Saturday, April 25, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 165

Menkeu Kejar Rp60 Triliun dari 200 Penunggak Pajak Besar

0
Menkeu Kejar Rp60 Triliun dari 200 Penunggak Pajak Besar
Menkeu Kejar Rp60 Triliun dari 200 Penunggak Pajak Besar

Jakarta (ekbisntb.com) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bakal mengejar 200 wajib pajak besar untuk menagih tunggakan pajak yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah dengan potensi serapan mencapai Rp60 triliun.

“Kami punya daftar 200 penduduk wajib pajak besar yang sudah inkrah. Kami mau kejar dan eksekusi sekitar Rp50 triliun sampai Rp60 triliun,” kata Purbaya dikutip dari konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2025 di Jakarta, Selasa.

Purbaya menyebut bakal segera mengeksekusi rencananya itu dalam waktu dekat. Ia optimistis para penunggak pajak itu tak bisa mangkir dari kewajiban mereka.

“Dalam waktu dekat akan kami tagih, dan mereka nggak akan bisa lari,” tambahnya.

Untuk mendukung strategi itu, dia juga bekerja sama dengan sejumlah instansi untuk mengoptimalkan kepatuhan pajak. Instansi-instansi itu di antaranya Polri, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Dengan kerja sama itu, Kemenkeu dan kementerian/lembaga (K/L) terkait akan saling bertukar data untuk memudahkan penarikan pajak.

Strategi lainnya juga termasuk mendorong aktivitas ekonomi melalui suntikan stimulus Paket Ekonomi 2025, memperbaiki Coretax, serta memberantas rokok ilegal di pasaran, baik di pasar daring maupun luring.

Berbagai strategi itu ditargetkan dapat menambal melambatnya setoran pajak. Kemenkeu mencatat penerimaan pajak terkontraksi sebesar 5,1 persen dengan nilai Rp1.135,4 triliun per Agustus 2025.

Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan perlambatan itu utamanya terjadi pada setoran pajak penghasilan (PPh) badan serta pajak pertambahan nilai (PPN) akibat restitusi.

Kinerja PPh badan bila ditinjau secara bruto mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,5 persen. Namun, akibat adanya restitusi, maka realisasi neto PPh badan terkontraksi 8,7 persen dengan nilai Rp194,20 triliun.

Sementara realisasi serapan PPN dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) turun baik secara bruto maupun neto. Secara bruto, penerimaan PPN dan PPnBM melambat tipis sebesar 0,7 persen. Namun secara neto, kontraksi cukup besar yakni 11,5 persen dengan realisasi Rp416,49 triliun, yang disebabkan oleh restitusi.

Di sisi lain, PPh orang pribadi dan pajak bumi dan bangunan (PBB) mengalami pertumbuhan signifikan.

PPh orang pribadi tumbuh 39,1 persen secara neto dengan nilai Rp15,91 triliun. Sedangkan realisasi PBB melonjak 35,7 persen dengan nilai Rp14,17 triliun. (ant)

Pemerintah Tarik Utang Rp463,7 Triliun per 31 Agustus 2025

0
Pemerintah Tarik Utang Rp463,7 Triliun per 31 Agustus 2025
Pemerintah Tarik Utang Rp463,7 Triliun per 31 Agustus 2025

Jakarta (ekbisntb.com) – Pemerintah melakukan penarikan utang sebesar Rp463,7 triliun per 31 Agustus 2025, setara 59,8 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar Rp775,9 triliun.

Sedangkan pembiayaan non-utang tercatat sebesar Rp38 triliun, sehingga pembiayaan anggaran terealisasi sebesar Rp425,7 triliun.

“Dari segi pembiayaan anggaran, sampai dengan 31 Agustus 2025 realisasinya adalah Rp425,7 triliun atau 69,1 persen dari target APBN,” kata Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dikutip dari konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2025 di Jakarta, Selasa.

Thomas memaparkan, pasar domestik menunjukkan kinerja yang positif, utamanya pada surat berharga negara (SBN). Permintaan investor terlihat kuat di tengah volatilitas pasar, tecermin pada tingginya bid to cover ratio.

Hingga lelang terakhir, rata-rata bid to cover ratio tahun 2025 tercatat 3,03 untuk surat utang negara (SUN) dan 3,15 untuk surat berharga syariah negara (SBSN).investment grad

“Meskipun kualitas pasar meningkat, kepercayaan ini juga tidak terlepas dari status investment grade yang disandang Indonesia, sehingga SBN Indonesia tetap dipandang sebagai instrumen yang aman dan kredibel di pasar global,” ujar Thomas.

Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun juga mengalami penurunan sebesar 70 basis poin (bps) atau minus 10 persen secara tahun berjalan (year-to-date/ytd), didukung oleh permintaan investor yang kuat di pasar perdana maupun sekunder.

Sementara aliran modal asing masuk bersih di pasar SBN sebesar Rp42,61 triliun per 19 September 2025. Thomas yakin capaian ini mencerminkan kepercayaan investor global terhadap fundamental dan prospek perekonomian Indonesia.

Lebih lanjut, selisih imbal hasil (spread yield) Surat Berharga Negara (SBN) rupiah tenor 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun turun dari 240 basis poin (bps) pada Januari 2025 menjadi 216 bps pada September 2025. Level ini lebih rendah dibandingkan sejumlah negara sejawat (peers), yang diyakini menunjukkan profil risiko Indonesia yang terjaga.

“Yield yang turun, spread yang menyempit, serta aliran modal asing yang masuk semua mendukung tercapainya pembiayaan dengan biaya utang yang lebih rendah dan efisien,” tutur Thomas. (ant)

Harga Emas Antam Selasa Ini Meroket Rp41.000 Jadi Rp2,164 Juta/Gram

0
Harga Emas Antam Selasa Ini Meroket Rp41.000 Jadi Rp2,164 Juta/Gram
Harga Emas Antam Selasa Ini Meroket Rp41.000 Jadi Rp2,164 Juta/Gram

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia, Selasa (23/9) mengalami kenaikan harga jual Rp41.000 dari semula Rp2.123.000 menjadi Rp2.164.000 per gram.

‎Untuk harga jual kembali (buyback) menjadi Rp2.011.000 per gram.

‎Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017.

‎Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.

‎PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback. Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di laman Logam Mulia Antam pada Selasa:

‎- Harga emas 0,5 gram: Rp1.132.000.

‎- ⁠Harga emas 1 gram: Rp2.164.000.

‎- ⁠Harga emas 2 gram: Rp4.268.000.

‎- ⁠Harga emas 3 gram: Rp6.377.000.

‎- ⁠Harga emas 5 gram: Rp10.595.000.

‎ ⁠- Harga emas 10 gram: Rp21.135.000.

‎‎- Harga emas 25 gram: Rp52.712.000.

‎- ⁠Harga emas 50 gram: Rp105.345.000.

‎- ⁠Harga emas 100 gram: Rp210.612.000.

‎- ⁠Harga emas 250 gram: Rp526.265.000.

‎- ⁠Harga emas 500 gram: Rp1.052.320.000.

‎- ⁠Harga emas 1.000 gram: Rp2.104.600.000.

‎Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

‎Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22. (ant)

LPS Sesuaikan Tingkat Bunga Penjaminan

0
LPS Sesuaikan Tingkat Bunga Penjaminan
LPS Sesuaikan Tingkat Bunga Penjaminan

Mataram (ekbisntb.com)- Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Senin 22 September 2025, LPS telah melakukan evaluasi dan menetapkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) untuk periode reguler September 2025.

Saat ini, LPS menetapkan untuk menurunkan TBP simpanan dalam rupiah di bank umum dan bank perekonomian rakyat sebesar 25 bps, serta menurunkan TBP simpanan dalam valuta asing di bank umum.

TBP simpanan rupiah pada Bank Umum adalah 3,50% dan TBP simpanan rupiah pada BPR ialah 6,00%. Sedangkan untuk TBP simpanan valas pada bank umum adalah sebesar 2,00%. TBP tersebut akan berlaku sejak 1 Oktober 2025 sampai dengan 31 Januari 2026.

Plt. Ketua Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono dalam keterangan resmi LPS kepada media ini menjelaskan, penetapan TBP antara lain didasari oleh, momentum pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif terjaga namun perlu diperkuat, terutama dari sisi konsumsi dan produksi secara lebih berimbang.

“Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) LPS pada Agustus 2025 masih berada pada level sub optimal dan cenderung melandai, yaitu 94,0. Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh positif namun cenderung flat sebesar 2,7% yoy pada Agustus 2025,” ujarnya.

Meskipun demikian, pertumbuhan kredit belum optimal dan berimbang lintas sektor terutama pada sektor-sektor yang padat karya termasuk UMKM. Ke depan, sinergi kebijakan lintas stakeholder perlu diperkuat untuk mendorong kinerja perekonomian yang lebih kuat, berimbang dan berkelanjutan.

Dia juga menyampaikan beberapa perkembangan positif terkini yaitu kinerja intermediasi perbankan masih dalam tren positif, ditopang permodalan dan likuiditas yang memadai. Per Agustus 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 7,56% secara yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 8,51% secara yoy.

Lalu, pertumbuhan kredit investasi korporasi masih tumbuh tinggi, yakni sebesar 13,9% (yoy). Penghimpunan DPK yang berasal dari aktivitas belanja pemerintah dan korporasi berkontribusi positif pada pertumbuhan DPK produk giro yang tumbuh sebesar 15,01% (yoy).

Lebih jauh, ketahanan permodalan tetap solid sebagai buffer risiko dari sisi volatilitas pasar dan kredit. Rasio permodalan (KPMM) industri terjaga di level 25,88% pada periode Juli 2025.

Sementara itu, kondisi likuiditas industri masih relatif memadai dan potensial membaik sejalan langkah akomodatif sisi moneter dan ekspansi belanja pemerintah. Per Agustus 2025, rasio AL/NCD berada di level 120,24% (threshold: 50%) dan rasio AL/DPK sebesar 27,25% (threshold: 10%).

Terjaganya tingkat permodalan dan likuiditas saat ini juga diikuti dengan aspek pengelolaan risiko kredit yang terjaga. Hal ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang terkendali pada level 2,28% dan rasio Loan at Risk (LaR) yang terus turun dan berada di level 9,73% dari total penyaluran kredit pada periode Agustus 2025.(bul)

LPS Sudah Jamin 651,58 Juta Rekening Nasabah Bank

0
Plt. Ketua Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono
Plt. Ketua Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono

Lombok (ekbisntb.com) – Cakupan penjaminan simpanan nasabah secara konsisten dijaga melebihi batas minimal sebagaimana diamanatkan Undang- Undang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yakni paling sedikit 90% dari keseluruhan nasabah bank. Upaya ini merupakan bagian untuk memperkuat kepercayaan masyarakat kepada perbankan dan stabilitas sistem keuangan secara luas.

Secara konsisten, tingkat cakupan penjaminan simpanan nasabah tersebut berada di atas amanat Undang-Undang LPS. Sesuai amanat undang-undang pula, LPS menjamin setiap rekening simpanan nasabah perbankan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank.

Plt. Ketua Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono dalam keterangan resmi LPS kepada media ini, Selasa, 23 September 2025, berdasarkan data Agustus 2025, jumlah rekening nasabah bank umum yang dijamin seluruh simpanannya (nominal simpanan sampai dengan Rp2 miliar) sebesar 99,94% dari total rekening atau setara dengan 651,58 juta rekening.

Sedangkan jumlah rekening nasabah yang dijamin seluruh simpanannya (nominal simpanan sampai dengan Rp2 miliar) di BPR/BPRS mencapai 99,97% dari total rekening atau setara dengan 15,79 juta rekening.

Selanjutnya, LPS pun terus memantau pergerakan atas tren suku bunga simpanan perbankan nasional, baik yang berdenominasi Rupiah maupun valuta asing. Suku bunga pasar (SBP) simpanan rupiah konsisten melanjutkan penurunan.

Pada periode observasi September 2025, SBP Rupiah tercatat turun 8 bps ke level 3,37% dibandingkan periode observasi Agustus 2025, sehingga akumulasi penurunan sejak Mei 2025 mencapai 19 bps.

Ruang lanjutan penurunan SBP cukup terbuka pasca pemangkasan BI-Rate serta adanya tambahan likuiditas dari sisi penempatan dan belanja fiskal. Faktor likuiditas perbankan yang memadai dan strategi pengelolaan dana deposan besar berpotensi mempengaruhi arah lanjutan penurunan SBP.

Pada periode observasi yang sama, SBP simpanan valas juga menunjukkan lanjutan penurunan meskipun lebih mixed. SBP valas di bulan September 2025 terpantau turun 8 bps ke level 2,04% dibandingkan periode observasi bulan Agustus 2025, sehingga akumulasi penurunan sejak Mei 2025 mencapai 13 bps. Adanya pemangkasan suku bunga kebijakan oleh The Fed yang diikuti peningkatan kebutuhan transaksi dan kondisi likuiditas internal bank akan mempengaruhi pergerakan SBP lebih lanjut.

Selanjutnya, Didik mengimbau agar bank transparan dan terbuka menyampaikan kepada nasabah penyimpan mengenai besaran Tingkat Bunga Penjaminan yang berlaku saat ini. Diantaranya melalui penempatan informasi tersebut di tempat yang mudah diketahui nasabah atau melalui media informasi serta channel komunikasi bank kepada nasabah.

“Dan dalam rangka memperkuat perlindungan dana nasabah serta upaya menjaga kepercayaan nasabah deposan, LPS juga mengimbau agar bank selalu memperhatikan ketentuan Tingkat Bunga Penjaminan simpanan dimaksud dalam rangka penghimpunan dana,” pungkasnya.(bul)

Program MBG di NTB Sudah Menyerap 11.650 Tenaga Kerja dari Target 29.891 Orang

0
Dr. Ahsanul Khalik

Mataram (ekbisntb.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Nusa Tenggara Barat  tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja yang luas. Karenanya, Gubernur NTB, Dr. H. Lalu. Muhamad Iqbal meminta agar program MBG ini dikawal serius dan disukseskan secara maksimal.

Ketua Satgas MBG Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, Selasa, 23 Hingga 15 September 2025, program ini telah menyerap 11.650 tenaga kerja lokal dengan berbagai peran. Dengan proyeksi kebutuhan 613 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG, jumlah tenaga kerja yang diserap diperkirakan dapat mencapai 29.891 orang.

mengatakan tenaga kerja tersebut tersebar di 269 SPPG aktif dengan beragam tugas, mulai dari juru masak, tenaga distribusi, keamanan, akuntan, hingga ahli gizi. “Kalau seluruh kebutuhan 623 SPPG di NTB terpenuhi, maka setiap dapur yang rata-rata menyerap 47 tenaga kerja akan memberi peluang kerja hampir 30 ribu orang. Ini manfaat besar selain pemenuhan gizi masyarakat,” ujarnya di Mataram, Senin (23/9).

Capaian Penerima Manfaat

Hingga pertengahan September, program MBG di NTB telah melayani 862.734 penerima manfaat dari potensi 1.850.501 jiwa atau sekitar 47 persen. Sebanyak 987.767 jiwa masih menunggu giliran terlayani.

Sebaran penerima manfaat mencakup peserta didik dari PAUD, TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, MA, SLB, pondok pesantren, hingga PKBM. Selain itu, program ini juga menjangkau non-peserta didik seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

“MBG di NTB berjalan cukup progresif jika dibandingkan dengan capaian nasional yang baru sekitar 27–28 persen atau 23 juta penerima manfaat. Artinya, NTB lebih siap dari sisi infrastruktur, koordinasi lintas sektor, serta dukungan mitra lokal,” jelas Ahsanul Khalik.

Mitra Lokal Terlibat

Program MBG NTB juga menggerakkan perekonomian daerah dengan melibatkan 944 mitra dan supplier lokal, yang terdiri atas 25 koperasi, 3 BUMDes, 469 UMKM, dan 447 supplier lainnya.

Dampak positif ini terlihat di pasar-pasar tradisional, di mana pedagang sayur dan bahan pangan kini lebih cepat habis dagangannya karena terserap program MBG. “Kalau dulu pedagang baru selesai jualan menjelang sore, sekarang jam 10 pagi dagangan mereka sudah ludes. Ini bukti MBG ikut menghidupkan ekonomi lokal,” kata Ahsanul.

Tantangan dan Evaluasi

Meski progres berjalan baik, Satgas MBG tidak menampikkan adanya kasus keracunan. Kasus tersebut antara lain terkait distribusi makanan, pengolahan bahan yang tidak layak, hingga ketidaksesuaian harga dengan standar biaya.

“Jumlah kasusnya sangat kecil dibanding total penerima manfaat yang sudah di atas 860 ribu orang. Sangat kecil sebenarnya temuan kasusnya. Namun tetap menjadi perhatian. Kami sudah memperketat pengawasan dengan mewajibkan setiap SPPG melibatkan ahli gizi dalam proses pembelian, pengolahan, hingga distribusi makanan,” tegasnya.

Satgas juga mendorong adanya SOP lebih jelas serta sanksi tegas dari Badan Gizi Nasional bagi pihak yang melanggar. Selain itu, sistem akuntansi pembayaran telah diperkuat agar lebih transparan.

“Kalau ada makanan yang nilainya di bawah standar Rp10 ribu per paket, maka pembayaran tidak boleh tetap Rp10 ribu, tapi sesuai nilai riil yang ditemukan oleh akuntan dan penanggung jawab SPPG,” jelas mantan Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB ini.

Rekomendasi

Untuk memperluas jangkauan, Satgas MBG NTB merekomendasikan keterlibatan lebih besar dari desa/kelurahan, PAUD, TK, Posyandu, serta fasilitas pendidikan lain. Hal ini untuk memastikan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui mendapat manfaat yang lebih luas.

“Program ini terbukti memberi manfaat ganda, baik dari sisi gizi maupun ekonomi. Oleh karena itu, kami sejalan dengan arahan Gubernur, tetap melanjutkan MBG dengan evaluasi menyeluruh. Kelemahan-kelemahan harus diperbaiki sambil jalan,” pungkas Ahsanul Khalik.

Dengan capaian yang lebih maju dibanding rata-rata nasional, NTB diharapkan dapat menjadi model implementasi MBG di daerah lain, sekaligus memperkuat langkah menuju Generasi Emas Indonesia 2045.(bul)

BPSDM NTB Gandeng Poltekpar Lombok, Tingkatkan Kapasitas ASN Mendukung Sektor Unggulan Daerah

0
Baiq. Nelly Yuniarti

Lombok (ekbisntb.com) –

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai menggarap program terobosan untuk meningkatkan profesionalisme Aparatur Sipil Negara (ASN) di NTB, sekaligus mendukung program unggulan daerah di bidang pariwisata. Langkah ini sejalan dengan visi Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, dan Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Damayanti Putri untuk mewujudkan meritokrasi di lingkup pemerintahan.

Kepala BPSDM NTB, Baiq Nelly Yuniarti melakukan gebrakan ini, pasca dilantik menjadi Kepala BPSDM Provinsi NTB belum lama ini. di temui di ruang kerjanya, Selasa, 23 November 2025, mantan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB dan Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB ini menegaskan, bahwa pihaknya kini fokus membangun kualitas ASN melalui pelatihan-pelatihan teknis. Salah satunya adalah kerja sama dengan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk menyelenggarakan diklat pariwisata bagi ASN lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah), dan ASN lingkup kabupaten/kota di Provinsi NTB.

“ASN di Dinas Kelautan Perikanan misalnya, kita akan dorong supaya tidak hanya mengurus nelayan dan ikan. Mereka harus mampu melihat potensi pesisir sebagai obyek wisata untuk dikembangkan. Begitu juga ASN di Dinas Pertanian, yang bisa mengembangkan sawah terasering menjadi destinasi wisata. Termasuk ASN di lingkup OPD lainnya. Pola pikir ASN ini yang kita ubah melalui pelatihan ini agar mereka mampu mengelola potensi daerah secara lebih luas,” kata Nelly.

Nelly menambahkan, pelatihan ini akan mulai digelar pada Oktober 2025 untuk dua kelas. Satu kelas difasilitasi BPSDM NTB dan satu kelas oleh Poltekpar, dengan total 60 peserta dari ASN Pemprov maupun kabupaten/kota. Kurikulum diklat pariwisata akan mengintegrasikan perspektif teknis masing-masing dinas dengan konsep pengembangan destinasi wisata berbasis desa.

“Pariwisata adalah program unggulan Pak Gubernur, dengan visi makmur dan mendunia melalui desa berdaya. Semua potensi itu ada di desa, laut yang indah, sawah yang cantik, hutan yang asri harus dikembangkan. ASN harus kita bekali agar bisa mengelola dan menghubungkan potensi tersebut ke dalam ekosistem pariwisata,” jelasnya.

Nelly menambahkan, kolaborasi antar-OPD menjadi kunci dalam melahirkan inovasi berbasis pariwisata. Ia mencontohkan, pengelolaan limbah organik di Lombok Tengah yang berhasil diolah menjadi pupuk dan sayuran organik untuk industri pariwisata Mandalika.

“Ekosistem ini bisa terbentuk hanya jika ASN lintas sektor mampu berkolaborasi. Jadi jangan lagi berpikir parsial, ASN hanya bekerja untuk program-program tertentu saja. Tapi harus menyatu dalam membangun ekonomi daerah,” tegasnya.

Selain fokus pada pariwisata, BPSDM NTB juga sebelumnya telah menyelenggarakan pelatihan sesuai kebutuhan daerah, seperti diklat bendahara dan pengadaan barang/jasa. Namun, memasuki akhir tahun ini, konsentrasi diarahkan pada peningkatan kapasitas ASN dalam mendukung sektor strategis, terutama pariwisata dan ekonomi biru-hijau yang menjadi arah kebijakan nasional.

“Program ini baru pertama kali kita lakukan. Selain diklat tatap muka, kami juga menyiapkan inovasi berupa corporate university melalui Learning Management System (LMS). Jadi ASN bisa belajar dari kantor masing-masing dengan materi yang sudah kami siapkan, termasuk soal promosi pariwisata,” papar Nelly.

Ia menegaskan, seluruh ASN peserta tidak ditunjuk sembarangan, melainkan direkomendasikan oleh masing-masing perangkat daerah agar program ini tepat sasaran. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat langsung diaplikasikan dalam program pembangunan di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

“Yang ingin kita capai bukan sekadar pelatihan, tapi perubahan pola pikir ASN. Mereka harus mampu membaca isu strategis, menghubungkan program pusat, provinsi, hingga kabupaten, sehingga pelaksanaan pembangunan lebih sinkron dan efektif,” pungkasnya.

Melalui program ini, BPSDM NTB menargetkan lahirnya ASN yang profesional, kolaboratif, dan mampu mendorong pembangunan berbasis potensi lokal. Dengan demikian, meritokrasi dalam birokrasi NTB bukan hanya menjadi jargon, tetapi terwujud nyata dalam kerja-kerja ASN yang mendukung program unggulan daerah.(bul)

Ribuan Volunteer Jalani Pelatihan Khusus Jelang MotoGP Mandalika 2025

0

Lombok (ekbisntb.com)- Sebanyak 2.000 volunteer asli NTB telah direkrut untuk mengikuti program pelatihan khusus yang akan berlangsung hingga mendekati puncak penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025, 3- 5 Oktober.

Para volunteer mengisi berbagai bidang kerja strategis yang menjadi tulang punggung penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025. Mereka ditempatkan di berbagai sektor penting seperti Customer Service (CS) dan Workforce Management (WM), Marshal, Crowd Control (CC), CC Redemption, Liaison Officer (LO) Shuttle Bus, hingga layanan Hospitality di berbagai level (Luxury Tent, Royal Box, dan VIP Deluxe). Selain itu, kontribusi mereka juga ke bagian Merchandise, Media Centre, Government Relation (Govrel), Logistic, Podium & Accreditation Dorna, Accreditation Non Dorna, IT, Sponsorship, hingga ESG (Environmental, Social, and Governance). Dengan pelatihan yang menyeluruh dan penempatan yang strategis, kehadiran volunteer NTB diharapkan tidak hanya mendukung kelancaran event, tetapi juga memperkuat citra The Mandalika dan NTB sebagai tuan rumah kelas dunia.

Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, Troy Warokka mengatakan, keterlibatan masyarakat NTB membuktikan bahwa MotoGP Mandalika bukan hanya panggung balap, tetapi juga sarana pengembangan kapasitas anak muda lokal.
“Pelatihan intensif ini menjamin para volunteer siap tampil profesional dan melayani dengan standar terbaik.” ujarnya.

Sebelum terjun langsung di lapangan, seluruh volunteer telah menjalani program pelatihan intensif yang dirancang untuk memenuhi standar internasional penyelenggaraan MotoGPTM. Pelatihan ini mencakup berbagai aspek penting, diantaranya :

Pelatihan Layanan & Keramahtamahan (Hospitality Training): pengetahuan standar internasional dalam melayani tamu, tamu VIP, hingga manajemen area hospitality.

Manajemen Penonton & Keselamatan (Crowd Control & Safety Induction): pengelolaan arus penonton, prosedur evakuasi darurat, serta pemahaman standar keamanan FIM dan Dorna.

Teknis Marshal & Race Support: pemahaman kode bendera, tata cara penanganan insiden di lintasan, hingga koordinasi dengan Race Control.

Customer Service & Komunikasi Publik: keterampilan komunikasi, problem solving, serta orientasi layanan bagi penonton domestik maupun mancanegara.

Pelatihan Logistik & IT Support: manajemen distribusi barang, pengoperasian sistem tiket, hingga dukungan teknologi informasi selama event.

Workshop Media & Government Relation: pengenalan ruang media centre, protokol komunikasi dengan media, serta tata cara mendukung tamu dari kalangan pemerintah.

Kesadaran Lingkungan & ESG: pemahaman mengenai green event, pengurangan jejak karbon, dan tata cara menjaga kelestarian kawasan Mandalika sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

MotoGP Mandalika bukan sekadar ajang balap kelas dunia, tetapi juga momentum berharga bagi Provinsi NTB untuk menumbuhkan kualitas SDM unggul.(bul)

Gelaran MotoGP 2025, Gubernur Minta Peradaban NTB Dipamerkan di Sirkuit Mandalika

0
Jajaran Museum Negeri NTB, pihak ITDC dan MGPA meninjau lokasi pameran untuk koleksi Museum Negeri NTB

Lombok (ekbisntb.com) –

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat akan berpartisipasi dalam memeriahkan gelaran MotoGP Mandalika 2025 dengan menghadirkan pameran bertema budaya, sejarah dan pariwisata NTB pada 3–5 Oktober 2025 di Pertamina Mandalika International Circuit.

Partisipasi tersebut diperintahkan langsung Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, sebagai bagian dari upaya promosi budaya dalam rangka pemajuan kebudayaan sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan di NTB.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menyebut pameran ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya NTB kepada dunia. Menurutnya, MotoGP Mandalika bukan hanya soal sport tourism, tetapi juga etalase identitas lokal.

“Jadi kami ingin menghadirkan koleksi budaya dengan narasi sejarah yang memperkuat karakter NTB sebagai destinasi wisata internasional,” ujar Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, di Mataram, Selasa, 23 September 2025.

Nuralam mengatakan bahwa pameran ini akan menampilkan sejumlah koleksi dan informasi penting, di antaranya maket Samalas-Rinjani dan Tambora yang tercatat sebagai letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah dunia.

Letusan tersebut bukan hanya meninggalkan catatan geologis, tetapi juga mengubah jalannya peradaban manusia melalui dampak iklim global dan kisah-kisah budaya yang lahir setelahnya.

“Ini menunjukan bahwa kita mempunyai koneksi dengan dunia internasional. Koneksi itu harus kita gali untuk menunjukan spirit NTB mendunia sesuai dengan visi Pemerintah NTB”, tambahnya.

Dengan begitu Nuralam mengatakan bahwa kehadiran Museum NTB di arena internasional ini sekaligus menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya, di mana para penonton MotoGP dari berbagai negara dapat mengenal lebih dekat nilai, sejarah, dan kekayaan sejarah dan budaya lokal NTB.

“Kami ingin para penonton MotoGP tidak hanya membawa pulang kenangan balapan, tetapi juga cerita budaya dan identitas masyarakat NTB,” harapnya. (ham)

Gapensi NTB Minta Ditegakkan Aturan SKP agar Pembagian Proyek Lebih Merata

0
H. Agus Mulyadi

Mataram (ekbisntb.com) – Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) NTB, H. Agus Mulyadi, mengingatkan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperhatikan ketentuan Sisa Kemampuan Menangani Proyek (SKP) dalam pemberian proyek, terutama proyek penunjukan langsung (PL), agar tidak ada monopoli oleh satu perusahaan.

Ia menekankan bahwa aturan yang ada harus ditegakkan demi menciptakan persaingan yang sehat dan adil di industri konstruksi, serta memastikan distribusi proyek yang merata.

H.Agus Mulyadi di Mataram, Senin, 22 September 2025 mengungkapkan kekhawatirannya terkait banyaknya kasus di mana satu perusahaan mendapatkan lebih dari batas SKP yang diperbolehkan, yang bisa berdampak pada ketidakadilan dalam pembagian proyek.

Menurutnya, hal ini sudah sering terjadi, baik pada proyek-proyek yang dikelola oleh pemerintah pusat maupun daerah, khususnya pada proyek-proyek yang dianggarkan melalui pokok pikiran (Pokir).

“Aturan SKP itu jelas, misalnya untuk proyek kecil seharusnya perusahaan hanya boleh mengerjakan lima paket. Tapi faktanya sering kali ada satu perusahaan yang diberi hingga enam paket atau lebih, padahal itu melanggar ketentuan,” ujarnya.

Proyek Penunjukan Langsung Harus Dikelola Secara Adil

Agus Mulyadi juga menyoroti masalah dalam mekanisme penunjukan langsung (PL) yang, menurutnya, seringkali tidak sesuai dengan aturan yang ada. Banyaknya proyek PL yang diberikan kepada satu perusahaan bisa menyebabkan ketimpangan, mengurangi peluang bagi perusahaan lain untuk mendapatkan proyek.

“Kami tidak menolak untuk mendapatkan proyek, tapi tolong aturan SKP ini ditegakkan. Jangan sampai ada perusahaan yang mendominasi satu proyek atau lebih melebihi batas SKP yang diizinkan. Ini bisa merugikan banyak pihak dan bisa menjadi temuan di kemudian hari,” tambah Agus.

Menurutnya, hal ini bisa terjadi untuk proyek terutama yang terkait dengan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya air, yang diberikan tanpa mempertimbangkan proporsionalitas perusahaan dalam menangani proyek.

Agus juga menyarankan agar pemerintah daerah lebih proaktif dalam mengawasi dan memastikan bahwa pembagian proyek dilaksanakan dengan transparan dan adil. Dalam hal ini, ia berharap agar Gapensi dan asosiasi lainnya bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan distribusi proyek yang lebih merata dan sesuai dengan ketentuan SKP.

“Asosiasi bisa dilibatkan oleh pemerintah di daerah untuk memastikan bahwa pembagian proyek dilakukan dengan adil. Jangan sampai ada yang merasa dirugikan hanya karena ada perusahaan yang mendapatkan proyek melebihi kapasitasnya. Harapan kami, dengan komunikasi yang baik, ini bisa berjalan lebih lancar,” ungkap Agus.

Tantangan dalam Pengawasan dan Deteksi Proyek

Agus juga menekankan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya pengawasan yang efektif terhadap SKP perusahaan, yang sering kali tidak terdeteksi saat ada perusahaan yang mengambil lebih banyak proyek daripada yang diperbolehkan.

“Kadang-kadang proyek-proyek ini tidak terdeteksi, terutama di daerah-daerah yang lebih terpencil. Misalnya di Bima atau wilayah lainnya, ada proyek yang seharusnya terbuka untuk banyak perusahaan, tapi hanya diberikan kepada satu perusahaan yang sudah melebihi batas SKP-nya,” kata Agus.

Pentingnya peran asosiasi dalam melakukan pengawasan bersama pemerintah juga menjadi sorotan Agus. Ia berharap adanya komunikasi yang lebih baik antara Gapensi dan pemerintah agar proses pengawasan dan pembagian proyek dapat lebih terkoordinasi dan transparan.

Pentingnya Penerapan Aturan yang Konsisten

Agus Mulyadi kembali menegaskan pentingnya penerapan aturan yang konsisten mengenai SKP dan penunjukan langsung. Ia berharap agar pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga melakukan pengecekan yang lebih mendalam mengenai kesiapan dan kapasitas masing-masing perusahaan dalam menangani proyek.

“Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan ini, agar aturan yang ada benar-benar dijalankan dengan baik. Hal ini sangat penting untuk memastikan tidak ada monopoli dan agar proyek bisa berjalan dengan efektif dan tepat sasaran,” pungkas Agus.(bul)