menurut penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit di Salatiga, risiko penularan meningkat saat terjadi banjir atau genangan air, terutama jika ada luka di kaki atau tangan. Oleh sebab itu, Emirald mengingatkan agar warga menghindari kontak langsung dengan air kotor, terutama saat banjir.

“Kalau melakukan kontak, jangan langsung dengan kaki dan tangan terbuka. Karena kalau ada luka dan segala macamnya, bisa menjadi akses masuk ke tubuh kita,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa makanan yang dikonsumsi pun bisa saja terkontaminasi apabila tikus berkeliaran di rumah. Untuk itu, ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah.

“Konsumsi makanan kita juga bisa saja terkontaminasi kalau tikus banyak berkeliaran di area rumah. Makanan yang tercemar oleh tikus itu berbahaya,” katanya.

Tikus, menurutnya, cenderung tinggal dan berkembang biak di tempat-tempat yang kotor, gelap, dan dekat sumber makanan seperti sisa-sisa bahan makanan.

“Upaya kebersihan kita di rumah itu ditingkatkan. Perbaikan pola hidup yang bersih dan sehat. Tikus ini mencari tempat-tempat yang kotor, seperti di tempat sisa-sisa makanan. Atau di sudut-sudut rumah yang tidak terkontrol. Jadi upaya untuk membuat rumah bersih dan tertata itu menjadi harapan kita,” jelasnya.

Selain leptospirosis, virus Hanta atau Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) juga merupakan penyakit yang perlu diwaspadai. Virus ini termasuk dalam keluarga virus yang menyebar melalui kotoran, air kencing, atau gigitan tikus dan hewan pengerat lainnya.

Virus Hanta bisa menyebabkan infeksi serius, termasuk demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) dan sindrom gangguan pernapasan akut (HPS). Gejala awalnya mirip flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh terasa sangat lemas, hingga mata atau tubuh menguning.

Data Kementerian Kesehatan per 19 Juni 2025 mencatat delapan kasus virus Hanta di Indonesia. Seluruh pasien sembuh, namun belum tersedia pengobatan khusus yang secara langsung menargetkan virus ini. Penanganan bersifat suportif, yakni dengan meredakan gejala dan menjaga fungsi organ tubuh pasien. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan ancaman penyakit ini.

Meski penyakitnya tergolong berbahaya, Emirald memastikan bahwa fasilitas kesehatan telah siap memberikan penanganan apabila ada warga yang terpapar. “Pengobatan sudah ada dan sudah lama. Sekarang tinggal menuju ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan dan diberikan terapi yang sesuai,” tutupnya.

Langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting. Pemerintah Kota Mataram berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sanitasi, menutup akses tikus masuk ke rumah, serta mengenali gejala-gejala sejak dini sebagai bentuk kesiapsiagaan bersama terhadap ancaman penyakit zoonosis di lingkungan tempat tinggal.(hir)

Pemkot Anggarkan Rp200 Juta untuk Atasi Masalah Saluran Air MWP

0
Mataram Water Park (MWP) yang terletak di kompleks Taman Udayana ( ekbisntb.com/dok)

Lombok (ekbisntb.com) –Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram terus berupaya membenahi Mataram Water Park (MWP) yang berlokasi di Jalan Udayana. Fasilitas rekreasi air yang sempat ramai pada awal pembukaannya ini kini kembali mendapat perhatian, agar tak semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Mataram, Soehartono Toemiran, mengatakan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 juta pada tahun 2025. Dana tersebut difokuskan untuk memperbaiki saluran pembuangan air, yang selama ini menjadi salah satu kendala utama dalam pengelolaan kolam.

“Kita itu setiap tahun sudah berupaya membuat MWP lebih layak. Tapi tahun ini, kendala utamanya di saluran pembuangan air, makanya kita alokasikan Rp200 juta untuk mengatasinya,” ucapnya saat dikonfirmasi belum lama ini.

Tak hanya masalah saluran, sejumlah persoalan teknis lainnya juga masih membayangi keberlangsungan operasional MWP. Salah satunya adalah ukuran kolam standar kejuaraan yang kurang sekitar 30 sentimeter, sehingga dinilai belum layak digunakan untuk latihan para atlet.

“Tahun sebelumnya kami terkendala soal sumber air. Karena air cepat menguap, harus ditambah terus, jadi kita buat sumur bor. Terkait ukuran kolam, kita sempat ajukan anggaran, tapi ditunda. Sekarang harapannya bisa masuk dalam skema revitalisasi yang dirancang Bappeda,” jelasnya.

Diketahui, MWP mulai beroperasi secara umum sejak akhir 2019. Pada awal dibuka, fasilitas ini sempat menarik minat banyak pengunjung, terutama pada akhir pekan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, animo masyarakat mulai menurun. Banyak warga mengeluhkan kondisi kolam yang tidak terawat, air yang kerap kotor, serta lingkungan sekitarnya yang tampak tidak bersih.

Meski begitu, Soehartono optimistis bahwa jika dikelola secara serius, MWP bisa menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. Ia pun mendorong keterlibatan DPRD Kota Mataram untuk ikut berkontribusi melalui pokok-pokok pikiran (pokir) mereka.

“Kalau pemerintah dan dewan ikut bantu, MWP bisa jadi salah satu PAD terbaik. Misalnya, fasilitas lompat indah bisa dikembangkan jadi water boom. Dengan itu, ‘park’ di Mataram Water Park bisa benar-benar terasa,” tuturnya.

Ia menambahkan, apabila kondisi fasilitas sudah lebih baik, Pemkot bisa menyusun regulasi yang mendukung pemanfaatan kolam oleh pelajar, khususnya siswa dari tingkat TK hingga SMP.

Di sisi lain, rencana penataan MWP tidak hanya menyasar aspek teknis. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah juga tengah menyusun grand design untuk mempercantik dan mengintegrasikan kawasan MWP dengan destinasi lain di sekitarnya.

“Sedang kita siapkan desain besar untuk penataan MWP. Ke depannya, kawasan ini akan dipadukan dengan Teras Udayana dan pusat kuliner,” kata Alwan.

Ia menjelaskan bahwa sejak awal, MWP dirancang sebagai pusat latihan renang bagi atlet dari Kota Mataram maupun daerah sekitar. Namun karena minimnya pemanfaatan dan kebutuhan akan ruang publik yang lebih luas, fasilitas ini kemudian dibuka untuk masyarakat umum.

“Sekarang konsepnya multifungsi. Selain untuk atlet, kita buka juga untuk rekreasi masyarakat. Apalagi ada kolam khusus anak-anak PAUD dan TK, itu bisa jadi daya tarik tersendiri bagi keluarga,” jelasnya.

Dengan adanya anggaran yang telah disiapkan dan perencanaan integrasi kawasan, masyarakat kini menanti aksi nyata dari Pemkot. Harapannya, MWP dapat kembali menjadi ruang publik yang bersih, aman, dan bermanfaat, baik sebagai sarana olahraga maupun tempat rekreasi keluarga di Kota Mataram dan sekitarnya.(hir)

FS Dimulai September, Jalan Tol Lembar-Kayangan Masuk Rencana Umum Nasional

0
Sadimin. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com)-Pembangunan port to port Lembar(Lombok Barat)-Kayangan (Lombok Timur) telah masuk dalam Rencana Umum Jaringan Jalan Tol Nasional berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) PUPR Nomor 367. Meski belum dilelang di tingkat provinsi, proyek ini telah dipersiapkan untuk memasuki tahap feasibility study (FS) atau studi kelayakan yang ditargetkan mulai berjalan pada September 2025.

“Sekarang belum masuk provinsi karena baru mulai tahun ini dan provinsi yang menganggarkan untuk FS-nya,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Sadimin.

Saat ini, Dinas PUPR tengah menyusun dokumen pendukung sebelum proyek dilelang untuk FS. Proses tender untuk pelaksanaan FS ditargetkan berlangsung selama satu setengah bulan. ‘’ Sekarang baru nyusun dokumen dulu, nanti baru ditender. Tender satu setengah bulan,  paling bulan September mulai FS,” lanjutnya.

Proses pembangunan tol ini dipastikan tidak akan berlangsung cepat. Setelah FS rampung, proyek masih harus melalui tahapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), lanjut pembebasan lahan, dan tender fisik.

“Tidak bisa cepat. Tergantung kemampuan anggaran pusat, lahannya siap, baru. Tapi kan kita sudah mulai proses FS,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTB, Dr.H. Lalu Muhamad Iqbal telah mengalokasikan anggaran senilai Rp5 miliar agar FS bisa dilakukan tahun ini. Secara kewenangan, FS merupakan kewenangan pemerintah pusat, untuk anggaran berada di bawah kewenangan Dirjen PPIJ (Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum), dan Basic Design berada di bawah kewenangan Dirjen Bina Marga .

Disampaikan, pembangunan jalan tol sepanjang 82 kilometer ini membutuhkan waktu yang panjang. Jika teralisasi, diperkirakan proyek ini rampung di tahun 2031 dan menelan anggaran hingga Rp22 triliun. Dengan rincian untuk pembangunan fisik membutuhkan anggaran Rp16 triliun, pembebasan lahan Rp1,9 triliun, anggaran Pra FS Rp1,25 miliar, dan FS senilai Rp5 miliar.

Anggaran pembebasan lahan akan ditanggung 100 persen oleh pemerintah. Sampai saat ini, Sadimin mengaku belum mengetahui apakah ditanggung oleh Pemprov atau pusat. “Kalau zamannya Pak SBY, pembebasan lahan itu daerah (yang nanggung), zamannya Pak Jokowi pusat. Kalau Pemerintahan Pak Prabowo kita belum tahu, tunggu saja,” ucapnya.

Sementara untuk anggaran pembangunan fisik, pemerintah akan membantu sekitar 30 persen, sisanya ditanggung oleh investor. Anggaran pembebasan lahan dari Lembar ke Kayangan membutuhkan dana hingga Rp1,9 triliun dengan rincian Rp300 miliar pembebasan lahan di Lombok Barat, Rp1 triliun di Lombok Tengah, dan Rp600 miliar di Lombok Timur.

“Dari hasil pra FS kemarin, kita dapat nilai tertinggi sesuai dengan multi kriteria itu di jalur tengah, itu kita melakukan berbagai survey. Di Lobar sendiri dia mendapatkan 940meter persegi, di Loteng didapat totalnya 1.917meter persegi, dan di Lotim 1.978meter persegi,” terangnya. (era)

Menakar Kuliah Kerja Nayata (KKN) : Apakah Masyarakat Masih Membutuhkannya Saat Ini ?

0
Prof. Markum(ekbisntb.com/bul)

Oleh Prof. Markum

(Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mataram)

Perguruan Tinggi sudah 55 tahun menerapkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Spirit penerapan KKN pada awalnya untuk mendukung penerapan teknologi Panca Usaha Tani, mewujudkan swasembada pangan tahun 1970-an. KKN saat itu dinilai berhasil karena tema yang diusung sesuai dengan konteks zamannya. Saat ini kondisi zaman sudah banyak berubah dalam banyak hal, jauh berbeda dengan masa lalu. Pertanyaannya, apakah KKN masih dibutuhkan oleh masyarakat saat ini?

Saat itu, tahun 1969-an, pemerintahan Orde Baru (Era Presiden Soeharto) mencanangkan program Bimas-Inmas, sebuah program untuk meningkatkan produksi padi melalui penerapan Panca Usaha Tani. Dalam mendukung gerakan ini, IPB dan UGM andil dan mengerahkan mahasiswanya ke berbagai pelosok desa.

Hasilnya, kehadiran mahasiswa di desa dinilai positip dan telah berhasil membantu petani menerapkan teknologi Panca Usaha Tani tersebut. Keberhasilan ini kemudian mendorong pemerintah melembagakan KKN menjadi program nasional untuk diterapkan oleh Perguruan Tinggi di Indonesia (Ditjen Dikti, 1971).

Mengapa program KKN di awal 1970-an dinilai berhasil ?. Saya mencoba searching informasi situasi di era 1970-an. Pada saat itu, angka buta huruf di Indonesia sekitar 21 %, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan mencapai 60 %, jumlah mahasiswa hanya sekitar 3 %, sarana jalan dan transporasi pedesaan masih jarang, media dan akses informasi sangat terbatas.

Maka kehadiran mahasiswa, tidak pelak menjadi sumber perhatian dan informasi sentral di pedesaan. Mahasiswa sangat krusial perannya menjembatani informasi baru dengan kebutuhan praktis masyarakat saat itu terutama terkait dengan penerapan teknologi pertanian.

Saat ini kita sudah setengah abad lebih menerapkan program KKN di Indonesia. Mengapa sampai sekarang kita masih bertahan dengan program KKN tersebut ? Apakah kita masih punya asumsi bahwa KKN yang kita terapkan saat ini punya tingkat keberhasilan yang sama dengan tahun 1970-an ?

Jika dibandingkan dulu (1970-2000-an) dengan kondisi saat ini, dimana saat ini sumber informasi begitu masif tersedia melalui berbagai platform media (google, youtube, dan lainnya), masyarakat pedesaan, bahkan yang kita sebut pelosok, kapanpun bisa akses informasi tentang banyak hal. Jumlah buta huruf sudah sangat sedikit (3 %), angka kemiskinan tinggal 9 %. Kemajuan teknologi saat ini sudah mendobrak ruang geografis desa-kota, perkembangan informasi telah menghapus distorsi akses komunikasi masyarakat maju-terbelakang.

Maka pertanyaannya adalah masih relevankah program KKN sekarang ini dan betulkah masyarakat masih membutuhkan program KKN saat ini ?

Ada baiknya menyimak dua catatan penting, hasil pencermatan saya selama menjadi pembimbing KKN kurang lebih 11 tahun. Pertama, umumnya aparat desa memiliki ekspektasi yang tinggi kepada mahasiswa, bahwa mahasiswa KKN diharapkan bisa memberikan bantuan untuk desa, terutama untuk sarana prasarana fisik; kedua, masyarakat juga berharap bahwa program yang diusung mahasiswa menyentuh kebutuhan riel mereka serta tidak mengulang program KKN sebelumnya.

Menjadi dilematis kemudian bagi mahasiswa, ketika apa yang diaharapkan oleh masyarakat tidak bisa dipenuhi, karena untuk mewujudkan itu tidak jarang memerlukan dukungan anggaran yang besar. Ketika harapan awal mereka tidak bisa dipenuhi oleh mahasiswa KKN, maka apa yang mereka programkan, dianggap tidak menjadi begitu penting lagi oleh desa.

Apakah aparat desa dan masyarakat kemudian menolak kehadiran KKN ? Tidak secara eksplisit, tetapi sikap yang ditunjukkan menjadi apatis terhadap KKN. Hal ini bisa dicermati misalnya aparat desa setengah hati menerima penyerahan KKN, masyarakat enggan menghadiri undangan pertemuan, serta kecil minat mereka untuk terlibat secara aktif pada pelaksanaan kegiatan KKN.

Dampaknya tentu saja bisa berimbas kepada psikologis mahasiswa. Mahasiswa menjadi tidak bersemangat melaksanakan kegiatan KKN. Satu sisi ada tuntutan mahasiswa menghasilkan keluaran KKN yang harus diselesaikan, di sisi lain animo masyarakat mengikuti kegiatan KKN rendah. Sejak awal kemudian batin mahasiswa dibenturkan dengan kondisi ketidaknyamanan.

Sikap apatis masyarakat, bagi saya sebenarnya merupakan dampak dari program KKN yang secara terus-menerus dilakukan dengan pola yang mirip, dan dalam waktu lama. Sementara dinamika zaman sudah banyak mengalami perubahan. Barangkali kita masih sering menganalogkan profil masyarakat desa, belum berubah sebagaimana seperti dulu yang kita anggap terisolir dalam perspektif geografi dan aspek lainnya. Sehingga kita meyakini apa yang kita lakukan dengan KKN punya peran strategis untuk masyarakat desa.

Kembali ke pertanyaan awal, “Betulkah masyarakat masih membutuhkan program KKN saat ini ?”

Saya tentu saja tidak menafikkan ada sisi baiknya program KKN selama ini, tetapi ada baiknya pihak universitas atau bahkan Kementerian mengadakan evaluasi menyeluruh terkait dengan program KKN ini. Apalagi baru saja ada kejadian korban tenggelam mahasiswa KKN di Maluku, kejadian kasus pelecehan mahasiswa, kejadian kecelakaan saat KKN, dan lainnya. Ini momentum yang tepat untuk dilakukan refleksi dan evaluasi.

Bagaimana kemungkinan hasilnya ? Tentu saja bisa ada beberapa opsi: apakah seyogyanya dihentikan saja program KKN digantikan dengan program lain; ataukah dilanjutkan dengan banyak modifikasi pembaharuan, ataukah menjadi sebuah program pilihan saja bagi mahasiswa, tidak menjadi kewajiban.

Perguruan Tinggi sudah terlalu lama menerapkan program KKN, kini sudah saatnya perlu ada pembaharuan.(*)

Sementara, 33 Ribu Pelanggan PLN Terdampak Banjir di Mataram

0
Tim Teknis PLN(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) — Hujan lebat seharian yang mengguyur Kota Mataram pada Minggu 6 Juli 2025 mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan, termasuk di wilayah Cakranegara dan sekitarnya.

Kondisi ini berdampak pada terganggunya listrik di beberapa titik. Akibat kondisi tersebut, hingga berita ini disusun, tercatat sebanyak lebih dari 33 ribu pelanggan terdampak dari banjir tersebut.

PLN telah menyiagakan tim teknis untuk melakukan penormalan secara bertahap di lokasi-lokasi yang telah dinyatakan aman. Proses pemulihan dilakukan dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan masyarakat, petugas, serta keandalan sistem kelistrikan.

General Manager PLN UIW NTB, Sri Heny Purwanti, menyampaikan bahwa langkah-langkah penanganan terus dilakukan secara intensif.

“Saat ini kami fokus pada proses penormalan sistem kelistrikan secara bertahap. Keselamatan masyarakat, petugas, dan peralatan menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pekerjaan,” ujar Heny.

Seiring dengan mulai surutnya air di beberapa titik, hingga pukul 21.30 wita, PLN telah berhasil menyalakan kembali 35 gardu distribusi. Pemantauan kondisi lapangan terus dilakukan secara berkala dengan koordinasi bersama aparat dan pihak terkait guna memastikan setiap area benar-benar aman sebelum aliran listrik dikembalikan.

PLN juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya listrik di sekitar area genangan air. Bila menemukan kondisi berbahaya atau mengalami gangguan, masyarakat diharapkan segera melaporkan melalui aplikasi PLN Mobile atau Contact Center 123.

“Kami mengapresiasi dukungan dan pengertian dari seluruh pelanggan atas situasi yang terjadi. Semoga proses penormalan berjalan lancar dan seluruh pasokan listrik bisa kembali normal dengan aman,” tutup Heny.(bul)

Dampak Banjir, Jembatan Majeluk Ditutup Total, Warga Diminta Gunakan Jalur Alternatif

0
Warga menutup Jembatan Majeluk sebagai dampak dari luapan Sungai Ancar akibat hujan deras, Minggu, 6 Juli 2025 malam. (ekbisntb.com/ham)

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram berdampak signifikan terhadap infrastruktur, termasuk jembatan penghubung antar wilayah. Salah satu titik terdampak paling serius adalah Jembatan Majeluk yang berada di atas Sungai Ancar. Akibat tingginya debit air dan kekhawatiran akan keselamatan pengguna jalan, jembatan tersebut resmi ditutup total sejak Minggu malam 6 Juli 2025 pukul 21.00 WITA.

Petugas dari Dinas Perhubungan Kota Mataram bersama aparat kepolisian telah melakukan pengaturan lalu lintas dan mengimbau para pengendara untuk mencari jalur alternatif. Pengendara yang hendak menuju Cakranegara dari arah Gegutu atau Rembiga, begitu pula sebaliknya, tidak lagi bisa melintasi Jembatan Majeluk.

“Awalnya jembatan masih dibuka untuk pengendara motor dengan pengawasan. Tapi demi keselamatan, akhirnya diputuskan untuk ditutup sepenuhnya. Sekarang motor dan mobil tidak boleh melintas,” ungkap salah satu petugas di lapangan.

Kondisi ini menyebabkan kepadatan di beberapa titik jalan alternatif yang digunakan warga. Petugas tampak berjaga di simpul-simpul lalu lintas untuk mengarahkan kendaraan agar tidak menuju jalur yang terdampak.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi NTB, H. Yusron Hadi, ST., MUM., mengonfirmasi bahwa hingga Minggu malam, evakuasi terhadap warga terdampak banjir masih terus berlangsung. Pemerintah Provinsi NTB bekerja sama dengan pemerintah Kota Mataram dan instansi terkait untuk memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar warga terpenuhi.

“Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, sudah menginstruksikan agar seluruh jajaran yang bertugas di lapangan memprioritaskan penanganan korban, termasuk penyaluran kebutuhan penting seperti selimut, makanan siap saji, tenda, dan perlengkapan lainnya,” jelas Yusron, Minggu malam.

Yusron menambahkan bahwa tim gabungan terus memantau kondisi cuaca dan tingkat genangan, serta mengidentifikasi titik-titik rawan yang perlu diwaspadai dalam beberapa hari ke depan. Warga juga diminta tetap waspada dan mengikuti arahan dari petugas apabila diminta untuk mengungsi sementara.

Banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi sejak Minggu 6 Juli 2025 siang tidak hanya merendam permukiman warga, namun juga menyebabkan kerusakan pada beberapa infrastruktur publik dan mengganggu mobilitas masyarakat.

Dari data sementara hingga Minggu pukul 21.00 malam, lokasi yang terdampak banjir yakni Lingkungan Sweta Timur, Kelurahan Mayura (belakang Transmart, BTN Riverside, depan Vihara Avalokotesvara Lingkungan Mayura, Kota Mataram, Lingkungan Gedur Kelurahan Abiantubuh Baru, BTN Sweta Kelurahan Mandalika Jalan Edelwais II. Selain itu, Belakang Vihara Avlokitesvara Sweta, Kelurahan Bertais, Lingkungan Pengempel Indah Kelurahan Bertais, Lingkungan Kebon Duren Kelurahan Sayang Sayang, Kota Mataram. (ham)

Evakuasi Warga Terdampak Banjir, Wali Kota Mataram Siapkan Vihara hingga Hotel

0
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana(ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana mengevakuasi sementara seluruh warga yang terdampak banjir. Sebagai antisipasi terjadinya banjir susulan, masyarakat terdampak akan bermalam di Vihara Avlokitesvara hingga hotel yang tersebar Ibu Kota NTB ini. Tidak hanya itu, Pemkot Mataram juga akan menyiapkan tenda darurat.

“Untuk sementara kita evakuasi dulu, yang di Riverside di Vihara kita evakuasi, dan ada beberapa tempat juga, ada yang di hotel kita tampung,” ujarnya, Minggu, 6 Juli 2025.

Dia mengatakan, banjir yang menerjang Kota Mataram kali ini merupakan yang terbesar dan tertinggi sebab tiga sungai yang ada di Kota ini meluap semua. Bahkan, ada yang menyentuh atap rumah warga. Hingga saat ini, proses evakuasi masih berjalan.

Ketinggian luapan air hingga 2,5 meter menyebabkan beberapa warga terjebak, khususnya di kawasan perumahan Riverside yang dekat dengan Sungai Ancar.

“Di beberapa kawasan memang yang melakui Kota Mataram ini debit air yang cukup besar. Jadi memang daerah-daerah yang berada di bantaran sungai terdampak semua,” katanya.

Ketua DPD partai Golkar ini memastikan, pihaknya sudah menurunkan tim dari berbagai unsur, proses evakuasi sudah dilakukan. Tinggal menyiapkan logistik selama warga berada di tempat penampungan.

Menurutnya, hampir seluruh kawasan di Kota Mataram tergenang oleh banjir. Yang paling parah adalah perumahan Riverside, Selagalas, Kekalek, Bertais, dan Abian Tubuh.

Sejumlah lingkungan di Kota Mataram yang terendam banjir berdasarkan data terakhir adalah Lingkungan Sweta Timur, BTN River Side, Lingkungan Mayura. Lingkungan Gedur Kelurahan Abiantubuh Baru, BTN Sweta, belakang Vihara Avlokitesvara Kelurahan Bertais, Lingkungan Pengempel Indah dan Lingkungan Kebon Duren, Selagalas. (era)

Turun Langsung ke Lokasi Banjir, Gubernur Iqbal Soroti Perizinan Amdal Perumahan

0
Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal(ekbisntb.com/fan)

Lombok (ekbisntb.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal meninjau langsung lokasi banjir yang terjadi di Perubahan Riverside, Selagalas, Kota Mataram. Dalam peninjauannya, Iqbal mengaku akan merevisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) setiap perumahan di NTB.

“Masalah Amdal juga, kita lihat nanti Amdalnya perumahan-perumahan ini,” ujarnya, Minggu, 6 Juni 2025.

Iqbal mengatakan, banjir yang menerjang sejumlah lokasi ini cukup parah. Sehingga pihaknya telah meminta seluruh unsur, mulai dari Basarnas, Kapolda, Danrem, Danlanal, Lanud, BPBD, Dinas Sosial, Baznas, serta Dinas Kesehatan untuk stand by membantu evakuasi warg.

“Semuanya ikut turun tangan saya minta tadi tau curah hujan begitu tinggi langsung minta Kapolda, Danrem, Danlanal, Lanud, siap sedia termasuk Basarnas dan BPBD, Dinsos, Basnas bantu Pak Mohan sama sama jadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Mantan Dubes RI untuk Turki ini mengatakan, tim telah berhasil mengevakuasi beberapa warga yang terjebak di dalam banjir.

Tim juga telah mengerahkan delapan perahu karet untuk membantu proses evakuasi sebab derasnya dan tingginya arus hingga mencapai atap rumah. Bahkan, beberapa kendaraan berupa mobil, motor juga ikut terseret banjir.

“Saya tidak masuk sampai ke dalam, hanya melihat proses evakuasi teman-teman. Tadi ada ibu dan anak yang berhasil dievakuasi oleh teman-teman,” kata Iqbal.

Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi mengatakan hingga dengan saat ini, masih beberapa rumah belum berhasil dievakuasi sebab tingginya curah air. Terkait dengan info korban jiwa dan kerugian material, pihaknya mengaku belum bisa menyampaikan sebab masih dalam proses evakuasi.

“Belum ada ini, kita belum lihat secara utuh perkembangannya. Kita masih kumpulkan datanya. Kita lihat situasi dulu,” katanya.

Beberapa masyarakat, disampaikan telah melakukan evakuasi mandiri. Ada juga yang membutuhkan bantuan dari tim, seperti lansia, bayi, balita dan anak-anak.

Sejumlah lingkungan di Kota Mataram yang terendam banjir berdasarkan data terakhir adalah ‎Lingkungan Sweta Timur, Kelurahan Mayura kota Mataram, BTN River Side depan Vihara Avalokotesvara lingkungan Mayura kota Mataram.

Selanjutnya, Lingkungan Gedur Kelurahan Abiantubuh Baru, BTN Sweta kelurahan Mandalika, belakang Vihara Avlokitesvara Kelurahan Bertais, Lingkungan Pengempel indah kelurahan Bertais, dan Lingkungan Kebon duren kelurahan Sayang-sayang kota Mataram. (era)