Beranda blog Halaman 152

Smelter AMMAN Resmi Beroperasi Penuh, Setahun Bisa Olah 900.000 Metrik Ton Konsentrat Hasil Tambang

0
Smelter AMMAN Resmi Beroperasi Penuh, Setahun Bisa Olah 900.000 Metrik Ton Konsentrat Hasil Tambang
komplek smelter PT. AMMAN Sumbawa Barat


Mataram (Suara NTB)- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) menandai tonggak penting dalam transformasi bisnisnya dengan secara resmi merampungkan proyek pembangunan pabrik smelter tembaga AMMAN di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.


Penyelesaian proyek ini dikukuhkan melalui penandatanganan Completion and Project Acceptance Certificate (PAC) antara AMMAN dengan mitra strategisnya, China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering and Construction Co., Ltd. (NFC), di kantor pusat NFC di Beijing, Tiongkok, pada 18 Juli 2026.


Penandatanganan PAC menandai selesainya seluruh pekerjaan konstruksi dan penyelesaian item item punch list terkait komisioning yang menjadi bagian dari ruang lingkup kontrak. Meskipun smelter tembaga AMMAN telah beroperasi selama lebih dari satu tahun, pencapaian tonggak penting ini menegaskan bahwa smelter telah berhasil memenuhi seluruh uji jaminan kinerja (performance guarantee test) sebagaimana dipersyaratkan dalam kontrak dan secara resmi memasuki fase operasi jangka panjang.


Presiden Direktur AMMAN, Arief Sidarto dalam keterangan resmi yang diterima media ini dikatakan, penyelesaian proyek ini merupakan hasil dari dedikasi dan kolaborasi berbagai pihak dalam mewujudkan salah satu kompleks smelter tembaga dan pemurnian logam mulia terintegrasi paling canggih di dunia.


“Rampungnya proyek smelter ini merupakan pencapaian penting bagi AMMAN. Di baliknya terdapat kerja keras, ketangguhan, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh karyawan serta para mitra kami dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembangunan dan komisioning. Beroperasinya smelter ini menegaskan komitmen kami untuk mendukung agenda hilirisasi nasional. Ke depan, kami berharap ekosistem kebijakan yang mendukung daya saing industri pengolahan dan pertambangan dalam negeri dapat terus diperkuat agar Indonesia mampu memaksimalkan manfaat hilirisasi dan tetap kompetitif di tengah dinamika global,” ujar Arief.


Chairman NFC, Liu Yu, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelesaian proyek smelter AMMAN mencerminkan kuatnya kolaborasi internasional dalam mendukung pengembangan industri pengolahan mineral berskala besar dan bernilai tambah tinggi.


Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), smelter tembaga AMMAN dirancang untuk mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat per tahun yang berasal dari tambang Batu Hijau, dan, di masa depan, tambang Elang.


Kompleks terintegrasi ini akan memproduksi katoda tembaga berkualitas tinggi, emas, perak, asam sulfat, dan selenium yang menjadi bahan penting bagi berbagai sektor 1 yang menopang pertumbuhan ekonomi dan transisi energi global. Dari energi terbarukan dan mobilitas listrik hingga teknologi digital serta manufaktur berteknologi tinggi, produk-produk tersebut akan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan dunia yang terus meningkat akan mineral kritis.


Dengan mengintegrasikan teknologi pengolahan terkini dan sistem pengelolaan lingkungan kelas dunia, fasilitas ini dirancang untuk menghasilkan tingkat pemulihan logam yang optimal, efisiensi energi yang lebih tinggi, keandalan operasional yang kuat, serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.


Pencapaian ini menandai dimulainya fase baru bagi AMMAN sebagai perusahaan yang terintegrasi dari kegiatan pertambangan hingga pengolahan mineral. Kehadiran smelter tersebut juga memperkuat ekosistem hilirisasi nasional dan meningkatkan nilai tambah mineral Indonesia di pasar global.(bul)

Bulog NTB Segera Salurkan Bantuan Pangan Tahap II, Alokasikan 30 Kg Beras per Keluarga

0

Mataram (Ekbis NTB) — Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengonfirmasi bahwa penyaluran Bantuan Pangan Tahap II akan dimulai pada Agustus 2026. Bantuan ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat di tengah ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, menjelaskan bahwa penyaluran tahap II mencakup alokasi tiga bulan sekaligus, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.

“Insya Allah pada Agustus ini kami salurkan bantuan pangan tahap II untuk tiga bulan sekaligus. Setiap Keluarga Penerima Bantuan (PBP) akan menerima total 30 kilogram beras,” ujar Mara Kamin di Mataram, Senin (27/7/2026).

Jumlah sasaran pada tahap ini mencapai 856.131 PBP—sama seperti tahap I. Bedanya, jika pada tahap pertama penerima mendapat tambahan minyak goreng, kali ini bantuan difokuskan pada komoditas beras sebanyak 10 kg per bulan. Mara memastikan tahap I alokasi Februari–Maret telah tuntas 100 persen tanpa kendala berkat sinergi dengan pemerintah daerah setempat.

Stok Melimpah Hingga Tahun Depan

Selain distribusi bantuan gratis, Bulog NTB juga menjamin cadangan beras di wilayahnya sangat melimpah. Saat ini, Bulog menguasai stok hingga 275 ribu ton yang diperkirakan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTB hingga tahun depan.

“Masyarakat tidak perlu panic buying. Stok kita aman dan pengadaan gabah, beras, serta jagung terus berjalan setiap hari,” tegas Mara.

Guna menjaga keterjangkauan harga, Bulog juga masif menggelontorkan beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar tradisional, ritel modern, hingga mitra Rumah Pangan Kita (RPK) di tingkat desa. Buka layanan tujuh hari seminggu, Bulog NTB berkomitmen memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga selama masa paceklik kemarau. (r/fan)

MRS Seri Ketiga Berlangsung Ketat, Arai Agaska Akhiri Puasa Podium

0
MRS Seri Ketiga Berlangsung Ketat, Arai Agaska Akhiri Puasa Podium
Pembalap NTB Arai Agaska sukses meraih podium pertamanya untuk pertama kalinya di kelas NSS 600cc di sesi balapan kedua ajang MRS seri ketiga 2026, Minggu (26/7/2026)

Praya ( EKBIS NTB) – Ajang balap motosport nasional Mandalika Racing Series (MRS) seri ketiga yang digeler di Sirkuit Internasional Mandalika pada 24-26 Juli 2026, berlangsung seru dan ketat.

Sebanyak 107 pembalap yang bertanding di enam kelas berbeda tampil ngotot.

Pada balapan kali ini pembalap asal NTB Arai Agaska sukses mengakhiri puasa podium sejak naik ke kelas Nasional Supersport (NSS) 600cc.
Di sesi balap kedua yang berlangsung pada Minggu (26/7/2026), Arai berhasil meraih podium pertamanya di kelas NSS 600cc tersebut.

Pembalap asal Kota Mataram itu berhasil mengungguli pimpinan klasemen sementara kelas NSS 600cc Arjun Firdaus yang harus puas di posisi kedua. Sedangkan podium ketiga diisi juara bertahan MRS tahun 2025 Wahyu Nugroho.


Keberhasilan tersebut sekaligus mengobati kegagalan di sesi balapan pertama pada Sabtu (25/7).

Di mana Arai mengalami crash saat memimpin balapan di kelas tertinggi tertinggi tersebut.


Memulai balapan dari posisi ketiga, Arai kali ini tampil lebih sabar. Kesalahan di sesi balapan pertama tampaknya tidak mau diulangi. Beberapa kali memimpin balapan, Arai terus konsisten di posisi tiga besar dan pada akhirnya sukses menyentuh garis finis pertama pada balapan yang berlangsung dalam 10 laps tersebut dengan catatan waktu 16 menit 28,407 detik.


“Belajar dari balapan pertama kemarin dan sebelum-sebelumnya Arai kali ini bermain lebih sabar,” ungkap Arai, kepada awak media usai balapan.


Di balap kedua tersebut ia menerapkan strategi bertahan dengan mengatur ritme balapan agar tidak cepat kehabisan cengkraman ban.

“Alhamdulillah strategi mengatur ban berjalan dan Arai bisa finis pertama,” ujarnya seraya mengapreasi kepada tim, keluarga dan masyarakat Pulau Lombok yang telah memberikan dukungan kepadanya.


Pembalap NTB lainya Aldiaz Aqsa Ismaya juga menunjukkan penampilan yang solid.

Meski di dua sesi balapan MRS seri ketiga kali ini, Aldiaz belum bisa menggapai podium. Turun di kelas Nasional Sport (NS) 150cc dan NS 250cc, Aldiaz harus puas di posisi kelima di dua kelas tersebut.

Sedangkan pada balap pertama Sabtu kemarin, ia hanya menduduki posisi ketujuh di kelas NS 150cc dan di kelas NS 250cc berada di posisi keempat.


Di kategori junior di kelas Indonesi Junior Talent Cup (ITJC) pembalap junior NTB Gian M. Gibran tampil antiklimak.

Setelah sukses podium pertama di sesi balapan pertama, Gian harus mengakhiri balapan kedua lebih cepat. Lantaran mengalami crash.


Secara umum, ungkap CEO Pride Motosport Edy Saputra, balapan MRS seri ketiga berlangsung lancar dan aman. Pada seri ketiga kali ini ada beberapa regulasi baru yang diterapkan.

Dan, para pembalap sudah mulai beradaptasi dengan perubahan regulasi yang ada.


Bagi sejumlah pembalap seri ketiga kali ini sangat penting. Karena menjadi ajang persiapan sebelum terjun di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) seri di Sirkuit Mandalika pada 7-9 Agustus 2026 mendatang.

“Dua minggu lagi beberapa pembalap MRS akan tampil di ajang ARRC. Kita rasa waktu dua minggu cukup bagi pembalap untuk mempersiapkan fisiknya,” ujar Edy.


Ajang MRS 2026 sendiri masih menyisakan dua seri lagi. Dengan seri keempat akan digelar di bulan September serta putaran final direncanakan digelar pada bulan November 2026 mendatang. (kir)

Pembalap NTB Arai Agaska sukses meraih podium pertamanya untuk pertama kalinya di kelas NSS 600cc di sesi balapan kedua ajang MRS seri ketiga 2026, Minggu (26/7/2026). (EKBIS NTB/kir)

Komitmen Lanjutkan CFN, Wabup Lobar Ajak Jajaran dan Masyarakat Tidak Larut dalam Masalah Berkepanjangan

0
Komitmen Lanjutkan CFN, Wabup Lobar Ajak Jajaran dan Masyarakat Tidak Larut dalam Masalah Berkepanjangan
Hj. Nurul Adha

Giri Menang ( EKBIS NTB) – Wakil Bupati Lombok Barat (Wabup Lobar) menghadiri kegiatan Car Free Night (CFN) di Alun-alun Giri Menang Park, Gerung, Lombok Barat, pada Sabtu malam (25/7/2026).

Wabup dalam kesempatan itu sekaligus menghadiri peringatan hari anak nasional, menyampaikan agar semua jajaran dan masyarakat tidak boleh larut dalam masalah berkepanjangan.


“Kita tidak boleh larut, kita tidak boleh larutan dalam masalah yang berkepanjangan. Hal ini saya sampaikan walupun ini hari anak nasional, tapi penting saya sampaikan,” kata Umi Nurul Adha (UNA), sapaan Wabup Lobar.


UNA juga menyampaikan bahwa ia telah menerima Radiogram Kemendagri dari Gubernur.

Dalam radiogram itu, Kemendagri memintanya untuk melaksanakan tugas dan wewenang Bupati Lobar.


Ia mengaku, di hadapan warga yang hadir pada CFN itu, bahwa amanah yang diberikan kepadanya amatlah besar.

“Ini (amanah) yang sangat berat buat saya, saya sampaikan sesungguhnya saya takut. Takut apa? karena ini amanah yang besar, karena saat malaikat saja ditanya, diberikan amanah oleh Allah, tidak berani. Dan yang berani adalah manusia menerima amanah kepemimpinan,” ujarnya.


Untuk itu ia mengajak semua pihak, tidak boleh larut dalam masalah.

Ia mengajak semua pihak harus menjalankan tugas-tugas ini dalam menjalankan pemerintahan Lobar. “Dan saya yakin insyaallah, saya akan kuat karena bersama masyarakat Lombok Barat,” kata UNA.


Dalam kesepakatan itu, UNA juga berpesan kepada seluruh masyarakat termasuk anak di Lobar agar memiliki akhlak yang baik kepada siapa pun.

Apalagi Bupati Lobar telah mempersembahkan kebaikan untuk masyarakat Lobar, sehingga masyarakat juga perlu memberikan dan membalas kebaikan-kebaikan dengan kebaikan pula.


Wabup UNA juga menegaskan, bahwa dirinya berkomitmen akan terus bekerja melanjutkan program yang telah disusun bersama LAZ. “Itu akan terus saya lanjutkan, misalnya banyak yang bertanya apakah CFN akan diselesaikan (dihentikan, red). Oh tidak, kita lanjut,” tegasnya. (her)

Wabup Lobar, Hj. Nurul Adha (dua dari kanan) bersama warga yang berkunjung saat CFN di Alun-alun Giri Menang, Gerung, Lobar, Sabtu (25/7/2026). ( EKBIS NTB/her)

26 Desa Pemekaran, Pimpinan DPRD Apresiasi Pemda Lombok Utara

0
26 Desa Pemekaran, Pimpinan DPRD Apresiasi Pemda Lombok Utara
I Made Karyasa

Tanjung ( EKBIS NTB) – Pimpinan DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengapresiasi langkah Pemda Lombok Utara yang mengeluarkan Peraturan Bupati terkait usulan 26 desa persiapan dari 22 desa induk di Kabupaten Lombok Utara.

Pihaknya juga berharap, pemekaran desa ini dapat direspons lebih cepat oleh Pemerintah Provinsi NTB hingga pusat, sehingga mendorong terwujudkan pemekaran kecamatan di Lombok Utara.


“Kmai apresiasi keluarnya Perbup tentang 26 desa persiapan, terlebih lagi keputusan tersebut keluar bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Lombok Utara ke-18, tanggal 21 Juli,” ungkap Wakil Ketua DPRD KLU, I Made Karyasa, S.Pd.H., MM., Sabtu (25/7/2026).


Menurutnya, keluarnya Peraturan Bupati terkait pemekaran tidak hanya bermakna Pemda Lombok Utara menindaklanjuti apresiasi masyarakat. Namun, regulasi tersebut menjadi bukti komitmen percepatan pemerintah Lombok Utara untuk meningkatkan akses pelayanan hingga ke tingkat desa.


Tidak hanya Bupati, Karyasa juga mengapresiasi kerja keras Tim Pembentukan Desa Persiapan Kabupaten Lombok Utara yang telah melakukan verifikasi persyaratan administrasi dan verifikasi Teknis dengan Tinjauan Lapangan hingga keluarnya kesimpulan dan rekomendasi kepada Bupati.


Menurutnya, DPRD Lombok Utara sangat mendukung langkah pemekaran tersebut. Pasalnya, pemekaran sekaligus dalam jumlah banyak desa ini menunjukkan keseriusan masyarakat untuk mencapai kemandirian baik dalam ekonomi, sosial, maupun aspek kebutuhan publik lainnya.


Untuk diketahui, 26 (dua puluh enam) Desa Usulan Persiapan dari 22 Desa induk yang dinyatakan layak untuk dimekarkan meliputi Desa Persiapan Murkemuning dan Desa Persiapan Panca Buana dari Desa Sokong (Kecamatan Tanjung), Desa Persiapan Leong dari Desa Tegal Maja (Kecamatan Tanjung), Desa Persiapan Murangga dari Desa Sigar Penjalin (Kecamatan Tanjung).


Selanjutnya di Kecamatan Gangga, terdapat usulan Desa Persiapan Muara Sedayu dari Desa Gondang, Desa Persiapan Pemaru dari Desa Bentek, Desa Persiapan Pancor Mas dan Desa Persiapan Gangga dari Desa Genggelang, Desa Persiapan Soloh dari Desa Rempek, Desa Persiapan Senjajak Darunnajah dari Desa Sambik Bangkol.


Selanjutnya di Kecamatan Kayangan, terdapat Desa Persiapan Kayangan Daya, Desa Persiapan Kayangan Barat dari Desa Kayangan, Desa Persiapan Santong Asli dari Desa Santong, Desa Persiapan Sambik Jengkel Asri dari Desa Selengen, Desa Persiapan Lokok Ara dari Desa Sesait, Desa Persiapan Boyotan dari Desa Gumantar, serta Desa Persiapan Tanak Lestari dari Desa Salut.


Selanjutnya di kecamatan Bayan, Desa Persiapan Teres Genit dari Desa Bayan, Desa Persiapan Torean dari Desa Loloan, Desa Persiapan Lernbah Madani dari Desa Anyar, Desa Persiapan Kebaloan dari Desa Senaru, serta Desa Persiapan Pawang Kunyit dari Desa Mumbul Sari.


Terakhir, di Kecamatan Pemenang diusulkan Desa Persiapan Trengan dari Desa Pemenang Timur, Desa Persiapan Gili Trawangan dari Desa Gili Indah, Desa Persiapan Babussalam dari Desa Malaka, serta Desa Persiapan Pejanggik dari Desa Malaka.


Dengan telah diterbitkannya Peraturan Bupati Lombok Utara Tentang Desa Persiapan tersebut, Karyasa mengajak seluruh masyarakat Lombok Utara khususnya pada desa-desa persiapan agar senantiasa menjaga kondusifitas dan keamanan desanya. Masyarakat setempat juga diharapkan tetap kompak mendukung kelancaran proses pemekaran menuju status definitif.


“Pemerintah Daerah tentunya agar segera mengajukan usulan Kode Registrasi Desa Persiapan ke Pemerintah Provinsi NTB sebagai dasar penunjukan penjabat desa persiapan.

Kepala Desa Induk agar memastikan untuk memberikan dukungan optimal serta memastikan pelaksanaan pemerintahan Desa Persiapan dengan mengalokasikan Dana Operasional Umuntuk Desa Persiapan,” pungkas Karyasa. (ari)

( EKBIS NTB/dok)

Gubernur Tegaskan 87 Persen Lahan di NTB Tidak Boleh Dialihfungsikan

0
Gubernur Tegaskan 87 Persen Lahan di NTB Tidak Boleh Dialihfungsikan
Ilustrasi lahan di NTB yang tidak boleh dialihfungsikan. ( EKBIS NTB/Artificial Intelligence)


Mataram ( EKBIS NTB) –
Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di NTB capai target pusat yaitu 87 persen meski dua kota di provinsi ini, yaitu Kota Mataram dan Kota Bima masih kekurangan lahan berkelanjutan. Sehingga, angka 87,04 persen didapatkan oleh provinsi setelah akumulasi 10 kabupaten/kota.


Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengakui apabila target 87 persen ini diwajibkan untuk masing-masing kabupaten/kota. Maka tidak semua daerah bisa mencapai target. Untuk itu, ia duduk bersama 10 bupati/wali kota untuk menyetujui target 87 persen tersebut di tingkat provinsi.


“Nah Alhamdulillah, dengan dukungan dari semua bupati, wali kota, hari ini kita menandatangani kesepakatan yang akumulasinya mencapai 87 persen lahan yang ada di NTB sekarang. Ini lahan yang tidak boleh dialihfungsikan,” ujarnya akhir pekan kemarin.


Ia mengungkapkan, mengatakan revisi RTRW menjadi langkah strategis untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menghambat pembangunan daerah, terutama dalam memberikan kepastian hukum bagi investasi tanpa mengabaikan aspek keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.


“NTB memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi berbagai potensi bencana.

Karena itu, pembangunan harus berjalan beriringan dengan upaya mitigasi yang terencana dan berkelanjutan,” katanya.


Ia mengungkapkan, akibat dari belum tuntasnya rencana tata ruang wilayah (RTRW) provinsi yang juga berkaitan dengan LP2B, hingga saat ini masih terdapat ratusan rencana investasi di NTB yang belum dapat diproses melalui sistem Online Single Submission (OSS).

Kondisi itu berdampak pada tertundanya berbagai investasi di sektor perumahan, infrastruktur, pariwisata, hingga pengembangan kawasan ekonomi.


Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) membangun kesepahaman baru dalam penyelesaian revisi RTRW melalui pendekatan yang lebih fleksibel tanpa mengurangi komitmen menjaga ketahanan pangan.


Menurutnya, apabila sebelumnya target perlindungan lahan sawah dipenuhi oleh masing-masing kabupaten dan kota, kini pengukurannya dilakukan pada tingkat provinsi sehingga memungkinkan adanya mekanisme subsidi silang antarwilayah.


“Kesepakatan ini menjadi landasan penting untuk mempercepat penyelesaian persoalan tata ruang sehingga investasi yang selama ini tertunda dapat segera berjalan,” jelasnya.


Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mengejar target pemenuhan luasan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B)sesuai ketentuan pemerintah pusat.

Target minimal yang harus dipenuhi adalah 87 persen sebagai syarat revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistanpangan) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengatakan ketentuan tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat yang harus dipenuhi oleh seluruh daerah.

“Jadi kalau berbicara itu, itu kembali lagi ke pusat bahwa pemenuhan 87 persen. Pemrop sekarang berupaya insyaallah sebelum tanggal 30 Juli angka minimal itu insyaallah akan terbentuk,” ujarnya.


Menurutnya, Pemprov NTB telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan target tersebut dapat tercapai sebelum Juli tahun 2026 berakhir.

Beberapa daerah seperti Kota Mataram dan Kota Bima dikatakan belum memenuhi persyaratan tersebut sehingga pihaknya memacu daerah lain agar bisa melebihi target 87 persen tersebut.


“Nanti terokupansi dari daerah-daerah kabupaten yang memiliki angka lebih dari 87 persen,” lanjutnya.


Ia menjelaskan, sejumlah daerah sentra produksi pangan di NTB telah memberikan kontribusi lebih terhadap pemenuhan target tersebut.

Di antaranya yaitu Kabupaten Lombok Timur, Sumbawa, Kabupaten Bima, dan Lombok Tengah. “Itu kontribusinya di atas 87 persen,” ucapnya.


Pihaknya menegaskan, angka minimal 87 persen bukan merupakan target yang ditetapkan Pemprov NTB, melainkan ketentuan dari pemerintah pusat. Ketentuan itu merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden yang harus dilaksanakan seluruh daerah. “Ini kan inpress instruksi Pak Presiden, 87 persen itu,” katanya.


Menurutnya, pemenuhan luasan KP2B menjadi syarat sebelum pemerintah dapat melakukan revisi RTRW. Adapun salah satu tantangan dalam menjaga lahan pertanian adalah meningkatnya kebutuhan lahan untuk perumahan. Karena itu, penataan ruang akan kembali dievaluasi agar pembangunan tidak mengorbankan lahan produktif. (era)

Ketika Generasi Muda Pringgasela Menenun Masa Depan Warisan Budaya

0
Ketika Generasi Muda Pringgasela Menenun Masa Depan Warisan Budaya
Srimananti

Selong ( EKBIS NTB) – Semangat generasi muda Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam menjaga, menghidupkan, dan mengembangkan tenun sebagai warisan leluhur mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj.

Sinta Aghatia M. Iqbal. Baginya, ketika anak-anak muda memilih merawat tenun, sesungguhnya mereka sedang menenun masa depan budaya sekaligus menjaga identitas daerah agar tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.


Apresiasi tersebut disampaikan Bunda Sinta usai menghadiri Karnaval Tenun Night Show “Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma)” di kawasan Tugu Mopra, Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (25/7) malam.


Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati arena pertunjukan, Bunda Sinta mengaku bangga melihat kreativitas generasi muda yang tidak hanya mempertahankan tradisi menenun, tetapi juga mampu mengemasnya menjadi pertunjukan budaya yang modern, menarik, dan membanggakan.


“Luar biasa buat anak-anak muda Pringgasela yang terus mempertahankan dan menjaga tenun ini. Ini momen yang sangat berharga. Semoga dapat menginspirasi daerah-daerah lain di NTB.

Terima kasih untuk generasi muda Pringgasela,” ujarnya.


Menurutnya, warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, keterlibatan anak-anak muda menjadi harapan baru agar tenun tidak sekadar dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai identitas budaya yang relevan dengan kehidupan masa kini.


Bunda Sinta menegaskan, Dekranasda NTB siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas budaya, para perajin, serta masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pengembangan tenun Pringgasela sebagai salah satu ikon budaya NTB.


“Kita akan bekerja bersama. Dekranasda siap berkolaborasi dengan seluruh pihak agar semangat ini terus tumbuh dan tenun Pringgasela semakin dikenal, dicintai, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.


Mengenakan busana tenun khas NTB, Bunda Sinta mengikuti seluruh rangkaian pertunjukan bersama Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya, Ketua Dekranasda Lombok Timur dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, yang mewakili Gubernur NTB, serta sejumlah tamu undangan.


Malam itu, kawasan Tugu Mopra menjelma menjadi panggung yang menampilkan perjalanan panjang sehelai kain tenun. Prosesi pemukulan gong membuka pertunjukan kolosal yang memadukan musik tradisional, permainan cahaya, parade busana tenun, hingga visualisasi proses lahirnya kain Pringgasela, mulai dari pengolahan benang, pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami, hingga sentuhan tangan para penenun yang dengan sabar merangkai setiap helai benang menjadi karya bernilai tinggi.


Nama “Srimananti”, yang diangkat sebagai tema utama pertunjukan, merupakan salah satu motif tenun khas Pringgasela yang melambangkan harapan, do’a, kesabaran, dan ketekunan perempuan penenun. Melalui tema “The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma)”, generasi muda menghadirkan tafsir baru bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang diam, melainkan terus bertumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.


Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam mendukung pengembangan kawasan wisata berbasis budaya.

Menurutnya, kreativitas generasi muda Lombok Timur merupakan modal penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.


Senada dengan itu, Wakil Bupati Lotim, Moh. Edwin Hadiwijaya, mengatakan Pemerintah Kabupaten Lotim akan terus memperkuat Festival Alunan Budaya Pringgasela sebagai salah satu agenda unggulan daerah karena terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Selama satu dekade penyelenggaraannya, Festival Alunan Budaya Pringgasela telah mencatat capaian yang membanggakan.

Festival ini mampu menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp17,1 miliar, menjangkau lebih dari 10 juta penonton, serta masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) selama tiga tahun berturut-turut.

Bahkan, festival ini berhasil menembus 10 besar event budaya terbaik tingkat nasional, mempertegas posisi Pringgasela sebagai salah satu pusat kebudayaan yang terus tumbuh di Indonesia.


Karnaval Tenun Night Show “Srimananti” menjadi penutup perayaan satu dekade Festival Alunan Budaya Pringgasela yang berlangsung pada 19–25 Juli 2026.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, festival ini menghadirkan pesan bahwa setiap helai benang yang ditenun masyarakat Pringgasela sesungguhnya sedang merajut sejarah, menggerakkan ekonomi, memperkuat jati diri daerah, dan mewariskan kebanggaan kepada generasi yang akan datang.

Di sanalah budaya tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup, tumbuh, dan menjadi denyut masa depan NTB. (r/ham)

KARNAVAL – Suasana Karnaval Tenun Night Show “Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma)” di kawasan Tugu Mopra, Pringgasela, Sabtu (25/7) malam. ( EKBIS NTB/ist)

Lima Kabupaten di NTB Siaga Kekeringan

0
Lima Kabupaten di NTB Siaga Kekeringan
Sadimin

LIMA kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus siaga kekeringan. Di antaranya Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Sadimin, mengatakan meski musim kemarau dimulai sejak beberapa bulan lalu, status di lima daerah tersebut masih sebatas siaga, belum masuk tahap tanggap darurat. Meski begitu, Pemprov NTB telah menyiapkan upaya penanganan, seperti distribusi air bersih.

“Yang sudah siaga lima. Siaga kekeringan, bencana itu statusnya kan siaga tanggap darurat, transisi darurat. Jadi kalau siaga potensi tidak besar nanti ditingkatkan menjadi darurat,” ujarnya pekan kemarin.

Ia mengaku, pihaknya cukup waspada soal prediksi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang di tahun ini, diperkirakan selama kurang lebih 10 bulan. Apalagi, NTB juga termasuk dalam empat besar daerah dengan kekeringan tertinggi di Indonesia.

Untuk mengantisipasi terjadinya darurat kekeringan, BPBD, lanjutnya akan mengoptimalkan sumber air yang tersedia.

Apabila kebutuhan meningkat, pihaknya juga akan mengajukan Belanja Tidak Terduga (BTT) maupun tambahan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Ya kan kita siapkan nanti kalau kekeringan kan harus kita tangani. Nah kalau sekarang kan, sementara kan baru kita mulai pakaiyang ada dulu. Kalau kurang nanti kita ajukan PTB, sesuai dengan kebutuhan,” lanjutnya.

Mantan Kadis PUPR NTB itu mengakui, anggaran penanganan kekeringan masih terbatas. Saat ini BPBD NTB memiliki ketersediaan sekitar 100 tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

Terkait dukungan anggaran dari pemerintah pusat, Sadimin mengatakan besarannya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Bantuan dapat diajukan melalui mekanisme BTT maupun Dana Siap Pakai (DSP) BNPB apabila pemerintah daerah sudah tidak mampu menangani sendiri.

“Ya kita lihat tergantung sesuai kebutuhan kita. Nanti kalau kita butuh kan ngajukan lewat BTT, ngajukan juga ke BNPB, pakai dana DSB,” katanya.

Meski demikian, ia belum dapat memastikanbesaran bantuan yang akan diterima karena masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan. Adapun sejauh ini, permintaan distribusi air bersih baru diajukan oleh Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Lombok Barat.

Jumlah bantuan yang disalurkanakan disesuaikan dengan ketersediaan air dan kebutuhan masing-masing daerah. Tidak hanya distribusi air bersih, BPBD NTB juga mengusulkan pembangunan sumur bor, terutama untuk wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah.

Ia menyebut usulan pembangunanmencapai sekitar 106 titik, namun realisasinya tetap mempertimbangkan potensi ketersediaan air tanah di setiap lokasi.

“Kalau kita ngajukan banyak sih, yang sebanyak desa miskin ekstrem itu, 106 kita ajukan,” ungkapnya.

Untuk pembangunan satu unit sumur bor, kebutuhan anggaran diperkirakan berkisar Rp300 juta hingga Rp350 juta, tergantung kondisi dan potensi sumber air di lokasi. “Belum tentu miskin ekstrem terus tidak ada air kan. Walaupun tidak miskin ekstrem kan kadang-kadang tidak ada air juga,” pungkasnya. (era)

Sadimin ( EKBIS NTB/era)

KWT Bangkit Bersama Sugian Tolak Ekspor Bahan Baku, Kini Ekspor Hasil Olahan ke Malaysia

0
KWT Bangkit Bersama Sugian Tolak Ekspor Bahan Baku, Kini Ekspor Hasil Olahan ke Malaysia
MENGOLAH - Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Sugian, Hadiatun yang mengolah jambu mete dan produk lainnya menjadi produk olahan berkualitas ekspor. (Suara NTB/rus)

Selong (EKBIS NTB) – Sebuah keputusan berani diambil oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangkit Bersama di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Mereka menolak tawaran ekspor bahan baku mentah ke China dan memilih mengolah sendiri hasil bumi menjadi produk bernilai tambah. Kini, langkah itu membuahkan hasil: produk olahan mereka tembus pasar mancanegara.


Ketua KWT Bangkit Bersama, Hadiatun mengungkapkan bahwa dua produk unggulan kelompoknya, yakni Mete Kesugian dan Keripik Pisang Sugian telah berhasil diekspor ke Malaysia. “Sudah dua kali ekspor ke Malaysia, ke Johor Baru. Sekali kirim 500 pieces,” ujarnya saat ditemui di Sekretariatnya, Sabtu (26/7/2026).


Tak hanya pasar internasional, produk mereka juga telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk NTB, Bali, dan Jakarta. “Kami sudah punya reseller di masing-masing daerah, meski masih bersifat terputus, belum reseller tetap,” tambahnya.


KWT Bangkit Bersama berdiri sejak 2016 dengan 10 orang anggota yang semuanya ibu rumah tangga. Mereka bekerja dari rumah masing-masing, ada yang bertugas membelah mente dan bagian produksi beranggotakan 4 orang.


Hadiatun menceritakan awal mula kelompoknya mengolah kacang mete. “Dulu di sini banyak mente, tapi belum banyak yang mengolah. Kami melihat peluang untuk meningkatkan nilai jual hasil petani,” kenangnya.


Kelompok ini mendapat pelatihan pengolahan kacang mete. “Awalnya kami mulai dengan harapan kecil. Harga produk terlalu tinggi, masyarakat belum mengenal. Tapi pelan-pelan kami perkenalkan lewat media sosial, hingga akhirnya berjalan lancar,” jelasnya.


Untuk bersaing di pasar yang lebih luas, KWT Bangkit Bersama telah melengkapi produknya dengan berbagai izin resmi. “Kami sudah punya PIRT, NIB, sertifikat halal, dan BPOM. Semua produk kami sudah memiliki BPOM sehingga bisa dipasarkan atau diekspor,” tegas Hadiatun.


Saat ini, lebih dari 22 ritel modern di NTB telah menjual produk mereka, termasuk di Senggigi dan Sembalun. Namun, kelompok ini tetap selektif dalam memilih mitra ritel. “Kami menyaring ritel yang sistem pembayarannya sesuai aturan, karena kami mengharapkan pembayaran setiap bulan,” katanya.


Meski pemasaran berjalan lancar, kelompok ini menghadapi tantangan serius terkait harga bahan baku. “Harga bahan baku sekarang sangat tinggi, mencapai Rp25.000 per kilogram, padahal tahun-tahun sebelumnya hanya Rp15.000,” ungkap Hadiatun.


Jika harga terus melonjak hingga Rp30.000, otomatis harga jual produk akan ikut naik. “Kami masih untung, tapi pelan-pelan akan terdampak,” tambahnya.

Keterbatasan Modal dan Alat Produksi

Hadiatun mengakui bahwa keterbatasan modal menjadi hambatan utama. “Tawaran pasar banyak, tapi kami terbatas modal. Kalau permintaan melampaui kemampuan, kami tidak bisa penuhi,” ujarnya.
Selain itu, mereka masih membutuhkan alat mesin produksi berkapasitas besar untuk mengurangi beban kerja manusia. Saat ini, produksi harian mencapai 100 pieces atau sekitar 2-3 kuintal per bulan.


Untuk bahan baku, kelompok ini mengandalkan kebun masyarakat dan lahan kemitraan di Kecamatan Sambelia, serta menjalin kerja sama dengan petani di luar daerah seperti di Bayan Lombok Itara dan Obel–obel. “Di Sambelia kami masih mampu, tapi kami juga membangun mitra di luar kecamatan,” jelasnya.


Hadiatun berharap produk KWT Bangkit Bersama bisa dipasarkan lebih luas lagi. “Harapan kami ke depan, produk kita lebih dikenal, lebih lancar, dan lebih berdampak ke masyarakat. Ini akan mendongkrak ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja,” pungkasnya.


Dengan semangat kemandirian dan keberanian menolak jalan instan, KWT Bangkit Bersama Sugian membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di kancah internasional. Mereka adalah inspirasi bagi pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi kerakyatan di Lombok Timur.

Dorong Keterlibatan Pemerintah

Suhirman, pendamping KWT Bangkit Bersama, menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah terhadap UMKM. “Pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat harus mendorong ritel modern untuk mengakomodir produk UMKM. Jangan hanya pembinaan dan pelatihan, tapi pendampingan marketing juga penting,” ujarnya.


Ia menyebut bahwa di Lombok Timur terdapat ratusan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, namun belum banyak yang mengakomodir produk UMKM. “Harapan kami, pemerintah daerah tegas mendorong ritel modern untuk memasukkan produk UMKM, termasuk KWT Bangkit Bersama yang sudah ekspor ke Malaysia,” katanya.


Suhirman juga mengungkapkan bahwa kelompok ini siap dengan pola konsinyasi, namun meminta sistem pembayaran tidak memberatkan. “Jangan sampai harus nunggu 6 bulan baru dibayar, karena mereka produksi setiap hari dan harus menggaji tenaga kerja,” tegasnya.


Selain KWT Bangkit Bersama, Desa Sugian memiliki dua kelompok wanita lain binaan Wahana Visi. Kelompok wanita nelayan memproduksi kerupuk ikan, abon, sambal, dan bakso ikan dengan kemasan dan branding sendiri.


Kelompok Aska juga memiliki produk unggulan keripik manggrop yang sedang diuji kandungannya, serta kopi mangrove yang diklaim memiliki keistimewaan untuk pria dewasa dan sedang dalam proses uji laboratorium. (rus)

Menyusuri Ekowisata Mangrove Sugian, Rumah bagi 17 Spesies Tanaman Bakau Terlengkap Se-Asia

0
Menyusuri Ekowisata Mangrove Sugian, Rumah bagi 17 Spesies Tanaman Bakau Terlengkap Se-Asia
(Suara NTB/rus) EKOWISATA – Suasana ekowisata Mangrove Desa Sugian Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur, pada Sabtu (25/7).

Di pesisir timur Pulau Lombok, tepatnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan kekayaan alam luar biasa. Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Ekowisata Mangrove Sugian baru saja resmi diluncurkan pada 4 April 2026 oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik. Di balik rimbunnya pohon bakau yang saling mengait, kawasan ini menjadi rumah bagi 17 spesies tanaman bakau terlengkap di Asia.

PERJALANAN Ekowisata Mangrove Sugian tak lepas dari program Program Kampung Iklim (Proklim) yang digagas sejak 2024. Humas Proklim Lestari Kokok Pedek Sugian, Bagus Aditya Kusuma, saat ditemui Suara NTB, Sabtu (25/7/2026) menjelaskan bahwa program ini telah memperoleh predikat lestari. Sebuah predikat tertinggi di Indonesia yang diberikan Kementerian Kehutanan.


“Tahapannya banyak sekali, dari Proklim utama baru ke lestari. Syaratnya adalah bagaimana membina dusun-dusun lain untuk mau menjadi program juga,” ujar Bagus. Saat ini ada 10 dusun yang dibina, termasuk di luar desa hingga luar kecamatan.


Selain ekowisata mangrove, program unggulan lainnya adalah mangrub (mangrove dan rub) serta kelompok wanita tani yang mengolah produk dari pisang dan mete. “Mete Sugian sudah terbranding luas sampai ke semua pusat oleh-oleh, bahkan sempat ikut pameran di Labuan Bajo, ASEAN Summit, dan Jakarta,” tambahnya.


Potensi mangrove di Sugian disebut sebagai yang terlengkap di Asia dengan 17 spesies. Spesies yang mendominasi adalah Rhizophora sp, termasuk Rhizophora avensia yang bersifat endemik karena telah tumbuh sejak lama di kawasan ini.


Kawasan konservasi ini juga mencakup Gili Lawang dan Gili Sulat—dua pulau kecil di depan Desa Sugian yang menjadi daerah konservasi perairan dengan luas hutan bakau sekitar 1.731 hektare. Total luasan mangrove di daratan mencapai lebih dari 10 hektare, sementara di kawasan Gili mencapai sekitar 600 hektare.


“Banyak peneliti dari dalam dan luar negeri yang mengambil penelitian di sini, bahkan dari Jepang dan Australia,” ungkap Bagus. Burung-burung langka juga dapat ditemukan di kawasan Gili Sulat dan Gili Lawang, menjadikannya lokasi penelitian yang diminati.
Hasil monitoring menggunakan citra satelit oleh tim dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan peningkatan luasan hutan mangrove dari tahun ke tahun sejak 2019.

Tidak Ingin Jadi Kawasan Wisata Komersil

Berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya, Ekowisata Mangrove Sugian mengedepankan pendekatan edukasi dan konservasi.
“Tujuannya pengembangan ekowisata di Sugian ini bukan komersil, tapi lebih ke ekowisata atau edu wisata. Pengunjung bisa menikmati wisata sambil mengenal mangrove,” tegas Bagus.


Kendati potensi komersial sangat menjanjikan, pengelola memilih jalan berkelanjutan. “Kelestarian alam yang kita pertimbangkan. Kelompok wanita tani tidak akan menjual bahan mentahnya, walaupun banyak importir yang datang menawarkan,” jelasnya.
Tujuan akhir dari pengembangan ekowisata ini adalah program penyerapan karbon. “Tujuan terakhir kami sebenarnya ingin ada program penyerapan karbon di sini,” ungkap Bagus.


Dengan pendekatan sustainable tourism, Ekowisata Mangrove Sugian berupaya menjadi model pengelolaan pariwisata lingkungan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Sekretaris Daerah Lombok Timur berharap Desa Sugian dapat berkembang menjadi desa mandiri dengan kesejahteraan yang kokoh, “layaknya akar mangrove yang menopang kehidupan di wilayah pesisir”.


Di balik rimbunnya mangrove, ada filosofi yang diajarkan: “Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki”. Sebuah pesan yang menjadi fondasi bagi Ekowisata Mangrove Sugian—menjaga alam, memberdayakan masyarakat, dan mewariskan kekayaan untuk generasi mendatang.


Sekretaris Desa Sugian, Mahfudz Ali Fikri, menambahkan bahwa pemerintah desa mendukung penuh pembangunan yang harmonis antara masyarakat dan desa. “Kami sudah membentuk aturan persentase pembagian hasil dengan pengelola yang ada di sini,” ujarnya.
Untuk menjaga kelestarian, kawasan ini menerapkan berbagai pembatasan. “Kunjungannya dibatasi karena ini daerah konservasi.

Contohnya di tracking tidak terlalu banyak yang bisa masuk,” kata Bagus. Pembatasan ini juga bertujuan agar sampah bisa tertangani dengan baik.


Mahfudz menambahkan bahwa atraksi yang dibangun sengaja tidak dibuat “wow” secara komersial. “Bentuk dari pariwisata komersial minim karena sudah ada aturan tersendiri—awik-awik—untuk live musik dan sebagainya, kita batasi,” jelasnya.


Pada akhir pekan, rata-rata pengunjung mencapai 100-200 orang per malam. Tiket masuk termasuk biaya parkir: Rp5.000 untuk roda dua dan Rp10.000 untuk roda empat.


Daya tarik utama Ekowisata Mangrove Sugian adalah pemandangan matahari tenggelam di bawah Gunung Rinjani dari sisi barat kawasan. Ke depan, pengelola berencana mengembangkan wisata underwater di Gili Lawang dan Gili Sulat yang dapat berkesinambungan dengan ekowisata mangrove.


“Kami dari pemerintah desa melihat bagaimana perkembangan TWA Keramat Suci Sugian. Masyarakat diuntungkan dan desa mendapatkan keuntungan melalui pendapatan asli desa,” ungkap Mahfudz.


Tahun ini, pemerintah desa juga sedang membangun fasilitas kamar bilas dan kamar kecil untuk menunjang kenyamanan pengunjung. (rus)