Monday, April 13, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 239

Tiga Desa di Sekotong Penyumbang Kemiskinan dan Pengangguran Tertinggi di Lobar

0
Kawasan di Desa Buwun Mas dan Gili Gede serta Sekotong Barat ini memiliki potensi besar namun sayang penyumbang kemiskinan serta pengangguran tertinggi di Lobar. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Dari data Pemkab Lombok Barat (Lobar), terdapat sejumlah desa masuk kategori menjadi kantong kemiskinan atau rawan miskin dan pengangguran. Tiga desa di Sekotong masuk kategori tersebut, sebagai desa dengan kemiskinan dan tingkat pengangguran tinggi.

Hal tersebut disampaikan Bupati Lobar H Lalu Ahmad Zaini diwakili Asisten II Setda Lobar H. Akhmad Saikhu terhadap pertanyaan pandangan umum Fraksi – fraksi DPRD Lobar terhadap RPJMD tahun 2025-2029.

Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Lobar ini, menyebut  menerangkan data angka kemiskinan (makro), berdasarkan data yang dirilis BPS Kemiskinan Tahun 2024 Lobar menempati peringkat ke-6 terendah dari 10 kabupaten/kota se-NTB sebesar 12,65% atau sebanyak 96.570 jiwa.

Capaian ini turun signifikan sebesar 1,02% dibandingkan angka kemiskinan tahun 2023 sebesar 13,67%, namun tetap menjadi tantangan strategis yang harus ditangani secara berkelanjutan. Sebaran kemiskinan berdasarkan wilayah (desa), berdasarkan sebaran data kemiskinan menurut Regsosek, Desa Buwun Mas menunjukkan tingkat kerawanan kemiskinan sangat tinggi. Dalam hal ini, lebih dari 9.000 jiwa tergolong miskin atau rentan.

‘’Dan Desa Sekotong Barat juga masuk zona rawan karena tingginya jumlah warga dalam desil bawah,”sebut Saikhu.

Terkait jumlah pengangguran terbuka yang ada di Lobar, Saikhu menyebut Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tahun 2024 di Lobar telah dipetakan secara lebih rinci berdasarkan desa. Data ini menunjukkan distribusi jumlah pengangguran terbuka serta persentasenya (TPT) di masing-masing desa. “Beberapa desa di Kecamatan Sekotong, seperti Sekotong Barat dan Gili Gede Indah, menunjukkan angka pengangguran relatif tinggi, di atas 2,5%,” terangnya.

Dan Desa Mareje di Kecamatan Lembar, lanjut dia, menunjukkan angka pengangguran yang sangat rendah, di bawah 1%. Sementara, pandangan Fraksi terhadap RPJMD ini menjadi masukkan yang sangat berarti bagi Pemkab Lobar sebagai penyempurnaan dokumen ini. “Ke depannya dokumen RPJMD ini agar menjadi rujukan kepada kami dalam menyusun perencanaan dan penganggaran tahunan untuk mewujudkan Lombok Barat yang Maju, Mandiri dan Berkeadilan,” ujarnya. (her)

Utamakan Keselamatan Saat Membonceng Anak, Bukan Kepraktisan

0
Salah satu tips aman membonceng anak adalah dengan menggunakan helm standar SNI(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Membonceng anak di depan sepeda motor masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat dengan alasan praktis atau menyenangkan. Padahal, tindakan ini melanggar aturan lalu lintas dan sangat membahayakan keselamatan, terutama bagi anak-anak.

Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan aspek keselamatan dalam berkendara. Ia menegaskan bahwa posisi anak di depan pengendara sangat berisiko. “Membonceng anak di depan memang terlihat praktis, tapi dari sisi keselamatan sangat tidak disarankan. Anak tidak terlindungi dan bisa mengganggu kontrol pengendara,” jelasnya, Minggu, 7 Juli 2025.

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 106 ayat (9), pengendara sepeda motor tanpa kereta samping hanya diperbolehkan membawa satu penumpang. Namun, karena alasan ekonomi atau kebiasaan, masih banyak orang tua yang membonceng lebih dari satu penumpang, termasuk menempatkan anak di bagian depan motor.

Satria menjelaskan bahwa risiko seperti hilangnya keseimbangan, cedera serius, hingga kecelakaan fatal bisa terjadi akibat pelanggaran tersebut. Ia mengajak masyarakat lebih bijak dan tidak menyepelekan keselamatan dalam berkendara. “Jangan sampai hal kecil justru membawa kerugian besar. Budayakan berkendara aman mulai dari diri sendiri,” tegasnya.

Sebagai bagian dari kampanye edukasi #Cari_Aman, Astra Motor NTB terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mematuhi aturan lalu lintas dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama. Tips Aman Membonceng Anak dengan Sepeda Motor:

  1. Patuhi aturan berlalu lintas. Satu penumpang untuk motor tanpa kereta samping.
  2. Utamakan keselamatan, bukan kepraktisan. Hindari posisi anak di depan pengendara.
  3. Gunakan helm berstandar SNI. Baik pengendara maupun anak wajib memakai helm.
  4. Pastikan anak cukup umur dan siap dibonceng. Idealnya berusia di atas 10 tahun dan mampu duduk stabil.
  5. Pertimbangkan alternatif transportasi. Jika memungkinkan, gunakan moda lain atau antar secara bergantian.
  6. Selalu #Cari_Aman di jalan. Keselamatan dimulai dari diri sendiri. (bul)

Pramudya Iriawan Buntoro Resmi Menjabat Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan

0
Pramudya Iriawan Buntoro(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi menunjuk Pramudya Iriawan Buntoro sebagai Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan. Ia menggantikan Anggoro Eko Cahyo yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Penunjukan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 63/P Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pengganti Antarwaktu Direksi BPJS Ketenagakerjaan Sisa Masa Jabatan 2021–2026. Pengangkatan tersebut merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang bertujuan menjaga kesinambungan kepemimpinan dan tata kelola jaminan sosial ketenagakerjaan secara profesional dan berkelanjutan.

Sebelum menduduki posisi tertinggi di BPJS Ketenagakerjaan, Pramudya menjabat sebagai Direktur Kepesertaan. Ia dikenal berdedikasi dalam memperluas cakupan kepesertaan dan memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan.

“Terima kasih kepada Bapak Presiden. Kami di jajaran direksi siap menjalankan seluruh program dan rencana strategis yang telah disusun sebelumnya. Di sisa periode ini, kami akan mempercepat perluasan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan serta menjaga kualitas pelayanan optimal kepada peserta,” ujar Pramudya dalam keterangan persnya.

Seiring perubahan tersebut, posisi Direktur Kepesertaan kini dijabat oleh Eko Nugriyanto. Sebelumnya, Eko merupakan Direktur Utama Dana Pensiun BPJS Ketenagakerjaan, anak perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan dana pensiun karyawan. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah DKI Jakarta BPJS Ketenagakerjaan.

“Saya siap mengemban amanah ini. Ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh pekerja Indonesia mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Mohon doa dan dukungannya agar amanah ini bisa saya jalankan dengan integritas, dedikasi, dan semangat melayani,” kata Eko.

BPJS Ketenagakerjaan menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan hal wajar dalam dinamika organisasi. Lembaga ini tetap berkomitmen menjalankan tugas secara profesional, berlandaskan prinsip tata kelola yang baik (good governance), serta menjaga kepercayaan pekerja Indonesia.

Secara terpisah, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Nusa Tenggara Barat (NTB), Nasrullah Umar, menyambut baik penunjukan Pramudya dan Eko.

“Penunjukan Bapak Pramudya Iriawan Buntoro sebagai Direktur Utama dan Bapak Eko Nugriyanto sebagai Direktur Kepesertaan membawa semangat dan optimisme baru dalam melanjutkan rencana strategis untuk memperluas cakupan kepesertaan serta menjaga kualitas pelayanan yang optimal,” ujarnya.

BPJS Ketenagakerjaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis dalam perlindungan pekerja dan mendorong sistem jaminan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. (bul)

Diterjang Banjir, Tembok TPST Sandubaya Jebol 20 Meter

0
Tembok TPST Sandubaya yang jebol, akibat luapan air, Minggu, 6 Juni 2025. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Tembok sepanjang 20 meter yang mengelilingi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya jebol akibat hujan deras yang mengguyur Kota Mataram dalam beberapa hari terakhir. Menyikapi kejadian ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram akan mengalokasikan anggaran pemeliharaan untuk memperbaiki kerusakan.

Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Mataram, Vidi Partisan Yuris Gamanjaya, mengatakan anggaran pemeliharaan TPST tahun ini sebesar Rp100 juta sedang dikonsultasikan penggunaannya untuk perbaikan tembok dan bagian lain yang terdampak.

“Anggaran pemeliharaan TPST-nya ada, itu kita konsultasi dulu. Sekitar Rp100 juta kita punya dan kita alihkan untuk itu,” ujarnya, Senin, 7 Juli 2025.

Meski demikian, Vidi menegaskan bahwa anggaran tersebut tidak akan langsung digunakan seluruhnya. Pihaknya masih menghitung kebutuhan perbaikan di lapangan sesuai tingkat kerusakan.

“Tetapi Rp100 juta ini tidak digelontorkan semua. DLH akan menghitung terlebih dahulu berapa yang rusak. Berapa kebutuhannya, kita sesuaikan nanti,” jelasnya.

Tembok yang jebol langsung ditangani secara darurat oleh tim DLH dengan menutup bagian yang rusak menggunakan spandek sementara. Penanganan ini dilakukan untuk mencegah dampak lebih lanjut, terutama saat curah hujan masih tinggi.

Vidi memastikan kejadian ini tidak mengganggu operasional pengelolaan sampah di TPST Sandubaya. Lokasi penampungan sampah berada di area yang lebih tinggi, sehingga tidak terdampak langsung oleh genangan air.

“Sampah aman karena posisinya di atas. Kalau tembok itu kan di bawah. Kan setiap hari habis sampahnya. Aman, tidak ada genangan air,” katanya.

Selain tembok, kerusakan juga terjadi pada area paving blok di salah satu sisi TPST. Area seluas sekitar 15 x 10 meter tersebut ambles, diduga karena genangan air yang tak tertampung saluran pembuangan.

“Paving blok itu karena dia di sana banjir. Karena bahannya ringan jadi keangkat. Sampai ambles, diduga karena air hujan. Di sana ada selokan, tapi dia nggak ke kali yang di bawah. Jadi di dalam ada pipa lagi, 8 inci, nggak cukup menampung. Akhirnya penuh, kayak kolam,” jelasnya.

Uniknya, sisa-sisa paving blok yang hanyut sempat diambil oleh warga sekitar. “Paving blok itu cuma 15 x 10 yang hanyut. Tapi diambilin sama masyarakat,” tambahnya.

DLH menegaskan kembali bahwa peristiwa ini tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan tidak mengganggu layanan pengelolaan sampah. Perbaikan permanen akan dirancang setelah kajian teknis selesai dilakukan.(hir)

Pemkot Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana, Warga Terdampak Banjir Butuhkan Bantuan Sembako dan Selimut

0
Warga Lingkungan Karang Bata, Kelurahan Abian Tubuh, Kecamatan Sandubaya mengungsi ke masjid terdekat karena rumahnya masih terendam air dan lumpur. (ekbisntb.com/fan)

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Kota Mataram pada Minggu 6 Juli 2025, menimbulkan kerugian cukup besar. Sebagian besar warga yang menjadi korban seperti di Lingkungan Karang Bata, Kelurahan Abian Tubuh, Kecamatan Sandubaya kehilangan perlengkapan rumah tangga akibat terembar air dan lumpur. Saat ini warga sangat membutuhkan bantuan sembako dan perlengkapan tidur.

Pantauan Ekbis NTB, sejumlah warga Lingkungan Karang Bata mengungsi di Masjid Jami Babulassalam Jalan Senopati Raya. Terlihat warga sedang merapikan barang dan alas tidur. Sebagian warga lainnya terlihat masih membersihkan lumpur yang dibawa air bah di rumahnya.

Salah satu warga pengungsi Lingkungan Karang Bata, Mala Hayati (39) menuturkan, hujan deras yang terjadi pada Minggu 6 Juli 2025 mengakibatkan puluhan rumah terendam banjir. Ketinggian air mencapai ukuran sepinggang orang dewasa, sehingga memaksa ia mengungsi di Masjid Jami Babulassalam dengan warga lainnya.

“Kondisi seperti kita butuh sembako, makanan anak-anak, dan selimut. Soalnya barang-barang di rumah sudah tidak bisa dipakai karena basah bercampur lumpur banjir,” ucapnya saat ditemui pada, Senin 7 Juli 2025.

Ia menuturkan, pada hari Minggu 6 Juli 2025 sekitar pukul 14.00 Wita hujan mulai turun dengan intensitas tinggi. Awalnya, hanya genangang air setinggi lutut. Namun, pada pukul 19.00 Wita airnya deras, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Warga masih sempat mengamankan barang berharga, seperti dokumen dan barang penting lainnya. Sementara barang barang yang lain tidak bias diselamatkan.

Sama seperti Mala, Umi Solatiah warga yang ikut mengungsi juga mengatakan, dengan kondisi cuaca hujan dari kemarin menyebabkan ia merasa kedinginan di pengungsian. Banyak perlengkapan dan fasilitas rumah, seperti pakaian, lemari es dan makanan hampir terendam banjir. “Kami butuh makan, sembako dan selimut. Dari tadi malam saya kedinginan, karena tidak ada lagi yang bisa dipakai,” ucapnya.

Selain itu, Solatiah mengalami gatal-gatal pada bagian kaki hingga tangan akibat banjir. Meski begitu, ia tetap beraktivitas membersihkan rumahnya dari tumpukan lumpur. Terkait dengan kapan ia pindah dari pengungsian ke tempat tinggalnya, ia belum bisa memastikannya.

Mala dan Solatiah, berharap dalam kondisi darurat seperti ini, agar pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan logistik seperti sembako, air bersih, obat-obatan, dan selimut secara merata kepada seluruh warga terdampak tanpa terkecuali.

Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

Sementara itu, Pemkot Mataram, menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan untuk memudahkan upaya penanganan pascabencana banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu 6 Juli 2025.

“Dengan penetapan status tanggap darurat bencana, memungkinkan kami melakukan penanganan dengan mengerahkan potensi yang ada sesuai kebijakan dan regulasi yang ada,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Ahmad Muzaki, di Mataram, Senin.

Selama 14 hari ke depan, katanya, akan dilakukan evaluasi dan jika kondisi meningkat maka status akan diperpanjang tetapi kalau tidak akan dilanjutkan dengan tahap pemulihan.

Ia mengatakan, dengan status tanggap darurat bencana tersebut, kini sudah dibentuk satu Posko Tanggap Darurat 2025 terpusat di halaman Pendopo Wali Kota Mataram.

Pembentukan posko itu sesuai dengan regulasi bencana dan hanya satu yang akan menjadi pusat, sehingga bisa memudahkan koordinasi dan menggerakkan semua pihak terkait.

“Sementara posko yang ada di kelurahan, kepolisian, dan lainnya hanya bersifat sementara,” katanya.

Di Posko Tanggap Darurat 2025, juga telah dibuka dapur umum dari tim Dinas Sosial Mataram dan didukung dapur umum lapangan milik BPBD Kota Mataram.

Kota Mataram dilanda banjir pada Minggu 6 Juli 2025, yang dipicu intensitas hujan deras dan merata. Akibatnya, sebanyak 7.676 rumah terendam banjir dengan ketinggian hingga satu meter dan 7.676 kepala keluarga (KK) atau sekitar 30.681 jiwa mengungsi dan satu orang meninggal dunia karena tersengat listrik di Ampenan.

Menurut dia, enam kecamatan yang terdampak banjir antara lain Kecamatan Sandubaya meliputi 7 kelurahan, yakni Kelurahan Bertais, Selagalas, Babakan, Abian Tubuh, Mandalika, Dasan Cermen, dan Kelurahan Turida.

Kemudian Kecamatan Mataram meliputi Kelurahan Pagutan, Pagutan Timur, Pagesangan Timur, dan Mataram Timur.

Sementara untuk Kecamatan Sekarbela, wilayah yang terdampak yakni Kelurahan Kekalik Jaya, Karang Pule, Tanjung Karang, dan Jempong Baru.

Untuk Kecamatan Selaparang, kelurahan terdampak yakni Kelurahan Dasan Agung Baru dan Gomong, sedangkan di Kecamatan Cakranegara yang terdampak Kelurahan Karang Taliwang, Mayura, Cakranegara Selatan Baru, dan Cakranegara Barat.

“Tadi malam kami buka sekitar 30 titik pengungsian, baik di masjid, sekolah, rumah warga terdekat, maupun fasilitas umum lainnya,” kata dia.

Namun hari ini, lanjutnya, rata-rata mereka sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah dari sisa banjir berupa lumpur dan sampah. (pan/ant)

Banjir Terjang Kebon Duren, Sembilan Rumah Hancur

0
Wali Kota Mataram turun ke Lingkungan Kebon Duren mengecek kondisi warga terdampak banjir, Senin, 7 Juli 2025. (ekbisntb.com/hir)

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir besar yang melanda Kota Mataram pada Minggu 6 Juli 2025 sore meninggalkan duka mendalam bagi warga Lingkungan Kebon Duren, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya. Ketinggian air yang mencapai lebih dari dua meter meluluhlantakkan permukiman warga, menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Pantauan Ekbis NTB di lokasi, Senin 7 Juli 2025, menunjukkan puing-puing bangunan berserakan di antara lumpur dan genangan air. Sejumlah rumah rata dengan tanah, perabotan hanyut tanpa bekas. Bahkan dua mobil milik warga ikut terseret derasnya arus banjir.

“Ada beberapa rumah, bengkel, hingga warung nasi milik warga yang rusak diterjang banjir kemarin. Ada juga mobil yang terbawa arus,” kata, salah seorang warga Lingkungan Kebon Duren, Amirudin, saat ditemui di lokasi kejadian.

Menurut Amirudin, banjir datang dengan cepat dan sangat tinggi, membuat warga tidak sempat menyelamatkan banyak barang. “Tinggi sekali arus banjirnya, langsung menghantam lingkungan kita begitu saja. Kejadiannya cepat sekali. Pokoknya atap rumah warga udah nggak kelihatan lagi, saking tingginya air kemarin,” ujarnya.

Warga yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, baik ke rumah warga lain maupun ke rumah sanak saudara. Kondisi darurat ini membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.

“Kami berharap masyarakat nggak lagi buang sampah di sungai, soalnya banyak (sekali orang) yang buang sampah (di sungai),” tandas Amirudin, menyoroti persoalan klasik yang kerap memperparah banjir di wilayah tersebut.

Hal senada disampaikan Surniani, warga lainnya. Ia mengatakan total ada 9 rumah warga dan satu bengkel yang hancur tanpa tersisa. Selain itu, beberapa warga juga kehilangan barang berharga seperti perhiasan dan tabungan anak-anak mereka.

“Lebih dari Rp 500 juta lebih, kerugian warga yang rumah dan perabotannya hilang. Bahkan ada yang tabungan anaknya untuk masuk sekolah dan dan emasnya hilang terbawa arus,” ungkapnya.

Menurut Surniani, air mulai naik sekitar pukul 16.00 Wita dan meningkat drastis hanya dalam waktu 30 menit. “Jam 4 sore air sudah tinggi, tapi saat jam 4.30 sore airnya langsung setinggi kabel listrik di sini. Kami takut sekali, karena tumben liat air setinggi itu. Tapi alhamdulillah, 3 lansia kita sudah di evakuasi,” tuturnya.

Ia berharap ada perhatian segera dari Pemerintah Kota Mataram, terutama untuk kebutuhan mendesak para penyintas. Bantuan logistik menjadi sangat dibutuhkan di tengah keterbatasan yang ada.

“Untuk sementara kami butuh yang penting-penting saja, selimut, baju, pakaian dalam, mie instan. Kemarin kami dapat selimut beberapa saja, tapi ternyata kurang. Kami juga berharap agar pembersihan disini bisa segera dilakukan,” pungkasnya.

Warga Kebon Duren kini menggantungkan harapan pada bantuan dan penanganan cepat dari pemerintah. Di tengah kerusakan yang melanda, mereka tetap berupaya bertahan, saling menopang satu sama lain.(hir)

30.681 Jiwa Terdampak Banjir Mataram, Satu Korban Meninggal, Belasan Luka-luka

0
H.Mohan Roliskan (ekbisntb.com/hir)

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir yang menerjang Kota Mataram Minggu 6 Juli 2025 menimbulkan kerusakan cukup parah. Sedikitnya berdasarkan data sementara, satu korban meninggal, 15 warga mengalami luka-luka dan 30.681 jiwa atau 7.676 KK terdampak.  Hingga Senin 7 Juli 2025, 520 jiwa masih mengungsi, puluhan mobil dan sepeda motor hanyut serta sembilan rumah rusak berat.

Sekitar 30.681 warga Kota Mataram terdampak banjir setinggi dua meter yang melanda sejumlah wilayah pada Minggu, 6 Juli 2025. Banjir tersebut merendam rumah-rumah warga, merusak perabotan, kendaraan, hingga menyebabkan satu korban jiwa di wilayah Ampenan akibat tersengat listrik.

“Warga kita yang terdampak sekitar 6.700 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 30 ribu jiwa lebih. Ada yang terdampak cukup parah, dan ada juga yang masih di evakuasi. Lalu ada yang meninggal satu orang warga Ampenan, akibat tersengat listrik. (Insyallah) nanti akan kita berikan santunan,” ujar Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana saat dikonfirmasi di Bertais, usai meninjau sejumlah titik terdampak banjir, Senin, 7 Juli 2025.

Sejumlah lingkungan yang tercatat paling parah terdampak antara lain Kekalik, Kebon Duren, hingga Abian Tubuh. Wilayah Bertais pun turut mengalami genangan cukup tinggi. “Sebagian lingkungan seperti di Bertais juga terdampak banjir. (Beberapa wilayah ini) yang sangat terdampak cukup parah,” jelasnya.

Data sementara,  enam kecamatan di wilayah Kota Mataram yang terdampak banjir antara lain Kecamatan Sandubaya meliputi tujuh kelurahan, yakni Kelurahan Bertais, Selagalas, Babakan, Abian Tubuh, Mandalika, Dasan Cermen, dan Kelurahan Turida.

Kemudian Kecamatan Mataram meliputi Kelurahan Pagutan, Pagutan Timur, Pagesangan Timur, dan Mataram Timur.

Sementara untuk Kecamatan Sekarbela, wilayah yang terdampak yakni Kelurahan Kekalik Jaya, Karang Pule, Tanjung Karang, dan Jempong Baru.

Untuk Kecamatan Selaparang, kelurahan terdampak yakni Kelurahan Dasan Agung Baru dan Gomong, sedangkan di Kecamatan Cakranegara yang terdampak Kelurahan Karang Taliwang, Mayura, Cakranegara Selatan Baru, dan Cakranegara Barat.

Senin 7 Juli 2025,  hari kedua pascabanjir, seluruh perangkat daerah bersama unsur TNI/Polri, relawan, dan masyarakat, dikerahkan untuk membantu proses evakuasi, membersihkan lumpur dan sampah yang menumpuk di permukiman warga, serta mendata kerusakan yang terjadi.

“Langkah yang kita lakukan saat ini adalah membantu masyarakat untuk menormalisasi lingkungan mereka dulu. Karena lingkungan mereka banyak yang terendam lumpur. Nggak hanya itu, sampah berserakan masuk ke lingkungan mereka, inilah yang kita bantu,” imbuhnya.

Terkait dengan kondisi rumah warga, Pemkot Mataram saat ini tengah melakukan pendataan, termasuk rumah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat. “Ada beberapa rumah yang terdampak cukup parah kemarin, untuk rumah rusak akan kita intervensi untuk dilakukan perbaikan. Sekarang masih proses pendataan dulu, sambil mendengarkan laporan dari lurah dan camat,” sambungnya.

Pantauan Ekbis NTB menunjukkan, sejumlah titik banjir perlahan mulai surut. Warga yang rumahnya diterjang banjir mulai melakukan pembersihan dengan bantuan alat berat. Sementara itu, kendaraan yang terseret arus sungai mulai dievakuasi menggunakan mobil derek.

“Debit air saat ini sudah terpantau kembali cukup normal, semoga tidak ada lagi hujan deras. Situasi ini kita ambil hikmahnya, (kalau dilihat-lihat) baru kali ini Kota Mataram mengalami kondisi yang luar biasa ini, Luapan Sungai Ancar dan Sungai Unus yang cukup besar sekali, dan menggenangi hampir sebagian besar Kota Mataram,” ujar Wali Kota.

Pemerintah Kota juga memastikan kebutuhan dasar bagi warga terdampak mulai disalurkan. Mulai dari logistik makanan, selimut, hingga alas tidur. Bantuan tersebut dipusatkan melalui posko induk yang berada di Halaman Pendopo Wali Kota.

“Logistik sudah kita distribusikan kepada masyarakat, semua kita koordinasikan dengan posko induk (yang kita dirikan di halaman Pendopo Wali Kota). Nanti posko induk akan mendistribusikan semua kebutuhan warga, seperti selimut, tikar, alas tempat tidur karena itu jadi kebutuhan yang paling mendesak,” terangnya.

Untuk mendukung kebutuhan pangan warga, dapur umum juga telah dioperasikan di lokasi posko. “Kita akan membuat makanan di dapur umum yang ada di posko induk, bisa 3.000 porsi (sekali masak),” tandasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Mataram, Muzaki, menyampaikan bahwa warga terdampak saat ini tersebar di 30 titik lokasi pengungsian. “Mereka ada di 30 titik pengungsian di Mataram, tapi siang ini (kemarin) ada yang sudah kembali ke keluarganya, tapi ada juga yang masih di lokasi pengungsian,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kebutuhan mendesak saat ini masih pada makanan siap saji dan selimut. “Makanan siap saji yang paling dibutuhkan (selain selimut), untuk dapur umum, sudah ada di Pendopo Wali Kota,” tutupnya. (hir/era)

Bank NTB Syariah Salurkan Bantuan CSR Paket Sembako untuk Korban Banjir di Kota Mataram

0
Penyaluran bansos oleh Branch Manager Bank NTB Syariah Kantor Cabang Islamic Center(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana, Bank NTB Syariah melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dalam pengelolaan Corporate Social Responsibility (CSR) kembali hadir membantu masyarakat.

Kali ini, bantuan berupa paket sembako, kasur lipat dan selimut untuk korban banjir di wilayah Kota Mataram disalurkan langsung oleh Branch Manager Bank NTB Syariah Kantor Cabang Islamic Center kepada Pemerintah Kota Mataram, diterima oleh Kepala Dinas Sosial Kota Mataram.

Penyaluran bantuan ini dilakukan dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah daerah, di mana paket bantuan sementara dikumpulkan di Kantor Wali Kota Mataram, sambil menunggu arahan lebih lanjut terkait titik lokasi terdampak paling parah yang akan menjadi prioritas distribusi.

Branch Manager Bank NTB Syariah Cabang Islamic Center, M Ulvi Anowta, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Bank NTB Syariah dalam bersama masyarakat masyarakat, khususnya di saat terjadi bencana.

“Kami hadir tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai mitra sosial yang siap membantu masyarakat dalam kondisi darurat seperti ini,” ujarnya.

Pihak Pemerintah Kota Mataram menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kehadiran Bank NTB Syariah yang tanggap terhadap situasi darurat. Diharapkan, bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat terdampak banjir, terutama mereka yang berada di wilayah dengan kerusakan infrastruktur dan akses logistik yang cukup parah.

Penyaluran lanjutan akan segera dilakukan setelah pendataan dan pemetaan lokasi terparah selesai dilakukan oleh tim tanggap darurat Pemerintah Kota Mataram.(bul)

Ditengah Gaya Hidup Serba Digital, Trend Pemodal Besar Dunia Memilih Bertani

0
I Made Agus Ariana(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Ketika dunia sedang ramai membicarakan kecerdasan buatan (AI), otomasi, dan bisnis digital yang kian menjamur, sebuah tren menarik justru muncul di kalangan para pemodal besar dunia. Para miliarder dan pengusaha papan atas global kini mulai kembali melirik sektor pertanian dan peternakan sebagai ladang investasi masa depan.

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) NTB, I Made Agus Ariana mengatakan, tren peralihan para pengusaha besar ke sektor agro dan peternakan bukanlah tanpa alasan. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan otomasi, sektor pangan justru menjadi kebutuhan yang tak tergantikan.

“Dengan teknologi sekarang, bisnis apapun sekarang mudah diduplikasi orang lain. Mau jualan apa saja, semua orang punya peluang melakukannya. Tanpa harus memiliki modal besar bangun toko, cukup promosi lewat media sosial, live lewat media sosial untuk jualan. Kalau ada pesanan, tinggal transfer dan pengiriman barang tinggal lewat kurir. Jadi semua orang beramai ramai mengikuti tren bisnis melalui digital ini,” katanya.

Tapi komoditas pangan, seperti beras, kentang, buah, hingga daging, tetap dibutuhkan dan belum bisa digantikan oleh robot.

“Apa memproduksi beras, kentang, dan hasil pertanian lain bisa dilakukan oleh mesin digital, tidak bisa,” katanya.

Ia menyebutkan, pertumbuhan permintaan global akan komoditas pangan justru meningkat berkali-kali lipat. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran dunia terhadap pasokan makanan yang makin menipis, sementara minat masyarakat untuk menjadi petani atau peternak kian menurun.

“Orang-orang lebih suka kerja kantoran yang dianggap keren, sementara jadi petani atau peternak dianggap tidak menarik. Semua main di bisnis digital, jualan lewat digital, promosi lewat digital, kerja apapun dibantu kecerdasan buatan.sehingga persaingan menjadi sangat kuat dan ketat. Kalau memproduksi produk pertanian belum bisa dilakukan oleh kecerdasan buatan. Padahal ke depan, sektor inilah yang akan menyelamatkan dunia,” tambahnya.

Made Agus mengamati fenomena yang sama terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Para pemodal mulai melirik sektor pertanian karena lebih menjanjikan dalam jangka panjang dan lebih ‘tahan banting’ terhadap disrupsi teknologi. Bahkan, banyak dari mereka yang diam-diam berinvestasi di tambak udang, lahan pertanian terpencil, hingga peternakan berskala besar.

“Tambak-tambak udang di NTB ini terus berkembang. Banyak yang tidak kita ketahui karena lokasinya jauh dan tertutup, tapi mereka terus berproduksi karena permintaan global meningkat. Pemodal-pemodal besar itu sudah menjadi pelaku langsung produksi pangan. Disaat yang lain sedang berlomba-lomba dalam gaya hidup serba digital,” ujarnya.

Meski begitu, ia tidak menampik bahwa digitalisasi tetap memiliki peran besar. Banyak petani dan pelaku usaha pangan kini mampu menjual produknya langsung ke konsumen melalui platform digital. Hal ini justru mempermudah distribusi tanpa perlu membuka toko fisik atau menyewa lapak mahal di pusat perbelanjaan.

“Sekarang menjadi petani orang sudah bisa jualan dari tengah sawah langsung hasil pertaniannya. Tanpa harus dibawa ke pasar, atau di toko. Kalau ada pemesanan, sudah ada kurir, ada marketplace, semua dimudahkan. Makanya produk utamanya tetap dari sektor riil, hasil panen, hasil ternak. Dan ini yang dibaca oleh pemodal-pemodal dunia,” jelasnya.

Dalam konteks daerah, Made Agus mengingatkan pentingnya melindungi dan mengembangkan komoditas lokal NTB yang bernilai tinggi seperti bawang Semalun, vanili Lombok, hingga mutiara. Disayangkan jika generasi – generasi muda kini justru meninggalkan pertanian yang menjadi tulang punggung.

“Vanili dari Lombok bisa dihargai jutaan per kilogram. Tapi tanpa perlindungan dan pengembangan yang serius, anak – anak muda juga tidak boleh meninggalkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan ini. pemerintah daerah harus memperhatikan ini,” paparnya.

Fenomena pemodal-pemodal besar dunia menggeluti pertanian ini menjadi cerminan bahwa di tengah arus digital yang serba cepat, sektor riil seperti pertanian dan peternakan tetap menjadi fondasi utama ekonomi dunia. Para pengusaha besar disebutnya tengah membaca arah perubahan tersebut dan mulai kembali ke akar: memproduksi kebutuhan paling dasar manusia, yaitu makanan.

“Bisnis itu harus peka terhadap perubahan. Kalau semua sudah bermain di dunia digital, maka sektor nyata seperti pangan bisa jadi rebutan besar ke depan. Soal pangan ini belum ada yang bisa menggantikan,” tutupnya.

Dengan tren ini, NTB sebagai daerah agraris memiliki peluang besar untuk menjadi lumbung pangan dan pusat investasi sektor agro. Namun semua itu harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia, proteksi komoditas lokal, dan dukungan kebijakan pemerintah.(bul)

Kawasan Perumahan di Kota Mataram Terendam Banjir, BPO REI NTB : Jangan Salahkan Pengembang

0
H. Heri Susanto(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir yang melanda Kota Mataram dan sebagian wilayah Lombok Barat pada Ahad, 6 Juli 2025, menuai sorotan luas dari masyarakat. Sejumlah komplek perumahan terendam, pemukiman padat penduduk pun tak luput dari genangan air.

Sorotan pun mengarah pada para pengembang perumahan. Namun, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Real Estate Indonesia (REI) NTB, H. Heri Susanto, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat sepihak.

Menurutnya, setiap pembangunan perumahan oleh pengembang sudah melalui prosedur analisis dampak lingkungan, termasuk dalam hal pengelolaan drainase dan tata letak bangunan.

“Setiap pengembang yang membangun kawasan perumahan wajib memiliki dokumen UKL-UPL (Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan) yang disetujui pemerintah daerah. Di dalamnya memuat urugan tanah, tinggi pondasi rumah dari jalan, drainase, dan semua hal teknis yang menghindari dampak seperti banjir,” kata Mantan Ketua REI NTB dua periode ini.

Ia menekankan bahwa dokumen UKL-UPL itu merupakan syarat mutlak sebelum izin membangun diberikan. Karenanya, jika pengembang telah mematuhi seluruh ketentuan, maka sumber persoalan banjir harus dicermati lebih luas dan objektif.

Heri menyebut salah satu contoh nyata di Mataram yang dialaminya sendiri. Sebuah komplek perumahan yang dibangunnya sejak 2013, selama lebih dari satu dekade tak pernah kebanjiran. Namun, pada banjir awal Juli ini, air tiba-tiba menggenangi rumah-rumah warga.

“Saya turun langsung cek ke lapangan, ternyata di belakang perumahan ada kos-kosan baru yang dibangun dengan memakan setengah badan sungai. Itu bangunan tanpa izin, dan melanggar sempadan sungai. Tapi kok dibiarkan?” ujarnya heran.

Menurutnya, ini menunjukkan ada ketimpangan dalam penegakan aturan. Sementara pengembang resmi selalu diawasi ketat, warga yang membangun tanpa izin di badan sungai justru nyaris tak pernah ditindak.

“Kalau bicara aturan, sempadan sungai saja tidak boleh dibangun, apalagi di atas badan sungainya. Tapi kenapa hanya pengembang yang selalu disalahkan ketika terjadi banjir?” tegasnya.

Karena itu, Heri Susanto mengatakan, pemerintah daerah yang menurutnya seharusnya melakukan penertiban secara menyeluruh terhadap bangunan liar, khususnya yang berada di bantaran atau bahkan di atas sungai.

“Ada masyarakat yang membangun kos-kosan pakai pondasi di atas sungai. Kalau itu dibiarkan, ya pasti berdampak pada saluran air. Harusnya ditindak tegas juga,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pengembang resmi tidak akan berani membangun atau mengurug tanah tanpa izin, karena risikonya adalah sanksi pidana. Maka dari itu, perlakuan yang adil dan penegakan hukum yang konsisten menjadi penting dalam menangani persoalan banjir yang makin sering terjadi.

“Kalau ada developer yang melanggar, silakan ditindak. Tapi kalau ada warga juga yang melanggar aturan sempadan sungai atau membangun tanpa izin, jangan dibiarkan. Jangan tebang pilih,” tegasnya.

Heri berharap para pemimpin daerah melihat banjir tidak hanya fokus pada Amdal milik pengembang, tapi juga melihat secara komprehensif seluruh sistem tata ruang kota. Ia menyebut bahwa seluruh aliran sungai di Kota Mataram berasal dari hulu di Lombok Barat, sehingga penanganan banjir juga harus lintas wilayah.

“Jangan hanya menyalahkan kawasan perumahan. Akar masalah banjir ini ada di banyak titik, dari alih fungsi lahan, pembangunan tanpa izin, sampai drainase yang tidak terkoneksi,” pungkasnya.

Dengan penanganan yang adil dan menyeluruh, ia yakin bencana banjir di Kota Mataram bisa dikendalikan, tanpa perlu terus menerus mengkambinghitamkan satu pihak.(bul)