Thursday, April 23, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 207

Temui Menhub Dudi Purwagandhi, Gubernur Iqbal Perjuangkan Akses Baru Transportasi Laut

0
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal menemui Menhub Dudi Purwagandhi di Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal didampingi Penjabat (Pj) Sekda NTB H. Lalu Moh. Faozal, S.Sos., M.Si., menemui Menteri Perhubungan (Menhub) Dudi Purwagandhi di Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi NTB H. Yusron Hadi, ST, MUM., menjelaskan pertemuan Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal dengan Menhub untuk memperjuangkan pembukaan akses baru transportasi penyeberangan/laut antar provinsi.

“Kita tahu bersama bahwa kini pemerintah tengah menguatkan jalur transportasi laut dan penyeberangan untuk menguatkan jalur barang dan orang antar pulau yang tentu saja berdampak signifikan terhadap perkembangan ekonomi antar daerah,” ujarnya, Jumat, 8 Agustus 2025.

Yusron menegaskan NTB terus aktif membuka akses daerah dengan daerah lainnya. Hal ini sebagai upaya memperlancar arus barang dan orang guna mendukung sektor pariwisata dan sektor ekonomi lainnya.

“Kali ini kita memperjuangkan pembukaan rute penyeberangan laut Provinsi NTB dengan Provinsi NTT. Pelabuhan Sape Bima terhubung dengan Pelabuhan Waingapu di Provinsi NTB,” terangnya.

Menurutnya apa yang dilakukan Gubernur NTB ini sebagai langkah tepat untuk menguatkan akses antar kawasan di Nusa Tenggara, baik Bali-NTB dan NTT.

“Kita telah kuat ke Barat pun ke utara demikian juga harapan kita terbangun kekuatan hubungan ekonomi NTB dengan NTT di timur. Semua ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kawasan dan secara nasional memperkuat positioning kawasan tenggara di level nasional,” ujarnya.

Hal lain, tambahnya, Gubernur NTB menyampaikan keinginan besar pembangunan sektor perhubungan di NTB, baik darat,laut dan udara. Termasuk peningkatan frekuensi penerbangan dan dan ke BIZAM, pengembangan industri pelayaran dan logistik. Termasuk menegaskan kembali untuk mengusulkan pembukaan akses pelabuhan Sanur Bali dengan Mandalika dan sebagainya. (ham)

Kemiskinan di Perkotaan NTB Naik, Kota Mataram Dihantui Pengangguran

0
Lalu Syamsul Adnan(ekbisntb.com/cem)

Lombok (ekbsintb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB,  mencatat kenaikan angka kemiskinan di wilayah perkotaan, termasuk Kota Mataram. Sementara itu, angka pengangguran masih membayangi kota ini, meski kemiskinan secara keseluruhan di NTB menurun.

Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat sebanyak 654,57 ribu jiwa. Angka ini turun 4,03 ribu jiwa dibandingkan September 2024, dan turun 54,44 ribu jiwa dibandingkan Maret 2024.

Namun, data menunjukkan peningkatan kemiskinan di wilayah perkotaan. Sebaliknya, perdesaan justru mengalami penurunan yang signifikan.

Persentase penduduk miskin di perkotaan naik dari 11,64 persen pada September 2024 menjadi 12,02 persen pada Maret 2025. Jumlahnya bertambah 14,94 ribu orang, dari 338,74 ribu menjadi 353,68 ribu jiwa.

Sementara itu, di perdesaan, persentase kemiskinan turun dari 12,21 persen menjadi 11,51 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang 18,97 ribu orang, dari 319,86 ribu menjadi 300,89 ribu jiwa.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan naiknya angka kemiskinan di Kota Mataram.”Secara naluriah, orang pasti akan mencari kerja di kota. Itu konsep awalnya. Karena kota ini ibaratnya gula yang banyak didatangi semut,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis, 7 Agustus 2025.

Ia menyebutkan bahwa kemiskinan di perkotaan memiliki banyak dimensi, baik struktural maupun kultural. Namun, ia menegaskan bahwa dua penyebab utama tetap lapangan kerja dan pendidikan. “Semakin bagus tingkat pendidikan orang, maka semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan, atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, wilayah perdesaan dinilai lebih kondusif untuk bertahan hidup. Lahan pertanian yang luas dan jenis pekerjaan informal yang beragam menjadi alasan utama. “Kalau di pedesaan, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Pertanian sangat luas,” ucapnya.

Saat ditanya soal migrasi penduduk desa ke kota, Samsul membenarkan bahwa hal tersebut menjadi penyebab meningkatnya pengangguran di perkotaan.”Iya, bolehlah (bahwa benar akibat pergerakan penduduk desa ke kota menyebabkan semakin banyak pengangguran di Kota Mataram),” sebutnya.

BPS mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2024 mencapai 4,85 persen. Angka ini mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,78 persen.

Di sisi lain, jumlah penerima bantuan sosial (bansos) di Kota Mataram terus menurun. Penurunan ini terjadi setelah Kementerian Sosial memangkas jumlah penerima pada dua triwulan pertama 2025.

“Ada dua SK yang dikeluarkan pada triwulan pertama dan triwulan kedua oleh Kemensos, SK No. 80 dan SK No. 141 kalau tidak salah. Itu mengeluarkan 8000 lebih penerima bansos di Kota Mataram,” bebernya.

Penurunan ini bisa jadi hasil dari validasi data yang lebih ketat. Namun, bisa juga menunjukkan bahwa sebagian warga telah keluar dari kategori miskin.

Meski begitu, kenaikan angka kemiskinan di perkotaan tetap menjadi alarm serius. Terlebih, laju urbanisasi tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai, khususnya bagi lulusan muda dan tenaga kerja berpendidikan menengah.(hir)

Kafe dan Resto Menjamur,Target Pajak Restauran Diusulkan Naik Rp3 Miliar

0
Pengendara melintas di depan salah satu kafe di Jalan Bung Hatta, Kota Mataram pada Kamis (7/8). BKD mengusulkan menaikan target pajak restoran pada APBD perubahan tahun 2025. (ekbisntb.com/cem)

Lombok (ekbisntb.com) -Bisnis kafe dan resto di Mataram kian menjanjikan. Jumlahnya terus menjamur karena ramai diburu oleh konsumen. Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, melihat peluang itu dengan menaikan target Rp3 miliar pada anggaran pendapatan dan belanja daerah perubahan.

Kepala Bidang Pelayanan, Penyuluhan, dan Penagihan Badan Keuangan Daerah Kota Mataram Ahmad Amrin menerangkan, pihaknya telah melakukan pendataan terhadap jumlah kafe dan restoran di Kota Mataram. Jumlahnya mengalami peningkatan signifikan dibandingkan data sebelumnya.

Peningkatan jumlah restoran dinilai sebagai potensi sehingga diajukan kenaikan target pajak restoran pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Perubahan senilai Rp3 miliar. “Kita sudah ajukan ke TAPD,” kata Amrin dikonfirmasi pada, Kamis (7/8).

Kenaikan pajak restoran Rp3 miliar belum final. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke tim anggaran pemerintah daerah, karena masih terjadi tarik ulur.

Amrin mengakui, tantangan dihadapi dalam optimalisasi pajak daerah adalah tingkat kepatuhan wajib pajak. Hal ini menjadi alasannya sehingga rutin melakukan pengawasan, agar wajib pajak patuh. “Sebenarnya sama saja tingkat kepatuhan wajib pajak ini. Kalau masyarakat tidak merasa diawasi  ujarnya.

Selain pajak restoran sebut Amrin, pendapatan dari opsen PKB dan BBNKB cukup optimal. Ia mencoba menghitung segala kemungkinan untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Berdasarkan data realisasi PAD yang dikelola BKD Kota Mataram sampai tanggal 11 Juli 2025. Capaian pajak daerah mencapai Rp147,3 miliar atau Rp50,61 persen dari target Rp291,2 miliar.

Pendapatan ini terdiri dari pajak hotel  Rp12,8 miliar dari target Rp30 miliar. Pajak restoran capaian Rp24 miliar lebih dari target Rp40 miliar. Pajak hiburan terealisasi Rp3,7 miliar dari target Rp6 miliar. Pajak parkir terealisasi Rp1,16 miliar dari target Rp2 miliar.

Selanjutnya, pajak air bawah tanah dari target Rp2 miliar terealisasi Rp1,34 miliar. Opsen PKB dari target Rp61,5 miliar terealisasi Rp33,6 miliar lebih. Opsen BBNK terealisasi Rp15,9 miliar dari target Rp36,4 miliar lebih. Pajak BPHTB dari target Rp30 miliar terealisasi Rp19,6 miliar lebih. (cem)

Hilirisasi Belum Jalan, Dewan Soroti Pertumbuhan Ekonomi NTB 2025 Tak Berkualitas

0
Muhammad Aminurlah(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Anggota DPRD NTB menyampaikan kritik terhadap laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi NTB triwulan II tahun 2025 yang mencapai 6,56 persen. Pertumbuhan tersebut dinilai tidak inklusif karena tidak mencerminkan peningkatan sektor ekonomi riil dan belum berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhamad Aminurlah, menilai pertumbuhan tersebut lebih banyak didorong oleh aktivitas industri pengolahan mineral dan ekspor. Bukan dari sektor-sektor produktif daerah seperti pertanian, kelautan, dan peternakan. Padahal, sektor-sektor inilah yang selama ini menjadi penopang utama lapangan kerja masyarakat NTB.

“NTB ini, utamanya Pulau Sumbawa, dikenal sebagai penghasil jagung terbesar di Indonesia. Tapi industrinya tidak ada. Jagung dari petani dikirim mentah ke luar daerah dan yang menikmati nilai tambah adalah daerah lain,” tegas politisi PAN yang akrab disapa Haji Maman, Kamis 7 Agustus 2025.

Haji Maman juga menyampaikan bahwa hilirisasi hasil bumi NTB seperti jagung, hasil laut, dan ternak, hingga kini belum berjalan. Industri pengolahan di sektor-sektor ini nyaris tidak terlihat, sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas dan minim dampak terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.

“Jika proyek-proyek pemerintah, khususnya di bidang pengadaan barang dan jasa berjalan, seharusnya bisa menyerap banyak tenaga kerja. Tapi kenyataannya, hingga semester I ini, belanja APBD NTB masih difokuskan pada belanja rutin,” tambahnya.

Selain jagung, NTB memiliki potensi besar di bidang peternakan sapi, budidaya laut, dan tambak. Permintaan terhadap sapi NTB rutin datang dari provinsi lain seperti DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Namun, industri peternakan lokal belum berkembang karena minimnya investasi. “Bagaimana NTB bisa mencapai visi ‘Makmur Mendunia’ jika sektor-sektor padat karya tidak disentuh? Ini bisa jadi bom waktu bagi pemerintahan Iqbal-Dinda,” ujarnya mengingatkan.

Muhamad Aminurlah berharap Gubernur NTB, Dr.H.Lalu Muhamad Iqbal mampu menarik investasi di sektor-sektor unggulan NTB. Dengan jaringan internasional yang dimiliki mantan Duta Besar Indonesia untuk tersebut, seharusnya investasi pada sektor jagung, peternakan, dan kelautan bisa lebih mudah direalisasikan.

“Dengan potensi NTB yang sangat lengkap, tugas pemerintah sekarang adalah memastikan hilirisasi berjalan dan investasi masuk. Kalau tidak, pertumbuhan ekonomi sebesar apapun tidak akan terasa oleh masyarakat,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, BPS NTB melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan II-2025 mengalami kontraksi sebesar 0,82 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Penurunan ini tercermin dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga konstan 2010, yang tercatat sebesar Rp27,83 triliun. “Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan tajam pada sektor pertambangan dan penggalian sebesar 29,93 persen, serta penurunan ekspor barang dan jasa hingga 40,02 persen,” kata Kepala BPS NTB, Drs. Wahyudin, Selasa, 5 Agustus 2025.

Kinerja sektor pertambangan, khususnya tembaga, merosot drastis akibat turunnya produksi konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang anjlok hingga 57 persen dibandingkan Triwulan II-2024.

Penurunan ini merupakan dampak dari implementasi UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang melarang ekspor mineral mentah. Akibatnya, ekspor luar negeri NTB jatuh hingga 77,73 persen secara tahunan.

Kategori Administrasi Pemerintahan juga mencatat pertumbuhan negatif akibat turunnya realisasi belanja pegawai dari Rp3,2 triliun menjadi Rp2,9 triliun. Penurunan terjadi karena pembayaran THR dilakukan lebih awal, yaitu pada Triwulan I-2025.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi NTB dari Triwulan I hingga II 2025 mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (ndi/bul)

Maksimalkan PAD, Pemprov NTB Tertibkan 3.065 Aset Daerah

0
Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri saat meninjau aset bergerak milik Pemprov NTB, Kamis, 7 Agustus 2025 di Mataram. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat membentuk 15 tim khusus untuk inventarisasi 3.065 aset milik daerah terdiri dari 766 objek tanah, 1.336 unit gedung dan bangunan, serta 1.960 unit kendaraan roda dua dan roda empat.

Melalui pembentukan 15 tim khusus, pendataan dan penelusuran aset resmi digencarkan di seluruh wilayah Pulau Lombok, termasuk kawasan strategis seperti Gili Trawangan, Pasar Seni, dan sejumlah lokasi di Lombok Timur.

Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri mengatakan pendataan aset sangat penting untuk menelusuri sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang selama ini terkubur, belum atau kurang dimanfaatkan.

Salah satu fokus dari pendataan kali ini adalah kendaraan dinas (randis). Wagub yang akrab dipanggil Umi Dinda itu melanjutkan, banyak dari kendaraan dinas yang nunggak pajak, tidak lagi digunakan, bahkan ada yang digunakan oleh pihak lain.

“Inilah tujuan dari pendataan aset agar kita memastikan apakah ada yang masih dipergunakan pihak lain. Itu mungkin akan kita ajukan untuk dilelang atau sebagainya, sehingga tidak terus tercatat sebagai hutang Pemprov,” jelasnya.

Terkait kendaraan yang sudah berusia tua atau tidak layak pakai, Pemprov NTB akan melakukan appraisal sebelum dilakukan lelang. Kendaraan yang akan dilelang ini dinilai bisa menjadi tambahan PAD.

“Dengan sejumlah kendaraan yang sudah kita anggap tidak lagi layak dipergunakan, kita lelang, dan hasilnya untuk daerah lagi,” katanya.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) NTB, Nursalim menjelaskan pendataan dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan aset. Apakah sedang dipinjam pakai oleh instansi lain, atau justru disewakan tanpa kejelasan hukum.

Temuan-temuan tim nantinya akan digunakan untuk menyusun langkah hukum atau kebijakan optimalisasi aset, agar tidak lagi membebani daerah.

“Jangan sampai perjanjian sewa atas nama si A, tapi yang pakai ternyata si B. Itu harus clear agar tak timbul masalah hukum. Kalau tidak diatur dan didata, nanti bisa diklaim jadi milik pribadi,” tegasnya.

Salah satu perhatian utama dalam penertiban ini adalah aset yang tidak efektif atau tidak lagi memberi nilai tambah ekonomi, termasuk kendaraan dinas yang sudah tua. Kendaraan-kendaraan tersebut akan dinilai (appraisal) untuk mengetahui apakah masih layak pakai atau layak dilelang.

Tim juga diberi kewenangan mengevaluasi kontrak sewa yang dinilai bermasalah. Jika ditemukan penyalahgunaan seperti sub kontrak tanpa izin, kontrak bisa diputus.

“Kita lihat di kontraknya. Kalau kontraknya tidak boleh disubkontrakkan dan itu dilanggar, ya kita beri teguran, bahkan bisa kita cabut kontraknya. Sepanjang itu tak bertentangan dengan aturan tertulis,” tegasnya.

Salah satu persoalan pelik yang saat ini sedang ditangani adalah sengketa aset yang dikuasai masyarakat selama puluhan tahun. Salah satu contoh terjadi di Lombok Timur, terkait rumah jaga milik Dinas PU yang kini sedang dalam proses hukum karena diklaim sebagai milik pribadi.

“Dulu mungkin masyarakat menempati tanpa tahu bahwa itu aset pemerintah. Setelah lama diduduki, akhirnya dianggap milik sendiri. Sekarang kita digugat di Lombok Timur. Kasus serupa juga terjadi di Kuripan, di aset bekas SMA,” ungkapnya.

Mantan Kepala Biro Organisasi NTB ini menuturkan kondisi semacam ini banyak ditemukan karena lemahnya dokumen kepemilikan saat penyerahan aset. Beberapa aset dari Dinas PU, misalnya, tidak disertai sertifikat atau dokumen pendukung yang lengkap.

“Ini yang sekarang kita telusuri. Setelah datanya lengkap, nanti kita sertifikatkan. Karena jika tidak, risikonya terus terbuka untuk sengketa,” katanya.

Adapun karena jumlah sumber saya di BPKAD terbatas, Nursalim mengingatkan seluruh OPD sebagai pengguna aset untuk terlibat aktif dan serius dalam proses pendataan. Terutama untuk aset tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, yang selama ini menjadi titik lemah dalam administrasi barang milik daerah.

“Kami di pengelola jumlahnya terbatas. Jadi OPD sebagai pengguna aset harus serius ikut sensus. Ini penting agar tidak terulang kasus seperti di Bawaslu atau tempat lain yang asetnya bermasalah karena tidak tercatat dengan benar,” tutupnya. (era)

Semester Pertama 2025, Realisasi Anggaran NTB Tembus Rp3,3 Triliun

0
Kepala BPKAD NTB, Nursalim. (ekbisntb.com/dok)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja positif dalam realisasi anggaran di semester pertama 2025. Hingga akhir kuartal tersebut, pendapatan daerah sudah mencapai 54,21 persen atau lebih dari Rp3,3 triliun.

Sementara belanja daerah juga terus bergerak, meski masih di angka sekitar 45 persen atau Rp2,8 triliun.

“Pendapatan kita masih progresif, sudah bagus. Di kuartal pertama ini sudah mencapai di atas 50 persen, tepatnya 54,21 persen. Sementara itu, belanja juga mulai bergerak. Artinya, jarak antara pendapatan dan belanja tidak terlalu jomplang,” jelas Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) NTB, Nursalim, Kamis, 7 Agustus 2025.

Meski progresif, belanja daerah dinilai belum maksimal. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kontraksi ekonomi NTB yang hingga triwulan kedua masih minus.

Namun ia memastikan bahwa tren tersebut akan berubah di triwulan ketiga karena sebagian besar proyek fisik telah masuk dalam tahap kontrak dan pencairan.

“Kalau sudah berkontrak, kami minta segera ajukan uang muka supaya bisa belanja. Itu yang kita dorong, supaya OPD segera kontrak dan ajukan pencairan. Jadi uangnya bisa segera diputar untuk belanja, dan belanja ini yang akan menggerakkan ekonomi,” jelasnya.

Sejumlah proyek besar disebut mulai berjalan, seperti Pembayaran untuk proyek pembangunan Rumah Sakit Mandalika. Dan pembayaran proyek renovasi Islamic Center (IC) yang saat ini masih dalam proses pencairan.

Adapun karena adanya denda kontraktor hingga Rp3,1 miliar berdasarkan LHP BPK, Pemprov NTB memastikan pembayaran tersebut akan disertai pemotongan denda secara langsung.

“IC sekitar Rp6 miliar langsung dipotong denda. Yang jelas kami sudah antar SPP dan kami potong langsung di situ sehingga tidak ada los,” tegasnya.

Ada juga beberapa proyek yang masih didampingi proses pembayarannya, seperti di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), disebut akan segera menyusul pencairannya.

“Yang besar-besar sudah selesai. IC sudah berproses, RS Mandalika juga. Tinggal Dikbud yang masih kita dampingi supaya cepat sesuai prosedur,” tambahnya.

Mantan Kepala Biro Organisasi itu juga menyebutkan proyek-proyek tahun 2025 di beberapa rumah sakit seperti RS Mandalika, RS Mutiara Sukma, RS Manambai telah berkontrak dan sedang dalam tahap pencairan dana. Begitupun di Dinas PUPR.

“Kita dorong OPD-OPD segera berkontrak kemudian dibarengi pencairannya. Pencairan uang mukanya supaya uang itu bisa dipakai untuk belanja untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Namun demikian, masih ada beberapa OPD yang realisasi belanjanya rendah dan membutuhkan pendampingan khusus. Seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Dinas Perkim).

Leletnya realisasi belanja tanpa alasan mendasar. Sebab menurut Kepala BPKAD itu semua instrumen sudah tersedia.

“Sebenarnya tidak ada alasan, karena dokumen APBD sudah ada, DPA sudah ada. Tinggal berproses saja,” ucapnya. (era)

Realisasi Investasi Triwulan II NTB Jauh dari Target

0
Plt Kepala DPMPTSP NTB, Eva Dewiyani. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Realisasi investasi NTB di triwulan kedua tahun 2025 jauh dari target. Sejak April hingga Juni tahun ini, realisasi baru menyentuh angka Rp15,9 triliun atau setara dengan 26,11 persen dari target Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2024, di triwulan yang sama, realisasi investasi di NTB menyentuh angka Rp16,7 triliun.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Eva Dewiyani menjelaskan selama satu semester, realisasi investasi di NTB mencapai 47,16 persen atau setara dengan Rp28,8 triliun dari target nasional Rp61 triliun.

“Hampir menyentuh 50 persen di semester pertama tahun ini,” ujarnya.

Daerah dengan realisasi investasi tertinggi selama triwulan kedua adalah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyentuh Rp12 triliun atau setara 26,18 persen didominasi oleh Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) sebanyak 310 investor.

Disusul oleh Kabupaten Lombok Tengah mencapai 76,21 persen atau setara 76 persen dengan PMDN sebanyak 1036 dan Penanam Modal Asing (PMA) sejumlah 32. Kemudian, Kabupaten Lombok Barat dengan total investasi senilai Rp590 miliar atau 39 persen. Didominasi oleh PMDN mencapai 602 dan 2 investor asing.

Selanjutnya Kota Mataram senilai Rp366 miliar, Kabupaten Lombok Utara Rp202 miliar, Sumbawa Rp179 miliar, Dompu Rp116 miliar, Lombok Timur Rp95 miliar, Kota Bima Rp39 miliar, dan Kabupaten Bima Rp18 miliar.

Fenomena serupa terjadi selama semester pertama tahun 2025, KSB menjadi daerah dengan realisasi investasi tertinggi mencapai Rp20,72 triliun atau 45,02 persen, Kabupaten Lombok Tengah Rp4,50 triliun mencapai 150 persen, Kota Mataram Rp1,19 triliun, Lombok Barat Rp780 miliar.

Selanjutnya ada Sumbawa dengan realisasi investasi mencapai Rp472 miliar, Lombok Utara Rp451 miliar, Dompu Rp380 miliar, Lombok Timur Rp213 miliar, Kota Bima Rp54 miliar, dan Kabupaten Bima Rp23 miliar.

Selama triwulan kedua, terdapat penambahan serapan tenaga kerja sebanyak 3.690 tenaga kerja Indonesia yang tersebar di berbagai sektor dan Kabupaten/Kota. Selain itu, tercatat juga terdapat penambahan 86 tenaga kerja asing yang bekerja di NTB.

Sementara, dalam enam bulan, Pemda NTB menyerap tenaga kerja sebanyak 7492 tenaga kerja Indonesia yang tersebar di berbagai sektor dan Kabupaten/Kota.

Selain itu, tercatat juga terdapat penambahan 124 tenaga kerja asing yang bekerja di NTB. (era)

Hiswana Migas Dorong Konversi BBM ke LPG untuk Petani dan Nelayan NTB

0
Reza Nurdin(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Hiswana Migas Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong percepatan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram bagi petani dan nelayan di daerah ini. Upaya ini dinilai strategis untuk mengurangi tekanan pada kuota LPG subsidi rumah tangga dan memastikan distribusi energi lebih tepat sasaran.

Ketua Hiswana Migas NTB, Reza Nurdin, menyampaikan bahwa saat ini alokasi LPG 3 kg untuk rumah tangga masih banyak diserap oleh sektor produktif seperti pertanian dan perikanan. Padahal, sektor tersebut seharusnya mendapatkan alokasi tersendiri.

“Kami sudah sampaikan kepada Pak Gubernur dan sedang dikoordinasikan dengan Dinas ESDM Provinsi dan BPH Migas agar petani dan nelayan bisa segera dikonversi. Jangan sampai mereka terus menyerap alokasi untuk rumah tangga,” tegas Reza, Kamis, 7 Agustus 2025.

Hemat dan Ramah Lingkungan

Reza menjelaskan bahwa sebagian petani dan nelayan di NTB sebenarnya telah melakukan konversi secara mandiri. Mereka beralih menggunakan LPG untuk mesin-mesin kecil seperti pompa air dan mesin kapal penangkap ikan.

“Hasilnya jauh lebih hemat. Satu atau dua tabung LPG bisa digunakan seharian, dibandingkan BBM yang bisa habis beberapa liter untuk pekerjaan serupa,” ungkapnya.

Namun, karena belum ada program resmi konversi dari pemerintah di NTB, sebagian besar petani dan nelayan masih mengandalkan BBM atau menyerap LPG rumah tangga secara tidak tepat.

Perketat Rekomendasi Lewat Aplikasi X-Star

Untuk menghindari kebocoran distribusi BBM dan LPG subsidi, pemerintah mulai memperketat prosedur pemberian surat rekomendasi melalui aplikasi digital bernama X-Star.

Reza menjelaskan bahwa saat ini surat rekomendasi tidak lagi dikeluarkan oleh pemerintah desa atau kecamatan, tetapi langsung oleh dinas teknis terkait, seperti Dinas Pertanian dan Dinas Kelautan dan Perikanan.

“Petani dan nelayan cukup datang ke dinas. Mereka akan diverifikasi berdasarkan data mesin dan alat yang dimiliki, lalu dihitung kebutuhan BBM atau LPG-nya. Surat rekomendasi dari aplikasi X-Star berlaku tiga bulan,” terang Reza.

Melalui aplikasi ini, pemerintah bisa menentukan kuota yang tepat untuk setiap pengguna. Hal ini juga diyakini mampu menekan penyalahgunaan dan penyaluran yang tidak sesuai sasaran.

“SPBU sekarang hanya melayani pembeli yang membawa surat rekomendasi dari X-Star. Jadi lebih tertib dan transparan,” katanya.

Sosialisasi dan Dukungan BPH Migas

Menurut Reza, sosialisasi aplikasi X-Star sudah dilakukan sejak tahun lalu. Pada Juli 2025, pihaknya kembali mengundang seluruh dinas terkait se-NTB dalam kegiatan sosialisasi bersama BPH Migas dan Dinas ESDM Provinsi.

“Kami ingin seluruh daerah siap menerapkan sistem ini. Petani dan nelayan tidak bisa langsung mengakses aplikasi, tapi bisa mengurus rekomendasi ke dinas terkait,” ujarnya.

Reza berharap NTB bisa segera masuk dalam program nasional konversi BBM ke LPG untuk sektor pertanian dan perikanan pada 2026. Menurutnya, langkah ini penting untuk mendukung ketahanan energi, efisiensi biaya, dan pengendalian subsidi yang lebih akurat.

“Kita ingin distribusi energi tepat sasaran, sektor produktif tetap jalan, dan masyarakat tidak gaduh karena terjadi penumpukan atau kelangkaan,” tutup Reza.(bul)

Bank Mandiri Mataram Didemo Terkait Dugaan Uang Palsu di ATM

0
Demi di kantor Bank Mandiri(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Sekelompok massa dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bank Mandiri, Jalan AA Gde Ngurah No. 48 A-B, Kota Mataram, Kamis siang, 7 Agustus 2025. Mereka memprotes dugaan beredarnya uang palsu yang diduga bersumber dari mesin ATM milik Bank Mandiri.

Aksi berlangsung tertib dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Melalui pengeras suara, Ketua LSM Garuda, M. Zaini, menyuarakan tuntutan agar Bank Mandiri segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh mesin ATM-nya. Ia meminta bank memastikan tidak ada mesin yang mengeluarkan uang palsu.

Zaini mengungkapkan, aksi ini berangkat dari laporan salah satu nasabah. Nasabah tersebut menarik uang tunai dari ATM Bank Mandiri di kawasan Pasar Renteng, Praya, Kabupaten Lombok Tengah, pada Sabtu, 26 Juli 2025 sekitar pukul 12.00 WITA. Namun, salah satu lembaran uang pecahan Rp100.000 yang diterima ditolak oleh pedagang bakso karena diduga palsu.

“Meskipun hanya selembar, hal ini tidak bisa dianggap remeh. Bisa saja kasus serupa terjadi di tempat lain dengan jumlah yang lebih besar. Kami minta OJK dan Bank Indonesia turun tangan,” tegas Zaini.

Menurutnya, peredaran uang palsu melalui fasilitas perbankan tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga mencederai kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pihak bank berkewajiban memberikan informasi yang benar serta menjamin keaslian layanan, termasuk uang tunai dari ATM.

“Bank harus menjamin kualitas dan keaslian uang yang dikeluarkan dari ATM. Bila ditemukan ketidaksesuaian, konsumen berhak atas penjelasan dan kompensasi,” ujar Zaini. Ia juga mengingatkan bahwa penyimpanan dan peredaran uang palsu merupakan tindak pidana sesuai KUHP dan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Menanggapi aksi tersebut, perwakilan Bank Mandiri Mataram, Danu, menemui massa untuk memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti laporan dugaan uang palsu tersebut secara cepat.

“Kami langsung menarik lembaran uang yang dimaksud dan menggantinya dengan uang baru bernilai sama. Kami juga melakukan pemeriksaan internal,” kata Danu.

Ia menambahkan bahwa seluruh operasional Bank Mandiri berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Selain itu, Bank Mandiri menggunakan mesin ATM dengan sistem keamanan berlapis yang mampu mendeteksi dan menolak uang palsu, baik saat setor tunai maupun tarik tunai.

“Teknologi mesin kami secara otomatis akan menolak uang yang diduga palsu. Kami pastikan, seluruh uang yang keluar dari ATM Bank Mandiri adalah uang asli,” tegas Danu.

Aksi demo pun berakhir setelah perwakilan LSM Garuda menerima penjelasan langsung dari pihak bank. Meski demikian, mereka menegaskan akan terus memantau kasus ini agar tidak terulang dan konsumen mendapatkan perlindungan yang layak. (bul)

Realisasi Pajak Baru Rp2,3 Triliun, DJP Nusra Perkuat Kolaborasi Stakeholder

0
Samon Jaya(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Realisasi penerimaan pajak bersih (neto) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Nusa Tenggara (Nusra) hingga 31 Juli 2025 baru mencapai Rp2,372 triliun atau 34,91 persen dari target tahunan sebesar Rp6,797 triliun. Capaian ini mendorong DJP Nusra untuk memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan di bidang perpajakan.

Kepala Kanwil DJP Nusra, Samon Jaya menegaskan bahwa rendahnya penerimaan pajak sejauh ini sebagian besar disebabkan oleh masih dominannya kontribusi sektor pemerintahan. “Secara tradisional, sumbangsih terbesar penerimaan pajak memang masih berasal dari aktivitas pemerintah. Mulai dari gaji hingga pembayaran proyek,” ujarnya, Kamis, 7 Agustus 2025.

Samon menjelaskan bahwa kondisi ini serupa terjadi di dua wilayah tanggung jawab Kanwil DJP Nusra, yakni NTB dan NTT. Untuk itu, pihaknya kini tengah mendorong peningkatan peran sektor non-pemerintah dalam menyumbang penerimaan pajak.

“Kita ingin memperluas basis pajak. Karena sektor lain selain pemerintah, peranannya masih belum kuat. Itu yang sedang kita tingkatkan sekarang ini,” tegasnya.

DJP Nusra kini menggencarkan kerja sama lintas sektor demi mengoptimalkan potensi perpajakan yang belum tergarap. Samon menyebut, pihaknya sudah membangun sinergi dengan para kepala daerah, aparat penegak hukum, serta lembaga-lembaga yang memiliki simpul data strategis.

“Kami kerja sama dengan gubernur, bupati, wali kota, kapolda, kajati, danrem, Bulog, dan lembaga lainnya. Semua harus bergandeng tangan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai target penerimaan pajak. Menurutnya, jika pendapatan negara dari pajak terganggu, maka pembangunan nasional pun akan terdampak.

“Kalau penerimaan pajak tidak maksimal, pembangunan sekolah akan terganggu. Padahal sekolah mencerdaskan anak bangsa. Banyak efek negatifnya kalau kita tidak solid,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Samon mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media massa, untuk turut serta dalam mendukung upaya edukasi dan kepatuhan pajak.

“Kalau kita kerja sendiri-sendiri, tidak akan bisa. Teman-teman media juga punya peran penting dalam menyampaikan pesan pajak ke publik,” tandasnya.

Optimistis Capai Target

Meskipun capaian masih jauh dari target, DJP Nusra tetap optimistis bahwa target penerimaan hingga akhir tahun dapat tercapai.

“Kami masih yakin, target Rp6,797 triliun itu bisa kami kejar. Asalkan ada kekompakan dan komitmen bersama,” tegas Samon.

DJP Nusra juga akan terus melakukan langkah-langkah strategis seperti intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta pemanfaatan data dan teknologi untuk mengidentifikasi potensi penerimaan yang belum tergarap.

Dengan semakin eratnya sinergi antarlembaga, DJP Nusra berharap tren penerimaan pajak akan meningkat signifikan dalam beberapa bulan ke depan, guna menopang pembangunan yang berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara.(bul)