Home Blog Page 13

Pungutan di CFD DihentikanAPKLI Akui Pungut Iuran dari Non Anggota

0
Pungutan di CFD DihentikanAPKLI Akui Pungut Iuran dari Non Anggota
TANDATANGAN - Ketua APKLI Kota Mataram, M. Syahidin disaksikan Ketua DPRD Kota Mataram, Abdul Malik, Ketua Komisi II Irawan Aprianto, Ketua M3 Muhammad Reza menandatangani tuntutan Majelis Muda Mentaram untuk menghentikan pungutan tidak sah kepada pedagang.(EKBIS NTB/ist)

Mataram (EKBIS NTB) –Audiensi M3 (Majelis Muda Mentaram) ke DPRD Kota Mataram, Kamis (15/10) berhasil menghentikan pungutan tidak sah yang dilakukan APKLI (Asosiasi Pedagang Kaki Lima) kepada pedagang non anggota di CFD (Car Free Day) Udayana yang berlangsung setiap hari Minggu dengan nominal Rp5.000 per pedagang.

Dalam audiensi yang dipimpin Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, S.Sos., dihadiri jajaran Komisi II, Dinas Perdagangan serta APKLI Kota Mataram, ormas pimpinan M. Syahidin itu, sepakat dan berjanji menghentikan pungutan iuran bagi pedagang di CFD sampai ada keputusan pascapertemuan lanjutan yang nantinya akan dilakukan Komisi II dengan Dinas Perdagangan dan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Mataram.

Sebelumnya, Ketua M3, Muhammad Reza dan pengurus M3 lainnya Risky Febrian S dan Zidni Chaeru Zadi menyuarakan soal pungutan tidak sah yang dilakukan korlap APKLI Kota Mataram kepada sejumlah pedagang non anggota di CFD Udayana.

‘’Kalau iuaran itu dipungut kepada anggota APKLI, tidak masalah. Tapi yang pedagang bukan anggota pun ikut dipungut. Kami tidak mempermasalahkan nominalnya, mau serratus ribu sekalipun tidak masalah, asal diberlakukan hanya kepada anggota APKLI. Tapi ini yang bukan anggota juga dipungut. Meskipun pedagang sudah bilang mereka bukan anggota APKLI, minggu depannya didatangi lagi,’’ terang Risky.

Oleh karena itu, Ketua M3 Muhammad Reza melalui pernyataan sikap resmi M3, mendesak dihentikannya penarikan pungutan tidak sah kepada pedagang di CFD Udayana. Mendesak audit dan pemeriksaan menyeluruh atas praktik pungutan di Udayana. Selain itu, M3, kata Reza mendesak Pemkot Mataram mengambilalih pengelolaan Kawasan Udayana.

Menyikapi desakan M3, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, mencecar Ketua APKLI Kota Mataram perihal pungutan kepada non anggota. ‘’Berarti benar, ada pungutan kepada pedagang yang bukan anggota,’’ tanyanya. ‘’Iya pak,’’ aku Ketua APKLI Kota Mataram. Atas dasar itu, Dewan meminta APKLI menghentikan penarikan iuran kepada pedagang di CFD.

Keputusan itu mendapat dukungan penuh dari Dinas Perdagangan Kota Mataram. ‘’Kami sangat setuju dengan keputusan itu, karena memang pada dasarnya CFD itu disediakan oleh Pemerintah sebagai wadah gratis bagi pedagang berjualan,’’ terang kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Irwan Harimansyah, ST. (fit)


Batik Mataram Tampil di Panggung Nasional

0
Batik Mataram Tampil di Panggung Nasional
Jemmy Nelwan. (Suara NTB/cem )

Mataram (EKBIS NTB) –Produk Batik Mataram kini mulai melenggang di panggung nasional. Perancang busana Najua Yanti berkolaborasi dengan Dekranasda Kota Mataram menampilkan koleksi spesial di ajang IN2MOTIONFEST 2026 x JMFW pada, 14-18 Oktober di Jakarta Internasional Covention Center (JICC) Jakarta.


Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Mataram, Jemmy Nelwan menjelaskan, Dekranasda Kota Mataram bekerja sama dengan Perancang Busana Najua Yanti untuk mempromosikan Batik Mataram di tingkat nasional dan internasional. Batik Mataram telah ditampilkan di panggung nasional pada ajang IN2MOTIONFEST 2026 x JMFW pada, 14-18 Oktober di Jakarta Internasional Covention Center (JICC) Jakarta. “Nanti Batik Mataram kembali digaungkan di Kota Mataram,” kata Jimmy dikonfirmasi, Kamis (15/10).


Jemmy mengatakan, Batik Mataram yang sudah merambah ke panggung nasional sebenarnya cikal bakal dibentuknya kampung batik di enam kecamatan di Kota Mataram. Harapannya Batik Mataram semakin banyak dikenal oleh seluruh kalangan.


Mantan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kota Mataram mengakui bahwa produksi Batik Mataram dinilai tidak mudah. Pihaknya terkendala sumber daya manusia, harga bahan baku yang mahal serta lain sebagainya. “Tantangan kita di SDM dan bahan baku,” sebutnya.


Pihaknya berharap bahan baku Batik Mataram bisa diperoleh lebih murah,sehingga perajin bisa memproduksi skala besar serta mampu bersaing dengan produk batik dari Pulau Jawa dan daerah lainnya di Indonesia. “Sebenarny akita ingin Batik Mataram bisa bersaing dengan batik dari daerah lain,” katanya.


Secara bertahap akan dilakukan pembinaan serta pelatihan kepada masyarakat untuk memproduksi batik. Pihaknya akan mendatangkan instruktur atau pelatih yang kompeten serta memberikan bantuan peralatan kepada masyarakat. Jemmy berharap produk Batik Mataram bisa dikenal lebih luas di kalangan masyarakat. (cem/*)

Soroti Teknis Penarikan Iuran PKL

0
Soroti Teknis Penarikan Iuran PKL
Irawan Aprianto (EKBIS NTB/ist)

KETUA Komisi II DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, ST., menyoroti teknis dan waktu penarikan iuran anggota pedagang kaki lima (PKL) yang dilakukan di kawasan Car Free Day (CFD). Persoalan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat karena dilakukan di ruang publik dan nominalnya disebut sama dengan pungutan dari instansi pemerintah.

Irawan mengatakan, persoalan ini perlu diklarifikasi agar masyarakat dapat membedakan antara iuran organisasi dengan retribusi atau pungutan resmi pemerintah daerah.

Menurutnya, keberadaan organisasi yang mewadahi PKL memiliki peran penting dalam memperjuangkan dan mengadvokasi kepentingan para pedagang. Organisasi tersebut juga menjadi wadah untuk mengawal aspirasi PKL, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kami mengapresiasi keberadaan organisasi yang melakukan pengawalan terhadap teman-teman PKL. Organisasi semacam ini penting sebagai forum advokasi kepentingan pedagang kaki lima,” ujarnya.

Terkait persoalan iuran yang menjadi perhatian, Irawan menjelaskan, berdasarkan klarifikasi yang diterimanya, pungutan tersebut merupakan iuran anggota, bukan retribusi pemerintah. Iuran itu disebut memiliki dasar hukum dalam anggaran rumah tangga (ART) organisasi dan ketentuan internal yang mengatur mekanisme penarikan.

Meski demikian, ia menilai pelaksanaan penarikan iuran di lokasi CFD perlu dievaluasi. Pasalnya, kegiatan tersebut berlangsung di ruang publik yang juga menjadi tempat aktivitas masyarakat dan pedagang lainnya.

Kesalahpahaman berpotensi muncul karena terdapat pungutan lain dari instansi pemerintah dengan nominal yang sama, yakni Rp5.000. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang maupun masyarakat sulit membedakan apakah uang yang diminta merupakan iuran organisasi atau pungutan resmi pemerintah.

Karena itu, Politisi PKS ini meminta organisasi terkait memperjelas mekanisme penagihan, terutama dengan memastikan status keanggotaan pedagang sebelum meminta pembayaran.

“Jangan kemudian ditarik secara acak, semua ditarik, lalu klarifikasinya belakangan. Harus dipastikan terlebih dahulu apakah orang yang ditagih memang anggota organisasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap organisasi maupun pemerintah daerah.

Irawan juga mengapresiasi inisiatif audiensi yang dilakukan kelompok masyarakat untuk menyampaikan persoalan tersebut kepada DPRD. Ia berharap kerja sama serupa dapat berlanjut sebagai bagian dari pengawasan dan penyampaian aspirasi masyarakat di Kota Mataram. (fit)


Anggaran Ditransfer ke Daerah

0
Anggaran Ditransfer ke Daerah
Budi Wahyudin (EKBIS NTB/pan)

PEMERINTAH Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, menjelaskan bahwa anggaran Program Desa/Kelurahan Berdaya dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah ditransfer ke pemerintah daerah. Namun, pencairan dan penggunaan anggaran di tingkat kelurahan harus melalui mekanisme Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dan dimasukkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) pada APBD Perubahan.

Lurah Ampenan Utara, Budi Wahyudin, mengatakan bahwa anggaran program tersebut telah ditransfer ke daerah. Meski demikian, pelaksanaannya di tingkat kelurahan memiliki mekanisme berbeda dengan desa karena penggunaan anggaran harus melalui SIPD.

“Semua kelurahan sudah ditransfer ke daerah keuangannya. Cuma, khusus kelurahan, kami menggunakan mekanisme SIPD sehingga masuk dalam anggaran perubahan. Setelah itu, baru bisa dibahas,” ujarnya, Kamis (15/10).

Ia menjelaskan, mekanisme penyaluran dan penggunaan anggaran Program Desa/Kelurahan Berdaya berbeda antara pemerintah desa dan kelurahan. Anggaran untuk desa disalurkan melalui mekanisme tersendiri, sedangkan kelurahan harus mengikuti prosedur penganggaran melalui APBD Perubahan.

Budi menyebutkan, anggaran sebesar Rp300 juta harus terlebih dahulu dimasukkan dalam APBD Perubahan, kemudian dituangkan dalam DPA pemerintah kelurahan. Setelah seluruh tahapan tersebut selesai, anggaran dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan kegiatan program.

“Kalau sudah melalui tahapan itu, kami langsung yang mengelolanya,” jelasnya.

Meski demikian, anggaran Rp300 juta tersebut tidak serta-merta dibelanjakan sekaligus. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan tahapan pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.

Kelurahan Ampenan Utara merupakan salah satu dari 12 kelurahan di Kota Mataram yang menerima Program Desa/Kelurahan Berdaya. Dalam pelaksanaannya, Ampenan Utara memilih tema tematik dengan fokus pada dua sektor, yakni ketahanan pangan dan perikanan.

Budi mengatakan, pemilihan kedua sektor tersebut didasarkan pada kondisi wilayah serta potensi sumber daya alam yang dimiliki Kelurahan Ampenan Utara.

“Saya mengambil dua sektor itu karena sesuai dengan kondisi dan sumber daya alam,” pungkasnya. (pan)

Soroti Teknis Penarikan Iuran PKL

0
Soroti Teknis Penarikan Iuran PKL
Irawan Aprianto (EKBIS NTB/ist)

KETUA Komisi II DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, ST., menyoroti teknis dan waktu penarikan iuran anggota pedagang kaki lima (PKL) yang dilakukan di kawasan Car Free Day (CFD). Persoalan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat karena dilakukan di ruang publik dan nominalnya disebut sama dengan pungutan dari instansi pemerintah.

Irawan mengatakan, persoalan ini perlu diklarifikasi agar masyarakat dapat membedakan antara iuran organisasi dengan retribusi atau pungutan resmi pemerintah daerah.

Menurutnya, keberadaan organisasi yang mewadahi PKL memiliki peran penting dalam memperjuangkan dan mengadvokasi kepentingan para pedagang. Organisasi tersebut juga menjadi wadah untuk mengawal aspirasi PKL, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kami mengapresiasi keberadaan organisasi yang melakukan pengawalan terhadap teman-teman PKL. Organisasi semacam ini penting sebagai forum advokasi kepentingan pedagang kaki lima,” ujarnya.

Terkait persoalan iuran yang menjadi perhatian, Irawan menjelaskan, berdasarkan klarifikasi yang diterimanya, pungutan tersebut merupakan iuran anggota, bukan retribusi pemerintah. Iuran itu disebut memiliki dasar hukum dalam anggaran rumah tangga (ART) organisasi dan ketentuan internal yang mengatur mekanisme penarikan.

Meski demikian, ia menilai pelaksanaan penarikan iuran di lokasi CFD perlu dievaluasi. Pasalnya, kegiatan tersebut berlangsung di ruang publik yang juga menjadi tempat aktivitas masyarakat dan pedagang lainnya.

Kesalahpahaman berpotensi muncul karena terdapat pungutan lain dari instansi pemerintah dengan nominal yang sama, yakni Rp5.000. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang maupun masyarakat sulit membedakan apakah uang yang diminta merupakan iuran organisasi atau pungutan resmi pemerintah.

Karena itu, Politisi PKS ini meminta organisasi terkait memperjelas mekanisme penagihan, terutama dengan memastikan status keanggotaan pedagang sebelum meminta pembayaran.

“Jangan kemudian ditarik secara acak, semua ditarik, lalu klarifikasinya belakangan. Harus dipastikan terlebih dahulu apakah orang yang ditagih memang anggota organisasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap organisasi maupun pemerintah daerah.

Irawan juga mengapresiasi inisiatif audiensi yang dilakukan kelompok masyarakat untuk menyampaikan persoalan tersebut kepada DPRD. Ia berharap kerja sama serupa dapat berlanjut sebagai bagian dari pengawasan dan penyampaian aspirasi masyarakat di Kota Mataram. (fit)


Anggaran Ditransfer ke Daerah

0
Anggaran Ditransfer ke Daerah
Budi Wahyudin (EKBIS NTB/pan)

PEMERINTAH Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, menjelaskan bahwa anggaran Program Desa/Kelurahan Berdaya dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah ditransfer ke pemerintah daerah. Namun, pencairan dan penggunaan anggaran di tingkat kelurahan harus melalui mekanisme Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dan dimasukkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) pada APBD Perubahan.

Lurah Ampenan Utara, Budi Wahyudin, mengatakan bahwa anggaran program tersebut telah ditransfer ke daerah. Meski demikian, pelaksanaannya di tingkat kelurahan memiliki mekanisme berbeda dengan desa karena penggunaan anggaran harus melalui SIPD.

“Semua kelurahan sudah ditransfer ke daerah keuangannya. Cuma, khusus kelurahan, kami menggunakan mekanisme SIPD sehingga masuk dalam anggaran perubahan. Setelah itu, baru bisa dibahas,” ujarnya, Kamis (15/10).

Ia menjelaskan, mekanisme penyaluran dan penggunaan anggaran Program Desa/Kelurahan Berdaya berbeda antara pemerintah desa dan kelurahan. Anggaran untuk desa disalurkan melalui mekanisme tersendiri, sedangkan kelurahan harus mengikuti prosedur penganggaran melalui APBD Perubahan.

Budi menyebutkan, anggaran sebesar Rp300 juta harus terlebih dahulu dimasukkan dalam APBD Perubahan, kemudian dituangkan dalam DPA pemerintah kelurahan. Setelah seluruh tahapan tersebut selesai, anggaran dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan kegiatan program.

“Kalau sudah melalui tahapan itu, kami langsung yang mengelolanya,” jelasnya.

Meski demikian, anggaran Rp300 juta tersebut tidak serta-merta dibelanjakan sekaligus. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan tahapan pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.

Kelurahan Ampenan Utara merupakan salah satu dari 12 kelurahan di Kota Mataram yang menerima Program Desa/Kelurahan Berdaya. Dalam pelaksanaannya, Ampenan Utara memilih tema tematik dengan fokus pada dua sektor, yakni ketahanan pangan dan perikanan.

Budi mengatakan, pemilihan kedua sektor tersebut didasarkan pada kondisi wilayah serta potensi sumber daya alam yang dimiliki Kelurahan Ampenan Utara.

“Saya mengambil dua sektor itu karena sesuai dengan kondisi dan sumber daya alam,” pungkasnya. (pan)

Kolaborasi Merries Jagoan Kulit Bayi dengan Alfamart Sahabat Posyandu, Targetkan 2.800 Penerima Manfaat

0

Mataram (ekbisntb.com)- Halaman gerai Alfamart Jenggik, Lombok Timur, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah ibu datang bersama anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan Posyandu yang digelar di area gerai.

Sejak pagi, para ibu dan balita mengikuti berbagai layanan kesehatan dasar yang diberikan oleh kader Posyandu setempat. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tumbuh kembang anak, imunisasi, pemberian makanan tambahan, hingga edukasi mengenai pemenuhan gizi anak. Dalam kegiatan ini, peserta juga memperoleh produk popok Merries secara gratis.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Alfamart Sahabat Posyandu yang kembali dilaksanakan sepanjang Oktober 2026 dengan dukungan Merries.

Selama Oktober, Alfamart Sahabat Posyandu akan dilaksanakan di 28 titik lokasi yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dengan target menjangkau sekitar 2.800 penerima manfaat.

“Konsistensi program ini terus Alfamart jaga dengan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia. Dengan keberadaan gerai Alfamart yang dekat dengan masyarakat, Alfamart berharap kehadiran program ini dapat memberikan nilai tambah, khususnya dalam mendukung kesehatan ibu dan anak,” ungkap General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, dalam keterangannya.

Menurut Rani, Alfamart Sahabat Posyandu hadir setiap bulan dengan memanfaatkan halaman gerai Alfamart sebagai ruang layanan kesehatan bagi masyarakat. Lokasi gerai yang dekat dengan permukiman diharapkan dapat memudahkan para ibu membawa anak untuk mendapatkan layanan Posyandu tanpa harus menempuh jarak yang jauh.

“Kehadiran kader Posyandu bersama tenaga dari dinas kesehatan memberikan pendampingan yang dibutuhkan para ibu untuk memantau tumbuh kembang anak. Kami berharap layanan dan edukasi yang diberikan dapat membantu orangtua lebih memahami kebutuhan kesehatan dan gizi anak,” kata Rani.

Selain pemeriksaan kesehatan, kegiatan juga menjadi ruang edukasi bagi para orang tua untuk memperoleh informasi mengenai tumbuh kembang dan kebutuhan gizi anak. Para kader Posyandu turut mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.

Sementara itu, Vice President Marketing Kao Indonesia, Susilowati, menuturkan bahwa kolaborasi bersama Alfamart Sahabat Posyandu pada Oktober 2026 menjadi kerja sama perdana bagi Merries dalam program tersebut. Ia melihat adanya kesamaan semangat dalam upaya memberikan perhatian dan dukungan bagi ibu dan Si Kecil. Merries terus berinovasi dengan menghadirkan produk berkualitas untuk mendukung orang tua dalam memberikan perawatan kesehatan dan kenyamanan untuk kulit Jagoan Kecil Keluarga.

Merries Jagoan Kulit Bayi yang menjaga kulit Jagoan Kecil Keluarga, terbukti sebagai satu satunya popok bayi yang telah teruji klinis dapat cegah iritasi kulit pada bayi di Indonesia oleh PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia). Semoga kolaborasi bersama Merries dalam program Posyandu ini dapat memberikan solusi yang dapat mendukung edukasi kepada orang tua dalam menghadirkan kenyamanan dan tumbuh kembang Jagoan Kecil Keluarga se Indonesia” ujarnya.

Kehadiran Alfamart Sahabat Posyandu diharapkan dapat terus menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, sekaligus memperkuat peran Posyandu sebagai layanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Alfamart berkomitmen untuk terus menghadirkan program yang memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.(r)

Pantau Harga dan Mutu Beras di NTB, Satgas Pangan: Harga Stabil Sesuai HET, Kualitas Terjaga

0

Mataram (Ekbis NTB) – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Pemprov NTB, Perum Bulog dan Polda NTB memastikan ketersediaan cadangan pangan di wilayah NTB berada dalam kondisi aman dan terkendali. Kepastian ini diperoleh setelah tim gabungan melakukan pemantauan langsung di pasar tradisional dan pasar modern, salah satunya di Pasar Kebon Roek, Ampenan pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Berdasarkan hasil peninjauan, harga komoditas beras—baik jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), medium, maupun premium—terpantau stabil dan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas, Aulia Sofyan, menyatakan bahwa hasil koordinasi dan sidak di lapangan menunjukkan stabilitas harga dan pasokan pangan terjaga dengan baik di berbagai titik peninjauan. “Secara umum stok pangan aman. Kami sudah turun ke lapangan dan ini sudah titik kedua. Alhamdulillah, harganya masih stabil,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas, Dr. Rachmad Firdaus. Menurutnya, pengawasan ketat ini melibatkan kolaborasi lintas sektor termasuk satuan tugas daerah dan aparat penegak hukum untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan harga, serta mutu beras di pasaran. Dari hasil survei selama sebulan terakhir, kualitas beras yang beredar dinilai sangat baik tanpa ditemukan adanya beras rusak atau berkutu. Kendati demikian, petugas tetap mencatat perlunya pelabelan mutu pangan pada beberapa produk beras yang beredar di tingkat pedagang eceran.

Stok Bulog Aman hingga Dua Tahun ke Depan

Sementara itu, Pimwil Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, menegaskan bahwa stok beras yang dikuasai Bulog sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. Hingga saat ini, Bulog secara aktif menggelontorkan beras SPHP kisaran 80 hingga 100 ton per hari guna menjaga stabilitas pasokan di pasaran.

Harga jual beras SPHP di tingkat pedagang dipastikan sesuai dengan HET, yakni sekitar Rp62.500 per kemasan lima kilogram atau Rp12.500 per kilogram. “Stok kita cukup aman sampai dengan dua tahun ke depan. Masyarakat tidak perlu panik karena ketersediaan beras masih terjaga,” ungkapnya. Selain penyaluran SPHP, Bulog juga terus menggenjot penyerapan gabah dan beras dari petani lokal untuk memperkuat cadangan pangan daerah.

Produksi Hulu Kuat dan Gerakan Pangan Murah

Dari sektor hulu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzar, memaparkan bahwa produksi gabah kering giling (GKG) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencapai angka 1,687 juta ton. Angka produksi ini dinilai sangat linear dengan ketersediaan barang di pasaran serta cadangan di gudang-gudang Bulog, sehingga ketahanan pangan daerah tetap kokoh meskipun menghadapi tantangan cuaca dan kekeringan.

Sebagai langkah preventif untuk menekan laju inflasi dan menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah Provinsi NTB secara berkala terus menggencarkan program Gerakan Pangan Murah bekerja sama dengan Bapanas serta instansi terkait.

Pengawasan Hukum dan Penindakan Tegas

Di sektor penegakan hukum, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda NTB, AKBP Wendy Andrianto, menegaskan bahwa pihaknya mengawal distribusi pangan melalui langkah preemtif, preventif, hingga represif. Kepolisian tidak akan ragu menindak tegas pihak-pihak yang mencoba bermain-main dengan kebutuhan pokok masyarakat, seperti melakukan pengoplosan maupun penimbunan ilegal.

AKBP Wendy mengungkapkan bahwa aparat kepolisian sebelumnya telah mendeteksi dan menangani kasus dugaan pengoplosan beras di wilayah Lombok Tengah, sementara kasus-kasus serupa lainnya masih dalam proses penyelidikan intensif.

Sidak dan pemantauan lintas instansi ini diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat serta menjaga stabilitas perekonomian dan distribusi pangan secara berkelanjutan di seluruh wilayah NTB. (fan)

RUPS-LB : Suroso Gantikan Darmawan jadi Direktur Utama PLN

0
RUPS-LB : Suroso Gantikan Darmawan jadi Direktur Utama PLN
Suroso

Jakarta (EKBIS NTB)– Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT PLN (Persero) menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN, menggantikan Darmawan Prasodjo, pada Rabu (14/10). Sebelumnya, Suroso menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN.

Penetapan ini menjadi bagian dari estafet kepemimpinan untuk melanjutkan agenda transformasi PLN, mencakup penguatan keandalan sistem, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, pengembangan energi baru terbarukan, dan peningkatan layanan pelanggan.

PLN menyampaikan apresiasi kepada Darmawan Prasodjo atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengawal transformasi perusahaan. Di bawah kepemimpinan Suroso, PLN akan melanjutkan program strategis untuk menyediakan listrik yang andal, terjangkau, berkualitas, dan semakin bersih, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi bagi seluruh masyarakat Indonesia.(bul)

Honda ADV 160 Mystery Exploride, Jelajah Alam dan Menguak Misteri Mata Air Ranget

0

Mataram (Ekbis NTB) — Semangat eksplorasi dan kebersamaan kembali dihadirkan oleh Astra Motor NTB bersama komunitas Honda ADV Indonesia (HAI) Chapter Lombok melalui kegiatan bertajuk Honda ADV 160 Mystery Exploride. Mengusung konsep petualangan, kegiatan ini mengajak para pengguna Honda ADV 160 menikmati pengalaman berkendara sekaligus menjelajahi keindahan alam di Pulau Lombok.

Kegiatan yang berlangsung pada 26 September 2026 lalu ini mengambil lokasi di kawasan Mata Air Ranget, salah satu destinasi wisata alam yang asri dan menawarkan pengalaman eksplorasi yang unik. Para peserta yang merupakan anggota HAI Chapter Lombok memulai agenda dengan touring menuju lokasi, sekaligus menguji ketangguhan karakter Honda ADV 160 yang dirancang untuk mendukung berbagai kondisi jalan.

Setibanya di lokasi, peserta melanjutkan rangkaian acara dengan camping serta eksplorasi kawasan sekitar. Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah penelusuran area Pura Ranget dan Kemali Ranget, yang memberikan pengalaman penjelajahan misteri di malam hari di dua situs suci tersebut.

Selain menjadi ajang berkendara, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota komunitas. Kebersamaan selama berkendara, berkemah, hingga eksplorasi alam kian memperkuat semangat persaudaraan di antara para pengguna skuter petualang ini.

Marketing Manager Astra Motor NTB, Yehezkiel Felix, menyampaikan bahwa Honda ADV 160 Mystery Exploride merupakan bentuk apresiasi sekaligus wadah bagi komunitas untuk mendapatkan pengalaman berkendara yang lebih berkesan.

“Honda ADV 160 hadir dengan karakter yang sangat dekat dengan semangat eksplorasi. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengalaman yang tidak hanya tentang berkendara, tetapi juga menikmati perjalanan, mengeksplorasi destinasi, serta membangun kebersamaan bersama komunitas Honda ADV Indonesia Chapter Lombok. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus menghadirkan pengalaman positif dan memperkuat hubungan antara Astra Motor NTB dengan komunitas,” ujar Felix.

Melalui kegiatan ini, Astra Motor NTB terus mendorong komunitas motor untuk menjadikan aktivitas berkendara sebagai sarana menikmati perjalanan dan mengeksplorasi destinasi baru. Di sisi lain, para peserta juga diingatkan untuk senantiasa mengedepankan keselamatan berkendara serta menjaga kelestarian lingkungan selama melakukan kegiatan petualangan (adventure).

Rangkaian acara ini sekaligus memperkuat kampanye keselamatan berkendara melalui slogan #Cari_aman dalam setiap perjalanan, sehingga pengalaman eksplorasi bersama Honda ADV 160 tetap aman, menyenangkan, dan berkesan. (r/fan)