Beranda blog Halaman 212

Dompu Dapat Alokasi 226 Rumah Layak Huni 2026

0
Dompu Dapat Alokasi 226 Rumah Layak Huni 2026
Rahmat Hidayat (Suara NTB/ula)

Dompu (ekbisntb.com) – Sebanyak 226 unit rumah warga miskin tahun 2026 akan mendapat program rehabilitasi dari Kementerian Perumahan Rakyat. Alokasi ini masuk di antara 1.600 unit rumah yang diajukan Pemerintah Daerah (Pemda) Dompu dan disetujui dalam aplikasi sebanyak 1.558 unit.

Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Dompu, Rahmat Hidayat, S.E., di kantor Pemda Dompu, Kamis (11/6/2026) mengungkapkan, Balai Perumahan Rakyat telah membagi kuota rumah tangga miskin yang mendapat program perbaikan tahun 2026 berdasarkan data yang diimput dalam aplikasi Si Baru. “Kita ditetapkan mendapat kuota 226 unit rumah,” katanya.

Data ini tersebar di 17 desa/kelurahan di Kecamatan Kilo, Kempo, Manggelewa, Pajo, Woja dan Kecamatan Dompu. Desa tersebut yaitu Desa Mbuju, Dorokobo, Kempo, Songgaja, Tanju, Tekasire, Jambu, Lepadi, Tembalae, Madaprama, Serakapi, Simpasai, Bada, Kandai 1, Karamabura, Katua, dan Manggeasi.

Mereka yang berhak mendapatkan program ini adalah rumah tangga yang memiliki rumah tidak layak huni, memiliki pendapatan tapi dalam kategori miskin berdasarkan data Dinas Sosial dan BPS. “Nanti akan ada tenaga fasilitator lapangan yang akan turun melakukan klarifikasi mentukan bahwa yang bersangkutan layak,” ungkapnya.

Kendati tahun 2026 baru 226 diperbaiki, Rahmat Hidayat memastikan, sesuai hasil kunjunganya Bersama wakil Bupati di Kementrian Perumahan Rakyat, semua yang lolos verifikasi dari aplikasi akan diperbaiki. “Karena kondisi fiscal nasional, sehingga dilakukan secara bertahap,” jelasnya. (ula)

Nilai Tukar Dolar AS Tinggi, Pengusaha Kapal Penyeberangan Minta Pemerintah Pertimbangkan Penyesuaian Tarif

0
Nilai Tukar Dolar AS Tinggi, Pengusaha Kapal Penyeberangan Minta Pemerintah Pertimbangkan Penyesuaian Tarif
Firman Dandy


Mataram (ekbisntb.com)
– Kondisi usaha angkutan penyeberangan saat ini semakin berat. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan tekanan besar terhadap biaya operasional perusahaan angkutan penyeberangan.


Berdasarkan nilai kurs per 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada pada kisaran jual Rp 17.937,0 per dolar Amerika Serikat.


Bagi pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan atau Gapasdap, situasi ini semakin menyulitkan.


Ketua DPC Gapasdap Lembar, Firman Dandy menilai, kondisi ini berdampak langsung terhadap berbagai komponen biaya yang sangat bergantung pada mata uang asing.


Karena pada saat yang sama, harga minyak dunia juga masih berada pada level tinggi, yaitu sekitar US$94 per barel.


“Kombinasi antara pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia membuat beban operasional kapal semakin meningkat,” ungkap Kepala Cabang Dharma Lautan Utama (DLU) Lembar ini, Jumat, 12 Juni 2026.


Lebih lanjut ia menjelaskan, biaya operasional kapal terus mengalami kenaikan, sementara pendapatan perusahaan relatif tidak berubah karena tarif angkutan penyeberangan hingga saat ini belum disesuaikan.


“Dampak pelemahan rupiah paling terasa pada biaya perawatan kapal. Hampir seluruh komponen biaya mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” terangnya.


Firman merinci, harga suku cadang kapal naik sekitar 30% hingga 40%, oli naik hingga 60%, sementara biaya pengedokan kapal juga meningkat sekitar 20%, sebagaimana disampaikan oleh IPERINDO sebagai asosiasi galangan kapal. Kondisi tersebut secara otomatis semakin memperbesar tekanan terhadap perusahaan angkutan penyeberangan.


“Saat ini, tarif yang berlaku sudah tertinggal jauh dari perhitungan Harga Pokok Produksi atau HPP,” tandasnya.


Berdasarkan perhitungan HPP tahun 2019 yang dilakukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, bersama Kementerian Perhubungan, YLKI, ASDP sebagai fasilitator pelabuhan, pihak asuransi, dan asosiasi angkutan penyeberangan, tarif angkutan penyeberangan saat ini masih kurang sebesar 31,8% dari kebutuhan biaya sebenarnya.


Apabila dihitung dengan kondisi nilai tukar rupiah saat ini, berbagai komponen biaya otomatis mengalami kenaikan, maka selisih antara tarif dan biaya operasional semakin melebar.

“Berdasarkan perhitungan Gapasdap, ketertinggalan tarif saat ini bahkan mencapai sekitar 83% dari kebutuhan biaya,” jelasnya.


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, perusahaan angkutan penyeberangan wajib memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan pelayaran.


Namun di sisi lain, Khoiri menegaskan bahwa tarif sebagai sumber pendapatan utama perusahaan belum mencerminkan biaya operasional yang sesungguhnya. Kondisi ini menurutnya tidak dapat dibiarkan terlalu lama karena berkaitan langsung dengan keselamatan pelayaran.
“Keselamatan dan kenyamanan membutuhkan biaya yang memadai. Sulit bagi perusahaan untuk memenuhi seluruh standar keselamatan apabila struktur tarif yang berlaku masih tertinggal jauh dari kenaikan biaya operasional,” ucapnya.


Apalagi saat ini, rute Lembar-Padangbai terdapat 26 kapal, 21 kapal operasi atau sehari hanya operasi 13 kapal. Selebihnya off menunggu hari operasi.


Oleh karena itu, Gapasdap berharap pemerintah dapat melihat persoalan ini secara menyeluruh. Penyesuaian tarif bukan semata-mata menyangkut kepentingan pengusaha, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan pelayanan angkutan penyeberangan nasional serta pemenuhan standar keselamatan dan kenyamanan bagi masyarakat.


Apabila kondisi ini tidak segera mendapat perhatian, perusahaan angkutan penyeberangan akan semakin kesulitan mengoperasikan kapal secara berkelanjutan.


“Pada akhirnya, kemampuan perusahaan dalam menjaga standar keselamatan, kenyamanan, dan kesinambungan pelayanan kepada masyarakat akan semakin tertekan,” pungkasnya.(bul)

Semangat Pancasila dalam Pembangunan, Rizki Aftarianto Serahkan Estafet Kepemimpinan PLN UIP Nusra kepada RDW Manurung

0

Mataram (ekbisntb.com)-PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melaksanakan pisah sambut General Manager dari Rizki Aftarianto kepada RDW Manurung. Rizki Aftarianto selanjutnya mendapat amanah sebagai General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Utara, sementara RDW Manurung sebelumnya menjabat sebagai Vice President Administrasi Konstruksi Jawa, Madura, Bali, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara pada Direktorat Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Kantor Pusat.

Rizki Aftarianto menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan PLN, pemerintah daerah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan atas sinergi yang telah terjalin selama dirinya bertugas di UIP Nusra.

“Terima kasih atas dukungan dan kolaborasi yang telah diberikan selama ini. Saya meyakini semangat kebersamaan, gotong royong, dan dedikasi yang telah dibangun bersama akan terus menjadi kekuatan PLN UIP Nusra dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan,” ujarnya.

RDW Manurung menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai program dan proyek strategis yang tengah berjalan di wilayah Nusa Tenggara.

“Semangat Pancasila harus diwujudkan melalui kerja nyata. Bersama seluruh insan PLN UIP Nusra, kami siap melanjutkan dan mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menghadirkan energi yang andal bagi Nusa Tenggara,” kata Manurung.

Sebagai wujud komitmen untuk memastikan keberlanjutan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di Nusa Tenggara, RDW Manurung bersama jajaran manajemen PLN UIP Nusra langsung melakukan kunjungan lapangan ke proyek pembangunan SUTT 150 kV Mataram–Mantang usai acara pisah sambut. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal kepemimpinan baru dalam mengawal percepatan proyek strategis PLN yang diharapkan mampu memperkuat sistem kelistrikan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Nusa Tenggara.(bul)

Dampak Dolar dan Minim Pasokan, Harga Sejumlah Bapok di Mataram Naik

0
Pedagang sedang melayani seorang pembeli cabai di Pasar Induk Mandalika, Kelurahan Mandalika, Kecamatan Selaparang pada Rabu, (10/6/2026). Dampak dolar dan minim pasokan, harga ejumlah papok di Mataram naik. (Suara NTB/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Dinas Perdagangan Kota Mataram mengungkapkan sejumlah kebutuhan pokok hortikultura di pasar tradisional mengalami kenaikan harga. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya pasokan dari daerah penghasil serta pengaruh kenaikan nilai tukar dolar terhadap komoditas impor.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, tomat, bawang putih, bawang merah, dan kedelai.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan hasil survei di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Induk Mandalika dan Pasar Kebon Roek menunjukkan adanya kenaikan harga, terutama pada komoditas hasil pertanian.

“Kenaikan pada produk hortikultura sebenarnya bersifat fluktuatif,” ujarnya, Rabu (10/6).

Ia menjelaskan, harga cabai rawit saat ini melonjak dari Rp40 ribu per kilogram menjadi Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut disebabkan terbatasnya pasokan distribusi.

Meski demikian, Dinas Perdagangan memastikan pasokan cabai rawit mulai kembali masuk dari Pulau Sumbawa. Hal itu diketahui setelah pihaknya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Kebon Roek pada Rabu (10/6/2026).

“Tadi saat kami turun mengecek, alhamdulillah pasokan sudah mulai masuk, meski masih terbatas dan berasal dari Sumbawa,” jelasnya.

Kenaikan harga juga terjadi pada bawang putih. Harga komoditas impor tersebut naik dari Rp32 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Menurut Sri Wahyunida, kenaikan dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena bawang putih sebagian besar diimpor dari China.

Sementara itu, harga bawang merah mengalami fluktuasi. Dari sebelumnya Rp40 ribu per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp38 ribu per kilogram.

Komoditas kedelai juga mengalami kenaikan serupa karena merupakan barang impor. Di tingkat pengepul, harga kedelai naik dari Rp28 ribu menjadi sekitar Rp30 ribu lebih per kilogram, sehingga harga di tingkat distributor dan pengecer ikut terdorong naik.

“Di tingkat distributor harga sudah mencapai Rp38 ribu per kilogram, sedangkan di tingkat pengecer sekitar Rp40 ribu per kilogram,” sebutnya.

Selain itu, harga tomat kini naik menjadi Rp15 ribu per kilogram. Penyebabnya sama dengan cabai rawit, yakni berkurangnya pasokan dari daerah penyangga karena belum memasuki masa panen.

Sri Wahyunida memperkirakan kondisi pasokan akan mulai membaik dalam dua pekan ke depan seiring masuknya hasil panen hortikultura dari wilayah Sumbawa. Ia mengatakan, pasokan ke Pasar Induk Mandalika yang biasanya mencapai 500 kilogram per hari kini turun menjadi sekitar 200–300 kilogram.

“Penurunan pasokan itu menjadi salah satu pemicu kenaikan harga,” pungkasnya. (pan)

6.000 Tas Guna Ulang Disiapkan untuk Pasar Tradisional di Mataram

0
6.000 Tas Guna Ulang Disiapkan untuk Pasar Tradisional di Mataram
Petugas DLH Mataram membagikan kantong guna ulang (eco bag) masyarakat pada acara car free day di Jalan Udayana, Minggu (7/6/2026). Kini, 6.000 eco bag akan disiapkan untuk pasar tradisional. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menyiapkan sekitar 6.000 tas guna ulang (eco bag) untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat di pasar-pasar tradisional.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sekaligus menekan volume sampah plastik yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan.

Program tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Wali Kota Mataram Nomor 2 Tahun 2023 tentang Larangan Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai. Regulasi tersebut mulai diterapkan secara masif sejak 1 September 2024 dengan sasaran awal pasar modern dan kini diperluas ke pasar tradisional.

Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengatakan setelah membagikan eco bag kepada masyarakat melalui kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day/CFD) di Jalan Udayana, pihaknya akan melanjutkan program tersebut ke 19 pasar tradisional yang ada di Kota Mataram.

“Ini juga salah satu bagian dari kampanye kami untuk menekan volume sampah plastik, terutama di pasar yang menjadi salah satu sumber penghasil sampah terbesar,” ujarnya, Rabu (10/6).

Nizar menjelaskan, jumlah eco bag yang disiapkan saat ini mencapai sekitar 6.000 lembar dari total pengadaan sebanyak 8.000 lembar. Sebanyak 2.000 lembar sebelumnya telah dibagikan kepada masyarakat melalui kegiatan CFD.

Program pembagian tas ramah lingkungan di CFD mulai dilaksanakan sejak 17 Mei 2026 dengan mengusung tagline “Rampas Kantong Plastik”. Kegiatan tersebut rutin digelar setiap Minggu dengan jumlah pembagian tas berkisar antara 300 hingga 500 lembar per pekan.

Dalam pelaksanaannya, petugas menukar kantong plastik yang digunakan warga saat berbelanja dengan eco bag yang dapat digunakan berulang kali.

“Belanjaan mereka yang awalnya menggunakan tas plastik, kami tukar dengan eco bag,” katanya.

Menurut Nizar, penggunaan tas ramah lingkungan bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, melindungi ekosistem laut dari ancaman sampah plastik, serta mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, program tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya Kota Mataram yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, penerapan penggunaan tas ramah lingkungan di pasar modern sudah berjalan baik. Sekarang kami mulai menyasar pasar tradisional,” jelasnya.

DLH menargetkan ke depan masyarakat tidak lagi membawa atau menggunakan kantong plastik saat berbelanja di pasar. Eco bag yang dibagikan secara gratis diharapkan menjadi alternatif yang praktis karena dapat digunakan berulang kali.

Menurut Nizar, penyediaan tas ramah lingkungan merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap implementasi larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Selain lebih ekonomis karena dapat dipakai berkali-kali, penggunaan eco bag juga dinilai efektif dalam mengurangi volume sampah plastik di Kota Mataram. (pan)

Kasatgas MBG Ungkap Sebab dan Jumlah Dapur yang Tutup

0
Kasatgas MBG, Fathul Gani mendampingi Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal saat melakukan pemeriksaan menu di dapur-dapur MBG. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Kepala Satgas MBG NTB, Dr. H. Fathul Gani, M.Si., memastikan pelaksanaan program MBG tetap berjalan di tengah masa transisi kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN). Meski demikian, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG sempat menghentikan operasional secara mandiri akibat kendala penyaluran anggaran.


Asisten I Setda NTB ini di ruang kerjanya, Rabu, 10 Juni 2026 menegaskan, tidak ada kebijakan penghentian program dari BGN. Isu yang berkembang di masyarakat dan media sosial terkait penutupan dapur MBG disebut tidak sepenuhnya tepat.


“Sesuai arahan dan penjelasan pimpinan BGN, program MBG tetap berjalan. Kalau ada beberapa SPPG yang berhenti beroperasi, itu bukan karena ditutup, tetapi lebih karena ada kendala dalam penyaluran anggaran pada masa transisi ini,” ujarnya.


Menurutnya, masa transisi kepemimpinan di BGN turut diiringi evaluasi terhadap sejumlah aspek pelaksanaan program, termasuk tata kelola keuangan dan operasional SPPG. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa dapur MBG mengalami keterlambatan menerima transfer dana operasional.


Akibatnya, sejumlah pengelola SPPG memilih menghentikan sementara layanan hingga dana operasional kembali tersedia.


“Karena transfer anggaran dalam beberapa periode belum terlaksana, ada SPPG yang memutuskan berhenti sementara. Namun yang kami pantau, sebagian besar yang sempat berhenti kini sudah kembali beroperasi setelah persoalannya ditangani,” jelasnya.


Penghentian sementara operasional SPPG tersebut berdampak langsung terhadap layanan kepada penerima manfaat, terutama siswa yang menjadi sasaran program MBG. Sebab, hingga saat ini belum ada mekanisme pemindahan penerima manfaat ke dapur lain yang masih beroperasi.


“Konsekuensinya memang ada penerima manfaat yang sementara waktu tidak terlayani. Karena kita belum menerapkan skema pemindahan layanan ke SPPG lain,” katanya.


Di tengah masa transisi, Satgas MBG NTB juga mendorong seluruh pengelola SPPG memanfaatkan momentum ini untuk melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas layanan.


Ia mengatakan, tahun kedua pelaksanaan program MBG difokuskan pada peningkatan standar pelayanan, baik dari sisi infrastruktur maupun aspek pendukung lainnya.


“Arahan pimpinan BGN, tahun kedua ini menjadi tahun peningkatan kualitas. Kalau masih ada kekurangan pada fasilitas dapur, sistem sirkulasi, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), maupun standar operasional lainnya, silakan disempurnakan. Kita ingin memberikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat,” ujarnya.


Fathul Gani juga meluruskan informasi soal moratorium atau penghentian sementara pembukaan dapur MBG baru, hingga saat ini, belum ada menurutnya keputusan resmi dari BGN.


Karena itu, masyarakat maupun calon investor diminta berhati-hati terhadap berbagai informasi yang belum memiliki dasar hukum yang jelas.


“Kami masih menunggu petunjuk resmi secara tertulis dari BGN. Jangan sampai ada pihak yang langsung melakukan investasi besar hanya berdasarkan informasi yang belum jelas sumbernya,” katanya.


Ia mengimbau masyarakat untuk menahan diri terlebih dahulu hingga ada kebijakan resmi terkait pembukaan titik-titik SPPG baru.
“Harapan kami, jangan mudah percaya dengan informasi yang belum jelas. Saat ini fokus kita memastikan SPPG yang sudah ada bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.


Data Satgas MBG NTB menunjukkan jumlah SPPG yang berhenti beroperasi hingga saat ini mencapai sekitar 169 unit, dari total jumlah 826 SPPG untuk melayani seluruh sasaran program di NTB.


Selain itu, Satgas MBG NTB saat ini juga tengah melakukan pemetaan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang belum terjangkau program MBG. Wilayah-wilayah di Pulau Sumbawa menjadi prioritas karena masih banyak daerah dengan akses transportasi terbatas yang belum mendapatkan layanan secara optimal.


“Kami sudah meminta kabupaten/kota melakukan pemetaan wilayah terpencil yang belum terlayani. Banyak usulan datang dari Bima, Dompu, dan Sumbawa. Di Lombok juga ada beberapa wilayah kepulauan dan daerah dengan akses sulit yang perlu mendapat perhatian,” jelasnya.


Menurut Fathul Gani, tantangan utama distribusi MBG di wilayah 3T bukan hanya ketersediaan dapur, tetapi juga akses pengiriman makanan yang harus menempuh jalur sulit, termasuk jalan setapak dan kawasan perbukitan.


“Beberapa daerah memang membutuhkan penanganan khusus karena aksesnya cukup berat. Ini yang sedang kami petakan agar nantinya bisa disesuaikan dengan kebijakan BGN,” pungkasnya. (bul)

BBM Naik, Hotel di NTB Pilih Promo daripada Naikkan Tarif

0
BBM Naik, Hotel di NTB Pilih Promo daripada Naikkan Tarif
Ni Ketut Wolini (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang berlaku mulai 10 Juni 2026 dipastikan akan menambah beban operasional berbagai sektor usaha, termasuk industri perhotelan.


Namun, pelaku usaha hotel di Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih untuk menahan kenaikan tarif kamar di tengah lesunya tingkat kunjungan wisatawan dan menurunnya daya beli masyarakat.


Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, di Mataram, Rabu, 10 Juni 2026 mengatakan, kenaikan BBM secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi biaya operasional hotel. Mulai dari biaya distribusi barang dan bahan kebutuhan hotel, transportasi, hingga berbagai komponen pendukung lainnya.


Meski demikian, kondisi pasar saat ini belum memungkinkan hotel-hotel di NTB untuk menaikkan harga kamar.


“Kalau situasi sekarang, saya kira harga kamar hotel belum akan naik. Memang kenaikan BBM berpengaruh terhadap semua sektor usaha, termasuk perhotelan. Tetapi kondisi pasar saat ini tidak memungkinkan untuk menaikkan tarif,” ujarnya.


Menurut Wolini, industri perhotelan saat ini justru sedang menghadapi tekanan akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan daya beli masyarakat serta berkurangnya kegiatan pemerintah sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran turut memengaruhi tingkat hunian hotel.


“Kalau dibandingkan tahun lalu, okupansi hotel memang menurun. Ini yang menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha perhotelan saat ini,” katanya.


Ia menjelaskan, dalam situasi ini, strategi yang lebih banyak ditempuh pengelola hotel bukan menaikkan tarif, melainkan menawarkan berbagai program promosi untuk menarik wisatawan datang ke NTB.


“Justru sekarang hotel-hotel banyak melakukan promosi. Harapannya wisatawan tetap tertarik datang dan tingkat hunian bisa terjaga,” ujarnya.


Wolini mengakui kenaikan BBM tetap menjadi tantangan serius bagi industri perhotelan. Sebab, seluruh rantai pasok yang mendukung operasional hotel ikut terdampak sehingga berpotensi meningkatkan biaya usaha.


Namun, pelaku usaha memilih melakukan penyesuaian internal dan efisiensi operasional dibanding membebankan kenaikan biaya kepada konsumen melalui kenaikan harga kamar.


“Kenaikan BBM tentu sangat berpengaruh terhadap biaya operasional hotel. Tetapi untuk saat ini kami masih berusaha menata dan menjaga agar harga kamar tidak naik,” tegasnya.


Selain faktor kenaikan BBM, industri perhotelan NTB juga masih menghadapi dampak kebijakan efisiensi belanja pemerintah yang mengurangi pelaksanaan berbagai kegiatan, rapat, maupun pertemuan di hotel. Padahal, segmen kegiatan pemerintah selama ini menjadi salah satu sumber pasar penting bagi hotel-hotel, khususnya hotel kota (city hotel).


Meski demikian, Wolini menilai baik hotel resort maupun hotel kota tetap berupaya agresif mencari pasar baru dan mempertahankan tingkat hunian di tengah kondisi yang menantang.


“Semua pelaku usaha perhotelan tetap bersemangat. Baik resort maupun hotel kota sama-sama berupaya bertahan dan mencari peluang pasar. Hanya saja memang kondisi saat ini cukup berat karena berbagai faktor yang memengaruhi sektor pariwisata,” katanya. (bul)

Pergantian Kepala BGN, Anggaran Sejumlah SPPG di Lobar Disetop

0
Ilustrasi Uang (ekbisntb.com/siliput.com)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Persoalan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lombok Barat (Lobar) semakin mengemuka. Selain, sejumlah SPPG di-suspend atau dihentikan sementara, ada juga beberapa SPPG yang disetop sementara penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) karena adanya perubahan akun virtual di Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.


Akun virtual SPPG adalah rekening khusus yang digunakan untuk menerima dan mengelola dana operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari kas negara. Hal ini dampak dari pergantian kepala BGN, dari Dadan Hindayana ke Nanik Sudaryati Deyang.


Camat Gunungsari, Zulkifli yang dikonfirmasi media menerangkan, ada sekitar tujuh SPPG di wilayahnya yang tidak bisa menyalurkan MBG karena perubahan akun. “Selama tidak disalurkan anggarannya (oleh BGN), SPPG diminta untuk setop dulu (penyaluran MBG), tidak boleh gutang, karena tidak ada pembayaran utang,” terang Zulfikli, Rabu (10/6/2026).


Di satu sisi, SPPG tidak diperbolehkan untuk berutang untuk pengadaan MBG. Anggaran SPPG ini dihentikan sementara karena ada pergantian pimpinan BGN yang mengubah virtual akun di semua tempat, termasuk di bank-bank. “Kan pimpinan berubah jadi virtual akun juga diubah, tanda tangan juga,” imbuhnya.


Langkah pihak kecamatan sendiri menyikapi hal ini, pihaknya menjaga stabilitas daerah agar jangan sampai berdampak keresahan masyarakat. Pihaknya juga meminta pada Koordiator Kecamatan untuk turun ke masing-masing dapur MBG untuk turun menjelaskan memberikan pemahaman kepada masyarakat perihal kebijakan ini.


Ia menambahkan, terkait beberapa SPPG yang dihentikan sementara, sudah dilaporkan progres perbaikan ke BGN, tinggal menunggu persetujuan. Di daerah itu ada dua SPPG yang dihentikan sementara yakni di Desa Jatisela dan Dopang karena belum memenuhi standar dari sisi IPAL. Pihak satgas MBG pun sudah turun ke masing-masing SPPG untuk menindaklanjuti persoalan itu. (her)

Pemkab Lobar Siapkan Hadiah bagi Desa yang Capai 95 Persen PBB

0
Pemkab Lobar Siapkan Hadiah bagi Desa yang Capai 95 Persen PBB
Aria Damarwulan (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Berbagai cara dilakukan oleh Pemkab Lombok Barat (Lobar) melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Salah satunya dengan memberlakukan kebijakan penghargaan atau reward bagi desa-desa yang mampu merealisasikan atau mencapai 95 persen dari target PBB pada tahun ini.


Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lobar melalui Sekretaris Bapenda, Aria Damarwulan mengatakan, untuk merangsang desa lebih berinovasi dalam membantu Pemkab mencapai target PBB. “Desa yang dapat mencapai hingga 95 persen realisasi (dari target) PBB, maka akan kami berikan reward berupa 50 persen dari insentif pungutan,” kata Aria Damarwulan, Selasa (9/6/2026).


Penghargaan 50 persen diberikan ke desa ini dari insentif pungutan sebesar 5 persen. Jika realisasinya Rp100 juta maka insentifnya Rp5 juta, dari Rp5 juta diberikan 50 persen atau Rp2,5 juta ke desa. Insentif ini, kata dia, di luar 10 persen DBH yang diberikan ke desa.
Pemberian reward ini diberlakukan tahun ini. Kebijakan ini selain menggenjot PAD, juga sejalan dengan program Bupati, yaitu Sejahtera dari Desa.


Terlebih jika capaian PBB bisa 100 persen, maka DBH ke desa juga bisa lebih meningkat. Saat ini, realisasi PBB masing-masing desa bervariasi, ada yang tinggi dan rendah. “Sehingga dengan adanya reward ini diharapkan desa memacu agar bisa mencapai 95 persen, di samping DBH 10 persen ke desa itu bisa bertambah (meningkat),” jelasnya


Pihaknya mendorong desa yang capaian PBB-nya masih di bawah 70 persen, lebih menggenjot lagi capaiannya agar bersaing dengan desa-desa lainnya. Sehingga diharapkan dengan capaian PBB di masing-masing desa meningkat secara otomatis berdampak capaian PAD lebih tinggi, bisa melampaui realisasi tahun lalu mencapai 100 pesen dari target Rp33 miliar. Terlebih tahun ini target PBB ini ada kenaikan hingga Rp35 miliar.


Jika melihat per kecamatan, Batulayar menjadi daerah yang memiliki potensi PBB paling besar. Capaian masing-masing kecamatan pun lumayan tinggi, tetapi jika dilihat per desa terjadi gap. Diharapkan melalui reward ini tidak lagi capaian PBB ini terlalu jomplang antar desa. Dan desa-desa bisa memperoleh reward dan BHP merata, tidak jauh perbandingannya. “Kalau sudah merata kan, sejahtera dari desa pun terwujud,” ujarnya.


Peranan Kades pun dituntut untuk meningkatkan capaian PBB ini, karena manfaatnya kembali ke desanya. “Ini menjadi angin segar, sehingga desa harus aktif,” imbuhnya. Terlebih lagi, PAD dari PBB ini kembali ke desa dalam bentuk program, sehingga muara manfaat diperoleh kembali ke desa. (her)

Elpiji Subsidi di Pangkalan Oi Mbo Diduga Tak Tepat Sasaran

0
Elpiji Subsidi di Pangkalan Oi Mbo Diduga Tak Tepat Sasaran
Tim Diskoperindag Kota Bima berdialog dengan pemilik pangkalan dan warga saat melakukan sidak penyaluran LPG 3 kilogram di Kelurahan Oi Mbo, Rabu (10/6/2026). (Suara NTB/ist)

Kota Bima (ekbisntb.com) – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima menemukan dugaan penyaluran elpiji bersubsidi 3 kilogram tidak tepat sasaran saat inspeksi mendadak (sidak) di salah satu pangkalan di Kelurahan Oi Mbo, Rabu (10/6/2026). Temuan itu merupakan tindak lanjut atas keluhan masyarakat terkait distribusi Elpiji bersubsidi di wilayah tersebut.


Sidak dipimpin Kepala Bidang Perindustrian dan Perdagangan Diskoperindag Kota Bima, H. Sodik, S.Sos., bersama Bagian Ekonomi Setda Kota Bima yang diwakili Firman Hidayat, S.E., serta didampingi lurah, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas setempat.


Hasil pengawasan menunjukkan elpiji bersubsidi dari pangkalan tersebut diduga disalurkan ke luar wilayah prioritas. Menurut Sodik, sesuai ketentuan, alokasi elpiji 3 kilogram diprioritaskan untuk warga RW 01, khususnya RT 01, RT 02, dan RT 03.


“Penyaluran ke wilayah lain hanya dapat dilakukan apabila kebutuhan masyarakat di kawasan prioritas telah terpenuhi dan masih tersedia sisa kuota,” jelasnya.


Ia mengatakan, pengawasan dilakukan untuk memastikan distribusi Elpiji bersubsidi sesuai ketentuan di tengah pasokan yang masih terbatas. Dalam sidak itu, tim juga mengingatkan pangkalan agar tidak melayani pembelian oleh pengecer. Penyaluran kepada pelaku usaha mikro dibatasi maksimal satu tabung dalam setiap distribusi.


Menurut Sodik, pembatasan tersebut diberlakukan karena pasokan elpiji bersubsidi di Kota Bima belum kembali normal. Dalam kondisi normal, kebutuhan rumah tangga mencapai sekitar enam tabung per bulan, sedangkan pelaku usaha mikro dan kecil sekitar 16 tabung per bulan.


“Namun akibat keterbatasan pasokan yang terjadi saat ini, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan distribusi, di mana setiap rumah tangga maupun pelaku UMKM hanya diperbolehkan memperoleh satu tabung elpiji bersubsidi pada setiap penyaluran di pangkalan,” tuturnya.


Berdasarkan hasil pemantauan, pangkalan yang disidak hanya menerima alokasi 60 tabung elpiji bersubsidi. Tim pengawas merekomendasikan pembagian kuota secara merata kepada tiga RT prioritas, masing-masing 20 tabung untuk RT 01, RT 02, dan RT 03. Masyarakat di luar wilayah prioritas diminta menunggu distribusi berikutnya sesuai ketersediaan kuota.


“Apabila kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut telah terpenuhi dan masih terdapat sisa kuota, barulah pendistribusian dapat dilakukan ke wilayah lainnya di Kelurahan Oi Mbo,” katanya.


Sidak dilakukan setelah pangkalan tersebut menerima teguran kedua. Dalam waktu dekat, Diskoperindag Kota Bima akan menerbitkan surat teguran resmi sebagai bentuk pembinaan.


Sodik menegaskan, pengawasan terhadap pangkalan elpiji bersubsidi akan terus diperketat. “Kami mengimbau seluruh pangkalan agar mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Jika masih ditemukan pelanggaran, maka Diskoperindag tidak akan segan mengusulkan kepada agen untuk melakukan pembekuan sementara terhadap pangkalan yang bersangkutan,” tegasnya.


Ia menambahkan, sanksi akan diberikan secara bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.


“Apabila teguran kedua tersebut tidak diindahkan, maka akan diberikan teguran ketiga sebagai peringatan terakhir. Jika setelah tiga kali teguran pangkalan masih melakukan pelanggaran yang sama, Diskoperindag Kota Bima akan merekomendasikan kepada pihak agen untuk melakukan pembekuan sementara terhadap pangkalan dimaksud sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya. (hir)