Beranda blog Halaman 207

Pemdes Sedau Jajaki Penerapan E-Ticketing di Wisata Gunung Jae

0
Pemdes Sedau Jajaki Penerapan E-Ticketing di Wisata Gunung Jae
Kepala Desa Sedau Amir Syarafudin (kiri) menunjukkan MoU penerapan e-ticketing di lokasi wisata Gunung Jae, Desa Sedau, Lobar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Jumlah pengunjung ke Wisata Gunung Jae Desa Sedau kecamatan Narmada Lombok Barat menembus 5.000 orang pada tahun lalu. Pendapatan yang berhasil diperoleh pun lumayan tinggi, mencapai Rp250 Juta. Untuk mengoptimalkan pendapatan lokasi wisata ini, pihak desa menjajaki penerapan sistem tiket daring atau e-ticketing. Wisata Desa Gunung Jae pun menjadi yang pertama akan menerapkan sistem daring tersebut di Lobar.


Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Sedau dengan platform tiket digital terbesar di Asia Tenggara, Easybook, Kamis (11/6) di Pelabuhan Senggigi. Bupati Lobar, H. Lalu Ahmad Zaini, dan sejumlah pejabat teras Giri Menang menyaksikan langsung penandatangan MoU itu. Dengan begitu, Sedau siap mengembangkan kawasan wisatanya berbasis digital.


Kepala Desa Sedau, Amir Syarafudin, optimis sistem itu akan mengembangkan kawasan wisata setempat. Meski diakuinya pihak desa sudah menerapkan sistem tiket daring aplikasi Sisparnas, tetapi hasilnya masih kurang maksimal.


“Karena mungkin ada kendala di admin provinsinya sehingga kami juga terkendala. Memang tiketnya juga kami digitalisasi jadi kami sudah tidak menggunakan tiket manual lagi, tapi kita ingin lebih baguslah untuk sistem tiketnya, sehingga ke depan nanti kebocoran-kebocoran pendapatan itu bisa kita minimalisasi,” terang Amir.


Diakuinya, jumlah kunjungan lokasi wisata Gunung Jae itu cukup tinggi. Data kunjungan per tahun di 2025 tercatat mencapai lima ribu lebih, baik pengunjung yang menikmati alam maupun camping ground.


“Paling banyak kami pesertanya itu untuk yang weekend (akhir pekan). Terakhir weekend sebelumnya, itu saja ada sekitar 550-an orang yang berkegiatan di Wisata Alam Gunung Jae,” ungkapnya.


Pendapatan yang diperoleh dalam setahun hampir mencapai Rp250 juta. Belum termasuk dengan pemasukan dari Bumdes yang bisa menyetor untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) dari angka Rp10 juta sampai Rp15 juta per tahun. Sayangnya untuk pendapatan dari Gunung Jae, pihaknya melakukan pembagian keuntungan (sharing profit) dengan Pemda Lombok Barat selaku pihak yang memiliki aset di kawasan wisata tersebut.


“Rp15 juta, jadi dibagi dua. Kalau tidak dibagi dua, pernah sampai Rp30 juta PADes-nya dari pariwisata saja. Itu bersihnya sudah dipotong untuk gaji karyawan, gaji Bumdes, gaji pengurus, dan seterusnya, sudah kami potong,” paparnya.


Pihaknya berharap dengan penerapan Easybook, sistem keuangan dari objek wisata itu akan lebih teratur. Sebab, ia tidak menampik sejauh ini dari tiket itu sendiri terkadang tidak tercatat.


“Sehingga nanti di akhir bulan juga kami kerepotan ketika misalnya merekap jumlah kunjungan. Tetapi kalau menggunakan Easybook ini, insyaallah nanti per hari, per minggu, bahkan per tahunnya nanti bisa kami rekap secara teratur dan lebih rapi,” ucapnya.


Dari sisi kesiapan, Syarafudin mengaku sumber daya manusia (SDM) pengelola wisata itu sudah memadai. Terlebih struktur pembagian tugas pengelolaan Pokdarwis-nya sudah terklasifikasi. Mulai dari bagian administrasi, bidang promosi, destinasi, kebersihan, hingga keamanan.


Tindak lanjut MoU itu, dalam waktu dekat akan ada Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bumdes dengan Easybook melibatkan Pokdarwis. “Kami masih menunggu finalisasi drafnya dari Easybook sendiri, karena tentu nanti ada beberapa poin dan item yang perlu menjadi kesepakatan bersama,” pungkasnya.


Sementara itu, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Pemuda Olahraga (Disparekrafpora) Lobar mengapresiasi langkah Desa Wisata Sedau bekerja sama dengan Easybook. Bahkan ke depan akan diikuti oleh desa wisata lainnya di Lobar.


“Untuk wisata Gunung Jae, tata kelolanya sudah bagus, sudah ada perdes dan sebagainya,” jelas Kadisparekrafpora Agus Gunawan.
Beberapa desa wisata lain yang berpotensi menerapkan hal serupa seperti Desa Banyu Urip untuk Wisata Bukit Keteri, Purekmas Desa Sesaot, Wisata Pemandian Buwun Sejati, dan Lebah Sempage.


Ia menjelaskan, sistem e-ticketing ini akan membuat wisatawan lebih percaya karena sistem pembayaran di satu titik. Sehingga tidak ada lagi retribusi parkir maupun bayar kembali untuk kawasan destinasi.


“Jadinya merasa aman, kemudian keberlanjutan desa wisata dari segi manajemen keuangan dan sebagainya,” pungkasnya. (her)

Balapan Formula 4 Bakal Digelar di Sirkuit Mandalika

0
Balapan Formula 4 Bakal Digelar di Sirkuit Mandalika
Dirut MGPA Ananda Nikola (empat dari kiri) dan CEO Formulan IDN Michael Indrajaja menandatangi MoU penyelenggaran balap Formula 4 di Sirkuit Mandalika mulai tahun ini, Minggu (14/6/2026). (Suara NTB/kir)

Praya (ekbisntb.com) – Ajang balap Formula 4 bakal mulai digelar di Sirkuit Internasional Mandalika pada tahun 2026 ini. Balapan yang merupakan jenjang awal menuju balapan dunia Formula 1 (F1) tersebut diharapkan bisa menjadi ajang pembinaan bagi pembalap nasional menuju pentas balap dunia. Kepastian kehadiran balap Formula 4 tersebut ditandai dengan penandatangan Memorandum of Undestanding (MoU) antara Mandalika Grand Prix Assocation (MGPA) selaku pengelola Sirkuit Internasional Mandalika dengan Formula IDN, selaku promotor.


Penandatangan dilaksanakan di sela-sela gelaran Mandalika Festival of Speed (MFoS) putaran kedua di Sirkuit Internasional Mandalika, Minggu (14/6/2026). Kesepatakan penyelenggaraan balap Formula 4 tersebut ditandatangani langsung Direktur Utama MGPA Ananda Nikola dan CEO Formula IDN Michael Indrajaja. Hadirnya balap Formula 4 tersebut kian menambah ragam ajang balap otomotif di Sirkuit Internasional Mandalika.


Direktur Utama MGPA Ananda Nikola mengatakan, pada tahun pertama balap Formula 4 atau Formula IDN akan digelar sebanyak dua putaran. Dengan putaran pertama akan digelar pada bulan Agustus dan di bulan Oktober untuk putaram kedua. Kehadiran ajang balap tersebut diharapkan bisa menjadi bagian dari ekosistem pembinaan pembalap nasional.


Di tahun pertama ini, balap Formula 4 sendiri akan masuk menjadi bagian dari ajang MFoS terlebih dahulu. Seiring berjalanya waktu balapan tersebut kedepan diharapkan bisa menjadi ajang balapan tersendiri. Balapan ini diharapkan bisa melahirkan pembalap-pembalap dunia asal Indonesia.


Target pesertanya ialah pembalap muda mulai usia 14 tahun ke atas. Termasuk pembalap-pembalap gokart. Jadi Indonesia ke depan akan memiliki penjenjangan yang jelas dalam pembinaan pembalap, dengan hadirnya balap Formula 4 tersebut. Khususnya pembalap roda empat.


“Ajang balap Formula IDN ini memang dihajatkan sebagai ajang pembinaan pembalap nasional. Sebagai pintu gerbang menuju balapan ke level yang lebih tinggi lagi. Baik itu Formula 3, Formula 2 hingga Formula 1,” sebutnya.


Di tempat yang sama CEO Formula IDN Michael Indrajaja menambahkan, di tahun pertama penyelenggaraan Formula IDN akan diikuti 10 mobil Formula 4. Dan, diharapkan bisa terus bertambah pada penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya. “Untuk pembalapanya, kita akan fokus ke pembalap nasional. Meski sudah ada sejumlah pembalap luar negeri yang mengatakan ketertarikan untuk ambil bagian di balap Formula IDN ini,” imbuhnya.


Mobil Formula 4 yang akan digunakan nantinya memiliki spesifikasi seperti mobil yang digunakan untuk balapan Formula 1. Tetapi dengan kualifikasi yang lebih rendah. Dengan top speed bisa mencapai hingga 274 km/jam. Karena memang balapa Formula 4 merupakan balapan yang diperuntukan bagi pembalap yang mau merintis karir balap di kelas Formula. (kir)

Belum Optimal, Operasional Pabrik Garam Bima

0
Pabrik pengolahan garam yang ada di Kabupaten Bima. Namun, operasional pabrik ini masih belum optimal, karena dihadapkan keterbatasan SDM dan masalah anggaran. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Hilirisasi garam di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih belum optimal. Meski pabrik garam seluas 10 hektare yang berlokasi di Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima itu sudah diresmikan sejak awal tahun 2025 lalu, hingga kini operasional di pabrik tersebut dinilai belum optimal.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim mengatakan operasional pabrik pengolahan garam hingga tahun 2025 belum memberikan dampak signifikan terhadap percepatan pembangunan sektor garam di NTB.


Pengelola pabrik bahkan mengalami kerugian cukup besar akibat berbagai kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, belum adanya kepastian pasar, kesulitan memperoleh bahan baku, serta belum tersusunnya rencana bisnis yang terarah.
“Pengelolaan pabrik membutuhkan tenaga profesional yang memahami industri pergaraman, termasuk analisis pasar dan perhitungan supply and demand agar operasional pabrik dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan keuntungan ekonomi bagi penambak maupun pengelola,” ujarnya.


Sebagai tindak lanjut, disepakati perlunya diskusi internal antara pengelola koperasi dan Pemerintah Kabupaten Bima untuk menentukan arah pengelolaan pabrik ke depan, apakah tetap dikelola koperasi atau dialihkan kepada pihak ketiga atau investor yang lebih profesional dan berpengalaman.


“Apabila koperasi tetap melanjutkan pengelolaan, maka koperasi diminta segera menyusun rencana bisnis yang detail mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pemasaran,” lanjut Muslim.


Langkah ini dinilai penting agar keberadaan pabrik pengolahan garam benar-benar mampu mendukung peningkatan kesejahteraan petambak garam rakyat serta memperkuat industrialisasi garam di Provinsi NTB. Di samping itu, tujuan awal pembangunan pabrik juga guna meningkatkan kesejahteraan petambak garam.


Kehadiran pabrik garam tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah garam lokal sekaligus menjadikan NTB sebagai pemasok utama garam konsumsi beryodium di dalam daerah.


“Selama ini garam krosok hasil produksi petambak hanya dijual dengan harga rendah kepada pengepul, kemudian diolah di luar daerah dan kembali dipasarkan di NTB dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi,” katanya.


Sebelumnya, pusat menargetkan NTB bisa menjadi pusat hilirisasi garam guna mendukung swasembada pangan di tahun 2027. Untuk merealisasikan hilirisasi garam di NTB, Pemprov telah menyusun master plan dan road map pengembangan ekonomi garam di NTB, yang mencakup program diversifikasi produk dari garam krosok kualitas K2 dan K3 menjadi K1.


Kendati memiliki keinginan kuat untuk hilirisasi, Muslim mengaku pabrik garam masih memiliki kendala, khususnya dari segi anggaran. Menurutnya, perlu adanya dukungan anggaran, perbaikan tata kelola irigasi tambak, dan pembangunan jalan produksi untuk kemudahan hilirisasi.

Selain modal, kendala lainnya adalah kurangnya SDM yang memadai, dan pasar untuk menjual hasil produksi. Saat ini, produksi garam sedikit tersendat karena bergantung pada pesanan.


“Kami mendorong pabrik garam ini bermitra dengan pihak ketiga yang mumpuni dari sisi modal, jaringan pasar, dan kemasan, sambil tetap mempertahankan peran koperasi,” jelasnya. (era)

Pekan Ini, Ajang MotoGP Mandalika Diluncurkan, Dua Pembalap Indonesia Jadi Magnet Baru

0
Ananda Nikola (Suara NTB/kir)

Praya (ekbisntb.com ) – Gelaran balap dunia MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika 2026 akan diluncurkan atau launching di Jakarta pada pekan ini. Peluncuran ini sebagai penanda dimulainya persiapan gelaran ajang balap roda dua paling bergengsi di dunia tersebut. Sekaligus memberikan kepastian bahwa ajang MotoGP tetap berlanjut di Indonesia.


“Peluncuran ajang MotoGP Mandalika direncanakan tanggal 17 Juni 2026 besok,” ungkap Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Ananda Nikola, kepada awak media di sela-sela ajang Mandalika Festival of Speed (MFoS) di Sirkuit Internasional Mandalika, Minggu (14/6).


Ia mengaku, peluncuran ajang MotoGP Mandalika tahun ini sedikit terlambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu pelucuran ajang MotoGP dilakukan jauh lebih cepat pada awal tahun. Sedangkan tahun ini justru di pertengahan tahun. “Karena kondisi geo politik yang memaksa kita,” ujarnya.


Meski peluncuran agak terlambat, pihaknya memastikan tidak akan sampai menghambat persiapan event akbar tersebut. Pasalnya, kalau dari sisi teknis penyelenggaraan tidak terlalu banyak yang harus dipersiapkan. Tinggal soal kesiapan komersil saja yang harus diperbanyakan. Supaya penonton bisa lebih banyak datang nantinya.


Namun pihaknya yakin dengan kehadiran dua pembalap nasional di ajang MotoGP itu nantinya, terutama Veda yang saat ini tengah berjuang memperebutkan gelar juara di kelas Moto3, akan bisa menjadi magnet baru bagi penonton untuk mau datang menonton. Tinggal sekarang dukungan dari semua pihaknya sangat diharapkan supaya event MotoGP bisa berlangsung dengan sukses.


Terutama kepada para pemilik hotel, pihaknya berharap bisa menekan harga hotelnya. Apalagi tingginya harga hotel saat ajang MotoGP menjadi salah satu yang dikeluhkan penonton. Ini membuat penonton berpikir ulang untuk datang langsung menonton MotoGP.


Terlebih di waktu yang bersamaan ada ajang balap Formula 1 (F1) di Singapura. Jangan sampai penonton lebih memilih menonton F1 di Singapura, dari pada datang ke Sirkuit Mandalika untuk menyaksikan MotoGP. “Pesan kami buat pengelola hotel mohon rate (harga kamar) hotelnya ditekan,” ujarnya. (kir)

Ketika Aturan Kemenhub Sebabkan Pergerakan Kendaraan Listrik Via Laut Terbatas

0
Ketika Aturan Kemenhub Sebabkan Pergerakan Kendaraan Listrik Via Laut Terbatas
Kapal yang melayani jalur Kayangan-Poto Tano di Pelabuhan Kayangan. Pengangkutan kendaraan listrik lintas pulau masih ada pembatasan oleh operator pelabuhan yang didasari Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor SE-DJPL 12 Tahun 2024 (Suara NTB/era)

Mataram (ekbisntb.com) – Aturan Kementerian Perhubungan mengenai penanganan kapal yang mengangkut kendaraan listrik sebagai pedoman keselamatan operasional di sektor penyeberangan dinilai menyebabkan pengangkutan kendaraan listrik via laut tidak bebas. Sementara di satu sisi, pemerintah pusat menggiatkan penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas di lembaga/kementerian, hingga pemerintah daerah.


Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor SE-DJPL 12 Tahun 2024 itu dinilai menyebabkan pengendara kendaraan listrik cukup kesulitan, khususnya Pemerintah Provinsi NTB selaku pejabat pemerintah yang telah beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik. Ditambah lagi, NTB sebagai provinsi yang terpisah dengan dua pulau besar menyebabkan pergerakan dari Pulau Lombok ke Sumbawa pun sebaliknya tidak secepat saat menggunakan kendaraan konvensional.


Menyikapi hal ini, Asisten II Setda NTB, Lalu Mohammad Faozal mengaku akan menyurati Kemenhub guna merevisi aturan tersebut. Ia menilai, persoalan yang dihadapi Pemprov NTB saat ini tidak terletak pada kesiapan pelabuhan, melainkan pada aturan yang mengatur pengangkutan kendaraan listrik dari satu pulau ke pulau lain.


“Yang ada sekarang, yang masih ada kesulitan adalah regulasi di perhubungan soal bergeraknya port-to-port kendaraan listrik. Karena memang ada surat edaran Kementerian Perhubungan lewat Dirjen Perhubungan Laut yang memang standar safety-nya betul-betul detail. Ini juga saya kira menjadi hal soal pergerakan mobil listrik ini dari pulau ke pulau,” ujarnya pada Suara NTB di Kantor Gubernur NTB, Jumat (12/6).


Menurutnya, surat edaran tersebut mengatur secara rinci berbagai aspek keselamatan, mulai dari jarak antar kendaraan di dalam kapal hingga kondisi baterai kendaraan yang akan diangkut.


Akibat penerapan aturan tersebut, kapasitas pengangkutan kendaraan listrik di sejumlah lintasan penyeberangan menjadi sangat terbatas. Bahkan dalam beberapa kesempatan, hanya satu hingga dua kendaraan listrik yang dapat diangkut dalam satu perjalanan.


“Ya betul, karena memang regulasinya ketat karena safety. Sampai dengan hari ini perhubungan menstandarisasi kapal itu betul-betul sesuai dengan safety-nya. Mengenai jarak 1 meter, dengan space yang ada, kemudian baterai harus berapa persen, itu sudah rigid,” jelasnya.


Kondisi tersebut juga berdampak pada operasional kapal di Pelabuhan Pototano yang menjadi salah satu gerbang utama penyeberangan antara NTB dan Pulau Sumbawa. Tidak semua armada yang beroperasi dinilai memenuhi persyaratan untuk mengangkut kendaraan listrik.
“Kalau dilihat dari standar surat edaran Dirjen Perhubungan Laut, tidak semua kapal bisa. Karena harus terbuka deck-nya, kan kapal-kapal kita bukan diperuntukkan begitu dari awal,” ungkapnya.


Selain itu, kapal juga diwajibkan memiliki standar sistem pemadam kebakaran khusus untuk mengantisipasi risiko yang berkaitan dengan baterai kendaraan listrik. “Nah itu yang standar pemadam kebakarannya harus sekian, itu juga harus betul-betul dipastikan,” tambahnya.

Adanya persoalan ini, Mantan Penjabat Sekda NTB itu mengaku pengadaan kapal baru yang sesuai dengan standar pengangkut kendaraan listrik bukanlah solusi. Apalagi dalam waktu dekat. Untuk itu, pihaknya lebih memilih berdiskusi dengan Kemenhub guna melonggarkan aturan pengangkutan kapal tersebut.


“Karena surat itu dari Kementerian. Agar regulasi terkait dengan pergerakan mobil listrik ini betul-betul disesuaikan lagi dengan kondisi di lapangan ini,” pungkasnya.


Hal senada disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB Ervan Anwar. Diakuinya, ada beberapa kendaraan listrik yang merupakan kendaraan dinas pejabat Pemprov NTB yang akan bertugas ke Pulau Sumbawa sempat tidak diperbolehkan menyeberang ke Pelabuhan Pototano dari Pelabuhan Kayangan. Meski demikian, pihaknya bersama stakeholder terkait segera akan melakukan pertemuan, agar pengangkutan kendaraan listrik dari satu pulau ke pulau lain ada solusi.


Begitu juga Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Samsudin, menegaskan komitmen pihaknya yang segera mencarikan solusi agar pergerakan kendaraan listrik menggunakan jalur laut segera terselesaikan. Diakuinya, dasar Kemenhub mengeluarkan aturan pembatasan pengangkutan kendaraan listrik di jalur laut didasari kasus terbakarnya kendaraan listrik saat diangkut menggunakan kapal laut di luar daerah tahun 2024 lalu.


‘’Tapi itu sudah 2 tahun lalu. Sekarang tahun 2026, sudah ada perubahan teknologi dari baterai listrik yang dipergunakan. Tapi kita segera lakukan pertemuan dengan pihak-pihak terkait agar kasus ini segera teratasi,’’ terangnya. (era/ham)

Serap Bahan Baku dari Desa, Bumdes dan SPPG Dasan Tapen Ciptakan Kemandirian Pangan Lokal

0
Serap Bahan Baku dari Desa, Bumdes dan SPPG Dasan Tapen Ciptakan Kemandirian Pangan Lokal
Panen raya sayur selada dilakukan Bumdes dan SPPG Dasan Tapen 1 untuk menyuplai kebutuhan MBG. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Sinergi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dasan Tapen 1 berhasil menciptakan ekosistem kemandirian pangan lokal. BUMDes mengelola pasokan dari petani setempat untuk memenuhi kebutuhan harian SPPG, memberikan kepastian pasar serta meningkatkan ekonomi pedesaan secara berkelanjutan.


Kepala SPPG Dasan Tapen 1 M. Imam Romail, S.Pd., mengatakan, sejak awal terbentuk SPPG ini pihaknya bermitra dengan BUMDes untuk mengembangkan produk lokal masyarakat sehingga bisa terserap SPPG.


“Seperti bahan baku sayur Selada yang dikembangkan BUMDes melalui sistem hidroponik, diproduksi sendiri sehingga SPPG tidak mesti harus membeli ke luar,” kata Imam, akhir pekan kemarin.


Sayuran selada dipanen perdana pada tanggal 11 Juni lalu. Hasil panen raya bersama pihak BUMDes, SPPG, aparat desa, Babinsa, dan Babinkamtibma tersebut cukup tinggi. Sehingga hasil produksi sayur inipun tidak mesti dijual ke SPPG Dasan Tapen saja, tetapi dipasarkan ke SPPG-SPPG yang lainnya dan pengusaha kebab.


Pihaknya juga menggandeng 15 mitra untuk menyuplai bahan baru MBG di SPPG Dasan tapen.


Ke depan, tidak hanya bahan baku sayur yang dikembangkan, tetapi pihaknya bersama BUMDes juga akan mengembangkan pabrik susu untuk memenuhi kebutuhan MBG. Rencananya Pihaknya mendatangkan bahan baku susu dari luar, sebab peternakan sapi perah belum memungkinkan dikembangkan di NTB. “Nanti pabrik susu itu akan dikembangkan oleh BUMDes, bermitra dengan kami (SPPG),” ujarnya.


Pihaknya pun sudah menyiapkan lahan untuk pabrik susu ini. Selain itu, usulan pun telah diajukan ke BGN. Pihaknya berharap agar di setujui, sebab jika pabrik susu terlaksana maka bahan baku MBG bisa dihasilkan secara mandiri di desa. Di samping itu, akan mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga desa setempat. Terlebih dengan adanya Kopdeskel Merah Putih, untuk digandeng kedepan dalam menyiapkan bahan baku MBG ini. (her)

Serap Ratusan Pekerja, Kerajinan Atap Ilalang Desa Cendimanik Sekotong Diekspor Lewat Daerah lain

0
Serap Ratusan Pekerja, Kerajinan Atap Ilalang Desa Cendimanik Sekotong Diekspor Lewat Daerah lain
Perajin atap ilalang di Desa Cendimanik Sekotong telah merambah ke pasar luar negeri, tapi sayang diekspor melalui daerah lain. (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Desa Cendimanik Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar) dikenal sebagai daerah penghasil kerajinan atap ilalang. Kerajinan yang mulai dikembangkan sejak puluhan tahun silam ini telah menembus pasar luar negeri dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Namun, sayangnya kerajinan atap ilalang ini diekspor melalui daerah lain seperti Bali dan Jawa.


H. Sahwan salah seorang pelaku usaha kerajinan ilalang di desa itu menuturkan bahwa usaha kerajinan atap ilalang ini dimulai sejak 30 tahun. Dari awal, usahanya mengalami pasang surut tetapi tetap bisa eksis hingga sekarang. “Hasil kerajinan atap ilalang ini kami kirim ke Bali, kadang ke luar negeri, dan hotel di sekitar Sekotong, hotel di Senggigi serta Lombok Tengah,” sebutnya, Sabtu (13/6/2026).


Dalam sekali produksi, kapasitasnya mencapai 400-500 unit (lembar) atap per harinya. Ia mempekerjakan 30 orang tenaga kerja tiap harinya. Jika pemesanan dalam partai besar baik dari luar daerah ataupun luar negeri, produksinya bisa mencapai 1000 unit per harinya. “Kami tambah tenaga 50 orang sampai 60 orang sehingga cepat,” imbuhnya.


Hasil kerajinan atap itu dikirim ke beberapa negara, seperti Spanyol, Isreal, dan Malaysia. Dalam sekali pengiriman ke luar negeri, pesanannya mencapai 2-10 ribu unit. Seperti pengiriman ke Israel dan Malaysia, dalam sekali pengiriman permintaannya 2 ribu hingga 3 ribu unit. “Pengiriman ke luar negeri itu sekali kirim itu 10 ribu unit, pakai tiga fuso,” sebutnya.


Sekali pengiriman ke luar negeri, ia mendapat hasil penjualan Rp50-100 juta. Per unit atap dijual ke pengusaha di Bali Rp20 ribu, kalau ditambah biaya pemasangan bisa mencapai Rp40 ribu per unit nya. Sedangkan harga pasaran di daerah lokal dijual Rp15 ribu per unitnya. Untuk pengiriman ke Israel, diakui mengalami penurunan karena dampak perang. Jika dibanding sebelum perang, pesanan lumayan tinggi dari negara tersebut.


Namun, diakui, pengiriman kerajinan ini tidak dari Lombok ke luar negeri. Melainkan barang dibeli oleh pengusaha dari Bali dan Jawa, lalu dikirim ke negara tujuan. Saat ini pihaknya membutuhkan fasilitasi dari pemerintah untuk bisa ekspor langsung ke luar negeri, tidak melalui daerah lain. Sebab kalau pengusaha bisa ekspor langsung, maka harga jualnya lebih tinggi dibanding dijual ke Bali. Sehingga untung yang diperoleh pun besar.


Terlebih Pemesan dari luar negeri itu, membayar menggunakan dolar sehingga utangnya lebih banyak dan menguntungkan pengusaha. Berbeda dengan di Bali. “Lebih bagus kalau kita eksport dari sini langsung ke luar negeri, karena bagus harganya,” harapnya.


Sebab bagaimana pun manfaat dari usaha kerajinan atap ilalang ini, Ia mampu mempekerjakan sekitar 30 orang warga sekitar. Upah yang diberikan kepada pekerja Rp2.250 untuk satu lembar atap.


Sementara itu, Kades Cendimanik H. Mahdi yang akrab dipanggil KDM mengatakan bahwa selain menjadi sentra garam dan mangrove desahnya juga dikenal sebagai produsen kerajinan atap ilalang. “Alhamdulillah, dari hasil atap ilalang ini ekomoni warga meningkat,”jelasnya. Dari usaha kerajinan atap ilalang ini, mampu menyerap tenaga kerja hampir 500 orang, baik laki-laki dan perempuan.


Efek berjangka dari usaha ini pun dirasakan masyarakat sekitar, mulai dari bahan baku ilalang, bambu, ijuk, pedagang sabit, tukang ikat dan lainnya. Hasil kerajinan ini tidak saja dijual ke pasar lokal, tetapi diminati pasar luar negeri. Kerajinan atap ilalang inipun sudah diekspor ke sejumkah Negara, seperti Spanyol, Afrika, India, Malaysia.


Tidak saja kerajinan yang dijual, tetapi warga juga berangkat ke luar negeri untuk memasang atap tersebut. Sayangnya, hasil kerajinan warga ini dikirim ke luar negeri melalui Bali, “dikirim ke luar negeri (ekspor) melalui Bali,” imbuhnya.


Ia berharap, pemerintah hadir memfasilitasi warga agar bisa ekspor ke luar negeri. Sehingga daerah Lobar pun semakin dikenal sebagai penghasil kerajinan atap yang mendunia. (her)

Hidupkan Bazar Mandalika, ITDC Gelar Nobar Piala Dunia

0
Hidupkan Bazar Mandalika, ITDC Gelar Nobar Piala Dunia
Hidupkan Bazar Mandalika, ITDC Gelar Nobar Piala Dunia

Praya (ekbisntb.com) – Perhelatan FIFA World Cup 2026 dimanfaatkan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) untuk terus menggerakkan sektor pariwisata di kawasan The Mandalika. Salah satu cara yakni dengan menggelar ajang nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia di Bazar Mandalika. Ajang yang juga diharapkan bisa terus menghidupkan Bazar Mandalika sebagai episentrum pergerakan ekonomi di kawasan The Mandalika.

“Ajang nobar ini tidaknya hanya menghadirkan pengalaman menyaksikan ajang sepak bola terbesar dunia secara bersama-sama. Tapi juga diharapkan bisa meningkatkan kunjungan dan aktivitas ekonomi di Bazaar Mandalika yang saat ini menjadi pusat aktivitas masyarakat dan wisatawan di kawasan,” ungkap General Manager The Mandalika Pari Wijaya, dalam keteranganya, Minggu (14/6/2026).

Ajang tersebut jelasnya direncankan berlangsung selama 16 hari penuh, hingga 28 Juni 2026 mendatang. Dalam hal ini ITDC melibatkan sebanyak 137 pelaku UMKM lokal binaan yang diharapkan bisa merasakan manfaat dari meningkatnya jumlah pengunjung selama kegiatan nobar tersebut.

“Ini merupakan bagian dari upaya ITDC menghadirkan aktivasi kawasan yang tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal,” imbuhnya.

Program nobar sendiri difokuskan pada pertandingan yang berlangsung pada pagi hingga siang hari. Dengan begitu pengunjung dapat menikmati pengalaman menonton yang lebih nyaman dan terbuka tanpa dipungut biaya apapun. Di mana nantinya pengunjung dapat menikmati berbagai pertandingan menarik yang melibatkan tim-tim unggulan dunia.

Mulai dari Brasil, Argentina, Jepang, Spanyol, Uruguay, hingga Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026.

“Piala dunia salah satu ajang olahraga paling bergengsi dan memiliki daya tarik yang sangat besar di seluruh dunia. Melalui nobar ini, kami ingin menghadirkan ruang berkumpul yang nyaman dan inklusif bagi masyarakat sekaligus mendorong meningkatnya aktivitas di Bazaar Mandalika,” jelasnya.

Penunjukkan Bazaar Mandalika sebagai lokasi nobar, selain karena lokasinya yang strategis juga dikarenakan saat ini telah berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat di kawasan The Mandalika. Dengan kehadiran beragam pilihan kuliner, produk kreatif serta ruang interaksi bagi wisatawan dan masyarakat lokal.

“Dengan konsep terbuka dan tanpa dipungut biaya, program yang diselenggarakan bekerjasama dengan TVRI NTB ini, bisa menjadikan Bazaar Mandalika sebagai salah satu pilihan destinasi berkumpul dan menikmati kemeriahan sepak bola dunia di Pulau Lombok,” tandasnya. (kir)

Bulog Cabang Lotim Targetkan Salurkan 5,1 Juta Kg Beras dan 1 Juta Liter Minyak Goreng untuk Bantuan Pangan

0
Bulog Cabang Lotim Targetkan Salurkan 5,1 Juta Kg Beras dan 1 Juta Liter Minyak Goreng untuk Bantuan Pangan
Kegiatan penyaluran Bantuan Pangan dari Bulog Lotim. (Suara NTB/ist)

Selong (ekbisntb.com) – Perum Bulog Kantor Cabang Lombok Timur (Lotim) terus menggencarkan langkah stabilisasi pangan dengan mempercepat penyaluran bantuan pangan (bapang) berupa beras dan minyak goreng. Hingga Juni 2026, target yang dibebankan kepada cabang ini mencapai 5.172.500 kilogram beras dan 1.034.500 liter minyak goreng untuk 258.625 penerima manfaat.


Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Lombok Timur, Dindy Wida Pusparanti, menjelaskan bahwa percepatan penyaluran ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga pangan di masyarakat sekaligus menguatkan daya beli.


“Kami optimistis seluruh bantuan dapat tersalurkan hingga akhir Juni 2026. Ini akan berdampak langsung pada penguatan daya beli masyarakat sekaligus meredam tekanan harga di tingkat konsumen,” ujar Dindy, Sabtu (13/6/2026).


Berdasarkan data Bulog Lotim, realisasi penyaluran untuk alokasi periode Februari–Maret 2026 hingga saat ini telah mencapai 3.387.180 kg beras dan 677.436 liter minyak goreng. Sisa target tersebut akan terus didistribusikan kepada penerima manfaat di seluruh Kabupaten Lombok Timur.


Dindy menambahkan bahwa bantuan pangan yang disalurkan secara tepat waktu dan tepat sasaran diyakini mampu menjadi shock absorber dalam menghadapi fluktuasi harga kebutuhan pokok, terutama menjelang momen-momen tertentu yang berpotensi memicu kenaikan harga.


Perum Bulog Kantor Cabang Lombok Timur berkomitmen untuk terus memastikan kelancaran distribusi serta kuantitas dan kualitas bantuan, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. (rus)

ITDC Gelar Nobar Gratis di Mandalika Selama Piala Dunia

0


Lombok Tengah (ekbisntb.com) – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan TVRI Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadirkan program nonton bareng FIFA World Cup 2026 secara gratis selama 16 hari penuh di Bazaar Mandalika, mulai 13 hingga 28 Juni 2026.

Sebanyak 137 pelaku usaha yang terdiri atas 96 UMKM di Creativity Zone dan 41 tenant kuliner di Culinary Zone, berpotensi merasakan manfaat dari pengunjung selama kegiatan nobar berlangsung.
General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, mengutarakan, penyelenggaraan nobar FIFA World Cup 2026™ merupakan bagian dari upaya ITDC menghadirkan aktivasi kawasan yang tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Pari mengatakan, Bazaar Mandalika saat ini telah berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat di area The Mandalika yang menghadirkan beragam pilihan kuliner, produk kreatif, serta ruang interaksi bagi wisatawan dan masyarakat lokal.

“Kami melihat momentum FIFA World Cup 2026™ sebagai kesempatan yang baik untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam aktivitas kawasan sekaligus memperluas peluang promosi bagi produk-produk lokal,” tambahnya.

Dengan konsep terbuka dan tanpa dipungut biaya, program Nobar FIFA World Cup 2026™ di Bazaar Mandalika menjadi salah satu pilihan destinasi berkumpul dan menikmati kemeriahan sepak bola dunia di Pulau Lombok.


Kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah nyata ITDC dalam menghadirkan kawasan yang hidup, melalui berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat, wisatawan, serta pelaku usaha lokal, sejalan dengan komitmen dalam mendukung pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan.(bul)